Mengambil Hikmah dari Kematian Patmi, Sang Perempuan Pengecor Kaki

Akrom Hazami
red_abc_cba@yahoo.com

PATMI, petani perempuan asal kawasan Pegunungan Kendeng, salah satu perempuan penolak pabrik semen, yang melakukan aksi mengecor kaki di depan Istana Negara, Jakarta, meninggal dunia. Yaitu pada Selasa (21/3/2017), dini hari.

Perempuan 48 tahun asal Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Pati, dinyatakan meninggal akibat serangan jantung. Patmi meninggal saat dalam perjalanan dari kantor LBH Jakarta menuju rumah sakit St. Carolus, Salemba.

Informasinya, Patmi mulanya sedang mengantre buang air kecil. Kemudian, Patmi mengeluh kurang enak badan, hingga akhirnya tak sadarkan diri. Medis memberikan pertolongan pertama. Tapi badan Patmi mendadak dingin sehingga dirujuk ke rumah sakit.  Belum sampai di rumah sakit, Patmi meninggal dunia.

Sesuai informasi, Patmi tidak memiliki penyakit bawaan dan berangkat ke Jakarta dalam keadaan sehat. Menurut dokter, Patmi meninggal dunia karena penyakit jantung.

Patmi berangkat ke Jakarta bersama dengan Dasmi dan Suparmi. Kemudian, mereka bergabung bersama peserta aksi lain. Hingga akhirnya peserta aksi melakukan pengecoran pada kaki.  Selama sepekan ini, Patmi ikut aksi menolak pembangunan pabrik semen di kawasan Kendeng, Rembang.

Kematian Patmi membuat banyak pihak bereaksi. Dari mulai Presiden Jokowi hingga Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Beberapa kalangan juga menyayangkan aksi penolakan yang dilakukan Patmi dan kawan-kawannya. Kenapa harus mengecor kaki?

Ya, kenapa harus mengecor kaki? Di era demokrasi, warga memang bebas untuk menyuarakan pendapatnya, atau mengutarakan aspirasinya. Tapi tentu, seyogyanya menggunakan cara yang baik. Atau cara yang tak menyakiti diri sendiri. Sebab nantinya, jika terjadi hal yang tak diinginkan, justru akan berbuah masalah baru.

Sudah tak terhitung aksi berbuah korban. Baik di Indonesia, atau di luar negeri. Bahkan sampai berujung pada banyaknya jumlah warga yang menjadi korban jiwa. Apakah itu korban meninggal dunia, sampai yang mengalami luka.

Bagi warga yang hendak melakukan aksi unjuk rasa, aksi protes, dan sejenisnya, kini sudah saatnya menimbang cara aksi yang akan ditempuh. Apakah menyakiti atau tidak? Apakah membahayakan atau tidak? Serta, apakah berisiko tinggi atau tidak?. Semua harus dipertimbangkan masak-masak.

Jangan sampai aksi berujung pada jatuhnya korban jiwa. Sebab, selain hal itu kerap tak diinginkan, juga akan meninggalkan sedih yang mendalam di kalangan sesama peserta, hingga keluarga.  Bukankah, mereka para anggota keluarga yang tak ikut aksi, tak henti-hentinya mulutnya berkomat-kamit melantunkan doa demi keselamatan jiwa yang ikut aksi.

Sudahlah, jangan ada lagi Patmi-Patmi lain yang menyusul.  Jangan ada darah yang tumpah lagi. Sampaikan semua keluhan, protes, dan sejenisnya, dengan cara yang lebih bijak. Jika darah yang harus jadi tebusan, maka berpikirlah dua kali. Tetaplah menyala menyampaikan aspirasi, tapi bukan dengan taruhan nyawa. (*)

 

Komnas Perempuan Kawal Prosesi Pemakaman Patmi di Larangan Pati

Wakil Ketua Komnas Perempuan Budi Wahyuni saat menghadiri prosesi pemakaman Patmi di Desa Larangan, Tambakromo, Pati, Selasa (22/3/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Wakil Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Budi Wahyuni menghadiri prosesi pemakaman Patmi, warga Desa Larangan, Tambakromo, Pati yang meninggal dunia saat mengikuti aksi cor kaki bertajuk “Dipasung Semen” di Jakarta. Prosesi pemakaman dilakukan pada Selasa (21/3/2017) pukul 21.30 WIB.

“Kebetulan saya sedang ada tugas di Kudus. Dapat kabar kalau ada salah satu teman yang ikut ‘nyemen’, sesuai koordinasi dari kantor, saya sampai di rumah duka sekitar pukul 15.15 WIB,” ujar Wahyuni kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, tragedi Patmi menjadi potret perempuan yang berupaya memperjuangkan hak-hak asasinya. Patmi ingin memastikan bahwa lingkungan harus terjaga dengan baik untuk anak cucunya. Aksi itu sering dilakukan Patmi.

“Aksi untuk mengecor kaki sebagai suatu gambaran, jalan yang ditempuh memang seperti itu. Sebetulnya, aksi itu tidak dilakukan bila direspons pemerintah dengan baik,” tuturnya.

Baca juga : Tiba di Pati, Jenazah Patmi Langsung Dikebumikan Malam Hari
Karena itu, ia berharap agar negara hadir dan mendengarkan suara para perempuan yang ingin lingkungannya terjaga dari eksploitasi pabrik semen. Negara diharapkan hadir sehingga tidak ada Patmi-Patmi lainnya di masa mendatang.

Menurutnya, perjuangan Patmi menjadi salah satu potret perjuangan perempuan yang ingin lingkungannya tidak rusak, karena memikirkan anak cucunya di masa mendatang. “Beliau-beliau ini yakin sekali bahwa kerusakan lingkungan tidak tergantikan. Saya justru banyak belajar dari mereka akan perjuangan para perempuan,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Tiba di Pati, Jenazah Patmi Langsung Dikebumikan Malam Hari

Jenazah Patmi saat akan dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Larangan, Tambakromo, Pati, Selasa (21/3/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jenazah Patmi (48), salah satu peserta aksi cor kaki dalam aksi “Dipasung Semen” di Jakarta, tiba di rumah duka Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Pati, Selasa (21/3/2017) pukul 20.30 WIB.

Sejumlah ucapan duka cita muncul dari berbagai pihak. Salah satuya, Kepala Staf Kepresidenan RI, Deputi V Kantor Staf Presiden RI, Walhi Foundation, Komnas Perempuan, dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Ratusan peziarah terlihat memadati rumah duka. Usai didoakan, jenazah langsung dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat sekitar pukul 21.30 WIB.

“Ibu Patmi ikut berjuang menyelamatkan pegunungan Kendeng. Tidak hanya di wilayah Pati dan Rembang, Ibu Patmi selalu aktif ikut berjuang di wilayah Kendeng Utara. Sampai nyusul ikut nyemen kaki,” ungkap Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Gunretno, usai mengawal jenazah Patmi dari Jakarta hingga Pati.

Saat itu, banyak tim dokter yang aktif memeriksa para peserta yang mengecor kaki. Patmi disebut Gunretno paling sehat di antara para peserta. Setelah beberapa hari di Jakarta, Patmi berniat pulang ke Pati.

Namun, Patmi yang sehari-hari berprofesi sebagai petani ini tiba-tiba mengalami sakit. “Ya batuk-batuk begitu, tidak lama akhirnya meninggal dunia. Saya sudah tanya kepada pihak keluarga, Patmi berangkat ke Jakarta pamit untuk memperjuangkan Pegunungan Kendeng dari rencana pendirian pabrik semen,” tuturnya.

Tim medis menyatakan, Patmi meninggal dunia karena serangan jantung. Namun, sebagian orang menyebut, Patmi terkena angin duduk, sebuah kondisi yang ditandai nyeri pada dada akibat otot-otot jantung kurang mendapatkan pasokan oksigen.

Editor : Kholistiono