Pasutri di Purworejo Mati Tak Wajar, Suami Tergantung Istri Tewas di Dalam Karung

MuriaNewsCom, Purworejo – Pasangan suami istri di Purworejo Ratimin (45) dan istrinya Lilik (38) ditemukan tak bernyawa di kamar rumahnya dalam kondisi tak wajar. Ratimin ditemukan tewas tergantung sementara istrinya meninggal di dalam karung di bawah tempat tidur.

Pasangan suami istri ini ditemukan sudah meninggal dunia di rumahnya di Dusun Sucen, Desa Semawung, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Senin (5/3/2018).

Mayat keduanya ditemukan orang tua korban, Tuminah (80). Perempuan yang umurnya sudah sangat renta ini syok melihat anak dan menantunya meningghal dalam kondisi yang tak wajar.

Kejadian itu langsung membuat geger warga, dan polisi pun langsung datang ke lokasi untuk melakykan pemeriksaan. Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TK) Ratimin ditemukan tewas dalam keadaan tergantung seutas tali.

Sedangkan istrinya, Lilik, ditemukan tergeletak di kolong tempat tidur dalam keadaan terbungkus karung.
“Korban Ratimin ditemukan dalam keadaan tergantung sedangkam istrinya di bawah tempat tidur dan terbungkus karung,” kata Kapolsek Purworejo, AKP Mukhotib dilansir dari detik.com.

Hingga kini, penyebab kematian kedua korban masih dalam penyelidikan polisi. Untuk pemeriksaan medis lebih lanjut, kedua jenazah kemudian dibawa ke RS dr Tjitro Wardojo, Purworejo.

Editor : Ali Muntoha

Ibu Kos di Semarang Tewas Dibunuh, Ada Luka Tusuk di Perut

MuriaNewsCom, Semarang – Seorang ibu kos di Kota Semarang, ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan di rumahnya Perumahan Bukit Delima B9, Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngalian, Kamis (1/3/2018).

Perempuan bernama Meta Novita Handayani (38) itu diduga menjadi korban pembunuhan. Pasalnya, di perut korban ditemukan luka bekas tusukan. Tubuh ditemukan pada pukul 08.00 WIB.

Di rumah yang digunakan sebagai kos-kosan itu, korban tinggal bersama anaknya yang masih TK, dua anak lainnya sudah berangkat sekolah. Sementara suaminya bekerja di Jakarta.

Salah satu saksi, Muhamad Andre Fernadan (19) warga Pekalongan yang indekos di sebelah rumah korban mengaku mendengar suara jeritan dan melihat korban dibekap oleh seorang pria yang menggunakan helm.

“Begitu mau keluar saya tanya, orangnya gugup dan langsung kabur menggunakan sepeda motor Supra Fit,” ungkap Andre.

Sementara Tyas, tetangga korban mengaku melihat mantan pembantu korban tengah bertengkar dengan seorang laki-laki di depan rumahnya.

Seorang tetangga sempat mengambil foto motor yang dikendarai oleh mantan ART dan seorang lelaki saat berada di sekitar rumah korban. “Mereka (mantan pembantu dan seorang lelaki) bertengkar banyak yang lihat kok, sekitar pukul 07.00 WIB, kemudian pergi naik motor itu,” ujarnya.

Kapolsek Ngaliyan Kompol Doni Eko S  membenarkan jika ada saksi yang memotret motor yang diduga pelaku. Saat ini menurutnya, polisi tengah melakukan pengejaran.

Sementara dari olah tempat kejadian perkara (TKP) diketahui jika korban meninggal akibat luka tusukan di perut dan dibekap. Lokasi pembunuhan berada di dalam kamar.

”Tidak ada barang berharga yang hilang. Kita amankan sebuah guling dan dua pasang sandal berwarna biru dan hitam yang diduga milik korban,” ungkapnya.

Editor : Ali Muntoha

Pria Pembakar Istri di Jepara Divonis 12 Tahun Penjara

MuriaNewsCom, Jepara – Ahmad Zainal Arifin (27) pria yang tega membakar istrinya sendiri, divonis 12 tahun penjara. Vonis tersebut, dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jepara yang diketuai Johanis Hemamony, dan dua anggota Vemi Mustika serta Demi Hadiantoro, Rabu (28/2/2018).

“Dengan ini menjatuhkan pidana penjara selama 12 tahun. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan dikurangi seluruhnya dari pidana,” ujar Johanis, saat membacakan putusan di Ruang Sidang Cakra.

Dirinya mengatakan, salah satu hal yang memberatkan terdakwa adalah tak mengakui perbuatannya dan tak merasa bersalah serta berbelit-belit dalam memberikan keterangan.

Sedangkan hal yang meringankannya seperti, tak pernah dihukum, berperilaku sopan dan kematian dari istrinya tak sepenuhnya diakibatkan oleh terdakwa akan tetapi perawatan rumah sakit yang tak maksimal.

Setelah menjatuhkan vonis, terdakwa bersama penasihat hukumnya menyatakan pikir-pikir menyikapi putusan hakim.

Jaksa persidangan tersebut Yosef  juga mengambil langkah pikir-pikir. Namun demikian dirinya tak mempermasalahkan vonis yang diberikan hakim lebih rendah dari tuntutannya.

“Tuntutan kami 13 tahun penjara dari maksimal 15 tahun. Namun dengan putusan ini kami tak mempermasalahkannya. Kami mengambil sikap pikir-pikir, mereka juga (pikir-pikir). Setelah tempo tujuh hari, bila mereka mengajukan banding, kita juga akan banding,” ungkapnya setelah persidangan.

Peristiwa yang menjebloskan warga Desa Sowan Kidul RT 2 RW 3, Kecamatan Kedung itu terjadi pada Sabtu (16/9/2017) malam. Waktu itu Ahmad Zainal Arifin bertengkar dengan istrinya Mutmainah.

Diduga, pemicu pertengkaran tersebut diduga karena Mutmainah tak meloloskan permintaan Zainal yang meminta sejumlah uang. Karena kesal, Zainal lantas menyiramkan bahan bakar jenis pertalite ke tubuh istrinya dan membakarnya.

Akibat kejadian itu, Mutmainah pun harus mendapatkan perawatan di RSUD Kartini karena mengalami luka bakar. Setelah sempat pulang, keadaannya memburuk dan meninggal dunia pada 6 Oktober 2017.

Terdakwa sendiri mengelak telah membakar istrinya. Dalam pernyataannya di media beberapa saat lalu, ia mengaku ingin menyelamatkan istrinya yang mencoba bunuh diri.‎ Akan tetapi, ia juga sempat berkata, istrinya terbakar karena saat kejadian mati lampu, dan tersandung dan terkena cairan pertalite dan terbakar.

Editor: Supriyadi

Pemandu Karaoke di Kendal Dibunuh Pacarnya yang Begal, Tubuhnya Dicor di Bak Mandi

MuriaNewsCom, Kendal – Aparat Polres Kendal berhasil membekuk pelaku pembegalan yang sering meresahkan masyarakat di kabupaten itu. Dari hasil penangkapan ini, polisi menemukan fakta yang jauh lebih mengejutkan.

Pelaku yang diketahui bernama Didik Ponco Sulistyo (28), mengaku telah membunuh seorang perempuan yang bekerja sebagai pemandu karaoke. Pengakuannya, korban dihabisi enam hari lalu dan dikubur di rumahnya di Desa Puguh, Kecamatan Boja, Kendal.

Polisi yang mendapat pengakuan itu, Jumat (23/2/2018) sore langsung bergerak ke rumah pelaku langsung melakukan penggeledahan dan pemeriksaan. Ternyata tubuh korban disembunyikan di bak kamar mandi oleh pelaku.

Tubuh korban ditimbun menggunakan pasir lalu dicor di bak mandi tersebut. Temuan ini langsung menggerkan warga.

Dari hasil pemeriksaan diketahui jika korban bernama Fitria Anggraeni (24), warga Desa Margosari, Kecamatan Limbangan Kendal. Kasat Reskrim Polres Kendal AKP Aris Munandar mengatakan, saat ditemukan korban hanya mengenakan celana dalam.

”Korban bekerja sebagai pemandu karaoke di salah satu tempat hiburan di Kecamatan Boja. Penemuan ini dari hasil pengembangan kasus pembegalan,” katanya.

Proses olah TKP di bak mandi, lokasi tempat penguburan korban pembunuhan di Kendal. (istimewa)

Ia menyebut, dugaan sementara korban dibunuh dengan cara dicekik. Namun untuk memastikannya, tubuh korban dikirim ke RS Bhayangkara Semarang untuk dilakukan autopsi. Motif pembunuhan diduga karena masalah utang.

“Kami masih melakukan pendalaman. Kami menduga ada hubungan istimewa antara korban dan tesangka,” ujarnya.

Tubuh korban sengaja dimasukkan ke dalam bak mandi lalu dituup pasir dan dicor untuk agar tak tercium bau busuk.

Ia menyebut, terbongkarnya kasus pembunuhan ini berawal dari penangkapan pelaku dalam kasus pembegalan. Saat digiring untuk menunjukkan barang bukti di rumahnya, pelaku mengaku telah melakukan pembunuhan.

Sementara itu, Kadus Tanggulangin Desa Margosari, Munawar mengatakan, pengakuan dari keluarga, korban dijemput pelaku pada Jumat (16/2/2018) pekan lalu. Selama ini pelaku dan korban memang dikenal cukup akrab, dan pealku sering menjemput korban di rumahnya.

“Namun setelah dijemput pada Jumat pekan lalu, korban tidak pernah pulang dan tidak bisa dihubungi oleh keluarganya,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Mengagetkan, Ini Fakta Baru Kasus Pembunuhan Perempuan Cantik di Hutan Blora

MuriaNewsCom, Blora – Sebuah fakta baru berhasil diketahui polisi terkait kasus pembunuhan terhadap seorang perempuan yang mayatnya dibuang dikawasan hutan KPH Randublatung, Blora, Jumat (16/2/2018). Hal itu disampaikan Kasat Reskrim Polres Blora AKP Herri Dwi Utomo saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa (20/2/2018).

“Ada fakta baru yang kemarin belum sempat terungkap. Hal ini berdasarkan pengakuan dari Edi Sumarsono alias Sondong yang jadi tersangka pembunuhan tersebut,” jelasnya.

Sebelumnya, minuman yang dicampur apotas diduga jadi faktor utama penyebab kematian korban bernama Ida Lestiyaningrum (26), warga Kelurahan Berahan Wetan, Kecamatan Wedung, Demak tersebut. Namun, pengakuan terbaru dari tersangka menyatakan, korban ternyata sempat dicekik lehernya sebanyak dua kali.

Baca: Kasus Pembunuhan di Hutan Randublatung Blora Terungkap, Ini Pelakunya

Untuk menguatkan pengakuan tersangka, Kasat Reskrim bahkan sempat menggelar pra rekonstruksi di halaman mapolres. Adegan pra rekonstruksi diawali saat tersangka dan korban berboncengan sepeda motor mengitari kota Blora pada kamis (15/2/2018) siang. Setelah itu, mereka berhenti di tugu monumen Randublatung pada sore harinya karena hujan lebat.

Edi Sumarsono alias Sondong, tersangka pembunuhan terhadap Ida Lestiyaningrum (26), saat memperagakan adegan dalam pra rekonstruksi, Selasa (20/2/2018). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Di kawasan tugu tersebut, tersangka mengajak korban berhubungan intim sebagai bukti cinta. Korban yang masih perawan itu akhirnya bersedia memenuhi permintaan tersangka yang bertempat tinggal di Dukuh Pojok, Kelurahan Randublatung, Kecamatan Randublatung itu.

Usai berhubungan intim yang dilakukan di atas sepeda motor itu, korban yang sudah menyerahkan kesuciannya, meminta tersangka untuk menikahinya dan segera mengenalkan pada orang tuanya. Saat korban terus merengek, tersangka secara diam-diam sempat mencampurkan apotas yang disimpan dalam jok motor ke dalam sebotol minuman ringan.

Tersangka sempat meminta korban untuk meminumnya sebagai obat penyegah hamil. Namun, korban sempat menolaknya. Hal inilah yang menjadikan tersangka kalap dan akhirnya mencekik korban agar mau minum minuman tersebut.

Setelah minum sedikit, tersangka kembali mengajak korban naik motor menuju arah Randublatung. Dalam perjalanan, korban terlihat lemas dan bersandar pada tubuh tersangka.

Tersangka kemudian menghentikan laju motor untuk melihat kondisi korban. Saat itulah, korban mendadak terjatuh dari atas motor.

Melihat korban jatuh, tersangka bukannya menolong tetapi malah mencekik leher korban sekitar 10 menit. Setelah dipastikan tidak ada gerakan, tubuh korban kemudian diangkat dan dilemparkan ke semak-semak di kawasan hutan.

Setelah membuang tubuh korban, tersangka selanjutnya mengambil helm, tas, dan handphone milik korban dan bergegas meninggalkan lokasi kejadian. Dalam perjalanan, tas milik korban dibuang di kawasan hutan. Sementara handphone dan helm korban dibawa pulang.

Baca : Begini Kronologi Pembunuhan Perempuan Cantik Asal Demak di Hutan Randublatung Blora

“Tersangka juga sempat menggunakan handphone itu untuk mengirimkan pesan singkat kepada adik korban. Isi pesannya mengabarkan kalau korban pergi ke Jakarta dengan Edi,” jelas Kasat Reskrim.

Soal adanya apotas, jelasnya, selama ini tersangka memang sering mencari ikan dengan memakai obat tersebut. Biasanya, apotas itu ditaruh dalam jok motor untuk memudahkan jika sewaktu-waktu digunakan.

Ia menambahkan, meski ada fakta baru, namun pihaknya masih tetap menunggu hasil otopsi dari Laborat Forensik Polda Jateng. Dari hasil otopsi nantinya akan diketahui penyebab pasti kematian korban. Hasil otopsi diperkirakan baru keluar pekan depan.

Editor : Supriyadi

Kasus Pembunuhan di Hutan Randublatung Blora Terungkap, Ini Pelakunya

MuriaNewsCom, BloraUpaya Polres Blora untuk mengungkap kasus pembunuhan terhadap seorang perempuan yang mayatnya dibuang di kawasan hutan KPH Randublatung akhirnya membuahkan hasil. Setelah melakukan penyelidikan mendalam, pelaku pembunuhan yang sempat menggegerkan warga itu akhirnya berhasil ditangkap.

Kapolres Blora AKBP Saptono menyatakan, tersangka pembunuhan diketahui bernama Edi Sumarsono alias Sondong (24), warga Dukuh Pojok, Kelurahan Randublatung, Kecamatan Randublatung, Blora. Tersangka berhasil diamankan kurang dari 72 jam setelah kejadian.

”Penangkapan tersangka dipimpin langsung Kasat Reskrim AKP Heri Dwi Utomo. Tersangka diamankan di rumahnya hari Minggu kemarin sekitar pukul 11.25 WIB,” ungkap kapolres saat press release, Senin (19/2/2018).

Baca: Mayat Perempuan di Kawasan Hutan Perhutani Randublatung Gegerkan Warga Blora

Selain tersangka, sejumlah barang bukti berhasil pula diamankan petugas. Antara lain, sebuah motor Suzuki Sky Drive milik tersangka, bekas minuman bekas yang diminum korban, HP, dan Helm INK warna kuning yang dikenakan korban.

Korban pembunuhan ditketahui bernama Ida Lestiyaningrum (26), warga Wedung, Demak. Mayat korban ditemukan warga di kawasan hutan Mahoni dipinggir jalan raya Blora-Randublatung, Jumat (16/2/2018) sekitar pukul 09.00 WIB. Perempuan kelahiran 12 Juni 1991 bekerja di sebuah toko kain di Semarang.

Kapolres menjelaskan tersangka dituduh melanggar pasal 338 KUH Pidana karena dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain. Terungkapnya tindak pidana pembunuhan itu, setelah sebelumnya polisi melakukan otopsi bersama Tim Dokter forensik Polda Jateng di RSUD Blora untuk mengungkap indentitas mayat wanita yang dibuang dihutan tersebut.

”Usai dilakukan otopsi jenazah dibawa pulang pihak keluarganya pada Sabtu (17/2) siang untuk dilakukan pemakaman,” sambungnya.

Editor: Supriyadi

Sering Dimarahi dan Dihina Jadi Motif Tarmuji Bunuh Istri dan Gorok Bayinya

MuriaNewsCom, Brebes – Aksi pembunuhan keji yang dilakukan Tarmuji (35) warga Desa Luwungragi, Kecamatan Bulukamba, Brebes, kepada istri dan bayinya yang berumur 1 tahun ternyata hanya disebabkan masalah sepele. Tarmuji kalap karena sering dimarahi dan diejek oleh istrinya.

Pengakuannya, pelaku yang hanya bekerja serabutan sering diumpat dengan kata-kata kotor oleh istrinya. Penyebabnya, karena tersangka tak punya pekerjaan tetap. Sementara Koniti (35) istri yang dihabisi nyawanya oleh tersangka bekerja sebagai buruh pemelihara bawang.

”Motifnya lantaran permasalahan ekonomi keluarga. Mereka sering cekcok (adu mulut). Tak jarang pelaku sering dimarahai dan diejek oleh istri karena masalah yang tidak punya pekerjaan tetap. Pelaku merupakan buruh serabutan,” kata Kapolres Brebes AKBP Sugiarto.

Ia menyatakan, pelaku diamankan oleh polisi pada Selasa (13/2/2018) usai membunuh istri dan bayinya. Tarmuji diamankan di rumah orang tuanya di Desa Glonggong, Kecamatan Wanasari, Brebes.

Kapolres Brebes AKBP Sugiarto memberi keterangan soal motif pelaku pembunuhan

Dalam pemeriksaan polisi, Tarmuji juga mengakui membunuh istrinya dengan menghantamkan cobek ke kepala korban. Saat dibunuh korban dalam kondisi tertidur. Ia juga mengakui membunuh bayinya yang masih berumur 12 bulan dengan menyayat lehernya.

Bayi yang dibunuh baru diketahui tiga jam setelah penemuan tubuh ibunya. Bayi tersebut ditemukan di tempat pembuangan sampah di belakang rumah, dengan kondisi mengenaskan. Tubuh bayi itu juga ditutup dengan batang pohon pisang.

“Pelaku saat ini masih dalam pemeriksaan intensif petugas. Kami juga dengan mendatangkan psikiater untuk memeriksa kejiwaannya,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, kasus pembunuhan ibu dan bayinya di Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Selasa (13/2/2018) bikin geger warga. Pasalnya, pelaku pembunuhan ibu dan bayi tersebut adalah suami korban.

Baca juga : 

Tarmuji (35) yang sehari-hari bekerja serabutan dengan sadis membunuh istrinya Koniti (35) dengan cara menghantam kepalanya menggunakan batu cobek. Tak hanya itu, bayi mereka yang masih berumur satu tahun juga ikut dibunuh.

Bayi laki-laki bernama Dimas itu ditemukan dengan kondisi mengenaskan. Lehernya nyaris putus diduga digorok bapaknya. Bayi malang itu ditemukan dengan bersimbah darah di tempat sampah belakang rumah. Tubuh bayi itu ditutup dengan gedebog (pohon pisang).

Tubuh bayi Dimas ditemukan saat polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan Koniti. Awalnya, polisi tak menduga jika korban pembunuhan dua orang. Namun saat memeriksa lokasi kejadian diketahui jika bayi korban juga ikut jadi korban.

Kapolsek Bulakamba, AKP Harti, menyebut korban Dimas ditemukan saat tim olah TKP sedang memeriksa bagian dapur rumah. Karena kondisi ruangan cukup gelap, polisi berinisiatif membuka pintu belakang agar ada cahaya masuk.

“Saat melihat keluar, ada mayat anak kecil bersimbah darah yang ditutupi pohon pisang,” katanya pada wartawan.

Diduga mayat bayi ini sengaja ditutup batang pohon pisang agar tidak diketahui orang. Bayi ini ditemukan berselang tiga jam setelah penemuan jasad Koniti.

Saat pemeriksaan lokasi kejadian, polisi juga menemukan pecahan cobek dan pisau dapur. Sementara di dalam kamar, petugas menemukan lagi bagian cobek lainnya.

Editor : Ali Muntoha

Terapung di Sungai Lusi, Mayat Balita 1,5 Tahun Gegerkan Warga Tanjungrejo Grobogan

MuriaNewsCom, GroboganWarga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari, Grobogan digegerkan dengan penemuan sosok mayat di pinggiran sungai Lusi, Jumat (26/1/2/018). Mayat seorang bocah perempuan tersebut ditemukan sekitar pukul 13.00 WIB.

Mayat  itu kali pertama ditemukan oleh warga bernama Solikin (24) yang saat itu hendak mencari biawak dipinggiran sungai Lusi. Saat mencari sarang biawak, ia sempat mencium bau menyengat.

Setelah ditelusuri akhirnya terdapat sosok mayat  terapung di pinggiran sungai yang tersangkut tumpukan sampah. Selanjutnya, peristiwa itu dilaporkan pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Saat ditemukan, mayat balita itu mengenakan kaos oblong warna hijau dan celana pendek ungu. Mayat balita juga terlihat masih mengenakan perhiasan kalung, anting dan gelang di tangan kiri. Kondisi mayat cukup susah dikenali karena diperkirakan sudah terendam air selama beberapa hari.

Tidak lama kemudian, petugas dari Polsek Wirosari dan Polres Grobogan sudah tiba di lokasi pememuan mayat. Setelah dilakukan pemeriksaan bersama tim medis Puskesmas Wirosari, tidak ditemukan tanda kekerasan pada mayat tersebut.

Beruntung, setelah melakukan penyelidikan lebih lanjut, identitas mayat itu akhirnya terungkap. Mayat itu diketahui bernama Nur Hidayah, warga Desa Tuko, Kecamatan Pulokulon yang masih berusia 1,5 tahun. Beberapa hari sebelumnya, bocah tersebut sudah dilaporkan hilang oleh pihak keluarganya ke Polsek Pulokulon.

”Pada tubuh korban tidak ada tanda kekerasan. Setelah selesai dilakukan pemeriksaan jenazahnya sudah kita serahkan pada pihak keluarganya untuk dimakamkan,” kata Kapolsek Wirosari AKP Toni Basuki.

Editor: Supriyadi

Sepele, Ternyata Ini yang Membuat Oknum TNI Keroyok Warga Menduran Hingga Tewas

MuriaNewsCom, Grobogan – Kasus penganiayaan yang menewaskan Anang Tri Hidayat (24), warga Desa Menduran, Kecamatan Bratidi sekitar jalan MT Haryono, Purwodadi, Minggu (21/1/2018) dinihari kemarin ternyata berawal dari hal sepele.

Baik korban ataupun empat tersangka yang satu di antaranya oknum anggota TNI bahkan tidak saling kenal. Hanya, sebelum kejadian, korban dan para tersangka sempat berpapasan di sebuah tempat karaoke di jalan Gajah Mada Purwodadi.

Saat itu, para tersangka yang mengendarai mobil X-Trail warna putih hendak mengajak seorang pemandu karaoke untuk makan malam di sekitar perempatan bekas bioskop Kencana.

Menjelang tengah malam, korban dan para tersangka kembali berpapasan di jalan R Suprapto, di sekitar RS Yakkum. Saat berpapasan, korban yang mengendarai motor berboncengan dengan temannya Hervi sempat mengacungkan jari tengah pada para tersangka.

Tindakan itulah yang menyulut emosi para tersangka. Akhirnya, mereka balik arah dan mengejar korban yang mengendarai motor Yamaha X-Ride ke arah jalan MT Haryono.

Baca: Pelaku Pengeroyokan Warga Menduran Hingga Tewas Ternyata Oknum TNI

Mobil yang ditumpangi para pelaku berhasil mengejar motor dan menghadangnya di sebelah utara pertigaan kampung Kauman. Di lokasi inilah sempat terjadi adu mulut dan akhirnya berujung penganiayaan yang menewaskan Anang Tri Hidayat (24), warga Desa Menduran, Kecamatan Brati.

”Para tersangka tersulut emosinya saat itu. Terlebih, mereka (tersangka) saat itu juga dalam pengaruh minuman keras,” kata Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano saat jumpa pers, Senin (22/1/2018).

Setelah kejadian, para pelaku sempat melarikan diri. Namun, sekitar tiga jam kemudian mereka berhasil ditangkap.

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano(tiga dari kiri) menunjukkan barang bukti saat jumpa pers, Senin (22/1/2018). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bersama tersangka, ikut diamankan pula sejumlah barang bukti. Antara lain, sepeda motor, celana pendek, sandal, dan kaos milik korban serta kaos milik saksi Hervi. Selain itu, diamankan pula satu mobil X-Trail nopol B 1828 TZG, dan beberapa sandal milik tersangka.

Log on to tellhco.com and win $10

”Para tersangka akan kita jerat dengan pasal 170 KUHP tentang penganiayaan secara bersama-sama yang mengakibatkan meninggalnya seseorang. Ancamannya hukuman minimalnya 5 tahun,” sambung Satria.

Dari hasil pemeriksaan, total ada empat orang yang ditetapkan sebagai tersangka. Keempat tersangka ini berasal dari wilayah Kecamatan Toroh.

Dari empat tersangka, tiga di antaranya merupakan warga sipil. Masing-masing, berinisial DY (23), warga Desa Tambirejo; UP (23), warga Desa Tunggak, dan DA (25), warga Desa Pilangpayung.

Satu tersangka lagi diketahui merupakan anggota TNI yang berdinas di wilayah Pati, berinisial SM (36). Oknum aparat ini tercatat sebagai warga Desa Tambirejo.

”Sampai saat ini, ada empat orang yang kita tetapkan sebagai tersangka tindak penganiayaan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Salah satunya memang oknum TNI dan penanganannya sudah kita koordinasikan dengan Kodim 0717 Purwodadi,” jelas Satria.

Hadir pula dalam jumpa pers di Mapolres Grobogan tersebut, Dandim 0717 Purwodadi Letkol Arm Teguh Cahyadi. Tampak pula, Dansubdenpom IV/3-1 Blora Kapten Suwarno, Kabag Ops Polres Grobogan Kompol Sigit Ari Wibowo dan Kasat Reskrim AKP Maryoto.

Letkol Arm Teguh Cahyadi menegaskan, untuk penanganan oknum TNI sudah diserahkan sepenuhnya pada Sub Denpom Blora. ”Kita tunggu hasilnya bagaimana, sudah ditangani Subdenpom. Untuk oknum tersebut memang rumahnya di Grobogan,” katanya.

Editor: Supriyadi

Baca: : Warga Menduran Grobogan Dikeroyok Penumpang X-Trail Hingga Tewas di Pinggir Jalan

Pelaku Pengeroyokan Warga Menduran Hingga Tewas Ternyata Oknum TNI

MuriaNewsCom, GroboganPelaku penganiayaan yang menewaskan Anang Tri Hidayat (24), warga Desa Menduran, Kecamatan Brati di jalan MT Haryono, Purwodadi, Minggu (21/1/2018) dinihari kemarin berhasil ditangkap.

Total ada empat orang yang ditetapkan sebagai tersangka. Keempat tersangka ini berasal dari wilayah Kecamatan Toroh.

Dari empat tersangka, tiga di antaranya merupakan warga sipil. Masing-masing, berinisial DY (23), warga Desa Tambirejo; UP (23), warga Desa Tunggak, dan DA (25), warga Desa Pilangpayung.

Sedangkan, satu tersangka lagi diketahui merupakan anggota TNI yang berdinas di wilayah Pati, berinisial SM (36). Oknum aparat ini tercatat sebagai warga Desa Tambirejo.

”Sampai saat ini, ada empat orang yang kita tetapkan sebagai tersangka tindak penganiayaan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Salah satunya memang oknum TNI dan penanganannya sudah kita koordinasikan dengan Kodim 0717 Purwodadi,” jelas Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano saat jumpa pers, Senin (22/1/2018).

Baca: Warga Menduran Grobogan Dikeroyok Penumpang X-Trail Hingga Tewas di Pinggir Jalan

Hadir pula dalam jumpa pers di Mapolres Grobogan tersebut, Dandim 0717 Purwodadi Letkol Arm Teguh Cahyadi. Tampak pula, Dansubdenpom IV/3-1 Blora Kapten Suwarno, Kabag Ops Polres Grobogan Kompol Sigit Ari Wibowo dan Kasat Reskrim AKP Maryoto.

Letkol Arm Teguh Cahyadi menegaskan, untuk penanganan oknum TNI sudah diserahkan sepenuhnya pada Sub Denpom Blora. ”Kita tunggu hasilnya bagaimana, sudah ditangani Subdenpom. Untuk oknum tersebut memang rumahnya di Grobogan,” katanya.

Para pelaku penganiayaan yang menewaskan warga Desa Menduran, Kecamatan Brati di jalan MT Haryono, Purwodadi dimintai keterangan saat gelar perkara di Mapolres Grobogan, Senin (22/1/2018). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Seperti diberitakan, kasus penganiayaan itu terjadi di sekitar jalan MT Haryono, Purwodadi, sekitar pukul 23.30 WIB. Dalam peristiwa itu ada satu koban jiwa yang diketahui bernama Anang Tri Hidayat (24), warga Desa Menduran, Kecamatan Brati. Lokasi kejadian berada di pertigaan yang mempertemukan jalan MT Haryono dengan jalan Kauman.

Sebelum kejadian, korban yang mengendarai motor berboncengan dengan temannya Hervi Ari (22) melaju dari arah selatan. Dalam waktu bersamaan, ada mobil yang terlihat membuntuti dan memepet sepeda motor tersebut.

Kedua kendaraan itu akhirnya berhenti di pertigaan jalan Kauman. Setelah itu, beberapa orang terlihat keluar dari mobil X-trail warna putih dan menghampiri pengendara motor.

Sempat terjadi pertikaian atau adu mulut diantara mereka. Hingga akhirnya, pertikaian itu berujung pada penganiayaan terhadap pengendara motor.

Peristiwa penganiayaan akhirnya berhenti setelah Hervi berhasil lolos dan lari ke arah selatan sambil berteriak minta tolong. Tindakan Hervi ini menyebabkan para penumpang mobil bergegas masuk ke dalam kendaraan dan kemudian pergi ke arah utara.

Melihat mobil sudah pergi, Hervi kemudian kembali lagi ke lokasi kejadian untuk menolong temannya bersama beberapa warga yang sudah berdatangan. Saat itu, kondisi Anang sudah terkulai di pinggir jalan dan banyak bercah darah ditubuhnya.

Tidak lama kemudian, ada mobil ambulans yang sudah tiba dilokasi untuk mengevakuasi korban ke rumah sakit. Namun, sebelum sempat mendapat penanganan medis lebih lanjut, korban diketahui sudah meninggal dunia.

Editor: Supriyadi

Mayat Wanita Telanjang Dibuang di Pinggir Sawah, Ada Bekas Jeratan di Leher

MuriaNewsCom, Boyolali – Warga dikeujutkan dengan penemua mayat perempuan telanjang di pinggir sawah, tak jauh dari Waduk Cengklik, Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Senin (22/1/2018). Perempuan berumur sekitar 20 tahun itu diduga sebagai korban pembunuhan.

Hal ini terlihat dari adanya bekas jeratan tali di leher korban. Hingga kini belum diketahui identitas mayat tersebut.

Mayat ini kali pertama ditemukan warga bernama Jiyem (55), warga Desa Ngesrep, Kecamatan Ngemplak, saat jalan-jalan pagi, sekitar pukul 05.00 WIB. Saat itu ia melihat ada sesok yang menyerupai boneka yang tertutup selimut. Karena curiga dan takut, ia pun lantas pergi dan memberitahu suaminya.

Paino (56), suaminya Jinem langsung datang ke lokasi untuk memeriksa. Saat selimut dibuka ternyata sesosok mayat. Temuan itu akhirnya dilaporkan ke perangkat desa, dan diteruskan ke polisi.

Aparat dari Polsek Ngemplak dan Polres Boyolali langsung merapat ke lokasi, untuk memeriksa jenazah dan lokasi penemuan. Tubuh korban dibawa ke RSUD Moewardi Solo untuk proses autopsi.

Saat ditemukan kondisi mayat dalam kondisi memprihatinkan. Dan dengan adanya bekas luka jeratan di leher, polisi mengambil kesimpulan mayat tersebut adalah korban pembunuhan. Hal ini juga dipastikan Kapolres Boyolali, AKBP Aries Andhi. ”Ini jelas korban pembunuhan,” katanya.

Tim medis dari Puskesmas Ngemplak, Diah Widya Susilowati yang memeriksa mayat itu juga memastikan ada sejumlah tanda-tanda bekas kekerasan pada tubuh korban. Saat ditemukan tubuh korban pun sudah mulai kaku. ”Ada bekas jeratan di leher. Dari hidungnya keluar darah,” ujarnya.

Hingga saat ini polisi masih mendalami kasus ini. Polisi memeriksa sejumlah saksi yang menemukan mayat tersebut. Polisi juga mencoba mengungkap identitas korban untuk mengejar pelaku pembunuhan.

Editor : Ali Muntoha

Warga Menduran Grobogan Dikeroyok Penumpang X-Trail Hingga Tewas di Pinggir Jalan

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang terjadi di sekitar Jalan MT Haryono, Purwodadi, terjadi Minggu (21/1/2018) dinihari. Korban diketahui bernama Anang Tri Hidayat (24), warga Desa Menduran, Kecamatan Brati, Grobogan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, peristiwa tersebut berlangsung sekitar pukul 02.30 WIB. Lokasi kejadian berada di pertigaan yang mempertemukan Jalan MT Haryono dengan Jalan Kauman.

Sebelum kejadian, korban yang mengendarai motor berboncengan dengan temannya Hervi Ari (22) melaju dari arah selatan. Dalam waktu bersamaan, ada mobil yang terlihat membuntuti dan memepet sepeda motor tersebut.

Kedua kendaraan itu akhirnya berhenti di pertigaan jalan Kauman. Setelah itu, beberapa orang terlihat keluar dari mobil X-Trail warna putih dan menghampiri pengendara motor.

Sempat terjadi pertikaian atau adu mulut diantara mereka. Hingga akhirnya, pertikaian itu berujung pada penganiayaan terhadap pengendara motor.

Baca: Pelaku Pengeroyokan Warga Menduran Hingga Tewas Ternyata Oknum TNI

Peristiwa penganiayaan akhirnya berhenti setelah Hervi berhasil lolos dan lari ke arah selatan sambil berteriak minta tolong. Tindakan Hervi ini menyebabkan para penumpang mobil bergegas masuk ke dalam kendaraan dan kemudian pergi ke arah utara.

Melihat mobil sudah pergi, Hervi kemudian kembali lagi ke lokasi kejadian untuk menolong temannya bersama beberapa warga yang sudah berdatangan. Saat itu, kondisi Anang sudah terkulai di pinggir jalan dan banyak bercah darah di tubuhnya.

Tidak lama kemudian, ada mobil ambulans yang sudah tiba di lokasi untuk mengevakuasi korban ke rumah sakit. Namun, sebelum sempat mendapat penanganan medis lebih lanjut, korban diketahui sudah meninggal dunia.

Beberapa warga sekitar mengaku sempat mendengar suara seperti orang bertengkar dan teriakan minta tolong pada dinihari tadi. Namun, mereka tidak menyangka jika sesudahnya ada peristiwa penganiayaan. Warga mengira jika dinihari tadi ada peristiwa kecelakaan lalu lintas.

“Saya sempat dengar ada suara orang minta tolong. Kemudian, saya keluar di depan rumah. Tidak lama kemudian, saya lihat ada mobil ambulans datang. Setelah itu, saya masuk lagi ke rumah,” kata Maryanto, warga Kauman.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Maryoto saat dimintai keterangan membenarkan adanya peristiwa dugaan terjadinya tindak pidana penganiayaan tersebut. Setelah mendapat informasi, pihaknya langsung menggelar olah TKP dan melakukan pengejaran mobil warna putih tersebut. Sekitar tiga jam setelah kejadian, anggotanya berhasil menemukan keberadaan mobil dan mengamankan empat orang pria yang ada di dalamnya.

“Keempat penumpang mobil ini sudah kita amankan. Mohon maaf, saat ini belum bisa memberikan keterangan lebih jauh. Soalnya, kami masih meminta keterangan dari berbagai pihak untuk mengungkap latar belakang terjadinya peristiwa itu. Nanti kalau sudah lengkap akan kita rilis,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Pembunuh Polisi di Semarang Diduga Sangat Terlatih

MuriaNewsCom, Semarang – Tim Reskrim Polrestabes Semarang kini tengah melakukan penyelidikan terhadap terbunuhnya anggota Polsek Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Aiptu Samsul Huda (49). Pelaku pembunuhan diduga lebih dari satu orang dan sangat terlatih.

Hal ini terlihat dari luka-luka di tubuh korban yang langsung mengenai titik-titik vital. Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abiyoso Seno Aji mengatakan, dengan luka yang ada di tubuh korban, diketahui pelaku sangat terlatih menggunakan senjata tajam.

Meski demikian, pihaknya belum memastikan senjata apa yang digunakan pelaku. Polisi masih terus melakukan penyelidikan.

“Pelaku ini sudah terlatih, ini dilihat dari luka tusukan yang letaknya di bagian-bagian vital. Bekas tusukannya itu di titik mematikan,” katanya, Sabtu (20/1/2018).

Luka-luka tusukan ditemukan di antaranya dua titik di bagian bawah perut, dada, dan punggung. Jari telunjuk bagian kiri korban yang hampir putus diduga karena mencoba menangkis/menahan senjata tajam dari pelaku.

Selain itu juga ditemukan luka sayatan di telapak kanan yang cukup panjang. Dan juga ada luka robeh di paha bagian kanan korban.

“Sayatan di telapak tangan lumayan panjang, di paha, jari telunjuk kiri juga hampir putus. Pelaku ini sudah terlatih, ini dilihat dari luka tusukan yang letaknya di bagian-bagian vital. Bekas tusukannya itu di titik mematikan,” ujar Abi.

Anggota polisi menjaga kamar mayat RSUP dr Kariadi Semarang tempat pemeriksaan tubuh polisi yang tewas diduga dibunuh. (metrojateng.com)

Selain itu, menurut Abi pelaku pembunuhan tersebut lebih dari satu orang. Pasalnya pada luka tusukan yang dialami korban sepertinya tidak mungkin dilakukan oleh satu orang pelaku saja.

“Kalau dilihat dari lukanya juga, pelaku ini lebih dari satu orang. karena ada luka tusukan dari punggung korban,” terangnya.

Polisi juga tengah melakukan pemeriksaan kegiatan Samsul Huda sebelum ditemukan bersimbah darah di Jalan Arteri Yos Sudarso. Diketahui korban lepas dinas, sekitar pukul 20.00 WIB. Dan korban ditemukan pemotor sekitar pukul 00.14 WIB.

“Selama dari pukul 20.00 WIB lepas dinas sampai kejadian ke mana saja sedang kami dalami. Apa kegiatannya, dengan siapa ketemunya,” paparnya.

Baca : Polantas di Semarang Ditikam Berkali-kali Hingga Tewas di Tengah Jalan

Kapolrestabes menjelaskan, korban asli Magelang dan tinggal di daerah Paseda Semarang. Lokasi penemuan korban juga diketahui sebagai jalan yang ditempuh sehari-hari untuk berangkat dan pulang kerja.

Setelah dilakukan pemeriksaan dan audtopsi di RSUP dr Kariadi Semarang, jenazah korban rencananya akan diserahkan ke pihak keluarga di Magelang, untuk kemudian dilakukan pemakaman.

Diberitakan sebelumnya, seorang anggota Satuan Lalu Lintas Polsek Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Aiptu Samsul Huda (49) ditemukan tewas di Jalan Arteri Yos Sudarso Semarang, Sabtu (20/1/2018) dini hari. Korban ditemukan tak bernyawa dengan banyak tusukan.

Diduga korban dibunuh lebih dari satu orang. Korban ditemukan tertelungkup di tengah jalan sekitar pukul 00.14 WIB di dekat Hotel Puri Garden. Saat ditemukan pengendara, korban bersimbah darah, dan langsung dilaporkan ke polisi.

Editor : Ali Muntoha

Polantas di Semarang Ditikam Berkali-kali Hingga Tewas di Tengah Jalan

MuriaNewsCom, Semarang – Seorang anggota Satuan Lalu Lintas Polsek Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Aiptu Samsul Huda (49) ditemukan tewas di Jalan Arteri Yos Sudarso Semarang, Sabtu (20/1/2018) dini hari. Korban ditemukan tak bernyawa dengan banyak tusukan.

Diduga korban dibunuh lebih dari satu orang. Korban ditemukan tertelungkup di tengah jalan sekitar pukul 00.14 WIB di dekat Hotel Puri Garden. Saat ditemukan pengendara, korban bersimbah darah, dan langsung dilaporkan ke polisi.

Di dekat tubuh korban ditemukan sepeda motor Yamaha Mio bernopol K 6535 RS milik korban. Saat ditemukan, korban masih memakai seragam lengkap dan ditutup jaket.

“Pengendara melihat ada orang tergeletak. Saat berusaha membantu, seseorang yang tergeletak tadi sudah menghembuskan nafas terakhir,” kata Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji.

Saat dilakukan pemeriksaan di RSUP dr Kariadi Semarang, ditemukan ada sejumlah luka tusukan di tubuh korban. Di antaranya 2 luka tusukan di bawah perut, jari telunjuk kiri yang hampir putus, sayatan di telapak kanan cukup panjang. Selain itu robek di paha kanan bagian belakang dan tusukan di punggung.

Baca : Pembunuh Polisi di Semarang Diduga Sangat Terlatih

Dengan luka yang menjadi penyebab korban meninggal, pihak kepolisian menduga anggotanya tersebut menjadi korban pembunuhan.

“Dari analisa, kesimpulan sementara anggota ini korban pembunuhan. Dari lukanya juga, pelaku ini lebih dari satu orang, karena ada luka tusukan dari punggung korban,” ujarnya.

Hingga saat ini polisi masih terus mendalami kasus ini, untuk mendeteksi pelaku pembunuhan. Polisi juga meminta keterangan terhadap sejumlah saksi dan pihak keluarga.

Samsul Huda diketahui meninggalkan seorang istri dan seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku SMP.

Editor : Ali Muntoha

Seorang Nenek di Penganten Grobogan Tewas Dianiaya Orang Gila

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa penganiayaan yang berujung kematian terjadi di Desa Penganten, Kecamatan Klambu, Grobogan, Minggu (7/11/2018).

Korban penganiayaan diketahui bernama Mbah Sakinah (72), warga setempat. Sedangkan pelakunya disebut-sebut bernama Sarmadi (50), warga Banyumanik, Semarang.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kejadian yang bikin geger warga itu terjadi sekitar pukul 07.30 WIB. Pagi itu, korban sedang menyiangi rumput di sela tanaman jagung.

Ladang milik Sakinah adalah lahan garapan kawasan hutan yang ada di sebelah timur sendang Keyongan, Desa Penganten.

Tak lama kemudian, tiba-tiba muncul pelaku di lokasi tersebut. Melihat ada orang tak dikenal, Sakinah sempat merasa takut dan berniat untuk pulang.

Caption : Tim Inafis Polres Grobogan sedang melakukan pemeriksaan terhadap korban penganiayaan di Desa Penganten, Kecamatan Klambu, Minggu (7/11/2018).
(MuriaNewsCom/Dhani Agus)

Namun, sebelum beranjak dari ladang, pelaku tersebut langsung menghampiri dan memukuli korban. Tidak hanya dengan tangan tetapi pelaku juga memukul korban menggunakan bongkahan batu.

Mendapat perlakuan sadis tersebut, Sakinah sempat menjerit minta tolong. Warga yang mendengar teriakan itu langsung berhamburan ke lokasi kejadian. Saat itu, kondisi Sakinah sudah terlihat mengenaskan, karena bagian kepalanya penuh darah.

Melhat banyak warga berdatangan, pelaku kemudian melarikan diri ke arah perkampungan. Puluhan warga akhirnya berhasil menangkap pelaku. Beruntung sebelum dihajar massa, pelaku berhasil diamankan polisi yang sudah tiba di lokasi tersebut.

“Pelaku kemudian diamanakan ke Polsek Klambu. Sedangkan, korban penganiayaan sempat dilarikan ke puskesmas namun nyawanya tidak tertolong,” kata Kades Penganten Junaidi.

Menurutnya, pelaku penganiayaan diketahui sudah beberapa bulan ini berkeliaran di sekitar Desa Penganten.

“Pelaku bukan orang sini dan tidak ada kerabatnya di Desa Penganten. Sehari-hari berkeliaran saja dan tidurnya di sembarang tempat. Informasinya pelaku adalah orang gila,” jelasnya.

Kapolsek Klambu AKP Asep Priyana menyatakan, dari pemeriksaan sementara, pelaku diduga mengidap gangguan jiwa. Sebelumnya, pelaku dikabarkan pernah kabur saat menjalani perawatan di RSJ Magelang.

“Saat ini, pelaku kita kirim ke RSUD Purwodadi. Kita akan minta bantuan tim medis untuk mengetahui kondisi kejiwaan pelaku,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

 

Pulang Belanja Nenek di Grobogan Kaget Lihat Suaminya Gantung Diri

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang gantung diri terjadi lagi di Grobogan. Peristiwa gantung diri terbaru terjadi di Dusun Plumpung, Desa Kemadohbatur, Kecamatan Tawanghrajo. Pelakunya diketahui bernama Darsono (66), warga setempat.

Darsono diketahui gantung diri sekitar pukul 08.00 WIB. Perbuatan gantung diri itu dilakukan di ruang dapur rumahnya sendiri. Alat yang dipakai gantung  diri berupa tali tambang plastik.

Peristiwa gantung diri tersebut kali pertama diketahui Sarmi (66), istri korban. Saat pulang belanja dan hendak menaruh barang di dapur, ia sontak kaget.

Soalnya, ia mendapati sosok suaminya sudah tergantung dengan leher terjerat tali yang dikaitkan blandar rumah.

Melihat kejadian ini, ia pun langsung berteriak minta pertolongan menantunya dan warga sekitar.Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berhamburan menuju lokasi kejadian. Saat diperiksa, korban didapati sudah dalam kondisi tidak bernyawa.

Belum diketahui, motif utama korban gantung diri. Selanjutnya, warga melalui perangkat desa melaporkan kejadian gantung diri itu pada pihak Polsek Tawangharjo.

Kapolsek Tawangharjo AKP Sudarsono ketika dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa bunuh diri tersebut. Adapun latar belakangnya, korban diduga putus asa karena mengidap penyakit yang tidak kunjung sembuh.

“Dari hasil pemeriksaan tidak ada tanda kekerasan. Korban murni bunuh diri. Dugaannya disebabkan sakit yang diderita selama ini. Jenazah korban sudah kita serahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Positif  Sakit Jiwa, Pembunuh Ibu Kandung di Kudus Dibawa ke RSJ

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning saat memberikan keterangan kepada awak media, Rabu (13/12/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Hasil pemeriksaan kejiwaan Anshori, pemuda Dukuh Kebangsan, RT 2 RW 3, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, yang membunuh ibu kandungnya sendiri Selasa (28/11/2017) lalu akhirnya keluar. Dari pemeriksaan medis, pemuda 30 tahun itu positif mengidap gangguan jiwa. Untuk itu, ia diharuskan menjalani perawatan di RSJ.

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning mengatakan, dari hasil identifikasi dan juga observasi yang selama ini dilakukan, pelaku positif memiliki penyakit jiwa.

Baca: Tak Diberi Uang, Anak di Getassrabi Kudus Tega Pacul Kepala Ibunya Hingga Tewas

“Observasi selalu kami lakukan setelah penangkapan terhadap pelaku pembunuhan ibu kandung. Prosesnya panjang dan bertahap, dengan hasilnya pelaku positif miliki penyakit jiwa,” katanya kepada awak media, Rabu (13/12/2017).

Selain itu, lanjutnya, hasil pemeriksaan dari RSUD Kudus juga memperkuat identifikasi tersebut. Lantaran memiliki penyakit jiwa, penanganan kasus akan dilimpahkan kepada negara, hingga pelaku bisa sembuh seperti sedia kala.

Baca: Sebelum Dibunuh, Sang Ibu Sempat Diancam Hingga Tak Berani Pulang ke Rumah

Disinggung soal proses hukuman pelaku, kapolres menyebutkan baru fokus pada pembenahan kondisi psikis pasien terlebih dahulu.

”Lebih detailnya, biar Kasatreskrim yang menentukan. Yang pasti jangan sampai pelaku dilepaskan tanpa penanganan. Karena jika demikian, dikhawatirkan akan ada korban lagi,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Baca: Ini Luka yang Dialami Ibu di Getassrabi Kudus Setelah Dipacul Anaknya Hingga Meninggal

Karyawan Indomaret Asal Sendangsoko Pati Tewas Bersimbah Darah Dibunuh Perampok

Kondisi korban setelah dibunuh perampok di ruang brankas penyimpanan uang Indomaret Pandean Lamper Semarang. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Semarang – Seorang karyawan yang bekerja di Indomaret Pandean Lamper Semarang bernama Agung Koko Prakoso (21) tewas dibunuh seorang perampok pada Jumat (8/12/2017) dini hari.

Agung merupakan warga Dukuh Gagung RT 9 RW 1, Desa Sendangsoko, Kecamatan Jakenan, Pati. Dia meninggal dunia setelah kehabisan darah karena luka tusuk.

Agus Ardiyanto, salah satu saksi saat dimintai keterangan polisi mengungkapkan, peristiwa tersebut terjadi saat seorang tidak dikenal menggunakan seragam Indomaret pura-pura menukarkan uang.

Baca: Warga Baturejo Pati Mendadak Meninggal Dunia di Kursi Duduk SPBU Sukolil

Agung yang tidak mengetahui gelagat pelaku langsung mengantarkannya ke ruang brankas penyimpanan uang. Sementara temannya, Agus masih berjaga di bagian kasir.

Sepuluh menit setelah mengantar pelaku ke ruang brankas, pelaku keluar dan Agung mendengar suara rintihan orang kesakitan. Setelah dicek, Agus sudah bersimbah darah dan meninggal dunia.

Setelah membunuh korban, pelaku membawa uang Rp 2 juta dari brankas penyimpanan Indomaret.

Baca: Mobil Calya Remuk Usai Tabrak Tiang Reklame di Jalan Ahmad Dahlan Pati

Petugas kepolisian yang mengetahui informasi tersebut langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi juga memeriksa CCTV dan mengumpulkan barang bukti, serta memeriksa para saksi.

Sementara korban dibawa ke RSUD Bhayangkara untuk dilakukan pemeriksaan dan autopsi. Polisi masih melakukan pendalaman kasus untuk membongkar pelaku perampokan yang menewaskan karyawan Indomaret tersebut.

Editor: Supriyadi

Keroyok Pemuda Prawoto Hingga Tewas, 2 Warga Wegil Pati Divonis 9 Tahun Penjara

Dua terdakwa menjalani sidang putusan kasus pengeroyokan pemuda Prawoto yang menyebabkan orang meninggal dunia di Pengadilan Negeri Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Andre Yoga Sanjaya dan Mugiono, pemuda asal Desa Wegil, Kecamatan Sukolilo yang menjadi terdakwa kasus pengeroyokan hingga tewas dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Negeri Pati, Kamis (7/12/2017).

Andre divonis hukuman pidana sembilan tahun penjara, sedangakn Mugiono dijatuhi hukuman delapan tahun penjara. Keduanya terbukti melakukan pengeroyokan terhadap Muhamad Riyadi, pemuda asal Prawoto hingga tewas.

Atas putusan tersebut, kedua terdakwa dan jaksa penuntut umum (JPU) menyatakan pikir-pikir sampai batas waktu selama tujuh hari sejak putusan tersebut dibacakan.

Baca: Pemuda Prawoto Pati Tewas Dikeroyok, 4 Orang Ditetapkan Tersangka

Kedua terdakwa masih diberikan kesempatan untuk mengajukan banding ke tingkat pengadilan tinggi. Sidang pembacaan putusan kasus pengeroyokan tersebut dikawal sekitar 90 orang dari warga Prawoto dan Wegil.

Meski demikian, pelaksanaan sidang berjalan tertib dan lancaran. Sejumlah personil kepolisian juga diterjunkan untuk melakukan pengamanan berjalannnya sidang.

Diberitakan sebelumnya, Muhammad Riyadi tewas dikeroyok belasan pemuda Desa Wegil dalam sebuah tawuran di gapura pintu masuk Desa Prawoto, Selasa (27/6/2017) lalu.

Korban tewas setelah dihantam botol bir hingga menyebabkan pendarahan hebat pada bagian kepala. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong.

Editor: Supriyadi

Anak yang Bunuh Ibu Kandung di Getasrabi Kudus Terancam Dibebaskan, Ini Alasannya

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning saat memberikan keterangan terkait kasus pembunuhan ibu kandung di Desa Getasrabi, Kecamatan Gebog, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kasus pembunuhan ibu kandung yang dilakukan seorang anak di Dukuh Kebangsan, RT 2/RW 3, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Selasa (28/11/2017) bisa dibebaskan.

Ini lantaran pelaku terindikasi mengalami gangguan jiwa. Hanya saja, petugas masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui ihwal penyakit tersebut.

Baca: Tak Diberi Uang, Anak di Getassrabi Kudus Tega Pacul Kepala Ibunya Hingga Tewas

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning mengatakan, berdasarkan peraturan, orang yang memiliki gangguan jiwa, kasusnya dapat diberhentikan. Ini lantaran mereka tak memiliki kesadaran (benar atau salah) atas tindakan yang dilakukan.

”Namun untuk memastikan apakah pelaku memang memiliki penyakit  jiwa atau tidak membutuhkan pemeriksaan yang lengkap dan bertahap. Jadi tidak mudah,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (30/11/2017).

Menurut dia, yang berhak memutuskan apakah pelaku mengidap penyakit jiwa adalah dokter jiwa. Untuk itu, Anshori dijadwalkan bakal diperiksa langsung oleh dekter jiwa RSUD Kudus untuk memastikan.

”Jika memang benar memiliki penyakit jiwa, maka bisa dirujuk ke rumah sakit jiwa untuk diobati,” ujarnya. 

Baca: Sebelum Dibunuh, Sang Ibu Sempat Diancam Hingga Tak Berani Pulang ke Rumah

Saat ini penanganan masih dilakukan, dengan melakukan sejumlah observasi lapangan. Hasilnya, tanda adanya gangguan jiwa memang muncul dari Anshori (30). Hal ini dikuatkan dengan keterangan kakak kandung pelaku.

Dari keterangan sang kakak, Anshori sudah mengidap gangguan jiwa sejak 2009 lalu. Hanya, ia selalu rutin berobat tentang kondisi jiwanya. Bahkan obat dari dokter juga selalu diminum agar kondisinya tak semakin parah.

Namun, proses itu berhenti pada 2016 karena faktor ekonomi. Akibatnya, Anshori sering uring-uringan dan puncaknya adalah perbuatan pembunuhan yang dilakukan kepada ibu kandungnya sendiri.

“Selama pemeriksaan selama ini, pelaku juga kerap membenturkan kepalanya ke dinding,” imbuhnya

Baca: Anak Bunuh Ibu Kandung di Getassrabi Kudus Ternyata Alami Gangguan Jiwa

Kapolres berharap, tetangga dapat lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Sehingga, jika ada warga yang memiliki penyakit atau gangguan jiwa, dapat segera dilaporkan ke pemerintah desa, untuk segera ditangani.

“Jangan sampai kasus semacam ini terulang kembali. Jadi penanganan dini dapat dilakukan,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Ini Luka yang Dialami Ibu di Getassrabi Kudus Setelah Dipacul Anaknya Hingga Meninggal

Petugas kepolisian memeriksa jenazah Aminah yang tewas di tangan anak kandungnya sendiri menggunakan pacul dengan disaksikan sejumlah perangkat desa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kasus pembunuhan ibu kandung yang dilakukan oleh seorang anak di Desa Getasrabi, Kecamatan Gebog memang menyita perhatian banyak orang.

Meski dilakukan oleh orang yang mengalami gangguan jiwa, pembunuhan tersebut terbilang ekstrem lantaran dilakukan dengan pacul (cangkul,red). Lantas dimana saja luka yang dialami?

Baca: Tak Diberi Uang, Anak di Getassrabi Kudus Tega Pacul Kepala Ibunya Hingga Tewas

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning mengatakan, dari hasil pemeriksaan tim medis terdapat luka akibat benda tajam pada kepala bagian belakang korban. Luka tersebut terletak di kepala belakang bagian kanan.

”Setelah diperiksa dokter, kepalanya mengalami robekan cukup besar. Robekan itulah yang menbuat pendarahan sangat parah dan mengakibatkan korban meninggal dunia,” kata Kapolres Kudus, Selasa (27/11/2017).

Baca: Sebelum Dibunuh, Sang Ibu Sempat Diancam Hingga Tak Berani Pulang ke Rumah

Robekan tersebut bahkan membuat tengkorak belakang pecah. Itu terjadi karena kerasnya benturan ke kepala belakang.  Hal itulah yang menjadi penyebab kematian ibu di Getassrabi, Kecamatan Gebog tersebut.

Terkait benda yang digunakan, Kapolres menegaskan, kuat dugaan alat yang digunakan adalah pacul. Selain pendalaman luka, petugas menemukan pacul tersebut di dekat jenazah korban yang dipenuhi darah pada gagang cangkulnya.

“Untuk pelakunya, mengarah pada anak korban yang informasinya mengalami gangguan jiwa. Tapi bagaimanapun, masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut,” ungkap dia.

Baca: Anak Bunuh Ibu Kandung di Getassrabi Kudus Ternyata Alami Gangguan Jiwa

Sementara itu, Bahrin (56)  Kadus Desa Getassrabi,  Kecamatan Gebog mengatakan, usai membunuh ibunya dengan pacul, pelaku langsung berlari ke tetangga sekitar. Ia pun menceritakan kejadian tersebut tanpa penyesalan.

“Saat itu sekitar jam 10.30 WIB. Dia (Ansori) tiba-tiba menghampiri saya yang sedang memberishkan selokan. Dia (Ansori) bilang ke saya kalau dia telah membunuh ibunya,” katanya, Selasa (27/11/2017).

Baca: Ternyata Begini Asal Mula Anshori Alami Gangguan Jiwa Hingga Tega Bunuh Ibu Kandungnya dengan Pacul

Tak hanya membunuh ibunya, lanjut Kadus Tiga itu, pelaku juga bercerita alasan pembunuhan sadis tersebut. Alasannya, ia tidak diberikan uang oleh ibunya. Atas dasar itulah, pembunuhan dilakukan.

“Setelah mendapat kabar, kami langsung menuju ke lokasi. Dan benar saja kalau telah ada pembubuhan. Setelah itu, beberapa saat petugas kepolisian juga sudah tiba,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Ternyata Begini Asal Mula Anshori Alami Gangguan Jiwa Hingga Tega Bunuh Ibu Kandungnya dengan Pacul

Garis polisi dipasang petugas di sekitar lokasi pembunuhan untuk proses penyelidikan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ansori warga Dukuh Kebangsan RT 2/RW 3, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog yang nekat membunuh ibunya sendiri memang mengalami gangguan jiwa. Hal itulah yang membuat pemuda 30 tahun tersebut tega membunuh ibunya sendiri dengan pacul.

Bahrin (56)  Kadus Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog mengatakan, sebelumnya Ansori hidup layaknya orang normal. Bahkan dia sempat menikah dengan pilihannya. Namun, usia pernikahan tak lama hingga akhirnya mereka bercerai sebelum sempat memiliki anak.

Baca: Tak Diberi Uang, Anak di Getassrabi Kudus Tega Pacul Kepala Ibunya Hingga Tewas

Semenjak itu, Ansori sering marah dan mengalami gangguan jiwa. Ia juga pernah dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) untuk penanganan,” katanya Selasa (27/11/2017).

Selang beberapa waktu, Ansori kembali pulang ke rumah. Namun kondisinya belum benar-benar pulih. Terkadang sepekan kambuh sekali. Karena alasan itu, dia masih rutin kontrol ke RSUD Kudus, dalam penanganan Poli Jiwa.

Baca: Sebelum Dibunuh, Sang Ibu Sempat Diancam Hingga Tak Berani Pulang ke Rumah

Sementara, Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning membenarkan informasi akan adanya gangguan jiwa yang dialami oleh pelaku. Bahkan Kapolres menduga, apa yang dilakukan ini adalah puncaknya.

“Kami akan tetap menangani kasus ini. Bagaimanapun ini adalah pembunuhan. Soal motifnya apa, masih kami dalami,” ungkap dia.

Ditambahkan Kapolres, nantinya akan melakukan observasi ke RSUD Kudus tentang kondisi pelaku. Observasi dan pemeriksaan dilakukan untuk mencari tahu keadaan sebenarnya dari pelaku pembuahan.

Editor: Supriyadi

Baca: Anak Bunuh Ibu Kandung di Getassrabi Kudus Ternyata Alami Gangguan Jiwa

Anak Bunuh Ibu Kandung di Getassrabi Kudus Ternyata Alami Gangguan Jiwa

Petugas kepolisian memeriksa jenazah Aminah yang tewas di tangan anak kandungnya sendiri menggunakan pacul dengan disaksikan sejumlah perangkat desa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ansori warga Dukuh Kebangsan RT 2 RW 3, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, yang nekat membunuh ibunya sendiri ternyata mengalami gangguan jiwa. Pemuda 30 tahun itu bahkan masih rutin kontrol ke Poli Jiwa di RSUD Kudus.

Kepala Dusun (Kadus) Desa Getasrabi Bahrin mengatakan, pelaku mengalami gangguan jiwa setelah bercerai dengan istrinya beberapa tahun silam. Saat itu, istri yang dinikahinya merupakan pilihannya sendiri. Hanya, tak tahu ada apa, usia pernikahan keduanya tak bisa bertahan lama.

Baca: Tak Diberi Uang, Anak di Getassrabi Kudus Tega Pacul Kepala Ibunya Hingga Tewas

”Semenjak itu, Ansori sering marah dan mengalami gangguan jiwa. Ia juga pernah dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) untuk penanganan,” katanya Selasa (27/11/2017).

Selang beberapa waktu, Ansori kembali pulang ke rumah. Namun kondisinya belum benar-benar pulih. Terkadang sepekan kambuh sekali. Karena alasan itu, dia masih rutin kontrol ke RSUD Kudus, dalam penanganan Poli Jiwa.

Baca: Tanpa Penyesalan, Pemuda Getassrabi Kudus Ini Woro-woro ke Tetangga Usai Bunuh Ibunya

Sementara, Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning membenarkan informasi akan adanya gangguan jiwa yang dialami oleh pelaku. Bahkan Kapolres menduga, apa yang dilakukan ini adalah puncaknya.

“Kami akan tetap menangani kasus ini. Bagaimanapun ini adalah pembunuhan. Soal motifnya apa, masih kami dalami,” ungkap dia.

Ditambahkan Kapolres, nantinya akan melakukan observasi ke RSUD Kudus tentang kondisi pelaku. Observasi dan pemeriksaan dilakukan untuk mencari tahu keadaan sebenarnya dari pelaku pembuahan.

Editor: Supriyadi

Baca: Sebelum Dibunuh, Sang Ibu Sempat Diancam Hingga Tak Berani Pulang ke Rumah

Sebelum Dibunuh, Sang Ibu Sempat Diancam Hingga Tak Berani Pulang ke Rumah

Jenazah aminah masih tergeletak di halaman belakang rumah guna penyelikan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sebelum membunuh ibunya, Ansori (30), warga Dukuh Kebangsan RT 2/RW 3, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, sudah mengancam akan membunuh ibunya. Ancaman itu diutarakan langsung ke ibunya, malam sebelum kejadian.

Hal itu disampaikan Mukhlas (56), tetangga korban. Menurut dia, pelaku yang merupakan anak paling kecil sempat membentak ibunya dan mengancam akan membunuhnya. Kejadian tersebut dilakukan Senin (26/11/2017) malam.

Baca: Tak Diberi Uang, Anak di Getassrabi Kudus Tega Pacul Kepala Ibunya Hingga Tewas

“Semalam sudah berteriak mau membunuh ibunya. Alasanya, jika dia sampai tak dikasih uang ibunya akan dibunuh,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Ancaman tersebut, lanjutnya, langsung menghebohkan tetangganya. Terlebih lagi, korban tak berani pulang ke rumah karena ketakutan. Ia pun memilih tidur di rumah saudaranya yang tak jauh dari rumah.

Baca: Tanpa Penyesalan, Pemuda Getassrabi Kudus Ini Woro-woro ke Tetangga Usai Bunuh Ibunya

“Setelah semalam diancam, malah sekarang dibunuh beneran. Dan alasanya memang karena minta uang,” ujarnya.

Dijelaskan, selama ini, pelaku memang suka meminta uang kepada ibunya untuk kebutuhan sehari-hari. Termasuk saat mau jajan ke warung dan membeli rokok.

Editor: Supriyadi

Baca: Anak Bunuh Ibu Kandung di Getassrabi Kudus Ternyata Alami Gangguan Jiwa

Tanpa Penyesalan, Pemuda Getassrabi Kudus Ini Woro-woro ke Tetangga Usai Bunuh Ibunya

Garis polisi dipasang petugas di sekitar lokasi pembunuhan untuk proses penyelidikan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ansori (30) warga Dukuh Kebangsan RT 2/RW 3, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog yang tega membunuh ibu kandungnya dengan pacul terbilang aneh. Pasalnya, pasca membunuh ibunya, dia dengan bangga menyampaikan kabar tersebut ke tetangga tanpa rasa penyesalan.

Bahrin (56)  Kadus Desa Getassrabi,  Kecamatan Gebog mengatakan, usai membunuh ibunya dengan pacul, ia langsung berlari ke tetangga sekitar. Ia pun menceritakan kejadian tersebut tanpa penyesalan.

Baca: Tak Diberi Uang, Anak di Getassrabi Kudus Tega Pacul Kepala Ibunya Hingga Tewas

“Saat itu sekitar jam 10.30 WIB. Dia (Ansori) tiba-tiba menghampiri saya yang sedang memberishkan selokan. Dia (Ansori) bilang ke saya kalau dia telah membunuh ibunya,” katanya, Selasa (27/11/2017).

Tak hanya membunuh ibunya, lanjut Kadus Tiga itu, pelaku juga bercerita alasan pembunuhan sadis tersebut. Alasannya, ia tidak diberikan uang oleh ibunya. Atas dasar itulah, pembunuhan dilakukan.

“Setelah mendapat kabar, kami langsung menuju ke lokasi. Dan benar saja kalau telah ada pembubuhan. Setelah itu, beberapa saat petugas kepolisian juga sudah tiba,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi