Tim Labfor Polda Jateng Olah TKP Kebakaran Pasar Jepara 2

Tim Labfor sedang mengumpulkan barang bukti terkait peristiwa kebakaran di Pasar Jepara 2, Kamis (2/11/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng melakukan olah TKP terkait terbakarnya Pasar Jepara 2, Kamis (2/11/2017) dini hari. Peristiwa sendiri terjadi sekira pukul 01.15 WIB. 

Dari pantauan MuriaNewsCom, tim terlihat mengambil beberapa barang yang tersisa dari peristiwa itu. Adapun jumlah kios yang terbakar berjumlah 8 bangunan, sedangkan ada 11 lapak yang juga terdampak peristiwa itu. 

Budiono petugas Pasar Jepara 2 mengatakan, peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Kegiatan perdagangan pun berlangsung sebagaimana biasa.

Baca: Pasar Jepara 2 Terbakar

“Hanya di lokasi kebakaran saja yang tidak beroperasi. Sementara pedagang di tempat lain masih berjualan sebagaimana lazimnya,” katanya, Kamis siang. 

Ia mengatakan, kebakaran berlangsung di bagian tengah pasar, yang terletak di Kelurahan Jobokuto-Kecamatan Kota Jepara. Beruntung petugas pemadam kebakaran bergerak cepat memadamkan api. 

“Untungnya petugas pemadam bergerak cepat, sehingga kebakaran tidak meluas,” ujarnya. 

Kasatreskrim Polres Jepara AKP Suharto mengatakan, tim Labfor adalah melakukan olah tempak kejadian perkara. Hal itu guna memastikan penyebab kebakaran. 

Editor: Supriyadi

Baca: Pak Haji Penjual Miras Oplosan Asal Mlonggo Jepara Dikenai Pasal Berlapis

Pedagang Pasar Ratu Minta Angsuran Dihapuskan

Aktifitas di Pasar Jepara Satu (Ratu) terlihat cukup sepi. (MuriaNewsCom)

Aktifitas di Pasar Jepara Satu (Ratu) terlihat cukup sepi. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Jepara –  Pedagang Pasar Jepara Satu (Ratu) meminta agar angsuran untuk kios dihapuskan. Ini lantaran, kondisi pasar saat ini sudah tak seramai dulu, sehingga angsuran tersebut memberatkan pedagang.

”Selain membayar retribusi, pedagang Pasar Ratu yang menempati kios juga diwajibkan membayar angsuran untuk mendapatkan hak guna bangunan (HGB). Kami rasa itu memberatkan,” kata Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Jepara Satu (Ratu) Supriyadi.

Menurut dia, dengan jangka waktu yang cukup lama membayar, sudah selayaknya angsuran tidak lagi dilakukan. Dalam catatannya, selama 20 tahun pihaknya mengajukan kios menjadi HGB, tapi sampai saat ini tak ada jawaban.

Selain itu, Pasar Ratu merupakan pasar milik Pemkab yang dulu saat pembangunan menggunakan APBD.

”Dengan kondisi pasar tradisonal yang kalah bersaing dengan pasar modern, seharusnya Pemkab menguatkan pasar tradisional dengan menghapus sejumlah kebijakan yang memberatkan. Serta membuat kebijakan yang membantu pedagang pasar tradisional,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Pengelolaan Pasar Jepara Dwi Riyanto menjelaskan, jika angsuran diputihkan, maka harus melalui prosedur yang panjang. Sebab sampai saat ini belum ada surat resmi ke Bupati Jepara mengenai hal itu.

Dia mengakui memang ada tunggakan angsuran yang harus dilunasi oleh pedagang sejak tahun 2006 silam. Pedagang diwajibkan untuk membayar bulanan.

“Dan dulu targetnya empat tahun tapi menunggak. Ada beberapa kasus pedagang baru membeli kios dari pihak pertama tapi tidak tahu sudah lunas atau tidak. Untuk itu, kami sarankan agar pedagang yang ingin dihilangkan beban tunggakannya itu mengirimkan surat ke pak Bupati dan DPRD Jepara agar bisa diproses,” katanya.

Editor: Supriyadi

Ini Perasaan Pedagang Pasar Ratu Saat Jadi Model

Salah satu pedagang pasar Jepara Satu (Ratu) saat mengikuti lomba fashion show batik, Kamis (1/10/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu pedagang pasar Jepara Satu (Ratu) saat mengikuti lomba fashion show batik, Kamis (1/10/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Puluhan pedagang pasar Jepara satu (Ratu) mengikuti lomba fashion show batik. Tak pelak, mereka berperan layaknya model professional yang berjalan dengan bergaya dengan mengenakan batik.

Kegiatan itu memang sangat langka di tengah kesibukan mereka berjualan melayani pembeli. Dengan membawa sebagian barang dagangan seperti sayur-sayuran, pakaian, aksesoris hingga makanan saji, para pedagang berlenggak-lenggok di atas gelaran karpet merah bak model kenamaan.

Lantaran baru kali pertama mengikuti acara itu, para pedagang merasa senang dan berkesan. Meski rata-rata mereka masih malu-malu dalam menampilkan gaya layaknya seorang model. Terlebih mayoritas peserta merupakan penjual wanita yang usianya terbilang tidak muda lagi.

Salah seorang pedagang, Evi, mengaku senang dapat berpartisipasi dalam rangka memperingati hari batik. Melihat kondisi batik saat ini yang mulai dilirik masyarakat, Evi mengaku senang.

”Batik jadi salah satu warisan nenek moyang, jadi harus dilestarikan,” kata Evi kepada MuriaNewsCom, Kamis (1/10/2015). (WAHYU KZ/TITIS W)

Pasar di Jepara Disulap jadi Catwalk, Pedagangnya jadi Model Kelas Dunia

Pedagang berjalan bak model dalam lomba fashion show di Pasar Jepara Satu (Ratu). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pedagang berjalan bak model dalam lomba fashion show di Pasar Jepara Satu (Ratu). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pedagang pasar Jepara satu (Ratu) mendadak jadi model. Meski sudah tidak muda lagi, tapi gaya mereka tak kalah dengan model. Mereka berlenggak-lenggok mengenakan batik di hadapan para penonton, dewan juri dan pejabat di Kabupaten Jepara.

Tak hanya berlenggak-lenggok mengenakan batik saja, tapi juga membawa jenis barang yang mereka jual di pasar Ratu. Ya, para pedagang ini mengikuti lomba fashion show yang digelar di pasar setempat lantai dua, Kamis (1/10/15).

Acara ini digelar untuk memeriahkan peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh pada Jumat (2/10/2015), besok. Dalam sambutannya, Wakil Bupati Jepara Subroto mengatakan, pihaknya mengapresiasi acara ini. Sebab dengan acara ini diharapkan dapat menarik masyarakat dan dapat meramaikan pasar.

“Saya juga berpesan agar kebersihan pasar selalu dijaga agar masyarakat betah di pasar ini. Selain itu juga agar mampu bersaing dengan pasar dan toko modern,” kata Subroto. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)