Warga Menuntut Kendeng Bebas dari Penambangan

Ilustrasi aksi penambangan galian C. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Sejumlah warga yang tergabung dalam Komunitas Ahli Waris Kendeng Sukolilo, mendesak penghentian seluruh aktivitas penambangan baik yang legal maupun ilegal di Kawasan Bentang Alam Karst Kendeng (KBAK) Sukolilo.

Desakan ini disampaikan saat komunitas mengaduk ke Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah, Jumat (29/12/2017).

Perwakilan Ahli Waris Kendeng Heri Sasmito Wibowo meminta kepada pemerintah untuk memoratorium pertambangan yang ada di kawasan Karst dan menindak tegas.

“Katanya ini kawasan lindung tapi pertambangan di kawasan karst Sukolilo banyak, dari yang katanya legal maupun yang ilegal. Harusnya ya dilindungi, ada yang monitoring kelapangan.” ujarnya saat audiensi dengan Komisi D DPRD Jateng.

Ia menyebut, perlu adanya tim independen yang terdiri dari semua unsur mulai dari pemerintah, legislatif, dan masyarakat. Tim Independen ini nantinya yang akan mengawal dan menjaga keasrian dan harmonisasi antara alam karst dan masyarakat.

Selain itu, Bowo menjelaskan bahwa untuk menunjang harmonisasi antara alam karst dan masyarakat perlu adanya pelestarian budaya daerah setempat. Selain untuk menjaga keasrian alam, juga bisa menjadi salah satu situs budaya.

Sementara itu, Wakil ketua Komisi D DPRD Jateng Hadi Santoso menjelaskan. bahwa kunci dari ada tidaknya pertambangan adalah izin lingkungan, AMDAL, dan RTRW (rencana tata ruang dan wilayah).

Pria yang juga menjadi sekretaris Kaukus lingkungan hidup DPRD Jateng itu mengajak masyarakat untuk turut serta mengawal revisi perda RTRW yang akan dibahas tahun 2018 mendatang.

“2018 kita ada revisi perda RTRW. Mari kita kawal untuk menjadikan beberapa titik sebagai daerah hijau. titik krusial karst, bisa masuk dalam Kawasan Bentang Alam Karst,” terangnya.

Sebagaimana diketahui Kawasan Bentang Alam Karst Sukolilo meliputi beberapa daerah. Di bagian selatan terdiri dari Kecamatan Sukolilo, Kayen, dan Tambakromo Kabupaten Pati; bagian utara Kecamatan Klambu, Brati, Grobogan, Tawangharjo, Wirosari, dan Ngaringan Kabupaten Grobogan; dan sebagian Kecamatan Todanan dan Kunduran Kabupaten Blora.

Editor : Ali Muntoha

Tiba di Pati, Jenazah Patmi Langsung Dikebumikan Malam Hari

Jenazah Patmi saat akan dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Larangan, Tambakromo, Pati, Selasa (21/3/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jenazah Patmi (48), salah satu peserta aksi cor kaki dalam aksi “Dipasung Semen” di Jakarta, tiba di rumah duka Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Pati, Selasa (21/3/2017) pukul 20.30 WIB.

Sejumlah ucapan duka cita muncul dari berbagai pihak. Salah satuya, Kepala Staf Kepresidenan RI, Deputi V Kantor Staf Presiden RI, Walhi Foundation, Komnas Perempuan, dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Ratusan peziarah terlihat memadati rumah duka. Usai didoakan, jenazah langsung dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat sekitar pukul 21.30 WIB.

“Ibu Patmi ikut berjuang menyelamatkan pegunungan Kendeng. Tidak hanya di wilayah Pati dan Rembang, Ibu Patmi selalu aktif ikut berjuang di wilayah Kendeng Utara. Sampai nyusul ikut nyemen kaki,” ungkap Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Gunretno, usai mengawal jenazah Patmi dari Jakarta hingga Pati.

Saat itu, banyak tim dokter yang aktif memeriksa para peserta yang mengecor kaki. Patmi disebut Gunretno paling sehat di antara para peserta. Setelah beberapa hari di Jakarta, Patmi berniat pulang ke Pati.

Namun, Patmi yang sehari-hari berprofesi sebagai petani ini tiba-tiba mengalami sakit. “Ya batuk-batuk begitu, tidak lama akhirnya meninggal dunia. Saya sudah tanya kepada pihak keluarga, Patmi berangkat ke Jakarta pamit untuk memperjuangkan Pegunungan Kendeng dari rencana pendirian pabrik semen,” tuturnya.

Tim medis menyatakan, Patmi meninggal dunia karena serangan jantung. Namun, sebagian orang menyebut, Patmi terkena angin duduk, sebuah kondisi yang ditandai nyeri pada dada akibat otot-otot jantung kurang mendapatkan pasokan oksigen.

Editor : Kholistiono

Patmi, Warga Larangan Pati Meninggal Saat Ikuti Aksi Dipasung Semen di Jakarta

Suasana rumah duka di Desa Larangan, Tambakromo, Pati, Selasa (21/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Patmi (48), salah satu peserta aksi cor kaki asal Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Pati meninggal dunia saat mengikuti aksi “Dipasung Semen” di Jakarta. Patmi meninggal dunia menjelang sampai di rumah sakit (RS) St Carolus, Salemba.

Dari informasi yang dihimpun, Patmi meninggal dunia pada Selasa (21/3/2017) sekitar pukul 02.55 WIB. Saat itu, Patmi sedang mengantri untuk buang air kecil. Namun, ia mengeluh kurang enak badan, sempat terjatuh dan tidak sadarkan diri.

Tim medis lantas segera memberikan pertolongan pertama. Namun, badan Patmi mendadak dingin sehingga dirujuk ke rumah sakit. Nahas, Patmi meninggal dunia menjelang sampai di rumah sakit.

“Ibu Patmi berangkat ke Jakarta bersama dengan Dasmi dan Suparmi. Sebelum meninggal dunia, cor semen yang sudah berada di kaki korban sudah dicopot. Informasinya, jenazah dikirim dari Jakarta pukul 11.00 WIB diperkirakan sampai di rumah duka pukul 22.00 WIB,” ujar Pj Kades Larangan, Suko.

Sesuai informasi yang ia terima, Patmi tidak memiliki penyakit bawaan dan berangkat ke Jakarta dalam keadaan sehat. Menurut dokter, Patmi meninggal dunia karena penyakit jantung.

Editor : Kholistiono

Tolak Pabrik Semen, Petani Ingin Kendeng Tetap Jadi Kawasan Pertanian

Ribuan warga menggeruduk kantor Bupati Pati beberapa waktu lalu. Rabu (13/5/2015) besok, seribu massa akan turun di lapangan menuntut agar pegunungan Kendeng dikembalikan sebagai kawasan pertanian dan pariwisata. (MURIANEWS/LISMANTO)

PATI – Ribuan warga dari Kecamatan Kayen, Tambakromo, dan Sukolilo menuntut agar pegunungan Kendeng dikembalikan sebagai kawasan pertanian dan pariwisata.

Lanjutkan membaca