Siap-Siap Harga Telur di Blora Bakal Melonjak

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Blora – Beberapa komoditi kebutuhan pokok dipastikan akan mengalami kenaikan mejelang ramdan dan lebaran. Salah satunya harga telur ayam. Kenaikan harga telur akan dialamai ketika awal Ramadan.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Blora, Maskur, mengungkapkan bahwa harga telur ayam dipastikan naik pada awal Ramadan. Hal itu disebabkan banyaknya masyarakat yang membutuhkan telur guna membuat penganan khas ketika lebaran.

Namun, pada pertengahan Ramadan, harga telur dipastikan akan normal. Hal itu dikarenakan, kebutuhan masyarakat akan telur sudah mulai menurun. ”Pada awal Ramadan, pasti akan naik. Menginjak minggu kedua bulan puasa biasanya akan turun,” ucap Maskur kepada MuriaNewsCom (20/5/2016).

Dari pantauan MuriaNewsCom, saat ini harga telur ayam di pasaran Blora mencapai Rp 17,8 ribu perkilogram. Meski harganya masih standar, Maskur tak bisa memprediksi kenaikan telur.

”Kami belum tahu sampai berapa akan mengalami kenaikan harga telur,” imbuhnya.

Untuk itu, pihaknya menjanjikan akan selalu memantau segala harga yang kiranya mengalami kenaikan menjelang Ramadan dan lebaran. ”Setiap saat akan kita pantau terus harga kebutuhan pokok,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Jelang Ramadan, Kebutuhan Pokok di Blora Merangkak Naik

Salah satu pedagang sembako di Pasar Induk Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Salah satu pedagang sembako di Pasar Induk Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Menjelang Bulan Ramadan, kebutuhan pokok bagi masyarakat di Blora sudah mulai merangkak naik. Hal itu disebabkan oleh kelangkaan beberapa komoditas di pasaran.

Dari pantauan MuriaNewsCom, beberapa barang yang mengalami kenaikan di antaranya bawang merah, dari yang semula hanya Rp 30 ribu per kilogram kini menjadi Rp 40 ribu per kilogram. Sementara untuk bawang putih, dari yang semula Rp 25 ribu kini menjadi Rp 32 ribu per kilogram.

Tidak hanya itu, kebutuhan lain seperti gula jawa pun mengalami kenaikan. Dari yang semula Rp 12 ribu kini naik menjadi Rp 18 ribu per kilogram.

Sedangkan, untuk harga cabai tak mau kalah dengan harga komoditas yang lain, juga mengalami kenaikan. Harga cabai merah, dari yang semula hanya Rp 15 ribu per kilo kini menjadi Rp 20 ribu per kilo.

Untuk cabai hijau, dari yang semula hanya Rp 7 ribu per kilo, kini menjadi Rp 12 ribu per kilo. Sedangkan untuk harga cabai rawit dari yang semula Rp 7 ribu per kilo kini menjadi Rp 10 ribu per kilo.

Partinah, salah seorang pembeli di Pasar Induk Blora berharap, agar pemerintah bisa mengupayakan agar kenaikan harga kebutuhan pokok di Blora tidak terus mengalami kenaikan. Menurutnya, hal itu bisa mencekik leher masyarakat.

”Cari solusi lah untuk kami rakyat kecil, biar harga-harga tetap bisa dijangkau dan kami tidak merasa keberatan,” ujarnya (19/5/2016).

Terpisah, Maskur, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Blora mengaku, sampai saat ini pihaknya masih melakukan pengecekan harga di pasar.

”Kami tidak melulu memantau harga hanya di Blora, namun, di seluruh wilayah Blora,” tegasnya.

Menurutnya, dalam kenaikan harga akan dipantau terus-menerus, hingga sampai batas ketidak wajaran dalam kenaikan harga, pihaknya baru akan melakukan tindakan langsung berupa operasi pasar.

”Kami juga akan kordinasikan setiap harga kepada pemerintah propinsi,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Sambut Tradisi Ruwahan, Penjual Daging Ayam di Blora Untung Besar

Pedagang daging ayam di Pasar Induk Blora sedang menanti pembeli. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Pedagang daging ayam di Pasar Induk Blora sedang menanti pembeli. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Masuknya bulan Syakban atau ruwah memang menjadi momen tersendiri bagi penjual daging di Kabupaten Blora. Ini lantaran, banyak masyarakat yang membutuhkan daging ayam guna acara slametan tradisi ruwahan jelang masuknya bulan Ramadan.

Herlin (40) salah satu penjual daging ayam potong di Pasar Induk mengaku mendapatkan peruntungan atas banyaknya warga yang mencari daging ayam. Saat-saat seperti ini, dalam sehari ia bisa menjual 60 kilogram. Hal itu naik 100 persen, ketimbang hari biasa ketika ia mampu menjual 30 kilgram dalam sehari.

”Kalau ada pesanan, malah lebih dari 60 kilo dalam sehari,” ujar Herlin, Kamis (19/5/2016).

Meski banyaknya permintaan pada saat ini, tidak ada kenaikan harga dalam pejualan. Ia pun masih menjual daging ayam Rp 28 ribu per kilogram.

Menurut dia, kenaikan harga daging ayam akan terjadi pada pertengahan bulan ramdhan. ”Pada awal bulan Ramadan, biasanya harganya turun. Di pertengahan kenaikan bisa sampai Rp 35 ribu perkilogram,” kata dia.

Meski begitu, di bulan Ramadan harga daging ayam tidak menentu. Kadang langsung naik tinggi, dan tiba-tiba turun drastis. Hanya, ia mengaku tidak pernah kelangkaan stok daging ayam.

”Ya selama ini belum pernah terjadi kelangkaan, ayam yang kami jual pun dari wilayah Blora sendiri,” imbuhnya

Terpisah, Maskur, kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Blora mengungkapkan, bahwa pihakanya mengaku akan memantau harga-harga kebutuhan pokok masyarakat. Menurutnya, jika harga kebutuhan mengalami kenaikan yang sangat tajam, dan tidak bisa di tolerir, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan pihak provinsi.

”Kami juga akan melakukan operasi pasar, ketika harga-harga mengalami lonjakan yang tidak bisa ditolerir lagi,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

Pemkab Blora Tunggu Rapat Koordinasi dengan Provinsi untuk Antisipasi Lonjakan Harga Jelang Ramadan

Kepala Disperindagkop dan UMKM Blora Maskur (MuriaNewsCom)

Kepala Disperindagkop dan UMKM Blora Maskur (MuriaNewsCom)

 

 

MuriaNewsCom, Blora – Tuntutan warga Blora terhadap lonjakan harga sembako yang sering terjadi di Kabupaten Blora membuat Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) UKM Blora, Maskur angkat bicara.

Hanya, dalam menghadapi lonjakan harga menjelang Ramadan dan lebaran, pihaknya belum menemu formula jitu. Pasalnya, dalam mengantisipasi lonjakan harga, pihaknya masih menunggu rapat kordinasi dengan pihak provinsi.

”Rapat kordinasi akan kami lakukan untuk memecahkan masalah lonjakan harga menjelang puasa nantinya. Rapat akan digelar di tingkat propinsi dan kabupaten,” ujar Maskur.

Meski begitu, lanjut Maskur, bulan lalu sudah ada rapat kordinasi awal dalam mengantisipasi lonjakan harga di Solo dengan Provinsi Jawa Tengah. Dalam rapat tersebut, Pemerintah Kabupaten diminta untuk memantau terus harga sembako dan melaporkan lonjakan harga per minggun ke Bupati dan Gubernur.

”Karena itu, saat ini kami memantau setiap pasar yang ada di Blora. Sejauh ini belum ada lonjakan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Jumilah, warga Kunden Blora mengaku sering kesulitan mengatur pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan saat Ramadan tiba. Ia pun meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melakukan tindakan riil untuk menanggulangi hal tersebut.

”Tolonglah, harga sembako diawasi. Terutama kebutuhan pokok di pasaran, biar tidak terjadi lonjakan harga yang sampai memberatkan masyarakat,” keluh Pedagang di Pasar Induk tersebut.

Editor: Supriyadi

BACA JUGA: Warga Blora Tuntut Pemkab Antisipasi Lonjakan Harga Jelang Ramadan

Warga Blora Tuntut Pemkab Antisipasi Lonjakan Harga Jelang Ramadan

Pedagang di Pasar Induk Blora saat melakukan transaksi jual beli dengan pembeli. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Pedagang di Pasar Induk Blora saat melakukan transaksi jual beli dengan pembeli. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Naiknya harga jelang Ramadan memang menjadi penyakit tahunan di setiap daerah, tak terkecuali di Kabupaten Blora. Apalagi, di bulan tersebut, harga sejumlah kebutuhan bahan pokok bisa naik hingga dua ratus persen.

Jumilah, warga Kunden Blora mengaku sering kesulitan mengatur pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan jika Ramadan tiba. Ia pun meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melakukan tindakan riil untuk menanggulangi hal tersebut.

”Tolonglah, harga sembako diawasi. Terutama kebutuhan pokok di pasaran, biar tidak terjadi lonjakan harga yang sampai memberatkan masyarakat,” keluh pedagang di Pasar Induk tersebut.

Ia mengatakan, geliat lonjakan harga sembako sebenarnya sudah mulai nampak sejak satu bulan sebelum Ramadan. Terutama pada kebutuhan primer seperti beras, telur, minyak goreng, dan bumbu dapur.

Karena itu, langkah konkrit harus dilakukan Pemkab sejak dini, supaya masyarakat tak tercekik saat Ramadan tiba. Dengan begitu harga bisa dikendalikan. Bahkan pedagang dan pembeli bisa melakukan transaksi tanpa ada kecurigaan.

”Biasanya, pemerintah bertindak setelah ada lonjakan harga. Cobalah mulai dari sekarang berfikir yang logis. Kalau antisipasi dimulai sekarang, tengkulak yang suka bermain dengan harga pasti akan takut dan tak berani main-main,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Pedagang Minta Dukungan Tokoh Agama Terkait Penolakan Pemindahan Pasar Induk Blora ke Kawasan Gabus

upload jam 21 pasar (e)

Kunjungan pedagang pasar ke tokoh agama di Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Sejumlah pengurus Paguyuban Pedagang Pasar Induk Blora masih terus melakukan penolakan atas kebijakan Bupati Blora, terkait pemindahan Pasar Induk. Bahkan, pedagang terus menggalang dukungan dari berbagai pihak agar kebijakan pemerintah tersebut dibatalkan.

Prionggo, salah satu pengurus Paguyuan Pedagang Pasar Induk mengungkapkan, pihaknya telah menggalang dukungan dari tokoh agama setempat.

“Kami telah bertemu dengan Kiai Muharror Ali (Ketua MUI Blora) pada Jumat kemarin,” ujarnya kepada MuriaNewsCom (16/4/2016).

Dalam pertemuan tersebut, Gogok, sapaan akrab Prionggo mengungkapkan, pedagang meminta tanggapan dari tokoh agama itu, perihal kebijakan pemindahan Pasar Induk. Selain itu, dia juga meminta klarifikasi atas statemen Muharror Ali yang dimuat di salah satu media massa, perihal persetujuan pemindahan Pasar Induk ke kawasan Gabus.

Dalam pertemuan tersebut, Gogok menjelaskan, bahwa apa yang menjadi jawaban Kiai Haror atas pemindahan pasar induk yakni ketika pemindahan membawa manfaat, dia mengiyakan. Namun, ketika pemindahan pasar membawa banyak mudarat, ia menolaknya.

“Kiai Harror mendukung pemindahan, kalau memang ada manfaatnya. Tapi, juga menolak jika mudaratnya lebih besar,” jelas Gogok.

Mengenai statement Kiai Harror yang sebelumnya dimuat di media, Gogok menjelaskan, bahwa Kiai Haror menampik atas statement tersebut. “Dalam pemberitaan saat itu, Kiai Harror telah bertemu dengan pedagang, tapi pada kenyataannya kan tidak pernah, kecuali baru kemarin itu,” jelas Gogok.

Selain itu, Ia juga menyayangkan atas surat yang telah ia layangkan kepada bupati perihal kebijakannya memindah pasar. Surat tersebut, sampai saat ini belum ada tanggapan dari bupati atas permohonan untuk audiensi dengan pedagang.

“Sebelumnya kami telah setuju dengan renovasi pasar menjadi lebih modern. Namun, kok ada kebijakan baru atas pemindahan pasar. Kami sebagai pedagang pun belum pernah diajak rembug, kan harusnya melibatkan kami sebagai pedagang pasar,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Pak Bupati, Pedagang Pasar Induk Blora Ingin Ketemu

Penandatanganan petisi oleh pedagang Pasar Induk Blora atas penolakan pemindahan pasar ke kawasan Gabus. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Penandatanganan petisi oleh pedagang Pasar Induk Blora atas penolakan pemindahan pasar ke kawasan Gabus. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Penolakan pedagang Pasar Induk Blora terhadap rencana pemindahan mereka ke lokasi yang baru, sangat serius. Selain menggalang petisi di antara pedagang, mereka juga berniat meminta dukungan kepada pembeli.

Bukan itu saja. Paguyuban Pedagang Pasar Induk Blora yang menggalang aksi ini, juga akan mengajak pedagang di pasar rel yang rencananya juga akan dipindah.

”Pedagang yang ada di pasar rel pun kalau dipindah ke pasar yang baru, juga tidak mau. Jadi kami akan ajak mereka untuk sama-sama berjuang menolak hal itu. Kami akan beli kain lagi untuk penandatanganan petisi buat pedagang yang ada di pasar rel,’ jelas Prionggo, dari paguyuban.

Ia juga menjelaskan, bahwa sampai saat ini masih belum ada tanggapan dari bupati Blora, atas surat yang dilayangkan Paguyuban Pedagang Pasar Induk. Surat itu isinya meminta audiensi membahas pemindahan pasar induk.

”Surat sudah kami layangkan sejak tanggal 31 Maret lalu. Namun sampai saat ini belum tanggapan dari bupati. Dalam surat tersebut juga ada tembusan kepada SKPD terkait. Yakni Disperindagkop. Termasuk ada juga untuk DPRD dan Polres Blora,” ujar dia.

Sebelumnya, telah ada tanggapan dari Polres untuk memfasilitasi audiensi. Namun, lanjut Prionggo, supaya tidak dianggap urakan, pihaknya masih menunggu kejelasan dari bupati.

”Bisanya kapan bupati audiensi dengan kita, itu kami baru bisa memastikan waktunya untuk audiensi. Sayangnya, sampai saat ini masih belum ada tanggapan,” pungkasnya.

Editor: Merie

Ratusan ”Tanda Tangan” Ini Tolak Pasar Dipindah

Kain yang berisi tanda tangan petisi penolakan pemindahan Pasar Induk Blora ke lokasi baru, yang digalang pedagang. (MuriaNewsCom/Rifki Gozali)

Kain yang berisi tanda tangan petisi penolakan pemindahan Pasar Induk Blora ke lokasi baru, yang digalang pedagang. (MuriaNewsCom/Rifki Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Rencana dipindahkannya Pasar Induk Blora ke lokasi yang baru di kawasan Gabus, Kelurahan Mlangsen, terus menuai penolakan dari pedagang. Mereka bahkan menggelar petisi penolakan.

Para pedagang menandatangani petisi penolakan itu, di atas kain putih sepanjang kurang lebih 5 meter, dengan lebar 1 meter. Aksi itu dilakukan di depan pasar.

”Sampai saat ini sudah ada sekitar 500 lebih tanda tangan dari pedagang. Itu tanpa ada paksaan. Semua murni kehendak pedagang, karena mereka tak ingin dipindahkan,” ujar Prionggo, salah seorang pengurus Paguyuban Pedagang Pasar Induk Blora, kepada MuriaNewsCom, Kamis (7/4/2016).

Rencananya, lanjut dia, tidak hanya pedagang saja yang akan dimintai tandatangan petisi penolakan. Namun, dari pengunjungpun akan dimintai tanda tangan petisi penolakan pemindahan pasar.

”Rencananya, besok kami juga akan menggelar petisi kepada pengunjung pasar. Biar semua juga ikut tanda tangan,” ujar dia.

Prionggo mengatakan, bukan hanya Pasar Induk Blora saja yang kemudian akan dipindah. Tetap juga pasar rel, yang tidak jauh dari lokasi tersebut, rencananya juga akan ikut dipindah.

Karena itu, dirinya juga akan mengajak pedagang pasar rel, untuk menolak pemindahan tersebut. ”Kami akan ajak pedagang di pasar rel, untuk sama-sama berjuang. Jangan sampai mau dipindah,” tegasnya.

Editor: Merie

Lho, Penggunaan Anggaran Pasar Ngawen Blora juga Digeser ke Pasar Lain

Petugas parkir berada di depan Pasar Ngawen Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Petugas parkir berada di depan Pasar Ngawen Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Tahun, ini pembangunan Pasar Ngawen telah dianggarkan dari APBD senilai Rp 2,8 miliar. Namun, berhubung pembangunan Pasar Ngawen mendapat limpahan anggaran atas diundurnya pembangunan pasar Induk Blora senilai Rp 7 miliar, maka pemkab berencana lain.

Maskur, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Disperindagkop) dan UMKM Blora Maskur mengungkapkan bahwa anggaran pembangunan Pasar Ngawen senilai Rp 2,8 miliar itu akan digeser ke pembangunan Pasar Kunduran dan Pasar Randublatung.

“Kalau pasar Ngawen jadi dibangun dengan dana Rp 7 miliar yang sebelumnya untuk membangun pasar induk, dana 2,8 M dari APBD juga harus digeser, tidak dicampur,” kata Maskur.

Maskur merencanakan, jika pasar Ngawen jadi mendapat geseran anggaran Rp 7 M, maka anggaran Rp 2,8 miliar dari APBD juga akan digeser untuk pembangunan pasar lainnya. Yakni pasar Kunduran dan Randublatung. “Kami masih rencanakan, namun inginnya tahun ini sudah dilaksanakan,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Piye Iki? Duit Rp 7 Miliar untuk Pasar Induk Blora, Eh, Pemkab Malah Geser Pengunaanya ke Pasar Ngawen!

Pasar Induk Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Pasar Induk Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora berencana akan mengkomunikasikan ke pemerintah pusat terkait penggeseran anggaran Rp 7 miliar. Yang semula untuk pembangunan pasar Induk Blora, digeser untuk revitalisasi Pasar Ngawen.

Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Disperindagkop) dan UMKM Blora, Maskur.

“Karena relokasi pasar Induk Blora ke areal persawahan lingkungan Gabus, Kelurahan Mlangsen, Kecamatan Blora Kota. Relokasinya masih tahun depan. Makanya kami gunakan uang itu (Rp 7 miliar,red) untuk revitalisasi pasar Ngawen,” kata Maskur kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, alasan penggeseran anggaran tersebut, karena dinilai selama satu tahun ini tidak terpakai. Daripada uang senilai Rp 7 miliar nganggur tak terpakai, kata dia, lebih baik digunakan untuk melanjutkan revitalisasi Pasar Ngawen.

Anggaran sebesar itu cukup untuk membangun dan memperbaiki Pasar Ngawen. Menurutnya, pengalihan anggaran merupakan solusi terbaik daripada harus membiarkan anggaran dalam jangka waktu setahun mendatang.

Dari info yang dihimpun, penataan los bagi pedagang di Pasar Ngawen mendesak dilakukan. Mengingat kondisi saat ini, los yang ada sudah cukup lama dan penuh sesak. Ditambah lagi saat hujan deras mengguyur, dipastikan banyak genangan di sana sini.

Sementara itu, sebelumnya Pasar Ngawen sudah dianggarakan dari APBD. Dengan besarannya sebesar Rp 2,8 miliar. Namun ada tambbahan dana. Harapannya, los yang akan dibangun bisa lebih baik dan lebih luas.

Editor : Akrom Hazami

Pedagang Pasar Induk Blora Tolak Pemindahan Lokasi Pasar Ke Gabus

Kondisi pasar induk Blora pada lantai dua sepi. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Kondisi pasar induk Blora pada lantai dua sepi. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Rencana pemindahan Pasar Induk Blora ke kawasan Gabus, rupanya menuai reaksi penolakan dari pedagang pasar Blora. Sureni (50), salah satu pedagang yang menolak rencana pemindahan pasar.

 

Hal itu ia ungkapkan atas dasar pangsa pembeli yang nanti ketika dipindah di wilayah Gabus menurun ketimbang di pasar yang saat ini ia tempati berdagang. Sepinya pembeli, merupakan alasan yang logis bagi para pedagang.

Baca juga : Pasar Induk Blora Bakal Dipindahkan

Bangun Pasar Induk Baru, Pemkab Blora Belum Tahu Pasar Induk Lama Diapakan

Ini yang Dipersiapkan Pemkab Blora Sebelum Memindahkan Pasar Induk

Sedangkan, Murti (45) pedagang yang lain mengatakan sampai saat ini masih belum ada sosialisasi atas pemindahan pasar. Ia juga mengusulkan, agar  keberadaan pasar induk yang sekarang, lebih baik dibangun lebih bagus daripada harus dipindahkan. Menurutnya, pemindahan pasar berdampak sepinya pembeli.

”Di sana kan jalur kecil, kemungkinan hanya orang Randublatung saja yang lewat. Ya mending di sini saja, lebih baik pasar sini saja yang dibangun ketimbang harus dipindahkan,” jelasnya.

Maskur Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi mengungkapkan, sampai saat ini pihaknya masih menggodok rencana pemindahan pasar. Direnacanakan, tahun ini selesai dalam tahap perencanaan. Setelah selesai perencanaan, pihaknya langsung melelang.

Mengenai potensi penolakan pemindahan pasar dari para pedagang, pihaknya masih belum menyiapkan trik untuk itu. Namun, ia berharap, ketika nanti pemindahan pasar terealisasi, para pedagang bisa legowo atas pemindahan pasar. ”Semoga semuanya lancar, kami akan persiapkan sematang mungkin,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni 

Bangun Pasar Induk Baru, Pemkab Blora Belum Tahu Pasar Induk Lama Diapakan

Pasar Induk Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Pasar Induk Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Pemkab Blora melalui Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Blora rencanakan pasar induk baru di kawasan Gabusan, Mlangsen, Blora nantinya mampu menampung dua ribu pedagang.

Hal itu diungkapkan Maskur, Kepala Dispendagkop Blora, sampai saat ini masih proses perencanaan. Setelah selesai dalam perencanaan, akan langsung dilelang. ”Kami belum bisa memastikan kapan selesai proses perencanaannya,” jelasnya kepada MuriaNewsCom (3/3/2016).

Sedangkan untuk anggaran, ia juga masih belum bisa memberikan jawaban. Hal itu dikarenakan pihaknya masih mengkaji lebih mendalam, perihal kebutuhan pemindahan pasar. ”Saya juga diminta Bupati untuk merencanakan di pasar yang baru ada sub terminalnya, dan tempat untuk bongkar muat,” kata dia.

Sedangkan luasan tanah yang ada di wilayah Gabus, atau dari Blora menuju selatan arah Randublatung sekitar 2,5 kilometer, merupakan tanah inventaris Pemkab. ”Tanah milik Pemkab di sana ada dua tempat. Empat hektare di kanan jalan kalau dari arah Blora, sedangkan yang kiri jalan lebih luas dari itu, saya kurang begitu tahu luasnya,” jelas Maskur.

Terkait pasar lama, Maskur menjelaskan keberadaan pasar lama dirinya masih belum mengetahui secara jelas. Pasalnya, Bupati yang menentukan untuk pemberdayaan pasar yang lama. ”Bisa jadi Bupati yang nanti mengusulkan kalau pasar lama dibuat taman kota,” ungkap Maskur.

Sedangkan, lanjut Maskur, mengenai potensi penolakan pedagang yang nantinya akan dipindah, sampai saat ini dirinya masih belum terfikirkan. Ia berharap agar semua lancar dan ketika selesai proses pembangunan nantinya, semua pedagang bisa menerima dan tidak ada perlawanan.

Editor : Titis Ayu Winarni

Pasar Induk Blora Bakal Dipindahkan

Kondisi Pasar Induk Blora. Rencananya, pasar ini bakal dipindahkan ke kawasan Gabus, Kelurahan Kamolan, Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Kondisi Pasar Induk Blora. Rencananya, pasar ini bakal dipindahkan ke kawasan Gabus, Kelurahan Kamolan, Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Rencana Pemkab Blora bakal merevitalisasi Pasar Induk Blora menjadi lebih modern, dengan bangunan tiga lantai dan dilengkapi eskalator, nampaknya bakal tidak terwujud. Hal ini, menyusul rencana Bupati Blora Djoko Nugroho yang bakal memindahkan pasar induk.

Rencana pemindahan pasar induk, karena dinilai tidak lagi tepat. Sebab, letak pasar induk berada di jantung kota. “Hanya di Blora yang pasarnya terletak di tengah kota. Makanya, rencananya kita pindak ke kawasan Gabus, Kelurahan Kamolan, Blora,” ujar bupati.

Pembangunan pasar yang baru, nantinya akan dilengkapi dengan berbagi fasilitas dan aspek penunjang. Seperti angkutan umum, yang nantinya akan diarahkan ke sana. “Angkutannantinya sampai depan pintu pasar langsung,” jelas Kokok.

Selain itu, Kokok berjanji akan menertibkan keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang berada di Taman Seribu Lampu Cepu.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Ratusan Pedagang Pasar Blora Bubuhkan Tanda Tangan di Atas Kain Putih, Ada Apa Ya?

Aktifitas di Pasar Induk Blora Masih Sepi

Suasana di Pasar Induk Blora yang masih cukup sepi (MuriaNewsCom/PRIYO)

BLORA – Memasuki H+ 5 lebaran, aktivitas di Pasar Induk Blora masih cukup sepi, apalagi di di los bagian dalam. Beberapa kios yang terdapat di dalam pasar masih banyak yang tutup.

”Mungkin sebagian dari temen-temen pedagang masih ada yang liburan sambil silahturahmi ke rumah keluarga, sehingga masih jarang yang pada buka,” ujar Warjimin, salah satu pedagang, Rabu (22/7/2015).

Menurutnya, hal ini biasanya akan berlangsung hingga lebaran ketupattiba. Sebab, biasanya para pedagang juga ikut merayakan lebaran ketupat dan baru berjualan kembali setelah lebaran ketupat.

”Biasaanya nanti mereka bisa aktif jualan lagi setelah sepekan Hari Raya Idul Fitri. Kalau untuk sekarang ini masih sepi,” katanya.

Sementara itu, Wahyuni, salah satu pengunjung pasar mengungkapkan, hanya pasar bagian luar saja yang terlihat ramai. Hal ini dimungkinkan masih banyak para pedagang yang menikmati lebaran.

”Masih banyak para pedagang yang tutup mas, hanya sebagian saja yang buka, itupun juga sepi pembeli,” ungkapnya.

Masih sepinya pasar, membuat ia harus pulang dengan tangan kosong.Sebab kios yang biasanya menjadi langganan untuk membeli bahan-bahan dapur juga masih tutup. (PRIYO/KHOLISTIONO)

Dinkes Blora Kembali “Acak-acak” Pasar dan Toko Modern

f-sidak (e)

Petugas saat melakukan sidak di Pasar Induk Blora (MuriaNewsCom/PRIYO)

BLORA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora Bersama Pihak Satpol PP dan Polsek Blora kembali melakukan sidak di Pasar Induk Blora dan toko modern. Hal ini untuk memastikan kondisi barang yang dijual pedagang dalam kondisi layak konsumsi. Lanjutkan membaca