Pasar Piji Kudus Rampung Dibangun tapi Belum Ada Lokasi Parkirnya

 Warga berada di depan Pasar Piji, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Selasa (3/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)


Warga berada di depan Pasar Piji, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Selasa (3/1/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus menyatakan, pembangunan Pasar Piji, Kecamatan Dawe, telah selesai dibangun, 2016. Meskipun sempat molor, namun rekanan telah menyelesaikan pembangunan sebelum akhir tahun.

Kabid Pengelolaan Pasar pada Dinas Perdagangan Andy Imam Santosa mengatakan, pihaknya telah menyelesaikan pembangunan Pasar Piji. Tapi pihaknya belum menyelesaikan pembangunan lahan parkir.

“Pada bagian depan pasar ada dua lantai. Di lantai dasar akan digunakan sebagai lokasi parkir pengunjung. Namun baru dijalankan di 2017 nanti. Jadi hingga kini memang bagian bawah memang baru dirapikan,” kata Andy kepada MuriaNewsCom. 

Pihaknya membagi pada bagian lantai II digunakan lokasi pedagang untuk berjualan. Pihaknya memetakan untuk wilayah belakang bangunan murni untuk pasar, dengan struktur tanah yang lebih tinggi. Andy menuturkan pembangunan pasar menelan biaya Rp 22,4 miliar, yang terbagi dalam APBD Murni dan juga Perubahan di 2016 lalu.

Pihaknya mengakui pembangunan Pasar Piji sempat molor dari target yang diberlakukan. Dengan kemoloran pembangunannya kisaran empat hari dari waktu kontrak penyelesaian.

Direktur Penyedia Jasa PT Kokoh Prima Perkasa selaku rekanan Pasar Piji, Aris Subagyo mengungkapkan, sesuai dengan kontrak, pengerjaan proyek pasar Piji harus selesai maksimal 18 Desember 2016. Namun karena berbagai hal, maka pihaknya baru merampungkannya pada 22 pada 22 Desember lalu. “Sesuai dengan aturan, maka kami kena denda dari molor empat hari. Dan setelah dihitung, denda yang kami bayar sejumlah Rp 27 jutaan,” ungkapnya.

Dikatakan, pasar tersebut dibangun sesuai dengan RAB pada pembangunan pasar Piji. Bahkan pihaknya juga memberikan garansi selama enam bulan perawatan guna pemeliharaan bangunan pasar. Hanya dalam pengerjaan yang dilakukan dianggap sesuai dengan aturan. Pada bagian bawah lantai dasar tidak disentuh, karena tidak sesuai dengan RAB. Selain itu pada bagian atas juga mengenakan konsep los, sehingga tidak menggunakan penyekat.

“Kami kerjakan sesuai aturan. Dan sekarang proses bersih-bersih pasar sebelum ditempati oleh pedagang. Jadi di pasar masih ada pekerja,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Tarif Parkir di Kudus Banyak yang Tak Sesuai Peraturan Daerah 

parkir

Juru Parkir atau tukang parkir menata kendaraan di Jalan A Yani Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Keberadaan parkir di Kudus selalu membuat resah. Di antaranya adalah keberadaan juru parkir (jukir) yang sukanya menarik iuran parkir melebihi aturan. Kondisi itu hampir dialami di bebebepa tempat, khususnya daerah perkotaan di Kudus.

Seperti dikeluhkan Isrok. Menurut warga Mejobo itu, kawasan kota memiliki tarif parkir yang mahal. Hal itu membuatnya was-was saat hendak parkir di wilayah perkotaan.

“Malahan di kawasan pasar Kliwon. Parkirnya tidak mau meski dikasih Rp 1 ribu. Mereka meminta parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor yang parkir di sana,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, kondisi parkir yang mahal juga dialami saat kegiatan CFD. Parkir di kawasan Simpang Tujuh mencapai Rp 3 ribu. Hal itu lantaran dianggap momen yang jarang sehingga tarif naik.

Selain itu, banyak jukir yang juga tidak mau mengambil kendaraan parkir yang tertutup kendaraan lain. Hal itu membuat warga semakin kesulitan mengambil kendaraan miliknya.

“Sebenarnya kalau membayar Rp 1 ribu tidak masalah. Yang penting pelayanan juga harus bagus dan mau melayani masyarakat,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dishubkominfo Kudus Didik Sugiharto menegaskan jika jukir tidak mau melayani lebih baik tidak usah dikasih uang parkir. Apalagi melihat kondisi tarif parkir yang tinggi.

“Kalau perlu meminta karcisnya. Kalau masih semacam itu maka laporkan saja ke polisi atau tidak usah membayar. Tidak akan  terjadi apa-apa dengan tidak membayar,” ujarnya.

Untuk tahun depan, diagendakan pengelolaan parkir dengan pihak ketiga untuk parkir umum. Hal itu untuk mengejar target parkir umum atau parkir tepi jalan yang tiap tahun tidak tercapai.

Sedangkan parkir khusus di Pasar Kliwon akan diusulkan  adanya portal untuk masuk gedung parkir. Dengan demikian maka tiap masuk akan membayar sesuai dengan aturan. Hal itu selain mengejar target juga dilakukan untuk sesuai aturan pembayaran tarif parkir.

Berdasarkan data, untuk  2016, target naik target Rp 1,04 miliar, dan hingga bulan lalu,  realisasi mencapai sekitar Rp 200 juta. Target yang banyak itu, juga termasuk dalam parkir pasar dan sektor pariwisata.

Di  2014 lalu, target yang diberikan sejumlah Rp 270 juta dengan  realisasi Rp 239 juta (88%). Sedangkan pada  2015 target yang diberikan Rp 395 juta dan realisasi Rp 293 juta (89%).

Sementara untuk parkir khusus juga mengalami kenaikan. Pada  2014 target Rp 727 juta realisasi Rp 685 juta (95%), pada 2015  Rp 2.125 miliar dan bisa terealisasi Rp 992 juta (49%). Sedangkan 2016 target 3.147 miliar dan hingga Juli, mencapai Rp 530 juta.

Editor : Akrom Hazami