Ditolak Pedagang, Revitalisasi Pasar Kuwu Grobogan Terancam Gagal

MuriaNewsCom, GroboganRencana revitalisasi Pasar Kuwu di Kecamatan Kradenan yang akan dilakukan tahun ini terancam gagal. Hal ini seiring adanya penolakan dari paguyuban pedagang terkait bakal dilakukannya proyek revitalisasi.

Informasi yang didapat menyatakan, beberapa waktu lalu, perwakilan pedagang bahkan sudah sempat melakukan audensi dengan komisi B DPRD Grobogan. Dalam aspirasinya, pedagang keberatan terkait konsep revitalisasi pasar. Yakni, tempat berjualan pedagang akan dibangun dengan model prototipe yang terkesan lebih modern.

Dengan konsep ini, tempat berjualan dinilai justru terlihat menjadi lebih sempit. Pedagang menghendaki agar pembangunan lapak berjualan dilakukan seperti semula sehingga tempatnya terlihat longgar.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Grobogan Karsono ketika dimintai komentarnya membenarkan adanya keberatan dari peguyuban pedagang Pasar Kuwu terkait bakal adanya proyek revitalisasi. Dengan adanya keberatan itu maka proyek revitalisasi akan dialihkan ke lokasi lain yang memungkinkan.

Karsono menjelaskan, pada tahun ini, pihaknya mengajukan bantuan revitalisasi tiga pasar ke kementerian terkait. Yakni, Pasar Kuwu, Pasar Wirosari dan Pasar Unggas Glendoh Purwodadi dengan alokasi anggaran masing-masing senilai Rp 8 miliar.

Pada tahun 2017, pihaknya sudah mendapat proyek revitalisasi untuk Pasar Tegowanu dan Grobogan. Masing-masing, nilainya Rp 6 miliar.

Untuk teknis pelaksanaan revitalisasi memang dilakukuan dari kementerian. Termasuk konsep bangunannya juga sudah disiapkan pihak kementerian dengan model prototipe.

“Desain untuk revitalisasi pasar memang modelnya prototipe. Untuk revitalisasi di Pasar Grobogan yang sudah jadi akhir tahun 2017 lalu juga seperti itu,” katanya.

Ia menambahkan, pada tahun 2016 lalu, pihak kementerian juga sudah menyalurkan dana untuk rehab bagian kios depan di Pasar Kuwu dan Pasar Wirosari. Rencananya, pada tahun 2018, penataan akan dilanjutkan dengan revitalisasi pasar keseluruhan.

Editor: Supriyadi

Belum Semua Pedagang Tempati Kios Baru di Pasar Mayong, Ini Alasannya

MuriaNewsCom, Jepara – Pemugaran blok depan Pasar Mayong telah usai dikerjakan. Namun belum semua pedagang menempati kios-kios baru yang ada di blok tersebut, meskipun semua kunci telah diserahkan.

Suhartini (53) seorang pedagang gerabah mengatakan, hal itu karena pedagang-pedagang lain masih menyelesaikan kontrak di Los yang ada di sisi bawah pasar.

“Pedagang lainnya belum pindah ke sini karena mereka masih memunyai kontrak di los-los yang bawah ini. Kalau saya pas blok ini dibangun, saya pindah di atas. Kemudian, saya langsung pindah ke sini (blok baru) setelah jadi,” ujarnya, Sabtu (6/1/2018).

Ia mengaku baru menempati kios barunya pada Kamis (4/1/2018). Dirinya memprediksi, dalam beberapa hari kedepan, pedagang akan memenuhi blok baru tersebut.

“Saya senang dengan kios ini karena lebih bersih dan fasilitasnya lengkap,” tuturnya.

Hal tersebut diamini oleh Mustakhim, Kabid Pasar, Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jepara. Menurutnya, saat ini pedagang masih mempersiapkan kepindahan ke kios baru.

“Semua kunci sudah diserahkan, saat ini pedagang sedang menata tempat berdagang baru. Nantinya (blok baru) tersebut akan ditempati oleh pedagang sembako, gerabah, emas hingga warung makan,” tuturnya.

Mustakhim mengatakan,  pada medio bulan Januari blok depan pasar Mayong yang terdiri atas 98 kios, akan diresmikan. Sebelum itu, dipastikan pedagang telah memenuhi tempat tersebut.

Adapun, untuk membenahi fasilitas tersebut menelan APBD Jepara senilai Rp 13 miliar.

Editor: Supriyadi

Mati Dua Pekan, Eskalator Pasar Kliwon Kudus Dikeluhkan Pengunjung

Pengunjung Pasar Kliwon menaiki tangga eskalator Pasar Kliwon, Sabtu (11/11/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Keberadaan eskalator di Pasar Kliwon, Kudus menuai keluhan dari pengunjung. Pasalnya, eskalator sudah mati dan tak berfungsi sejak dua pekan lalu.

Noor Kholifah, pedagang asal Jepara mengatakan, sejak eskalator tak berfungsi, banyak pedagang yang terpaksa berjalan kaki untuk ke lantai dua. Akibatnya, saat membawa barang bawaan, mereka harus berhimpitan dengan pedagang lain karena lebar jalan yang terbatas.

“Saya sering kulakan ke Kliwon, jadi selama dua pekan ini sudah berjalan kaki untuk ke atas (lantai dua). Yang bikin jengkel itu kalau pas turun dan bawa barang banyak,” katanya kepada MuriaNewsCom

Dia berharap agar pembenahan eskalator tersebut dapat segera diselesaikan. Karena, keberadaan eskalator sangat membantu pengunjung pasar yang hendak ke lantai dua.

Berdasarkan pantauan MuriaNewsCom, eskalator yang mati terdapat di kedua tempat terpasangnya. Yaitu pada bagian barat pasar dan timur lantai satu. Sejumlah pekerja juga terlihat memperbaiki eskalator disana.

“Ini masih diperbaiki, ada yang konslet,” ujar pekerja yang memperbaiki eskalator yang tak mau menyebut nama.

Editor: Supriyadi

Cegah Pedagang Jualan di Tempat Lama, Anggota Satpol PP Grobogan Siaga di Jalan Banyuono

Anggota Satpol PP bersiaga di sepanjang jalan Banyuono Purwodadi untuk mencegah pedagang Pasar Pagi berjualan di lokasi lama. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya mencegah kembalinya puluhan pedagang pasar pagi Purwodadi yang berjualan di tempat lama di jalan Banyuono mulai dilakukan anggota Satpol PP. Caranya, dengan menghimbau para pedagang yang sudah berjualan untuk mengemasi barang dagangan dan menghalau pedagang yang akan masuk ke ruas jalan tersebut.

”Ada puluhan anggota yang kita kerahkan untuk melakukan penertiban di sepanjang jalan Banyuono. Pada lokasi ini sudah tidak boleh lagi digunakan untuk berjualan. Kalau mau jualan, silahkan dilokasi baru yang sudah dibuatkan Pemkab Grobogan di jalan Gajah Mada,” kata Kepala Satpol PP Grobogan Bambang Panji Asmoro Bangun, Senin (6/11/2017).

Sebelum direlokasi, disepanjang jalan Banyuono tersebut ditempati sekitar 400 pedagang. Kemudian, sekitar 500 pedagang lagi berjualan di bekas lahan milik PT KAI yang sekarang sedang dibangun untuk pusat kuliner.

”Setelah ini, kami akan terus memantau supaya pedagang tidak lagi kembali jualan di lokasi lama. Anggota akan kita siagakan terus di lokasi dari Subuh sampai siang untuk memastikan tidak ada pedagang yang jualan lagi,” tegas mantan Camat Brati itu.

Tindakan penertiban yang dilakukan Satpol PP itu terkait dengan masukan yang disampaikan Bupati Grobogan Sri Sumarni. Tepatnya saat membuka Rakor Forum Ketentraman dan Ketertiban Umum dan Penegakan Perda di gedung Riptaloka, Setda Grobogan, Sabtu (4/11/2017) kemarin.

Dalam kesempatan itu, Sri Sumarni meminta Satpol PP segera melakukan tindakan untuk menertibkan keberadaan pedagang yang berjualan lagi di Pasar Pagi lama. Yakni, di sepanjang jalan Banyuono Purwodadi karena jumlah pedagang yang berjualan ada puluhan.

”Harusnya, disepanjang jalan Banyuono sudah tidak ada lagi pedagang yang jualan. Soalnya, sudah kita bangunkan pasar baru di jalan Gajah Mada. Sebelumnya, para pedagang sudah direlokasi kesana,” tegasnya saat itu.

Editor: Supriyadi

Bupati Grobogan Minta Satpol PP Tertibkan Pedagang Bandel di Pasar Pagi Lama

Bupati Grobogan Sri Sumarni meminta Satpol PP segera menyikapi maraknya pedagang di pasar pargi lama saat membuka Rakor Forum Ketentraman dan Ketertiban Umum dan Penegakan Perda di gedung Riptaloka, Setda Grobogan, Sabtu (4/11/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni meminta Satpol PP segera melakukan tindakan untuk menertibkan keberadaan pedagang yang berjualan lagi di Pasar Pagi lama. Yakni, di sepanjang jalan Banyuono Purwodadi.

Hal itu disampaikan Sri Sumarni saat membuka Rakor Forum Ketentraman dan Ketertiban Umum dan Penegakan Perda di gedung Riptaloka, Setda Grobogan, Sabtu (4/11/2017).

Menurutnya, beberapa hari lalu sempat melintas di jalan Banyuono selepas subuh. Saat lewat dijalan itu, Sri merasa kaget karena ada puluhan pedagang yang sudah berjualan dipinggiran jalan.

”Harusnya, disepanjang jalan Banyuono sudah tidak ada lagi pedagang yang jualan. Soalnya, sudah kita bangunkan pasar baru di jalan Gajah Mada. Sebelumnya, para pedagang sudah direlokasi kesana,” tegasnya.

Terkait kondisi itu, Sri meminta pihak Satpol PP supaya melakukan upaya penertiban. Semua pedagang harus diarahkan agar berjualan di pasar baru.

Sebelum direlokasi, disepanjang jalan Banyuono tersebut ditempati sekitar 400 pedagang. Kemudian, sekitar 500 pedagang lagi berjualan di bekas kawasan pada lahan milik PT KAI yang sekarang sedang dibangun untuk pusat kuliner.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Grobogan Bambang Asmoro Bangun akan segera merespon perintah bupati. Mulai Minggu besok, anggotanya akan diminta mendekati para pedagang agar tidak berjualan ke lokasi lama. Soalnya, di sepanjang ruas jalan Banyuono ini sudah tidak boleh lagi digunakan untuk berjualan.

”Sudah kita koordinasikan upaya untuk menertibkan para pedagang yang jualan lagi di jalan Banyuono. Pedagang akan kita upayakan agar berjualan di tempat baru,” jelasnya. 

Editor: Supriyadi

Woro-woro, Empat Ruas Jalan di Jepara Ini ’Haram’ Ditempati PKL 

Ruas Jl Kartini Jepara yang nantinya terlarang bagi PKL, Jumat (15/9/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Empat ruas jalan protokol di Kota Jepara akan menjadi tempat terlarang  bagi pedagang kaki lima (PKL). Masing-masing jalan itu adalah Jl Pemuda, Jl R.A. Kartini, Jl Ahmad Yani dan Jl Soekarno-Hatta. 

Anwar Sadat Kasi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP Jepara mengatakan, ruas-ruas tersebut disterilkan bagi pedagang mulai pagi hingga malam hari. “Ruas jalan itu merupakan kawasan tertib dan terkendali yang harus steril dari PKL baik pagi, siang dan malam hari,” katanya, Jumat (15/9/2017). 

Ia menyatakan hal itu berdasar pada peraturan daerah Jepara nomor 20/2012 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan (K3).

Selain itu adapula Perbup Jepara no 163/2010 tentang lokasi perdagangan untuk PKL, dan adalah Pergub Jawa Tengah nomor 300/3 tahun 2016 tentang Kawasan Tertib di Jateng Tahap II, serta Perbup nomor 300/312 tahun 2016 tentang penetapan kawasan tertib di Jepara.  

Selain empat ruas jalan tersebut, PKL juga dilarang berjualan di depan kantor pelayanan publik dan dalam area taman kota serta jembatan. Solusinya, pemkab mengizinkan pedagang kecil berjualan sesuai zona yang telah ditentukan. 

Di antaranya, Jl Yos Sudarso, Jl Sosrokartono, Jl MH Thamrin, depan Stadion Kamal Junaidi, Depan Rusunawa, sekitar Taman Kepiting dan Pujasera Ngabul. 

“Boleh berjualan ditempat yang telah ditentukan, namun secara terkendali. Artinya PKL boleh menggelar dagangannya mulai pukul 14.00 sampai 06.00. Setelah berdagang, mereka harus membereskan lapak yang ada seperti sediakala,” tutup Anwar. 

Editor: Supriyadi

PKL Bandel di Kudus Terancam Denda Setengah Juta

Sejumlah PKL Alun-alun Simpang Tujuh Kudus saat menjajahkan barang dagangannya belum lama ini. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus kembali melakukan penataan terdapat PKL di Kota Kretek. Kali ini, penataan ditekankan untuk memberi efek jera. Salah satunya dengan menerapkan denda sebesar Rp 500 ribu bagi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang nekat berjualan di zona merah.

Kabid PKL pada Dinas Perdagangan kabupaten Kudus, Sofyan Dhuhri mengatakan, aturan tersebut merupakan amanat perda no 11 tahun 2017, tentang pemetaan dan pemberdayaan Pedagang kaki lima yang disahkan belum lama ini.

”Dalam perda tersebut, zona jualan PKL dibagi menjadi tiga kategori. Pertama adalah zona hijau yang mana diperbolehkan untuk para PKL selama 24 jam. Kedua adalah zona kuning, yang mana diperbolehkan berjualan dalam waktu yang ditentukan. Terakhir adalah zona merah, yang mana terlarang jualan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Hanya saja, dalam perda tersebut belum tertera jelas mana saja jalan atau tempat yang masuk dalam masing-masing zona. Karena itu, saat ini Bagian Hukum Setda Kudus masih menggodoknya dalam peraturan bupati (perbup) sebagai fungsi turunan.

Meski begitu, lanjut Sofyan, ia sudah mengusulkan beberapa tempat untuk masuk di zona merah atau larangan jualan. Satu di antaranya berada di Jalan Ramelan hingga simpang tujuh, yang merupakan larangan jualan. Kemudian kawasan simpang tujuh Kudus dan Kawasan RSUD zona kuning  dengan diperbolehkan berjualan mulai sore.

“Nantinya bakal ada petugas yang mengawasi serta melakukan pantauan. Sehingga peraturan dapat sepenuhnya berjalan tanpa adanya pilih kasih. Namun sebelum itu kami menunggu perbup dan juga ada sosialisasi terlebih dahulu,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Didaulat Jadi Lurahnya Pedagang Pasar, Bupati Kudus Dapat Keluhan Menjamurnya Minimarket

Bupati Kudus Musthofa, resmi menjadi lurahnya Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). (ISTIMEWA)

Bupati Kudus Musthofa, resmi menjadi lurahnya Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa, resmi menjadi Lurahnya Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). Daulat dilakukan oleh pedagang di tingkatan Jateng di Pendapa Pemkab Kudus, Selasa (24/1/2017). Dalam kesempatan itu, Musthofa mendapat keluhan warga. Di antaranya soal maraknya minimarket belakangan terakhir. Hal itu tampak di sejumlah sudut di Kabupaten Kudus.

Ngadiran, seorang peserta dalam kegiatan mengatakan kalau selama ini yang menjadi persoalan adalah menjamurnya minimarket. Keberadaan minimarket membuat resah dan mempengaruhi pendapatan para pedagang. “Keberadaan minimarket mampu membunuh pedagang pasar. Minimarket hanya menjadi rayap pedagang pasar di Jateng dan Indonesia,” kata Ngadiran.

Acara pelantikan dibacakan oleh Suwanto, Ketua DPW  Jateng APPSI. Saat dilantik, juga disaksikan puluhan pedagang dari seluruh Jawa Tengah dan sejumlah kota besar lainnya. Selain itu sejumlah SKPD juga hadir dalam acara tersebut. “Kami meminta kepada bapak Bupati untuk menjadi Lurahnya Jawa Tengah. Semoga dengan dijadikan lurah, maka kemajuan  pedagang pasar bisa semakin meningkat,” katanya.

Pihaknya menyampaikan, kalau selama ini para pedagang merasa kurang dilibatkan saat pembangunan pasar. Padahal, sebagai pedagang di pasar, merekalah yang mampu dan mengetahui kondisi pasar yang sebenarnya. Untuk itu, dia meminta jika ada kebijakan pembangunan dapat melibatkan pedagang.

Sementara, Musthofa mengatakan, pemerintah merupakan fasilitator. Sehingga apa yang diinginkan pedagang pasar dapat ditampung dan difasilitasi apa yang menjadi aspirasinya. “Kalau ada keluhan atau apa-apa, bisa komunikasi dengan saya. Kemudian saya bisa bantu dengan komunikasi kepada pemerintah setempat,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Woro-woro! Pasar Pagi Purwodadi Segera Diresmikan, Ini Jadwalnya

Ratusan pedagang pasar pagi di kawasan lahan PT KAI dalam waktu dekat akan direlokasi ke tempat baru di jalan Gajah Mada Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ratusan pedagang pasar pagi di kawasan lahan PT KAI dalam waktu dekat akan direlokasi ke tempat baru di jalan Gajah Mada Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proses pengundian tempat jualan di Pasar Pagi Purwodadi sudah beberapa waktu lalu selesai dilakukan. Namun, hingga kini, rencana peresmian dan relokasi pedagang dari tempat lama ke pasar baru belum juga dilakukan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Grobogan Muryanto ketika dimintai komentarnya menyatakan, rencana peresmian pasar pagi sudah disiapkan. Jika tidak ada kendala, peresmian akan dilakukan Bupati Sri Sumarni pada 4 Februari mendatang.

“Kita sudah siapkan beberapa alternatif untuk hari peresmian. Setelah kita sesuaikan dengan agenda bupati, dipilih hari Sabtu tanggal 4 Februari untuk acara peresmiannya. Rencana peresmian sudah kita bahas pula dengan komisi B DPRD Grobogan dan paguyuban pasar pagi,” katanya.

Setelah peresmian, agenda selanjutnya adalah proses relokasi pedagang. Yakni, dari lokasi lama di kawasan bekas Stasiun kereta api Purwodadi ke Pasar Pagi di jalan Gajah Mada.

Proses pemindahan akan dilakukan sehari setelah peresmian, yakni Minggu 5 Februari. Pemindahan pedagang tidak dilakukan serempak tetapi akan dikerjakan bertahap selama beberapa hari. Hal itu dilakukan mengingat jumlah pedagangnya banyak.

Menurutnya, pembangunan Pasar Pagi itu dilakukan karena tempat yang selama ini dipakai pedagang dinilai sudah tidak layak untuk berjualan. Sebab, lokasinya sempit, sehingga terkesan semrawut mengingat letaknya berada di tengah kota. Yakni, di sebelah timur Pasar Induk Purwodadi.

“Selain itu, lahan itu juga milik PT KAI sehingga sewaktu-waktu bisa diambil lagi oleh pemiliknya. Oleh sebab itu, kami berupaya menyediakan tempat yang lebih representatif buat pedagang,” jelas Muryanto.

Pembuatan pasar dengan dana Rp 10,4 miliar ditempatkan di atas lahan seluas 9.000 meter persegi yang berada di Jalan Gajah Mada. Pasar yang dibangun rekanan PT Reka Esti Utama ini nanti akan digunakan untuk memindahkan 901 pedagang yang ada di lahan milik PT KAI tersebut. 

Dalam pasar tersebut terdapat tempat jualan sebanyak 604 unit. Terdiri 72 unit kios berukuran 3 x 4 meter. Kemudian, ada 464 unit los kering berukuran 2 x 1,5 meter. Sedangkan 68 unit lagi disiapkan untuk los basahan dengan ukuran  2 x 1,5 meter. Selain itu ada sekitar 400 tempat lagi dipakai untuk pedagang yang berjualan di sepanjang jalan Banyuono. Pedagang ini ditempatkan pada lahan kosong yang masih tersedia dan lokasinya masih mencukupi.

“Jadi, untuk pengundian tempat jualan yang sudah tersedia, tidak ada masalah. Baik, untuk kior, los kering maupun basahan sudah rampung,” jelas Muryanto.

Editor : Akrom Hazami

Tak Ikut Undian, Ratusan Pedagang Pasar Pagi Purwodadi Belum Kebagian Tempat Jualan

Beberapa pedagang Pasar Pagi Purwodadi sedang mengecek lokasi jualan baru yang sudah didapat dari hasil pengundian. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Beberapa pedagang Pasar Pagi Purwodadi sedang mengecek lokasi jualan baru yang sudah didapat dari hasil pengundian. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dari pelaksanaan pengundian tempat jualan di Pasar Pagi Purwodadi, ternyata ada ratusan pedagang yang tidak ikut. Oleh sebab itu, sebagian besar pedagang ini sempat heran ketika namanya tidak tercantum sebagai peserta undian.

“Saya tidak bisa ikut undian tempat jualan. Padahal, saya sudah lama jadi pedagang dan sebelumnya juga didata petugas,” kata Kumaidi, salah seorang pedagang yang ditemui di lokasi pengundian.

Pembangunan Pasar Pagi Purwodadi tersebut dikerjakan PT Reka Esti Utama yang berasal dari Semarang. Total dana yang dialokasikan untuk pembangunan pasar di Jalan Gajah Mada Purwodadi ini senilai Rp 10,4 miliar.

Pembangunan Pasar Pagi tersebut dilakukan untuk memindahkan pedagang yang berjualan di lahan bekas Stasiun Kereta Api di jalan A Yani Purwodadi. Pembuatan pasar dilakukan di atas lahan seluas 9.000 meter persegi yang berada di jalan Gajah Mada. Pasar ini nanti akan digunakan untuk memindahkan 901 pedagang di lokasi lama yang ada di lahan milik PT KAI tersebut. 

Dalam pasar tersebut terdapat 72 unit kios berukuran 3 x 4 meter. Kemudian, ada 464 unit los kering berukuran 2 x 1,5 meter. Sedangkan 68 unit lagi disiapkan untuk los basahan dengan ukuran  2 x 1,5 meter.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Grobogan Muryanto, total tempat jualan yang tersedia ada 604 unit. Yakni, berupa kios dan los (kering dan basahan).

Sedangkan jumlah pedagang yang terdaftar ada 901 orang. Dengan demikian, masih ada 297 pedagang yang belum kebagian tempat.

“Untuk pedagang ini, akan ditempatkan pada lahan kosong yang masih tersedia dan lokasinya masih mencukupi. Mereka ini kebanyakan adalah pedagang yang jualannya dasaran dipinggir jalan. Penataan bagi mereka ini akan kita lakukan setelah proses pengundian rampung,” katanya.

Ditambahkan, pembangunan Pasar Pagi itu dilakukan karena tempat yang selama ini dipakai pedagang dinilai sudah tidak layak untuk berjualan. Sebab, lokasinya sempit, sehingga terkesan semrawut mengingat letaknya berada di tengah kota. Yakni, di sebelah timur Pasar Induk Purwodadi.

“Selain itu, lahan itu juga milik PT KAI sehingga sewaktu-waktu bisa diambil lagi oleh pemiliknya. Oleh sebab itu, kami berupaya menyediakan tempat yang lebih representatif buat pedagang,” imbuh Muryanto.

Editor : Akrom Hazami

 

Dinas Dagsar Kudus Jamin Besok Stan Dandangan Bakal Berdiri Penuh

Seorang pedagang mulai menjajahkan dagangannya menyambut tradisi dandangan di Jalan Sunan Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorang pedagang mulai menjajahkan dagangannya menyambut tradisi dandangan di Jalan Sunan Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski hingga 27 Mei masih terdapat 110 stan PKL Dandangan yang kosong, namun dipastikan oleh dinas akan terisi dalam waktu singkat. Bahkan, diyakini kalau besok (28/5/2016) sudah akan dipenuhi oleh pedagang.

Hal itu dipastikan Plt Dinas Perdagangan Dan Pengelolaan Pasar (Dagsar) Sudiharti melalui Kasi PKL pada Dinas Dagsar Imam Santoso. Menurutnya, tradisi Dandangan merupakan momen yang sangat ditunggu oleh masyarakat. Sehingga, pedagang memanfaatkan momen tersebut untuk berjualan.

”Masih banyak juga yang menunggu untuk membangun stan. Jadi kami bisa alihkan mereka yang sudah daftar dan tidak mau membangun dengan yang masuk daftar tunggu,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, tidak ada ceritanya kalau pedagang Dandangan akan sepi pembeli, sehingga semangat jualan menurun. Ini lantaran dandangan

Selain itu, kata dia, sejumlah pedagang juga masih ada yang belum mendirikan stan di kaplingnya. Sebab biasanya pedagang memilih waktu malam mendirikan karena tidak panas.

“Satu pedagang lebih dari satu kapling, sehingga akan penuh semuanya. Terlebih tahun ini peminatnya lebih Banyak ketimbang tahun sebelumnya,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Hari Kedua, Ratusan Stan Dandangan Kudus Masih Kosong

Seorang pedagang tengah menata barang dagangannya menyambut datangnya dandangan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorang pedagang tengah menata barang dagangannya menyambut datangnya dandangan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Tradisi Dandangan yang berjalan tiap tahun, hari ini memasuki hari kedua. Meski demikian, ratusan stan Dandangan masih kosong di sejumlah titik lantaran belum didirikan stan oleh pedagang.

Plt Dinas Perdagangan Dan Pengelolaan Pasar (Dagsar) Sudiharti melalui Kasi PKL pada Dinas Dagsar Imam Santoso mengatakan, total stan yang masih belum berdiri mencapai 110 stan yang tersebar di sejumlah titik Dandangan.

”Kami tahun ini menyediakan 546 stan. Jumlah tersebut merupakan jumlah keseluruhan yang ada di Dandangan. Namun masih ada yang belum didirikan sampai 27 Mei sejumlah 110 kapling,” katanya kepad MuriaNewsCom.

Ia menyebutkan, stan yang masih kosongpaling banyak terdapat di Jalan Kiyai Telingsing, dengan stan yang kosong sejumlah 64. Padahal, Pemkab Kudus menyediakan stan sejumlah 85 kapling.

Hal itu, kata Imam, sangat wajar karena jalan tersebut merupakan jalan paling sepi peminat Dandangan ketimbang lokasi lainnya.

”Kalau buat parkir sangat pas, buktinya di sana banyak yang membuka jasa parkir ketimbang mendirikan stan,” ujarnya.

Lokasi lain, yang juga masih kosong adalah Jalan Pangeran Puger. Dari 62 kapling yang disiapkan terjual 25 kapling dan sisa 27 kapling. Sedangkan, untuk Jalan Dokter Ramelan, disiapkan sejumlah 69 kapling dan yang baru terisi 60.

”Daerah paling laris adalah Jalan Sunan Kudus, dari 330 kapling, semuanya sudah berdiri stan. Malahan semenjak buka dalam.waktu yang tidak lama sudah penuh pendaftar,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Jangan Kaget, Ini Target Pendapatan Dandangan yang Dipatok Pemkab Kudus

Para pengunjung berjubel di arena hiburan dandangan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Para pengunjung berjubel di arena hiburan dandangan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pmerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menargetkan pendapatan dandangan sebesar Rp 100 Jutaan. Jumlah ini merupakan jumlah keseluruhan yang ditargetkan untuk ratusan pedagang.

Hal tersebut diutarakan Pelaksana tugas Kepala Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Kudus Sudiharti, kepada MuriaNewsCom, Rabu (4/5/2016).

”Target Rp 100 jutaan adalah target secara keseluruhan. Mulai dari pedagang musiman yang datang saat dandangan hingga para pelaku UMKM di Jateng yang kami undang,” katanya.

Ia menyebutkan, untuk UMKM yang diundang dalam dandangan tahun ini sejumlah 35 kabupaten se-Jateng. Hanya, untuk yang hadir belum diketahui berapa jumlahnya.

Mengenai fasilitas, untuk yang dari luar daerah diberikan penambahan berupa tenda. Sehingga akan ada biaya tambahan untuk sewa tendanya.

”Kalau biaya sewanya masih sama dengan tahun sebelumnya. Hanya targetnya yang ditambah, dan jumlah pedagang yang juga ditambah,” ujarnya.

Pada tahun lalu, biaya sewa lapak dibedakan berdasarkan besaran lapak. Untuk lapak biasa dengan ukuran 3×4 meter sebesar Rp 2.000 per hari, sedangkan lapak khusus sekitar Rp 750 ribu selama perayaan Dandangan.

Sementara untuk Retribusi sampahnya, pada tahun lalu juga  sesuai Perbub Nomor
12/2010 tentang Retribusi Sampah dijelaskan bahwa tarifnya untuk setiap meter persegi sebesar Rp 60.

Dengan harga tersebut, tambahnya, banyak pedagang yang tertarik menyewa lapak. Hal itu menunjukkan betapa diminatinya untuk Dandangan. Kondisi tersebut dianggap lebih baik sebab perputaran ekonomi hanya berputar di Kudus. Sedangkan sebelumnya banyak yang pendatang datang.

Editor: Supriyadi

Pedagang Terompet di Purwodadi Mendadak Ketakutan

Kasat Sabhara Polres Grobogan AKP Lamsir tengah memeriksa terompet yang dijajakan di depan Pasar Induk Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kasat Sabhara Polres Grobogan AKP Lamsir tengah memeriksa terompet yang dijajakan di depan Pasar Induk Purwodadi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Sejumlah pedagang terompet tahun baru sempat dibuat kaget saat menjajakan barang dagangannya dipinggiran jalan Kota Purwodadi. Hal ini terkait adanya razia yang dilakukan anggota Polres Grobogan, Senin (28/12/2015) terhadap para pedagang terompet yang sejak beberapa hari terakhir sudah berjualan di berbagai lokasi.

“Terus terang saya tadi sempat ketakutan ketika didatangi petugas. Soalnya, selama bertahun-tahun jualan terompet, baru kali ini ada pengecekan dari pihak keamanan,” kata Darmiyati, salah seorang pedagang terompet di Jl R Suprapto Purwodadi.

Kekagetan para pedagang itu hanya berlangsung sejenak. Setelah mendapat penjelasan dari petugas terkait kegiatan yang dilakukan, para pedagang akhirnya bisa mengerti dan merasa lega.

Kasat Sabhara Polres Grobogan AKP Lamsir menjelaskan, kegiatan itu bertujuan untuk mengantisipasi beredarnya terompet dari bahan kertas yang berasal dari lembaran salah satu kitab suci. Langkah itu dilakukan menyusul adanya kabar ditemukannya terompet dari bahan kertas yang berasal dari lembaran salah satu kitab suci di daerah lain.

“Hari ini, kita merazia semua pedagang terompet yang ada di kawasan Kota Purwodadi. Dari kegiatan yang sudah kita lakukan, sejauh ini kami belum menemukan kasus tersebut di Grobogan,” kata Lamsir yang memimpin langsung kegiatan tersebut.

Lamsir menambahkan, meski tidak ditemukan terompet dari bahan kertas yang berasal dari lembaran salah satu kitab suci, pihaknya akan terus memantau semua pedagang. Selain terompet, penjualan petasan juga akan dapat pantauan hingga menjelang pergantian tahun baru 2016 mendatang. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Pedagang Terompet Musiman di Blora Mulai Bermunculan

Penjual terompet di Jalan Gatot Subroto Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Penjual terompet di Jalan Gatot Subroto Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Menjelang tahun baru 2016, penjual terompet di Blora mulai bermunculan. Salah satunya adalah Laskar (28) warga Blora yang semula hanya sebagai petani, kini mencoba mengambil peruntungan dengan menjual terompet.

Ia menjajakan terompetnya di Jalan Gatot Subroto, Blora mulai pagi hingga malam hari. “Kalau menjelang tahun baru, saya biasa menjual terompet,” jelasnya.

Untuk harga terompet bervariasi, mulai dari Rp 5 ribu hingga yang termahal Rp 20 ribu. Keuntungan yang diperolehnya setiap hari berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu. “Lumayan hasilnya, ketimbang mencangkul di sawah,” katanya.

Setiap hari ia mampu menjual 20 terompet lebih. Mendekati tahun baru, katanya, ia biasanya mampu menjual hingga lebih dari itu.”Yang pasti, kalau sudah menjelang hari H, pasti pembeli ramai berdatangan,” tutur Laskar.

Ia mengaku, terompet yang ia jual bukan buatannya sendiri, melainkan orderan dari temannya yang sama-sama penjual terompet musiman menjelang tahun baru. “Saya ambil terompet dari teman, saya mengambil keuntungan per terompet hanya Rp 2 ribu saja,” ungkap Laskar.

Di Blora sendiri, sampai saat ini masih belum terlalu banyak penjual terompet. Hal itu, membuat Laskar tak perlu khawatir atas saingan penjualan terompet. (RIFQI GOZALI/KHOLISTIONO)

Tahun Baru, Pedagang Terompet Musiman Siap Kantongi Puluhan Juta Rupiah

Suyono mulai membuat dan menjual terompet di kawasan Desa Getas, Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Suyono mulai membuat dan menjual terompet di kawasan Desa Getas, Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Menjadi pedagang musiman memang selalu memberikan keuntungan tersendiri bagi pelakunya. Baik itu berdagang buah durian, rambutan ataupun berdagang terompet disaat malam Tahun Baru.

Begitu juga yang dilakukan Suyono (37) Warga Purwodadi ini. Pria yang sehari-harinya menjadi tukang becak ini, disaat jelang tahun baru pasti beralih profesi menjadi pedagang terompet.

”Ya untuk menunjang ekonomi keluarga, saya nyambi dagang dan membuat terompet. Karena penghasilan menjadi tukang becak hanya berkisar Rp 600 ribu/bulan. Sedangkan untuk membuat terompet dan menjualnya bisa peroleh untung hingga Rp 10 juta,” katanya.

Biasanya terompet akan laku keras ketika malam tahun baru. Suyono pun dibantu berjualan oleh sang istri Asniati (35) di daerah Getaspejaten, Jati dan berkeliling hingga di depan gedung DPRD Kudus.
”Biasanya kami mangkal di dua tempat. Selain itu, kami juga melayani pembelian secara grosir,” paparnya.

Suyono pun pandai membuat beragam jenis terompet. Setidaknya ada tiga jenis terompet yang ia buat, di antaranya bentuk corong, naga, dan gitar.

”Untuk harganya, yang paling murah Rp 3 ribu dan yang paling mahal Rp 30 ribu. Akan tetapi pembeli saya ini rata-rata dari pedagang ecer. Selain itu, untuk pedagang ecer yang sudah berlangganan kepada saya itu ada sekitar 20 pedagang dari berbagai daerah. Baik Jepara, Demak, Pati dan Kudus,” ujarnya.

Meskipun menjadi tukang becak setiap harinya, tetapi kebutuhannya selalu bisa tertopang dengan penjualan terompet ini. Yaitu dengan berdagang terompet Suyono mampu meraup omzet hingga puluhan juta rupaih. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Bupati Rembang Ultimatum Pedagang Pasar Lasem

Bupati Rembang, Abdul Hafidz bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Rembang menginspeksi mendadak (Sidak) ke pasar Lasem pada Rabu (8/7/2015). (MuriaNewsCom/AHMAD FERI)

Bupati Rembang, Abdul Hafidz bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Rembang menginspeksi mendadak (Sidak) ke pasar Lasem pada Rabu (8/7/2015). (MuriaNewsCom/AHMAD FERI)

REMBANG – Demi memberikan rasa aman kepada masyarakat dari peredaran manakan kedaluarsa jelang momen lebaran, Bupati Rembang, Abdul Hafidz bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Rembang menginspeksi mendadak (Sidak) ke pasar Lasem pada Rabu (8/7/2015). Lanjutkan membaca

Dinkes Blora Urung Kasih Teguran ke Pedagang

 Petugas saat melakukan sidak di Pasar Induk Blora (MuriaNewsCom/PRIYO)

Petugas saat melakukan sidak di Pasar Induk Blora (MuriaNewsCom/PRIYO)

BLORA – Sidak yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora bersama instansi terkait di Pasar Induk Blora tak menemukan makanan yang mengandung bahan pengawet atau formalin. Atas kondisi ini, petugas tak jadi memberikan teguran ke pedagang, seperti pada sidak sebelumnya.

”Dari beberapa lapak penjualan ikan laut yang kami periksa dan lakukan pengecekan hasilnya negatif, sehingga ikan yang dijual di pasar Blora layak konsumsi. Barang-barang lainya juga masih layak dikonsumsi,” ujar Kasi POM pada Dinkes Blora Teguh Prasetyono, Selasa (7/7/2015).

Menurutnya, selain ikan dan cumi, pengambilan sampel pada produk tahu dan tempe juga dinyatakan aman. Begitupun dengan daging sapi maupun ayam.

”Pengecekan dilakukan agar masyarakat barang yang layak konsumsi dan sehat. Sebab, bulan-bulan seperti ini sering ditemukan adanya bahan pengawet pada makanan maupun bahan-bahan lainya,” katanya. (PRIYO/KHOLISTIONO)