Kreatif, Pelukis di Grobogan Ini Manfaatkan Styrofoam Bekas Jadi Bahan Warna

MuriaNewsCom, GroboganBahan warna yang digunakan untuk membuat sebuah lukisan lazimnya menggunakan cat air atau cat minyak. Namun, yang dipakai Didik Budiarto dalam membuat sebuah lukisan boleh dibilang cukup nyleneh.

Pelukis berusia 37 tahun itu membuah bahan warna sendiri untuk membuat lukisan suliet wajah. Menariknya, bahan warna itu dibuat dengan memanfaatkan styrofoam atau gabus bekas.

Proses pembuatan warna cukup sederhana. Jika styrofoam yang didapat masih polos maka terlebih dulu dicat dengan cat tembok sesuai warna yang diinginkan. Setelah dikeringkan beberapa saat, styrofoam yang sudah ada warnanya itu selanjutnya dicelup dalam wadah berisi bensin atau tinner.

Untuk styrofoam bekas yang kebetulan sudah ada warnanya maka tinggal dimasukkan saja dalam wadah. Saat dimasukkan dalam wadah ini, styrofoam akan hancur dan bensin akan berubah warnanya. Bahan inilah yang nantinya akan digunakan untuk cat pada lukisan.

Didik biasa membuat lukisan siluet wajah pada kanvas berukuran 30×40 centimeter. Tahap awal, ia membuat sketsa lebih dulu pada kanvas. Setelah itu, kain kanvas ditutup dengan lapisan warna yang diinginkan. Untuk gambar siluet wajah digunakan warna hitam.

“Dalam membuat lukisan ini saya lebih dominan pakai wana hitam. Jadi, styrofoam bekas lebih banyak saya olah jadi warna hitam,” jelas bapak dua anak itu.

Didik Budiarto sedang membuat lukisan siluet wajah menggunakan bahan warna yang dibikin dari styrofoam bekas. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Saat ditemui wartawan, Didik sempat mempraktekkan proses pembuatan warna dari bahan styrofoam hingga selesai membuat satu lukisan. Waktu yang diperlukan dari awal hingga selesai hanya sekitar 40 menit saja.

Pembuatan lukisan dari bahan warna unik itu baru dilakukan awal tahun 2018 lalu. Ide pembuatan warna itu muncul setelah ia menemukan banyak sampah styrofoam yang tidak termanfaatkan. Disisi lain, sampah styrofoam itu sangat sulit terurai secara alami sehingga akan menyebabkan persoalan bagi lingkungan jika dibuang sembarangan.

“Sampah styrofoam ini tidak bisa hancur ratusan tahun meski dipendam dalam tanah. Jadi, barang ini saya piker harus bisa dimanfaatkan untuk mengurangi dampak lingkungan,” kata pria yang juga memiliki bank sampah itu.

Meski pembuatan lukisan menggunakan bahan warna dari Styrofoam bekas itu baru dilakukan dua bulan namun hasilnya dinilai diluar dugaan. Sejak dikenalkan pada teman atau lewat media sosial, order pembuatan lukisan langsung meningkat pesat. Bahkan, sejumlah pejabat Pemkab Grobogan juga ikut pesan lukisan.

Seorang pemesan sedang mengambil lukisan siluet wajah yang sudah dibikin Didik Budiarto. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

“Responnya sangat mengangetkan. Tiap hari banyak order datang. Dalam sehari kadang saya bisa bikin sampai 12 lukisan,” katanya.

Pembuatan lukisan tidak hanya dilakukan dirumahnya saja di Jalan Soponyono V, depan Taman Makam Pahlawan Purwodadi. Terkadang, Didik juga menyelesaikan order lukisan di tempat Bank Sampah Pucang Berdaya di Kelurahan Grobogan. Pembuatan lukisan dilokasi ini dilakukan dalam rangka mengajarkan ilmunya pada pengurus bank sampah tersebut.

Untuk pembuatan lukisan, Didik tidak mematok harga mahal. Sebuah lukisan siluet satu wajah dihargai Rp 50 ribu tanpa pigura. Untuk lukisan siluet dua wajah ongkosnya tambah Rp 10 ribu atau jadinya Rp 60 ribu.

“Biaya bikin lukisan murah meriah. Saya tidak mencari banyak keuntungan dalam membuat lukisan ini. Dapat sedikit yang penting lancar,” cetusnya.

Rencana ke depan, Didik masih punya satu obsesi lagi. Yakni, membuat kanvas untuk melukis dari bahan bekas. Saat ini, bahan kanvas yang digunakan masih harus beli.

Editor: Supriyadi

Sibuk Sekolah dan Mengaji, Diam-diam Eka juga Belajar Melukis Otodidak

Eka Sapta Amalia (17) siswi MA NU Al Hidayah yang ikut lomba melukis dalam rangka peringatan Haul ke 6 Gusdur di Rumah Bambu Wulung Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Eka Sapta Amalia (17) siswi MA NU Al Hidayah yang ikut lomba melukis dalam rangka peringatan Haul ke 6 Gusdur di Rumah Bambu Wulung Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom,Kudus – Eka Sapta Amalia (17), seorang siswi yang tak hanya menempuh pendidikan di MA NU Al Hidayah, Getasrabi, Kecamatan Gebog, namun juga mengaji di pesantren Al Hidayah. Meski disibukkan dengan kegiatan di sekolah dan pondok, ia tetap meluangkan waktu belajar melukis otodidak.

Disaat waktu luang antara belajar formal dan mengaji, pelajar asli Pekalongan tersebut mengisi waktu luangnya dengan melakukan hobi melukisnya. ”Sering iseng menggambar sendiri disaat waktu luang. Melihat hasil karya saya, saya didaftarkan dan dibayari pihak sekolah untuk mengkuti lomba dalam rangka peringatan Haul ke 6 Gusdur di Rumah Bambu Wulung Kudus ini,” paparnya.

Meski begitu, siswi yang duduk di bangku kelas II IPA itu tidak berharap untuk bisa meraih juara. Baginya yang terpenting bisa ikut berpartisipasi menambah ilmu dan pengalaman.
”Yang penting saya bisa diikutkan serta dalam kompetisi melukis ini. Sebab selama ini saya belum pernah ikut lomba semacam ini,” tuturnya.

Eka mengakui, tak hanya hobi melukis wajah tapi juga benda atau pemandangan. Untuk melatih keluwesan tangannya dalam melukis, Eka pun mengambil contoh dari internet untuk kemudian di print. Sehingga disaat menorehkan pensil ke kanvas, bisa menghasilkan gambar yang mirip.

”Untuk lukisan ini memang saya meniru gambar Gusdur yang saya print dari internet. Dan gambar aslinya ini bukan gambar karikatur, sehingga saya harus membuatnya menjadi karikatur. Itulah tantangannya,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Top! Pelukis Pati Hadirkan Mahakarya di Pameran Museum Ranggawarsita

Perupa asal Pati Joko Wahyono tengah menceritakan karya lukisnya kepada sejumlah siswa dalam pameran Museum Ranggawarsita di Aula SMA Negeri 3 Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Perupa asal Pati Joko Wahyono tengah menceritakan karya lukisnya kepada sejumlah siswa dalam pameran Museum Ranggawarsita di Aula SMA Negeri 3 Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sejumlah pelukis kawakan asal Pati ikut memeriahkan pameran koleksi museum dan komunitas seni budaya di Aula SMA Negeri 3 Pati, Kamis (20/8/2015). Mereka memamerkan mahakarya lukisan dengan nilai seni yang tinggi.

Tak sekadar menghadirkan satu karya lukis bermuatan seni, tetapi mereka menyuguhkan muatan-muatan filosofis yang diharapkan bisa memberikan pesan kepada genarasi muda.

Karya Joko Wahyono, misalnya. Ia menghadirkan satu lukisan kepulauan Indonesia yang berada dalam frame daun jati, daun waru, atau gunungan. Frame tersebut nampak terkikis yang mencerminkan Indonesia sekarang ini sudah mulai terkikis dari berbagai aspek.

“Saya juga memberikan barcode dan angka-angka dalam lukisan itu. Artinya, manusia Indonesia sekarang ini sudah mulai mengukur kehidupan dengan angka dan melupakan alamnya,” kata Joko kepada MuriaNewsCom.

Karena itu, ia berharap agar karya-karya lukis mampu memberikan ruang kritis untuk memberikan pesan kepada manusia Indonesia yang sekarang mulai lupa dengan ke-Indonesia-annya. “Lukisan ini dihadirkan, karena tema pameran yang digelar menghadirkan tema Aktualisasi Kemerdekaan,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)