Petani di Pati Tuntut Harga Gabah Kering Rp 4.500

Seorang petani tengah memanen padinya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang petani tengah memanen padinya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah petani di Pati menuntut agar harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering di tingkat penggilingan bisa menyentuh angka Rp 4.500 per kilogram. Hal itu dianggap sudah sesuai dengan biaya operasional pertanian yang cukup tinggi.

Hal itu dikatakan Edi Sutrisno, petani asal Gembong yang juga Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Wilayah Jawa Tengah. “Kalau harga gabah kering giling itu mencapai Rp 4.500, itu saja petani sebetulnya belum untung. Itu hanya cukup untuk mengembalikan biaya operasional,” ujar Edi kepada MuriaNewsCom, Rabu (30/3/2016).

Tuntutan itu disuarakan, setelah pemerintah menetapkan HPP gabah kering panen senilai Rp 3.700 dan gabah kering giling Rp 3.750. HPP itu dinilai jauh dari biaya rasional petani, mulai dari menanam, perawatan hingga panen.

“Petani itu sumber kehidupan yang memasok makanan pokok bagi masyarakat. Kalau tidak dihargai, petani bisa mati. Harga gabah kering Rp 3.700 itu jauh dari harapan. Bila dihitung, harga gabah Rp 4.500 saja petani baru bisa bernapas, belum itung-itungan soal untung,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi itu semakin diperparah dengan kenyataan bahwa petani tidak bisa menjual gabah kering dengan harga Rp 3.700. Mereka biasanya menjual kepada tengkulak atau mitra Bulog di bawah HPP.

Kondisi itu yang dinilai membuat petani semakin terjepit dan menjerit. “Jual gabah sesuai dengan HPP saja itu sudah jauh dari harapan. Belum lagi kondisi di lapangan kenyataannya tengkulak atau mitra Bulog selalu membeli gabah di bawah HPP. Petani benar-benar tidak dihargai,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Begini Cara Petani di Pati Kembalikan Kekayaan Varietas Padi di Indonesia

Sejumlah petani Mustika sedang memanen padi varietas beras hitam di Desa Kedumulyo, Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah petani Mustika sedang memanen padi varietas beras hitam di Desa Kedumulyo, Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Diakui atau tidak, Indonesia pernah memiliki 8.281 jenis varietas budidaya dan 84 varietas liar hingga menjadi negara penyumbang keragaman benih padi terbesar kedua pada bank benih International Rice Research Institution (IRRI).

Sayangnya, revolusi hijau yang terjadi pada sekitar 1986 mengalami penurunan drastis keragaman jenis varietas padi. Sedikitnya 75 persen lahan sawah di Indonesia ditanami varietas hibrida dan cenderung meninggalkan varietas lokal.

Saat ini, hanya ada ratusan varietas padi di Indonesia. Hal itu mengundang keprihatinan dari Kelompok Tani Mustika. Berawal dari Pati, mereka ingin mengembalikan kekayaan varietas padi di Indonesia.

“Saat ini kami sudah mengembangkan budidaya padi dengan ragam varietas, seperti mentik wangi, beras merah dan hitam. Meski itu pasarnya eksklusif dan butuh pasar tersendiri, tetapi itu sudah menjadi upaya untuk meningkatkan kembali kekayaan jumlah varietas padi yang diawali dari Pati sebagai bumi taninya Indonesia,” ujar pegiat Kelompok Tani Mustika, Maesah Anggni kepada MuriaNewsCom, Selasa (22/3/2016).

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Mustika Suroto menambahkan, upaya itu juga meningkatkan kedaulatan pangan dan kedaulatan petani. Beras hitam, misalnya. Beras yang masih sangat minim dikembangkan di Pati itu punya kandungan karbohidrat yang tinggi dan nol gula.

“Kualitas karbohidrat tinggi dan nol gula itu tentu banyak diburu pembeli, sehingga harganya cukup mahal. Belum lagi, kami kembangkan beragam varietas padi dengan metode organik. Kalau harga mahal, petani kesejahteraannya meningkat. Dari sini, kedaulatan petani akan semakin terlihat,” katanya.

Editor : Kholistiono

Beras yang Sempat Dilarang Beredar di Luar Kerajaan Ini Dikembangkan di Pati

Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Mustika tengah memanen padi dari varietas beras hitam di Desa Kedumulyo, Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Mustika tengah memanen padi dari varietas beras hitam di Desa Kedumulyo, Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Varietas beras hitam yang dulu sempat dilarang beredar di kalangan masyarakat Cina karena khusus menjadi makanan di lingkungan kerajaan saat ini mulai dikembangkan di Pati. Petani mulai sadar bila harga beras hitam cukup mahal sehingga berpotensi meningkatkan ekonomi petani.

Salah satu kelompok tani yang berhasil panen beras hitam adalah Kelompok Tani Mustika di Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo, Pati. Panen beras hitam berhasil dilakukan, setelah mereka sempat memanen beras merah dan beras mentik wangi.

Pegiat kelompok tani padi Mustika, Maesah Anggni kepada MuriaNewsCom, Selasa (22/3/2016) mengatakan, petani saat ini harus bisa meningkatkan pendapatan dan ekonomi dari hasil pertanian yang dikelola. Harga beras hitam yang cukup tinggi dinilai bisa mewujudkan misi tersebut.

“Kalau ingin penghasilan tinggi, varietas padi yang ditanam juga harus punya nilai jual yang tinggi. Misalnya, beras mentik wangi, beras merah yang saat ini diburu untuk penderita diabetes dan kesehatan, serta beras hitam yang sangat kaya akan manfaat,” tuturnya.

Dari ketiga varian tersebut, kata dia, beras hitam harganya paling tinggi. Satu kilogram saja, saat ini beras hitam dihargai hingga Rp 40 ribu. Hal itu yang membuatnya akan mengembangkan beras hitam di Pati.

Editor : Kholistiono

Petani Desa Blaru Pati Sukses Panen Padi Varietas Ciherang Hingga 7,4 Ton

Mantri tani Kecamatan Pati Sukamto (kiri) bersama dengan penyuluh pertanian lapangan Sri Ratnawati dan Babinsa Koramil Pati Kota  S Nababan tengah mengubin padi di Desa Blaru. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Mantri tani Kecamatan Pati Sukamto (kiri) bersama dengan penyuluh pertanian lapangan Sri Ratnawati dan Babinsa Koramil Pati Kota  S Nababan tengah mengubin padi di Desa Blaru. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Petani di Desa Blaru, Kecamatan Pati sukses memanen padi varietas Ciherang dengan menghasilkan gabah kering basah sebanyak 7,4 ton per hektare, Senin (8/2/2016).

Varietas itu dikenal dengan kualitas berasnya yang pulen dengan hasil panen lebih cepat ketimbang varietas IR 64 yang selama ini mendominasi pasar beras di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

“Padi varietas Ciherang dulunya hasil persilangan padi varietas IR 64 terhadap sejumlah galur IR lainnya. Dulu, IR 64 sangat populer tetapi sekarang masih berkualitas Ciherang,” ujar Sukamto, Mantri Tani Kecamatan Pati kepada MuriaNewsCom.

Pihaknya masih bisa bersyukur karena masih bisa panen di tengah petani di berbagai daerah di Kabupaten Pati sempat dilanda musibah, mulai dari hama tikus yang terus menyerang tanpa ampun, kekeringan panjang, hingga banjir.

“Desa Blaru aman dari serangan tikus. Bahkan, pasokan air cukup meski sempat dilanda kekeringan karena masih ada sedikit stok dari Waduk Seloromo. Bahkan, saat musim hujan dan banjir di mana-mana, daerah kami masih aman,” tukasnya.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Petani Pati Sukses Panen Padi Mentik Wangi Organik 9,7 Ton

Bupati Apresiasi Petani di Pati yang Kembangkan Pertanian Organik

Bupati Pati Haryanto ikut panen raya yang dilakukan Kelompok Tani Mustika. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto ikut panen raya yang dilakukan Kelompok Tani Mustika. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto memberikan apresiasi kepada Kelompok Tani Mustika di Desa Kedumulyo, Sukolilo, Pati untuk terus mengembangkan pertanian dengan sistem organik. Hal itu diharapkan bisa memasok kebutuhan beras di Pati yang lebih sehat.

 

“Selain berasnya lebih sehat, nilai jual beras organik jauh lebih mahal ketimbang beras yang ditanam dengan sistem konvensional. Dengan begitu, kesejahteraan petani semakin meningkat,” ujar Haryanto kepada MuriaNewsCom, usai menghadiri panen raya padi organik di Desa Kedumulyo, Rabu (3/2/2016).

Karena itu, ia mendorong agar Kelompok Tani Mustika bisa mengembangkan pertanian organiknya tak hanya di Kedumulyo, tetapi juga daerah lainnya. Pasalnya, pertanian organik saat ini masih terbilang sangat minim di Pati.

“Pertanian organik di Pati masih minim. Kami berharap agar Mustika bisa mengembangkan dan melebarkan lahan pertanian organik. Kalau ada yang komentar aneh-aneh karena tidak menggunakan pakai pupuk kimia, itu biasa jangan patah semangat. Terus kembangkan pertanian organik,” pesannya.

Ia juga menambahkan, pertanian dulu dengan sekarang berbeda. Kalau pertanian dulu sebatas digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saat ini pertanian bisa menjadi lahan bisnis.

“Pertanian organik bisa menjawab kebutuhan bisnis di bidang pertanian. Harga berasnya selangit, meski butuh perjuangan yang tidak mudah,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Petani Pati Sukses Panen Padi Mentik Wangi Organik 9,7 Ton

Bupati Pati Haryanto ikut panen raya padi mentik wangi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto ikut panen raya padi mentik wangi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Beras mentik wangi konon dipercaya mampu menurunkan kadar gula darah dan cocok dikonsumsi penderita diabetes. Tak hanya itu, mentik wangi juga dipercaya mengandung segudang khasiat ketimbang beras pada umumnya.

Hal itu yang membuat petani yang tergabung dalam petani Mustika di Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo semangat untuk menanam padi varietas mentik wangi dan berhasil memanen hingga 9,7 ton per hektare.

Ketua Kelompok Tani Mustika Suroto mengatakan, padi varietas mentik wangi yang dipanen hasil dari penanaman dengan model system of rice intensification (SRI). Dengan penanaman model SRI, mereka mengaku bisa lebih hemat air dan hemat benih, tetapi hasil panen justru melimpah.

”Kalau sistem konvensional, petani biasanya menanam bibit padi dari beberapa bulir. Beda dengan model SRI, satu bulir padi bisa tumbuh menjadi tanaman besar dengan hasil melimpah. Di daerah yang minim air, penanaman padi model SRI sangat cocok diaplikasikan,” kata Suroto kepada MuriaNewsCom, Rabu (3/2/2016).

Tak hanya itu, Suroto mengaku bila kelompoknya itu menanam dengan cara organik, tanpa pupuk dan pestisida berbahan kimia. Karena itu, ia berharap agar kerja keras kelompok taninya untuk menanam padi organik dengan sistem SRI mendapat perhatian pemerintah.

”Tidak mudah menanam padi tanpa pupuk dan pestisida di tengah-tengah pertanian yang serba menggunakan bahan kimia. Butuh penyesuaian dan proses yang cukup lama, butuh kesabaran dan ketelitian. Alhamdulillah, hari ini kami bisa panen 9,7 ton per hektare,” harapnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Panen Raya, Petani Wedarijaksa Harapkan Harga Gabah Naik

Kelompok Tani Handarbeni bersama dengan jajaran Koramil Wedarijaksa dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) panen raya padi di Desa Margorejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kelompok Tani Handarbeni bersama dengan jajaran Koramil Wedarijaksa dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) panen raya padi di Desa Margorejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Handarbeni, Desa Margorejo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati melaksanakan panen raya padi, Jumat (22/1/2016).

Mereka bisa memanen dengan hasil 7,1 ton per hektare, meski sempat dilanda kekeringan pada November 2015 lalu. Karena itu, mereka bersyukur bisa panen dengan hasil yang cukup melimpah.

”Ini panen pada masa tanam pertama yang ditanam pada November 2015 lalu. Meski sempat dilanda kekeringan panjang, tetapi kami sebagai petani masih bisa bersyukur karena panen cukup melimpah,” kata Sujono, Ketua Kelompok Tani Handarbeni kepada MuriaNewsCom.

Kendati begitu, mereka masih menghadapi satu tantangan, yakni menyangkut soal harga. ”Sampai saat ini harga pembelian pemerintah (HPP) belum ditetapkan. Jadi, kami menjual harga gabah atau beras sesuai dengan harga di pasaran,” tuturnya.

Ia juga berharap agar harga gabah dan beras tidak anjlok. Pasalnya, biaya operasional untuk menanam padi hingga panen diakui sangat tinggi.

”Kami berharap agar pemerintah menetapkan HPP dengan harga yang tinggi, karena biaya operasional petani benar-benar tinggi. Mulai dari pupuk, obat-obatan pertanian sekarang naik semua,” harapnya.

Editor : Titis Ayu

300 Kelompok Tani di Pati Bakal Terima Hibah pada 2016

Bupati Pati Haryanto mencoba alat pertanian harvester setelah diserahkan kepada Kelompok Tani Margo Makmur Margorejo beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto mencoba alat pertanian harvester setelah diserahkan kepada Kelompok Tani Margo Makmur Margorejo beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sedikitnya 300 kelompok tani di Kabupaten Pati bakal menerima hibah pada 2016. Tak seperti tahun sebelumnya, mereka saat ini sudah berbadan hukum sehingga sudah siap menerima hibah.

“Sekitar 300 kelompok tani di Pati pada November 2015 lalu sudah mengajukan badan hukum ke Kementerian Hukum dan HAM. Waktu masih masa transisi itu, mereka belum bisa menerima dana. Sekarang, mereka sudah siap menerima hibah karena sudah berbadan hukum,” kata Kepala Dispertanak Pati Mochtar Effendi kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, ada empat pos besar alokasi dana dari Dispertanak Pati yang disalurkan melalui kelompok tani. Salah satunya, pembangunan jaringan irigasi tersier, rehabilitasi pembangunan fisik di pertanian yang rusak, pembangunan sumber air seperti sumur yang dangkal, embung atau pengadaan pompa penyedot air untuk irigasi, dan pembangunan akses jalan di sawah untuk petani.

Saat ditanya soal dana anggaran dari dinas dan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa) 2015, pihaknya masih belum bisa memastikan secara pasti. Pasalnya, dana tersebut tidak hanya digunakan untuk kepentingan pada sektor pertanian saja, tetapi juga sektor pangan dan peternakan. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Kelompok Tani di Pati Banyak Tak Berbadan Hukum, Serapan Anggaran di Dispertannak Rendah

Sejumlah traktor diserahkan kepada petani beberapa bulan yang lalu di Dispertanak Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah traktor diserahkan kepada petani beberapa bulan yang lalu di Dispertanak Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Salah satu alasan serapan anggaran Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Peternakan (Dispertanak) Pati rendah, antara lain masih banyaknya kelompok tani yang belum berbadan hukum. Akibatnya, dana hibah untuk kelompok tani tidak sepenuhnya tersalurkan.

Kepala Dispertanak Pati Mochtar Affendi mengakui hal itu. Ia mengatakan, rendahnya penyerapan anggaran sepanjang 2015 disebabkan dana hibah untuk kelompok tani yang tidak sepenuhnya tersalurkan.

“Masih banyak kelompok tani di Pati yang masih belum berbadan hukum. Jadi, dana hibah tidak bisa sepenuhnya tersalurkan. Memang ada beberapa kegiatan yang tersendat dari dinas ini. Itu disebabkan masalah administrasi kelompok tani yang mestinya harus berbadan hukum,” kata Mochtar kepada MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, dana paling besar dari Dispertanak diperuntukkan kelompok tani. Saat kelompok tani masih belum berbadan hukum, akhirnya dana tidak tersalurkan dengan baik yang pada akhirnya menyebabkan serapan anggaran di Dispertanak rendah. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)