Mungkinkan Kita Ini Kembali ke Zaman Jahiliyah?

Ali Muntoha muntohafadhil@gmail.com

Ali Muntoha
muntohafadhil@gmail.com

ORANG bilang kita ini tinggal di dunia modern, dengan manusia-manusianya yang semakin cerdas. Kecerdasan orang-orang ini mampu menciptakan teknologi luar biasa yang memudahkan hidup mereka, dan ilmu-ilmu pengetahuan baru untuk memecahkan berbagai macam persoalan.

Bisa dikatakan sudah tidak ada lagi orang yang bodoh tanpa pendidikan. Namun faktanya kecerdasan dan kepintaran yang ada justru tak berbanding lurus dengan kecerdasan hati dan nurani. Sehingga yang terjadi, kepintaran dan kecerdasan itu justru membawa manusia kembali ke arah zaman jahiliyah, zaman kebodohan.

Zaman jahiliyah diidentikkan dengan konsep kehidupan yang tak manusiawi, moralitas berada pada titik paling rendah, penganiayaan, kedzaliman menyebar dan merusak tatanan kehidupan sosial. Tak beda dengan hari-hari ini, di mana kita disuguhi perkelahian, pertentangan oleh masalah-masalah yang sebenarnya sepele.

Pemimpin saling bertikai, tokoh agama diadu-domba, dan agama dijadikan sarana untuk memenuhi hasrat pribadi. Orang bisa dengan mudah mencaci maki jika tak sesuai dengan pandangannya, teman dengan sekejap bisa jadi musuh, keluarga tercerai berai, dan lainnya.

Di masa zahiliyah posisi perempuan sangat tidak berharga. Perempuan diposisikan layaknya barang, sebagai pemuas nafas dan bahkan bisa diwariskan. Di zaman ini pula anak-anak perempuan banyak yang dihabisi nyawanya, karena dianggap tak punya nilai yang berarti.

Dalam beberapa pekan ini kita disuguhi berita tentang kekejaman seorang anak perempuan di Kabupaten Rembang. Tiga orang gadis bau kencur menjadi korban ekspolitasi seksual. Tragisnya lagi, dua dari korban pelakunya bukan orang lain, melainkan keluarganya sendiri.

Dua gadis ingusan itu digagahi oleh ayah tirinya. Meskipun statusnya ayah tiri, tapi tugas utamanya seharusnya melindungi, mendidik dan membesarkan anaknya penuh dengan kasih sayang, bukan menggaghi dengan membabi buta. Bahkan satu di antaranya sampai hamil enam bulan, setelah dicabuli sang ayah tiri.

Perlakukan seperti ini, menunjukkan bahwa orang-orang seperti ini sudah tak ubahnya seperti binatang, yang mengumbar nafsu seenak hatinya. Tak hanya nafsu birahi, nafsu untuk melampiaskan kemarahan juga langsung diumbar dengan tanpa memperhatikan dampaknya. Seorang guru SD di Kabupaten Grobogan kehilangan nyawa setelah dibacok oleh suaminya sendiri yang tengah marah.

Kebiadaban orang tua kepada anaknya juga terjadi di Kabupaten Grobogan. Bocah umur empat tahun digorok oleh ibunya sendiri sampai meninggal dunia. Tak tahu apa penyebabnya, namun masalah kejiwaan yang disebut-sebut menjadi penyebab utama ibu tersebut nekat menghabisi nyawa anak kandungnya.

Dari berbagai macam kasus ini mengingatkan kita tentang zaman jahiliyah, di mana rusaknya tatanan sosial membuat degradasi moral anarkisme merajalela. Di sini peran agama perlu kembali diperkuat, pengamalan ajaran keagamaan, apapun agamanya menjadi kunci untuk mengentaskan berbagai macam persoalan sosial ini. (*)