Ramadan, Petani di Gebog Kudus Lebih Memilih Panen Padi pada Malam Hari

Beberapa petani saat melakukan panen. Pada Ramadan ini, petani lebih memilih panen pada malam hari (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Beberapa petani saat melakukan panen. Pada Ramadan ini, petani lebih memilih panen pada malam hari (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Masa panen padi untuk musim tanam (MT) II di sebagian wilayah di Kabupaten Kudus tahun ini bertepatan dengan Ramadan. Untuk menyiasati hal itu, sebagian petani melakukan panen pada malam hari.

Seperti halnya di Dukuh Kalilopo, Desa Klumpit, Kecamatan Gebog. Sebagian petani yang pada hari biasa melakukan panen padi pada siang hari, namun, bertepatan dengan Ramadan ini, mereka panen padi pada malam hari.

Salah seorang warga setempat Saifuddin Nawawi (28) mengatakan, panen padi terpaksa dilakukan malam hari, sebab, para buruh panen berpuasa pada siang hari. “Kalau siang hari, pekerja yang panen puasa, makanya dilakukan pada malam hari saat tidak berpuasa,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, pekerja merupakan warga desa setempat. Mereka secara berkelompok memilih tetap berpuasa pada siang hari,dan memanen padi pada malam harinya. Selain alasan puasa, tenaga juga lebih terisi saat malam hari, lantaran sudah berbuka. Proses panen biasanya dimulai Salat Isya.”Kalau pun panen dimulai sore, itu paling ngarit (proses potong padi) saja. Biasanya dilakukan habis Ashar. barulah proses selanjutnya dilakukan pada malam harinya,” ungkapnya.

Ia katakana, panen pada malam hari memang untuk menghindari terik matahari, Apalagi di hamparan sawah yang berjarak beberapa kilometer dari rumah,membutuhkan tenaga yang lebih lagi. Saat panen, penerangan yang digunakan juga seadanya, yakni senter yang terpasang pada kepala untuk menerangi saat panen saja. Itu pun tidak semua pekerja melainkan hanya beberapa saja.

Sementara, untuk proses angkut hasil panen yang sudah terkumpul di sak, dibawa menggunakan sepeda motor. “Kalaupun hujan nggak masalah, mereka yang memilih untuk mengerjakan pada malam hari,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Belasan Hektare Tanaman Padi di Mejobo Kudus Roboh Diterjang Angin Kencang

Kondisi padi di Mejobo yang ambruk akibat hujan deras dan angin kencang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kondisi padi di Mejobo yang ambruk akibat hujan deras dan angin kencang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Belasan hektare tanaman padi di Desa Payaman dan Gulang, Kecamatan Mejobo, Kudus ambruk. Hal ini akibat hujan disertai angin kencang pada Kamis (18/2/2016) sore.

Sutar, warga Desa Payaman RT 1 RW 3 mengatakan, sore kemarin, sekitar pukul 16.30-17.30 WIB, hujan sangat deras yang disertai angin. Hal itu menyebabkan sebagian tanaman padi milik petani ambruk. “Untuk punya saya sendiri itu ada sekitar 100 meter tanaman padi yang ambruk,” katanya.

Ia katakan, padi yang ambruk rata-rata berumur 2 hingga 2,5 bulan. Bahkan ada beberapa padi yang sudah siap panen. “Selain Desa Payaman, sawah yang berada di Desa Gulang juga mengalami
hal yang sama,” ujarnya.

Maseno (45) warga Desa Gulang mengatakan, diperkirakan padi yang ambruk  tersebut mencapai 14hektare yang terdapat di  dua desa.”Padi yang ambruk ini,rata-rata yang berada ditepi Jalan Lingkar Ngembal Kudus,” ungkapnya.

Terkait kondisi itu, petani kemudian mengikat padi, agar tidak membusuk terkena air ataupun lumpur. “Supaya tidak membusuk ya diikat,”  pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Harga Gabah Membaik, Petani di Kudus Bernafas Lega

ni di Undaan, Kudus terlihat memanen padi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

ni di Undaan, Kudus terlihat memanen padi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS –Petani di Kabupaten Kudus saat ini bisa bernafas lega, karena harga gabah tidak mengalami penurunan. Untuk per kwintalnya, saat ini masih di kisaran harga Rp 480 ribu.

Rokim, salah satu petani yang ada di Desa Medini, Undaan misalnya,dirinya mengaku sudah menjual padinya kepada pembeli dengan sistem tebas. Di mana, pembeli langsung membeli padi milik petani di sawah.

“Saat ini saya sudah diberikan uang muka dari pembeli padi sebesarRp. 1 juta. Nanti, ketika padinya sudah dipetik, yakni sekitar seminggu kedepan, pembeli  akanlangsung melunasi. Alhamdulillah, saat ini harga padi masih bagus . Yakni kisaran Rp480 ribu per kwintalnya,” katanya.

Menurutnya, masih membaiknya harga gabah tersebut, katanya salah satunya dipengaruhi faktor cuaca yangcukup cerah. Meskipun terkadang ada hujan,itu pun hanya sesekalisaja.

Menuruntya, dirinya sudah melakukan transaksi penjualan padi dua hari lalu. Pembeli sepakat dengan harga yang sudah diminta, yakni kisaran Rp 480 ribu. Pembelinya sendiri, katanya masih dari wilayah Undaan.

“Lahan saya ini satu kedok atau seluas 1.400meter. Pembeli menghargai padi saya satu kedok tersebut Rp 6 juta.Selain itu saya juga sudahmenerima uang muka Rp 1 juta. Namun, untuk pemotongan padinya sekitar 5 hingga 7hari kedepan,” ujarnya.

Selain itu, pembeli padi dari Glagahwaru, Undaan Rohman mengatakan,pihaknya berharap cuacanya bisa cerah selalu.Sebab jika cuaca baik jugaakan menstabilkan harga.

“Cuaca cerah semacam ini kan bisa menjemur padi dan memprosesnyamenjadi beras dengan cepat. Sehinga padi yang baru di panen juga tidak menumpuk terlalu lama di gudang penggilingan padi,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Ini Fakta, Petani Undaan Kudus Belum Panen tapi Sudah Bergelimang Uang

Petani mengolah lahan sawahnya di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Petani mengolah lahan sawahnya di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS –  Meski waktu panen masih sekitar 10 hingga 15 hari ke depan. Akan tetapi, rata-rata petani yang berada di wilayah Undaan, Kudus, sudah bisa menjual padinya ke penebas padi.

Oleh sebab itu, saat ini petani tersebut sudah bisa merasakan hasil dari penanaman padinya selama 3,5 bulan yang lalu.

Salah satu petani dari Medini, Undaan, Zayid mengatakan,  saat ini para petani sudah mengantongi uang sebagai bentuk uang muka dari pembayaran padi. “Dengan harga yang sudah disepakati antara petani dan pembeli,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, saat ini harga padi
masih stabil. Bahkan harga itu masih bisa meningkat. Yakni sekitar Rp 450 ribu hingga Rp 480 ribu per kuintalnya.

Bila saat musim panen nanti tiba dengan cuaca cerah, maka secara otomatis harga padi akan meningkat.

Selain itu, lanjut Zayid, untuk lahan seluas 1.400 meter saja, petani sudah bisa mendapat uang sekitar Rp 4, 5 juta.

Tidak semua petani telah menerima uang muka karena padinya sudah dijual. Ada juga petani yang belum bersedia menjualnya lantaran ingin menunggu harga bagus. Dan kemungkinan akan dijual saat masa panen tiba.

Salah satu pembeli padi dari Ngawi, Jawa Timur, Sunaryo Ngadi mengatakan, dirinya memang sengaja datang ke Undaan, Kudus, sebelum masa panen. Selain untuk memantau padi, juga membelinya.

“Saya datang sebelum panen, karena saya puas bisa melihat padi ini. Nanti saat panen tiba,tinggal memotong padi, memprosesnya dan membayar kepada petani,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)