Jumlah Pasien Gagal Ginjal di Kudus Meningkat

MuriaNewsCom, Kudus – Pasien gagal ginjal di Kudus meningkat dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Data RSUD Loekmono Hadi dari belasan kini pasien gagal ginjal menjadi 28 orang yang melakukan perawatan cuci darah atau Hemodialisa.‎

Suhardi, Kepala ruang Hemodialisa di RSUD Loekmono Hadi Kudus menuturkan, dalam sehari ada sekitar 27-28 pasien gagal ginjal yang menjalani perawatan. Jumlah itu menurutnya meningkat dari dua tahun sebelumnya.

“Dua tahun lalu hanya bisa merawat 10 pasien. Namun sekarang menjadi 27-28 pasien per hari. Itupun banyak yang harus indent (mengantre),” ujar dia saat peringatan Hari Ginjal Sedunia,Kamis (8/3/2018).

Dirinya mengatakan, saat ini di rumah sakit tersebut terdapat 15 alat Hemodialisa. Alat itu digunakan secara bergantian bagi puluhan pasien yang membutuhkan perawatan cuci darah. Untuk sekali perawatan, membutuhkan waktu sekitar 3-5 jam.

Dirinya mengatakan, banyak faktor yang memicu terjadinya gagal ginjal. Dua diantaranya adalah pola hidup tidak sehat dan konsumsi makanan.

“Banyak makanan instan berpengawet, atau minuman suplemen yang berlebihan dan gaya hidup, seperti ingin cantik kemudian suntik vitamin C dosis tinggi,” ungkapnya.

Perlu diketahui, setiap tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Ginjal Sedunia atau World Kidney Day. Dikutip dari laman Kementrian Kesehatan RI, tema Hari Ginjal tahun ini adalah Kindneys and Women Health : Include, Value, Empower. 

Dengan tema tersebut, semua pihak turut mempromosikan akses yang yerjangkau dan adil terhadap perawatan dan pencegahan penyakit ginjal bagi wanita dan anak perempuan diseluruh dunia.

Pada awalnya, penyakit Ginjal kronis tidak menunjukkan gejala yang khas sehingga penyakit ini sering terlambat diketahui. Tanda dan gejala yang timbul karena penyakit Ginjal sangat umum dan dapat ditemukan pada penyakit lain seperti tekanan darah tinggi, perubahan frekuensi buang air kecil dalam sehari, adanya darah dalam urin, mual dan muntah serta bengkak, terutama pada kaki dan pergelangan kaki‎.

Editor: Supriyadi

Bangun Gedung 5 Lantai, Izin RS Mardi Rahayu Kudus Lengkap

RS Mardi Rahayu menyiapkan alat berat untuk melakukan pembangunan gedung lima lantai. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pembangunan gedung lima lantai yang dilakukan RS Mardi Rahayu saat ini mulai digalakkan. Sejumlah persiapan, termasuk  izin pun sudah dinyatakan lengkap jauh-jauh hari sebelumnya.

Humas RS Mardi Rahayu Kudus, Maria Reni mengatakan, sebelum pembangunan gedung baru tersebut, terlebih dahulu pihak rumah sakit sudah mengurus izinnya. Izin tersebut mencakup keseluruhan persiapan pembangunan gedung.

”Izinya sudah ada, mulai dari IMB, penurunan trotoar, andal, bahkan izin HO juga sudah ada. Pokoknya semua lengkap,” katanya melalui pesan WhatsApp (WA), Rabu (23/8/2017).

Menurut Reni, semua izin yang sudah disebutkan itu, sudah ada sebelum pembangunan gedung dimulai. Ini lantaran kepengurusan izin diurus sendiri oleh pihak rumah sakit tanpa melalui perantara ataupun pihak ketiga.

”Karena itu kami berani melakukan pembangunan. Kalau  satu belum lengkap, kami tak bisa melakukan pembangunan,” tegasnya.

Baca Juga : Mardi Rahayu Bangun Gedung 5 Lantai, Bupati Kudus; Pengurusan Izin Bisa Sambil Jalan

Sebelumnya, dalam kegiatan ground breaking 21 Agustus lalu, Bupati mengapresiasi pembangunan gedung medik lima lantai ini. Kelengkapan sarana yang ada diharapkan mampu menjadi solusi layanan kesehatan di Kudus. Sehingga pasien tidak perlu dirujuk ke RS lain di luar Kudus.

“Saya berharap pasien tidak perlu sampai ke Semarang. Cukup kita selesaikan di Kudus,” harapnya pada semua faskes di Kudus termasuk RS milik pemda RSUD dr. Loekmono Hadi.

Semakin meningkatnya layanan kesehatan di Kudus ini menjadi sebuah kemajuan. Bahkan bupati dua periode ini berharap Kudus bisa menjadi pusat dan rujukan wilayah pantura timur, bahkan seluruh pantura.

Editor: Supriyadi

Mardi Rahayu Bangun Gedung 5 Lantai, Bupati Kudus; Pengurusan Izin Bisa Sambil Jalan

Bupati Kudus Musthofa (tiga dari kiri) saat menghadiri pembukaan pembangunan gedung lima lantai RS Mardi Rahayu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – RS Mardi Rahayu Kudus mulai mengerjakan proyek bangunan lima lantai, Senin (20/8/2017). Dalam pembangunan tersebut, Bupati Kudus Musthofa berpesan jika pengurusan izin dapat dilakukan sambil jalan.

“Kalau izinya masih belum diproses, maka proses izin pembangunan bisa dilaksanakan sambil paralel atau sambil jalan. Artinya apa, artinya gedung tetap dibangun sambil mengurus izinnya,” katanya saat sambutan dalam pemancangan tiang pancang pertama.

Bupati memberikan RS kelonggaran lantaran Mardi Rahayu merupakan rumah sakit swasta. Selain itu, kebutuhan akan bangunan yang dibangun sangat dibutuhkan masyarakat.

Dengan jadinya gedung medik sentral, Bupati berharap pengobatan masyarakat ke rumah sakit bakal lebih maju. Sehingga, persoalan kesehatan masyarakat akan berhenti di Kudus, dan tak perlu merambah rumah sakit luar Kudus.

“Jangan sampai lupa, untuk tetap konsisten dalam melayani masyarakat kecil,” pesannya.

Sementara, Direktur Umum RS Mardi Rahayu Kudus dokter Pujianto mengatakan, bangunan anyar dibutuhkan karena sejumlah bangunan sudah berusia 43 tahun dan untuk memenuhi standar akreditasi RS. Sebagai contoh kamar operasi yang harus menggunakan sistem bertekanan positif, serta tersedianya alat Hepafilter untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial.

“Perlu juga penambahan lima kamar operasi menjadi delapan kamar, dukungan central sterile and supply department serta ruang perawatan stroke yang terintegrasi dengan ICU,” jelasnya.

Dalam detail gedung baru nanti, lantai dasar sebagai ruang tunggu kamar operasi dan IVLCU/IRIN serta CSSD. Lantai dua delapan kamar operasi,  dan suport peralatan kamar operasi. Lantai tiga ICU, lantai empat ruang perawatan stroke 25 bed serta lantai lima ruang VVIP sambilan bed.

Di sisi lain untuk pengawas pembangunan dipercayakan CV Aretas Semarang, perencana dari PT Global rancang Selaras Yogyakarta. Sedangkan kontraktor pelaksana PT Tigamas Mmitra Selara dengan masa pengerjaan selama 10 bulan.

Editor: Supriyadi