Video – Gurihnya Budidaya Lele, Sekali Panen Raup Rp 16 Juta

PATI – Budidaya lele memang tidak ada matinya. Pasalnya, ikan lele menjadi kebutuhan pasar setiap hari. Tak ayal, budidaya lele menjadi pekerjaan idaman.

Suwardi, petani lele yang tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Ikan Kedung Mina Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong kepada MuriaNewsCom, Sabtu (7/11/2015) mengatakan bisa meraup penghasilan Rp 16 juta dalam sekali panen.

Untuk sekali panen, Suwardi mengaku membutuhkan waktu setidaknya tiga bulan. Padahal, budidaya lele justru dijadikan sebagai profesi sampingan.

”Sebetulnya, saya bekerja sebagai petani ketela. Budidaya lele hanya sebagai aktivitas tambahan saja. Tapi, ternyata hasilnya luar biasa. Selain hobi, budidaya lele membawa berkah,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Harga Melonjak Bawa Berkah Bagi Petani Lele di Pati

Suwardi menunjukkan lele di kolam yang ia panen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suwardi menunjukkan lele di kolam yang ia panen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Harga ikan lele melonjak dalam beberapa pekan terakhir. Namun, kenaikan harga lele justru membawa berkah bagi petani lele di Pati.

Suwardi, misalnya. Petani lele yang tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Ikan Kedung Mina Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong mengaku senang dengan harga ikan lele yang melonjak di pasaran.

”Kenaikan harga biasanya dipengaruhi minat pembeli di pasaran yang tinggi. Harga lele sempat anjlok saat Hari Raya Idul Adha kemarin. Namun, saat ini harganya sudah mulai pulih, bahkan cenderung naik,” ujar Suwardi kepada MuriaNewsCom, Sabtu (7/11/2015).

Ia mengaku menjual lele ke tengkulak dengan harga Rp 16.500 per kilogram. Sementara itu, di pasaran dijual dengan kisaran harga Rp 19 ribu per kilogram. (LISMANTO/TITIS W)

Usaha Pembibitan Lele Sangkuriang Ternyata Sangat Menjanjikan

Fitrahudin saat memberikan makan pada lele sangkuriang (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Fitrahudin saat memberikan makan pada lele sangkuriang (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Fitrahuddin, pria warga Desa Blimbing Kidul, Kaliwungu Kudus, memilih usaha beternak lele sangkuriang dibandingkan dengan usaha lainnya. Berawal dari kecintaannya pada ikan air tawar ini, ayah dua anak tersebut menjadikan dirinya berprofesi sebagai peternak lele sejak 2011 silam.

“Sejak dari tahun 2011, saya sudah beternak lele sangkuriang. Lele ini berbeda dengan lele dumbo yang sempat jadi tren. Tapi sekarang lele sangkuriang yang jadi tren,” ungkap Fitrah, sapaan akrabnya, saat ditemui di peternakannya.

Berawal dari modal Rp 7.000.000, Fitrah membangun sebuah kolam di samping rumahnya dan meminjam lahan di depan rumahnya untuk mengembangkan usahanya ini. Lele sangkuriang lebih dipilihnya ketimbang lele dumbo. Fitrah menjelaskan perbedaan antara lele dumbo dan lele sangkuriang terletak pada rasanya saat dimasak.”Daging lele sangkuriang lebih gurih dibandingkan lele dumbo,” jelasnya.

Setiap hari, rumahnya selalu didatangi para pengepul yang ingin membeli lele yang sudah siap panen. Harga perkilogramnya dibanderol Rp 15 ribu. Sementara, jika disetorkan ke beberapa pasar di wilayah kabupaten Kudus, ia mematok harga Rp 17 ribu per kilogramnya.

“Lele sangkuriang ini panennya setiap dua bulan sekali. Lebih menjanjikan dibandingkan beternak ikan bandeng atau ikan air tawar lainnya,” jelasnya.

Fitrah berharap lele sangkuriang ini dapat dikembangkan di wilayah Kudus dan sekitarnya. Termasuk dalam hal perluasan lahan untuk peternakan ikan air tawar.(HANA RATRI/KHOLISTIONO)