Panen di Grobogan, Mentan: 2 Tahun Tak Impor Beras Harus Disyukuri

MuriaNewsCom, Grobogan – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, sejak beberapa tahun terakhir, sudah banyak keberhasilan yang dicapai dalam sektor pertanian. Misalnya, keberhasilan tidak impor beras dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

”Sudah dua tahun berturut-turut kita tidak impor beras. Yakni, tahun 2016 dan 2017,” tegasnya saat panen padi di Desa Menduran, Kecamatan Brati, Grobogan, Selasa (23/1/2018).

Baca: Di Depan Mentan Bupati Kudus Tolak Impor Beras, Begini Reaksi Sang Menteri

Kemudian, pada dua tahun terakhir, juga tidak ada impor jagung dan bawang merah. Sebaliknya, Indonesia malah bisa ekspor bawang merah dan jagung ke sejumlah negara.

”Ini adalah keberhasilan yang luar biasa dan harus disyukuri. Kalau tidak bersyukur maka nikmat ini bisa dicabut Allah SWT,” tegas Amran didampingi Bupati Grobogan Sri Sumarni serta sejumlah pejabat.

Ia menegaskan, pada bulan Januari ini, ada luasan panen padi 303 ribu hektare di Jawa Tengah, termasuk di Grobogan. Hasil panen pada areal seluas ini mencapai 1,8 juta ton gabah atau setara 800 ribu sampai 1 juta ton beras.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berjalan menyusuri hamparan sawah saat melangsungkan panen padi di Desa Menduran, Kecamatan Brati, Grobogan, Selasa (23/1/2018). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Amran menambahkan, harga gabah saat ini juga sudah turun. Beberapa waktu lalu, harga gabah panen mencapai Rp 5.700 dan hari ini menjadi Rp 5.000 per kilogram.

”Ini artinya, gabah panen pada awal tahun ini sudah terserap pasar. Kami juga menghimbau agar beras juga bisa diturunkan Rp 700 per kilogramnya,” jelasnya.

Baca: Safari Panen Raya Padi di Kudus, Mentan Amran Temukan Calon Menteri Pertanian Baru

Selain di Jawa Tengah, panen juga berlangsung di sejumlah wilayah lainnya. Antara lain di Jawa Timur. Pada bula Februari nanti diperkirakan akan berlangsung panen raya diberbagai daerah. Dari kondisi ini maka stok pangan diperkirakan dalam kondisi aman.

Sementara itu, para petani yang hadir dalam kesempatan itu dengan tegas meminta agar pemerintah tidak melakukan impor beras. Sebab hal itu akan berdampak pada harga gabah hasil panen.

Permintaan petani juga didukung Bupati Sri Sumarni. Di hadapan mentan, Sri dengan tegas meminta agar tidak ada impor beras karena petani sudah masuk panen raya.

Editor: Supriyadi

Di Depan Mentan Bupati Kudus Tolak Impor Beras, Begini Reaksi Sang Menteri

MuriaNewsCom, Kudus – Kedatangan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman ke Kudus untuk melakukan panen raya di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan menjadi kesempatan Bupati Musthofa menyerukan penolakan terhadap rencana impor beras.

Orang nomor satu di Kota Kretek itu bahkan terang-terangan menyampaikan keberataannya terhadap rencana yang disinyalir akan merugikan petani tersebut.

“Kami minta tolong (titip pesan kepada Presiden) agar menyetop dan tolak impor beras. Saya sayang kepada petani,” serunya.

Baca: Menteri Pertanian Panen Raya di Berugenjang Kudus

Ia menjelaskan, Kudus merupakan kabupaten terkecil di Jawa Tengah, namun dapat menyumbang 1,62 persen luasan sawah (padi) di Jawa Tengah. Hal itu karena pemkab konsisten agar luasan lahan tidak berkurang di tengah sektor industri.

Luasan padi di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus sendiri mencapai 205 hektare. Di mana 50 hektare telah dipanen dan sisanya 155 hektare belum memasuki penenan. Sedangkan produktifitasnya adalah 7,42 ton per hektare.

Baca: Safari Panen Raya Padi di Kudus, Mentan Amran Temukan Calon Menteri Pertanian Baru

”Kecamatan Undaan saja, memiliki luas lahan sebesar 6.015 hektare. Itu terdiri dari areal sawah seluas 5.742 hektare dan tegalan 273 hektare. Sementara untuk harga Gabah Kering Panen (GKP) saat ini sebesar Rp 5.700. Kalau jadi impor tentu harga akan turun,” ujarnya.

Mendengar permintaan itu, Amran tidak secara langsung mengiyakan pesan Bupati Kudus. Namun demikian, ia meminta para petani untuk meningkatkan produksi. Untuk itu, ia menjanjikan bantuan alat mesin pertanian guna menggenjot panen petani‎.

”Yang pasti kita tingkatkan dulu produktivitas padi. Kami akan membantunya dengan mesin pertanian untuk menggenjot panen petani,” katanya.

Editor: Supriyadi

Menteri Pertanian Panen Raya di Berugenjang Kudus 

MuriaNewsCom, Kudus – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan panen raya di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus, Selasa (23/1/2018). Dalam kesempatan itu, ia didampingi oleh Bupati Kudus Musthofa dan jajaran terkait.

“Ini adalah panenkedua setelah kita melakukan panen raya di Demak. Luasan lahannya cukup luas, semoga produksi ini bisa menjadi stok (di Bulog). Harga gabah sudah mulai menurun karena wilayah-wilayah di Indonesia sudah mulai panen. Kita jaga terus harga pembelian pemerintah (HPP) agar jangan sampai merugikan petani,” ucap Amran.

Sementara itu Bupati Kudus Musthofa menyerukan penolakan terhadap rencana impor beras.

“Kami minta tolong (titip pesan kepada Presiden) agar setop dan tolak impor beras. Saya sayang kepada petani,” serunya.

Dalam kesempatan itu, Amran tidak secara langsung mengiyakan pesan Bupati Kudus. Namun demikian, ia meminta para petani untuk meningkatkan produksi. Untuk itu, ia menjanjikan bantuan alat mesin pertanian guna menggenjot panen petani‎.

Adapun, luas hamparan sawah di Desa Berugenjang ‎adalah 516 hektar, dengan provitas atau hasil produksi 7-8 ton per hektar. Sedangkan varietas padi yang ditanam adalah ciherang.

Editor: Supriyadi

Jelang Panen Raya Pemerintah Impor Beras, Begini Sikap DPRD Jateng

MuriaNewsCom, Semarang – Rencana pemerintah yang akan mengimpor beras terus mendapat tentangan dari berbagai pihak. Terlebih rencana beras impor itu akan didatangkan menjelang panen raya padi.

Anggota Komisi B DPRD Jateng, Riyono menyebut, beberapa daerah di Jatang akan mulai penan raya padi mulai akhir Januari dan Februari 2018. Menurut dia, rencana impor di kala petani hendak panen raya akan berdampak buruk pada harga beras lokal.

“Impor beras tersebut akan merugikan petani lokal,  yang berimbas pada jatuhnya harga beras lokal. Itu sama saja dengan membuat petani menjadi miskin dan makin menangis,” katanya dalam keteranganya, Rabu (17/1/2018) di Kota Semarang.

Dikatakan Riyono, rencana  impor beras  500 ton oleh pemerintah akan berdampak luas. Khususnya di Jateng yang telah dicanangkan sebagai lumbung pangan nasional dengan program peningkatan produksi dan pemasaran beras unggulan.

Disisi lain, kata Riyono, berdasarkan data dari Kementerian Pertanian (Kementan) hingga saat ini mengklaim Indonesia mengalami surplus beras sebesar 329.000 ton pada Januari 2018. Data BPS juga menunjukkan sepanjang 2017 produksi beras mencapai 2,8 juta ton, sementara tingkat konsumsi beras hanya sekitar 2,5 juta ton.

“Kami meminta agar pemerintah tidak melakukan impor beras karena akan merusak harga beras lokal serta harga gabah petani menurun menurun,” ujarnya.

Jika mau melakukan impor beras, imbuh Riyono, dia meminta pemerintah membuat perencanaan yang matang dengan menggunakan sumber data yang baik dan valid.

“Semangatnya untuk menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani, sehingga rencana impor tidak akan merugikan dan membuat petani semakin sengsara,”pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Panen Bareng Pejabat Kementan, Petani Ngeluk Grobogan Minta Pemerintah Tak Impor Beras

MuriaNewsCom, GroboganPara petani di Desa Ngeluk, Kecamatan Penawangan, Grobogan meminta pemerintah agar tidak merealisasikan rencana untuk mengimpor beras. Hal itu disampaikan petani saat melangsungkan panen raya padi MT I bersama sejumlah pejabat dari Kementerian Pertanian (Kementan), Kamis (11/1/2018).

”Saat ini, petani sudah mulai panen padi. Jadi, pemerintah sebaiknya tidak perlu impor beras yang bisa berdampak pada harga panen,” kata Ketua Gapoktan Suko Makmur Desa Ngeluk Suwaji.

Menurutnya, petani siap mendukung program tiada hari tanpa panen yang sedang dicanangkan kementerian pertanian. Sebagai bukti, panen yang dilakukan saat ini, waktunya lebih awal dari biasanya.

Hal ini bisa dilakukan setelah ada bantuan mesin pompa dari kementerian untuk kelompok tani. Adanya bantuan pompa menyebabkan kebutuhan air pada lahan seluas 265 hektare bisa diambilkan dari sungai Lusi.

”Adanya pompa memudahkan kami untuk mendapatkan air sehingga bisa tanam dan panen lebih awal dari biasanya. Sebelumnya, kami panen padi MT I pada akhir Februari dan baru kali ini bisa panen pada awal Januari. Untuk itu, kami minta dukungan bantuan mesin pompa lagi supaya lebih banyak areal sawah yang bisa diairi,” kata Suwaji yang disambut tepuk tangan petani lainnya.

Kepala Balitbang Pertanian Kementrian Pertanian Muhammad Syakir (baju putih) melangsungkan panen padi di Desa Ngeluk, Kecamatan Penawangan, Kamis (11/1/2018).
(MuriaNewsCom/Dani Agus)

Padi yang ditanam petani hampir semuanya adalah varietas Ciherang dengan produksi sekitar 8 ton per hektare. Harga gabah pada saat panen mencapai Rp 5 ribu per kilogram.

Dalam kesempatan itu, Kepala Balitbang Pertanian Kementrian Pertanian Muhammad Syakir sempat melakukan penyerahan bantuan benih padi varietas Impari 30 atau Ciherang plus secara simbolis pada petani.

”Ini adalah varietas padi terbaru. Kelebihan varietas ini, umurnya lebih pendek, lebih tahan hama dan genangan, dan hasilnya lebih tinggi,” kata Syakir.

Ia menyatakan, dalam rangka menyukseskan program tiada hari tanpa panen, pihaknya juga akan meningkatkan bantuan peralatan pertanian pada petani. Mulai alat untuk persiapan lahan, semisal traktor, pompa air hingga peralatan panen dan pasca panen.

”Dengan dukungan peralatan dan sarana modern maka sudah bisa dilihat dampaknya. Yakni, hampir tiap bulan petani bisa panen padi. Seperti saat ini, ada petani yang panen pada bulan Januari. Sebelumnya, belum pernah petani disini panen pada awal tahun,” katanya.

Editor: Supriyadi

Panen Lebih Awal, Petani Jambean Kidul Pati Untung Besar

MuriaNewsCom, Pati – Para petani di Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Pati, untung besar dalam penan raya kali ini. Panen padi yang terbilang lebih awal, berdampak pada harga padi yang masih tinggi. Terlebih, jumlah padi yang dihasilkan sangat besar.

Ketua P3A Sumber Makmur, Kamelan mengatakan, kualitas gabat hasil panen raya saat ini sangat bagus. Tercatat, per ubinan dengan ukuran 2,4 x 2,5 meter sejumlah 5,6 kilogram. Dan per hektare, mampu diperoleh padi Gabah Kering Panen (GKP) sejumlah 8,9 ton.

“Padahal, rata-rata sebelumnya untuk tiap hektare hanya kisaran 7-8 ton saja. Dan kini dapat melebihi,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (11/1/2018).

Baca: Ribuan Petani Jakenan Kidul Pati Penen Raya

Selain jumlah yang besar, kata dia, harga padi kini juga menggembirakan. Persatu kwintal padi, dibandrol dengan harga Rp 520 ribu bingga Rp 540 ribuan. Jumlah tersebut termasuk tinggi, lantaran biasanya diangka Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribuan saja.

Sementara, biaya semai padi hingga panen per hektare berkisar Rp 9 jutaan. Hanya saja jumlah tersebut belum termasuk sewa lahan. Meski begitu, tiap satu hektare sawah berhasil mendapat penghasilan kotor hingga Rp 40 jutaan.

Melihat fakta itu, ia menilai, panen lebih cepat ketimbang petani lainya sangat menguntungkan. Karena, saat panen bersamaan bakal memiliki stok banyak dan mempengaruhi harga padi yang lebih murah.

Editor: Supriyadi

Ribuan Petani Jakenan Kidul Pati Penen Raya

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan petani di Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Pati, melakukan panen raya, Kamis (11/1/2017). Panen raya dilaksanakan oleh kelompok tani, Kodim Pati, Polsek Margorejo, dan pejabat dari OPD Pemkab Pati.

Ketua P3A Sumber Makmur Desa Jambean Kidul, Kamelan mengatakan, penen raya dilaksanakan di lahan persawahan seluas 200an hektare. Jumlah tersebut baru separuh dari jumlah lahan yang dimiliki kelompok tani Sember Makmur

“Sebenarnya lahan pertanian di sini mencapai 400an hektare lebih. Namun yang sudah tua dan siap panen baru sekitar 200an hektare,” katanya kepada MuriaNewsCom usai pelaksanaan panen raya.

Ia menyebutkan, pelaksanaan panen raya kali ini dilakukan dengan cara dua cara. Pertama menggunakan mesin panen combine dan kedua menggunakan alat jenis blower.

Untuk combine, kata dia, digunakan untuk lahan yang tidak berlumpur dan lahan lapang. Sisanya menggunakan alat blower. Khususnya untuk lahan pertanian yang sulit dijangkau.

Penyuluh pertanian Desa Jambean Kidul, Halim menambahkan jumlah persis lahan pertanian yang ada di Desa Jambean Kidul mencapai 421 hektare. Dengan luasan tersebut, merupakan wilayah pertanian yang sangat luas, khususnya di tingkat kecamatan.

“Di sini ada tujuh kelompok tani. Dan panen raya dilaksanakan disini selain luas, karena disini merupakan wilayah Pati yang panen lebih awal ketimbang wilayah lainya, ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Panen Padi Melimpah, Petani di Mulyoharjo Pati Disarankan Jual ke Bulog

Petani Mulyoharjo tengah memanen padi jenis Inpari 32 yang didampingi babinsa, Rabu (30/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani di Desa Mulyoharjo, Kecamatan Pati berhasil memanen padi dengan hasil yang cukup melimpah. Per hektare, mereka rata-rata bisa menghasilkan lebih dari delapan hingga sebelas ton gabah.

Asri Wibowo, misalnya. Lahan sawah seluas 2 haktare mampu menghasilkan 16 ton. Sementara Hepy dan Mustofa bisa menghasilkan 3,8 ton gabah di lahan seluas sepertiga hektare.

Babinsa Desa Mulyoharjo Serda Herna Bakri yang mendampingi panen raya tersebut menyarankan untuk menjual gabah ke Bulog. Pasalnya, Bulog yang menjadi representasi pemerintah memiliki tugas untuk membeli hasil panen dari petani untuk kembali disalurkan kepada masyarakat.

“Kami sarankan untuk dijual ke Bulog. Dari Bulog, hasil panen petani akan kembali didistribusikan kembali kepada masyarakat. Itu menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan,” kata Serda Herna, Rabu (30/8/2017).

Di Mulyoharjo, lahan pertaniannya diakui cukup luas. Aset berupa lahan sawah yang luas dengan ditopang saluran irigasi air yang baik diharapkan bisa meningkatkan produktivitas petani, sehingga bisa menyejahterakan petani itu sendiri.

Ia juga menyarankan agar petani tidak ragu untuk terus berkoordinasi dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL), mantri tani, babinsa dan kelompok tani. Sebab, mereka saat ini mendapatkan mandat untuk melakukan pendampingan dalam program Upaya Khusus Swasembada Pangan Nasional.

Adapun jenis padi yang dipanen petani Mulyoharjo sebagian besar Inpari 32. Jenis padi tersebut diakui punya kualitas yang baik untuk stok pangan nasional, karena bisa meningkatkan produksi gabah kering panen (GPK) hingga dua kali lipat.

Editor : Ali Muntoha

Panen Raya, Petani Wedarijaksa Harapkan Harga Gabah Naik

Kelompok Tani Handarbeni bersama dengan jajaran Koramil Wedarijaksa dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) panen raya padi di Desa Margorejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kelompok Tani Handarbeni bersama dengan jajaran Koramil Wedarijaksa dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) panen raya padi di Desa Margorejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Handarbeni, Desa Margorejo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati melaksanakan panen raya padi, Jumat (22/1/2016).

Mereka bisa memanen dengan hasil 7,1 ton per hektare, meski sempat dilanda kekeringan pada November 2015 lalu. Karena itu, mereka bersyukur bisa panen dengan hasil yang cukup melimpah.

”Ini panen pada masa tanam pertama yang ditanam pada November 2015 lalu. Meski sempat dilanda kekeringan panjang, tetapi kami sebagai petani masih bisa bersyukur karena panen cukup melimpah,” kata Sujono, Ketua Kelompok Tani Handarbeni kepada MuriaNewsCom.

Kendati begitu, mereka masih menghadapi satu tantangan, yakni menyangkut soal harga. ”Sampai saat ini harga pembelian pemerintah (HPP) belum ditetapkan. Jadi, kami menjual harga gabah atau beras sesuai dengan harga di pasaran,” tuturnya.

Ia juga berharap agar harga gabah dan beras tidak anjlok. Pasalnya, biaya operasional untuk menanam padi hingga panen diakui sangat tinggi.

”Kami berharap agar pemerintah menetapkan HPP dengan harga yang tinggi, karena biaya operasional petani benar-benar tinggi. Mulai dari pupuk, obat-obatan pertanian sekarang naik semua,” harapnya.

Editor : Titis Ayu

Harga Gabah Membaik, Petani di Kudus Bernafas Lega

ni di Undaan, Kudus terlihat memanen padi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

ni di Undaan, Kudus terlihat memanen padi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS –Petani di Kabupaten Kudus saat ini bisa bernafas lega, karena harga gabah tidak mengalami penurunan. Untuk per kwintalnya, saat ini masih di kisaran harga Rp 480 ribu.

Rokim, salah satu petani yang ada di Desa Medini, Undaan misalnya,dirinya mengaku sudah menjual padinya kepada pembeli dengan sistem tebas. Di mana, pembeli langsung membeli padi milik petani di sawah.

“Saat ini saya sudah diberikan uang muka dari pembeli padi sebesarRp. 1 juta. Nanti, ketika padinya sudah dipetik, yakni sekitar seminggu kedepan, pembeli  akanlangsung melunasi. Alhamdulillah, saat ini harga padi masih bagus . Yakni kisaran Rp480 ribu per kwintalnya,” katanya.

Menurutnya, masih membaiknya harga gabah tersebut, katanya salah satunya dipengaruhi faktor cuaca yangcukup cerah. Meskipun terkadang ada hujan,itu pun hanya sesekalisaja.

Menuruntya, dirinya sudah melakukan transaksi penjualan padi dua hari lalu. Pembeli sepakat dengan harga yang sudah diminta, yakni kisaran Rp 480 ribu. Pembelinya sendiri, katanya masih dari wilayah Undaan.

“Lahan saya ini satu kedok atau seluas 1.400meter. Pembeli menghargai padi saya satu kedok tersebut Rp 6 juta.Selain itu saya juga sudahmenerima uang muka Rp 1 juta. Namun, untuk pemotongan padinya sekitar 5 hingga 7hari kedepan,” ujarnya.

Selain itu, pembeli padi dari Glagahwaru, Undaan Rohman mengatakan,pihaknya berharap cuacanya bisa cerah selalu.Sebab jika cuaca baik jugaakan menstabilkan harga.

“Cuaca cerah semacam ini kan bisa menjemur padi dan memprosesnyamenjadi beras dengan cepat. Sehinga padi yang baru di panen juga tidak menumpuk terlalu lama di gudang penggilingan padi,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Padi Ambruk, Petani Undaan Kudus Terancam Merugi

Salah seorang petani di Undaan sedang mengikat padi miliknya yang ambruk karena hujan dan angin (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah seorang petani di Undaan sedang mengikat padi miliknya yang ambruk karena hujan dan angin (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Setelah terjadi angin kencang disertai hujan lebat yang menerjang wilayah Kudus beberapa hari yang lalu menyebabkan padi milik petani di Undaan, Kudus ambruk. Akibatnya, banyak petani terancam merugi.

Dari pantuan MuriaNewsCom, pada Rabu (6/1/2016) ada beberapa lahan tanaman padi milik petani yang roboh. Di antaranya di Desa Terangmas, Kecamatan Undaan.

Seperti penuturan Sobirin, petani di Desa Terangmas, dia menyatakan bahwa setiap padi milik petani yang berada di sawah sebagian roboh.

“Untuk menghindari pembusukan padi yang ambruk, maka kami harus mengikatnya. Supaya padi yang belum sempat di panen ini tidak membusuk terkena lumpur ketika  ambruk,” ujarnya.

Porkah, yang juga petani di tempat tersebut menyampaikan, jika padi yang ambruk tersebut tidak segera diikat, maka potensi kerugian petani akan semakin besar. Karena, padi itu terkena lumpur dan bisa cepat membusuk.

“Selain busuk, Petani juga akan rugi. Sebab saat ini harga padi untuk satu kedok (1.400meter) bisa mencapai Rp 6 juta. Akan tetapi bila padinya ambruk dan tidak diikat, maka pembeli akan menghargai sekitar Rp 5,5 juta atau bahkan bisa kurang,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Bisa Kelola Tanaman di Musim Kemarau, Kini Petani Blora Panen Raya

Melimpahnya hasil pertanian Desa Greneng Kecamatan Tunjungan meski pada musim kemarau. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Melimpahnya hasil pertanian Desa Greneng Kecamatan Tunjungan meski pada musim kemarau. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Di musim kermarau warga Greneng masih bisa tersenyum manis. Terbukti dengan panen raya yang diselenggarakan oleh warga Desa Greneng, Kecamatan Tunjungan pada (1/12/2015) merupakan bukti melimpahnya hasil pertanian yang ada di Desa Greneng. Panen Raya dihadiri oleh Camat Tunjungan Heni Ariyanto, Danramil 04/Tunjungan Kapten Inf Darmanto, Ka UPTD Kecamatan Tunjungan Teguh Santoso, Kades Greneng Yasir, Gapoktani Suyanto, Babinsa, Ketua Persit Ranting Tunjungan serta Petani setempat.

Ketua Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan) Suyanto menjelaskan, luas lahan yang di panen sekitar 58 hektare dengan hasil panen berkisar 6 sampai 7 ton gabah per 1 hektare. Dikarenakan pengairan lahan pertanian ini mengandalkan air dari waduk Greneng. ”Padi ini jenis siherang. Airnya dari waduk Greneng dan hasilnya bisa mencapai 6 sampai 7 ton gabah per 1 hektare,” Kata Gapoktan Suyanto.

Di saat musim kemarau tidak semua desa bisa panen raya, karena petani Desa Greneng mengikuti aturan yang disampaikan oleh babinsa dan PPL saat penyuluhan dan pelatihan pertanian. Baik cara tanam, menggunakan sistem jajar legowo, penggunaan pupuk berimbang, dan pengairan, akhirnya panen raya bisa terlaksana.

”Manfaat pendampingan upaya khusus oleh TNI ini sangat banyak, sehingga panen raya hasilnya cukup bagus dan ada peningkatan. Dan yang pasti ini merupakan anugerah luar biasa dari Allah SWT,” ungkap Danramil 04/Tunjungan Kapten Inf Darmanto.

Ka.UPTD Kecamatan Tunjungan Teguh Santoso menambahkan, atas nama dinas pertanian Blora mengucapkan terima kasih dan luar biasa sekali, dalam musim kemarau ini para petani bisa mengelola pertaniannya dengan baik.

”Kegigihan petani dan semangatnya, patut untuk dijadikan contoh dan teladan,” ujar Teguh Santoso. (RIFQI GOZALI/TITIS W)

Ini Kisah Sedih Petani Kedelai di Gabus Pati

 

Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Melati II menunjukkan kedelai varietas Grobogan yang berhasil mereka panen. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Melati II menunjukkan kedelai varietas Grobogan yang berhasil mereka panen. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Ironis, di tengah kesuksesan petani di Desa Babalan, Kecamatan Gabus menghasilkan kedelai varietas Grobogan berkualitas, tetapi minim perhatian dari pemerintah. Usai panen, mereka bingung mencari pengairan sawah untuk masa tanam pertama.

Hal ini mengingat kekeringan masih mengancam petani di Gabus. Bahkan, air dari Sungai Silugangga yang menjadi satu-satunya harapan tidak bisa diandalkan karena airnya asin.

“Justru kalau digunakan untuk menyiram, tanamannya mati karena air Sungai Silugangga saat ini asin akibat kekeringan. Air dari Waduk Kedung Ombo saat ini kami tungu-tunggu kedatangannya untuk menyongsong masa tanam pertama,” kata Ketua Kelompok Tani Melati Putih II, Suparno kepada MuriaNewsCom.

Namun demikian, mesin yang akan digunakan untuk menyedot air di sungai sudah rusak dan tidak layak pakai. Karena itu, ia berharap agar pemerintah bisa memperhatikan nasib petani di Desa Babalan.

“Memang sudah ada mesin untuk menyedot, tetapi sudah tidak layak pakai. Kalau belum ada mesin sampai air Waduk Kedung Ombo mengalir ke Desa Babalan, kami terancam tidak bisa menggunakan air untuk kebutuhan masa tanam pertama,” keluhnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Petani Kedelai di Gabus Pati Berrharap Harga Kedelai Setara Harga Benih

 

Kades Babalan Nining Sudaryati menunjukkan kadelai varietas Grobogan yagn dipanen warganya. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Kades Babalan Nining Sudaryati menunjukkan kadelai varietas Grobogan yagn dipanen warganya. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Wilayah Kecamatan Gabus memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kedelai terbesar di Kabupaten Pati. Kendati kekeringan panjang menerpa hingga tiga bulan, tetapi mereka masih bertahan dan menghasilkan panen sesuai harapan.

Jika petani di Desa Gabus sempat panen kedelai 1,8 ton per hektare, petani di Desa Babalan berhasil panen dengan menembus angka 2,2 ton per hektare.

“Alhamdulillah, petani kedelai di Babalan bisa panen 2,2 ton per hektare dengan kualitas yang bagus. Kedelai Glycine Max atau varietas Grobogan ini butirannya besar-besar. Kami senang dengan hasil ini,” kata Kades Babalan Nining Sudaryati kepada MuriaNewsCom, Kamis (10/9/2015).

Karena itu, ia berharap kepada pemerintah agar kedelai yang dipanen bisa dihargai setara dengan harga benih. “Kami benar-benar berharap agar jerih payah petani yang menghadapi kekeringan tetapi bisa menghasilkan kedelai yang berkualitas diapresiasi dengan membelinya seperti harga benih,” harapnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)