Api di Lereng Muria yang Merembet ke Wilayah Jepara Padam Terguyur Air Hujan

Asap tebal mengepul dari puncak Gunung Abiyasa yang berada di kawasan Pegunungan Muria. (BPBD Kudus)

MuriaNewsCom, Jepara – Api yang sempat membakar kawasan lereng Muria telah padam akibat guyuran hujan yang terjadi pada Minggu (24/9/2017) sore. Hal itu merupakan kabar gembira, sebab api yang menjalar ke wilayah Jepara pun turut padam. 

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara Pujo Prasetyo mengungkapkan hal tersebut, Senin (25/9/2017). Hal itu sesuai dengan rapat koordinasi dengan Perhutani dan Mantri Hutan Batealit. 

“Informasi yang kami terima, api yang sebelumya menjalar hingga ke petak 64 RPH/Kemantren Batealit juga telah padam karena terguyur hujan pada Minggu sore,” ujarnya. 

Baca Juga: Api yang Membakar Kawasan Hutan Muria Masih Jauh dari Permukiman Warga Jepara

Ia menambahkan, sampai dengan Senin pagi keadaan hutan RPH Batealit masih dalam keadaan terkendali. 

Sebelumnya diberitakan, pada hari Sabtu (23/9/2017), api yang sempat membakar kawasan lereng Muria di Kabupaten Kudus sempat merembet ke Kabupaten Jepara. Hal itu karena angin bergerak ke arah barat. 

Oleh karenanya BPBD Jepara bersama relawan dan warga melakukan pantauan untuk mengantisipasi jikalau api sampai ke permukiman warga. Pemantauan api dilakukan di Bukit Toklik Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling. 

Dari pantauan tersebut, api diketahui masih berada jauh dari permukiman warga. 

Editor: Supriyadi

Hutan Rusak, Lahan Kritis di Pati Capai 17.636 Hektare

Kawasan lereng Pegunungan Muria di Kecamatan Gembong yang ditanami jagung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kawasan lereng Pegunungan Muria di Kecamatan Gembong yang ditanami jagung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Alih fungsi hutan menjadi lahan garapan dan pertanian membuat hutan di Pati semakin terancam. Dari total lahan seluas 149.120 hektare, 17.636 di antaranya masuk dalam kategori lahan kritis.

Bila tidak segera diantisipasi, kondisi tersebut dikhawatirkan semakin memperparah keberadaan hutan, serta menambah lahan kritis pada tahun-tahun berikutnya. “Butuh peran aktif dari masyarakat untuk melakukan rehabilitasi lahan agar lahan kritis tidak semakin bertambah,” ujar Kepala Balai Pengelola Hutan (BPH) Wilayah II Pati, Raharjo, Rabu (8/2/2017).

Dari data yang ia peroleh, sebagian besar lahan kritis di Pati berada di kawasan Pegunungan Muria. Kategori kritis sendiri dibagi menjadi tiga, yakni lahan sangat kritis mencapai 180 hektare, lahan kritis 3.742 hektare, dan lahan agak kritis mencapai 13.714 hektare.

Menurutnya, hutan adalah rumah bagi manusia dan makhluk hidup. Bila keberadaan hutan semakin terdesak oleh aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan pertanian baru, bencana alam dipastikan tidak akan bisa dihindari lagi.

“Rehabilitasi sangat penting dan itu butuh partisipasi aktif dari masyarakat. Sebab, dampak rusaknya lahan berakibat pada bencana alam yang pada akhirnya masyarakat sendiri yang terkena dampak,” ucap Raharjo.

Tahun ini, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah menyediakan 2,5 juta bibit pohon yang siap ditanam di berbagai daerah yang lahannya kritis. Dia berharap, masyarakat bisa ikut berperan mencanangkan rehabilitasi dengan menanam bibit di lahan-lahan yang rusak.

“Kami juga siap menyediakan bibit untuk ditanam di berbagai wilayah yang mengalami lahan kritis. Nanti, masyarakat bisa meminta bantuan berupa pendampingan dari penyuluh kehutanan di masing-masing kecamatan,” tandas Raharjo.

Editor : Kholistiono

Depo Curah Air PDAM jadi Solusi Eksploitasi Pegunungan

uplod jam 21.00 PDAM

ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Keberadaan air curah PDAM diharapakan menjadi solusi dari maraknya eksploitasi air pegunungan. Dengan adanya depo air curah tersebut, maka pengusaha air minum tidak perlu risau kehilangan pelanggan.

Hal itu diungkapkan Camat Dawe Eko Budhi Santoso kepada MuriaNewsCom. Menurutnya, aturan larangan depo air sudah jelas, sehingga jika nanti benar-benar ditutup, maka pembeli bisa membeli air dari PDAM.

“Air yang dijual di kawasan atas, tidak ada izinnya semua. Sehingga dengan adanya ini, dapat menjadi solusi permasalah yang muncul,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia mengungkapkan, total depo air pegunungan mencapai 20 unit. Dari jumlah itu, tiga di antaranya sudah izin. Namun kini semua izin sudah habis dan tidak dapat digunakan kembali.

Direktur PDAM Ahmadi Safa mengatakan, pihaknya hanya menyediakan pengisian saja.

“Kami akan buka selama 24 jam, jadi tiap hari ada petugas yang jaga di sini. Kebutuhan air juga 24 jam,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Air Curah PDAM Kudus Dijual Rp 6 Ribu per Kubik