Peringati HPSN DLH Jepara Canangkan Tiga Bulan ‎Bebas Sampah 

MuriaNewsCom, Jepara  – Peringati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2018, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara, lakukan kegiatan bersih-bersih pantai, Rabu (21/2/2018). Sebanyak 16 ton sampah dikumpulkan dari berbagai pantai yang ada di Bumi Kartini.

Lulut Andi Ariyanto, Kasi Kebersihan dan Persampahan DLH Jepara mengatakan,sebagian kegiatan tersebut telah dilaksanakan sebelum puncak peringatan HPSN, yang jatuh setiap tangal 21 Februari. Sasaran kegiatan itu, adalah pantai dan tempat umum yang ada di wilayah Jepara.

“Sasarannya diantaranya Pantai Semat, Pantai Tegal Sambi, Pantai Teluk Awur dan Alun-alun Jepara,” kata Lulut.

Menurutnya, dari hasil pembersihan diperoleh tumpukan sampah sebanyak 16 ton. Sampah-sampah tersebut tersebar ditempat-tempat tersebut dan mengganggu pemandangan serta kebersihan lokasi pariwisata.

Ia mengatakan, kegiatan pungut sampah akan dilakukan secara intens selama tiga bulan ke depan. Mulai dari Bulan Februari hingga April 2018. Kegiatan itu sendiri bertajuk TBBS atau Tiga Bulan Bebas Sampah.

“Kegiatan ini akan dilakukan secara berkelanjutan untuk mendukung Jepara bebas dari Sampah pada tahun 2020,” imbuhnya.

Lulut menjelaskan, HPSN diperingati untuk mengenang peristiwa tragis, meledaknya TPS Leuwigajah 2005 lalu. Pada peristiwa itu, 140 orang tewas dan 69 rumah rusak di Cilimus dan Pojok, Jawa Barat, karena tertimpa longsoran gunung sampah yang mencapai 2,7 juta meter kubik.

Oleh karenanya, DLH Jepara menyiapkan rangkaian kegiatan sesuai Surat Edaran Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SE.1/MenLHK/PSLB3/PLB.0/1/2018. Selain pungut sampah, beberapa kegiatan yang akan dilakukan adalah bersih-bersih pantai Ecobrick Goes To School, sosialisasi melalui media sosial dan sebagainya.

“Namun demikian, diperlukan partisipasi aktif dari masyarakat untuk mewujudkan Jepara bebas sampah,” paparnya  Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara kegiatan bersih-bersih pantai, Rabu (21/2/2018). Sebanyak 16 ton sampah dikumpulkan dari berbagai pantai yang ada di Bumi Kartini.

Lulut Andi Ariyanto, Kasi Kebersihan dan Persampahan DLH Jepara mengatakan, kegiatan tersebut sebagian telah dilaksanakan sebelum puncak peringatan HPSN, yang jatuh setiap tangal 21 Februari. Sasaran kegiatannya adalah pantai dan tempat umum yang ada di wilayah Jepara.

“Sasarannya diantaranya Pantai Semat, Pantai Tegal Sambi, Pantai Teluk Awur dan Alun-alun Jepara,” kata Lulut.

Menurutnya, dari hasil pembersihan diperoleh tumpukan sampah sebanyak 16 ton. Sampah-sampah tersebut tersebar ditempat-tempat tersebut dan mengganggu pemandangan serta kebersihan lokasi pariwisata.

Ia mengatakan, kegiatan pungut sampah akan dilakukan secara intens selama tiga bulan ke depan. Mulai dari Bulan Februari hingga April 2018. Kegiatan itu sendiri bertajuk TBBS atau Tiga Bulan Bebas Sampah.

“Kegiatan ini akan dilakukan secara berkelanjutan untuk mendukung Jepara bebas dari Sampah pada tahun 2020,” imbuhnya.

Lulut menjelaskan, HPSN diperingati untuk mengenang peristiwa tragis, meledaknya TPS Leuwigajah 2005 lalu. Pada peristiwa itu, 140 orang tewas dan 69 rumah rusak di Cilimus dan Pojok, Jawa Barat, karena tertimpa longsoran gunung sampah yang mencapai 2,7 juta meter kubik.

Oleh karenanya, DLH Jepara menyiapkan rangkaian kegiatan sesuai Surat Edaran Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SE.1/MenLHK/PSLB3/PLB.0/1/2018. Selain pungut sampah, beberapa kegiatan yang akan dilakukan adalah bersih-bersih pantai Ecobrick Goes To School, sosialisasi melalui media sosial dan sebagainya.

“Namun demikian, diperlukan partisipasi aktif dari masyarakat untuk mewujudkan Jepara bebas sampah,” paparnya.

Editor: Supriyadi

Cuaca Buruk, Kunjungan Wisatawan ke Pantai Jepara Turun

Penyewaan ban, Musim hujan dan cuaca buruk yang sempat melanda Jepara, berefek pada tingkat kunjungan ke wisata pantai di Bumi Kartini. Jumat (8/12/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Musim hujan dan cuaca buruk yang sempat melanda Jepara, berefek pada tingkat kunjungan ke wisata pantai di Bumi Kartini. Hal itu setidaknya nampak pada dua pantai unggulan, yakni Tirta Samudra dan Pantai Kartini.

Manajer Obyek Wisata Pantai Tirta Samudra Mat Khoirum menyebut, jumlah kunjungan wisatawan memang mulai nampak. Akan tetapi ia belum melihat lonjakan yang berarti. 

Hal itu dilihat dari kunjungan pelancong pada hari Sabtu dan Minggu. “Biasanya pada hari tersebut ramai namun sekarang cenderung sepi. Apalagi pada hari biasa, pengunjungnya hanya beberapa saja,” katanya, Jumat (8/12/2017). 

Hal ini diamini oleh manajer Pantai Kartini Joko Wahyu Sutejo. Menurutnya, tren penurunan wisatawan sudah terlihat sejak bulan November sejak cuaca memburuk akibat badai yang sempat melanda pesisir Laut Jepara. 

Kondisi tersebut, diakui Joko pasti membawa pengaruh pada kunjungan wisatawan pantai. Meskipun demikian, seiring cuaca seminggu terakhir yang cenderung bersahabat, beberapa wisatawan sudah mulai datang ke obyek wisata tersebut, meskipun tak banyak. 

“Kalau kondisi laut buruk pasti berpengaruh pada kunjungan wisatawan,” tuturnya. 

Meskipun demikian, pengelola tidak lantas menutup operasional Pantai Kartini. Pantai tetap dibuka untuk wisatawan, dan petugas tiket masih bersiaga. 

Joko menambahkan, selama kunjungan wisatawan turun pihaknya juga berusaha untuk melakukan perbaikan pada beberapa infrastruktur yang rusak diterjang ombak besar. “Untuk memperbaikinya, kami melakukan gotong royong. Fasilitas yang rusak seperti pagar pembatas dan paving blok yang berhamburan,” pungkasnya. 

Editor: Supriyadi

Kunjungan Wisatawan Mulai Normal Usai Ombak Tinggi Landa Pesisir Jepara

Suasana di Pantai Bandengan, mulai dipadati pengunjung usai gelombang dan angin besar yang sempat melanda pesisir Jepara Kamis-Jumat kemarin. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kunjungan wisatawan ke Pantai Bandengan, Jepara berangsur-angsur pulih, setelah pada hari Jumat kawasan wisata pantai tersebut diterpa angin dan ombak tinggi.

Hal itu diungkapkan oleh petugas jaga tiket Purnomo. Menurutnya, kunjungan pelancong memang mulai normal, akan tetapi jumlahnya tak banyak jika dibanding momen-momen libur akhir panjang biasanya. 

“Hari ini boleh dibilang kunjungan lebih banyak dikunjungi ketimbang kemarin (Jumat, 1/12/2017). Namun pengunjung masih trauma akan kondisi hujan disertai angin yang beberapa hari lalu melanda,” katanya, Sabtu (2/12/2017).

Menurutnya, penurunan terjadi sekitar 50 persen dari tingkat kunjungan dibanding hari-hari libur biasanya. Sebagai gambaran, pantai ini dikunjungi lebih kurang 3 ribu perhari orang pada libur Lebaran tahun ini. 

Untuk sekali masuk, pengunjung dikenakan biaya karcis sebesar Rp 5.000 pada hari kerja. Sementara di hari libur, pengunjung harus membayar Rp 7.000 dan jika ada acara, maka tiket dipatok pada harga Rp 10 ribu.

Hal itu diamini oleh Budi, seorang penjaga persewaan ban pelampung di tempat tersebut. Ia menyebut, kunjungan wisatawan jauh menurun.

“Kemarin sempat tidak buka karena cuacanya memang kurang bersahabat dan ombaknya tinggi. Namun kalau ini lumayan, ada satu dua yang menyewa akan tetapi masih jauh kalau dibandingkan libur-libur panjang di akhir pekan pas musim kemarau,” tuturnya.

Ia menambahkan, selain memengaruhi kunjungan wisatawan gelombang tinggi juga membawa sampah ke pinggiran pantai. Selain itu, ratusan teripang juga banyak yang terdampar. 

Seorang wisatawan asal Kota Salatiga Wulan Septi (16) mengatakan cukup menikmati kunjungannya ke Bandengan. Hanya saja, ia mengaku agak risih dengan kehadiran ratusan teripang yang terdampar di pantai. 

“Kalau di Bandengan ombaknya tidak terlalu tinggi. Namun ini sampahnya agak mengganggu dan teripangnya banyak,” ungkapnya. 

Editor : Ali Muntoha

Ombak Bawa Tumpukan Sampah, Pantai Telur Awur Jadi Menjijikan

Sampah plastik yang terbawa arus kencang memenuhi Pantai Teluk Awur, Kecamatan Tahunan-Jepara. Hal ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi pelancong yang menikmati wisata pantai. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Musim angin kencang (baratan) yang kini menerpa pesisir Jepara juga berdampak pada sektor pariwisata pantai. Di Pantai Teluk Awur, Kecamatan Tahunan kini banyak sampah yang terbawa arus menumupuk, mengotori kawasan wisata tersebut.

Hal itu kontan menimbulkan ketidaknyamanan bagi wisatawan yang melancong. Purnomo satu di antaranya. Datang ke Teluk Awur bersama anak dan istrinya, ia mengaku kurang nyaman melihat pantai yang kotor dengan sampah.

Melihat kondisi tersebut, ia hanya bisa terpaku mengurungkan niat bermain-main di air laut.

Hampir di sepanjang pantai, terdapat sampah-sampah plastik. Sementara air laut berwarna cokelat pekat, yang sesekali memuntahkan sampah dan meninggalkannya di daratan. 

“Sangat menyayangkan jika pantai ini dikotori sampah. Mungkin terbawa oleh arus kencang, namun dari pantai kan seharusnya membersihkan sampah-sampah ini, biar tidak mengganggu kenyamanan pengunjung,” katanya, Rabu (29/11/2017).

Kurdi (58) seorang pedagang yang ada di Teluk Awur pun turut merasakan imbasnya. Akibat pantai yang kotor, dagangan dan usaha penyewaan ban yang dikelolanya sepi.

Terkait sampah, ia membenarkan bahwa setiap kali musim baratan seperti ini ada saja sampah yang terbawa ke pantai. Paguyuban pedagang bersama pengelola hotel yang ada di sekitar pantai sebenarnya sudah membersihkan, namun sampah tetap saja berdatangan. 

“Sampah itu ada karena terbawa banjir dari sungai lalu masuk ke laut. Kalau musim kemarau tidak sebanyak itu. Namun karena musimnya seperti ini ya sampah dari daratan terbawa sampai ke sini,” tuturnya.

Menurutnya, kondisi pantai penuh sampah rutin terjadi setiap tahun. Setidaknya tiga bulan, mulai Desember hingga Februari, sampah pasti memenuhi pantai.

“Kita biasanya membersihkan secara bergotong-royong, tahun lalu dapat sampah sampai empat truk. Saat ini kondisinya sudah seperti ini, namun bisa bertambah lagi karena angin belum begitu kencang. Nanti kalau sudah aliran air dari Demak dan kedung yang membawa sampah pasti sampai ke sini,” ungkap Kurdi.

Editor : Ali Muntoha

DPRD Jateng Minta Pengambilan Terumbu Karang di Jepara Dihentikan Sementara

Perwakilan nelayan, LSM lingkungan, DPRD Provinsi, BKSDA dan Pemkab Jepara melakukan pertemuan di Pendapa Jepara, Jumat (11/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Komisi B DPRD Jawa Tengah meminta agar kegiatan pengambilan terumbu karang di perairan Jepara, dihentikan sementara. Kesepakatan itu dirumuskan saat rapat dengar pendapat, antara perwakilan nelayan, LSM lingkungan, DPRD Provinsi, BKSDA dan Pemkab Jepara, Jumat (11/8/2017) di ruang tamu pendapa kabupaten Jepara.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah dr Messy Widiastuti Mars mengatakan, pertemuan tersebut dihelat merespon keluhan warga tentang adanya aktivitas pengambilan terumbu karang di perairan Desa Bondo, Bangsri. 

“Ini pertemuan awal, namun guna merespon peristiwa ini kami meminta agar pengambilan terumbu karang dihentikan terlebih dahulu. Hal itu sampai digelarnya pertemuan yang lebih lanjut nanti di Semarang, bersama pengusaha terumbu karang dan pihak terkait,” ujarnya, seusai pertemuan. 

Baca Juga : Alamak, Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah Pengusaha

Pada pertemuan selanjutnya, Messy menyebut akan mengundang pihak pengusaha terumbu karang. Di sana akan dikaji, seberapa jauh prosedur pengambilan terumbu karang. 

“Kami akan menyuruh mereka (pengusaha) memresentasikan tentang pengambilan terumbu karang yang selama ini mereka geluti. Di mana saja dia mengambil, jumlahnya berapa, sudah sesuai dengan peraturan atau tidak,” urainya. 

Messy mengatakan di Jawa Tengah ada dua daerah yang mengalami kasus serupa, yakni Jepara dan Rembang. Namun di Rembang, pemerintah kabupaten telah membuat peraturan pelarangan pengambilan terumbu karang. 

“Kami mendorong pemkab Jepara untuk bisa melakukan hal yang sama dengan Rembang. Bisa melakukan kajian dengan peraturan daerah di sana. Sehingga keluhan masyarakat tidak terabaikan,” tutur dia.

Baca Juga: Nelayan Bondo Pertanyakan Aktivitas Pengambilan Terumbu Karang di Perairan Jepara

Diberitakan sebelumnya, Koordinator kelompok pengawas masyarakat “Jixnking’s”  Nanang Cahyo Hadi mengadukan masalah pengambilan terumbu karang hias di wilayah perairan Bondo-Bangsri. 

“Kami mempertanyakan hal itu, karena selama ini kami diimbau merawat terumbu karang, namun ada aktivitas tersebut,” kata dia. 

Editor: Supriyadi

Alamak, Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah Pengusaha

Terumbu karang hasil tangkapan UD Sumber Rezeki saat tertangkap basah oleh kelompok pengawas masyarakat “Jinking” Desa Bondo. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Nelayan di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri dibuat berang dengan aktivitas penjarahan terumbu karang yang diduga dilakukan pengusaha yang bernaung di bawah Usaha Dagang (UD) Sumber Rezeki.

Selain merusak ekosistem laut, aktivitas tersebut sangat merugikan nelayan. Ini lantaran, terumbu karang yang diambil akan berdampak pada ikan-ikan kecil karena ekosistem rusak pasca penjarahan.

Nanang Cahyo Hadi, koordinator kelompok pengawas masyarakat “Jinking” Desa Bondo mengeluhkan hal tersebut pada awak media, Jumat (4/8/2017).

Menurutnya, warga nelayan di desa itu bingung dengan aktifitas yang telah berlangsung sejak lama tersebut.

“Kami nelayan disuruh menjaga kelestarian karang, namun disisi lain ada pengambilan karang yang dilakukan oleh sebuah usaha dagang (UD) Rejeki di kawasan kami. Namun saat kami tanyai orang yang beraktivitas mengambil karang, ternyata mereka mengantongi izin,” katanya. 

Ia mengungkapkan, pengambilan karang tersebut dilakukan secara tradisional menggunakan perahu kecil dan linggis. Setelah mengambil karang dari dalam laut, mereka lantas menaruhnya di dalam wadah.

Wadah yang digunakan juga dilengkapi dengan pelindung dari paparan sinar matahari. Hal itu dilakukan supaya terumbu karang tidak mati dan bisa digunakan. Ia pun menduga, terumbu karang tersebut akan dimanfaatkan sebagai penghias aquarium air asin.

“Saat mereka mengambil, lalu terumbu karang itu diwadahi ember yang diberi air agar tidak mati. Selain itu , ketika mengemas mereka juga menggunakan kotak dari gabus,” ungkap dia.

Nanang menyebutkan, pihaknya sempat menangkap basah aktifitas tersebut di perairan sekitar PLTU Tanjung Jati B dan Ujung Pantai Bondo. Hanya, ia tak bisa melakukan apa-apa karena UD tersebut bisa menunjukkan izin.

“Maka dari itu kami ingin kejelasan, apakah boleh mengambil karang sedangkan itu tempat berkembang biak ikan. Apalagi kami ingin menjadikan wilayah tersebut sebagai destinasi wisata bawah air,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

Ombak Pasang, Wisatawan di Pantai Jepara Diimbau Tak Berenang

Wisatawan saat menikmati liburan di Pantai Teluk Awur beberapa waktu lalu. Saat musim baratan seperti ini, wisatawan diimbau untuk tidak berenang di pantai. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Wisatawan saat menikmati liburan di Pantai Teluk Awur beberapa waktu lalu. Saat musim baratan seperti ini, wisatawan diimbau untuk tidak berenang di pantai. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Jepara – Kasat Pol Air Polres Jepara AKP Hendrik Irawan mengingatkan, wisatawan maupun pengunjung pantai yang ada di Jepara tidak melakukan aktivitas berenang. Hal ini terkait dengan musim baratan, yang terjadinya ombak pasang.

Ia mengimbau, para pengunjung pantai tidak melakukan aktivitas berenang di pantai yang ada di Jepara. Pengelola wisata pantai diminta bekerja ekstra untuk mengawasi pengunjung akibat ombak pasang yang sedang terjadi perairan laut Jepara.

“Kami juga mengimbau kepada pengelola wisata pantai untuk memasang papan larangan untuk wisatawan agar tidak melakukan aktivitas berenang. Hal ini untuk mengantisipasi dan meminimalkan adanya peristiwa orang tenggelam dan lainnya,” ujarnya.

Pihaknya, katanya juga rutin melakukan partoli ke lokasi-lokasi wisata pantai untuk memberikan sosialisasi atua imbauan kepada wisatawan terkait dengan adanya musim baratan tersebut. Hal itu, agar wisatawan tak sembarangan untuk berenang.

“Kita harapkan, pengelola wisata pantai juga menyediakan pelampung. Hal ini juga sebagai salah satu prosedur keselamatan yang harus dimiliki,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala UPP Syahbandar Jepara Suripto menyampaikan, kondisi perairan laut utara Jawa Tengah tidak aman bagi pelayaran. Selain tinggi gelombang mencapai maksimal 3 meter, kecepatan angin juga cukup tinggi. Yaitu mulai 8 sampai 30 knot. “Kondisi seperti ini sudah sejak Minggu lalu. Diperkirakan akan berlangsung sampai Minggu depan,” katanya.

Editor : Kholistiono

Asyiknya Menikmati Liburan di Pantai Jepara

pantai 1

Wisatawan menikmati hari liburnya di Pantai Tirta Samudra Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Peringatan hari kemerdekaan RI ke-71 ini, banyak kegiatan yang digelar baik oleh pemerintah maupun masyarakat pada umumnya. Selain banyak yang menggelar berbagai lomba, ternyata banyak pula yang memanfaatkan momen 17 Agustus ini dengan berwisata.

Atik Priscilia asal Kabupaten Demak misalnya, ia mengaku memanfaatkan hari kemerdekaan yang juga tanggal merah dengan berlibur ke pantai Tirta Samudra, Bandengan Jepara.

“Berangkat pagi dari Demak. Ya berlibur memanfaatkan hari libur 17 Agustus,” ujar Atik kepada MuriaNewsCom, Rabu (17/8/2016).

Dia yang berwisata bersama pacarnya tersebut mengaku tak mengikuti kegiatan upacara hari kemerdekaan. Alasannya, di tempat di bekerja tidak ada agenda upacara.

“Tidak ada upacara, jadi libur langsung berangkat berwisata. Lumayan buat refreshing karena jarang-jarang ada waktu libur seperti ini,” katanya.

Pengunjung lain asal Semarang, Amirul mengaku sengaja ke pantai Tirta Samudra untuk menikmati masa libur. Dirinya yang datang bersama teman sekolahnya itu mengaku tak mengikuti upacara penurunan bendera.

“Tadi pagi sudah ikut upacara, tapi sore hari tidak ikut. Soalnya yang ikut penurunan bendera sebagian siswa yang dipilih,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Sampah Berserakan Kotori Objek Wisata Pantai di Jepara

sampah e

Wisatawan tampak mengunjungi salah satu objek wisata pantai di Jepara yang penuh sampah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Selama libur Lebaran, beberapa tempat wisata pantai di Kabupaten Jepara dipenuhi pengunjung. Akibat wisatawan banyak yang membawa makanan dan minuman, kebersihan di kawasan tempat wisata tak mampu dikontrol. Sampah banyak berserakan di sejumlah sudut.

Menanggapi hal itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menjamin kondisi bersih akan terjadi mulai pekan depan. Sebab, sampai saat ini dan diprediksi sampai akhir pekan ini pengunjung terus membanjiri tempat wisata.

“Banyak pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Objek wisata pantai dimungkinkan kembali bersih setelah pekan ini selesai, ya mulai pekan depan,” ujar Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara Zamroni, Kamis (14/7/2016).

Dia menjelaskan, objek wisata pantai akan kembali bersih seperti semula pada Senin pekan depan. Pedagang musiman masih diberi kesempatan berjualan di area objek wisata di sisa hari pekan ini.

“Termasuk kebersihan sampah sudah kami koordinasikan dengan Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan. Petugas kebersihan juga kami tambah,” terangnya.

Dalam laporan yang diterima Pemkab Jepara jumlah wisatawan yang berkunjung menurun dibanding tahun lalu. Penurunan kunjungan wisatawan terjadi di objek wisata Pantai Kartini, Pantai Bandengan, dan Pantai Benteng Portugis. Paling nampak penurunannya di obejk wisata Pantai Bandengan.

Pada perayaan Pekan Syawalan biasanya terjadi lonjakan pengunjung di setiap objek wisata. Dalam sehari, mampu menarik 3.000 wisatawan. Tak pelak, momentum ini kerap dijadikan andalan untuk menarik Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.

 Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Duh, Hanya Lima Pantai di Jepara yang Dikelola Pemkab

Sejumlah pengunjung tengah asyik bermain di pantai Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah pengunjung tengah asyik bermain di pantai Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Bumi Kartini, Jepara selama ini kondang dengan pantai yang indah dan menawan di wilayah Jawa Tengah. Hal itu tidak lepas dari panjangnya pantai yang mencapai 85 kilometer lebih, itu diluar kepulauan Karimunjawa. Namun, ternyata hanya ada lima pantai yang ada di daratan Jepara yang dikelola Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara.

Hal itu diakui Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Pariwisata dan Kabudayaan Jepara, Zamroni Listiaza. Menurut dia, tercatat baru lima pantai yang dikelola oleh Pemkab Jepara. Yakni Pantai Kartini, Pantai Tirta Samudra (Bandengan), Pantai Pulau Panjang, Pantai Pungkruk dan Pantai Benteng Portugis.

“Hanya lima pantai itu yang berkontribusi bagi pemasukan asli daerah (PAD). Sepanjang 2015, PAD dari Pantai Bandengan mencapai Rp 1 miliar lebih, Rp 800 juta lebih untuk Pantai Kartini, Rp 100 juta lebih untuk Benteng Portugis, dan Rp 20 juta untuk Pulau Panjang. Sedangkan Pantai Pungkruk, belum menyumbang PAD lantaran belum dikelola secara maksimal,” ujar Zamroni.

Lebih lanjut dia mengemukakan, adapun pantai-pantai lain yang cukup potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata dikelola oleh pemerintah desa, tempat pantai itu berada. Dalam catatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara, pantai-pantai yang potensial dijadikan wisata jika dirunut dari arah selatan ke wilayah utara Jepara yakni Pantai Semat dan Pantai Teluk Awur di Kecamatan Tahunan, Blebak, Pailus, dan Empu Rancak di Kecamatan Mlonggo, Pantai Ombak Mati (Pantai Bondo) di Kecamatan Bangsri, Pantai Bringin di Kecamatan Kembang, Pantai Suweru dan Pantai Bandungharjo di Kecamatan Donorojo.

”Selama ini memang sudah banyak dikunjungi wisatawan dan sudah cukup populer. Kemungkinan memang lebih banyak lagi pantai di Jepara yang belum terjamah sebagai tempat wisata. Untuk pantai yang sudah cukup terkenal dan dikelola oleh desa setempat, memang tidak menarik retribusi untuk daerah. Teknis pengelolaannya kami serahkan sepenuhnya kepada desa,” terangnya.

Editor: Supriyadi

 

Lautan Jepara Penuh Sampah

Salah satu titik di pantai Teluk Awur yang banyak sampahnya, beberapa waktu terakhir. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu titik di pantai Teluk Awur yang banyak sampahnya, beberapa waktu terakhir. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sejumlah pantai di Jepara berubah jadi “lautan” sampah. Ya,  tumpukan sampah berserakan di sejumlah titik di pantai di Kabupaten Jepara, beberapa waktu terakhir.

Diperkirakan, sampah-sampah tersebut terbawa oleh gelombang air laut selama musim baratan. Di satu lokasi saja, sampah bisa mencapai 2 hingga 3 ton.

Hal itu diakui oleh Kepala Seksi Kebersihan pada Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan (Ciptaruk) Jepara Mulyadi. Menurutnya, musim baratan yang membawa gelombang tinggi selalu menyisakan masalah sampah di sepanjang pantai di Kabupaten Jepara.

“Soal sampah di pantai kami memang mendapatkan tugas untuk mengangkutnya. Di satu titik pantai, jumlah sampah bisa mencapai satu hingga dua truk dump sampah dari berbagai jenis,” kata Mulyadi kepada MuriaNewsCom.

Pihaknya menyiagakan dua truk dump untuk mengangkut sampah. Sedangkan untuk kegiatan pembersihan, merupakan tupoksi instansi lain, atau komunitas maupun warga sekitar yang mengadakan kegiatan bersih pantai.

“Sampahnya dari berbagai jenis, baik dari sampah rumah tangga, plastik hingga cabang pohon. Satu dump mencapai delapan meter kubik atau setara dengan 1,5 ton sampah,” ungkapnya.

Tiap tahun, kawasan pantai yang dibersihkan meliputi Teluk Awur di Kawasan Tahunan hingga ke arah utara di Pantai Ujungbatu hingga wilayah Pungkruk di Kecamatan Mlonggo. Khusus untuk area wisata yang sudah dikelola Pemkab Jepara, proses pembersihan sampah pantai biasanya diserahkan ke masing-masing pengelola. Semua sampah yang terkumpul, lanjut dia, akan dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bandengan.

Editor : Akrom Hazami