Ribuan PK Geruduk Kantor DPRD Pati

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan Pemandu Karaoke (PK) menggeruduk Kantor DPRD Pati, Rabu (14/2/2018). Mereka menuntut karaoke kembali dilegalkan kembali lantaran banyak yang mencari nafkah dari usaha tersebut.

Dari pantauan, ribuan PK tersebut datang menggunakan beberapa armada. Mulai dari truk, mobil, hingga sepeda motor lengkap dengan pengeras suara untuk menyampaikan aspirasinya.

Tak hanya itu, berbagai spanduk tuntutan juga dibentangkan dalam aksi tersebut. Salah satunya, spanduk bertuliskan Keluarga Kami Butuh Hidup, Anakku jadi pegawai negeri sipil (PNS), dari gaji pemandu karaoke (PK), hingga PK bukan PSK. Stop tutup karaoke.

Selain tuntutan agar usaha karaoke tidak ditutup, mereka juga membentangkan spanduk agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak diam, turun ke Pati dan rakyat menanti.

Wirnoningsih, salah satu peserta aksi mengatakan dalam aksi ini, setidaknya ada seribu lebih PK yang turun ke jalan. Jumlah ini hanya sebagian PK yang ada di Pati. Ini mengingat jika ditotal ada sekitar dua ribu lebih PK di Bumi Mina Tani.

Wirnoningsih, salah satu peserta aksi saat memberikan keterangan pada awak media. (ISTIMEWA)

”Jumlah karyawan (PK) yang ada lebih dari dua ribu orang. Karena itu kalau karaoke ditutup mau di kemanakan,” tegasnya kepada awak media.

Ningsih menjelaskan, dalam pembuatan perda yang ada, pemerintah juga tidak melakukan kajian yang lebih dalam. Terutama dampak yang ditimbulkan dari penutupan. Bahkan, pemkab juga tak memberi pembinaan yang jelas tentang keahlian dan penempatan pasca penutupan.

”Kalau ini tidak ada revisi, mau di kemanakan PK yang ada. Apa bisa mereka yang dilegalkan dalam perda menampung semuanya,” terangnya.

Bagi dia, penutupan karaoke di Pati juga akan menimbulkan efek domino. Terlebih pada keluarga. Ini mengingat banyak PK yang mencari nafkah dari pekerjaannya itu untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

”Pokoknya kita tak akan mau kalau karaoke ditutup. Kami akan di sini sampai ada kejelasan,” tandasnya.

Editor: Supriyadi

Ribuan Masyarakat Padati Expo Campus 2018

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan masyarakat Pati memadati kegiatan Expo Campus 2018, Minggu (28/1/2018). Mereka datang untuk melihat keunggulan perguruan tinggi dalam even tahunan tersebut.

M Faisal, Ketua panitia mengatakan, expo campus 2018 ini diselenggarakan oleh Komunitas Mahasiswa Pati (KOMPI). Kegiatan tersebut, merupakan kegiatan yang mengumpulkan sejumlah perguruan tinggi untuk datang dalam satu wadah.

“Tahun ini ada 42 perguruan tinggi yang kami hadirkan. Semuanya merupakan perguruan tinggi dari berbagai wilayah di Pulau Jawa,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurut dia, semua perguruan tinggi baik negeri maupun swasta turut hadir dalam kegiatan tersebut. Termasuk sejumlah perguruan tinggi yang sudah besar, juga ikut membuka stand dalam expo yang diselenggarakan di SMK PGRI 1 Pati.

Dikatakan, melihat animo masyarakat yang hadir, tidak kurang dari 3 ribuan warga yang datang. Jumlah tersebut dianggap banyak, karena kegiatan tersebut hanya berlangsung selama sehari saja.

“Kegiatan kami mulai sekitar jam 08.00 WIB. Dan kami tutup sekitar jam 13.00 WIB,” ungkap dia.

Disebutkan, kegiatan tersebut merupakan kegiatan rutin tahunan. Di mana tiap tahun selalu ditunggu masyarakat untuk melihat sejumlah universitas atau perguruan tinggi di Jawa.

 

Editor: Supriyadi

Tunggu Juknis, Izin Cantrang di Pati Belum Bisa Diproses

MuriaNewsCom, Pati – Keputusan pemerintah mengizinkan kembali kapal cantrang beroperasi memang membuat nelayan sumringah. Hanya saja, hal itu terlihat semu. Pasalnya, semua izin akan kapal cantrang mulai dari tonase dan ukuran, hingga kini belum bisa diproses oleh pihak pelabuhan.

Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo Pati Japar Lumban Gaol mengatakan, layaknya nelayan yang menunggu kepastian aturan, pihaknya juga menunggu edaran dari Kementerian Kelautan dan Perikanan soal petunjuk teknis (Juknis) pengurusan izin untuk alat tangkap ikan jenis cantrang.

“Artinya, kami belum bisa memprosesnya lebih lanjut,” katanya yang juga Plt kelapa Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung Rembang  saat dihubungi MuriaNewsCom Rabu (24/1/2018).

Diakuinya, selama ini banyak nelayan cantrang baik di Pati dan Rembang yang datang kepadanya guna keperluan izin. Bahkan sejumlah nelayan cantrang juga tak sabar berlayar lantaran sudah ada statement diperbolehkannya kapal cantrang.

Hanya, kata dia, nelayan harus lebih sabar menunggu izin. Karena, tanpa adanya surat dari kementerian pihaknya tak tahu kriteria cantrang dan syarat yang harus dipenuhi dari pihak nelayan cantrang.

Disinggung soal adanya kapal cantrang yang beroperasi, dia mengutarakan belum ada yang berani berlayar lantaran izin yang belum kelar. “Namun saya tidak tahu jika ada yang berlatar diam-diam,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Apes, Hendak Transaksi Sabu di Todanan Blora, Warga Semirejo Pati Dicokok Polisi

MuriaNewsCom, BloraRencana Sunar alias Luluk (43), untuk bertransaksi narkoba jenis sabu akhirnya kandas. Sebelum sempat bertransaksi, pria asal Desa Semirejo, Kecamatan Gembong, Pati itu keburu disergap polisi. Penyergapan itu dilakukan di depan sebuah minimarket di jalan raya Todanan-Japah.

”Penangkapan tersangka ini kita lakukan Kamis (11/1/2018) kemarin. Saat kita geledah, ditemukan dua paket sabu dalam plastik kecil yang disimpan dalam kantung celana,” jelas Kasat Narkoba Polres Blora AKP Suparlan, pada wartawan.

Penangkapan itu bermula adanya informasi dari warga sekitar yang mengabarkan ada seseorang yang akan melakukan transaksi narkoba. Informasi ini ditindaklanjuti dengan mendatangi lokasi untuk melakukan pengamatan.

Tidak lama kemudian, petugas mendapati seseorang yang ciri-cirinya dipastikan sesuai dengan informasi sebelumnya. Selanjutnya, petugas langsung melakukan penangkapan dan penggledahan.

Dari penggeledahan itu ditemukan dua paket narkotika jenis sabu yang dibungkus menggunakan plastik klip warna bening, digulung dan diisolasi warna hitam. Total barang bukti seberat 1,5 gram.

Selanjutnya, tersangka digelandang ke Mapolres Blora guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Selain tersangka, polisi juga membawa sebuah HP, ATM dan satu unit sepeda motor Honda Supra X 125 milik tersangka untuk dijadikan barang bukti.

”Untuk saat ini pelaku berikut barang bukti sudah kami amankan. Tersangka yang melakukan tindak pidana Narkotika Primer ini dijerat dengan pasal 114 ayat (1) subs pasal 112 ayat (1) UU RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika,” pungkas Suparlan.

Editor: Supriyadi

Ibu yang Lompat di Hotel Safin Pati Teryata Sering Mencoba Bunuh Diri

MuriaNewsCom, Pati – Sulistyani (31), warga Kecamatan Pati yang meninggal bersama bayinya dengan cara meloncat dari lantai 11 ternyata sudah sering melakukan percobaan bunuh diri beberapa kali. Namun aksinya selalu digagalkan oleh orang terdekat.

KBO Reskrim Polres Pati Iptu Gunarso mengatakan, dari hasil penelusuran yang dilakukan petugas, korban memang sudah sering mencoba bunuh diri. Namun, pihak keluarga selalu berhasil mencium gelagat pelaku dan berhasil digagalkan.

“Percobaan bunuh diri yang dilakukan selalu ketahuan keluarganya. Makanya selalu gagal,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom, Selasa (9/1/2018).

Baca: Ibu Ajak Bayi Bunuh Diri Terjun Dari Lantai 11 Hotel Safin Pati

Menurut KBO, saat melakukan terjun bebas, Senin (8/1/2018) kemarin, tidak disadari oleh pihak keluarga. Karena, saat pergi dari rumah, korban hanya pamit untuk membeli bubur.

Disebutkan, korban murni melakukan bunuh diri di Hotel Safin. Itu terungkap dari hasil rekaman CCTV, yang menceritakan korban datang pagi hari untuk melakukan bunuh diri.

Sayangnya, hingga kini petugas belum menemukan alasan percobaan bunuh diri beberapa kali dan kenapa sampai bunuh diri. Sebab, petugas tak menemukan pesan apapun dari keluarga korban. Bahkan pesan dari almarhumah juga tidak ada.

Editor: Supriyadi

Baca: Kapolres Pati: Pelaku Bunuh Diri Di Hotel Safin Bukan Pengunjung Hote

Ribuan Nelayan di Pati Desak Cantrang Diizinkan Lagi Berlayar

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan nelayan cantrang asal Kabupaten Pati, Senin (8/1/2018) kembali turun ke jalan untuk menggelar aksi demonstrasi. Mereka tetap menolak kebijakan tentang pelarangan cantrang, karena dianggap akan menghilangkan sumber kehidupan nelayan.

Kali ini mereka menggelar demo di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan Satuan Kerja Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Juwana, Pati.

Koordinator aksi Rasmijan, menyebutkan jumlah masa yang ikut aksi mencapai 2 ribuan nelayan. Semuanya menurut dia, merupakan korban dari kebijakan larangan cantrang.

“Ini aksi kesekian kalinya kami laksanakan. Kami tak akan bosan aksi agar cantrang diperbolehkan kembali,” katanya kepala awak media saat aksi.

Ia menyebut, selama cantrang dilarang beroperasi banyak nelayan yang menganggur. “Cantrang  harus segera dilegalkan, supaya kami tidak nganggur lagi,” tuntutnya.

Dia menyebutkan, jumlah kapal cantrang di Juwana mencapai 150-an kapal dengan ribuan anak buah kapal. Semuanya sudah nganggur, sejak sebelum Desember 2017 lalu. Akibatnya para nelayan bingung memenuhi kebutuhan hidup.

Nahkoda Kapal Cantrang, Nahwi, menambahkan selama ini nelayan sudah cukup menderita. Dengan adanya kebijakan tersebut, membuat nelayan makin sengsara.

“Apa pemerintah mau membuat kami para nelayan menderita dan miskin. Padahal kami itu nelayan Indonesia, bukan asing,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Pulang Tahun Baruan, Pemuda Sukobubuk Pati Babak Belur Dikeroyok

MuriaNewsCom, Pati – Empat pemuda Desa Sukobubuk, Margorejo, Pati, dihajar segerombolan pemuda di kawasan jembatan Kesambi, Desa Bermi, Gembong, Senin (1/1/2018) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB.

Dwi Prasetyo (14), salah satu korban dalam laporannya kepada polisi menuturkan, saat itu dia bersama empat orang temannya mengendarai dua sepeda motor dari Pati untuk pulang ke Sukobubuk.

“Kami dihadang sekitar 15 orang, mereka bertanya kami orang mana. Setelah saya jawab orang Sukobubuk, mereka mengeroyok kami,” ungkap Dwi.

Setelah wajahnya dipukul, dia bersama tiga rekannya melarikan diri. Beruntung, aksi tersebut juga diketahui warga sekitar sehingga segerombolan pemuda yang mencegatnya dibubarkan.

Saat dikonfirmasi, Kapolsek Gembong AKP Giyanto mengatakan, polisi sempat mendatangi lokasi. Namun, para pelaku langsung membubarkan diri.

“Korban yang awalnya sembunyi, lantas keluar untuk menemui petugas. Korban mengalami luka-luka sehingga dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan,” tuturnya.

Korban sendiri mengalami luka robek pada dahi sepanjang 6 cm. Dahi korban dijahit dengan empat jahitan dan menjalani rawat jalan.

Editor : Ali Muntoha

Tabrak Pagar Jembatan di Bumirejo Pati, Pengendara Asal Kudus Tewas

Sejumlah warga dan pengendara yang melintas sempat mengecek kondisi korban kecelakaan tunggal di jalan pantura, kawasan Ngebruk, Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang pengendara sepeda motor asal Getas Pejaten, Jati, Kudus, Jasmiru (56) meninggal dunia setelah menabrak pagar jembatan di kawasan Jalan Juwana-Batangan, Ngebruk, Bumirejo, Juwana, Selasa (26/12/2017) dini hari.

Paeman, salah satu saksi menuturkan, Jasmiru yang saat itu mengendarai Mega Pro bernopol K 3569 ET melaju dari arah Juwana menuju Batangan.

“Tiba-tiba saja menabrak pagar pembatas jembatan. Kecelakaan tunggal, karena tidak tabrakan dengan pengendara lain sebelumnya,” ungkap Paeman.

Pascakecelakaan tunggal, kaki kiri Jasmiru mengalami patah tulang dan meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara kondisi kendaraan mengalami ringsek pada bagian depan.

“Benturannya cukup keras. Pembatas jembatan yang terbuat dari batu bata dan plesteran semen sampai mengelupas,” jelasnya.

Petugas kepolisian yang mendapatkan informasi lantas mendatangi lokasi untuk melakukan olah TKP, mengamankan lalu lintas, mencari saksi dan mengamankan barang bukti.

Belum diketahui secara pasti penyebab korban menabrak pagar pembatas jembatan. Namun, dugaan sementara, pengendara sedang mengantuk sehingga oleng dan menabrak pembatas jembatan.

Editor : Ali Muntoha

Jelang Natal, Ratusan Umat Kristen di Pati Dapat Sembako Gratis

Suasana pembagian beras kepada umat Kristen di depan Klenteng Hok Tik Bio Pati, Sabtu (23/12/2017) sore. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Menjelang Natal, ratusan umat Kristen di Pati mendapatkan sembako gratis. Sembako berupa beras itu diberikan komunitas lintas agama di Klenteng Hok Tik Bio, Pati, Sabtu (23/12/2017).

Pembagian beras kepada 400 warga Kristen tidak mampu di Pati tersebut melibatkan sejumlah pejabat dan tokoh, seperti Anggota DPR RI Firman Soebagyo, Dandim 0718/Pati Letkol Arm Arief Darmawan, Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan, dan Ketua Gusdurian Pati Edi Siswanto.

Firman memberikan apresiasi kepada komunitas lintas agama di Pati yang sudah menggerakkan acara penyambut Natal dengan pembagian sembako kepada umat Kristen yang tidak mampu.

Menurutnya, aksi tersebut bisa memumpuk semangat persaudaraan dan persatuan di tengah hubungan antarumat beragama yang saat ini tengah dibenturkan pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Akhir-akhir ini, kita diadu domba, hubungan antarumat beragama yang sudah rukun dibenturkan. Kalau aksi di Pati seperti ini ditiru daerah di seluruh Indonesia, saya kira akan semakin merekatkan hubungan antarumat beragama di Indonesia,” ujar Firman.

Sementara, Edi Siswanto menuturkan, tidak semua umat Kristen hidup dalam kecukupan. Sebagian dari mereka masih banyak yang kurang mampu.

Karena itu, mereka butuh bantuan sembako beras supaya bisa digunakan untuk merayakan Natal yang kurang sebentar lagi. “Dengan kepedulian, sesama umat supaya bisa menikmati hidup,” papar Edi.

Maria (52), warga Juwanalan, Pati yang mendapatkan sembako mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah memberinya beras. Rencananya, beras itu akan digunakan untuk makan sehari-hari dan Hari Natal.

Maria sendiri hidup dalam kesederhanaan. Dia hidup sendiri, tidak punya suami maupun anak. Untuk makan sehari-hari, dia bekerja serabutan.

Karena itu, dia bersyukur bisa mendapatkan beras gratis sebanyak lima kilogram. “Terima kasih kepada yang sudah memberi saya beras. Ini akan saya gunakan makan sehari-hari,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Bupati Pati Minta Film Panggil Aku Kristy Lebih Hebat dari Laskar Pelangi

Kristyaningsih, Wabup Pati Saiful Arifin, Bupati Pati Haryanto dan Luhur Sulistyanti (dari kiri) saat berbincang tentang film Panggil Aku Kristy. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto menyambut positif rencana produksi film “Panggil Aku Kristy” yang mengambil lokasi syuting di Kabupaten Pati. Bahkan, dia meminta agar film yang diadopsi dari novel karya Kristyaningsih tersebut bisa lebih hebat dari film Laskar Pelangi.

“Film Panggil Aku Kristy dan Laskar Pelangi ada kesamaan, yakni mengangkat putra-putri daerah dan potensi yang ada di daerahnya. Kalau Laskar Pelangi bisa sukses besar, kami berharap film Panggil Aku Kristy harus lebih hebat,” ujar Haryanto, Sabtu (23/12/2017).

Terlebih, sambung Haryanto, film Panggil Aku Kristy rencananya mengambil artis-artis terkini dan senior seperti Yuki Kato, Varissa Camelia, Rey Sahetapy dan Roy Martin.

“Konsepnya sangat bagus, kolaborasi antara artis papan atas dengan pemeran lokal yang diambil dari casting. Melalui film ini, kami berharap Pati bisa menjadi lebih dikenal dunia karena juga akan diikutsertakan dalam pameran film di Perancis,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Wakil Bupati Pati Saiful Arifin. Menurutnya, sebuah daerah bisa terangkat melalui film yang ditonton jutaan orang, baik di bioskop maupun televisi.

Dia menilai, Pati sudah saatnya dikenal dunia. Sebab, Pati memiliki banyak potensi yang belum diketahui publik, seperti potensi perikanan, pertanian, wisata, budaya dan kearifan lokal.

“Kami sudah menyampaikan pesan kepada produser untuk mengambil spot-spot yang bisa mengangkat potensi Kabupaten Pati. Harapannya, Pati bisa menjadi lebih dikenal seperti Belitung yang dulunya tidak dikenal, sekarang menjadi luar biasa melalui sebuah film,” kata Arifin.

Sementara itu, Kiki Nuriswan, produser sekaligus sutradara film Panggil Aku Kristy menuturkan, pengambilan lokasi syuting paling banyak akan dilakukan di Desa Alasdowo dan Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti.

Di dua desa tersebut, Kristy yang diangkat dalam film tersebut tinggal di sana dan banyak berinteraksi sosial. Sementara lokasi lainnya, antara lain SMAN 1 Tayu di mana Kristy bersekolah, Alun-alun Pati, dan beberapa destinasi wisata di Pati.

Editor: Supriyadi

Harga Bawang Merah Merangkak Naik, Petani di Pati Justru Mengeluh

Salah seorang buruh tani tengah memisahkan bawang merah yang bercampur lumpur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Menjelang Natal dan Tahun Baru, harga sembako di pasaran merangkak naik. Begitu juga harga bawang merah yang sudah mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 22 ribu per kilogram di pasar tradisional.

Kendati demikian, petani bawang merah di Pati justru justru mengeluh. Pasalnya, bawang merah yang mereka jual kepada tengkulak hanya dihargai Rp 7 ribu per kilogram.

Padahal, tengkulak semestinya membelinya dengan harga dari Rp 12 ribu sampai Rp 15 ribu per kilogram. Kondisi itu yang dikeluhkan Ngatawi, salah satu petani di Desa Pagerharjo, Wedarijaksa.

“Operasional yang digunakan untuk menanam bawang merah banyak memakan biaya, sehingga harga segitu sudah pasti petani rugi,” ungkapnya, Jumat (22/12/2017).

Untuk bisa menutup biaya operasional bawang merah, harga bawang merah yang dibeli tengkulak paling tidak Rp 12 ribu per kilogram. Sementara untuk bisa untung, tengkulak setidaknya membelinya seharga Rp 15 ribu per kilogram.

Menurut dia, tengkulak memanfaatkan kondisi cuaca buruk yang sering hujan dengan membeli harga murah. Sebab, bila tidak segera dijual, bawang merah akan cepat membusuk.

Sementara petani tidak memiliki fasilitas pengering bawang merah. Akibatnya, mau tidak mau, petani harus segera menjual bawang merah setelah dipanen dengan harga yang ditetapkan tengkulak.

Dia berharap, pemerintah bisa ikut memberikan solusi terkait persoalan tersebut. Dia ingin harga yang dijual dari petani ke tengkulak setidaknya bisa menutup biaya operasional bawang merah.

Editor : Ali Muntoha

Kakek di Pati Gantung Diri Setelah Cekcok dengan Istri

Petugas Polsek Jakenan melakukan olah TKP di lokasi dimana korban gantung diri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang kakek bernama Sukarno (69), warga Dukuh Tambak Kapas, Kecamatan Tambahmulyo, Pati, ditemukan meninggal dunia dalam keadaan gantung diri, Jumat (22/12/2017).

Korban meninggal dunia di tempat penyimpanan di sebelah rumahnya sendiri. Warga setempat yang mengetahui kondisi korban langsung menurunkan jenazah kakek itu.

Dari informasi yang dihimpun, Sukarni sudah sepekan tidak pulang ke rumah. Ia juga kerap terlibat cekcok dengan istrinya dalam beberapa hari terakhir.

Atas kejadian tersebut, pihak keluarga sudah menerima kematian korban. Sementara polisi yang mengetahui informasi tersebut lantas melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa kondisi korban bersama petugas medis.

Menurut keterangan dr Sutini, terdapat luka lecet pada bagian leher, lebam di punggung dan jari kaki sudah menjamur.

“Korban meninggal dunia karena kehabisan napas karena terjerat tali plastik tampar sepanjang satu meter dengan ketinggian dua meter,” jelas dr Sutini.

Kapolsek Jakenan AKP Suyatno menambahkan, tidak ada tanda-tanda penganiayaan dalam tubuh korban, sehingga jenazah diserahkan kepada pihak keluarga untuk disemayamkan.

Editor : Ali Muntoha

Aneh! Calon Perangkat Desa Asempapan Pati Tak Boleh Ajukan Tuntutan Hukum Selama Seleksi

Suasana uji publik pengisian perangkat desa di Asempapan, Trangkil, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada yang ganjal dari proses penjaringan perangkat desa di Desa Asempapan, Kecamatan Trangkil, Pati. Kejanggalan tersebut, yakni peserta disyaratkan tidak boleh mengajukan tuntutan hukum, baik kepada panitia pengisian perangkat desa maupun pemerintah desa.

Syarat itu diwajibkan kepada setiap calon perangkat desa dengan menulis surat pernyataan dengan membubuhkan materai 6.000. Hal itu yang mengundang keprihatinan Ketua Lembaga Pemberdayaan Sosial dan Lingkungan (LPSL) M Ulin.

“Syarat itu mengindikasikan bahwa panitia pengisian perangkat desa maupun pemerintah desa ingin lepas dari tuntutan hukum bila ada gugatan dari salah satu calon nantinya. Ini sudah tidak beres,” ujar Ulin, Kamis (21/12/2017).

Dia juga mencurigai bila syarat yang ditetapkan panitia pengisian perangkat desa tersebut, sarat akan muatan politis dan nepotisme. Terlebih, ada salah satu calon yang merupakan keponakan dari kepala desa dan orang kepercayaan kepala desa setempat.

Karena itu, dia meminta kepada panitia dan pemdes untuk bersifat netral dan tidak main-main dengan seleksi perangkat desa.

“Kami sudah menyampaikan somasi agar pemilihan perangkat desa di Asempapan bisa berlangsung secara bersih, berwibawa serta bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme,” imbuhnya.

Saat dikonfirmasi, Ketua Penjaringan Perangkat Desa Asempapan Mashudi tidak mengelak adanya syarat tersebut. Tapi, syarat tersebut saat ini sudah dicabut lantaran akan berdampak hukum.

Dengan pertimbangan itu, panitia memilih untuk membatalkan syarat yang mengharuskan calon tidak boleh mengajukan tuntutan hukum kepada panitia maupun pemdes.

“Setelah kami mendapatkan surat somasi, panitia sepakat untuk membatalkan syarat tersebut. Itu juga berdasarkan masukan dari tim pengawas kecamatan,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Duo Vario Tabrakan di Kajar Pati, Dua Pengendara Luka Parah

Polisi membawa pengendara Vario yang terlibat kecelakaan ke RSUD Soewondo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Dua pengendara sepeda motor Vario bernama Nurul Aisyah (22) dan Abdul Habid (55) terlibat kecelakaan di kawasan Jalan Wedarijaksa-Trangkil, Desa Kajar, Trangkil, Kamis (21/12/2017).

Nurul yang merupakan warga Desa Trangkil RT 4, RW 5 dilarikan ke RSUD Soewondo karena mengalami luka pada bagian kaki. Sementara penumpangnya, Rukati mengalami robek di bagian kepala.

Kapolsek Wedarijaksa AKP Eko Pujiono mengatakan, kecelakaan terjadi saat Nurul berusaha mendahului Habid. Lantaran salah perhitungan, Nurul menabrak sepeda motor yang dikendarai Habid.

“Dua orang perempuan pengendara Vario yang akan menyalip kendaraan di depannya mengalami luka di sejumlah titik, sehingga dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif,” ujar AKP Eko.

Beruntung, tidak ada kendaraan roda empat yang berjalan dari belakang, sehingga keduanya hanya mengalami luka-luka ringan.

Polisi mengimbau kepada pengguna jalan untuk memperhatikan jarak dengan kendaraan di depannya. Sebab sewaktu ada rem mendadak, pengendara di belakang masih bisa mengantisipasinya.

Editor : Ali Muntoha

Bus Madu Kismo Terbakar di Pati, Ini Penyebabnya

Kondisi bus Madu Kismo yang mengalami kebakaran di kawasan Desa Semampir, Kecamatan Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bus Madu Kismo bernomor polisi K 1505 FM terbakar di kawasan Jalan Raya Pati-Gabus, Desa Semampir, Kecamatan Pati, Kamis (21/12/2017) siang.

Peristiwa tersebut mengagetkan warga dan pengendara yang melintas, sehingga mereka berbondong-bondong menonton kebakaran di jalanan.

Seorang tukang las, Deni Apriliyanto (21), warga Bajomulyo, Juwana mengungkapkan, peristiwa kebakaran saat Supriyadi, sopir bus memarkirkan kendaraannya di dekat bengkel las Wahyu Hidayah.

Bus tersebut akan diperbaiki. Saat melakukan pengelasan pada pipa pegangan untuk penumpang di bagian plafon bus tengah, tiba-tiba muncul bau kebakaran.

Sadar bus yang dia las mengalami kebakaran, Deni melompat dari bus dan menyelamatkan diri. Sebelumnya, Kondektur bus, Edy Saputro sudah memperingatkan Deni untuk mencabut accu untuk menghindari korsleting pada saat pengelasan.

Edy sendiri yang sedang memperbaiki bus bagian belakang ikut menyelamatkan diri. Hanya dalam waktu sebentar, api melalap semua badan bus hingga hangus.

Tidak ada korban jiwa dalam insiden kebakaran tersebut. Namun, kerugian akibat kebakaran tersebut mencapai Rp 500 juta.

Polisi yang mendapatkan informasi kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengatur lalu lintas. Sedikitnya dua mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api.

Editor : Ali Muntoha

Ribuan Polisi-TNI Amankan Natal dan Tahun Baru di Pati

Forkopimda Pati mengecek kendaraan aparat yang akan digunakan untuk pengamanan Natal dan Tahun Baru. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan anggota polisi dan TNI siap mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru 2018 di Kabupaten Pati. Hal itu disampaikan Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan, seusai mengikuti apel gelar pasukan lilin candi di Alun-alun Pati, Kamis (21/12/2017).

“Kami bersama Kodim 0718/Pati dan instansi terkait bersinergi untuk melakukan pengamanan penuh pada perayaan Natal dan Tahun Baru di Pati. Semuanya sudah siap, dari personel hingga sarana dan prasarana,” ujar AKBP Maulana.

Pihak kepolisian sudah menyiagakan sedikitnya 852 personel yang akan ditempatkan di 182 gereja di Pati. Mereka masih mendapatkan bantuan kendali operasi (BKO) dari Brimob sebanyak satu peleton.

Belum lagi, ratusan prajurit TNI yang juga sudah disiagakan untuk mengamankan gereja. Mereka bersama anggota kepolisian disebar di gereja-gereja besar maupun kecil.

Sementara itu, Bupati Pati Haryanto mengatakan, beberapa kemungkinan ancaman dan gangguan yang perlu diantisipasi, antara lain serangan teror, kemacetan lalu lintas, bencana alam, bahan pokok dan aksi sweeping ormas.

“Kami berharap, Operasi Lilin Candi 2017 yang dimulai pada 23 Desember 2017 bisa mengamankan warga Pati dari berbagai kemungkinan ancaman dan gangguan,” harap Haryanto.

Dandim 0718/Pati Letkol Arm Arief Darmawan menambahkan, prajurit TNI siap membantu tugas pokok polisi. Seluruh potensi kerawanan wilayah sudah dipetakan. Kemungkinan adanya aksi teror dan kejahatan konvensional juga sudah dipetakan.

“Kami juga sudah melakukan pendekatan dengan elemen masyarakat, sehingga aparat dan warga bisa bersinergi dalam mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru,” pungkas Letkol Arm Arief.

Editor : Ali Muntoha

Rumah Warga Kayen Pati Ludes Terbakar, Kerugian Ratusan Juta

Rumah permanen milik warga Kayen dilalap si jago merah, Senin (18/12/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Rumah milik Kusnan (80), warga Dukuh Buloh, Desa Kayen RT 2 RW 5, Kecamatan Kayen, Pati, ludes dilalap si jago merah, Senin (18/12/2017) malam, sekitar pukul 21.30 WIB.

Saparin, salah satu saksi menuturkan, malam itu Kusnan menghadiri acara di rumah tetangga dan cuaca sedang hujan.

“Saya melihat ada percikan api di atap rumah. Saya berteriak meminta tolong kepada warga lainnya untuk memadamkan api,” ujar Suparin.

Perangkat desa setempat yang mengetahui insiden tersebut lantas menghubungi petugas pemadam kebakaran. Sedikitnya tiga unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api.

Sejam setelah petugas dan warga berusaha menyemprotkan air, api akhirnya berhasil dipadamkan. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut.

Namun, kerugian material diperkirakan mencapai Rp 200 juta. Sebab, seluruh rumah beserta isinya ludes terbakar.

Salah satunya, televisi, sepeda, lemari, perabotan rumah tangga, meja, gabah kering sebanyak sembilan sak, pupuk dua sak, tempat tidur dan sertifikat tanah.

Editor : Ali Muntoha

Pengendara Revo di Pati Tewas Tertabrak Ambulans

Petugas Unit Laka Polres Pati mengevakuasi ambulans yang menabrak pengendara Revo di Jalan Kayen-Sukolilo, Kedumulyo, Sukolilo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang pengendara sepeda motor Honda Revo bernama Warsidi (40), warga Dukuh Kincir, Desa Wegil, Sukolilo, Pati, meninggal di lokasi setelah tertabrak mobil ambulans di Jalan Kayen-Sukolilo, Kedumulyo, Sukolilo, Senin (18/12/2017).

Korban meninggal dunia setelah mengalami luka-luka di sejumlah bagian tubuh dan mengalami pendarahan pada bagian telinga.

Kasatlantas Polres Pati AKP Ikrar Potawari mengatakan, kecelakaan terjadi saat ambulans melaju dari arah timur ke barat. Pada saat yang sama, pengendara Revo melaju dari arah berlawanan.

“Ambulans berusaha mendahului truk yang ada di depannya dengan mengambil di sisi kanan. Dari arah berlawanan, pengendara Revo jaraknya sudah dekat sehingga terjadi kecelakaan,” ujar AKP Ikrar.

Titik kecelakaan berada di badan jalan sebelah utara, sedangkan posisi akhir pengendara terperosok di sawah sebelah utara jalan. Sementara ambulans berhenti di badan jalan sebelah utara.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) menunjukkan, pengemudi ambulans tidak berhati-hati dan memperhatikan arus lalu lintas sehingga terjadi kecelakaan.

“Korban meninggal langsung dibawa ke RSUD Kayen dan pihak keluarga sudah dihubungi. Barang bukti sudah kami amankan untuk pendalaman kasus lebih lanjut,” papar AKP Ikrar.

Editor : Ali Muntoha

Hilang, Seorang Nenek di Karangkonang Pati Ditemukan Tewas di Sumur

Polisi tengah melakukan olah TKP di sumur dimana korban meninggal dunia. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang nenek bernama Jamilah (80), warga Dukuh Karanggayam, Karangkonang, Winong, Pati, ditemukan meninggal dunia di dalam sumur rumahnya sendiri, Minggu (18/12/2017) petang.

Sebelumnya, Jamilah menghilang dan dicari keluarga. Setelah dicari ke berbagai tempat, nenek yang tinggal di rumah seorang diri itu ditemukan sudah dalam keadaan terapung di dalam sumur.

Keluarga yang mengetahui kondisi korban meminta tolong kepada warga. Polisi bersama warga lantas bersama-sama melakukan evakuasi jenazah korban.

dr Novi Oktaviana, petugas medis dari puskesmas setempat mengatakan, ada luka lecet pada lengan tangan korban yang diduga karena terbentur bibir sumur.

“Korban meninggal karena kehabisan napas lantaran kemasukan air. Tidak ada tanda-tanda penganiayaan,” ucap dr Novi.

Kapolsek Winong AKP Purwito menambahkan, polisi sempat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengidentifikasi apakah ada indikasi pembunuhan atau murni meninggal dunia lantaran tercebur sumur.

Polisi juga mengecek kemungkinan adanya barang-barang korban yang hilang. Namun, setelah diperiksa, barang milik korban masih ada.

Informasi yang dihimpun dari pihak keluarga, korban memang sudah pikun. “Keluarga sudah merelakan kepergian korban,” tandas AKP Purwito.

Editor : Ali Muntoha

Wanita Diduga Gila Bikin Geger di Puri Pati Karena Bawa Bayi

Beberapa warga mencoba meminta balita yang dibawa ibu-ibu yang diduga gila di kawasan Puri, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang ibu yang diduga terkena gangguan jiwa sempat menggegerkan warga di kawasan Puri, Kecamatan Pati, Sabtu (16/12/2017).

Pasalnya, wanita tersebut membawa bayi yang masih berusia tiga pekan. Tampilannya kusut dan rambutnya gimbal.

Wanita itu membawa kartu identitas bernama Nur Wahyuniati. Di kartu identitas, dia lahir di Rembang dan berdomisili di Jatibarang, Brebes.

Krisbiyanto, salah satu warga mengatakan, perempuan itu terlihat linglung setelah turun dari bus di kawasan halte Puri. Dia sempat berbicara sendiri tentang dunia gaib.

Warga yang panik mencoba merayu dan mengamankan bayi tersebut. Namun, perempuan itu justru marah dan menyebut bayi yang dibawanya merupakan anaknya sendiri.

Petugas kepolisian yang mendapatkan informasi dari warga mencoba untuk mengamankannya ke Mapolsek Pati. Polisi khawatir bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada diri bayi.

“Kami mencoba untuk membawa ke mapolsek untuk penanganan lebih lanjut dan menghubungi petugas di mana ibu itu berdomisili,” kata Kanit SPKT Polsek Pati Aiptu Puryanto.

Ibu tersebut sempat dibawa ke warung untuk diberi makan. Dia juga sempat menyebut bila ingin pulang ke rumahnya di Sumbersari, Kragan, Rembang.

Editor : Ali Muntoha

JMPPK Desak Bupati Pati Tak Perpanjang Izin Pabrik Semen

Ratusan massa JMPPK menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Alun-alun Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan massa dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Alun-alun Pati, Rabu (13/12/2017).

Mereka kembali menuntut agar rencana pendirian pabrik Indocement dihentikan. Berbagai spanduk penolakan pabrik semen dibentangkan, sedangkan massa dari ibu-ibu duduk berdiam di jalanan dengan mengenakan caping bertuliskan tolak pabrik semen.

“Usir Indocement dari Pati. Selamatkan Kendeng, tolak pabrik semen. Batalkan izin PT SMS di Pati,” begitu tulis di salah satu spanduk.

Koordinator lapangan, Bambang Sutiknyo menyampaikan, ada sejumlah tuntutan dalam aksi yang dikemas orasi, tembang, dan teatrikal tersebut.

Pertama, mereka meminta kepada bupati agar tidak memperpanjang izin lingkungan untuk pabrik semen PT Sahabat Mulia Sakti (SMS) yang telah berakhir pada 8 Desember 2017.

Kedua, mereka meminta klarifikasi pernyataan bupati Pati pada saat pertemuan di Wisma Perdamaian Semarang, yang menyatakan bahwa masyarakat Kabupaten Pati yang melakukan aksi demo tolak pabrik semen merupakan orang bayaran.

Dalam aksinya, massa menilai pabrik semen akan merusak lingkungan. Mereka juga meminta kepada pemerintah untuk memajukan daerah Pati melalui sektor nontambang.

Editor : Ali Muntoha

Karang Taruna Kertomulyo Pati Gagas Kampung Facebook

Pemuda Karang Taruna Kertomulyo, Kecamatan Trangkil mengikuti pelatihan technopreneur Facebook Marketing. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Karang Taruna Desa Kertomulyo, Kecamatan Trangkil tengah menggagas “Kampung Facebook”. Hal itu dilakukan untuk merespons perkembangan teknologi yang semakin menguasai berbagai lini kehidupan, termasuk dunia bisnis dan ekonomi.

Sadar akan kondisi itu, mereka menggelar pelatihan technopreneur yang bertujuan melatih anggota karang taruna untuk berwirausaha dengan memanfaatkan teknologi informasi. Mereka tidak ingin pemuda desa ketinggalan zaman.

“Sekarang ini perkembangan e-commerce luar biasa. Kami ingin pemuda melek bisnis online. Jadi tidak cuma pergi ke tambak atau pantai saja, tapi juga bisa memasarkan produk UMKM desa ke kota-kota besar melalui online,” ucap Eko Sudiyanto, penggerak pemuda karang taruna setempat, Senin (11/12/2017).

Untuk membekali para pemuda, dia menggandeng Komunitas Pati Bumi Blogger untuk mengajarkan Facebook Marketing. Lewat pembelajaran tersebut, pemuda Karang Taruna tidak cuma memanfaatkan Facebook untuk update status, tetapi juga berbisnis.

Ketua Pati Bumi Blogger Faqih Hilal menuturkan, ada beberapa fitur Facebook yang jarang diketahui warganet pada umumnya. Misalnya saja fitur Facebook Ads dan Facebook Graph.

Kedua fitur itu bisa menjadi ladang untuk berbisnis bila warganet tahu fungsinya. “Cuma ngiklan Rp 50 ribu di Facebook, kita bisa menjangkau lebih dari 5.000 pengguna Facebook secara tertarget,” kata Hilal.

Langkah itu dinilai jauh lebih mudah dan efisien untuk mempromosikan produk dibanding dengan mencetak dan menyebarkan brosur. Sayangnya, fitur-fitur tersebut tidak banyak diketahui pengguna Facebook.

Ke depan, dia mengajak kepada pemuda setempat untuk membuat Kampung Facebook yang dioptimalkan sebagai upaya untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Dengan cara itu, Facebook bisa digunakan untuk kegiatan yang positif sekaligus untuk bekerja.

Editor: Supriyadi

Panji-panji NU Dikibarkan dalam Kirab Budaya Roudhotul Tholibin Pati

Para santri mengibarkan panji-panji NU dan ulama saat kirab budaya di Desa Trimulyo, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan santri Pondok Pesantren Roudhotul Tholibin mengibarkan panji-panji Nahdlatul Ulama (NU) saat menggelar kirab budaya dengan mengelilingi Desa Trimulyo, Kayen, Minggu (11/12/2017).

Panji-panji NU dikibarkan di tengah kondisi kebangsaan yang terus digerus isu perpecahan. Para santri mendukung kiprah NU untuk berada di garda terdepan mengawal keutuhan NKRI.

Terlebih, kelompok garis keras yang mengatasnamakan Islam terus membuat kegaduhan yang berpotensi meretakkan kebhinekaan. Mereka ingin ikut mengokohkan Pancasila dan NKRI bersama NU.

Ketua Pelaksana Kirab, Agus Minan menuturkan, salah satu cara untuk memperkuat NKRI di antaranya melestarikan tradisi dan budaya daerah masing-masing. Berbekal nilai budaya dan kesadaran untuk saling menghormati, NKRI akan terus berjaya.

“Kirab budaya lokal berbasis pesantren untuk memeringati Haul Kiai Zuhdi Abdul Manan ini menjadi momentum untuk merekatkan masyarakat. Jika tradisi ini digelorakan di semua daerah, NKRI akan semakin kuat karena ukhuwah dan silaturahim terus terjaga,” ucap Agus.

Salah satu santri, Alfin Wijaksono mengatakan, panji-panji yang dikibarkan menjadi cara untuk mengingatkan kembali jasa para ulama yang ikut berkontribusi pada bangsa dan negara.

Sebelum panji-panji NU dikibarkan dan mengelilingi desa, santri menyampaikan pesan moral kepada masyarakat. Setelah itu, mereka mengelilingi desa sembari melantunkan lagu-lagu islami dengan membawa gunungan hasil bumi desa setempat.

Setelah diarak keliling desa, hasil bumi tersebut lantas menjadi rebutan warga. Mereka yakin, hasil rebutan gunungan tersebut membawa berkah.

Selain itu, rebutan gunungan menjadi cara bagi panitia penyelenggara untuk meningkatkan kebersamaan dan keakraban masyarakat. Dengan demikian, kerukunan warga bisa terjalin dengan baik.

Editor : Ali Muntoha

Setelah Laporkan Suami ke Polisi, Istri yang Ditelantarkan Kini Wadul Direktur RSUD Soewondo Pati

Kuasa hukum WW, Maskuri (kiri) menyerahkan berkas laporan dugaan kasus penelantaran istri kepada Direktur RSUD Soewondo Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang ibu rumah tangga berinisial WW (41), warga Widorokandang, Kecamatan Pati, melaporkan suaminya ke polisi karena menelantarkan dirinya selama setahun. Tak hanya itu, sang suami berinisial Al (48) juga dilaporkan ke Direktur RSUD dr Soewondo Pati, dr Suworo, Rabu (6/12/2017).

Pelaporan ke direktur RSUD ini dilakukan lantaran Al merupakan seorang aparatur sipil negara (ASN) yang bekerja di RSUD Soewondo Pati. Pelaporan dilakukan kuasa hukum WW dari lembaga bantuan hukum (LBH) Advokasi Nasional Maskuri.

Menurut Maskuri, AI patut diduga melanggar pasal 3 ayat 4 dan 6 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 53 Tahun 2010 tentang disiplin ASN.

“Terlapor diduga melanggar kewajiban PNS untuk menaati peraturan perundang-undangan. Karena setiap PNS wajib menjunjung tinggi martabat PNS. Perbuatan terlapor diduga keras melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) berupa penelantaran istri,” ucap Maskuri.

Berdasarkan pemahaman tersebut, Maskuri menilai AI harus dikenakan hukuman disiplin PNS. Adapun mekanisme pemeriksaan dan penjatuhan sanksi akan diserahkan sepenuhnya kepada direktur RSUD Soewondo.

Baca : Ditelantarkan Lebih dari Setahun, Istri di Pati Ini Laporkan Suami ke Polisi

Sebelumnya, sang istri juga melaporkan suaminya kepada Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pati. Sebab, AI juga diduga melakukan tindak pidana penelantaran istri selama setahun.

Menanggapi laporan tersebut, dr Suworo mengaku terkejut karena belum tahu permasalahan tersebut sebelumnya. Dia akan membentuk tim khusus untuk mengkaji persoalan tersebut.

“Kami akan membentuk tim untuk memeriksa terlapor. Jika memang terbukti dengan apa yang dilaporkan, sanksi disiplin tentu akan dilakukan sesuai dengan mekanisme,” papar dr Suworo.

Selanjutnya, bila memang terbukti bersalah dan melanggar PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang disiplin ASN, terlapor akan diserahkan kepada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pati.

Editor : Ali Muntoha

Peringati Hari AIDS, Mahasiswa Tebar Seribu Bunga di Pati

Salah satu mahasiswa KMPP membagikan bunga untuk memperingati Hari AIDS sedunia di Alun-alun Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati selalu masuk jajaran tiga besar yang menjadi daerah dengan penderita HIV/AIDS terbesar di Jawa Tengah. Hal itu yang mengundang keprihatinan Keluarga Mahasiswa dan Pelajar Pati (KMPP) Semarang.

Mereka menebar seribu bunga yang dibagikan di kawasan Alun-alun Pati untuk memperingati Hari AIDS sedunia. “Kami prihatin karena temuan dan penyebaran HIV/AIDS di Pati sangat tinggi,” ujar Ketua KMPP Semarang, Agus Kurniawan, Senin (4/12/2017).

Aksi tebar seribu bunga diakui sebatas upaya seremonial untuk memperingati Hari AIDS. Namun, aksi itu menjadi bermakna ketika penerima bunga juga diberi pemahaman tentang sejumlah gaya hidup yang mendekatkan diri pada penularan HIV/AIDS.

“Kita juga berikan pemahaman kepada penerima bunga untuk menghindari gaya hidup yang berpotensi terkena HIV/AIDS. Misalnya saja seks bebas,” ucap Agus.

Tak hanya itu, imbauan untuk tidak menjauhi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) diserukan. Mereka menyarankan untuk menghindari penyakitnya, bukan orangnya.

Bupati Pati Haryanto yang mengikuti agenda tersebut mengatakan, temuan HIV/AIDS di Pati mengindikasikan keberhasilan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan instansi terkait dalam mengidentifikasi penderita HIV/AIDS.

Menurutnya, daerah dengan temuan HIV/AIDS yang sedikit belum tentu bebas HIV/AIDS. Jika tidak terdeteksi, kondisi itu justru dinilai sangat mengawatirkan karena bersifat laten dan tersembunyi.

Karena itu, dia mengapresiasi mahasiswa yang sudah ikut memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS. Dengan pemahaman tersebut, masyarakat akan lebih berhati-hati dan menghindari aktivitas yang berisiko terpapar HIV/AIDS.

Seusai menebar seribu bunga, mereka ikut menandatangani statement bersama untuk stop memberikan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Mereka juga akan menyetop HIV/AIDS dengan perilaku hidup sehat dan menghindari aktivitas yang berisiko HIV/AIDS.

Editor : Ali Muntoha