Napi Kudus Diberi Pelatihan Kerja

BLK

Bupati Kudus Musthofa saat memberikan remisi kepada napi di rutan setempat.

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus dengan Rutan Kudus terus menjalin kerja saja. Yaitu melalui Dinsosnakertrans.

Yaitu, warga binaan yang dapat remisi Hari Kemerdekaan akan dibekali keterampilan kerja. Di antaranya keterampilan otomotif dan pangkas rambut. Sehingga ketika kembali ke masyarakat mereka sudah memiliki bekal keterampilan.

Bupati juga berharap agar mereka bisa kembali menjadi orang-orang yang bermanfaat di masyarakat. Upayanya melalui balai latihan kerja (BLK) ini sebagai upaya agar tidak lagi ada persoalan kesulitan pekerjaan bagi seluruh masyarakat termasuk warga binaan ini.

”Menjadi orang baik memang susah. Tetapi menjadi orang tidak baik akan lebih susah,” imbuhnya.

Bupati yang sudah delapan kali memberikan remisi di rutan ini selalu mendoakan dan berharap ada kesadaran dari seluruh warga binaan.

Yaitu sekembalinya mereka dari rutan bisa baik di masyarakat dan tidak mengulangi perbuatan yang pernah dilakukan ini.

Editor : Akrom Hazami

 

Hindari Lulus Nganggur, Pelajar di Blora Dilatih Keterampilan Kerja

Chris Hapsoro, Kepala Disnakertransoso kabupaten Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Chris Hapsoro, Kepala Disnakertransoso kabupaten Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Dunia kerja sangat membutuhkan sebuah keterampilan. Karenanya, mutlak bagi calon karyawan untuk mempunyai kecakapan yang dibutuhkan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora melalui Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) memberi fasilitas bagi setiap instansi pendidikan memberikan keterampilan kepada peserta didiknya.

“Selama empat tahun ini, cuman MAN Blora saja yang bermitra kepada kami untuk memberikan kemampuan kepada peserta didiknya,” kata Chris Hapsoro, Kepala Disnakertransos kepada MuriaNewsCom (28/3/2016).

Pihaknya siap menyediakan fasilitas pelatihan keterampilan kerja. Yaitu berupa tempat penyelenggaraan dan tenaga pelatih.

“Kalaupun dari sekolah menghendaki sendiri pengajar keterampilan, kami pun tidak memaksa,” ujarnya.
Selama ini, lanjut Hapsoro, ada sekitar 60 siswa yang ikut pelatihan keterampilan yang didelegasikan oleh MAN Blora. Pelatihan tersebut biasanya dilakukan untuk mengisi liburan sekolah.

Biasanya siswa yang mengikuti pelatihan tersebut adalah mereka yang duduk di kelas XI dan XII. Beberapa pelatihan yang diberikan, di antaranya otomotif dan las. “Kami pun tidak memaksa, kalaupun bagi pihak sekolah menginginkan untuk memberikan pelatihan yang lain kepada siswanya,” tambahnya.
Menurutnya, pelatihan keterampilan bagi pelajar sangatlah penting. Pelajar yang notabene sebagai calon pencari kerja, kelak akan lebih mudah mencari pekerjaan.

“Karena dia sudah memiliki keterampilan. Selain itu, calon pencari kerja kelak juga bisa berwirausaha sendiri atas keterampilan yang ia miliki,” tandasnya.

Dalam pelatihan ketrampilan ini, pihaknya berharap bisa memberikan pelatihan sebanyak-banyaknya. Menurutnya, jika banyak orang terampil, maka, beban hidup menjadi semakin ringan.
Ia juga menambahkan, bahwa pihaknya juga memfasilitasi bagi para pencari kerja untuk disalurkan kepada perusahaan yang sedang butuh karyawan.

Seperti PT Indomarco dan BTPN Syariah. Perusahaan difasilitasi untuk mengadakan tes di kantor Disnakertrans.

Editor : Akrom Hazami

2016, Jurusan Favorit BLK di Kudus Bakal Dibuatkan Tingkat Lanjut

Kepala Dinsosnakertrans Ludhful Hakim (kiri) didampingi kepala BLK Sajad memberikan penjelasan terkait pelatihan lanjutan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Dinsosnakertrans Ludhful Hakim (kiri) didampingi kepala BLK Sajad memberikan penjelasan terkait pelatihan lanjutan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Selama 2016 ini, Balai Latihan Kerja (BLK) Kudus tengah mempersiapkan adanya pelatihan keterampilan lanjutan. Meski demikian, jurusan yang dipilih untuk pelatihan lanjutan adalah jurusan yang menjadi favorit atau banyak peminat.

Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Kudus Ludhful Hakim didampingi kepala BLK Sajad mengungkapkan, pelatihan lanjutan sedang dipersiapkan oleh pihak BLK. Namun untuk jurusan yang kurang banyak peminat, tidak disiapkan adanya pelatihan lanjutan.

”Kami lakukan berdasarkan dari permintaan para peserta BLK. Mereka menginginkan adanya pelatihan tingkat lanjutan untuk jurusan yang diambil mereka,” katanya kepada MuriaNewsCom.
Mengenai materi yang diberikan, katanya adalah materi lanjutan dari yang pernah diberikan pada tingkat dasar. Dengan demikian, otomatis peserta yang dapat mengikuti materi pelatihan adalah mereka yang sudah memiliki sertifikat pelatihan sebelumnya.

”Ada beberapa jurusan yang menjadi favorit, yaitu pelatihan menjahit, bengkel motor, tata rias salon, kecantikan rambut, kecantikan kulit, rias pengantin serta tata boga,” ujarnya.

Baca juga : Sesuaikan Tuntutan Zaman, BLK Kudus Tambah Jurusan Keterampilan

Dia mencontohkan, materi untuk tata boga bukan hanya mengajarkan cara membuat kue saja. Melainkan juga mengajarkan cara membuat masakan lain. Misalnya bakso, serta kuliner lainnya.
Mengenai instruktur yang terdapat pada BLK, kata dia adalah sebagian besar sudah ada. Namun beberapa di antaranya kerja sama dengan bimbingan belajar atau kursus yang terdapat di Kudus.
”Untuk instruktur sebagian besar sudah ada. Namun yang belum adalah jurusan tata boga dan salon kecantikan,” ungkapnya.

Selain itu, instruktur las dan otomotif juga sangat dibutuhkan di sini. Sebab banyaknya peminat yang mengambil jurusan tersebut.

Baca juga:

Tak Ada Bantuan Alat, Peserta Pelatihan di BLK Kudus Tetap Membeludak

Begini Cara Menyulap Alumni BLK Jadi Pengusaha Sukses

Ribuan Warga Terserap Bekerja di Sektor Formal dan Mandiri Usai Mengikuti Pelatihan di BLK

Berkembangnya Pabrik Garmen di Blora, BLK Menjahit Paling Diminati

Editor : Titis Ayu Winarni

Desa Tenggeles Diharapkan Semakin Eksis Sebagai Sentra Kerajinan Alat Pertukangan dan Pertanian

Proses pembuatan kerajinan alat pertukangan dan pertanian di Desa Tenggeles (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Proses pembuatan kerajinan alat pertukangan dan pertanian di Desa Tenggeles (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sebagai sentra kerajinan peralatan pertukangan dan pertanian, Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, Kudus diharapkan semakin eksis dan nantinya juga dapat diteruskan oleh generasi muda.

”Ke depan, kita berharap anak cucu kita dapat meneruskan usaha yang berkembang saat ini. Bahkan, nantinya usaha kerajinan peralatan pertanian dan pertukangan di desa ini semakin besar dari sekarang,” ujar Sutarno, salah satu perajin di desa tersebut.

Ia katakan, untuk saat ini di Desa Tenggeles sudah ada sekitar 10 Kelompok Usaha Bersama (KUB). kelompok usaha tersebut juga berupa perajin peralatan pertanian atau pertukangan dari seng atau besi bekas.

“Kalau usaha ini bisa diteruskan dengan baik, maka desa ini nantinya masih sebagai sentranya pembuat peralatan pertukangan atau pertanian, bahkan dimungkinkan bisa lebih berkembang lagi. Sehingga perekonomian warga juga bisa terdongkrak dan warga tidak perlu lagi mencari pekerjaan ke daerah lain,” paparnya.

Dengan adanya KUB di desa tersebut, katanya, juga dapat menjadi wadah bagi perajin untuk bersatu meningkatkan kualitas produk. Bahkan, katanya, juga bisa mengantisipasi persaingan kuantitas maupun kualitas.

“Kita memang berkeinginan usaha ini supaya bisa terus berkembang serta dijadikan untuk pendapatan warga Tenggles. Oleh sebab itu, para KUB ini bersama-sama membuat produk yang berkualitas,” pungkasnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Pemuda Desa Tenggeles Diminta Aktif untuk Mengikuti Pelatihan Kerja

Kepala Desa Tenggeles Amin Santosa (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kepala Desa Tenggeles Amin Santosa (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Pemerintah Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo terus berupaya untuk meningkatkan produktivitas dan kreatifitas warganya. Salah satu cara yang dilakukan yakni dengan mendorong warganya untuk mengikuti pelatihan yang diadakan Balai Latihan Kerja (BLK) Kudus.

Dengan mengikuti pelatihan di BLK ataupun tempat pelatihan lain, diharapkan pemuda di Desa Tenggelas memiliki keterampilan, sehingga nantinya diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja sendiri atau menjadi tenaga terampil.

Kepala Desa Tenggeles Amin Santosa mengatakan, karena Desa Tenggeles merupakan sentra kerajinan peralatan pertanian,dapur, pertukangan dan alat bangunan, dirinya berharap usaha tersebut bisa berjalan dengan baik.

“Ketika ada informasi dari BLK atau Dinsosnakertrans Kudus mengenai pelatihan, pasti saya langsung menginformasikan kepada warga. Harapannya, tentunya pemuda yang ada di desa ini mau untuk mengikuti pelatihan tersebut sesuai dengan pilihan yang ada,” katanya.

Menurutnya, dengan mengikuti pelatihan tersebut, pemuda memiliki keterampilan, sehingga nantinya dapat mengembangkan usaha lokal dan tidak lagi mencari kerja di luar daerah.
Dirinya berharap, ketika ada kesempatan tersebut, tidak disia-siakan oleh warganya. Sehingga, angka pengangguran dapat diminimalisasi. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Pemilik LPK Jepara Nyatakan Pikir-pikir Atas Putusan Hakim

Lembar salinan putusan sidang terhadap terdakwa korupsi dana bantuan pelatihan (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Lembar salinan putusan sidang terhadap terdakwa korupsi dana bantuan pelatihan (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kepala Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Diana bernama Zakaria menjadi terdakwa kasus korupsi. Pemilik LPK yang beralamat di Desa Margoyoso, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara tersebut telah divonis hukuman penjara 1 tahun 8 bulan dan denda sekitar Rp 32 juta oleh majlis hakim Pengadilan Tipikor Semarang yang digelar baru-baru ini.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Jepara Yuni Daru Winarsih menjelaskan, majelis telah memberikan vonis. Tetapi terdakwa masih pikir-pikir untuk melakukan upaya banding atau tidak. Sehingga terdakwa diberikan waktu selama satu pekan untuk berfikir melakukan banding atau tidak.

“Terdakwa melakukan tindak pidana korupsi, yang merugikan Negara sekitar Rp 42,6 juta. Dari hasil sidang putusan kemarin, terdakwa masih pikir-pikir untuk banding atau tidak,” kata Yuni Daru didampingi kasi Pidana Khusus (Pidsus) Yosef  kepada MuriaNewsCom, Senin (16/11/2015).

Menurut dia, besaran uang yang dikorupsi tidak berasal dari satu sumber. Tetapi berasal dari dua sumber,  yakni dari bantuan provinsi sebesar Rp 20,5 juta, dan dari Kementerian Tenaga Kerja sekitar Rp 22,1 juta.

“Dalam persidangan yang dilakukan pada 2 September 2015 lalu, terdakwa berupaya mengembalikan uang sebesar Rp 10 juta,” katanya.

Lebih lanjut dia mengemukakan, terdakwa yang tinggal di Desa Bakalan, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara tersebut, korupsi dana bantuan pelatihan ketenagakerjaan, yang diperuntukkan pelatihan teknis komputer. Diketahui, terdakwa tidak merealisasikan dana bantuan tidak sesuai dengan semestinya.

“Terdakwa dikenakan pasal 2 ayat 1 jo pasal 18 UU No.31 tahun 1999 yang telah dirubah dengan UU no.20 tahun 2001 tentang pemberantasan korupsi,” terangnya.

Terdakwa sendiri telah menjalani berbagai proses persidangan yang mulai digelar pada 7 Juli 2015 lalu, di pengadilan Tipikor semarang. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)