Kudus Sumbang 1,62 Persen Luasan Lahan di Jateng

MuriaNewsCom, Kudus – Kabupaten Kudus menyumbang 1,62 persen luasan lahan sawah di Provinsi Jawa Tengah. Hal itu disampaikan oleh Bupati Kudus Musthofa, saat menyambut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, sewaktu panen raya di Desa Berugenjang, Selasa (23/1/2018).

“Kudus adalah kabupaten terkecil di Jawa Tengah, namun dapat menyumbang 1,62 persen luasan sawah (padi) di Jawa Tengah. Hal itu karena kami konsisten agar luasan lahan kami tidak berkurang ditengah sektor industri di kota kami yang berkembang pesat,” kata Musthofa.

Ia menyebutkan, luasan padi di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus, adalah 205 hektare. Di mana 50 hektare telah dipanen dan sisanya 155 belum memasuki penenan. Sedangkan produktifitasnya adalah 7,42 ton per hektare.

Kecamatan Undaan saja, memiliki luas lahan sebesar 6.015 hektare. Itu terdiri dari areal sawah seluas 5.742 hektare dan tegalan 273 hektare.

“Untuk harga Gabah Kering Panen (GKP) saat ini sebesar Rp 5.700. Panen padi akan dilakukan denfan menggunakan mekanisasi pertanian menggunakan Combine Harvester,” ujarnya.

Di tahun 2017, capaian produksi di Kudus mencapai 156.414 ton GKG. Sedangkan di 2016 jumlah produksi sebesar 171.278 ton GKG.

Sementara itu, Menteri Pertanian Amran yakin dengan panen raya yang telah dilakukan di beberapa daerah di Jateng, wilayah ini bisa surplus beras.

“(Panen raya di Jateng) setara 900 ribu ton, sedangkan perbulan konsumsinya mencapai 260 ribu ton. Ada surplus. Lalu kami mendorong agar produksi masuk ke Bulog,” tutur Amran.

Editor: Supriyadi

Di Depan Mentan Bupati Kudus Tolak Impor Beras, Begini Reaksi Sang Menteri

MuriaNewsCom, Kudus – Kedatangan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman ke Kudus untuk melakukan panen raya di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan menjadi kesempatan Bupati Musthofa menyerukan penolakan terhadap rencana impor beras.

Orang nomor satu di Kota Kretek itu bahkan terang-terangan menyampaikan keberataannya terhadap rencana yang disinyalir akan merugikan petani tersebut.

“Kami minta tolong (titip pesan kepada Presiden) agar menyetop dan tolak impor beras. Saya sayang kepada petani,” serunya.

Baca: Menteri Pertanian Panen Raya di Berugenjang Kudus

Ia menjelaskan, Kudus merupakan kabupaten terkecil di Jawa Tengah, namun dapat menyumbang 1,62 persen luasan sawah (padi) di Jawa Tengah. Hal itu karena pemkab konsisten agar luasan lahan tidak berkurang di tengah sektor industri.

Luasan padi di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus sendiri mencapai 205 hektare. Di mana 50 hektare telah dipanen dan sisanya 155 hektare belum memasuki penenan. Sedangkan produktifitasnya adalah 7,42 ton per hektare.

Baca: Safari Panen Raya Padi di Kudus, Mentan Amran Temukan Calon Menteri Pertanian Baru

”Kecamatan Undaan saja, memiliki luas lahan sebesar 6.015 hektare. Itu terdiri dari areal sawah seluas 5.742 hektare dan tegalan 273 hektare. Sementara untuk harga Gabah Kering Panen (GKP) saat ini sebesar Rp 5.700. Kalau jadi impor tentu harga akan turun,” ujarnya.

Mendengar permintaan itu, Amran tidak secara langsung mengiyakan pesan Bupati Kudus. Namun demikian, ia meminta para petani untuk meningkatkan produksi. Untuk itu, ia menjanjikan bantuan alat mesin pertanian guna menggenjot panen petani‎.

”Yang pasti kita tingkatkan dulu produktivitas padi. Kami akan membantunya dengan mesin pertanian untuk menggenjot panen petani,” katanya.

Editor: Supriyadi

Menteri Pertanian Panen Raya di Berugenjang Kudus 

MuriaNewsCom, Kudus – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan panen raya di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus, Selasa (23/1/2018). Dalam kesempatan itu, ia didampingi oleh Bupati Kudus Musthofa dan jajaran terkait.

“Ini adalah panenkedua setelah kita melakukan panen raya di Demak. Luasan lahannya cukup luas, semoga produksi ini bisa menjadi stok (di Bulog). Harga gabah sudah mulai menurun karena wilayah-wilayah di Indonesia sudah mulai panen. Kita jaga terus harga pembelian pemerintah (HPP) agar jangan sampai merugikan petani,” ucap Amran.

Sementara itu Bupati Kudus Musthofa menyerukan penolakan terhadap rencana impor beras.

“Kami minta tolong (titip pesan kepada Presiden) agar setop dan tolak impor beras. Saya sayang kepada petani,” serunya.

Dalam kesempatan itu, Amran tidak secara langsung mengiyakan pesan Bupati Kudus. Namun demikian, ia meminta para petani untuk meningkatkan produksi. Untuk itu, ia menjanjikan bantuan alat mesin pertanian guna menggenjot panen petani‎.

Adapun, luas hamparan sawah di Desa Berugenjang ‎adalah 516 hektar, dengan provitas atau hasil produksi 7-8 ton per hektar. Sedangkan varietas padi yang ditanam adalah ciherang.

Editor: Supriyadi

Tanggul Sungai Desa Ketileng Jepara Ambrol, Puluhan Hektare Padi Terancam Puso

Tanggul sungai SWD (Serang Welahan Drainage) yang ada di Desa Ketileng Singolelo, Kecamatan Welahan ambrol. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara –  Tanggul sungai SWD (Serang Welahan Drainage) yang ada di Desa Ketileng Singolelo, Kecamatan Welahan ambrol. Akibatnya puluhan hektare sawah warga yang baru ditanami padi terancam puso karena terendam air.

Tanggul tersebut terletak diantara dua aliran sungai. Yakni Sungai SWD  dan aliran sungai dari Mayong Kidul yang seurut dengan saluran pengairan sawah. Adapun ketinggian tanggul sekitar 4 meter dengan tebal 4-5 meter. 

“Bagian yang ambrol sekitar 4 meter. Sehingga menyisakan sedikit tanah di atasnya. Adapun tanggul tersebut telah ambrol sejak Selasa (19/12/2017) pagi,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara Pujo Prasetyo, Rabu (20/12/2017).

Ia menyebut, titik tersebut pernah jebol pada musim hujan tahun 2014. Setelahnya, pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Jratun Seluna memperbaiki jebolan tersebut.

Dua minggu sebelum kembali diterjang air dan ambrol, titik tanggul tersebut telah diperkuat dengan timbunan tanah. Namun karena diduga pondasinya sudah tidak kuat, maka tanggul pun tak kuat diterjang luapan air sungai.  

“Jadi posisi jebolan itu ada di pangkal pintu air, yang mempertemukan aliran sungai dari Mayong Kidul, saluran pengairan sawah dan Sungai SWD. Nah dititik itulah yang ambrol,” katanya.

Ia mengemukakan, akan segera berkoordinasi dengan dinas teknis dalam hal ini BBWS Jratun Seluna dan Dinas PUPR Jepara. Hal itu karena kewenangan perbaikan alur sungai berada di kedua instansi tersebut. 

“Kalau tak cepat ditanggulangi ya mengancam sawah, yang luasnya sekitar 30 hektar lebih,” tuturnya. 

Editor: Supriyadi

Wow… Petani di Grobogan ini Berani Tanam Padi Saat Musim Kemarau

Sejumlah petani di Desa Gebangan, Kecamatan Tegowanu sedang menanam padi di areal sawahnya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Areal sawah di Grobogan ternyata tidak didominasi palawija di musim kemarau ini. Di beberapa tempat, justru ada petani yang malah memilih menanam padi. Salah satunya dilakukan petani di Desa Gebangan dan Desa Mangunsari, Kecamatan Tegowanu.

Meski musim kemarau sebagian petani berani menanam padi. Sebab, mereka bisa mengandalkan air yang disedot dari sungai.

“Debit air sungai masih mencukupi. Kondisi ini kita manfaatkan untuk tanam padi,” kata Sunarto, salah seorang petani, Senin (7/8/2017).

Petani sengaja menanam padi di luar musim. Sebab, areal sawah biasanya sering kena banjir saat musim penghujan. Hal ini terjadi akibat meluapnya air dari sungai yang sampai menggenangi areal pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto ketika dimintai komentarnya menyatakan, di Kecamatan Tegowanu ditargetkan ada perluasan areal padi sekitar 50 hektare pada musim kemarau ini. Upaya penanaman padi di luar musim ini dilakukan dalam rangka mendukung program pemerintah untuk mengamankan stok pangan.

Selain di Tegowanu, ada juga penananam padi di daerah lainnya. Yakni, di Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari dengan luasan sekitar 25 hektar.

Sebelumnya, penanaman padi lebih dulu juga dilakukan petani di Desa Kalangbancar, Kecamatan Geyer. Pada lokasi ini, areal tanam padi mencapai 100 hektar.

“Jadi petani yang menanam padi saat kemarau ini ada di beberapa tempat. Dari tanam musim kemarau ini diharapkan bisa menghasilkan panen sekitar 6 ton per hektar,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Wow, Produksi Padi Blora Meningkat Luar Biasa


Bupati Blora, Djoko Nugroho bersama Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora, Reni Miharti melakukan penanaman padi bersama di Desa Ngloram, Kecamatan Cepu. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Blora -Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora, Reni Miharti melaporkan bahwa sasaran tanam padi pada musim tanam 2016/2017 sampai tanggal 23 Februari yang lalu telah tercapai 67,31% (72.841 Ha).

“Di mana terjadi peningkatan capaian sebesar 30,18% dibandingkan pada musim tanam 2015/2016,” kata Reni di Blora, Selasa (28/2/2017).

Berdasarkan Angka Sementara 2016 BPS, produksi padi Kabupaten Blora tahun 2016 mencapai 532.755 ton, meningkat 95.582 ton (21,86%) dari tahun sebelumnya. Capaian ini merupakan yang tertinggi selama 10 tahun terakhir.

Turut hadir pada kegiatan tersebut Dandim 0721/Blora, Tim Pendamping Percepatan Tanam dari Kementan RI, Camat Cepu, Kades Ngloram dan anggota kelompok Tani Makmur.

Baca jugaBlora Lakukan Percepatan Tanam Padi di Desa Ngloram

Bupati Blora Djoko Nugroho mengatakan pangan merupakan kebutuhan dasar manusia. Untuk itu, dia meminta kepada para petani menanam padi dengan maksimal, sehingga dapat mendukung program swasembada pangan pemerintah.

“Tanam dengan baik, beri pupuk, ikuti arahan dari penyuluh, supaya memperoleh hasil yang maksimal”, ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Blora Lakukan Percepatan Tanam Padi di Desa Ngloram

Bupati Blora, Djoko Nugroho bersama pejabat setempat melakukan penanaman padi bersama di Desa Ngloram, Kecamatan Cepu. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Blora – Bupati Blora, Djoko Nugroho didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora, Reni Miharti, hadiri Gerakan Percepatan Tanam Padi Tahun 2017 di area persawahan Gapoktan Makmur, Desa Ngloram RT 03/04, Kecamatan Cepu seluas 225 Ha, Selasa (28/2/2017).

Djoko mengatakan pangan merupakan kebutuhan dasar manusia. Untuk itu, dia meminta kepada para petani menanam padi dengan maksimal, sehingga dapat mendukung program swasembada pangan pemerintah.

“Tanam dengan baik, beri pupuk, ikuti arahan dari penyuluh, supaya memperoleh hasil yang maksimal”, ujarnya.

Lebih lanjut, Kokok, sapaan akrab Bupati Blora itu juga mengatakan bahwa dalam 3 tahun terakhir, peningkatan tanam padi di Kabupaten Blora naik secara signifikan.

Kegiatan ini merupakan perwujudan dari Kegiatan Percontohan Padat Karya Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) di Gapoktan Makmur Desa Ngloram Kecamatan Cepu seluas 160 Ha, yang dibiayai olah tanahnya untuk mendukung Program Upaya Khusus (Upsus) Pajale.

Editor : Akrom Hazami