Ratusan Hektare Tanaman Padi Siap Panen di Jakenan Pati Terendam Banjir

Sejumlah anggota TNI AD ikut mengangkut hasil panen padi yang terrendam banjir di Desa Tondomulyo, Jakenan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah anggota TNI AD ikut mengangkut hasil panen padi yang terrendam banjir di Desa Tondomulyo, Jakenan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Pati dalam beberapa hari terakhir membuat sejumlah sungai meluap. Akibatnya, areal persawahan di sepanjang bantaran Sungai Silugangga terendam banjir.

Padahal, ratusan hektare sawah yang berada di sepanjang bantaran sungai tersebut terdapat tanaman padi yang siap panen. Akibatnya, para petani terpaksa memanen padi lebih awal dari waktu yang mestinya kurang beberapa hari lagi.

Mereka khawatir, tanaman padi cepat membusuk dan biji padi yang terendam keluar akar dan tunas bila tidak segera dipanen. “Kalau dibiarkan terendam banjir, biasanya biji padi akan keluar akar dan tunas karena tanamannya membusuk. Jadi, saat tahu sawah kami terendam banjir, kami langsung memanennya,” kata Sutarmin, petani asal Desa Tondomulyo yang memiliki lahan sawah seluas lima hektare.

Selain di Desa Tondomulyo, banjir juga merendam di kawasan persawahan Desa Ngastorejo seluas seratus hektare. Para petani pun berbondong-bondong segera memanen padi agar kerugian tidak terlalu banyak. Jika tidak demikian, mereka terancam tidak bisa memanen padi sama sekali.

Menanggapi hal tersebut, Danramil 05/Jakenan mengatakan, banjir yang merendam ratusan hektare sawah di Kecamatan Jakenan memang tidak bisa dihindari. Selain faktor alam, banjir disebabkan lokasi geografis persawahan yang berada di bantaran Sungai Silugangga.

Pihaknya berharap, petani bisa segera mengolah sawah untuk masa tanam berikutnya. Dengan demikian, sawah bisa segera ditanam kembali di tengah musim penghujan dengan ketersediaan air yang cukup. Namun, petani mesti jeli agar benih yang ditebar bisa aman dari banjir.

Editor : Kholistiono

Sawah Terendam Luapan Sungai Silugangga, Petani di Jakenan Pati Terpaksa Panen Dini

Anggota TNI ikut membantu panen padi di Jakenan yang terendam banjir akibat luapan Sungai Silugangga. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Anggota TNI ikut membantu panen padi di Jakenan yang terendam banjir akibat luapan Sungai Silugangga. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Musim panen padi di wilayah Kecamatan Jakenan, Pati saat ini tidak bisa maksimal karena terendam banjir luapan dari Sungai Silugangga. Sejumlah petani yang khawatir, memanen padi secara prematur meski belum terlalu tua.

Hal itu diakui Pulyono, petani asal Desa Tondomulyo. “Panen kali ini mengalami hambatan, karena padi sebetulnya belum waktunya untuk dipanen. Tinggal nunggu beberapa hari lagi. Namun, karena ada luapan dari Sungai Silugangga, terpaksa panen disegerakan,” ucap Pulyono, Senin (9/1/2017).

Panen padi di atas lahan seluas 3 hektare tersebut menggunakan alat mesin perontok padi jenis blower. Tidak sendirian, Pulyono saat memanen padinya dibantu puluhan anggota TNI, sembilan anggota Koramil 05/Jakenan dan sepuluh anggota siaga Kodim 0718/Pati.

“Saya berterima kasih, saat ini anggota TNI banyak terlibat dalam dunia pertanian. Meski sempat sedih karena padi terpaksa dipanen dini akibat luapan Sungai Silugangga, tetapi kehadiran para prajurit TNI bisa memberikan semangat lagi untuk terus berupaya yang terbaik. Di sini memang sudah langganan banjir, karena areal persawahan yang dekat dengan sungai besar,” tuturnya.

Komandan Koramil 05/Jakenan Kapten Inf Kambali menuturkan, anggota TNI memang diberikan tugas untuk ikut menyukseskan ketahanan pangan di setiap daerah. Langkah panen dini dilakukan supaya tanaman padi tidak membusuk, lantaran terendam banjir luapan dari Sungai Silugangga.

“Padi sebetulnya sudah tua, tapi biasanya masih menunggu beberapa hari lagi agar lebih maksimal. Berhubung terendam banjir dan untuk menghindari supaya tidak membusuk, panen diri menjadi salah satu solusi. Kami berharap, petani tidak putus asa dan terus bersemangat bercocok tanam untuk meningkatkan swasembada pangan nasional. Terlebih, Pati menjadi salah satu daerah dengan ketahanan pangan terbaik tingkat nasional,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Petani Desa Blaru Pati Sukses Panen Padi Varietas Ciherang Hingga 7,4 Ton

Mantri tani Kecamatan Pati Sukamto (kiri) bersama dengan penyuluh pertanian lapangan Sri Ratnawati dan Babinsa Koramil Pati Kota  S Nababan tengah mengubin padi di Desa Blaru. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Mantri tani Kecamatan Pati Sukamto (kiri) bersama dengan penyuluh pertanian lapangan Sri Ratnawati dan Babinsa Koramil Pati Kota  S Nababan tengah mengubin padi di Desa Blaru. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Petani di Desa Blaru, Kecamatan Pati sukses memanen padi varietas Ciherang dengan menghasilkan gabah kering basah sebanyak 7,4 ton per hektare, Senin (8/2/2016).

Varietas itu dikenal dengan kualitas berasnya yang pulen dengan hasil panen lebih cepat ketimbang varietas IR 64 yang selama ini mendominasi pasar beras di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

“Padi varietas Ciherang dulunya hasil persilangan padi varietas IR 64 terhadap sejumlah galur IR lainnya. Dulu, IR 64 sangat populer tetapi sekarang masih berkualitas Ciherang,” ujar Sukamto, Mantri Tani Kecamatan Pati kepada MuriaNewsCom.

Pihaknya masih bisa bersyukur karena masih bisa panen di tengah petani di berbagai daerah di Kabupaten Pati sempat dilanda musibah, mulai dari hama tikus yang terus menyerang tanpa ampun, kekeringan panjang, hingga banjir.

“Desa Blaru aman dari serangan tikus. Bahkan, pasokan air cukup meski sempat dilanda kekeringan karena masih ada sedikit stok dari Waduk Seloromo. Bahkan, saat musim hujan dan banjir di mana-mana, daerah kami masih aman,” tukasnya.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Petani Pati Sukses Panen Padi Mentik Wangi Organik 9,7 Ton

Bupati Apresiasi Petani di Pati yang Kembangkan Pertanian Organik

Bupati Pati Haryanto ikut panen raya yang dilakukan Kelompok Tani Mustika. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto ikut panen raya yang dilakukan Kelompok Tani Mustika. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto memberikan apresiasi kepada Kelompok Tani Mustika di Desa Kedumulyo, Sukolilo, Pati untuk terus mengembangkan pertanian dengan sistem organik. Hal itu diharapkan bisa memasok kebutuhan beras di Pati yang lebih sehat.

 

“Selain berasnya lebih sehat, nilai jual beras organik jauh lebih mahal ketimbang beras yang ditanam dengan sistem konvensional. Dengan begitu, kesejahteraan petani semakin meningkat,” ujar Haryanto kepada MuriaNewsCom, usai menghadiri panen raya padi organik di Desa Kedumulyo, Rabu (3/2/2016).

Karena itu, ia mendorong agar Kelompok Tani Mustika bisa mengembangkan pertanian organiknya tak hanya di Kedumulyo, tetapi juga daerah lainnya. Pasalnya, pertanian organik saat ini masih terbilang sangat minim di Pati.

“Pertanian organik di Pati masih minim. Kami berharap agar Mustika bisa mengembangkan dan melebarkan lahan pertanian organik. Kalau ada yang komentar aneh-aneh karena tidak menggunakan pakai pupuk kimia, itu biasa jangan patah semangat. Terus kembangkan pertanian organik,” pesannya.

Ia juga menambahkan, pertanian dulu dengan sekarang berbeda. Kalau pertanian dulu sebatas digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saat ini pertanian bisa menjadi lahan bisnis.

“Pertanian organik bisa menjawab kebutuhan bisnis di bidang pertanian. Harga berasnya selangit, meski butuh perjuangan yang tidak mudah,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono