Biar Agama Tak Dijadikan Alasan Perpecahan, Begini Sikap Bupati Pati

Sarasehan forum kerukunan umat beragama (FKUB) yang diikuti kepala sekolah se-Pati digelar di Kantor eks-Bakorwil Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tokoh agama di Pati diminta untuk ikut memiliki peran aktif dalam menjaga kerukunan antarumat beragama. Hal itu disampaikan Bupati Pati Haryanto dalam sarasehan Forum Kerukunan Umat Beragama di Kantor eks-Bakorwil Pati, Sabtu (2/12/2017).

“Kami mohon kepada para tokoh agama dan kepala sekolah bisa menyampaikan kepada masyarakat dan anak-anak tentang pentingnya kerukunan umat beragama dengan menumbuhkan karakter kebangsaan,” ujar Haryanto.

Selama ini menurut dia, agama kerap dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyulut perpecahan. Hal itu didukung dengan minimnya pengetahuan masyarakat tentang karakter kebangsaan.

Untuk itu, Haryanto juga meminta kepada orang tua dan semua lapisan masyarakat untuk ikut berperan dalam menanamkan karakter kebangsaan. Dengan cara itu, kerukunan antarumat beragama dinilai akan berjalan dengan baik.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Pati Achmad Khoiron mengatakan, hubungan umat lintas agama di Pati selama ini berjalan dengan baik. Bahkan, dia menyebut belum ada konflik horizontal di Pati yang mendasarkan pada isu agama.

Kendati begitu, Khoiron merasa silaturahmi antarumat beragama perlu dilakukan secara intensif dalam rangka menjaga kerukunan yang selama ini sudah berlangsung dengan baik.

“Sarasehan FKUB dilakukan bukan karena ada konflik, tetapi sebagai upaya untuk menjaga supaya hubungan yang harmonis tetap terjaga,” imbuhnya.

Dalam sarasehan yang diikuti seluruh kepala SMA, SMK dan MA se-Kabupaten Pati tersebut diharapkan bisa menjadi sarana untuk belajar menghormati, menghargai, memperkaya dan memperkuat karakter kebangsaan.

Editor : Ali Muntoha

Puluhan Rumah di Karangrowo Pati Juga Hancur Diterjang Lisus

Rumah salah satu warga Karangrowo, Jakenan yang tertimpa pohon akibat angin puting beliung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Angin puting beliung tak hanya merobohkan rumah warga Dukuh Garas, Desa Sugiharjo, Pati. Lisus juga menghancurkan puluhan rumah di Desa Karangrowo, Kecamatan Jakenan, Pati, Kamis (30/11/2017).

Tercatat sebanyak 61 rumah dan empat fasilitas umum di Desa Karangrowo, Kecamatan Jakenan, Pati, rusak setelah diterjang angin puting beliung.

Dari 61 rumah warga yang terdampak angin puting beliung, 59 rumah mengalami rusak ringan, sedangkan satu rumah dan kandang ternak mengalami rusak yang sangat parah.

Kandang ternak milik Karni, warga Dukuh Putat RT 1 RW 2 tertimpa pohon trembesi yang besar. Sementara rumah milik Karsidin yang berada di RT 5 RW 1 tertimpa pohon mangga.

Adapun fasilitas umum yang mengalami kerusakan, di antaranya balai desa, lumbung desa, gedung TPQ, dan pondok bersalin desa (polindes). Keempat fasilitas umum tersebut rusak di sejumlah titik akibat terkena sapuan angin.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati Sanusi Siswoyo menjelaskan, hujan deras disertai angin kencang berlangsung sekitar pukul 13.30 WIB.

Tiba-tiba angin kencang yang berputar berjalan dan menerpa sederet rumah di perkampungan Karangrowo.

“Puluhan rumah yang diterpa angin ribut mengalami kerusakan ringan seperti atap dan genteng berjatuhan. Dua bangunan yang rusak berat karena tertimpa pohon besar,” kata Sanusi.

Kapolsek Jakenan AKP Suyatno memastikan tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut. Kerugian material secara menyeluruh diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Tak lama setelah bencana, tim penanggulangan bencana gabungan dari Polsek Jakenan, Koramil Jakenan, BPBD, relawan bencana dan penduduk setempat langsung melakukan evakuasi. Mereka bersama-sama memperbaiki genteng rumah yang rusak lantaran diterjang angin.

Editor : Ali Muntoha

Ganjar Hibur Warga Pati dengan Main Ketoprak Bareng Forkopimda

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (tengah) memerankan sebagai Panembahan Senopati dalam pagelaran ketoprak di Alun-alun Pati, Jumat (24/11/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ikut bermain ketoprak bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Pati di Alun-alun Pati, Jumat (24/11/2017) malam.

Dalam pagelaran ketoprak Projo Budoyo yang mengambil lakon “Sumilaking Pedhut ing Bumi Mataram” tersebut, Ganjar mengambil peran sebagai Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram.

Sementara Bupati Pati, Haryanto memerankan Ki Papuan dan Wakil Bupati Pati Saiful Arifin memerankan Patih Sandang Rogo. Ada pula Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan yang berperan sebagai Ki Ageng Gondang Rejo dan Dandim 0718/Pati memerankan Ki Ageng Kali Jambe.

Sejumlah bintang tamu yang hadir, di antaranya Yati Pesek, Gareng Semarang, dan Ki Dalang Warseno Slank. Penampilan mereka di atas panggung menarik perhatian lebih dari seribu penonton.

“Ketoprak selain berfungsi sebagai tontonan, juga memberikan tuntunan kepada masyarakat. Saya berharap, kesenian ketoprak di Kabupaten Pati terus lestari,” ujar Ganjar.

Sementara Haryanto menuturkan, pagelaran ketoprak yang diikuti pejabat Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pati itu, menjadi bagian dari upaya untuk nguri-uri tradisi dan kebudayaan Jawa, terutama ketoprak.

Menurutnya, seni ketoprak bisa memberikan edukasi di tengah perkembangan globalisasi yang begitu pesat. Melalui pelestarian ketoprak, Haryanto menilai budaya adiluhung Jawa tidak akan punah.

Saiful Arifin menambahkan, Pati selama ini dikenal dengan budaya ketopraknya. Di saat daerah lain sudah mulai melupakan ketoprak, warga Pati masih terus eksis menghadirkan pagelaran ketoprak pada even tertentu seperti sedekah bumi, mantu, sunatan, dan tradisi lainnya.

Karena itu, dia mengajak kepada masyarakat Pati untuk terus mencintai kesenian dan budaya Jawa. Sebab, bangsa yang hebat tidak akan pernah melupakan budaya, jati diri dan kearifan lokal yang dimiliki.

Editor : Ali Muntoha

50 Persen Korban Kecelakaan di Pati Usia Produktif, Pelajar Sumbang 157 Kasus

Seorang pelajar terjaring razia lalu lintas di kawasan Jalan Syekh Jangkung Pati, Rabu (22/11/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kasatlantas Pati AKP Ikrar Potawari mengaku prihatin dengan kasus kecelakaan di Kabupaten Pati yang sangat tinggi.

Bahkan, kasus kecelakaan di Pati menduduki peringkat pertama di Jawa Tengah. Tahun sebelumnya, Pati berada di peringkat dua hingga tiga di Jateng.

“Sampai saat ini, ada 926 kasus kecelakaan di Pati. Sebanyak 50 persen pengendara yang terlibat kecelakaan merupakan usia produktif,” ujar AKP Ikrar, Rabu (22/11/2017).

Kasus kecelakaan yang melibatkan pelajar juga terbilang sangat tinggi. Dari 50 persen usia produktif, 157 kasus melibatkan pengendara dari kalangan pelajar.

“Sebanyak 157 kasus kecelakaan yang melibatkan pelajar, 23 pengendara di antaranya meninggal dunia. Kondisi ini cukup memprihatinkan,” tuturnya.

Selama ini, pihaknya sudah melakukan sosialisasi keselamatan berlalu lintas di sekolah-sekolah. Bahkan, razia lalu lintas digencarkan untuk menumbuhkan budaya sadar berlalu lintas.

Karena itu, dia menyayangkan bila ada orangtua yang memberikan toleransi kepada anaknya untuk berkendara sebelum punya surat izin mengemudi (SIM). Dia mengimbau kepada orangtua untuk ikut berpartisipasi aktif memberikan edukasi terkait bahaya berkendara sebelum waktunya memiliki SIM.

Editor: Supriyadi

Pembobol Konter di Gembong Pati Dibekuk Brimob

Pelaku diborgol polisi setelah mencuri belasan telepon seluler di Firman Cell Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pencuri asal Tergo, Dawe, Kudus berinisial AS (21) diamankan Unit Intel Brimob Pati setelah mencoba menawarkan telepon seluler curian di konter Cindramata, Puri, Pati, Minggu (19/11/2017).

Sejumlah telepon seluler yang ditawarkan merupakan barang curian dari konter Firman Cell milik Mutoha di Jalan Pati-Gembong, Bergat, Gembong, Senin (14/11/2017) lalu.

“Pelayan konter curiga kepada tersangka, sehingga menghubungi Unit Intel Brimob Pati. Setelah ditangkap, Unit Reskrim Polsek Gembong yang sebelumnya mendapatkan laporan dihubungi,” ujar Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo.

Sejumlah barang bukti yang diamankan dari tersangka, antara lain telepon seluler merek Oppo A 57 sebanyak dua unit, Oppo A 37 sebanyak tiga unit, Xiaomi berbagai tipe sebanyak tiga unit, Samsung berbagai tipe sebanyak sepuluh unit. Selain itu juga mengamankan lima buah charger, dua kabel data, satu headset, tiga kartu perdana, dan uang tunai Rp 1,2 juta.

Polisi juga mengamankan sepeda motor Vega ZR milik tersangka, yang dibeli dari hasil penjualan telepon seluler curian. Pelaku dijerat dengan pasal 363 KUHPidana dengan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Saat ini, pelaku ditahan di Mapolsek Gembong untuk keperluan penyidikan lebih lanjut. Hal itu untuk mendalami kasus apakah pelaku juga terlibat dengan jaringan seperti penadah atau tidak.

“Pelaku masih sangat muda dan usia produktif. Dari sisi sosial kemanusiaan, kami cukup menyayangkan para pemuda yang bukannya bekerja, tetapi justru mencuri. Uang hasil pencurian digunakan untuk beli motor,” ucap Kompol Sundoyo.

Editor : Ali Muntoha

Tertabrak di Tikungan, Pengendara Honda Grand Tewas di Sidoharjo Pati

Polisi melakukan olah TKP di lokasi kecelakaan antara truk dan sepeda motor di Jalan Juwana-Wedarijaksa, Sabtu (18/11/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang pengendara sepeda motor Honda Grand bernopol K 5587 AH, Jamaludin (72) tewas setelah terlibat kecelakaan dengan truk Isuzu K 1765 EF di Jalan Juwana-Wedarijaksa, Sidoharjo, Wedarijaksa, Sabtu (18/11/2017).

Jamaludin merupakan warga Dukuh Pajaran, Pagerharjo, Wedarijaksa, Pati. Dia meninggal dunia di lokasi kejadian, setelah mengalami luka berat pada bagian kaki, tangan dan leher.

Lasmin, salah satu saksi mengatakan, kecelakaan terjadi saat pengendara motor berjalan dari timur ke barat dan tertabrak truk dari arah yang berlawanan. Truk disebut terlalu ambil kanan, sehingga menabrak pengendara motor.

“Jalannya menikung, pengemudi truk terlalu ambil kanan, sehingga terjadi kecelakaan dengan kendaraan yang melaju dari arah berlawanan. Pengendara motor sempat masuk kolong truk dan truk berhenti setelah menabrak pohon,” ujar Lasmin.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan polisi, pengemudi truk kurang berhati-hati dan tidak memperhatikan arus lalu lintas, sehingga terjadi kecelakaan lalu lintas.

“Pengemudi truk ambil arah terlalu kanan dengan tidak memperhatikan arus. Sehingga terjadi kecelakaan dan menyebabkan orang lain meninggal dunia. Dia kurang berhati-hati,” papar Kapolsek Wedarijaksa AKP Eko Pujiono.

Atas kejadian tersebut, kerugian material diperkirakan mencapai Rp 10 juta. Pihak kepolisian mengimbau kepada pengguna jalan untuk selalu memperhatikan arus lalu lintas selama berkendara, sehingga tidak terjadi kecelakaan.

Editor : Ali Muntoha

Pacu Potensi Maritim, BBM Nelayan Pati Bakal Dikonversi ke Gas

Wakil Bupati Pati Saiful Arifin (tiga dari kanan) saat melihat bantuan konversi BBG untuk nelayan dari Kementerian ESDM. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati menjadi salah satu daerah dengan potensi maritim terbesar di Indonesia. Hal itu yang membuat Pemkab Pati terus mengembangkannya sebagai upaya untuk memajukan Pati.

Salah satu bentuk upaya untuk melejitkan potensi maritim, nelayan mendapatkan bantuan berupa paket konversi bahan bakar minyak (BBM) menuju bahan bakar gas (BBG). Paket itu berupa satu mesin, dua tabung gas, dan satu baling-baling perahu.

“Konversi dari BBM ke BBG akan mengubah kebiasaan penggunaan mesin. Manfaatnya bisa langsung dirasakan, karena pemakaian bahan bakar menjadi lebih efisien,” ujar Wakil Bupati Pati Saiful Arifin, Jumat (17/11/2017).

Nelayan di Pati sendiri mendapatkan bantuan sebanyak 345 paket dari pengusulan Pemkab Pati ke pemerintah pusat sebanyak 704 paket. Nelayan yang belum mendapatkan bantuan paket konversi BBG akan diusahakan mendapatkan pada tahun depan.

Bantuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tersebut diprioritaskan untuk nelayan kecil dengan kriteria perahu di bawah 5 GT. Di Indonesia, ada 17 ribu paket konversi yang bersumber dari dana APBN.

“Pati memiliki bonus geografi maritim yang bagus. Potensi ini sebetulnya sudah lama diperhitungkan dalam skala nasional. Saat ini, Pemkab Pati terus kita pacu supaya bisa lebih berkembang,” tuturnya.

Secara terpisah, perwakilan dari Kementerian ESDM, Sugiarto menjelaskan, bantuan konversi diberikan kepada nelayan yang masih menggunakan bahan bakar bensin.

“Jika dibandingkan, nelayan rata-rata memakai tiga liter bensin untuk melaut. Untuk penggunaan BBG, satu tabung bisa dipakai untuk tiga hari,” kata Sugiarto.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pati Edy Martanto menuturkan, jumlah 704 usulan penerima bantuan baru terealisasi 345 paket disebabkan 459 paket yang diusulkan memakai BBM solar.

Sementara sampai saat ini, Kementerian ESDM masih belum punya teknologi tersertifikasi untuk alat konversi solar ke BBG. Namun, dia berharap pemerintah sudah memiliki teknologi konversi BBM solar ke BBG tahun depan.

Editor: Supriyadi

Nyenggol Truk, Warga Tambakromo Pati Tewas di Jalan, Sopirnya Kabur

Polisi tengah melakukan olah TKP di lokasi kecelakaan, Jalan Tambakromo-Kayen, Kamis (16/11/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang pengendara sepeda motor Supra bernomor polisi K 4826 EH bernama Saribun (57), warga Sinomwidodo, Tambakromo, Pati, meninggal dunia di lokasi setelah tertabrak truk di Jalan Tambakromo-Kayen, Kamis (16/11/2017).

Korban meninggal dunia lantaran kepala mengalami cedera dan pendarahan berat. Sementara truk yang menabrak tidak diketahui identitasnya karena kabur.

Ningrum, salah satu saksi mengatakan, kejadian bermula saat truk berjalan dari barat ke timur, sedangkan korban melaju dari arah yang sama. Korban yang membawa dua karung pupuk dan cangkul berusaha mendahului truk.

Namun, karung pupuk tersebut menyenggol badan truk sehingga korban jatuh. “Setelah itu, truk melarikan diri. Korban tergeletak di jalan,” ujar Ningrum.

Peristiwa tersebut sempat menjadi tontonan warga setempat. Polisi yang mengetahui informasi tersebut lantas mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Aparat kepolisian juga tengah melakukan pendalaman untuk mencari sopir truk yang kabur tersebut.

Kasatlantas Polres Pati AKP Ikrar Potawari mengimbau kepada pengguna jalan untuk memperhatikan barang bawaan saat berkendara. Sebab, peristiwa serupa bukan kali pertama terjadi.

“Hati-hati dalam berkendara dan kelengkapan kendaraan itu untuk keselamatan diri sendiri. Jadi kami imbau untuk selalu waspada dalam berkendara,” imbau AKP Ikrar.

Editor : Ali Muntoha

Pengendara Berkaus Palu Arit di Jakenan Pati yang Viral di Medsos Diamankan Polisi

Pengguna kaos berlambang palu arit (tiga dari kiri) saat diamankan polisi di Mapolsek Jakenan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang pengendara yang melintas di kawasan Kecamatan Jakenan menjadi sorotan publik, setelah videonya diunggah netizen di media sosial. Video itu menjadi viral karena pengendara memakai kaus hitam berlambangkan palu arit.

Di atas lambang palu arit, terdapat tulisan CCCP. Hanya dalam hitungan jam setelah video itu viral, jajaran Polsek Jakenan berhasil mengamankan pengendara motor tersebut.

Pemuda itu berinisial S, warga Kalimulyo, Jakenan, Pati. Saat diamankan petugas, dia mengaku sudah memiliki kaus berlambang palu arit sejak 1998.

“Pengakuannya, dia mendapatkan kaus tersebut saat bekerja di Malaysia sebagai TKI di Kota Johor. Kaus itu diberikan oleh temannya berinisial P, usia 42 tahun, dari Banyuwangi, Jawa Timur,” ujar Kapolsek Jakenan AKP Suyatno, Kamis (16/11/2017).

Sementara S mengaku tidak memiliki kepentingan apapun saat memakai kaus tersebut. Dia memakai kaus itu saat akan membeli pakan ayam di Desa Puluhantengah.

“Tidak ada niat apapun. Saya juga tidak tahu arti dari tulisan CCCP. Waktu itu, saya hanya pakai saja saat mau beli pakan ayam,” jelas S.

Kaus tersebut akhirnya disita polisi. S lantas membuat surat pernyataan tentang penggunaan kaus tersebut yang diketahui kepala desa setempat, Urip, Bhabinkamtibmas Brigadir Sulistyanto, Bhabinsa Serda Sunarto.

Editor : Ali Muntoha

Tahun Depan, Warga Pati Dapat Jatah 45 Ribu Sertifikasi Tanah Gratis

Petugas BPN Pati tengah melakukan pengukuran tanah di Desa Slungkep, Kayen yang menjadi salah satu peserta program PTSL. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Pati mendapatkan jatah program sertifikasi tanah gratis sebanyak 45.000 sertifikat. Hal itu disampaikan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pati Yoyok Hadimulyo Anwar, Rabu (15/11/2017).

“Tahun depan, warga Pati mendapatkan jatah pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL) sebanyak 45.000 sertifikat. Jumlah ini sangat banyak dibanding daerah lain,” ujar Yoyok.

Dibanding tahun ini, jatah sertifikasi tanah gratis di Pati mengalami kenaikan sebanyak 5.000 sertifikat. Menurutnya, peningkatan jatah program PTSL untuk warga Pati menjadi bentuk perhatian khusus dari pemerintah pusat.

Pasalnya, tidak semua daerah mendapatkan jatah sebanyak itu. Dia berharap, semua tanah di Pati sudah bersertifikat, sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo yang telah memberikan program PTSL melalui BPN.

“Saat ini, pengajuan dari warga sudah mencapai 50.000 pemohon. Nanti kita akan seleksi. Kita prioritaskan untuk desa yang belum tersentuh program PTSL,” tambahnya.

Selama ini, tanah di Pati masih banyak yang belum bersertifikat. Dari 401 desa dan lima kelurahan di Pati, baru sekitar 50 persen yang sudah bersertifikat.

Siti Musyaroh, warga Desa Slungkep, Kayen yang menjadi salah satu peserta program PTSL mengaku sangat terbantu dengan adanya sertifikasi tanah gratis. Selama ini, tanah waris yang ia terima tidak disertifikatkan karena terkendala biaya.

“Program ini memang yang kami tunggu. Tidak perlu keluar biaya banyak, cuma keluar biaya patok batas, materai, pajak dan fotokopi surat-surat,” ucap Siti.

Editor : Akrom Hazami

 

Identitas Tengkorak di Hutan Larangan Pati Terungkap, Kuburannya Langsung Dibongkar

Warga membongkar makam Agus dan membawa jenazahnya yang tinggal tulang belulang dari Hutan Larangan, Maitan, Tambakromo, Selasa (14/11/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sesosok mayat tanpa identitas yang ditemukan dan dikebumikan di kawasan Hutan Larangan, Desa Maitan, Tambakromo, Pati, beberapa waktu lalu, kini terungkap identitasnya.

Mayat yang tinggal tulang belulang yang ditemukan seorang pemburu hewan di Hutan Larangan itu ternyata bernama Agus Susanto, warga Desa Raci RT 2 RW 5, Kecamatan Batangan, Pati. Saat ditemukan, usianya sekitar 43 tahun.

Identitasnya terungkap, setelah pihak keluarga dengan didampingi Kepala Desa Raci, Mamik Eko mengambil jenazah di Hutan Larangan pada Selasa (14/11/2017). Pihak keluarga yang mengambil jenazah adalah Kustini, kakak ipar korban yang merupakan warga Hadipolo, Jekulo, Kudus.

Dalam keterangannya, Kustini mengetahui bila jenazah merupakan keluarganya setelah ada informasi dari Facebook dan pemberitaan media. “Dari pemberitaan dan postingan di Facebook, ada mayat tanpa identitas dan diduga gangguan jiwa,” kata Kustini.

Keyakinan pihak keluarga semakin menguat karena sepekan sebelum ditemukan, juga ada postingan di Facebook yang menyebutkan adanya orang gila tanpa memakai baju berkeliaran di wilayah Hutan Larangan.

Korban sendiri dikatakan keluarga sudah mengalami gangguan jiwa sejak remaja. Kondisi itu semakin parah setelah ibunya meninggal dunia.

Baca : Mayat Pria Tinggal Tulang Ditemukan di Hutan Larangan Pati dan Dikubur di Lokasi

Korban juga memiliki dua saudara kandung, yakni Budi Santoso, warga Hadipolo, Jekulo, Kudus dan Sunardi, warga Tondomulyo, Jakenan, Pati.

Setelah disebutkan ciri-ciri korban, keluarga yakin bila mayat yang sudah tidak bisa dikenali itu merupakan Agus Susanto. Salah satu cirinya, laki-laki, berperawakan sedang dengan tinggi 175 cm, tidak pernah pakai baju, jarang makan dan sering sakit-sakitan.

Setelah makam dibongkar kembali, jenazah akhirnya dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Raci. Sebelumnya, jenazah tersebut langsung dikebumikan di Hutan Larangan karena tidak diketahui identitasnya.

Editor : Ali Muntoha

Anggota DPR Firman Sebut Pati Tak Lagi Kota Pensiunan

Duta Wisata Pati 2017 Gunita Wahyu saat mengantar kendi untuk pembukaan pameran seni rupa di Gedung Juang 45 Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Anggota DPR RI Firman Soebagyo menyebut Kabupaten Pati saat ini bukan lagi Kota Pensiunan. Hal itu dikatakan Firman dalam pembukaan pameran seni rupa di Gedung Juang 45, Jalan P Sudirman Pati, Jumat (10/11/2017) malam.

Menurutnya, julukan “Pati Kota Pensiunan” sudah usang dan tidak relevan lagi. Pasalnya, Pati sudah menjadi daerah modern yang mengalami peningkatan kemajuan dari berbagai aspek.

“Pati bukan lagi Kota Pensiunan, tapi kota modern yang sudah diperhitungkan di tingkat nasional. Saya yakin, Pati ke depan juga dikenal dunia karena pertumbuhannya yang begitu pesat,” ucap Firman.

Selama ini, Pati mendapatkan julukan “Kota Pensiunan”. Hal itu disebabkan kondisi Pati yang cenderung sepi, stagnan dan sebagian besar dihuni para pensiunan yang lahir dari Pati sendiri.

Bahkan, Pati sempat diindentikkan dengan daerah yang tidak berkembang. Wilayahnya masih berupa perkampungan dan pedesaan, sehingga menjadi kota liburannya para pensiunan.

“Pertumbuhan ekonomi di Pati luar biasa, berada di atas rata-rata Jawa Tengah dan nasional. Tingkat kemiskinan dan pengangguran juga menurun drastis. Pati sudah menjadi kota maju,” imbuh Firman.

Kondisi Pati yang tengah berkembang itu yang menurutnya digambarkan dalam pameran seni rupa bertema “Dhangkel Dhangkel Podho Semi”. Artinya, pokok tanaman mulai bersemi.

Editor: Supriyadi

Perupa Indonesia Bakal Hadiri Pameran Seni Rupa di Pati

Seorang panitia tengah menyiapkan pameran seni rupa yang akan digelar di Gedung Juang 45, Jalan P Sudirman Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Perupa dari berbagai daerah di Indonesia bakal menghadiri pameran seni rupa yang akan digelar di Gedung Juang 45, Jalan P Sudirman Pati pada 10-18 November 2017.

Salah satunya, perupa dari Jakarta, Yogyakarta, Tuban, Blitar, Tulungagung, Solo, Semarang, Medan, Brebes, dan Kudus. Dalam agenda tersebut, mereka akan berkolaborasi dengan perupa dari Pati.

“Nanti akan ada happening art dari Teater Doeng Djoe Pati, Pawiyatan Beksa Pandu Gabus, Ritus Borong Bocah Angon Kayen, dan Serupa Art Space dari Jepara,” ujar salah satu perupa Pati, Susilo Tomo, Selasa (7/11/2017).

Pameran seni rupa yang diadakan Kelompok Bajigur tersebut mengambil tema “Dhangkel Dhangekel Podho Semi”. Artinya, pokok tanaman sebagai tempat akar atau dikenal dengan istilah “banggal” semuanya bersemi.

Bukan tanpa alasan, tema tersebut sengaja diusung untuk menyemarakkan dunia seni di Kabupaten Pati dengan simbol semi. Panitia berharap, seni rupa di Pati dapat bersemi dan tumbuh berkembang mewarnai kehidupan.

Terpisah, Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma mengaku akan mendukung penuh kegiatan tersebut. Pameran yang dijadwalkan dibuka pukul 19.30 WIB itu menjadi kelanjutan dari pameran seni rupa pada saat pembukaan Gedung Juang 45 beberapa waktu lalu.

“Tentu saya dukung sepenuhnya. Acara pameran seni akan menjadi wadah bagi seniman untuk menunjukkan karya seni terbaiknya. Ini akan menjadi ajang unjuk kreativitas bagi perupa di Pati,” ucap Dandim.

Para perupa dari berbagai daerah di Indonesia sendiri akan tiba di Pati H-1 jelang pameran berlangsung. Saat ini, panitia sudah mempersiapkan sejumlah karya yang akan dipajang.

Editor : Ali Muntoha

Api Berkobar di Gudang Kapuk Karaban Pati, 5 Orang Terbakar Dilarikan ke Rumah Sakit

Polisi mengidentifikasi penyebab kebakaran yang meludeskan gudang kapuk di Karaban, Gabus, Pati, Selasa (7/11/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kebakaran hebat terjadi di gudang kapuk yang berada di Desa Karaban, RT 6, RW 2, Kecamatan Gabus, Pati, Selasa (7/11/2017). Api yang berkobar tak hanya melalap isi gudang, tapi juga membakar lima orang pekerja.

Beruntung kelima orang ini mampu menyelamatkan diri, sehingga nyawa mereka tertolong. Meski demikian, para korban mengalami luka yang cukup parah, karena kulit mereka melepuh terkena api.

Mereka kini dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan intensif. Mereka adalah Kaspi (45), seorang buruh asal Desa Jembangan, Sukolilo, Khiloeri (40), warga Karaban, Imam (38), warga Tambahagung, Tambakromo, Wandi (50), warga Jembangan, Sukolilo dan Pak Dul (50), warga Bogotanjung, Gabus.

Dari lima korban luka bakar, Kaspi yang mengalami luka bakar di sekujur tubuh. Badan ibu berusia 45 tahun ini melepuh dan mengelupas akibat terkena paparan api.

Gudang yang terbakar diketahui milik Suparman (35), warga Desa Karaban. Kebakaran tersebut meludeskan bangunan tembok beratap seng dan genteng seluas 8×50 meter.

Api dan asap pekat membumbung dari gudang kapuk di Karaban yang terbakar. (Grup FB Kumpulan Anak Asli Pati)

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan mengatakan, penyebab kebakaran tersebut diduga berasal bagian mesin hidrolis yang kering, sehingga mengeluarkan percikan api saat terjadi gesekan.

“Dari hasil identifikasi, penyebabnya bagian mesin hidrolis belum diberi pelumas, sehingga kering dan menyebabkan gesekan. Gesekan itu yang menimbulkan percikan api dan mengakibatkan kebakaran,” ungkap AKBP Maulana.

Karena itu, polisi menyimpulkan kebakaran gudang akibat kurangnya perawatan alat mesin pengodol kapuk atau laker hidrolik, sehingga menyebabkan kebakaran.

Adapun kerugian material akibat kebakaran tersebut ditaksir mencapai Rp 700 juta. “Semua korban luka bakar dilarikan dan dirawat di Rumah Sakit Keluarga Sehat Hospital (KSH),” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

KEREN! Pasar Tayu Masuk Kategori Pasar Rakyat Terbaik se-Indonesia

Pasar Tayu yang baru saja dibangun mendapatkan anugerah Pancawara dari Kemendag. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pasar Tayu yang baru saja dibangun Pemkab Pati mendapatkan penghargaan Anugerah Pancawara dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI. Anugerah tersebut diberikan kepada pasar yang memiliki inovasi untuk kesejahteraan bersama.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Pati Riyoso mengatakan, Pasar Tayu masuk dalam kategori Pasar Rakyat Pemda Tipe 1 dan 2 terbaik se-Indonesia bersama Kudus, Magelang, Surakarta, Denpasar, Pontianak, Jakarta Utara, Banda Aceh, Sukoharjo, Kuningan, dan Bogor.

“Kita masuk lima besar untuk kategori inovasi pasar rakyat terbaik. Kita patut bersyukur, karena Pati menjadi salah satu yang terbaik,” ujar Riyoso, Selasa (7/11/2017).

Ada sejumlah poin penting yang membuat Pasar Tayu masuk dalam lima besar pasar rakyat terbaik di Indonesia. Salah satunya, adanya sistem informasi pasar daerah (SIMPADA).

Selain itu, Pasar Tayu memiliki zona pedagang yang memenuhi kebutuhan, kebersihan, ruang terbuka hijau (RTH) berupa taman, ruang kesehatan dan menyusui, serta penataan pedagang kaki lima (PKL) yang baik.

“Fasilitas di Pasar Tayu tidak kalah dengan toko swalayan. Hanya saja, budaya pasar rakyat memang harus dilestarikan. Seperti tradisi tawar-menawar dan tidak mengambil sendiri sebagaimana di toko swalayan,” jelas Riyoso.

Sementara itu, Bupati Pati Haryanto mengaku bangga karena Pati memiliki pasar rakyat yang dianggap memiliki inovasi terbaik di Indonesia. Pasalnya, tidak semua pasar rakyat mendapatkan anugerah Pancawara dari Kemendag.

Terlebih, hasil survei yang dilakukan Kemendag menunjukkan, tingkat kepuasan pedagang dan konsumen di Pasar Tayu cukup bagus. Karena itu, pihaknya akan mengupayakan penataan yang lebih mantap untuk Pasar Tayu.

Editor : Ali Muntoha

Megapro Tabrak Pengayuh Sepeda Ontel di Jalan Pati-Kudus, 2 Orang Luka-luka

Pengayuh sepeda ontel dirawat di rumah sakit, setelah tertabrak pengendara Megapro di Jalan Pati-Tayu Km 7, Selasa (7/11/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kecelakaan yang melibatkan sepeda motor Megapro bernopol AD 2736 MY dan sepeda ontel terjadi di Jalan Pati-Kudus Km 7, Desa Bumirejo, Margorejo, Selasa (7/11/2017) pagi.

Pengendara Megapro merupakan Joko Ari Wibowo (21), warga Kembang, Todanan, Blora. Dia mengalami luka pada bagian kepala dan kaki.

Sementara pengayuh sepeda, Senin (53) adalah warga Dukuh Lumpur, Bumirejo, Margorejo, Pati mengalami luka pada kepala, robek tangan kanan, dan nyeri dada. Keduanya dilarikan ke rumah sakit.

Sukamto, salah satu saksi mengatakan, pengendara Megapro saat itu melaju dari arah Pati-Kudus. Pada saat yang sama, pengayuh sepeda ontel berjalan searah di depannya.

Diduga melaju terlalu kencang, pengendara Megapro tidak menguasai kendaraannya. Akibatnya, pengendara Megapro menabrak pengayuh sepeda ontel dari belakang.

Polisi yang mendapatkan informasi lantas mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Kondisi kendaraan Megapro mengalami ringsek pada bagian kepala motor.

Sementara kondisi sepeda ontel ringsek cukup parah bagian belakang. Beruntung, arus lalu lintas saat itu masih minim sehingga tidak terjadi kecelakaan beruntun.

Editor : Ali Muntoha

Mayat Pria Tinggal Tulang Ditemukan di Hutan Larangan Pati dan Dikubur di Lokasi

Warga memakamkan mayat yang tinggal tulang belulang di Hutan Larangan, Tambakromo, Pati, Senin (6/11/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sesosok mayat yang tinggal tulang-belulang ditemukan di kawasan hutan Desa Larangan, Tambakromo, Pati, Senin (6/11/2017).

Mayat tanpa identitas tersebut ditemukan Seno, warga Beketel, Kayen, Pati, yang sedang berburu hewan. Lantaran kaget melihat mayat yang tinggal tengkorak, Seno lantas menghubungi perangkat desa setempat.

Polisi yang mendapatkan laporan langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dari hasil olah TKP, mayat diperkirakan sudah meninggal dunia sejak seminggu yang lalu.

“Mayat sudah tidak bisa dikenali, karena membusuk, dikerubuti belatung dan tinggal tulang-belulang. Korban juga tidak mengenakan pakaian dalam posisi telentang di parit hutan,” ujar Kapolsek Tambakromo AKP Warsito.

Adapun ciri-ciri mayat, antara lain panjang sekitar 175 cm dan laki-laki. Dari informasi yang dihimpun, mayat tersebut diidentifikasi sebagai mayat orang gila yang selama ini berkeliaran di wilayah hutan Larangan.

Pasalnya, orang gila tersebut lama tidak terlihat sejak sepekan yang lalu. “Sumber yang kami terima menyebut, orang gila itu berusia 50 tahun, tidak pernah pakai baju dan dalam kondisi sakit-sakitan,” tambah Warsito.

Polisi sempat mengumumkan kepada masyarakat sekitar. Namun, warga tidak ada yang mengenalnya. Polisi juga tidak menerima laporan adanya orang hilang dari masyarakat Larangan.

Lantaran kondisi mayat sudah tidak bisa dikenali dan membusuk hingga terlihat kerangka tulang, polisi bersama pemerintah desa setempat memutuskan untuk memakamkan mayat di lokasi. Prosesi pemakaman di hutan tersebut sempat mengundang perhatian warga.

Editor : Akrom Hazami

Perusakan Pohon di Kawasan Hutan di Prawoto Pati, Ini Kata Perhutani Purwodadi

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Grobogan – Administratur Perhutani KPH Purwodadi Dewanto menegaskan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait adanya aksi perusakan pohon di kawasan hutan. Antara lain, dengan pihak desa, LMDH dan kepolisian.

“Kita sudah koordinasikan soal perusakan tanaman itu. Nanti akan kita selesaikan bersama dan dicari apa duduk permasalahannya. Soal pelaku perusakan masih dalam penyelidikan,” katanya.

Ia menjelaskan, lokasi terjadinya perusakan tanaman berada di Desa Klumpit, RPH Prawoto. Tempat kejadian berada di kawasan hutan KPH Purwodadi meski wilayah itu masuk Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Kejadian perusakan tanaman diperkirakan sekitar pukul 04.00 WIB.

Jumlah tanaman yang rusak ada di tiga titik. Yakni, di petak 12e2 sebanyak 57 pohon jati tanaman tahun 2011. Kemudian, pada petak 11D dan 12A ada 50 pohon kayu putih yang ditanam tahun 2015.

Kepala Desa Prawoto Hyro Fachrus ketika dimintai komentarnya menyatakan, pihaknya sangat menyayangkan adanya aksi perusakan tanaman di kawasan hutan tersebut. Ia berharap agar persoalan itu segera diselesaikan.

“Sangat disayangkan adanya tindakan perusakan ini. Aksi ini cukup merugikan warga saya yang selama ini menjadi mitra perhutani,” katanya.

Menurut Hyro, selama ini, pihaknya bersama petani dan LMDH selalu berkoordinasi rutin dengan perhutani dan berupaya mematuhi peraturan yang ditentukan dalam pengelolaan lahan. 

Editor  : Akrom Hazami

Baca : Ribuan Pohon Milik Perhutani di Prawoto Pati Dirusak Orang, Negara Rugi Puluhan Juta

Petani Ditemukan Tewas di Sumur Sawah Desa Sukorukun Pati


Warga ikut mengevakuasi korban yang meninggal dunia di dalam sumur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang petani asal Desa Sriwedari RT 2 RW 2, Kecamatan Jaken, Bunarto (57) ditemukan tewas di sebuah sumur sawah di Desa Sukorukun, Jaken, Sabtu (28/10/2017).

Jamsi, salah satu saksi mengatakan, saat itu korban sedang memperbaiki peralon di dalam sumur sawahnya. Namun, tiba-tiba korban lemas dan tergeletak.

“Waktu itu saya menunggui di atas sumur. Dia jatuh beberapa saat setelah mencoba melakukan perbaikan peralon,” ujar Jamsi.

Kaget dengan kondisi korban, Jamsi berteriak meminta tolong kepada warga. Setelah itu, pemerintah desa melaporkan kejadian tersebut kepada polisi.

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Ari Sulistyawan menjelaskan, hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) menunjukkan korban meninggal dunia lantaran kehabisan oksigen.

“Sumurnya cukup dalam sehingga kehabisan oksigen, karena korban terlalu lama berada di dalam sumur,” jelasnya.

Atas kejadian tersebut, pihak keluarga korban sudah menerima kepergian Bunarto. Hal itu dibuktikan dengan surat pernyataan yang diketahui kepala desa.

Editor : Akrom Hazami

Bunga Bangkai yang Tumbuh di Hutan Durensawit Pati Hebohkan Warga

Warga berfoto di depan tanaman bunga langka Raflesia Ungu di Desa Durensawit, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bunga bangkai ditemukan tumbuh di kawasan hutan di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. Bunga itu tumbuh besar di dekat petilasan Empu Supo.

Krisno, warga setempat menuturkan, bunga itu pertama kali ditemukan warga dalam ukuran cukup kecil. Namun, tanaman tersebut ternyata semakin membesar setinggi lutut orang dewasa.

“Warnanya ungu, kecoklatan dengan diameter sekitar 70 cm. Kami lantas mencari informasi, bunga itu jenis Rafflesia yang sangat langka,” ujar Krisno, Kamis (26/10/2017).

Baca: Pasangan Sejoli di Jepara Ini Nekat Mesum di Masjid, Diguyur Air Langsung Diarak ke Balai Desa

Menurut dia, tanaman itu kerap muncul di kawasan hutan Desa Durensawit. Hanya saja, warga selama ini menjumpainya dalam ukuran kecil.

Karena itu, warga sempat heboh setelah melihat tanaman itu tumbuh besar dan ternyata tumbuhan langka. “Ini jenis Raflesia ungu yang langka,” kata Krisno.

Bahkan, bunga bangkai itu menarik perhatian wisatawan yang berkunjung di Bukit Pandang. Salah satunya, Nuratus Zuraida (21), pengunjung asal Semampir yang takjub dengan tanaman langka tersebut.

Dia mengaku belum pernah melihat bunga yang kerap muncul di buku pelajaran tersebut. Karenanya, dia sempat mengabadikan foto-foto tersebut untuk diunggah di situs jejaring sosial.

Editor: Supriyadi

Auditor Inspektorat Pati Dilaporkan ke Ombudsman, Ini Penyebabnya

Ngatono (kiri) menunjukkan bukti penerimaan Ombudsman terkait dengan dugaan maladministrasi yang dilakukan Inspektorat Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Auditor Inspektorat Pati dilaporkan Kaur Keuangan Desa Semampir, Ngatono ke Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah. Laporan tersebut terkait dengan dugaan adanya maladministrasi hasil audit penyelewengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Semampir.

Ngatono mengatakan, namanya dicatut dalam surat hasil audit Inspektorat yang menyebutkan uang sisa sewa kios milik Pemdes Semampir sebesar Rp 2 juta. Padahal, Ngatono mengaku tidak tahu-menahu soal uang sisa sewa kios.

“Meski jabatan bendahara desa, tapi uang itu langsung diberikan kepada mantan kades saat masih menjabat sebagai kades. Surat hasil audit dari Inspektorat itu diperbanyak mantan kades dan disebarkan kepada warga,” ungkap Ngatono, Selasa (24/10/2017).

Tidak terima dengan hasil audit yang dilakukan Inspektorat, Ngatono lantas melaporkannya ke Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah. Dia menilai, hasil audit Inspektorat telah mencemarkan nama baiknya.

Saat dikonfirmasi, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah Sabarudin Hulu membenarkan adanya laporan terkait dengan dugaan maladministrasi yang dilakukan Inspektorat Pati.

“Kami menerima laporan dari masyarakat Pati yang mana identitasnya perangkat desa. Laporan yang disampaikan kepada kami, dugaan maladministrasi yang dilakukan tim pemeriksa atau auditor Inspektorat Pati,” kata Sabarudin.

Ada beberapa poin yang dilaporkan ke Ombudsman. Pertama, adanya dugaan penyimpangan prosedur dalam pemeriksaan Ngatono.

Kedua, auditor Inspektorat Pati diduga tidak ada berita acara pemanggilan yang resmi. Ketiga, hasil pemeriksaan Inspektorat Pati diduga tidak sesuai dengan fakta dan kebenaran.

“Ketiga poin itu, kami sudah minta klarifikasi tertulis kepada Inspektur Kabupaten Pati. Jadi kami masih menunggu, karena masih dalam waktu yang patut, belum dua pekan,” jelas dia.

Pihak Ombudsman akan memeriksa dan menelaah lebih lanjut berkas pelapor, setelah mendapatkan dokumen yang berisi keterangan dan tanggapan dari Inspektorat Pati. Setelah itu, Ombudsman baru bisa memberikan rekomendasi terkait masalah tersebut.

Editor : Ali Muntoha

Bus Peziarah Asal Pati Kecelakaan di Boyolali

Penumpang tampak berada di lokasi bus rombongan peziarah asal Pati yang mengalami kecelakaan di Boyolali. (Facebook)

MuriaNewsCom, Boyolali – Bus Kawan Lama yang mengangkut 62 anggota rombongan peziarah asal Desa Sinoman, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, terguling di Desa Sembungan, Kecamatan Nogosari, Boyolali, Sabtu (21/10/2017). Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Dari solopos.com, rombongan berangkat dari desa mereka Sabtu dini hari sekitar pukul 02.00 WIB menumpang bus berpelat AA 1400 BD tersebut. Mereka akan menuju tempat ziarah di Bayat (Klaten) dan Yogyakarta.

Bus yang dikemudikan Markum (41), itu mengambil jalan alternatif melalui Nogosari, Boyolali. Sesampainya di lokasi kejadian sekitar pukul 07.00 WIB, di depan bus dari arah berlawanan ada anak-anak sekolah mengendarai sepeda sambil bercanda. Saat itu, salah satu anak tiba-tiba kehilangan kendali dan oleng ke kanan.

 

Penumpang tampak berada di lokasi bus rombongan peziarah asal Pati yang mengalami kecelakaan di Boyolali. (Facebook)

 

“Di depan bus ada anak-anak sepedaan sambil gojek-gojek. Salah satunya kok oleng ke kanan sehingga saya refleks menghindar agar tidak menabrak. Kalau tidak menghindar, mereka kena [tertabrak bus],” ujar Markum.

Saat menghindar itulah Markum refleks mengambil keputusan banting setir ke arah kiri sehingga bus masuk ke ladang warga. Namun nahas, ketinggian antara jalan dan ladang berbeda sehingga bus akhirnya terguling. “Kebetulan laju bus kami pelan, sekitar 40 km/jam. Tapi karena ada perbedaan ketinggian, ya akhirnya [bus] terguling,” imbuhnya.

Salah satu penumpang bus yang saat itu duduk di barisan bangku depan, Sarbini, mengatakan hal senada dengan sopir. “Tadi di depan [bus] ada anak-anak naik sepeda sambil gojek. Terus salah satunya oleng ke kanan sehingga bus menghindar ambil kiri dan akhirnya terguling,” ujarnya.

 

Penumpang tampak berada di lokasi bus rombongan peziarah asal Pati yang mengalami kecelakaan di Boyolali. (Facebook)

 

Rombongan peziarah itu pun memutuskan kembali ke kampung halaman, urung melanjutkan perjalanan ziarah mereka. Sementara itu, pengguna sepeda dikabarkan terjatuh dan dilarikan ke rumah sakit di Kartasura, Sukoharjo.

Kasat Lantas Boyolali AKP Marlin S Payu mewakili Kapolres AKBP Aries Andhi mengatatakan pengendara sepeda tidak mengalami luka. “Sudah saya cek langsung ke rumah sakit, anaknya tidak apa-apa. Lecat pun tidak,” kata Marlin.

Editor : Akrom Hazami

Refleksi Sumpah Pemuda, Karang Taruna Pati Dukung Program Nawa Cita Jokowi

Pengurus Karang Taruna Pati menyerukan dukungannya untuk program Nawa Cita Jokowi, usai mengikuti dialog Refleksi Sumpah Pemuda, Jumat (20/10/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Karang Taruna Kabupaten Pati menggelar dialog refleksi sumpah pemuda bertajuk “Mewarisi Api Perjuangan Santri dalam Gelora Nawa Cita” di Ruang Adipati The Safin Hotel, Jumat (20/10/2017) malam.

Kegiatan tersebut untuk menyambut Hari Santri pada 22 Oktober, sekaligus memperingati Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.

“Kami ingin meneladani semangat pemuda, termasuk santri yang dulu selalu jadi pembela negara,” ujar Ketua Karang Taruna Pati Saiful Arifin.

Dalam kegiatan tersebut, pemuda Karang Taruna diajak untuk ikut menyukseskan agenda revolusi mental yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. Pasalnya, revolusi mental dinilai menjadi pintu awal Indonesia menuju bangsa dan negara yang besar.

Karang Taruna Pati juga menyatakan dukungannya untuk program Nawa Cita yang digelorakan Jokowi. Dukungan itu akan direalisasikan dalam bentuk ragam kegiatan Karang Taruna yang bertumpu pada Nawa Cita.

“Kita harus bisa mewarisi semangat pejuang untuk mengabdikan hidup pada negeri. Kita akan mulai dari Pati. Kita harus selalu berpikir positif dan mengagendakan hal-hal yang positif pula,” ucap Arifin.

Sementara itu, salah satu narasumber, KH Abdullah Umar Fayumi mengatakan, Nawa Cita menjadi rintisan untuk Indonesia mengukir peradaban baru sebagai pemimpin peradaban dunia.

Menurutnya, Nawa Cita bukan sebagai cita-cita paling akhir, tetapi pilihan langkah strategis untuk kondisi Indonesia saat ini. Karena itu, Nawa Cita perlu mendapatkan dukungan dari berbagai elemen seperti yang dilakukan Karang Taruna Pati.

“Indonesia punya penduduk besar dan sumber daya alam yang menjadi tumpuan bagi dunia global. Kehadiran Nawa Cita dan semangat trisaksi yang dihidupkan kembali semestinya bukan hanya dilakukan pemerintahan Jokowi, tetapi juga rakyat dan bangsa Indonesia,” jelas Pengasuh Ponpes Raudlatul Ulum yang akrab disapa Gus Umar ini.

Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma menambahkan, dukungan Karang Taruna Pati untuk program Nawa Cita merupakan terobosan revolusioner di tengah kondisi Karang Taruna yang selama ini kurang begitu bergelora.

Karena itu, dia mengapresiasi langkah Karang Taruna Pati yang bergerak sesuai dengan visi dan semangat pemerintah. Langkah tersebut juga dinilai sebagai pemupuk semangat pemersatu bangsa dalam bingkai kebhinnekaan.

Editor : Ali Muntoha

Disporapar Pati Bidik Potensi Wisata untuk Tingkatkan Pendapatan Daerah

Air Terjun Grenjengan Sewu di Desa Jrahi, Gunungwungkal yang jadi bidikan Disporapar Pati untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Pati membidik potensi wisata untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Upaya itu dilakukan bertepatan dengan momen melejitkan dunia pariwisata di Kabupaten Pati.

Kepala Disporapar Pati Sigit Hartoko mengatakan, ada empat destinasi wisata di Pati yang akan dikembangkan secara total tahun depan. Keempatnya adalah Gua Wareh di Sukolilo, Waduk Gunungrowo dan Agrowisata Jolong di Gembong, serta Desa Wisata Jrahi di Gunungwungkal.

“Kalkulasi yang kami lakukan, kalau empat destinasi wisata itu ditata dan kelola dengan baik akan menjadi daya tarik pengunjung. Imbasnya, perekonomian masyarakat dan PAD ikut meningkat,” ujar Sigit, Selasa (17/10/2017).

Dia menyebut, kunjungan wisatawan yang meningkat berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi bagi penduduk sekitar dan pemerintah daerah. Potensi itu yang akan dibidik Disporapar untuk meningkatkan perekonomian di Pati.

Dari empat destinasi wisata yang akan dikembangkan, Gua Wareh menjadi satu-satunya destinasi milik Pemkab Pati. Sementara Waduk Gunung Rowo milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Wilayah Pemali Juwana, Agrowisata Jolong milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, serta Jrahi milik pemdes dan penduduk setempat.

“Kami akan siapkan MoU (kerja sama) untuk pengembangan empat destinasi wisata di Pati. Sebetulnya potensi wisata di Pati sangat banyak, tapi kami akan fokus dengan empat target itu dulu,” tambah Sigit.

Khusus di Jrahi, Sigit menilai memiliki potensi alam yang luar biasa. Selain ada air terjun dan embung mini, Jrahi juga punya vihara besar dengan keindahan bangunan yang indah.

Selain itu, Jrahi punya potensi perkebunan, tradisi dan budaya kebhinnekaan yang menarik sebagai miniatur keberagaman Indonesia. Karena itu, dia berharap partisipasi semua pihak untuk meningkatkan potensi pariwisata di Pati.

Editor: Supriyadi

Sekretaris Anggota Wantimpres Ketagihan Petis Runting Khas Pati

Ketua Tim Kajian Wantimpres Julie Trisnadewani (kiri) saat mencoba petis runting untuk kedua kalinya, Jumat (13/10/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ketua Tim Kajian Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI Julie Trisnadewani ternyata ketagihan dengan salah satu kuliner khas Pati, Petis Runting. Dia lantas kembali menikmati Petis Runting bersama Wakil Bupati Pati Saiful Arifin, Jumat (13/10/2017).

Kedatangan Julie sebetulnya untuk meninjau hasil sosialisasi penerapan nilai-nilai Pancasila di Pati selama beberapa hari. Dia mengaku terkesan dengan potensi yang ada di Pati, mulai dari kebhinnekaannya, kultur dan tradisi, serta kuliner.

“Ini pertama kali saya makan petis runting. Rasanya enak banget, unik dan menarik. Sempat ketagihan, jadi makan lagi ini,” ujar Julie.

Awalnya ia mengira, petis runting merupakan makanan berupa tahu goreng yang di dalamnya terdapat saus hitam. Karena itu, ia cukup terkejut ternyata petis khas Pati jauh berbeda dengan tahu petis.

Petis runting mirip bubur dengan bahan utama balungan kambing dan tepung beras kasar yang telah disangrai. Kuliner asli Pati ini juga kaya akan rempah-rempah sehingga punya cita rasa khas Nusantara.

“Ibu saya orang Pati. Waktu kecil juga sering main ke Pati, tapi belum tahu kalau ada petis runting. Setahu saya, Pati itu khasnya Nasi Gandul dan Soto Kemiri,” imbuh Juli.

Karena itu, kunjungannya ke Pati sekaligus bernostalgia di kampung halaman ibunya. Menurut dia, Pati saat ini menjadi daerah yang cukup berkembang pesat karena kekayaan dan potensinya mulai terlihat.

Menanggapi pernyataan itu, Saiful Arifin mewakili Bupati Pati Haryanto akan meminta kepada instansi terkait agar potensi yang ada di Pati terus dikembangkan. Dengan demikian, Pati akan menjadi daerah maju seperti Banyuwangi, Jogja, dan Bali.

Editor: Supriyadi