150 Pelaku IKM di Kudus Timba Ilmu ke Boyolali

Sejumlah pekerja industri rumahantengah menjahit bahan kain untuk membuat celana. (MuriaNewsCom)

Sejumlah pekerja industri rumahantengah menjahit bahan kain untuk membuat celana. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM Kudus mengajak 150 pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) ke Boyolali. Ratusan pelaku usaha tersebut ditujukan untuk belajar lebih serius tentang pengembangan produk.

Kabid Industri Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM Koesnaeni mengatakan, Boyolali merupakan kabupaten yang memiliki pengembangan usaha cukup bagus. Karena itu pelaku usaha diharapkan bisa menimba ilmu untuk membuat usahanya laris manis.

”Rencananya selain pelatihan, para pelaku usaha akan melakukan kunjungan sesuai dengan bidang usahanya masing-masing. Misalkan, pengusaha tahu ya mereka kunjungannya ke IKM yang mengolah tahu. Begitupun yang lainnya,” katanya

Ia mengatakan, acara nimba ilmu ke Boyolali ini, merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan Dinas. Sebelum diajak ke sana, peserta dilatih terlebih dahulu guna mendapatkan bekal, barulah diajak studi lanjut.

”Pelatihan dimulai Senin (9/5) sampai kemarin. Para pelaku diberikan materi teori mulai Senin (9/5) sampai Rabu (11/5),” ungkapnya.

Ia mengakui, dengan adanya kunjungan IKM ke Boyolali untuk mengetahui kreasi dan inovasi pengusaha di sana. Sehingga, peserta pelatihan memiliki pengetahuan tentang hal tersebut.

Harapannya, dengan adanya studi banding mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya. Yang nantinya akan membuat produk semakin menarik dan berkembang.

Editor: Supriyadi

Pelaku Usaha Kudus Belum Kena Dampak MEA

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pelaku usaha di Kabupaten Kudus masih belum terkena dampak pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Hal ini disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Perindustrian pada Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM Kudus Koesnaini. Dia mengatakan dampak dari diberlakukannya MEA belum terlihat.

”Kudus kita nilai masih aman dan kondusif. Roda usaha juga masih terus berjalan sampai sekarang,” katanya.

Setiap sebulan sekali selalu ada pertemuan paguyuban industri kecil menengah (IKM) di Kudus. Dan sampai pada pertemuan terakhir, keluhan dari para pedagang serta kekhawatiran soal MEA masih belum nampak.

Meski demikian, pihaknya mengaku sudah melakukan beberapa hal guna memberikan kualitas produk yang dihasilkan pelaku usaha. Hal itu dilakukan guna memberikan daya saing dengan produk luar, dengan kualitas yang lebih bagus.

”Kami memfasilitasi para pelaku IKM untuk itu. Bahkan sampai proses pengajuan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) juga kami berikan fasilitas,” ujarnya.

Saat ini pelaku IKM di Kudus berjumlah delapan ribuan. Namun jika digabung dengan UMKM, jumlahnya bisa mencapai dua kali lipat atau sekitar 16 ribuan.

Mengenai kebijakan perlindungan dari pemkab, kata Kosenaeni, memang belum ada. Sebab MEA tidak dapat dibendung dan tetap dilaksanakan. Termasuk juga di Kudus.

Namun dijelaskannya, jika ada usaha atau produk yang masuk ke Kudus, segalanya harus sudah siap. ”Mulai dari izinnya, sertifikat halal, sampai dengan merek dagangan yang juga sudah terdaftar,” katanya.

Di sisi lain, dalam menghadapi MEA ini, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kudus mempersiapkan aturan khusus untuk para pekerja asing.
Rencananya, dalam waktu dekat ini akan diusulkan peraturan daerah (perda) yang mengatur tentang tenaga kerja asing (TKA).

Kepala Dinsosnakertrans Kudus Ludhful Hakim mengatakan, pihaknya memang sedang merancang perda itu. Hal tersebut akan menjadi acuan jika nantinya banyak pekerja asing yang datang ke Kudus.

”Selama ini kan, belum ada perda itu. Jadi kita akan buat aturannya. Sebab kemungkinan nanti akan terdapat pekerja asing yang berdatangan di Kudus,” katanya.

Bagi dia, pekerja asing di Kudus juga harus dikenakan pajak dan surat-surat yang lengkap tentang pekerja asing. Hal itu juga yang belum dideteksi, sehinggga pihaknya juga mengagendakan untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke perusahaan.

Hingga kini data yang ada, jumlah tenaga kerja asing ada empat orang. Keempat orang itu berada di perusahaan besar di Kudus.

Editor : Akrom Hazami

Pasarkan Lewat Facebook, Keripik Jamur Buatan Warga Pati Ini Tembus Luar Jawa

Tumirah memetik jamur tiram sebelum diolah menjadi keripik jamur dan dipasarkan lewat facebook. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Tumirah memetik jamur tiram sebelum diolah menjadi keripik jamur dan dipasarkan lewat facebook. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Tak ada yang tahu jika Tumirah, warga Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Pati ini membuat produk keripik jamur. Namun, hanya bermodal gadget, keripik buatan Tumirah ternyata diminati penggemarnya di luar Jawa, antara lain Sumatera, Kalimantan, dan NTB.

“Awalnya, saya buat keripik jamur dan saya tawarkan di tetangga, kantin-kantin sekolah dan kantor saja. Setelah saya coba pasarkan lewat facebook, ternyata banyak pesanan dari luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan dan NTB,” tutur Tumirah kepada MuriaNewsCom, Rabu (23/12/2015).

Kendati bukan pekerjaan utama, tetapi pesanan dari luar pulau itu justru menyibukkan Tumirah untuk membuat keripik jamur 50 kilogram setiap bulannya. “Kalau yang pesan luar pulau, biasanya dalam bentuk kiloan karena akan dijual lagi di sana,” katanya.

Dari beragam rasa yang ditawarkan, pelanggan banyak yang memilih rasa original. Dengan rasa original, citarasa jamur dengan bumbu khas rempah-rempah seperti bawang dan daun jeruk masih terasa.

“Sebetulnya kami menawarkan beragam rasa, mulai dari sapi panggang, jagung bakar, keju dan balado. Tapi yang digemari justru original, karena citarasa jamurnya masih melekat,” tuturnya.

Dari usaha sampingan jualan keripik jamur lewat facebook, Tumirah mampu mengantongi penghasilan Rp 4,5 juta per bulan. “Penghasilan bersihnya sekitar Rp 2 juta per bulan. Itu hasil dari penjualan lewat online saja, sedangkan keripik jamur saya ini sudah ada pelanggan di wilayah Pati sendiri,” ungkapnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Warga Pati Ini Sulap Jamur Jadi Komoditas Keripik Mahal Beromzet Rp 15 Juta

Tumirah mengemasi keripik jamur hasil kreasinya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Tumirah mengemasi keripik jamur hasil kreasinya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Selama ini jamur tiram diperdagangkan di pasar tradisional untuk diolah menjadi beragam olahan rumah tangga, seperti cha, sup, tumis, dan lain sebagainya.

Di tangan Tumirah (32), warga Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Pati, jamur tiram disulap menjadi camilan keripik. Praktis, jamur tiram yang semula harganya Rp 12 ribu/kg menjadi Rp 90 ribu/kg.

“Saya punya lahan di rumah untuk budidaya jamur. Kalau dibeli tengkulak, biasanya dihargai Rp 12 ribu per kilogram. Kalau saya olah jadi keripik jamur, dibeli Rp 90 ribu perkilogram,” ujar Tumirah kepada MuriaNewsCom, Rabu (23/12/2015).

Selain dijual kiloan, Tumirah juga membuat kemasan keripik jamur dalam toples dengan harga Rp 20 ribu per 1,5 ons. Dengan kemasan toples, Tumirah bisa meraup keuntungan hingga Rp 130 ribu per kilogram keripik.

“Kalau rata-rata, saya biasanya jual keripik dalam kiloan sebanyak 50 kilogram sebulan. Dalam kemasan, berkisar di angka 300 toples keripik jamur,” katanya.

Dengan begitu, omzet yang dihasilkan Tumirah dalam menjual keripik jamur tiram mencapai Rp 15 juta setiap bulannya. “Awalnya saya hanya berpikir, bagaimana agar jamur tiram ini punya daya jual yang tinggi lebih dari sayuran,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Cegah Pengangguran, Pemdes Ini Bantu Rekomendasi Warganya di Perusahaan Besar

Aan Setyawan, Kepala Desa Garung Kidul, Kecamatan Kaliwungu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Aan Setyawan, Kepala Desa Garung Kidul, Kecamatan Kaliwungu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)Usaha

 

KUDUS – Setiap desa pasti mempunyai cara dan trik untuk menciptakan lapangan pekerjaan kepada warganya. Baik dari memberikan pinjaman modal usaha, mempermudah izin usaha bahkan menggandengan perusahaan di wilayah tersebut.

Begitu halnya dengan Desa Garung Kidul, Kecamatan Kaliwungu. Desa yang berpenduduk sekitar 2.500 jiwa serta terdiri dari 20 RT dan 2 RW ini memanfaatkan berbagai perusahaan di wilayah tersebut.

Kepala Desa Garung Kidul Aan Setyawan menjelaskan, kerja sama tersebut harus bisa menguntungkan kedua belah pihak. Bila di sini ada perusahaan maju, maka warga juga harus bisa dilibatkan.

”Untuk saat ini perusahaan yang membuka peluang kerja terhadap warga desa ini ialah perusahaan cor (Ready Mix), LPG, dan salah satu perusahaan rokok,” ungkapnya.

Dengan adanya kerja sama tersebut, penduduk desa lebih banyak yang bekerja. Tentunya hal itu mengurangi jumlah pengangguran. Selain itu, jika pemerintah desa langsung yang menawarkan, maka akan mudah direspon oleh perusahaan tersebut.

”Meskipun masih banyak warga kami yang ditolak kerja. Tetapi jika kerja sama itu terus dijalankan, warga kami bisa dipertimbangkan untuk mendapatkan peluang kerja di beberapa perusahaan tersebut,” paparnya.

Dia menambahkan, pihak desa juga kerap membantu warganya dalam memberikan rekomendasi ke beberapa perusahaan. Sehingga pihak perusahaan tidak salah menerima karyawan. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Pelaku Usaha : Kerjasama yang Solid Bisa Menguatkan Ekonomi Desa

desa tenggeles (2)

Beberapa hasil produksi KUB yang ada di Desa Tenggeles (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Salah satu anggota kelompok usaha bersama UD Anugrah Dilla Sutarnomengutarakan, jika  seluruh KUB bisa membuka diri untukbekerjasama maka kekuatan usaha dan ekonomi di Desa Tenggeles ibisa menjadi baik.

“Yang penting adalah bagaimana kita bisa membuka diri untuk mau maju bersama. Karena, usaha di Tenggeles ini tidak akan majujika mereka tidak bisa kompak,” katanya.

menurutnya, kerjasama tersebut bukan berarti hanya di bidang pembuatan produk danpemasaran produk saja. Akan hal tersebut bsa juga berupa permodalan.

“Selain sama-sama membuat produk, kami juga terkadang saling sokongdana. Sehingga pembuatan produk serta gaji anggota KUB bisa terbayar.Karena, jika adaproduk yang belum dibayar oleh pengepul, maka gajiaggota KUB harus bisa diusahakan oleh ketuanya,”katanya.

Dia menilai, dengan pembuatan produk secara bersama-sama, maka hal itu bisa meningkatkan kualitas maupun kuantitas produksi. Sehingga permintaanpasar juga bisa terpenuhi.

Permintaan pasar saat ini, katanya, cukup tinggi. Baik mulai dari produk pertukangan, peralatan rumah tangga danlainnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)