Warga Kasreman Rembang Minta Pembangunan Pabrik Ternak Milik PT Malindo Feedmill Dihentikan Sementara

Puluhan warga datangi Balai Desa Kasreman untuk meminta agar pembangunan pabrik ternak milik PT Malindo Feedmill dihentikan sementara. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Puluhan warga Desa Kasreman, Kecamatan Rembang, mendatangi balai desa setempat pada Rabu (26/4/2017) sore kemarin, untuk meminta, supaya pembangunan pabrik ternak ayam milik PT. Malindo Feedmill dihentikan.

Pemberhentian itu dilakukan untuk sementara waktu, lantaran pihak perusahaan belum mengantongin Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan izin gangguan atau HO dari pemerintah kabupaten setempat.

Sukari, salah seorang warga setempat menilai, pihak perusahaan juga belum ada komitmen atau kesepakatan dengan warga untuk memperbaiki jalan poros desa yang saat ini kondisinya rusak, akibat mobilisasi kendaraan guna aktivitas pembangunan pabrik.

Sukari mengatakan, warga tidak menolak keberadaan pabrik ternak ayam di desanya. Namun, warga meminta perusahaan agar merampungkan izin sesuai dengan ketentuan dan siap bertanggung jawab atas semua dampak buruk dari segala bentuk aktivitas pabrik.

“Kesepakatan dari pihak manajemen Malindo masih belum jelas, termasuk salah satunya adalah kompensasi untuk kerusakan jalan poros desa yang saat ini kondisinya telah rusak akibat mobilisasi kendaraan guna pembangunan pabrik,” ujarnya.

Arisman Nur Wahid, warga lain di desa itu menambahkan, pihak perusahaan juga belum mewujudkan kesepakatannya dengan pihak Pemkab Rembang, yaitu membuatkan 15 titik sumur pantek di wilayah Desa Kasreman, sesudah pembebasan lahan.

“Seharusnya pihak perusahaan saat ini sudah merealisasikan itu (pembuatan 15 titik sumur pantek, red.). Sebab kesepakatan itu sudah tertuang secara tertulis. Bahkan ditandatangani oleh Sekda Rembang. Namun sampai sekarang belum direalisasi,” tandasnya.

Kepala Desa Kasreman Karyono mengakomodasi permintaan warga. Pihaknya bersepakat proses pembangunan pabrik ternak ayam di desanya untuk sementara dihentikan sampai dengan dikantonginya izin oleh pihak perusahaan.

“Mulai Kamis (27/4/2017) ini, aktivitas pembangunan pabrik harus dihentikan sementara. Jika memang sudah terbit izinnya, silakan proses pembangunan dilanjutkan,” ujarnya.

Khasan Assyari, Manajer PT Malindo Feedmill Tbk mengatakan, IMB dan HO untuk pabriknya masih dalam proses. Pihaknya tinggal menunggu waktu untuk terbitnya izin tersebut.

“Untuk sementara, kami akan hentikan proses pembangunan pabrik. Kami akan koordinasi dengan atasan mengenai penghentian sementara ini,” katanya.

Di sisi lain, mengenai tuntutan warga terkait perbaikan jalan poros desa yang rusak, pihaknya akan terlebih dahulu berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTARU), agar perbaikannya tidak terjadi tumpang tindih.

“Mengenai sumur pantek, kami juga harus koordinasi dengan pihak Dinas Pertanian dulu. Mana-mana titik yang pas, mengingat sudah ada embung di sana. Intinya ialah setiap tuntutan dan permintaan warga akan dikonsultasikan kepada atasannya sekaligus sebagai pertimbangan. Ia sudah mendaftar tuntutan dan permintaan warga,” ungkapnya.

Dia menambahkan, soal tuntutan warga, bukannya pihak perusahaan akan menolak. Namun pihak perusahaan juga butuh koordinasi dengan atasan terlebih dahulu untuk menentukan mana tuntutan warga yang bisa kami sepakati dan setujui. “Saya berharap warga Kasreman semua berkenan membantu,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Warga Kasreman Rembang Khawatir Dampak Adanya Pabrik Ternak yang Mepet dengan Pemukiman

Pabrik ternak PT. Malindo Feedmill yang mulai dibangun. Keberadaan pabrik ini dikhawatirkan warga karena terlalu mepet dengan pemukiman. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Sebagian warga Desa Kasreman, Kecamatan Rembang mengaku khawatir oleh dampak pabrik ternak yang akan dibangun di daerah itu.

Mereka menilai jarak antara tapak pabrik dengan permukiman terlalu dekat karena hanya sekitar 150-200 meter. Warga khawatir bau dan lalat akibat aktivitas pabrik.

Arif Zulianto, salah seorang warga di RT 3 RW 1 Desa Kasreman mengatakan, selain bau dan lalat, sebagian warga juga mencemaskan potensi terganggunya sumber air.

“Khawatirnya, Pamsimas desa yang biasa menyuplai kebutuhan air untuk warga akan terganggu. Apalagi perusahaan sejauh ini juga belum ada kejelasan komitmen lingkungan,” katanya.

Syarifin, warga lainnya menilai sosialisasi dari pihak perusahaan PT Malindo Feedmill Tbk berasal dari Malaysia, belum optimal. Sebab, banyak warga yang buta ikhwal rencana operasi pabrik.

“Warga masih banyak yang kurang tahu tentang operasi pabrik nantinya, termasuk jumlah penyerapan tenaga kerja. Perizinan telah beres atau belum, warga juga belum tahu,” ungkapnya.

Khasan Asy’ari, Manajer PT Malindo Feedmill Tbk meminta warga tidak terlalu mencemaskan bau dan lalat ketika pabriknya beroperasi. Sebab, pabrik serupa juga berdiri di daerah lain.

“Pabrik kita itu hanya ternak ayam. Soal bau nggak perlu khawatir. Bisa dilihat pabrik kita yang di Gresik. Aman. Nanti di silaturahmi kita yang berikutnya, kita jelaskan,” ucapnya.

Soal kebutuhan air, menurutnya, diperlukan 1.800-2.000 kubik per bulan atau sekitar 60 kubik per harinya. Ia yakin, kebutuhan air itu tidak akan sampai mengganggu warga.

“Mengenai tenaga kerja, 75 persennya kami prioritaskan dari warga lokal Kasreman. Kebutuhan tenaga kerja cukup banyak waktu proyek. Tapi saat beroperasi sekitar 50-70 karyawan,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono