Komnas Perempuan Kawal Prosesi Pemakaman Patmi di Larangan Pati

Wakil Ketua Komnas Perempuan Budi Wahyuni saat menghadiri prosesi pemakaman Patmi di Desa Larangan, Tambakromo, Pati, Selasa (22/3/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Wakil Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Budi Wahyuni menghadiri prosesi pemakaman Patmi, warga Desa Larangan, Tambakromo, Pati yang meninggal dunia saat mengikuti aksi cor kaki bertajuk “Dipasung Semen” di Jakarta. Prosesi pemakaman dilakukan pada Selasa (21/3/2017) pukul 21.30 WIB.

“Kebetulan saya sedang ada tugas di Kudus. Dapat kabar kalau ada salah satu teman yang ikut ‘nyemen’, sesuai koordinasi dari kantor, saya sampai di rumah duka sekitar pukul 15.15 WIB,” ujar Wahyuni kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, tragedi Patmi menjadi potret perempuan yang berupaya memperjuangkan hak-hak asasinya. Patmi ingin memastikan bahwa lingkungan harus terjaga dengan baik untuk anak cucunya. Aksi itu sering dilakukan Patmi.

“Aksi untuk mengecor kaki sebagai suatu gambaran, jalan yang ditempuh memang seperti itu. Sebetulnya, aksi itu tidak dilakukan bila direspons pemerintah dengan baik,” tuturnya.

Baca juga : Tiba di Pati, Jenazah Patmi Langsung Dikebumikan Malam Hari
Karena itu, ia berharap agar negara hadir dan mendengarkan suara para perempuan yang ingin lingkungannya terjaga dari eksploitasi pabrik semen. Negara diharapkan hadir sehingga tidak ada Patmi-Patmi lainnya di masa mendatang.

Menurutnya, perjuangan Patmi menjadi salah satu potret perjuangan perempuan yang ingin lingkungannya tidak rusak, karena memikirkan anak cucunya di masa mendatang. “Beliau-beliau ini yakin sekali bahwa kerusakan lingkungan tidak tergantikan. Saya justru banyak belajar dari mereka akan perjuangan para perempuan,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Tiba di Pati, Jenazah Patmi Langsung Dikebumikan Malam Hari

Jenazah Patmi saat akan dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Larangan, Tambakromo, Pati, Selasa (21/3/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jenazah Patmi (48), salah satu peserta aksi cor kaki dalam aksi “Dipasung Semen” di Jakarta, tiba di rumah duka Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Pati, Selasa (21/3/2017) pukul 20.30 WIB.

Sejumlah ucapan duka cita muncul dari berbagai pihak. Salah satuya, Kepala Staf Kepresidenan RI, Deputi V Kantor Staf Presiden RI, Walhi Foundation, Komnas Perempuan, dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Ratusan peziarah terlihat memadati rumah duka. Usai didoakan, jenazah langsung dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat sekitar pukul 21.30 WIB.

“Ibu Patmi ikut berjuang menyelamatkan pegunungan Kendeng. Tidak hanya di wilayah Pati dan Rembang, Ibu Patmi selalu aktif ikut berjuang di wilayah Kendeng Utara. Sampai nyusul ikut nyemen kaki,” ungkap Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Gunretno, usai mengawal jenazah Patmi dari Jakarta hingga Pati.

Saat itu, banyak tim dokter yang aktif memeriksa para peserta yang mengecor kaki. Patmi disebut Gunretno paling sehat di antara para peserta. Setelah beberapa hari di Jakarta, Patmi berniat pulang ke Pati.

Namun, Patmi yang sehari-hari berprofesi sebagai petani ini tiba-tiba mengalami sakit. “Ya batuk-batuk begitu, tidak lama akhirnya meninggal dunia. Saya sudah tanya kepada pihak keluarga, Patmi berangkat ke Jakarta pamit untuk memperjuangkan Pegunungan Kendeng dari rencana pendirian pabrik semen,” tuturnya.

Tim medis menyatakan, Patmi meninggal dunia karena serangan jantung. Namun, sebagian orang menyebut, Patmi terkena angin duduk, sebuah kondisi yang ditandai nyeri pada dada akibat otot-otot jantung kurang mendapatkan pasokan oksigen.

Editor : Kholistiono

Patmi, Warga Larangan Pati Meninggal Saat Ikuti Aksi Dipasung Semen di Jakarta

Suasana rumah duka di Desa Larangan, Tambakromo, Pati, Selasa (21/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Patmi (48), salah satu peserta aksi cor kaki asal Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Pati meninggal dunia saat mengikuti aksi “Dipasung Semen” di Jakarta. Patmi meninggal dunia menjelang sampai di rumah sakit (RS) St Carolus, Salemba.

Dari informasi yang dihimpun, Patmi meninggal dunia pada Selasa (21/3/2017) sekitar pukul 02.55 WIB. Saat itu, Patmi sedang mengantri untuk buang air kecil. Namun, ia mengeluh kurang enak badan, sempat terjatuh dan tidak sadarkan diri.

Tim medis lantas segera memberikan pertolongan pertama. Namun, badan Patmi mendadak dingin sehingga dirujuk ke rumah sakit. Nahas, Patmi meninggal dunia menjelang sampai di rumah sakit.

“Ibu Patmi berangkat ke Jakarta bersama dengan Dasmi dan Suparmi. Sebelum meninggal dunia, cor semen yang sudah berada di kaki korban sudah dicopot. Informasinya, jenazah dikirim dari Jakarta pukul 11.00 WIB diperkirakan sampai di rumah duka pukul 22.00 WIB,” ujar Pj Kades Larangan, Suko.

Sesuai informasi yang ia terima, Patmi tidak memiliki penyakit bawaan dan berangkat ke Jakarta dalam keadaan sehat. Menurut dokter, Patmi meninggal dunia karena penyakit jantung.

Editor : Kholistiono

Massa Penolak Pabrik Semen Singgah di Pendapa Pati

 Massa JMPPK yang menggelar aksi long march dari Rembang menuju Semarang beristirahat di Pendapa Kabupaten Pati, depan Rumah Dinas Bupati Pati, Selasa (6/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Massa JMPPK yang menggelar aksi long march dari Rembang menuju Semarang beristirahat di Pendapa Kabupaten Pati, depan Rumah Dinas Bupati Pati, Selasa (6/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan warga yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) dari Rembang dan Pati yang menggelar aksi long march tolak pabrik semen singgah di Pendapa Kabupaten Pati, Selasa (6/12/2016). Mereka beristirahat di pendapa, setelah lelah berjalan dari Rembang.

Selain beristirahat, mereka memakan nasi bungkus yang dibawa dari perbekalan. Ibu-ibu penolak semen tampak lahap memakan perbekalan di pendapa, depan Rumah Dinas Bupati Pati.

Tepat setelah mereka sampai dan beristirahat di pendapa, hujan deras mengguyur. Beberapa di antara mereka tertidur, karena lelah berjalan dari Rembang yang dijadwalkan sampai di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Jumat (9/12/2016).

“Aksi long march ini sebagai bentuk prihatin dan tirakat kami agar pabrik semen di Rembang ditutup. Sebab, Mahkamah Agung (MA) sudah memutuskan dan memerintahkan pabrik semen di Rembang ditutup. Kami berharap, Gubernur Jawa Tengah segera mencabut SK pendirian pabrik semen sesuai dengan perintah MA,” ujar Joko Prianto, koordinator JMPPK Rembang.

Senada dengan itu, Ketua JMPPK Gunretno menuturkan, aksi jalan kaki menjadi bentuk tirakat warga JMPPK yang menolak pendirian pabrik semen di Rembang maupun di Pati. “Kami semua berharap, pabrik semen tidak berdiri di Pegunungan Kendeng, baik di Pati maupun Rembang,” ucap Gunretno.

Editor : Kholistiono

Pemuda Tuntut Pabrik Semen Hengkang dari Bumi Pati

Ratusan pemuda bergelora dalam kegiatan Kendeng Nancepke Sumpah Pemuda di Omah Sonokeling, Kecamatan Sukolilo, Pati, Jumat (28/10/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ratusan pemuda bergelora dalam kegiatan Kendeng Nancepke Sumpah Pemuda di Omah Sonokeling, Kecamatan Sukolilo, Pati, Jumat (28/10/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum bagi para pemuda yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) untuk menggelar serangkaian acara bertajuk “Kendeng Nancepke Sumpah Pemuda” di Omah Sonokeling, Kecamatan Sukolilo, Pati, Jumat (28/10/2016).

Mereka melakukan penanaman pohon, pengucapan ikrar sumpah pemuda untuk menjaga bumi pertiwi agar tetap lestari dan menghelat panggung kesenian yang dimeriahkan Marjinal, Momo Biru, Budi Djarot, serta Rak Band. Semangat Sumpah Pemuda bergelora di sana.

Dayu Marantika, pemuda yang ikut dalam kegiatan tersebut mengatakan, pemuda harus berada di garda paling depan dalam menyelamatkan bumi pertiwi dari kerusakan dan kehancuran akibat pendirian pabrik semen di Pegunungan Kendeng. Karena itu, para pemuda yang ikut dalam kegiatan tersebut bergelora dalam menyuarakan penolakan pabrik semen.

“Kita keras menolak pabrik semen. Bahkan, pemuda-pemuda di sini yang ikut semuanya menolak rencana pendirian pabrik semen. Tapi, mungkin ada penyusup-penyusup pro semen yang datang dan membuat kerusuhan itu bisa jadi ada,” kata Dayu.

Dalam perilaku, penolakan terhadap rencana pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng tersebut dilakukan dengan menanam pohon. Lingkungan menjadi rumah bagi manusia, sehingga kerusakan lingkungan akibat pembangunan pabrik semen dianggap menjadi bencana besar bagi penduduk yang hidup di sekitarnya.

“Dalam sumpah pemuda ini, kami berharap jaringan muda terbangun, bukan hanya memaknai Sumpah Pemuda dengan hal-hal yang biasa. Pemuda harus kuat, terutama dalam menjaga bumi pertiwi agar tetap lestari,” imbuh Dayu.

Dalam kegiatan tersebut, dia menuntut dua hal. Pertama, surat salinan dari Mahkamah Agung (MA) harus segera diturunkan. Kedua, kasus rencana pendirian pabrik semen di Pati harus segera selesai di mana pabrik semen harus pergi dan hengkang dari Pati.

“Jangan sampai ada pabrik semen di Pati. Mereka harus pergi dari Pati, demi Pati Bumi Mina Tani dan kelestarian Pegunungan Kendeng untuk masa depan anak cucu generasi bangsa ke depan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Isi Kuliah di Pati, Ganjar Sindir Izin Pertambangan Pakai Suap

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat memberikan kuliah stadium general di STAIP Pati, Rabu (21/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat memberikan kuliah stadium general di STAIP Pati, Rabu (21/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengeluarkan statement yang mengejutkan saat mengisi kuliah stadium general di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati, Rabu (21/09/2016).

Dia mengatakan, izin-izin yang dikeluarkan untuk aktivitas pertambangan sebagian besar menggunakan suap. “Izin-izin tambang itu pakai suap semua. Ketika dia miskin dompet, miskin hati, sesat pikir, diiming-imingi uang, langsung saja mau,” ucap Ganjar.

Namun, Ganjar tidak secara eksplisit menyebut pemimpin atau daerah mana yang menerima suap untuk pertambangan sumber daya alam (SDA) yang melimpah di Indonesia. Pati sendiri saat ini tengah gencar-gencarnya berpolemik soal izin pendirian pabrik semen yang dilakukan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Ganjar hanya menyebut, energi dari SDA yang melimpah di Indonesia tengah diperebutkan sebagai bagian dari perang proxy. “Kita harus bisa menentukan nasib sendiri. Itu yang disebut dengan merdeka, tanpa ada intervensi. Kalau kita miskin, diiming-imingi uang, berangkat. Maka, suap yang bermain. Izin-izin pertambangan itu pakai suap semua,” tuturnya.

Ironisnya, bangsa Indonesia yang dianugerahi hamparan tanah yang subur, kaya energi dan sumber pangan justru tidak dikelola dengan mandiri. Banyak di antara generasi bangsa yang disebut enggan menjadi petani. Padahal, pertanian adalah sumber pangan yang tidak semua negara memilikinya.

Karena itu, Ganjar meminta kepada salah satu mahasiswa yang ingin menjadi petani maju ke depan. Adalah Rizal, mahasiswa STAIP yang punya cita-cita sebagai petani sukses. Dia akan melanjutkan nenek moyang Nusantara sebagai petani yang mampu menyediakan lumbung pangan dunia.

“Kita ini negara kaya. Dunia pertanian menghampar begitu luasnya. Kalau bisa, kita harus ekspor hasil pertanian, bukannya malah impor,” kata Rizal. Dia menyebut, ironis bila negeri yang kaya akan sumber pangan justru mengimpor dari negeri lain.

Editor : Kholistiono

Warga Kendeng Temukan Sungai Bawah Tanah yang Tidak Disebutkan di Dokumen Amdal PT SMS

 Ibu-ibu warga Kendeng menggelar aksi damai bertajuk Kendeng Ngrungkebi Bumi Mina Tani di depan DPRD Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Ibu-ibu warga Kendeng menggelar aksi damai bertajuk Kendeng Ngrungkebi Bumi Mina Tani di depan DPRD Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Kendeng yakin bila Pegunungan Kendeng yang membentang di wilayah Pati bagian selatan adalah bagian dari pegunungan purba yang wajib dilindungi keberadaannya. Mereka juga yakin, banyak kekayaan situs bersejarah yang tersimpan di dalamnya.

Lebih dari itu, Pegunungan Kendeng diakui sebagai “paku bumi”, penjaga keseimbangan ekosistem yang sangat vital karena masuk dalam kawasan bentang alam karst (KBAK) Sukolilo. Bila kawasan ini rusak akibat penambangan pabrik semen, kehidupan yang ada di lingkungan ini juga akan terancam keberadaannya.

Hal itu yang membuat sejumlah warga Kendeng mencoba untuk melakukan pemetaan lingkungan di kawasan yang akan dibangun pabrik semen PT Sahabat Mulia Sakti (SMS), anak perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Dari hasil pemetaan pada Sabtu (27/08/2016), warga menemukan sungai bawah tanah.

Ironisnya, keberadaan sungai bawah tanah itu tidak disebutkan dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) PT SMS. “Dalam dokumen AMDAL, hanya ada 24 mata air saja dan tidak menyebutkan kalau ada sungai bawah tanah,” ungkap Gunretno, Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), Senin (05/09/2016).

Karena itu, mereka berupaya untuk memperjuangkan agar izin pendirian pabrik semen PT Indocement dicabut sampai titik darah penghabisan. Pasalnya, kerusakan pegunungan Kendeng disebut akan menimbulkan bencana ekologis yang destruktif dan masif.

“Saat ini, kami bersama warga Kendeng mengawal penyerahan memori kasasi di PTUN Semarang. Kami menilai, ada kejanggalan hukum dari PTTUN Surabaya. Bagaimana bisa, sama-sama hakim yang bersertifikasi lingkungan, tetapi hasil putusannya berbeda. Ini menjadi tanda tanya yang sangat besar. Putusan majelis hakim PTTUN Surabaya ada persoalan yang harus dibongkar. Jangan sampai keselamatan warga Pati digadaikan dengan kepentingan kapitalisme korporasi,” pungkasnya

Editor : Kholistiono

Ratusan Warga Kendeng Datangi PTUN Semarang Kawal Penyerahan Memori Kasasi

Aksi penolakan pabrik semen yang dilakukan ibu-ibu warga Kendeng di depan Kantor Bupati Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Aksi penolakan pabrik semen yang dilakukan ibu-ibu warga Kendeng di depan Kantor Bupati Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sekitar 600 warga yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) mendatangi Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, Senin (05/09/2016). Kedatangan ratusan warga Kendeng untuk mengawal penyerahan memori kasasi di Mahkamah Agung (MA), karena gugatan terkait pencabutan izin pabrik semen PT Indocement kalah di PTTUN Surabaya.

Mereka yang datang ke PTUN Semarang berasal dari warga Kecamatan Sukolilo, Kayen, dan Tambakromo. “Hal ini menjadi bagian dari perjuangan panjang warga Pegunungan Kendeng untuk menyelamatkan kelestarian alam dan keadilan bagi kehidupan, serta anak cucu dari ancaman kerusakan pembangunan pabrik semen di Pati,” kata Gunretno.

Menurutnya, proses penyerahan memori kasasi perlu dikawal dengan baik karena banyak bukti hukum yang masih tajam ke bawah, tetapi tumpul di atas. Karena itu, warga Kendeng perlu untuk mengawal, sehingga bisa mengetuk hati dan pikiran Majelis Hakim di Mahkamah Agung  yang akan memutus kasasi gugatan terhadap izin lingkungan pendirian pabrik dan penambangan PT Sahabat Mulia Sakti (SMS), anak perusahaan PT Indocement Tbk.

Gunretno mengaku tidak akan pantang mundur dalam menyelematkan kelestarian lingkungan Pegunungan Kendeng. Perjuangan warga Kendeng diakui sebagai bagian dari panggilan moral dan hati nurani agar masa depan anak cucu tidak terwarisi dengan kondisi lingkungan yang sudah rusak akibat penambangan pabrik semen.

“Kami warga Kendeng tidak akan bosan mengingatkan para hakim dalam memutus perkara tidak hanya mempelajari materi gugatan saja, tetapi juga harus melihat bukti-bukti empiris dengan mengecek langsung kondisi di lapangan. Kami berharap besar agar para hakim punya rasa keadilan dan kepekaan terhadap masalah lingkungan,” ucap Gunretno.

Pada 24 Agustus 2016, warga melalui kuasa hukum mengajukan kasasi di PTUN Semarang. Namun, panitera memperingatkan warga, karena persoalan lingkup daerah cukup sampai di PTTUN Surabaya. Artinya, keputusan PTTUN Surabaya yang mengabulkan upaya banding dari Pemkab Pati dan PT Indocement sudah final.

Kendati begitu, kuasa hukum kemudian mendaftarkan kasasi melalui PTUN Semarang yang akhirnya kasasi warga diterima. “Kami berharap para hakim bisa memegang teguh prinsip keadilan, berpihak pada fakta kebenaran. Pegunungan Kendeng wajib dilestarikan untuk mendukung program Nawacita Presiden Joko Widodo, yaitu mewujudkan kedaulatan pangan. Misi itu tidak akan tercapai bila tanah dan air rusak akibat penambangan pabrik semen,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

BREAKING NEWS: Pemkab Pati Menang di PTTUN Surabaya, Pabrik Semen Akan Berdiri

 Pabrik semen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk yang lama berdiri di Citeureup, Bogor. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Pabrik semen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk yang lama berdiri di Citeureup, Bogor. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Surabaya akhirnya mengabulkan permohonan banding yang dilakukan Pemkab Pati dan PT Sahabat Mulia Sakti (SMS) terkait dengan rencana pendirian pabrik semen di pegunungan Kendeng.

Hal itu diungkap Kepala Bagian Hukum Setda Pati Siti Subiati, Selasa (2/8/2016) pagi. “Benar, PTTUN Surabaya mengabulkan upaya banding yang kami lakukan terkait dengan pendirian pabrik semen di Pegunungan Kendeng,” kata Siti kepada MuriaNewsCom.

Siti mengatakan, salinan putusan itu diterima Pemkab Pati pada Senin (1/8/2016). Saat ini, salinan putusan itu akan diserahkan kepada Bupati Pati Haryanto untuk dilakukan pembahasan lebih lanjut. Ditanya soal kemenangan, Siti membenarkannya. “Kalau dibilang kita menang, ya bisa dikatakan begitu karena upaya banding yang kita lakukan dikabulkan,” tuturnya.

Dengan adanya putusan PTTUN Surabaya, pabrik semen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk melalui anak perusahannya, PT SMS yang selama ini mendapatkan perlawanan dari warga penolak pabrik semen, dimungkinkan akan segera berdiri.

Dari informasi yang dihimpun, Majelis Hakim PTTUN Surabaya mengabulkan upaya banding dari Pemkab Pati dan PT SMS pada 14 Juli 2016 lalu. Surat pemberitahuan putusan banding itu bernomor 70/B/2016/PT.TUN.SBY.

Editor : Kholistiono

 

Haryanto Dukung Peluang Investasi Pembangunan Pabrik Semen di Pati

uplod saiki berita wingi 2 (e)

Sejumlah narasumber yang berbicara soal investasi di Kabupaten Pati dalam “Dialog Investasi” di Pasar Pragola Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto menilai, pro dan kontra pembangunan pabrik semen di Pati sebagai sesuatu yang wajar. Namun, pihaknya akan terus mendukung pembangunan pabrik semen sebagai peluang investasi yang baik untuk pertumbuhan ekonomi.

“Pro dan kontra itu sudah biasa dan wajar. Kalau sudah paham akan pentingnya investor dalam membangun ekonomi masyarakat, nantinya juga akan tahu sendiri. Mereka nantinya pasti akan menikmati dampak ekonomi yang baik saat pabrik semen dibangun,” kata Haryanto dalam dialog Investasi di Pasar Pragola Pati, Senin (25/4/2016).

Ia mengatakan, kebijakan umum dan program pembangunan Pati saat ini berorientasi pada terbukanya investasi yang diharapkan bisa menopang “multiplier effect” ekonomi masyarakat Pati. Hal itu untuk mendukung kebijakan pembangunan nasional yang pro poor, pro job, pro growth, dan pro environment.

“Pemkab akan menggenjot kombinasi dari upaya pembangunan infrastruktur dan peranan bipartit dalam meningkatkan perekonomian Kabupaten Pati. Efeknya bisa mendongkrak pendapatan daerah dan menjadi stimulasi pertumbuhan ekonomi Pati,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Dirut PT Indocement Christian Kartawijaya mengatakan, keberadaan pabrik semen di Pati akan meningkatkan ekonomi warga Pati, termasuk pertumbuhan usaha kecil dan menengah (UKM). “Berbagai usaha makanan, transportasi, konveksi, laundry dan jasa pendukung industri lainnya akan diserap oleh industri semen,” kata Christian.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Investasi Pabrik Semen di Pati Diklaim Perbaiki Ketergantungan Kebutuhan Semen Jateng

Investasi Pabrik Semen di Pati Diklaim Perbaiki Ketergantungan Kebutuhan Semen Jateng

uplod saiki berita wingi 1 (e)

Dirut PT Indocement Tunggal Prakarsa Christian Kartawijaya (kanan) saat menjadi narasumber dalam Dialog Investasi di Pasar Pragola Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati  Kabupaten Pati yang semula dikenal sebagai kota pensiunan saat ini mulai bergeliat menjadi kota pro investasi. Sejumlah industri dan hotel bermunculan dalam beberapa waktu terakhir.

Tak terkecuali perusahaan Semen PT Indocement yang menginvestasikan dananya senilai Rp 7 triliun untuk membangun pabrik semen di wilayah pegunungan Kendeng. Pembangunan pabrik semen itu diharapkan akan memperbaikai ketergantungan kebutuhan semen di Jawa Tengah yang selama ini dipasok dari pabrik semen dari Jawa Barat dan Jawa Timur.

“Kegagalan memenuhi kebutuhan semen yang meningkat akan membuat pembangunan Indonesia terhambat, meningkatkan ketergantungan impor terutama dari Tiongkok, dan membuat upaya pemerataan pertumbuhan ekonomi Indonesia sulit terlaksana,” ujar Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Christian Kartawijaya dalam Dialog Investasi bertajuk “Membaca Peluang Investasi di Pati” di Pasar Pragola Pati, Senin (25/4/2016).

Ia mengatakan, Kabupaten Pati punya potensi sumber daya alam (SDA) bahan baku semen yang baik dan cukup untuk dikembangkan. Sarana dan prasarana pendukung seperti listrik dan pelabuhan di Pati dinilai cukup memadai.

Selain itu, Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Jawa Tengah dan Kabupaten Pati sudah memberikan peluang bagi investasi industri semen, baik dalam konteks penambangan maupun pabrik. Karena itu, pihaknya mengaku sudah siap membangun pabrik semen di Pati dengan persiapan yang sangat matang.

Ditanya soal dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat pembangunan pabrik semen, Christian memastikan keberadaan pabrik Indocement tidak akan mengganggu lingkungan. Pihaknya akan membangun pabrik semen berwawasan lingkungan.

“Siapa bilang keberadaan pabrik semen akan menghilangkan air dan sawah. Kita tidak pernah menambang sumber mata air. Itu kebohongan yang luar biasa bila ada yang bilang keberadaan pabrik semen akan menghilangkan air dan sawah. Kami akan bangun pabrik dengan wawasan lingkungan,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Soal Investasi Pabrik Semen di Pati, Ini Kata Bupati

Ratusan pemuda melakukan tanam pohon di kawasan Sendang Jibing Prawoto sebagai aksi penolakan pabrik semen di desanya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ratusan pemuda melakukan tanam pohon di kawasan Sendang Jibing Prawoto sebagai aksi penolakan pabrik semen di desanya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Investasi pabrik semen atau pabrik-pabrik lainnya di Pati dinilai baik selama bisa memenuhi sejumlah syarat. Hal itu diungkapkan Bupati Pati Haryanto, Selasa (5/4/2016).

“Setiap investasi akan direspons baik selama itu memenuhui sejumlah syarat, antara lain sudah sesuai aturan dan tidak merusak lingkungan,” tuturnya kepada MuriaNewsCom.

Ia menilai, setiap investasi yang masuk Pati akan memberikan tiga hal. Pertama, investasi bisa membuka lapangan pekerjaan. Kedua, investasi bisa meningkatkan perekonomian.

“Selanjutnya, investasi bisa meningkatkan infrastruktur. Namun, semua investasi harus sesuai dengan aturan, terutama soal lingkungan harus benar-benar diperhatikan,” imbuhnya.

Pernyataan itu dilontarkan Haryanto, setelah ditanya soal adanya wacana pendirian pabrik semen di Desa Prawoto, Wegil, dan Pakem, Sukolilo, Pati yang akan memanfaatkan lahan seluas 1.650 hektare. Kabarnya, PT Garuda Tudung Perkasa yang akan masuk dan berinvestasi di sana.

Dari informasi yang dihimpun, PT Garuda Tudung Perkasa akan melakukan penambangan di tiga desa tersebut dengan jenis bahan galian batu gamping menjadi bahan pembuatan semen. Mendengar informasi tersebut, warga Desa Prawoto pun bergejolak dan beramai-ramai menandatangani petisi berisi penolakan pabrik semen di desanya.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : Bupati Pati Ngaku Belum Komunikasi dengan Investor Pabrik Semen di Prawoto Pati 

Kuasa Hukum Indocement: Hakim PTUN Semarang Sudah Setuju dengan Amdal Pendirian Pabrik Semen

Kuasa hukum PT Indocement Abdul Hakim Garuda Nusantara (kanan) bersama dengan Agus Dwiwarsono yang mewakili Yusril Ihza Mahendra Law Firm. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kuasa hukum PT Indocement Abdul Hakim Garuda Nusantara (kanan) bersama dengan Agus Dwiwarsono yang mewakili Yusril Ihza Mahendra Law Firm. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ketidakpuasan PT Indocement Tunggal Prakarsa terhadap putusan PTUN Semarang yang mengabulkan gugatan warga kontra pabrik semen di Pati, membuatnya mengajukan memori banding ke PTTUN Surabaya.

Ada beberapa hal yang dianggap keliru dari putusan tersebut. Salah satunya, hakim mempersoalkan 67 persen warga Pati menolak pendirian pabrik semen di pegunungan Kendeng.

Hal itu yang ditepis Kuasa Hukum PT Indocement, Abdul Hakim Garuda Nusantara. Ia mengatakan, 67 persen itu merupakan sampel dari responden yang diwawancara, bukan mewakili seluruh masyarakat Pati yang jumlahnya sekitar 1,2 juta jiwa.

”Jumlah 67 persen itu diambil dari 200 orang responden, bukan seluruh warga Pati. Itu artinya tidak bisa dijadikan acuan. Ini yang malah menjadi pertimbangan hakim PTUN Semarang untuk mencabut izin pendirian pabrik semen di Pati,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Ditanya soal amdal, Abdul menyatakan tidak ada isu yang menyangkut keabsahan amdal dalam pertimbangan hakim PTUN Semarang. ”Dalam pertimbangannya, hakim tidak menyinggung amdal. Itu artinya, hakim sudah menyetujui komisi amdal,” ungkapnya.

Ia menambahkan, fungsi amdal itu melakukan mitigasi. Artinya, amdal punya fungsi mengatasi kemungkinan-kemungkinan dampak negatif akibat penambangan supaya menjadi positif. Dengan pertimbangan itu, pihaknya saat ini tengah berjuang untuk mengajukan memori banding ke PTTUN Surabaya.

”Kita sudah ajukan. Sekarang dalam proses. Kita tunggu saja. Sesuai dengan edaran Mahkamah Agung diperkirakan antara tiga sampai empat bulan,” tutupnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Bupati dan PT Indocement Ajukan Keberatan ke PTTUN Terkait Pendirian Pabrik Semen di Pati

Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Christian Kartawijaya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Christian Kartawijaya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Surabaya, setelah PTUN Semarang mengabulkan gugatan warga yang kontra terhadap pendirian pabrik semen di pegunungan Kendeng beberapa waktu lalu.

Haryanto yakin bila proses perumusan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) dan izin lingkungan sudah sesuai dengan undang-undang. ”Mudah-mudahan, PTTUN Surabaya menyadari kesalahan putusan PTUN Semarang,” harap Haryanto.

PT Indocement sendiri melalui anak perusahaannya, PT Sahabat Mulia Sakti sudah mengajukan pokok-pokok keberatan dalam memori banding yang diajukan ke PTTUN Surabaya. Pihaknya meminta majelis hakim tingkat banding bisa memeriksa dan memutus perkara secara obyektif, profesional, mengedepankan asas impasialitas, serta tidak terpengaruh dengan tekanan politik kepentingan.

”Indocement merupakan salah satu perusahaan semen terbesar di Indonesia. Selain upaya investasi yang kami lakukan memberi dampak positif untuk perekonomian, kami berupaya pembangunannya sesuai dengan aturan,” ujar Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Christian Kartawijaya kepada MuriaNewsCom, Selasa (22/3/2016).

Karena itu, pihaknya saat ini terus berjuang supaya Indocement bisa diberikan kesempatan untuk berinvestasi di Pati yang pada akhirnya bisa meningkatkan perekonomian penduduk setempat. Ia menilai, pembangunan perusahaan semen di Pati bakal mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk infrastruktur.

”Kalau memang pembangunan ini untuk masyarakat, ayo kita duduk sama-sama. Hal ini bukan semata-mata untuk perusahaan, tetapi juga untuk warga. Pendapatan asli daerah (PAD) nantinya akan meningkat tajam,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni