Pasar Lokal Lesu, Bandeng Juwana Akhirnya Diekspor ke Jepang dan Tiongkok

Panen raya bandeng di suatu tambak, Desa Sambilawang, Trangkil, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Panen raya bandeng di suatu tambak, Desa Sambilawang, Trangkil, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Permintaan bandeng Juwana di sejumlah pasar lokal saat ini melesu. Salah satu penyebabnya, stok bandeng melebihi permintaan pasar, berbarengan dengan ekonomi yang diakui semakin sulit.

Stok bandeng yang berlebih akhirnya diekspor ke sejumlah negara, seperti Singapura, Jepang, dan Tiongkok. Nilai jual bandeng pun menurun, karena petani belum bisa melakukan ekspor secara langsung.

Mereka biasanya menjual ke pabrik yang melakukan ekspor bandeng. Sementara itu, pabrik membeli bandeng dari petani dengan harga di bawah standar. Bila harga bandeng berkisar di angka Rp 13 ribu per kg, pabrik membelinya dengan harga Rp 11 ribu.

“Saat pasar lokal lesu begini, kelebihan stok bandeng yang dipanen dari tambak dilempar ke pabrik. Dari pabrik, bandeng itu nantinya diekspor ke sejumlah negara yang membutuhkan bandeng,” kata Tamzis Al Annas, petani bandeng Juwana, Sabtu (7/5/2016).

Karena itu, ia berharap agar pemerintah bisa memfasilitasi petani supaya bisa ekspor sendiri. Dengan begitu, harga jual bandeng dari petani yang rendah saat dijual ke pabrik ekspor bisa diantisipasi.

Editor: Supriyadi