Tahun Depan Kota Semarang Mulai Bangun Monorel Bandara-Simpang Lima

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mulai merealisasikan pembangunan monorel yang telah direncakan sejak beberapa tahun terakhir. Tahun 2019 mendatang, pemkot menargetkan pembangunan kereta modern itu bisa mulai dilakukan.

Monorel di ibu kota Jawa Tengah ini rencananya akan dibangun dari Bandara Internasional A Yani Semarang-Simpang Lima. Target pembangunan ini ditegaskan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi dalam Musrembang Rencana Kerja Pemerintah Daerah 2019 di Kompleks Balaikota, yang berlangsung 2 hari Senin-Selasa (26-27/3/2018).

Ada 11 prioritas pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Semarang saat ini. Salah satunya pembangunan monorel yang ditargetkan dapat dimulai tahun 2019.

Program itu sebagai bentuk komitmen untuk meningkatkan konektivitas pusat-pusat ekonomi sekaligus pemantapan pelayanan publik.

“Pembangunan monorel dari Bandara Achmad Yani yang baru ke Simpang Lima menjadi penting untuk mendukung arah kebijakan Semarang pada 2019 yaitu penguatan struktur ekonomi yang didukung oleh peningkatan sektor perdagangan dan jasa,” ujarnya.

Selain monorel, pengembangan aksesibilitas pada 2019 juga dilakukan dengan pengadaan lahan Semarang Outer Ring Road. Tak hanya itu, Pemkot Semarang juga menargetkan pembangunan perlintasan tidak sebidang di Jalan Madukoro dan Jalan Anjasmoro Raya, serta kajian pembangunan Jembatan Madusono (Madukoro-Kokrosono).

Adapun arah kebijakan Semarang Hebat 2016-2021 yang ingin dicapai Hendi dimulai dari penyiapan infrastruktur untuk mendukung Kota Metropolitan yang sejahtera dan melayani pada tahun 2017.

Kemudian arah kebijakan di tahun 2018 ini adalah mewujudkan pengembangan infrastruktur untuk memecahkan masalah besar perkotaan dan daya saing SDM. Sementara di tahun 2019, kebijakan pembangunan diarahkan pada penguatan struktur ekonomi yang didukung oleh peningkatan sektor perdagangan dan jasa.

“Dan di tahun 2020 arah kebijakan Semarang Hebat adalah terwujudnya pemantapan Semarang sehat, cerdas, tangguh, melayani, dan berdaya saing,” paparnya.

Ia optimistis perekonomian Kota Semarang akan terus meningkat. Berdasar data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Semarang meningkat dari 78,04 pada 2012 menjadi 81,19 pada 2016.

Kemudian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang juga meningkat dari 86 triliun pada 2011 menjadi 115 triliun pada 2016. Sementara untuk nilai investasi juga melonjak dari 0,9 triliun pada 2011 menjadi 20,5 triliun pada 2017.

“Yang menggembirakan adalah angka kemiskinan di Kota Semarang juga menurun dari sebelumnya 5,13 persen pada 2012 menjadi 4,62 persen pada 2017,” tukasnya.

Editor : Ali Muntoha

Kaligawe Masih Tergenang, Pemkot Diminta Bentuk Satgas Banjir

MuriaNewsCom, Semarang – Kalangan DPRD Kota Semarang mendesak pemkot membentuk satuan tugas (satgas) khusus yang menangani banjir. Ini disebabkan, tiap tahun banjir masih menjadi persoalan yang sulit terpecahkan.

Salah satunya banjir yang menggenangi wilayah Kaligawe, hingga menyebabkan jalur utama pantura menjadi tersendat dan macet.

Fraksi PKS Kota Semarang mendesak, satgas anti banjir itu segera dibentuk, agar banjir yang terjadi di kota ini bisa segera diatasi dengan cepat.

Suharsono, Ketua Fraksi PKS Kota Semarang, Senin (19/2/2018) mengatakan, satgas ini bisa ditugaskan untuk mendeteksi dan mengantisipasi terjadinya banjir, sekaligus mengumpulkan informasi dari warga masyarakat.

Ia mengatakan, banjir di kota ini sangat mengganggu aktivitas warga sehingga harus segera diatasi,  minimal dikurangi volumenya. Dengan adanya satgas yang bekerja setiap waktu, maka informasi dari masyarakat tentang gejala terjadinya banjir diharapkan dapat dideteksi dini dan segera teratasi.

“Satgas anti banjir ini akan bekerja sepanjang waktu 24 jam. Sehingga ketika ada informasi banjir dari warga masyarakat dapat segera terdeteksi, misalnya tanggul jebol, dan sebagainya,” katanya.

Suharsono juga meminta Pemkot Semarang untuk waspada adanya curah hujan tinggi, karena tingginya curah hujan ini seringkali berakibat jebolnya tanggul. Selain itu, karena curah hujan tinggi ini, mengakibatkan saluran tidak bisa menampung dan air melimpah ke jalan dan permukiman warga.

Untuk mengatasi ini, selain dibentuk Satgas Anti Banjir, Suharsono meminta pemkot untuk segera melakukan sejumlah langkah. Di antaranya pengerukan sedimentasi sungai, meninggikan parapet di sungai-sungai dengan aliran besar, dan menyediakan mobil pompa untuk ikut membantu penyedotan air yang melimpah ke jalan.

“Menurut saya selain membentuk Satgas, pemerintah juga harus segera melaksanakan langkah teknis lain untuk menyelesaikan persoalan banjir dalam jangka pendek, keruk sungai, tinggikan parapet dan kami berharap juga ada mobil pompa yang membantu menyedot air yang melimpah ke jalan,” ujarnya.

Suharsono berharap selain peran pemkot, pesoalan banjir juga menjadi perhatian warga masyarakat agar aktif dan waspada. Info dari masyarakat sangat dibutuhkan agar jika terjadi banjir penanganan bisa cepat ditangani. “Peran warga masyarakat penting, kami berharap warga juga aktif memberiak informasi kepada pemerintah,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Tahun Depan Ibu Kota Jateng Bakal Bebas dari Banjir Rob, Benarkah?

Aparat kepolisian melintas di Jalan Kaligawe Semarang, yang sering diterjang rob. Pemkot Semarang yakin tahun 2018 sudah tidak ada rob di kota ini. (Foto : Tribratanews)

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang Hendrar Prihadi memastikan tahun 2018 mendatang, Semarang akan bebas dari banjir rob. Langkah-langkah penanganan banjir dan rob di ibu kota Jateng saat ini dinilai sudah menunjukkan perkembangan positif.

Bahkan ia mengklaim, dengan melihat progres pembangunan saat ini sudah bisa untuk menanggulangi rob, terutama di wilayah timur Semarang. Namun untuk lebih maksimal harus menunggu rampungnya seluruh proyek pembangunan.

Proyek itu di antaranya pembangunan kolam retensi Kaligawe dan pemasangan sheet pile di sungai Tenggang.

“Kalau yang rob sudah bisa kita atasi, sedangkan untuk hujan kita masih menunggu seluruh project selesai,” katanya.

Walikota yang akrab dipanggil Hendi itu menyebut, pemasangan sheet pile di sungai Tenggang merupakan bagian dari upaya normalisasi sungai tersebut.

Nantinya untuk menanggulangi rob dan banjir di wilayah timur Kota Semarang, aliran air dari sungai Tenggang sebagian akan dialirkan ke kolam retensi dan sebagian lagi akan dialirkan ke Banjir Kanal Timur.

Untuk skema pengaliran tersebut sendiri direncanakan akan mulai berjalan pada akhir tahun 2017 dengan dibantu dengan pompa portable. Penggunaan pompa portable tersebut dilakukan sembari menunggu pengadaan pompa utama yang akan dilakukan sekitar bulan Februari 2018.

Selain itu, kolam retensi Kaligawe selain dibangun untuk menanggulangi rob dan banjir di wilayah timur Semarang, juga akan digunakan sebagai ruang terbuka untuk aktifitas masyarakat.

“Nanti di kolam retensi ini juga akan dibangun taman dan jogging track untuk aktifitas warga”, tambah Walikota Hendi.

Editor : Ali Muntoha

Semarang Juga Bakal Bangun Metro Kapsul

LRT Metro yang dibangun di Kota Bandung. Pemkot Semarang juga tengah mengkaji Metro Kapsul untuk diterapkan di ibu kota Jateng ini. (Foto: Twitter/@ridwankamil)

MuriaNewsCom, Semarang – Setelah Bandung mulai membangun moda transportasi LRT Metro Kapsul, hal serupa juga bakal dilakukan di Kota Semarang. Moda transportasi ramah lingkungan ini dianggap paling efektif untuk mengurai kemacetan di kota besar.

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, kini mulai menggodok kajian pengembangan Metro Kapsul yang bekerja menggunakan tenaga listrik tersebut.

“Kami tengah mengkaji moda transportasi massal Metro Kapsul. Selain tidak membutuhkan lahan yang banyak, moda transportasi ini juga ramah lingkungan,” kata Sekretaris Bappeda Kota Semarang, M Farhan, dikutip dari Suaramerdeka.com, Jumat (1/9/2017).

Menurutnya, kajian tentang Metro Kapsul ini memang didasari tentang kemacetan di Kota Semarang, yang diprediksi akan semakin parah dalam beberapa tahun ke depan. Ini disebabkan jumlah kendaraan yang terus bertambah dengan tak diimbanginginya kapasitas jalan.

Tiap tahun penambahan kendaraan mencapai 15 persen, sementara penambahan kapasitas jalan hanya sekitar satu persen tiap tahunnya.

Kemacetan yang terjadi, imbuhnya, dapat menyebabkan kerugian finansial bagi masyarakat Kota Semarang. Lebih dari itu, polusi udara juga kian mengancam. Karenanya, mulai dipikirkan tentang moda transportasi massal yang ideal dan ramah lingkungan.

Farhan menjelaskan, Konsep Metro Kapsul hampir sama dengan Light Rapid Transit (LRT), yakni sama-sama di ketinggian. Namun, imbuhnya, bila LRT berbasis rel, Metro Kapsul menggunakan ban. Karena lebih ringan, masa konstruksi pembangunannya akan lebih cepat dibandingkan LRT.

“Harapannya, warga semakin cepat menuju lokasi dan dapat mengurangi polusi udara,” ujarnya.

Metro Kapsul ini mempunyai kapasitas penumpang mencapai 50 orang, dengan daya angkut per jam bisa mencapai 24 ribu orang.

Teknologi yang dikembangkan Pusat Pengembangan Teknologi Transportasi Berkelanjutan (PPTTB) Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, telah dicoba di Subang, Jawa Barat. Metro kapsul dibangun dengan 95 persen komponen lokal.

Editor : Ali Muntoha