Sukamah, Nenek 60 Tahun yang Setia Geluti Kerajinan Payung Kertas Brantaksekarjati Khas Jepara

Sukamah saat memamerkan produknya, di depan rumahnya Desa Brantaksekarjati, Kecamatan Welahan, Sabtu (11/11/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Desa Brantaksekarjati, Kecamatan Welahan dulu kondang dengan kerajinan payung kertas. Hampir semua warganya menggantungkan pemasukannya dari usaha tersebut. Namun kini, perajin payung kertas hanya tinggal seorang saja. 

Adalah Sukamah (60) yang masih menekuni bisnis tersebut. Ditemui di rumahnya, RT 3 Desa Brantaksekarjati, perempuan beruban itu sedang menyelesaikan pesanan payung kertas di halaman samping yang bersebelahan dengan masjid setempat. 

Ia bercerita, telah memulai usahanya sejak umurnya 18 tahun. Waktu itu tahun 1975, ia dan suaminya telah menggeluti pembuatan payung kertas. 

“Anak saya waktu itu masih kecil-kecil. Suami dan saya sudah mulai membuat payung kertas. Nanti bagian saya yang memoles kertas dengan kanji dan melukisnya,” kata Sukamah, Sabtu (11/11/2017). 

Bahan-bahan yang dipakai saat itu masih sangat tradisional, berikut lem perekat yang menggunakan sari buah kleco. Untuk membuatnya kaku digunakan pati kanji. Sementara bahan baku utamanya adalah kertas semen yang membalut rangka dari bambu.


Sukamah menunjukkan cara membuat payung kertas brantaksekarjati yang digelutinya sejak remaja, Sabtu (11/11/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Seingatnya, dulu sewaktu masih jaya di desa tersebut banyak sekali pohon Kleco yang digunakan perajin payung kertas. Namun kini, untuk menemukannya, ia harus menuju desa sebelah, Kalipucang untuk menemukan bahan baku.

“Dulu sepanjang jalan desa ini banyak pohon kleco, namun kini sudah ditebangi. Sehingga kalau mau mengelem kertas semen dengan rangka bambu harus cari buah kleco dari Kalipucang. Dulu perajinnya pun banyak, namun kini sudah pada meninggal dunia,” kata dia. 

Kini, ia menjadi satu-satunya perajin payung kertas yang tersisa di desa itu. Selain berproduksi secara reguler ia juga melayani pemesanan untuk warga luar Jepara seperti Demak dan Semarang. 

Kini kerajinan tersebut kebanyakan digunakan untuk pelengkap pertunjukan tari atau sekedar hiasan. Dalam waktu sehari Sukamah bisa membuat tiga hingga lima payung, bergantung pada pesanan dan tenaga yang dipunyai.

“Kalau buat ini satu jam paling dapat dua. Tapi itupun saya sela dengan kegiatan keseharian seperti masak. Pesanan kebanyakan untuk tari ataupun untuk hiasan atau untuk upacara pemakaman,” urainya.

Di masa senjanya, ia tak berharap banyak kerajinan itu akan diteruskan oleh anak-anaknya.

“Kini dibantu anak saya Rahman, namun ia juga tidak fokus karena mengurus bengkelnya. Ya mungkin kalau saya sudah tak ada, maka tidak ada lagi yang meneruskan kerajinan payung kertas,” ujar Sukamah sambil tersenyum penuh makna. 

Editor: Supriyadi