Generasi Ukir Relief di Jepara Hijrah Jadi Karyawan Pabrik

Poster sindiran tentang keadaan seni ukir yang kalah dengan ekspansi pabrik yang ada di Jepara. Poster tersebut tertempel di ruas Jl Kyai H Wahid Hasyim. Kamis (26/10/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemuda-pemudi Desa Senenan, Kecamatan Tahunan-Jepara resah seni ukir kini mulai ditinggalkan generasi muda. Alih-alih bergulat denan kayu anak muda asal desa sentra relief tersebu memilih bekerja di pabrik. 

Hal itu terungkap pada sarasehan yang diselenggarakan oleh Karang Taruna Putu Sentana, medio bulan Oktober 2017. Selain karena menjamurnya berbagai pabrik padat karya, kegelisahan tersebut juga dipicu tidak adanya lembaga pendidikan yang fokus pada pelesteraian seni ukir relief. 

Ketua Lembaga Pelestari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara Hadi Priyanto mengatakan, ancaman tersebut nyata adanya. Hal itu satu diantaranya dipicu permasalahan finansial.

“Gaji seniman ukir yang rendah, pelestarian yang tidak optimal hingga kebijakan yang kurang berpihak pada perajin. Selain itu, lembaga sertifikasi ukir kayu hanya jalan ditempat,” ujarnya.

Ketakutan akan hilangnya generasi pengukir kini makin nyata, semenjak pabrik padat karya di Jepara menyedot puluhan tenaga kerja muda. Praktis para penerus meubel ukir ditinggalkan oleh pewarisnya. 

Selain itu, Hadi juga menyesalkan pembukaan jurusan dekorasi ukir di SMKN 2 Jepara yang gagal dilakukan. Meskipun, sempat bergulir beberapa saat namun akhirnya jurusan tersebut dilebur dalam sebuah program. 

“Jurusan tersebut sempat dibuka pada 12 April 2014, namun kemudian ditutup dan dimasukan kembali ke program keahlian dekorasi ukir, dengan alasan tidak ada nomenklatur program keahlian dekorasi ukir. Padahal dari jurusan itu telah melahirkan lulusan berbekal keahlian kriya kayu,” ungkapnya.

Sementara itu, pembicara lain Didin Ardiansyah mengajak anak muda untuk membuat momentum kebangkitan cinta pada budaya lokal. Menurutnya, hal tersebut dapat dilakukan dengna membuat berbagai kegiatan kreatif yang menggiring generasi muda untuk kembali mencintai seni ukir.

Editor: Supriyadi

Pabrik di Sukoharjo Ini Diprotes Gara-gara Bau Limbahnya

Warga melakukan aksi unjuk rasa di salah satu pabrik di Sukoharjo. (Facebook)

MuriaNewsCom, Sukoharjo – Ratusan warga Desa Plesan, Desa Gupit dan Desa Celep, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, menggelar demo  PT Rayon Utama Makmur (RUM) Jalan Songgorunggi-Jatipuro km 3,8, Desa Plesan, Nguter, Kamis (26/10/2017).

Mereka protes lantaran pabrik kapas sintetis itu mengeluarkan limbah udara berbau busuk seperti tinja. Hal itu membuat mereka mengeluh terhadap pabrik yang baru tahap uji coba tersebut, sepekan terakhir.

Warga membawa spanduk bertuliskan ‘Limbahmu Meracuni Masyarakat’ dan’Jangan Korbankan Kesehatan Kami Demi Bisnismu’.

“Baunya seperti septic tank. Ada warga yang muntah,” kata salah satu peserta aksi, Suwardi, di lokasi.

Menurutnya, pabrik itu baru tahap uji coba produksi. Meski baru sepekan, tapi baunya membuat warga jengkel.

Editor : Akrom Hazami

Warga Karangrandu Jepara Berinisiatif Tutup Saluran Limbah Tahu-Tempe 

Warga saat melihat limbah Sungai Gede Karangrandu Jepara, Senin (28/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Puluhan warga Desa Karangrandu dan Pecangaan Kulon, Jepara,  jengah dengan bau busuk akibat limbah Sungai Gede Karangrandu, Senin (28/8/2017) sore. Terutama mereka yang tinggal di sekitar bantaran sungai. Mereka menutup saluran pembuangan limbah tahu dan tempe.

Muhammad Subhan warga Desa Karangrandu mengatakan, aksi murni berasal dari inisiatif warga.  “Ya itu berasal dari inisiatif warga Karangrandu dan Pecangaan Kulon, karena bau dan mencemari lingkungan,” katanya.

Menurutnya, penutupan saluran pembuangan sisa produksi tahu-tempe dilakukan dengan menggunakan campuran semen. “Semen lantas dimasukan ke saluran sedalam-dalamnya,” urainya dalam pesan singkat.

Diberitakan sebelumnya, sempat beredar kabar melalui perpesanan dari aplikasi Whats App bahwa Pemdes Karangrandu melakukan penutupan  saluran limbah tahu-tempe. Namun setelah dikonfirmasi, Kepala Desa Karangrandu Syahlan menampiknya. Akan tetapi dirinya mengakui sempat didatangi warga yang ingin menutup saluran limbah.

“Pemdes tidak pernah menyuruh ataupun melarang. Namun warga memang ada yang pernah kesini mengutarakan rencana penutupan saluran tahu-tempe,” tuturnya. 

Terpisah seorang pengusaha Ahmad Maryanto juga pernah mendengar desas-desus tersebut. Namun sampai Senin pagi, ia belum pernah mengetahui rencana tersebut betul-betul dilaksanakan. 

Dirinya juga mengklaim, bahwa tidak lagi membuang limbah tahu tempe ke sungai. Ia lebih memilih membuang sisa produksi dengan membuangnya ke sawah. Hal itu menurutnya lebih aman. 

Editor : Akrom Hazami