Duuh! 70 Ribu Warga Jateng Ternyata Gila

MuriaNewsCom, Semarang – Jumlah orang mengalami gangguan kejiwaan di Provinsi Jawa Tengah ternyata sangat banyak. Catatan Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Tengah, setidaknya 70 ribu warga di provinsi ini menderita skizofrenia atau kegilaan.

Dari 35 ribu warga Jawa Tengah, setiap 1.000 orang dua di antaranya diketahui mengalami kegilaan. Kepala Dinsos Jateng, Nur Hadi Amiyanto kepada wartawan menyebut, tingkat kegilaan puluhan ribu orang tersebut bervariasi.

Bentuk gangguan kejiwaannya juga beragam, mulai dari stres tanpa sebab, kesulitan tidur, hingga melihat orang kesususahan juga masuk kategori kegilaan. ”Kalau yang menderita gangguan kejiwaan ringan sampai berat ada satu dari empat penduduk,” katanya.

Ia mencontohkan di Kebumen, jumlah orang yang mengalami gangguan kejiwaan cukup besar. Jumlahnya mencapai sekitar 3.000 orang. Di daerah ini pemerintah sudah menyiapkan rumah singgah untuk melakukan prawatan, meski kapasitasnya terbatas.

Menurut dia, dari 35 kabupaten/kota di Jateng tidak semuanya daerah memiliki rumah singgah untuk merawat orang gila. Keterbatasan fasilitas dan anggaran membuat penanganan terhadap orang gila tersebut kurang maksimal.

Ia menyebut, Pemprov Jateng hanya mempunyai 12 panti rehabilitasi dengan kapasitas 100 jiwa. Meskipun pada realitasnya, jumlah penderita yang dirawat di panti tersebut selalu melebihi dari kapasitas.

“Sesuai aturan, pemprov hanya merehabilitasi yang ditampung di panti. Yang di luar panti, menjadi kewajiban pemkab/pemkot setempat,” ujarnya.

Sesuai alur, petugas yangmenemukan orang gila memang harus ditampung terlebih dahulu di rumah singgah di tiap kabupaten/kota. Rumah singgah merupakan tempat awal pemeriksaan dan mengetahui kondisi mereka Setelah mendapatkan perawatan pertama, mereka yang sadar bisa dikembalikan ke keluarga.

Dengan catatan mereka harus diberikan perawatan dan obat secara rutin. Namun jika kondisi mereka benar-benar gila, maka dikirim ke panti milik provinsi. ”Kenyataannya, tak semua pemerintah kabupaten/ kota memiliki rumah singgah. Hanya Kebumen,” terangnya.

Untuk melakukan perawatan kepada orang gila diakuinya tidak mudah. Pasalnya, selain memberikan obat dan kebersihan, petugas juga harus memperhatikan kebutuhan biologis para penderita.

Nur Hadi menyebut, meski gila namun mereka tetap mempunyai dan membutuhkan kebutuhan biologis. Oleh karenanya, petugas selalu menyuntikkan obat KB secara reguler pada penderita perempuan.

Editor : Ali Muntoha

Laki-laki Ini Tiba-tiba Ngamuk, Pukuli Tetangganya dengan Besi

MuriaNewsCom, Wonogiri – Seorang laki-laki bernama Geger Rudianto (45), warga Desa Bulurejo, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri, tiba-tiba mengamuk dan menyerang warga. Dua orang tetangganya yang tengah menjemur gabah langsung dihajar menggunakan batang besi hingga mengalami luka-luka.

Korban merupakan pasangan suami istri yakni Sukatni (45) dan suaminya Semedi (48). Peristiwa ini terjadi pada Rabu (28/2/2018) sore kemarin. Saat itu, Sukatni tengah menjemur padi hasil panen di depan rumahnya.

Tiba-tiba pelaku datang sambil menenteng besi langsung memukul Sukatni. Besi yang diayunkan ke arah Sukatni mengenai kaki dan beberapa bagian tubuhnya.

Suami korban, Semedi yang mengetahui kejadian itu mencoba merebut batang besi yang digunakan pelaku. Namun sayang, Semedi juga ikutdipukuli menggunakan besi hingga mengalami luka-luka.

”Tanpa bicara apa-apa pelaku lantas memukuli kaki korban menggunakan sebilah besi, hingga mengenai kaki kiri korban (Sukatni). Sementara suaminya mengalami luka goresan di bagian perut bagian kanan,” kata Kapolsek Giriwoyo, AKP Mulyanto, Kamis (1/3/2018).

Ia menyebut, warga langsung datang untuk mengamankan pelaku. Polisi yang mendapat laporan juga langsung melakukan pengamanan agar tidak terjadi aksi anarkis.

Pasalnya diketahui jika pelaku penganiayaan tersebut diindaikasi mengalami gangguan jiwa. Petugas yang datang langsung mengamankan pelaku, dan segera merujuknya ke RSJ untuk bisa segera mendapatkan tindakan medis.

“Sementara besi berukuran 1 meter dengan diameter 2cm, diamankan petugas,” jelasnya.

Kasus ini cukup menjadi perhatian, karena beberapa waktu lalu sering terjadi aksi penganiayaan kepada orang atau ulama, dengan pelaku orang gila.

Editor : Ali Muntoha

Hindari Teror Terhadap Tokoh Agama, Polres Kudus Razia Orang Gila

MuriaNewsCom, Kudus – ‎Polres Kudus bersama Satuan Polisi Pamong Praja Kudus, menggelar razia orang tak waras, Rabu (21/2/2018). Hal itu dilakukan untuk menghindari kasus penyerangan tokoh agama yang diduga dilakukan oleh orang gila.

Tim menyisir di daerah Ngembalrejo. Dalam kegiatan itu, polisi mengamankan satu orang tak waras‎.

“Razia ini dilakukan untuk megatasi isyu penyerangan tokoh agama yang dilakukan oleh orang tak waras,” kata Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning, saat menghadiri Forum Group Discussion (FGD) di Hotel @Hom.

Terlebih lagi, lanjut Gurning, ‎Kudus saat ini tengah ada pesta demokrasi ajang pemilihan bupati-wakil bupati Kudus 2018. Ia mengharapkan, tak muncul isyu yang membuat kondisi Kudus semakin tidak stabil.

Dirinya menyebut, orang gila yang diamankan kini telah dibawa ke Panti Rehabilitasi gangguan jiwa Jalma Sehat, Desa Bulung Kulon, Kecamatan Jekulo. Hal itu untuk mencegah orang tersebut kembali lagi ke jalanan.

Adapun, kasus penyerangan tokoh agama oleh orang yang diduga gila, terjadi di Lamongan. Penyerangan itu, terjadi pada ulama pengasuh Pondok Pesantren Karangasem, Paciran, Lamongan KH. Hakam Mubarok, Minggu (18/2/2018).

Editor: Supriyadi

Ada Ulama Dianiaya, Polda Jateng Ikut Razia Orang Gila

MuriaNewsCom, Semarang – Polda Jawa Tengah menginstruksikan jajarannya untuk ikut melakukan razia terhadap orang gila yang berkeliaran di jalanan. Instruksi ini dilakukan, sebagai upaya untuk menekan adanya gangguan keamanan dan mencegah munculnya provokasi.

Kebijakan ini diambil sebagai imbas peristiwa penyerangan tokoh agama dan tempat ibadah di Jawa Timur, dengan pelaku orang gila. Razia ini telah dilakukan di beberapa tempat di Jateng dengan menggandeng Dinas Sosial.

”Di Cilacap, Kebumen dan Solo sudah dilakukan bersama Dinas Sosial. Ada 20 (orang gila) yang didapat,” kata Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, Rabu (21/2/2018).

Ini dikatakan kapolda di sela-sela Rakernis Intelkam tahun 2018 di Hotel Patrajasa, Semarang. Rapat kerja ini digelar untuk mengurangi ganguan kamtibmas slama pilkada serentak 2018.

Seperti diketahui sebelumnya, KH Hakam Mubarok, pengasuh Ponpes Muhammadiyah di Karangasem, Paciran, Lamongan diserang orang gila hingga mengalami luka-luka. Beberapa waktu lalu, Masjid Baiturrahim di Jalan Sumurgempol Nomor 77 Karangsari, Tuban, Jawa Timur juga dirusak orang yang diduga mengalami gangguan jiwa.

Kapolda menyebut, jajaran intel telah diperintahkan untuk melakukan deteksi dini. Sehingga peristiwa yang terjadi di Jawa Timur tak terjadi di provinsi ini, karena berpotensi memicu provokasi dan kerusuhan. “Penekanan ke jajaran intelejen harus deteksi dini untuk mereduksi ganggaun kamtibmas,” ujarnya.

Kapolres Tegal Kota AKBP Jon Wesly Arianto bersilaturahmi ke Ponpes Al Hikmah Benda. (Humas Polres Tegal Kota)

Jajaran kepolisian diperintahkan melakukan pendekatan ke tokoh-tokoh agama dan pondok pesantren, serta ikut salat berjamaah di pondok tersebut.

“Untuk pejabat Polda Jateng bersilaturahmi ke ulama, pendeta, dan sebagainya. Misal (untuk muslim), bermalam di pondok pesantren, melaksanakan tabligh akbar dan solat subuh berjamaah, ikut ke pondok dan masjid,” terangnya.

Untuk saat ini, hasil deteksi dini gangguan kamtibmas baik yang membawa unsur agama atau Pilkada di Jawa Tengah masih kondusif. Namun Condro meminta anggotanya tidak lengah agar tidak ada provokasi menggunakan unsur-unsur tersebut.

“Kita tidak ingin ada provokasi dengan isu agama. Hasil deteksi, di Jateng kondusif aman,” pungkasnya.

Langkah pendekatan ke tokoh agama dan pengasuh pondok pesantren ini telah dilaksanakan di setiap jajaran polres, hingga ke tingkat polsek. Seperti yang dilakukan Kapolres Tegal Kota AKBP Jon Wesly Arianto beserta sejumlah pejabat utamanya, yang mengunjungi sejumlah ulama dan ponpes. Salah satunya Pondok Pesantren Al Hikmah Benda, Selasa (20/2/2018) petang dan disambut pengasuh ponpes KH Labib Shodiq Sukhaemi.

Kapolres mengatakan, melalui kunjungan tersebut pihaknya berharap bisa terjalin hubungan silaturahmi antara pondok pesantren dengan Polres. Ia berharap agar para santri membantu Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

“Saya juga berharap agar para santri pondok pesantren tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif atau isu-isu dan informasi yang beredar dan belum tentu kebenaranya,” ujar AKBP Jon Wesly.

Editor : Ali Muntoha

Warga Tambakselo Dibikin Ketakutan Gara-gara Muncul Kepala Manusia di Lokasi Jalan Longsor, Ternyata …

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan warga Desa Tambakselo, Kecamatan Wirosari sempat dicekam ketakutan saat melintas di lokasi jalan longsor yang ada di Dusun Tumpuk, Senin (5/2/2018) malam. Hal itu disampaikan Kades Tambakselo Sareh Joko Prasetyo saat dihubungi MuriaNewsCom, Selasa (6/2/2018).

“Tadi malam ada peristiwa yang bikin heboh disitu. Bahkan, banyak warga sempat ketakutan ketika lewat di ruas jalan yang longsor,” katanya.

Sareh menceritakan, peristiwa yang sempat bikin heboh terjadi sekitar pukul 22.00 WIB. Kejadian itu berawal saat beberapa pengendara motor dan pejalan kaki yang lewat disitu.

Saat melintas, mendadak dikejutkan dengan munculnya kepala manusia di dibawah cor jalan yang berlubang karena terkikis longsor. Dari sorot lampu kendaraan, kepala manusia ini berwujud seorang perempuan yang memiliki rambut panjang awut-awutan.

“Hal inilah yang bikin warga ketakutan karena disangka ada hantu. Akhirnya, kejadian ini membuat suasana kampung jadi heboh. Posisi jalan yang berlubang sudah kita tandai pakai batang bambu,” jelas Sareh.

Setelah mendapat laporan itu, ia dan sejumlah warga langsung mendatangi lokasi. Ketika tiba di lokasi, sosok kepala manusia yang dilaporkan warga kembali muncul.

Namun, setelah diteliti, ternyata pelakunya adalah orang gila berjenis kelamin perempuan.

“Jadi, orang gila tadi tidur dibawah cor jalan yang tidur dibawah cor jalan yang berlubang karena kena longsoran. Saat ada orang atau pengendara lewat, orang gila itu mengeluarkan kepalanya melalui lubang yang tengah jalan yang terkikis longsor. Hal inilah yang bikin warga kaget dan ketakutan karena disangka ada hantu menyembul dari dalam tanah,” jelas Sareh sambil tertawa.

Setelah dipastikan pelakunya, warga bermaksud mengamankan orang gila untuk diserahkan pada dinas terkait. Namun, sebelum tindakan itu dilakukan, orang gila itu sudah kabur dalam kegelapan malam ke arah hutan.

Terkait dengan kejadian itu, Sareh berharap agar bencana longsor yang ada di ruas jalan Desa Tambakselo, Kecamatan Wirosari segera ditangani. Soalnya, kondisi longsoran sudah makin melebar dan membahayakan pengguna jalan.

Ruas jalan milik kabupaten yang longsor itu berada di Dusun Tumpuk. Jalan ini menjadi akses penghubung menuju Desa Dokoro.

Tanah yang longsor lebarnya mencapai 10 meter dengan kedalaman 3 meter. Saat ini, kondisi longsoran sudah menggerus tanah dibawah cor jalan raya.

“Kondisi ruas jalan yang longsor sudah kita laporkan pada dinas terkait. Mudah-mudahan segera ditangani secara permanen. Itu termasuk ruas jalan yang banyak dilalui kendaraan,” katanya.

Editor: Supriyadi

Belum Lama Dirazia, Orang Gila Kembali Nongol di Grobogan

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski belum lama ini dilakukan razia namun akhir-akhir ini kembali terlihat lagi keberadaan orang gila di kawasan kota Purwodadi. Kondisi ini menyebabkan sebagian warga resah.

Sebab tidak jarang, orang gila ini suka bikin ulah. Misalnya mengganggu orang lewat, berteriak tidak karuan sepanjang jalan dan melempari rumah warga dengan batu kecil.

Di sisi lain, munculnya lagi orang gila ini dinilai warga cukup mengherankan. Soalnya, tim gabungan dari Dinas Sosial, dan Satpol PP sudah sering menggelar razia terhadap pengemis, gelandangan dan orang-orang terlantar (PGOT) di wilayah perkotaan.

Dalam razia tersebut, ada cukup banyak pengemis dan gelandangan yang diamankan petugas. Khusus untuk orang gila yang tertangkap langsung dikirim ke Yayasan Al Ma’atih Desa Bandungsari, Kecamatan Ngaringan untuk direhabilitasi.

”Setelah dirazia dulu, sudah tidak ada orang gila lagi yang berkeliaran disekitar sini. Tapi, beberapa hari terakhir sudah banyak lagi orang gila disini,” ujar Wahyudi, warga yang tinggal di kampung Jetis Purwodadi.

Terkait kenyataan itu, sebagian warga menduga kalau orang gila yang ada itu sengaja didatangkan oleh pihak tertentu ke Purwodadi. Sebab, orang gila yang saat ini berseliweran belum pernah terlihat sebelumnya di sekitar kota. Oleh sebab itu, dugaan adanya oknum yang memasukkan orang gila itu ke Purwodadi dirasa sangat beralasan.

Sementara itu, Kabid Sosial Dinsos Grobogan Kurniawan ketika dimintai komentarnya membenarkan jika di sekitar kawasan kota mulai muncul lagi orang gila baru. Ia mengaku cukup prihatin dengan kondisi itu.

”Saat kita lakukan razia kemarin, kawasan kota sudah bersih dari orang gila. Sekarang ini sudah mulai terlihat lagi. Dalam waktu dekat akan kita razia lagi,” katanya, Jumat (19/1/2018).

Soal adanya kiriman orang gila dari pihak tertentu ke Purwodadi, Wawan menyatakan, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Sebab, sangat sulit kalau ada orang gila dari luar daerah sengaja datang sendiri ke Purwodadi. Meski demikian, sampai sekarang pihaknya belum bisa menemukan atau membuktikan adanya aksi pengiriman orang gila dari luar daerah itu.

Editor: Supriyadi

Seorang Nenek di Penganten Grobogan Tewas Dianiaya Orang Gila

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa penganiayaan yang berujung kematian terjadi di Desa Penganten, Kecamatan Klambu, Grobogan, Minggu (7/11/2018).

Korban penganiayaan diketahui bernama Mbah Sakinah (72), warga setempat. Sedangkan pelakunya disebut-sebut bernama Sarmadi (50), warga Banyumanik, Semarang.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kejadian yang bikin geger warga itu terjadi sekitar pukul 07.30 WIB. Pagi itu, korban sedang menyiangi rumput di sela tanaman jagung.

Ladang milik Sakinah adalah lahan garapan kawasan hutan yang ada di sebelah timur sendang Keyongan, Desa Penganten.

Tak lama kemudian, tiba-tiba muncul pelaku di lokasi tersebut. Melihat ada orang tak dikenal, Sakinah sempat merasa takut dan berniat untuk pulang.

Caption : Tim Inafis Polres Grobogan sedang melakukan pemeriksaan terhadap korban penganiayaan di Desa Penganten, Kecamatan Klambu, Minggu (7/11/2018).
(MuriaNewsCom/Dhani Agus)

Namun, sebelum beranjak dari ladang, pelaku tersebut langsung menghampiri dan memukuli korban. Tidak hanya dengan tangan tetapi pelaku juga memukul korban menggunakan bongkahan batu.

Mendapat perlakuan sadis tersebut, Sakinah sempat menjerit minta tolong. Warga yang mendengar teriakan itu langsung berhamburan ke lokasi kejadian. Saat itu, kondisi Sakinah sudah terlihat mengenaskan, karena bagian kepalanya penuh darah.

Melhat banyak warga berdatangan, pelaku kemudian melarikan diri ke arah perkampungan. Puluhan warga akhirnya berhasil menangkap pelaku. Beruntung sebelum dihajar massa, pelaku berhasil diamankan polisi yang sudah tiba di lokasi tersebut.

“Pelaku kemudian diamanakan ke Polsek Klambu. Sedangkan, korban penganiayaan sempat dilarikan ke puskesmas namun nyawanya tidak tertolong,” kata Kades Penganten Junaidi.

Menurutnya, pelaku penganiayaan diketahui sudah beberapa bulan ini berkeliaran di sekitar Desa Penganten.

“Pelaku bukan orang sini dan tidak ada kerabatnya di Desa Penganten. Sehari-hari berkeliaran saja dan tidurnya di sembarang tempat. Informasinya pelaku adalah orang gila,” jelasnya.

Kapolsek Klambu AKP Asep Priyana menyatakan, dari pemeriksaan sementara, pelaku diduga mengidap gangguan jiwa. Sebelumnya, pelaku dikabarkan pernah kabur saat menjalani perawatan di RSJ Magelang.

“Saat ini, pelaku kita kirim ke RSUD Purwodadi. Kita akan minta bantuan tim medis untuk mengetahui kondisi kejiwaan pelaku,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

 

Identitas Tengkorak di Hutan Larangan Pati Terungkap, Kuburannya Langsung Dibongkar

Warga membongkar makam Agus dan membawa jenazahnya yang tinggal tulang belulang dari Hutan Larangan, Maitan, Tambakromo, Selasa (14/11/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sesosok mayat tanpa identitas yang ditemukan dan dikebumikan di kawasan Hutan Larangan, Desa Maitan, Tambakromo, Pati, beberapa waktu lalu, kini terungkap identitasnya.

Mayat yang tinggal tulang belulang yang ditemukan seorang pemburu hewan di Hutan Larangan itu ternyata bernama Agus Susanto, warga Desa Raci RT 2 RW 5, Kecamatan Batangan, Pati. Saat ditemukan, usianya sekitar 43 tahun.

Identitasnya terungkap, setelah pihak keluarga dengan didampingi Kepala Desa Raci, Mamik Eko mengambil jenazah di Hutan Larangan pada Selasa (14/11/2017). Pihak keluarga yang mengambil jenazah adalah Kustini, kakak ipar korban yang merupakan warga Hadipolo, Jekulo, Kudus.

Dalam keterangannya, Kustini mengetahui bila jenazah merupakan keluarganya setelah ada informasi dari Facebook dan pemberitaan media. “Dari pemberitaan dan postingan di Facebook, ada mayat tanpa identitas dan diduga gangguan jiwa,” kata Kustini.

Keyakinan pihak keluarga semakin menguat karena sepekan sebelum ditemukan, juga ada postingan di Facebook yang menyebutkan adanya orang gila tanpa memakai baju berkeliaran di wilayah Hutan Larangan.

Korban sendiri dikatakan keluarga sudah mengalami gangguan jiwa sejak remaja. Kondisi itu semakin parah setelah ibunya meninggal dunia.

Baca : Mayat Pria Tinggal Tulang Ditemukan di Hutan Larangan Pati dan Dikubur di Lokasi

Korban juga memiliki dua saudara kandung, yakni Budi Santoso, warga Hadipolo, Jekulo, Kudus dan Sunardi, warga Tondomulyo, Jakenan, Pati.

Setelah disebutkan ciri-ciri korban, keluarga yakin bila mayat yang sudah tidak bisa dikenali itu merupakan Agus Susanto. Salah satu cirinya, laki-laki, berperawakan sedang dengan tinggi 175 cm, tidak pernah pakai baju, jarang makan dan sering sakit-sakitan.

Setelah makam dibongkar kembali, jenazah akhirnya dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Raci. Sebelumnya, jenazah tersebut langsung dikebumikan di Hutan Larangan karena tidak diketahui identitasnya.

Editor : Ali Muntoha

Orang Gila Bakar Kandang Sapi di Glonggong Pati, Kerugian Capai Rp 1 Juta

Kandang ternak milik warga Glonggong, Jakenan yang berhasil dirobohkan, usai dibakar pria yang mengalami gangguan jiwa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kebakaran kandang sapi terjadi di Desa Glonggong RT 2 RW 1, Kecamatan Jakenan, Pati, Selasa (24/10/2017).

Kandang sapi tersebut diketahui milik Wardi (65). Akibat kebakaran tersebut, kerugian ditaksir mencapai Rp 1 juta.

Suwati, salah satu saksi mengatakan, saat itu dia keluar rumah untuk memberi makan sapi. Namun, dia justru melihat kobaran api yang membakar kandang ternak berisikan tumpukan jerami.

“Saya langsung minta tolong warga. Api berhasil dipadamkan setelah kandang itu dirobohkan bareng-bareng warga,” ungkap Suwati.

Pelaku pembakaran ternyata Narso, warga setempat. Pelaku ternyata sudah lama mengidap gangguan jiwa.

Dalam kurun waktu dua minggu terakhir, dia sudah melakukan hal sama di lokasi yang berdekatan. Namun, aksi itu sempat gagal karena ketahuan warga.

Pelaku sendiri pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Semarang. Dia sempat dinyatakan baik oleh dokter. Namun, ternyata dia kembali mengalami gangguan jiwa dan membakar kandang ternak warga.

Editor: Supriyadi

Aksi Petugas Kejar Orang Gila di Pinggir Sungai Serang Grobogan Bikin Kaget Warga

Petugas gabungan sedang mengejar orang gila yang ditemui di sebelah timur jembatan Sungai Serang, Selasa (19/9/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga Desa Pulorejo, Kecamatan Purwodadi yang tinggal di sebelah timur Jembatan Serang sempat dibikin kaget. Hal ini menyusul adanya petugas dari Dinas Sosial dan Satpol PP yang sedang mengejar orang gila, Selasa (19/9/2017).

Petugas gabungan terpaksa melakukan pengejaran karena pria gila lari saat akan ditangkap. Orang gila yang diperkirakan berusia 35 tahun itu langsung lari ke perkampungan begitu dihadang dua petugas yang berboncengan motor.

Melihat sasarannya lari, petugas lainnya yang ada di dalam truk langsung turun dan membantu mengejar orang gila tersebut. Beberapa ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian sontak kaget ketika ada banyak orang berlarian di depan rumahnya.

”Lho, ini ada apa. Kok tiba-tiba ada banyak orang lari-lari di sini,” tanya salah seorang warga.

Semula, warga mengira kalau petugas itu sedang mengejar penjahat. Setelah dijelaskan salah seorang petugas, warga terlihat tertawa.

”Oalah, ternyata ngoyak (ngejar) wong edan. Tak kira ngejar maling,” kata warga.

Upaya pengejaran itu akhirnya gagal membuahkan hasil. Pria yang diindikasikan orang gila itu lari tunggang langgang menyusuri pinggiran sungai Serang menuju ke arah selatan. Petugas yang kehilangan jejak akhirnya memutuskan balik ke Purwodadi.

Sebelumnya, pria gila itu sudah hampir tertangkap petugas gabungan saat berada di emperan pertokoan di kompleks ruko Kencana Purwodadi. Namun, saat akan digelandang ke dalam truk, orang gila ini berontak dan kabur ke kawasan alun-alun.

Petugas gabungan kemudian melakukan razia ke sekitar Pasar Purwodadi dilanjutkan menuju ka arah kecamatan Penawangan, Godong, dan Karangrayung. Sepanjang perjalanan, petugas hanya mendapatkan satu orang gila di Pasar Karangrayung.

Saat perjalanan pulang ke Purwodadi itulah, rombongan petugas gabungan berpapasan lagi dengan orang gila yang sebelumnya hampir tertangkap di kompleks ruko Kencana Purwodadi. Namun, orang gila ini lagi-lagi berhasil lolos dari incaran petugas.

Kasi Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Dinas Sosial Grobogan Wahyu Imam Rifai menyatakan, razia dilakukan karena keberadaan orang gila di kawasan kota Purwodadi terkadang bikin sebagian warga resah. Tidak jarang, orang gila ini suka bikin ulah. Misalnya mengganggu orang lewat, berteriak tidak karuan sepanjang jalan dan melempari rumah warga dengan batu kecil.

Rifai mengatakan, dalam razia hari ini, hanya satu orang gila yang berhasil didapat. Kondisi ini sempat membuatnya heran karena biasanya banyak sekali orang gila yang berkeliaran di jalanan atau sekitar pasar.

”Hari ini, kita hanya dapat satu orang gila saja. Orang gila yang terjaring razia akan kita rehabilitasi,” katanya. 

Editor: Supriyadi

Banyak Orang Gila Baru Ganggu Warga di Purwodadi

Tim gabungan melakukan razia terhadap PGOT di wilayah kota Purwodadi, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim gabungan melakukan razia terhadap PGOT di wilayah kota Purwodadi, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski sudah seringkali dilakukan razia namun keberadaan orang gila di kawasan Kota Purwodadi masih saja terlihat. Namun, dibandingkan beberapa waktu sebelumnya, jumlahnya memang sudah jauh berkurang.

“Soal orang gila ini memang bikin saya heran. Sudah berulangkali dirazia tetapi selalu ada lagi orang gila wajah baru. Padahal, dua hari lalu, Satpol PP sudah melangsungkan razia di beberapa titik didalam kota,” kata Kabid Sosial Dinsosnakertrans Grobogan Kurniawan.

Selain orang gila ada juga Pengemis, Gelandangan dan Orang-Orang Terlantar (PGOT) yang terjaring. Khusus untuk orang gila yang tertangkap langsung dikirim ke Yayasan Al Ma’atih Desa Bandungsari, Kecamatan Ngaringan untuk direhabilitasi. Sementara PGOT diberikan pembinaan dan pelatihan ketrampilan.

Keberadaan orang gila di kawasan kota Purwodadi terkadang bikin sebagian warga resah. Sebab tidak jarang, orang gila ini suka bikin ulah. Misalnya mengganggu orang lewat, berteriak tidak karuan sepanjang jalan dan melempari rumah warga dengan batu kecil.

Terkait kenyataan itu, sebagian warga menduga kalau orang gila yang ada itu sengaja didatangkan oleh pihak tertentu ke Purwodadi. Sebab, orang gila yang saat ini berseliweran belum pernah terlihat sebelumnya di sekitar kota. Oleh sebab itu, dugaan adanya oknum yang memasukkan orang gila itu ke Purwodadi dirasa sangat beralasan.

Soal tudingan adanya kiriman orang gila dari pihak tertentu ke Purwodadi, Kurniawan menyatakan, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Sebab, sangat sulit kalau ada orang gila dari luar daerah sengaja datang sendiri ke Purwodadi.

Meski demikian, sampai sekarang pihaknya belum bisa menemukan aksi pengiriman orang gila dari luar daerah itu.

Editor : Akrom Hazami

Belum Lama Dirazia, Orang Gila Berseliweran Lagi di Kawasan Kota Purwodadi

Tim gabungan melakukan razia terhadap PGOT di wilayah kota Purwodadi, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim gabungan melakukan razia terhadap PGOT di wilayah kota Purwodadi, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski belum lama ini dilakukan razia namun akhir-akhir ini kembali terlihat lagi keberadaan orang gila di kawasan kota Purwodadi. Kondisi ini menyebabkan sebagian warga resah.

Sebab tidak jarang, orang gila ini suka bikin ulah. Misalnya mengganggu orang lewat, berteriak tidak karuan sepanjang jalan dan melempari rumah warga dengan batu kecil.

Disisi lain, munculnya lagi orang gila ini dinilai warga cukup mengherankan. Pasalnya, sekitar dua pekan lalu, tim gabungan dari Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), dan Satpol PP baru saja menggelar razia trhadap pengemis gelandangan dan orang-orang terlantar (PGOT) di wilayah perkotaan.

Dimana, dalam kegiatan ini, ada sekitar sembilan orang gila, beberapa pengemis, dan gelandangan yang diamankan petugas. Khusus untuk orang gila yang tertangkap langsung dikirim ke Yayasan Al Ma’atih Desa Bandungsari, Kecamatan Ngaringan untuk direhabilitasi.

Baca juga : Waduh, Satpol PP Grobogan Terpaksa Tangkap Pengemis di Dalam Bus Antar Kota
http://www.murianews.com/2016/01/26/69317/waduh-satpol-pp-grobogan-terpaksa-tangkap-pengemis-di-dalam-bus-antar-kota.html
”Setelah dirazia dulu, sudah tidak ada orang gila lagi yang berkeliaran di sekitar kota ini. Tapi, beberapa hari terakhir sudah banyak lagi orang gila di sini,” ujar Maryanto, warga yang tinggal di sekitar RSUD Purwodadi.

Terkait kenyataan itu, sebagian warga menduga kalau orang gila yang ada itu sengaja didatangkan oleh pihak tertentu ke Purwodadi. Sebab, orang gila yang saat ini berseliweran belum pernah terlihat sebelumnya di sekitar kota. Oleh sebab itu, dugaan adanya oknum yang memasukkan orang gila itu ke Purwodadi dirasa sangat beralasan.

Sementara itu, Kabid Sosial Dinsosnakertrans Grobogan Kurniawan ketika dimintai komentarnya membenarkan jika di sekitar kawasan kota mulai muncul lagi orang gila baru. Wawan sapaan akrab Kurniawan mengaku cukup prihatin dengan kondisi itu.

”Saat kita lakukan razia kemarin, kawasan kota sudah bersih dari orang gila. Sekarang ini sudah mulai terlihat lagi,” katanya.

Soal adanya kiriman orang gila dari pihak tertentu ke Purwodadi, Wawan menyatakan, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Sebab, sangat sulit kalau ada orang gila dari luar daerah sengaja datang sendiri ke Purwodadi. Meski demikian, sampai sekarang pihaknya belum bisa menemukan aksi pengiriman orang gila dari luar daerah itu.

Baca juga :

Ratusan Orang Gila Sempat Masuk Dalam Daftar Pemilih di KPU Grobogan 

Warga Pati Ini Rela Keluar PNS Hanya untuk Merawat Orang-orang Gila 

Editor : Titis Ayu Winarni