Sebulan Blanko SIM di Pati Kosong, Ribuan Pemohon Diberi Surat Jalan

Seorang pemohon tengah mengikuti ujian SIM di Satlantas Polres Pati, Kamis (10/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sudah sebulan ini blanko surat izin mengemudi (SIM) di Satlantas Polres Pati kosong. Hal itu disebabkan belum adanya distribusi material SIM dari Korlantas Polri. 

Sejak mengalami kekosongan blanko pada 13 Juli 2017, jumlah pemohon SIM di Pati sudah mencapai 5.751 orang. Pemohon sebagian besar membuat SIM baru maupun perpanjangan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pihak Satlantas memberikan surat jalan kepada ribuan pemohon. Surat itu bisa ditunjukkan kepada petugas saat ada pemeriksaan dalam operasi lalu lintas.

“Surat itu bersifat sementara. Nanti kalau ketersediaan blanko dari Korlantas Polri sudah turun, pemohon bisa mengambil SIM di Satlantas dengan menunjukkan surat tanda bukti SIM sementara,” ujar Kasatlantas Polres Pati AKP Ikrar Potawari, Kamis (10/8/2017).

Dalam sehari, Satlantas menerima sekitar 300 permohonan pembuatan SIM baru maupun perpanjangan SIM. Mereka tetap dilayani seperti biasanya, dari jam 08.00 WIB sampai 15.00 WIB.

Dari pantauan MuriaNewsCom di lokasi ujian SIM, sejumlah pemohon terlihat sedang berkendara di lintasan uji SIM yang disediakan. Mereka yang lolos ujian mendapatkan tanda bukti SIM sementara hingga ketersedian material SIM dari Korlantas Polri turun.

Kanit Regident Satlantas Polres Pati Iptu Komang Kharisma menambahkan, format tanda bukti SIM sementara sudah ditentukan Korlantas. Ada beberapa kode yang disematkan dalam surat tersebut, sehingga tidak bisa dipalsukan.

“Kami sudah melakukan pendataan kepada ribuan pemohon yang saat ini memegang tanda bukti SIM sementara. Kalau SIM sudah jadi, kami akan memberikan pemberitahuan via telepon atau SMS,” tutur Iptu Komang.

Adapun prosedur untuk mengambil SIM, cukup menunjukkan tanda bukti SIM sementara setelah ada pemberitahuan dari pihak Satlantas. Dia berharap, material SIM dari Korlantas segera turun agar ribuan pemohon di Pati bisa segera memiliki SIM.

Editor : Ali Muntoha

Salam Perpisahan dari Budiyono Jelang Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Pati 2017-2022

Wabup Pati 2012-2017 Budiyono saat memberikan sambutan dalam agenda pelepasan di kediamannya, Desa Pasucen, Trangkil, Rabu (9/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Pati terpilih Haryanto dan Saiful Arifin dijadwalkan akan berlangsung di Kota Semarang, Senin (22/8/2017) mendatang.

Wakil Bupati Pati periode sebelumnya, Budiyono mengucapkan salam perpisahan dari kediamannya di Desa Pasucen, Trangkil, Rabu (9/8/2017). Sejumlah pejabat hadir dalam agenda pelepasan tersebut.

Salah satunya, Bupati Pati Haryanto, Mantan Bupati Pati Tasiman, Mantan Sekda Pati Desmon Hastiono, pejabat Organisasi Pemerintah Daerah (OPD), dan tamu undangan lainnya.

“Apabila kami sekeluarga selama berkumpul mengabdikan diri, ada hal yang mungkin kurang berkenan, sungguh pada kesempatan yang baik ini, kami mohon maaf,” ucap Budiyono.

Dia berharap, agenda pelepasan tersebut membawa berkah dan kebahagiaan keluarga besar Budiyono. Ucapan terima kasih dan permohonan maaf juga kerap dilontarkan Wabup Pati 2012-2017 itu.

Pesan dia kepada para tamu untuk selalu menjaga persaudaraan dan tali silaturahmi. Kendati ia sudah tidak bertugas di pemerintahan, silaturahmi diharapkan tetap terjalin dengan baik.

“Kami sungguh berharap, persaudaraan dan silaturahmi tetap kita jaga dan terbangun dengan baik, meski sudah berpisah dalam agenda tugas masing-masing, karena tanggung jawab masing-masing. Namun, dalam hati kita tetap tertaut ikatan kekeluargaan,” pungkasnya yang diakhiri salam khas umat Nahdliyin.

Editor : Ali Muntoha

Bahan Baku Langka, Produsen Garam di Pati Terpaksa Impor

Seorang pekerja tengah mengemas produksi garam di kawasan Batangan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah produsen garam di Kabupaten Pati terpaksa memilih untuk impor bahan baku garam di tengah kondisi garam yang langka. Pasalnya, produsen butuh produksi garam konsumsi sebanyak 50 ton per bulan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sementara pasokan bahan baku garam dari petani lokal diakui sangat terbatas. Tak ada pilihan lain, beberapa produsen akhirnya memutuskan untuk mengimpor bahan baku garam.

Sri Lestari, salah satu produsen garam asal Batangan membenarkan kondisi tersebut. Cuaca yang kurang mendukung disebut-sebut menjadi penyebab kelangkaan garam lokal.

“Cuaca kurang mendukung, akhirnya para petani belum bisa menghasilkan garam secara maksimal. Stok garam yang langka berpengaruh pada harga garam di pasaran yang melonjak tinggi,” tuturnya, Rabu (9/8/2017).

Kendati demikian, Sri tetap memprioritaskan penggunaan bahan baku garam yang dipasok dari petani. Berhubung jumlahnya tidak memenuhi jumlah permintaan pasar, ia mencampurnya dengan garam impor.

Impor bahan baku garam akan dilakukan selama pasokan dari petani lokal belum mencukupi untuk kebutuhan pasar. Bila kondisinya sudah normal, dia akan menghentikan impor.

“Bahan baku garam dari petani lokal berkisar Rp 3 ribu sampai Rp 4 ribu per kilogram, sedangkan impor cuma Rp 2.250. Meski begitu, kami tetap memprioritaskan pasokan dari petani lokal,” ucap Sri.

Dari pantauan di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Pati, garam beryodium yang semula Rp 6 ribu menjadi Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu. Sementara pedagang kelontong menjualnya kepada warga sekitar Rp 11 ribu sampai Rp 12 ribu.

Kusni, salah satu pedagang kelontong mengaku tidak mau membeli garam, lantaran mahal. Sebab, pembeli dari masyarakat kecil sempat kaget dengan harga yang melambung tinggi.

“Saya belinya dari distributor Rp 10 ribu, tidak bisa ditawar lagi. Harga segitu, saya jual lagi ke masyarakat Rp 11 ribu. Tapi sebagian besar memilih kemasan garam ukuran kecil dengan harga Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Petani dari Berbagai Daerah Ikuti Pelatihan Koperasi Tani di Pati

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) memberikan pelatihan koperasi kepada para petani Indonesia di Gembong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan petani dari berbagai kota di Indonesia mengikuti pelatihan Koperasi Petani Indonesia di Sekretariat Serikat Petani (SPI) Jawa Tengah, Gembong, Pati.

Pelatihan tersebut untuk membekali para petani dalam membangun gerakan Koperasi Petani Indonesia (KPI). Pembentukan koperasi tani dianggap perlu untuk menyejahterakan para petani yang saat ini banyak dimanfaatkan korporasi.

“Upaya pembentukan koperasi petani menjadi bagian dari perjuangan untuk melaksanakan reforma agraria. Sebab, dunia pertanian saat ini dikuasai korporasi yang jauh dari nilai-nilai kesejahteraan petani,” ujar Ketua Umum SPI Henry Saragih, Selasa (8/8/2017).

Aktivis petani yang pernah menjadi koordinator petani dan buruh internasional, La Via Campesina ini menuturkan, petani butuh kelembagaan ekonomi yang bisa mengakomodasi kebutuhan dan kesejahteraan petani. Satu-satunya lembaga ekonomi yang memenuhi kebutuhan itu adalah koperasi.

Ada empat tahap yang harus ditempuh agar petani mampu sejahtera. Pertama, alat produksi harus dikelola petani, mulai dari benih, pupuk, obat-obatan, alat-alat pertanian, termasuk tenaga kerja dan modal.

Kedua, cara berproduksi petani harus melalui mekanisme agroekologi. Itu yang disebut dengan revolusi hijau. Ketiga, koperasi patani harus bisa melakukan pemasaran produk pertanian untuk kebutuhan diri sendiri dan masyarakat.

Keempat, koperasi mesti menguasai kapital. Jika keempat tahap itu berhasil dikuasai, koperasi menjadi lembaga yang dapat menyejahterakan para petani.

Namun, Henry mengaku bila melawan korporasi dalam dunia pertanian bukan hal yang mudah. Sebab, korporasi selama ini terlanjur mengakar kuat mengatur dunia pertanian dari alat produksi hingga distribusi produk.

Editor : Ali Muntoha

Pencuri Motor Mio di Indomaret Juwana Dibekuk Polisi

Polisi berhasil mengamankan sepeda motor Mio yang dicuri maling di kawasan Indomaret Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polres Pati berhasil membekuk pencuri sepeda motor Mio milik Rachmatun Nafiah, warga Bakaran Kulon, Juwana, yang hilang di kawasan Indomaret, Jalan Kemasan, Desa Kudukeras, Juwana, Selasa (20/10/2015) lalu.

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Galih Wisnu Pradipta mengatakan, pelaku berinisial SDC (27) alias Paemo, warga Tegalombo, Dukuhseti, Pati, tertangkap dalam Operasi Jaran Candi 2017. “Modus pencurian yang dilakukan menggunakan kunci T pada malam hari,” kata AKP Galih, Selasa (8/8/2017).

Selain menangkap pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti sepeda motor Mio yang berada di kawasan Donorejo, Jepara. Sementara pelaku saat ini ditahan di Mapolres Pati untuk penyidikan lebih lanjut.

Tersangka merupakan spesialis pencuri sepeda motor yang kerap beroperasi di sejumlah tempat. Dia menggunakan beberapa peralatan seperti kunci T yang digunakan untuk merusak kunci motor.

Hal itu yang membuat sepeda motor sasaran yang sudah dikunci ganda masih bisa dibobolnya. Dia memanfaatkan momentum pada malam hari dengan kondisi yang sepi.

“Kami sarankan kepada pemilik sepeda motor, meski sudah dikunci setang ganda, sebaiknya jangan lupa untuk selalu diawasi atau ditempatkan di lokasi yang cukup terjangkau oleh pengamatan orang,” pesan AKP Galih.

Editor : Ali Muntoha

Hari Jadi ke-694, Bupati Harapkan Pati Setara Kota Besar

Bupati Pati Haryanto dan Wakil Bupati terpilih Saiful Arifin saat mengikuti jalan sehat memperingati Hari Jadi Pati ke-694. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto memanfaatkan momentum Hari Jadi Kabupaten Pati ke-694 dengan beragam kegiatan yang terbilang cukup sederhana. Namun, dia mengajak kepada warga Pati untuk tidak sekadar memperingati, tetapi juga mengisi.

Artinya, Kabupaten Pati butuh peran dari semua elemen masyarakat agar menjadi daerah yang maju secara berkelanjutan. Kendati Pati saat ini diakui sudah berkembang cukup pesat, tetapi dia akan terus melakukan penyempurnaan.

“Tidak sekadar diperingati, tapi dimaknai dengan semangat untuk membangun Pati yang lebih baik di berbagai bidang, dari kebersihan, pembangunan hingga pemerintahan. Ini butuh partisipasi semua elemen masyarakat,” ujar Haryanto, Senin (7/8/2017).

Ia juga menginginkan Pati terus mengalami peningkatan di berbagai sektor agar setara dengan kota besar di Indonesia. Karena itu, penyempurnaan terhadap visi dan misi dilakukan sehingga pembangunan di Pati terus berkelanjutan.

“Siapa pun yang jadi kepala daerah nantinya biar tetap ada pembangunan yang tidak terputus. Dengan demikian, masyarakat bisa maju dan sejahtera bareng-bareng, melebihi daerah-daerah lain,” tuturnya.

Berbagai agenda hari jadi Pati yang dilakukan dengan sederhana, di antaranya jalan sehat, prosesi tasyakuran di Pendapa Genuk Kemiri dan pementasan seni budaya ketoprak. Bagi dia, ada yang lebih penting dari sekadar peringatan, yakni keseriusan langkah untuk maju bersama.
 

Editor : Akrom Hazami

 

Kayu Bralit, Bupati Pati Pertama yang Jarang Terungkap Sejarah

Patung Raden Tombronegoro yang berada di depan Pendapa Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejarah Kabupaten Pati selama ini menginduk pada Babad Pati dan Babad Tanah Jawi. Babad Pati ditulis oleh seorang pujangga pada abad ke-20.

Sementara Babad Tanah Jawi dibuat kalangan keraton yang disebut-sebut bernuansa “Mataram-sentris”. Artinya, sejarah dibuat untuk legitimasi kekuasaan Mataram yang saat ini bertransformasi menjadi Kesunanan Surakarta dan Yogyakarta.

Babad Pati menyebut, penguasa pertama adalah Raden Kembangjoyo, kemudian dilanjutkan Tondonegoro dan Tombronegoro. Selanjutnya, kekuasaan diserahkan kepada para pembesar seperti Ki Ageng Plangitan, Ki Ageng Rogowongso dan kawan-kawan, karena Tombronegoro tidak punya keturunan.

Namun, sejumlah pegiat sejarah di Pati meragukan kisah tersebut sebagai sebuah sejarah. Sebab, sejarawan Belanda yang kerap menulis sejarah Jawa, Johannes de Graaf mencatat, bupati Pati pertama adalah Kayu Bralit.

Kayu Bralit adalah nama lain dari Jati Kusumo yang disebut de Graaf menjadi penguasa pertama Pati pada 1518. Ia merupakan putra dari Puspo Kusumo yang sebetulnya lebih awal bergelar Kayu Bralit.

“Bupati Pati pertama sebetulnya Puspo Kusumo. Dia Kayu Bralit pertama yang gugur mendampingi Pati Unus melawan kedatangan Portugis. Namun, de Graaf mencatat Kayu Bralit adalah putranya, Jati Kusumo,” ujar pegiat sejarah Pati, Sugiono, Senin (7/8/2017).

Penguasa Pati pertama merupakan trah dari Majapahit yang kemudian bersilang trah “Ngerang”. Dari sana, lahir tokoh legendaris bernama Umar Nurul Yaqin yang kerap didengar masyarakat Pati sebagai sebutan Ki Ageng Penjawi.

Dia punya dua anak, yaitu Waskita Jawi dan Siddieq Nurul Yaqin yang akrab di telinga masyarakat dengan sebutan Raden Wasis Joyokusumo. Waskita Jawi diperistri Panembahan Senopati, pendiri Mataram yang kemudian melahirkan raja-raja di Jawa seperti Raden Mas Jolang dan Sultan Agung.

Sementara sejarah Wasis Joyokusumo seolah ditelan bumi dan penuh dengan misteri, pascakekalahannya dalam perang saudara melawan kakak iparnya sendiri, Panembahan Senopati.  Karena itu, beberapa sejarawan mempertanyakan siapa sosok Tondonegoro dan Tombronegoro yang tak pernah tercatat dalam sejarah.

Editor : Ali Muntoha

Safin Hotel Pati Raih Penghargaan Traveloka Awards 2017


Director of Sales and Marketing Safin Hotel David L Sanur menunjukkan penghargaan dari Traveloka Awards 2017. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Safin Hotel Pati berhasil meraih penghargaan Traveloka Awards 2017 kategori Premium di bidang cleanliness. Penghargaan itu diberikan di Hotel Alila Solo, Kamis (3/8/2017).

Director of Sales and Marketing Safin Hotel David L Sanur mengatakan, Safin Hotel merupakan satu-satunya hotel di kawasan pantai utara Jawa (pantura) yang mendapatkan penghargaan bergengsi tersebut. Sementara 18 hotel lainnya merupakan hotel yang terletak di kota-kota besar di Jawa Tengah.

“Ada 19 hotel di Jawa Tengah yang mendapatkan penghargaan dalam ajang Traveloka Awards 2017. Kami bangga karena Safin Hotel menjadi satu-satunya representasi hotel di wilayah pantura yang mendapatkan penghargaan,” ujar David, Sabtu (5/8/2017).

Penghargaan sendiri diberikan berdasarkan ulasan dari pengguna aplikasi Traveloka selama periode Januari hingga Desember 2016. Pengguna aplikasi yang memberikan predikat terbaik itu yang menjadi parameter bagi manajemen Traveloka untuk memberikan penghargaan.

Dalam ajang tersebut, Traveloka memberikan penghargaan dalam tiga kategori, yaitu Prestige, Premium, dan Value. Prestige didedikasikan untuk hotel yang sudah memberikan pengalaman menginap eksklusif.

Premium untuk hotel yang dianggap memberi pengalaman menginap terbaik dengan kenyamanan maksimal. Sementara value didasarkan pada pengalaman menginap berkualitas dengan harga terbaik.

“Kami senang bisa ikut membawa nama baik Kabupaten Pati. Selama ini, hotel di kawasan pantura masih dianggap sebelah mata. Ini kami bisa membuktikan untuk memberikan yang terbaik di dunia perhotelan,” pungkas David.

Editor : Akrom Hazami

Kandang di Panggungroyom Pati Terbakar, 25 Ribu Ekor Ayam Hangus Terpanggang

Petugas kepolisian melakukan pendataan di kawasan kandang ayam yang terbakar di Desa Panggungroyom, Wedarijaksa, Jumat (4/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kandang ayam milik Suyono (58) dan Wasito (56), warga Desa Panggungroyom RT 5 RW 1, Desa Wedarijaksa, Pati dilalap si jago merah, Jumat (4/8/2017) subuh.

Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun, kerugian material akibat kebakaran diperkirakan mencapai Rp 300 juta.

Sujono, salah satu saksi mengungkapkan, pada pukul 04.00 WIB, dia terbangun karena mendengar suara letupan yang berasal dari kandang ayam. Dia kemudian memeriksa sumber suara letupan tersebut.

“Waktu saya cek, kandangnya sudah terbakar. Hanya dalam waktu sebentar, api semakin membesar dan menjalar dengan cepat. Dua kandang lainnya ikut terbakar,” ucap Sujono.

Pemadam kebakaran dari PG Trangkil diterjunkan untuk memadamkan api. Tapi, tiga kandang berukuran 40×30 meter yang terdapat 25 ribu ekor bibit ayam pedaging tidak berhasil diselamatkan.

Kapolsek Wedarijaksa AKP Sulistyaningrum mengatakan, sumber api diduga berasal dari tungku penghangat ayam yang tertiup angin. Percikan api yang terbawa angin mengenai plastik kandang bambu.

Pakan ternak ayam dalam jumlah yang tidak sedikit juga ikut terbakar. Satu unit genset dan kompor minyak ikut ludes dilalap api.

Editor : Ali Muntoha

Program TMMD Sengkuyung Tahap II Ditutup di Tanjungrejo Pati

Penutupan TMMD Sengkuyung Tahap II di Desa Tanjungrejo, Margorejo, Pati, Rabu (2/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) Sengkuyung II ditutup di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Pati, Rabu (2/7/2017).

Program tersebut terdiri dari pembangunan fisik dan nonfisik. Pembangunan fisik dilakukan dengan pengaspalan jalan sepanjang 2 kilometer dengan lebar tiga meter, betonisasi jalan, pembuatan pos kamling dan tugu prasasti TMMD.

Sementara pembangunan nonfisik dilakukan dengan pelayanan keluarga berencana (KB), penyuluhan pertanian, workshop teknologi tepat guna, pelatihan kepada ibu-ibu PKK, dan olahraga bersama masyarakat.

Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma mengatakan, TMMD merupakan program dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas masyarakat desa. Selain itu, TMMD mengajarkan masyarakat untuk membangun kebersamaan dan kemanunggalan rakyat dengan TNI AD.

“Ada banyak manfaat dari program TMMD. Masyarakat bisa merasakan langsung pembangunan fisik berupa jalan yang baik dan berbagai sarana lainnya. Mereka juga dibekali dengan keterampilan pada pembangunan nonfisik,” kata Andri.

Pembangunan fisik diharapkan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat, karena akses jalan yang baik. Adapun pembangunan nonfisik bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang lebih baik.

“TMMD mengajarkan kepada kita untuk terus menjaga semangat gotong-royong sebagai warisan budaya bangsa. Jangan tinggalkan budaya gotong-royong yang menjadi ajaran leluhur masyarakat Nusantara dari generasi ke generasi,” pesannya.

Editor : Akrom Hazami

KMPP Semarang Gencarkan Bakti Sosial di Kabupaten Pati

Mahasiswa KMPP Semarang berfoto bersama seusai kegiatan bakti sosial di Desa Klecoregonang, Winong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Keluarga Mahasiswa dan Pelajar Pati (KMPP) Semarang menggencarkan bakti sosial di sejumlah daerah di Kabupaten Pati. Salah satunya di Desa Klecoregonang, Kecamatan Winong.

Di sana, mereka berbaur dengan penduduk setempat dengan menggelar sarasehan, memberikan pelatihan budi daya jamur tiram, lomba anak-anak, pengajian umum, hingga membuat pasar murah dadakan.

Untuk membekali para pemuda setempat, KMPP juga mengadakan seminar kepemudaan yang menghadirkan alumni UIN Walisongo Semarang sebagai pemateri. Para pemuda diajak untuk mengeksplorasi apa yang dimiliki, baik sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) di sekitarnya.

Ketua KMPP Semarang Zainul Muttaqin mengatakan, bakti sosial menjadi wujud kepedulian mahasiswa asal Pati yang kuliah di Semarang untuk kampung halamannya sendiri. Bakti sosial biasa digelar setiap tahun dengan lokasi yang berbeda.

“Bakti sosial sudah menjadi agenda rutin KMPP setiap tahun. Bentuknya beragam, bisa bagi-bagi sembako, pelatihan, pemberdayaan, keterampilan, dan tanam pohon. Semuanya didedikasikan untuk Kabupaten Pati,” ucap Zain, Selasa (1/8/2017).

Di Desa Klecoregonang, masyarakat menyambut antusias kegiatan bakti sosial. Kegiatan yang melibatkan karangtaruna setempat diharapkan bisa memberikan semangat bagi pemuda untuk aktif “membangun” desa.

Sementara itu, KH Mas’ud Alwi yang sempat mengisi acara pengajian memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang peduli kepada kampung halamannya. Menurutnya, mahasiswa yang peduli masyarakat masih jarang.

Karena itu, dia berharap agar KMPP bisa menjadi organisasi daerah (orda) berbasis mahasiswa yang terus menggelorakan semangat untuk kemajuan daerahnya. Dengan demikian, ilmu dan pengalaman yang dimiliki bisa ditularkan kepada pemuda yang belum berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi.

Editor : Akrom Hazami

Ini Daftar Korban Kecelakaan di Pati-Kudus, 1 Tewas dan 2 Luka

Petugas tengah melakukan proses evakuasi pada korban kecelakaan di Jalan Pati-Kudus, Wangunrejo, Margorejo, Pati, Selasa (1/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kecelakaan beruntun yang melibatkan kendaraan colt diesel H 1385 VE, truk gandeng P 9001 UL dan trailer peti kemas L 9702 UQ terjadi di Jalan Pati-Kudus, Desa Wangunrejo, Margorejo, Pati, Selasa (1/8/2017) dini hari.

Kecelakaan tersebut mengakibatkan pengemudi colt diesel, Aris Munandar (34), warga Desa Kucir RT 5 RW 2, Kecamatan Wonosalam, Demak, meninggal dunia dalam keadaan mengenaskan.

Sementara dua orang mengalami luka ringan. Keduanya adalah penumpang colt, Ali Mas’ud (31), tetangga korban yang mengalami patah kaki dan Abdul Wahid Joyo (19), pengemudi truk gandeng asal Jember, Jawa Timur yang mengalami robek dan lecet.

“Korban meninggal dibawa ke RSUD Soewondo, sedangkan dua korban yang mengalami luka-luka menjalani perawatan intensif di RS Keluarga Sehat Pati. Penumpang colt bernama Aris tidak sadarkan diri dan pengemudi truk gandeng bernama Abdul Wahid masih sadar,” ujar Kasat Lantas Polres Pati AKP Ikrar Potawari.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), kecelakaan terjadi akibat kendaraan colt yang melaju dari barat ke timur mengambil jalan terlalu kanan, sehingga menabrak truk gandeng yang melaju dari arah berlawanan.

Trailer yang berjalan di belakang colt tidak bisa mengendalikan kendaaraan akibat kecelakaan di depannya dan menghantam colt pada bagian samping kanan. Kondisi sopir colt yang terjepit membuat proses evakuasi memakan waktu yang cukup lama.

Akibatnya, jalan pantura Pati-Kudus mengalami kemacetan total sepanjang belasan kilometer. Kemacetan mengular juga sempat terjadi di kawasan Jalur Lingkar Selatan (JLS) yang menghubungkan Margorejo dan Juwana.

Editor : Akrom Hazami

Kecelakaan di Jalan Pati-Kudus, Sopir Truk Tewas Mengenaskan

Kondisi truk diesel yang mengalami kerusakan parah setelah bertabrakan dengan truk gandeng di Jalan Pati-Kudus, Selasa (1/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kecelakaan antara kendaraan truk diesel dan truk gandeng terjadi di Jalan Pati-Kudus, Desa Wangunrejo, Margorejo, Pati, Selasa (1/8/2017) pagi.

Akibat kecelakaan tersebut, sopir truk diesel tewas di tempat dalam keadaan mengenaskan. 

Dari informasi yang dihimpun, truk diesel melaju dari arah barat ke timur (Kudus-Pati) beriringan dengan kendaraan boks tronton. Sampai di tempat kejadian perkara (TKP), truk diesel oleng ke kanan dan menabrak truk gandeng yang melaju dari timur ke barat (Pati-Kudus).

“Kejadian yang berlangsung cepat membuat para sopir tidak bisa mengendalikan kendaraannya. Truk diesel terdorong sampai muter balik menghadap barat. Kondisi sopir truk diesel terjepit dan meninggal dunia,” kata Kapolsek Margorejo AKP Eko Pujiyono.

Saat ini, petugas masih melakukan proses identifikasi lebih lanjut untuk menangani kecelakaan tersebut. Sementara proses evakuasi cukup sulit, karena korban meninggal dunia terjepit dalam keadaan mengenaskan.

Akibat kecelakaan tersebut, jalan pantura sempat mengalami macet total hingga belasan kilometer. Jalur Lingkar Selatan (JLS) juga mengalami macet yang cukup parah.

Editor : Akrom Hazami 

 

HAMI Ingatkan Kades di Pati untuk Hati-hati Gunakan Dana Desa


Pengurus HAMI Pati berfoto bersama seusai mengikuti pelantikan di Hotel 21 Pati, Minggu (30/7/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Himpunan Advokat Muda Indonesia (HAMI) Kabupaten Pati mengingatkan kepada kepala desa dan pemerintah desa untuk berhati-hati menggunakan dana desa. Sebab, dana desa yang jumlahnya besar dinilai rawan menjadi masalah.

Terutama, bila penggunaan anggaran dana desa tidak sesuai aturan. Karena itu, pemdes disarankan untuk cermat menggunakan dana desa sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan teknis, serta memiliki kemanfaatan pada masyarakat.

“Pemdes sudah semestinya menggunakan anggaran desa sesuai juklak dan juknis. Jangan sampai ada niat buruk seperti korupsi atau mengambil keuntungan pribadi dari dana desa. Pengawasannya saat ini melibatkan semua unsur,” kata Ketua DPC HAMI Pati Bowo Setiadi, usai pelantikan pengurus HAMI di Hotel 21 Pati, Minggu (30/7/2017).

Menurutnya, kehati-hatian pemdes dalam menggunakan dana desa harus dilakukan dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai pembuatan. Pasalnya, kesalahan fatal dalam pelaporan, apalagi ada indikasi korupsi, bisa membawa oknum pemdes ke penjara.

Tidak bermaksud menakut-nakuti, tapi Bowo ingin mengingatkan agar pemdes bisa menghindari pelanggaran hukum akibat ketidaktahuan atau unsur ketidaksengajaan. “Jangan sampai niatnya baik, tidak korupsi, tapi malah berurusan dengan hukum karena ketidaktahuan,” imbuhnya.

Pihaknya juga siap memberikan advokasi kepada pemdes bila diperlukan. Bahkan, advokasi yang diberikan HAMI rencananya dilakukan secara gratis, termasuk konsultasi hukum.

Pengurus HAMI sendiri dibentuk untuk menyatukan pada advokat yang ada di Pati. Mereka berharap, HAMI bisa menjadi wadah bagi advokat muda di Pati yang juga konsen pada agenda advokasi dan konsultasi hukum gratis.Editor : Akrom Hazami

Paguyuban Nelayan Rembang Pastikan Tak Ada Kapal Warga Rembang yang Terbakar di Juwana

Kapal yang ditambat di kawasan Pulau Seprapat, Juwana dilalap si jago merah, Sabtu (15/7/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Rembang – Kebakaran kapal yang terjadi di tambat kawasan Pulau Seprapat, Juwana, Sabtu (15/7/2017), dipastikan tidak ada kapal milik warga Rembang.

Ketua Paguyuban Nelayan Rembang Temo Supriyanto kepada MuriaNewsCom memastikan tidak ada kapal milik warga Rembang yang ikut terbakar. “Tadi saya sudah tanya kesana kemari dan hasilnya tidak ada kapalnya warga Rembang. Insya Allah tidak ada kapalnya orang Rembang,” kata Temo.

Ia mengatakan bahwa saat ini memang ada puluhan kapal yang bersandar di wilayah Seprapat. “Setelah Lebaran, Menteri Susi melarang cantrang melaut. Jadi ya banyak kapal yang di situ. Sehingga saat ada insiden itu, secara otomatis merambat ke kapal lain,” tambahnya.

Informasi yang dihimpun di lapangan, belasan kapal yang terbakar merupakan jenis cantrang dan freezer. Hingga berita ini turun, sudah ada 14 kapal yang terbakar.

Editor : Akrom Hazami

Ini Daftar 14 Kapal yang Mengalami Kebakaran di Juwana

Polisi tengah melakukan upaya evakuasi di sekitar kebakaran kapal di Juwana, Sabtu (15/7/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jumlah kapal yang mengalami kebakaran di kawasan tambat, Pulau Seprapat, Juwana, Sabtu (15/7/2017), bertambah menjadi 14 kapal.

Semula, satu kapal yang terbakar hanya menjalar di sekitarnya. Namun, api cepat menyambar kapal-kapal lain yang ditambat di kawasan tersebut.

Hingga berita ini turun, sedikitnya ada 14 kapal yang ludes terbakar api. Sementara tiga orang korban yang mengalami luka bakar dilarikan ke rumah sakit tengah mendapatkan penanganan intensif.

Sumber yang dihimpun dari Polres Pati, 14 kapal yang terbakar tersebut, di antaranya sebagai berikut.

1. Kapal Motor milik Sumarno
2. Kapal Motor milik Bagong
3. Kapal Motor milik warga Kudus
4.  Kapal Motor milik warga Ngemplak, Margoyoso
5. Kapal Motor milik PT Putra Leo
6. Kapal Motor milik PT Putra Leo
7. Kapal Motor penampung KM
8. Kapal Motor cantrang
9. Kapal Motor milik Umar
10. Kapal Motor milik Kades Bendar
11. Kapal Motor milik Tomo
12. Belum teridentifikasi
13. Belum teridentifikasi
14. Belum teridentifikasi

Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo mengatakan, data tersebut masih bersifat sementara. Pihak kepolisian bersama dengan petugas dan relawan tengah melakukan evakuasi dan identifikasi lebih lanjut.

“Kerugian material belum bisa ditaksir. Namun, dilihat dari jumlahnya berkisar belasan miliar. Penyebabnya diduga karena aktivitas pengelasan kapal,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

VIDEO : Kapal di Juwana Terbakar, Nelayan Pati Salahkan Menteri Susi

Tampak kapal yang ditambat di kawasan Pulau Seprapat, Juwana dilalap si jago merah, Sabtu (15/7/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga menyalahkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti,  dalam insiden kebakaran belasan kapal di tambat kawasan Pulau Seprapat, Juwana, Pati, Sabtu (15/7/2017).

Nelayan menuding kebakaran merupakan imbas dari kebijakan Menteri Susi yang melarang kapal  cantrang beroperasi. Akibatnya kapal tidak bisa melaut.

 

Berikut rekaman videonya:

Banyak masalah di daerah kami. Khususnya masalah di daerah Pati. Kapal banyak yang terbakar. Apalah Bu Susi mikir keadaan nelayan sekarang ini. Bayangkan berapa kerugian nelayan kami. Kebijakan Bu Susi melarang kapal tidak bisa melaut semua.

Apakah Bu Susi mikir? Ya Allah, Bu Susi. Bukalah mata hati Bu Susi sekarang. Inilah bukti kapal pada kebakaran, Bu Susi. Apakah Susi mikir? Ya Allah gusti. Bu Susi, lihat, bukalah mata hati akibat pelarangan, Bu Susi. Nelayan tidak bisa melaut.

Seperti ini keadaan bila ada musibah satu kapal akan terbakar semua. Bayangkan. karena peraturan Bu Susi ini bayak yang terdampak. Makanya bisa gak bisa kerja semua ini. nelayan mau di kemanakan, Bu Susi.

Inilah bukti rekaman kami, Bu Susi. Bu Susi yang tercinta. Tolonglah Permen Permen Bu Susi dicabut semua. Mulai kapal freezer, kapal cantrang, mulai perizinan yang sangat sulit saat ini, Bu Susi. Tidak memikirkan rakyat sama sekali. Banyak kerugian berapa kapal yang terbakar, Bu Susi. Inilah Bu Susi sebentar  lagi mau meremen (merembet), Bu Susi.

 

Editor : Akrom Hazami

Menguak Hubungan Pati dan Majapahit

Kompleks Taman Pendapa Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati disebut-sebut punya hubungan “darah” dengan Kerajaan Majapahit. Hal itu diungkapkan sejumlah pegiat sejarah yang tergabung dalam Tim Rekonstruksi Sejarah Pati, Senin (1/5/2017).

Susilo Tomo mengungkapkan, ada istilah Ken Satpada yang merujuk pada seorang putri bangsawan Majapahit tercatat dalam Suluk Wujil karya Sunan Bonang. Sementara di Serat Walisono menyebutkan adanya Menak Sembunyi dengan sebutan Satmuda.

Sunan Giri sendiri disebut Prabu Satmata. “Ken Satpada yang dimaksud dalam Suluk Wujil itu siapa? Ken itu perempuan atau nyai. Kalau ada nyai, pasti ada Ki. Ada Ken Satpada pasti ada Satpada,” ucap Susilo.

Merujuk pada sebutan Ainul Yaqin pada Sunan Giri, Susilo mengaitkan dengan Mohammad Nurul Yaqin pada Sunan Ngerang. Ki Ageng Ngerang disebut punya keterkaitan dengan Dinasti Kedaton Wetan Majapahit atau Blambangan.

“Prabu Menak Sembuyu (Satmuda), Raja Kedaton Wetan Majapahit. Trah Bhre Wirabhumi, putra Hayam Wuruk, pewaris sah dari Wangsa Girinata atau Wangsa Rajasa, dinasti raja-raja Singasari dan Majapahit,” tutur Susilo.

Satpada, suami Ken Satpada yang merupakan Ki Ageng Ngerang yang bernama Mohammad Nurul Yaqin inilah yang menurunkan para penguasa di Pati. Mereka adalah Abdullah Nurul Yaqin, Ali Nurul Yaqin (Sunan Pati), Umar Nurul Yaqin (Ki Penjawi), dan Siddieq Nurul Yaqin (Wasis Jayakusuma).

“Nurul Yaqin bersaudara dengan Ainul Yaqin. Keduanya sama-sama Menak Sembuyu, dalam Serat Walisana disebut Satmuda. Artinya, Ki Ageng Ngerang sebagai moyang para penguasa di Pati adalah trah raja-raja Singasari dan Majapahit dari Wangsa Girinata atau Rajasa, jalur Blambangan,” imbuhnya.

Hal itu ditegaskan Sugiono. Penguasa Pati merupakan persilangan dari trah Ngerang dan Bralit. Bralit diambil dari bray dan alit. Sebutan bray itu merujuk pada Majapahit dari Ranawijaya.

Pati mengalami masa keemasan pada masa kekuasaan Wasis Jayakusuma. Dengan senopati agungnya, Raden Sukmayana yang makamnya diduga di Dukuh Siman, Desa Tambahsari, Kecamatan Pati, Pati melebarkan kekuasaan hingga menaklukkan Madiun dan melepaskan diri dari Pajang yang dipimpin Joko Tingkir.

“Kami sudah menelusuri jejak Makam Senopati Agung Pati, Raden Sukmoyono di Dukuh Siman. Penduduk setempat mengenalnya dengan sebutan Mbah Soko. Sejarah ini tidak banyak dijumpai dalam literasi teks mainstream yang selama ini dipercaya masyarakat,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Alun-alun Pati Dipercantik Jelang Penilaian Adipura

Seorang pekerja tengah mengecat trotoar Alun-alun Pati, Jumat (24/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pati selalu mendapatkan penghargaan bergengsi di bidang lingkungan setiap tahunnya. Bahkan, Pati sempat menerima Adipura Kencana sebelum meraih Adipura Buana yang diterima Bupati Pati Haryanto di Istana Sri Indrapura, Siak, Riau pada 2016 lalu.

Namun, prestasi Pati yang langganan mendapatkan penghargaan Adipura tidak membuat Pemkab Pati cepat puas. Setiap tahunnya, pemkab selalu menyiapkan dan melakukan pembenahan agar kembali menerima Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Salah satu yang dibenahi, antara lain kawasan Alun-alun Pati. Wajah alun-alun dipercantik dengan melakukan pengecatan di sejumlah titik. Merah, kuning dan hijau masih menjadi kombinasi warna andalan untuk mempercantik Alun-alun Pati.

Dari pantauan MuriaNewsCom, Jumat (24/3/2014), sejumlah pekerja terlihat melakukan pengecatan di berbagai titik trotoar kawasan Alun-alun Pati. “Untuk warnanya, masih mempertahankan merah, kuning dan hijau. Soal motif, kami serahkan pekerja yang sudah lama bergelut di bidangnya,” ungkap Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTR) Pati Noor Azid.

Pengecatan sendiri sudah dilakukan sejak dua minggu yang lalu. Pengecatan dianggap perlu, karena cat yang lama sudah lusuh sehingga perlu mendapatkan pembaruan. Tak hanya kawasan alun-alun, pengecatan juga dilakukan di berbagai titik di wilayah Pati Kota.

Selain untuk memenuhi standar penilaian Adipura, pengecatan juga diharapkan bisa mempercantik pemandangan Pati Kota. “Bila paduan warna catnya tepat dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan, kota akan menjadi bersih dan indah,” tuturnya.

Sementara itu, Nurcahyo, pemegang desain tata ruang pengecatan trotoar mengaku akan membuat motif yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Motif yang berbeda diharapkan bisa memberikan nuansa yang baru dan lebih segar sehingga tidak monoton.

Editor : Kholistiono

Rumah Gebyok di Mojoluhur Pati Terbakar

Petugas pemadam kebakaran tengah memadamkan api di rumah milik Suwikyo, warga Mojoluhur, Jaken, Pati, Rabu (14/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas pemadam kebakaran tengah memadamkan api di rumah milik Suwiknyo, warga Mojoluhur, Jaken, Pati, Rabu (14/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah rumah gebyok milik Suwiknyo (55), warga Desa Mojoluhur RT 8 RW 1, Kecamatan Jaken, Pati, terbakar, Rabu (14/12/2016) sekitar pukul 14.00 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam tragedi tersebut. Namun, kerugian material akibat kebakaran ditaksir mencapai Rp 350 juta, karena rumah bagian depan dan belakang lengkap dengan isinya ikut terbakar.

Dwi Santoso (17), salah satu saksi mengatakan, asap hitam keluar dari rumah bagian belakang. Dia berlari menuju lokasi untuk mematikan sekring listrik dan mencoba menyelamatkan barang berharga.

Namun, api telah menjalar cepat dan melalap bagian atap rumah hingga terdengar suara ledakan yang berasal dari dalam rumah. “Setengah jam kemudian, ada mobil tangki pengisian air minum melintas. Warga menghentikan mobil dan meminta tolong supaya membantu memadamkan kebakaran,” ujar Dwi.

Diduga, kebakaran terjadi akibat korsleting listrik. Percikan api mengenai bangunan yang terbuat dari kayu itu,  hingga terbakar dan meluas. Selang beberapa lama, tiga unit mobil pemadam kebakaran Pemkab Pati tiba di lokasi.

“Berdasarkan keterangan dari korban, rumah ditinggal dalam kondisi hanya menghidupkan lemari es. Semua peralatan elektronik lainnya tidak dalam keadaan hidup. Berhubung rumah terbuat dari kayu, api menjadi cepat menjalar hingga meludeskan bangunan rumah,” kata Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo saat dikonfirmasi MuriaNewsCom.

Saat terjadi kebakaran, penghuni tidak berada di rumah sehingga tidak ada antisipasi sebelumnya. Pihaknya mengimbau kepada warga untuk berhati-hati dan waspada terhadap instalasi listrik di rumah, terutama rumah kayu yang mudah terbakar. Pasalnya, korsleting menjadi salah satu penyebab kebakaran yang sering terjadi di Pati.

Editor : Akrom Hazami

 

Foodo, Aplikasi Karya Gadis Cantik Asal Sukolilo Pati Ini Bikin Facebook dan Google Kesengsem

Nur Sitha Afrilia, asal Dukuh Lebakwetan, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Pati. (Dok. Pribadi)

Nur Sitha Afrilia, asal Dukuh Lebakwetan, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Pati. (Dok. Pribadi)

MuriaNewsCom, Pati – Meski berasal dari desa, bukan berarti hal tersebut membuat gadis asal Dukuh Lebakwetan, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Pati Ini harus minder untuk meraih prestasi yang gemilang.

Justru, hal itu menjadikannya lebih bersemangat dan termotivasi untuk bisa bersaing. Bukan hanya di tataran lokal, maupun nasional, tetapi di tataran internasional.

Adalah Nur Sitha Afrilia. Gadis berusia 20 tahun ini mampu membuktikan diri, bahwa meski berasal dari desa ia bisa berkiprah di dunia internasional dan mampu meraih prestasi yang membanggakan.

Mahasiswi semester 5 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini, bahkan mampu membuat dunia internasional tercengang melalui temuannya. Ia mampu menunjukkan kapabilitasnya yang cemerlang saat menjadi duta dari Indonesia di ajang internasional.

Yang terbaru, ia mampu meraih predikat Best Inovation dalam Asia Pasific Future Leader yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, 23-27 November 2016 lalu. Ia berhasil mengungguli wakil dari Negara-negara lain, melalui konsepnya yang dinilai sangat inovatif.

Dalam ajang Asia Pasific Future Leader itu Sitha berpartner dengan Ardian dari Universitas Jember, mengusung konsep aplikasi Android bernama Foodo. Nama Foodo ini merupakan singkatan dari food donation (berbagi makanan). Konsep aplikasi Foodo inilah yang membuat para juri tercengang.

Bahkan konsep aplikasi ini membuat dua perusahaan internet raksasa yakni Google dan Facebook kepincut untuk membeli konsepnya. “Dalam even itu kan jurinya ada perwakilan dari Google dan Facebook. Dan baru dua hari dua perusahaan ini menawari untuk membeli konsep aplikasi Foodo,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (6/12/2016).

Meski dilirik oleh Google dan Facebook, Sitha mengaku belum rela melepas konsepnya. Ia bersama rekannya Ardian menginginkan jika aplikasi itu menjadi milik Indonesia, dan dikembangkan untuk kemaslahatan masyarakat. Karena menurut dia, aplikasi Foodo itu merupakan aplikasi saling berbagi.

“Konsep dari aplikasi Foodo itu untuk berbagi makanan kepada sesama yang membutuhkan. Konsepnya adalah kerja sama dengan toko modern untuk menyumbangkan bahan makanan yang mendekati masa kedaluwarsa untuk dibagikan ke yang membutuhkan. Daripada makanan itu terbuang sia-sia,” ujarnya.

Dalam aplikasi itu menurut dia, masyarakat umum juga bisa mendonasikan makananya melalui aplikasi Android. Yakni ketika masyarakat masuk ke dalam aplikasi dan mendonasikan, nanti sistem akan langsung memberitahu ke relawan untuk mengambil makanan yang didonasikan.

“Jadi konsepnya hampir sama dengan ojek online itu. Ini yang membuat juri memutuskan kelompok kami yang terbaik. Jurinya itu ada perwakilan dari Google dan Facebook,” pungkasnya.

Baca juga : Sitha, Alumni SMAN 1 Kayen yang Sukses Raih Best Speaker Pada Ajang Amity Youth Festival di India

Editor : Kholistiono

Warga Desa Ngawen Pati Tewas Tersengat Kawat Listrik Jebakan Tikus

Petugas mengidentifikasi jenazah korban yang tersengat kawat listrik di sawahnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas mengidentifikasi jenazah korban yang tersengat kawat listrik di sawahnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Nasib sial menimpa Sakiman (54), warga Desa Ngawen RT 2 RW 2, Kecamatan Margorejo, Pati. Pria paruh baya ini ditemukan tewas, Minggu (16/10/2016), lantaran tersengat listrik yang digunakan sebagai jebakan tikus.

Kejadian bermula, ketika Sakiman yang setiap harinya berprofesi sebagai petani tengah mengelilingi sawahnya yang berpagar kawat listrik untuk membunuh hama tikus. Namun, Sakiman justru secara tidak sengaja menyentuh kawat yang teraliri listrik.

Sontak, kawat dengan tegangan arus listrik tinggi tersebut langsung menyengat korban hingga merenggut nyawanya. Saat itu, istri dan anak korban mencarinya karena korban belum pulang hingga malam.

Ketika sampai di area persawahan, keduanya terkejut bukan kepalang karena melihat Sakiman dalam keadaan kaku, gosong dan sudah tidak bernyawa. “Bapak berangkat ke sawah pada jam 15.00 WIB. Hingga pukul 19.00 WIB, bapak belum pulang. Padahal, sore sebelum magrib biasanya sudah pulang. Saya dan ibu langsung mencari bapak ke sawah. Kami temukan bapak sudah tidak bernyawa,” ungkap Aris Siswanto, anak korban, Senin (17/10/2016).

Saat ditemukan, posisi korban dalam keadaan telentang dengan posisi tangan kanan menempel pada kawat listrik. Saat proses evakuasi, keluarga mematikan arus listrik yang mengaliri kawat.

Kapolsek Margorejo AKP Eko Pujiyono membenarkan adanya kejadian tersebut. Setelah mendapatkan laporan warga, pihaknya bersama anggota langsung menuju tempat kejadian perkara (TKP).

Setelah dilakukan pemeriksaan visum luar pada jenazah korban, terdapat luka bakar, yaitu pada bagian jari dan lengan kanan gosong dengan luka menganga sepanjang 12 cm.

Sebelumnya, Muspika Margorejo sudah mengimbau warga untuk tidak menggunakan jebakan tikus dengan pagar yang terbuat dari kawat listrik. Pasalnya, kawat listrik telah memakan banyak korban, baik pemilik sawah maupun warga yang tidak sengaja menyentuh.

“Kejadian ini bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, ada beberapa kasus yang sama dan korbannya meninggal. Kami mengimbau kepada semua warga untuk tidak menggunakan kawat listrik untuk membasmi tikus,” imbau AKP Eko.

Editor : Kholistiono