Geliat Sepak Bola di Utara Pulau Jawa

Sepak bola Jawa Tengah sudah cukup lama mati suri. Absennya PSIS Semarang di kancah tertinggi sepak bola nasional sebelumnya membuat Jawa Tengah anteng-anteng saja. Bagaimana tidak, klub berjuluk Mahesa Jenar ini dianggap sebagai  klub yang mewakili Jawa Tengah di kasta tertinggi.

Terlepas dari Semarang sebagai pusat pemerintahan—PSIS menjadi salah satu klub legendaris syarat pengalaman ketika era Perserikatan dan Galatama. Pengaruhnya sangat terasa hingga sekarang.

Kini PSIS telah kembali pada jalurnya. Pasca promosi ke Liga 1, masyarakat Semarang kembali gemuruh menyambut tim kebanggaan mereka—tak menutup kemungkinan masyarakat Jawa Tengah lainnya juga ikut dalam euforia tersebut. Namun, identitas sepak bola Jawa Tengah bukan hanya “sebatas” milik PSIS.

Ikon sepak bola Jawa Tengah bisa saja disematkan pada PSIS, tetapi anggapan tersebut bisa saja disanggah. Sebab Jawa Tengah banyak memiliki klub yang tersebar di berbagai kasta sepak bola Indonesia—dari kasta tertinggi hingga terendah.

Di Utara pulau Jawa terdapat beberapa klub profesional di bawah naungan Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI)—yang tergabung dalam Karesidenan Pati sebut saja Persipa Pati, Persiku Kudus, PSIR Rembang, Persijap Jepara, Persikaba Blora, terakhir Persipur Purwodadi.

Nama-nama klub tersebut sebagian memang kurang familiar di telinga pecinta sepak bola nasional. Ada beberapa faktor yang membuat nama-nama di atas terasa asing didengar. Pertama, keberadaan PSIS, secara historis memang tidak bisa dimungkiri.

Klub yang berdiri sejak 1932 ini mengukir sejarahnya di lembar sepak bola nasional. Tercatat PSIS berhasil menorehkan tinta emas—salah satunya adalah menjadi kampiun Divisi Utama Liga Indonesia (saat itu menjadi kasta tertinggi liga Indonesia) tahun 1998-1999.

Berkat deretan prestasinya tersebut PSIS menancapkan dominasinya di Jawa Tengah sebagai salah satu klub yang di segani. Di kancah nasional pun sama. PSIS menjadi salah satu klub legendaris bersama PSM Makassar, Persebaya Surabaya, PSMS Medan, Persija Jakarta, Persib Bandung, yang pernah mengecap manisnya juara di era Perserikatan.

Kedua, klub-klub di Karesidenan Pati ini kalah bersaing. Mengingat kasta tertinggi adalah impian semua klub untuk bermain di sana. Membawa nama daerah dan panji kebesaran menuntut klub di Indonesia berlomba-lomba menyuguhkan yang terbaik. Mulai dari materi pemain hingga jajaran pelatih berpengalaman menjadi hal yang mutlak jika ingin ikut meramaikan persaingan.

Ketiga, permasalahan klise yang menerpa banyak klub, yaitu urusan finansial. Keungan tak bisa dimungkiri menjadi salah satu elemen penting dalam hal pendanaan klub. Hal tersebut yang sering menjadi kendala. Dengan sokongan dana yang seadanya tak pelak membuat klub tak bisa berbuat banyak. Dengan materi yang biasa-biasa saja akan sulit bersaing. Belum lagi ditambah dengan gaji pemain yang mengharuskan pihak klub membayar tepat waktu.

Mencari pesaing PSIS?

Ketika PSIS benar-benar mendominasi, lalu muncul sebuah pertanyaan, apakah ada klub (di Jawa Tengah) yang mampu menjadi pesaing? Pada era Perserikatan dan Galatama tak ada yang mampu “menyenggol” PSIS. Barulah pertengahan 2000, PSIS bisa bersua Persijap Jepara di Liga Indonesia. Kedua klub asal Jawa Tengah tersebut menjadi laga klasik—yang sering disebut sebagai Derbi Jateng.

Perseturan panas tersebut pun sering mengundang kerusuhan antarsuporter. Seperti ingin menasbihkan diri sebagai yang terbaik di Jateng, keduanya harus saling sikut untuk meraih kemenangan.

Terkhusus Persijap, klub berjuluk Laskar Kalinyamat ini memang menjadi salah satu rival PSIS. Bisa dibilang pula Persijap sebagai salah satu klub dari Karesidenan Pati yang mampu mengimbangi PSIS. Walaupun secara prestasi Persijap masih kalah mentereng dibanding PSIS.

Setidaknya Persijap sendiri sudah pernah merasakan manis-pahit, ketar-ketir, kompetisi Superliga. Promosi tahun 2007 Persijap berhasil merepotkan banyak tim dengan nama besar. Namun, tampil tak konsisten akhirnya melemparkan Persijap ke jurang degradasi pada kompetisi 2013/2014. Persijap harus berjuang kembali ke liga tertinggi. Tragisnya, usaha mereka kembali harus menelan pil pahit. Persijap malah tambah terpuruk. Persijap gagal bersaing di Liga 2 dan mengharuskan turun kasta ke Liga 3 musim depan.

Berbanding terbalik dengan Persijap yang inkonsisten, kini sepak bola Pantura kembali memunculkan nama PSIR Rembang. Perjuangan klub berjuluk Dampo Awang ini mampu bertahan di Liga 2 musim depan. Bersama saudara se-Jawa Tengah: Persibat Batang, Persik Kendal, dan Persis Solo, PSIR bakal mengarungi ketatnya persaingan di Liga 2.

Perjuangan PSIR bukan tanpa rintangan. Mengawali kompetisi di grup 4, PSIR berhasil finis di posisi ke-3. Mereka harus bersaing dengan klub syarat penagalaman, PSIS dan Persis Solo. Kendati demikian, PSIR berhasil melakoni babak play off.

Tuhan memberkati, di babak tersebut PSIR berhasil menjadi juara grup meyingkirkan Persik Kediri, Yahukimo, dan Timah Babel. PSIR berhak bertahan di Liga 2 musim depan.

Prestasi PSIR tak begitu mengecewakan. Bahkan klub yang bermarkas di Stadion Krida tersebut pernah merasakan manisnya juara Divisi III Nasional pada musim 2005/2006 silam. Tak berhenti disitu saja skuat PSIR, setahun kemudian, mampu keluar sebagai yang terbaik di Divisi II Nasional . Klimaksnya PSIR mampu menembus hingga Divisi Utama.

Setahun sebelum PSIR merengkuh titel juara, saudara mereka se-karesidenan, Persiku Kudus terlebih dahulu juara Divisi II Nasional. Bedanya tak banyak prestasi tingkat nasional yang mampu ditorehkan Persiku. Terbaru, klub yang dijuluki Macan Muria ini berhasil keluar sebagai juara Liga Nusantara (Linus) Zona Jawa Tengah pada 2016 kemarin.

Klub lainnya yang masuk dalam Karesidenan Pati ialah Persipa Pati, Persipu Purwodadi, dan Persikaba Blora. Dibanding klub se-karesidanan yang telah dijelaskan sebelumnya, tiga klub ini kalah bersinar. Prestasi tertinggi Persipur hanya sebatas promosi ke Divisi Utama musim 2012/2013. Bahkan musim kemarin mereka harus terlempar dari Liga 2. Bersama Persijap, Persipur akan mengarungi Liga 3 musim depan.

Sedangkan Persikaba pernah menjadi runner-up Linus 2014 dan runner-upLinus Zona Jawa Tengah 2015/2016. Hal menyedihkan justru dialami Persipa. Hingga saat ini belum ada prestasi gemilang yang mereka ukir. Sehingga Persipa masih betah bertahan di Linus.

Geliat sepak bola Utara pulau Jawa memang tak semasyhur kota-kota lainnya di Nusantara. Bahkan kalah gemerlap dengan dengan klub di Zona Jawa Tengah lainnya. Namun demikian, bukan berarti kecintaan masyarakatnya ikut tenggelam dalam kehausan prestasi. Sepak bola Utara pulau Jawa tetap ada dan akan selalu ada. Meski dilanda berbagai kendala, pada dasarnya sepak bola tak bisa dihentikan begitu saja.

Sepak bola Utara pulau Jawa ini bakal terus bergulir. Hal tersebut dibuktikan dengan serangkaian turnamen dan kompetisi nasional yang mereka ikuti. Serta yang patut diapresiasi adalah pembinaan usia dini disetiap daerah. Sehingga persaingan di sana terus membakar semangat untuk menjadi yang terbaik.

Jadi, sangat mungkin dominasi PSIS dan klub lainnya di Jawa Tengah kelak bisa terpatahkan. Bravo Pantura! (*)

[bs-quote style=”style-16″ align=”left” author_name=”M.S Fitriansyah” author_job=”Warga Kabupaten Pati” author_avatar=”https://www.murianews.com/wp-content/uploads/2018/02/DSC_0097-pp.jpg”][/bs-quote]

 

Ketika Pemuda (hanya) Bergaya

FILSUF Perancis, Rene Descartes pada tahun 1619 mengatakan sebuah konsepsi  “Cegito Ergo Sum”  artinya: aku berpikir maka akau ada. Kata-kata tersebut menjadi cambuk acuan para pemikir-pemikir kala itu, untuk lebih meng-eksplor gagasan-gagasan mereka. Tidak hanya kala itu saja, bahkan sekarang kosepsi tersebut menjadi akar para akademisi tak kecuali kawula muda. Mereka dituntut agar selalu memperbaiki alternatif serta memperbarui pemikiran seiring dengan zaman yang senantiasa berkembang.

Gaya hidup “cegito Ergo Sum” jika ditelaah lebih dalam bisa ditarik pemahaman bahwa manusia dihidupkan untuk berpikir, jika tidak berpikir maka orang itu telah “mati” walapun kenyataanya hidup. Dengan kata lain, keberadaan seseorang akan diakui  jika mereka berpikir. Artinya, ketika seseorang-terlebih kaum muda- tidak berpikir bisa dikatakan telah mati karena tidak punya eksistensi dalam hal berpikir.

Di zaman yang serba moderen ini, katakanlah zaman now, sepertinya kondisi kaum muda saat ini seolah mengalami keterlemparan dalam suatu arus budaya yang memaksanya bergaya. Ini cocok dengan kalimat yang berkebalikan dari konsepsi diatas, “copenicullus ergo sum” (aku bergaya, maka aku ada).

Gaya hidup bisa diartikan sebagai pola-pola kebiasaan saat bertindak. Namun, pada  pemahaman yang lebih luas, gaya hidup bisa menjadi peran pembeda satu orang dengan orang lain. Sering dikaitkan dengan sikap kecenderungan mengikuti arus yang lagi tranding di manapun dan kapan pun berada. Hal ini tidak salah, karena pada kenyataan hidup bergaya memang demikian.

Dalam buku “Motivasi Harian resreshing U’re soul” membahas persoalan gaya bagaikan hidup yang penuh gemerlapan dan keglamoran, extravagansa– yang kesemuanya adalah bersifat hedonistik, demi kesenangan dan menjadi bagian dari desain setan yang  fana’ (dalam bahasa Arab-Indonesia artinya rusak).

Hal inilah yang terjadi di lingkungan ruang pemuda sekarang ini. Dalam ruang pendidikan misalnya para pemuda saat pembelajaran berlangsung, sekarang sudah sedikit atau jarang sekali ditemui yang membawa banyak buku seperti zaman dulu. Cukup hanya laptop dan HP dengan dalih lebih simpel dan efisien. Mereka mempraktikkan gaya ala Plato, meski kadang arahnya tak tau ke mana. Bukan manfaat yang didapat melainkan hanya bahaya karena menjadi bahan pamer atas alat-alat yang serba canggih.

Selain itu, di dalam ruang kebutuhan pemuda. Sudah jelas tempat wisata, gedung bioskop, shoping mall, rumah kecantikan, serta wisata kuliner seolah menjadi prioritas yang harus dipenuhi dengan menyampingkan tugas utamanya, belajar. Buktinya, ruang perpustakaan sering kali kosong bahkan sepi. Tidak kalah menarik lagi dari mereka adalah menjadi korban bajakan mode. Di mana setiap new mode, life style menjadi sebuah ketertarikan yang khas di kalangan pemuda.

Dari segi dominasi budaya, budaya-budaya kapitalis dengan ekonomi pencitraan membuat kaum muda harus membeli segalanya yang ditawarkan demi sebuah gengsi. Mode dan segala rupa extravaganza menjadi konsumsi yang dipandang eskulin lambat laun berdampak pada boros yang tidak lain menghamburkan uang yang berujung pemerasan kantong. Tidak hanya kantong yang terperas, tapi juga otak dan waktu mereka terperas. Demikian karena seiring waktu yang terbuang sia-sia hanya karena duniawian, saat itu juga tidak difungsikannya otak berpikir jernih.

Semua itu tidak lebih dalah hal-hal semu yang bisa mendatangkan banyak sisi negatif di kemudian hari. Mereka bukan lagi menjadi penikmat di hidupnya tapi menjadi budak dari gaya. Model victim. Khalil Gibran dalam bukunya  “Tasirun Sulaiman” berkata: “Hasrat kepada kenikmatan adalah sesuatu yang datang bagai tamu, lalu berubah menjadi tuan rumah, kemudian dia pun menjadi tuan yang berkuasa.” Ini sangatlah sesuai untuk menggambarkan dampak dari bergaya.

Kemungkinan besar yang bersemayan di dalam kepala hanyalah euforia belaka. Terlepas itu semua kiprah pemuda sebagai penerus kepemimpinan bangsa sama sekali tidak mereka pedulikan. Padahal ini jauh lebih penting dan lebih mulia dari kacamata bangsa. Mau dibawa seperti apa bangsa ini ke depannya jika generasi hanya bermodal gaya? Padahal Indonesia seiring berjalannya waktu selalu mendapatkan porsi yang meningkat dalam persentase problematikanya.

Dengan demikian hidup dengan segala kenikmatan yang relatif alami jauh lebih teroganisir dan dipandang apik dari segi intelek kepemudaan. Jika harus menuntut bergaya di setiap liniatur kehidupan maka tidak heran jika kiprah pemuda di negeri ini sedikit demi sedikit akan hilang tertelan arus budaya glamor yang sesat.

Ini bisa menjadi cambuk bagi semua orang terlebih pemuda, agar lebih terbentengi seiring bertambahnya budaya kapitalisme barat; seperti industri kecantikan, industri kuliner, industri wisata, mall, kawasan huni megah dan lain-lain, artinya godaan bergaya semakin tinggi. Sehingga peran pemuda untuk bangsa tidak terkikis hilang. (*)

[bs-quote style=”style-16″ align=”left” author_name=”Alwi Ahmad Sulthon” author_job=”Mahasiswa Fakultas SAINTEK, UIN Walisongo” author_avatar=”https://www.murianews.com/wp-content/uploads/2018/02/Alwi-e.jpg”][/bs-quote]

Revitalisasi Peran Wali Murid

Janu Arlinwibowo, M.Pd. Pemerhati Pendidikan – Awardee Doktoral Dalam Negeri LPDP 2016.

SELURUH dunia telah menyerahkan pengembangan potensi bibit-bibitnya ke dalam suatu wadah pendidikan yang biasa disebut sekolah. Indonesia sangat menyadari pentingnya bersekolah agar dapat memaksimalkan potensinya dan memiliki bekal untuk bersaing di masa mendatang. Saat ini bangsa Indonesia telah memberikan standar bagi masyarakat untuk belajar minimal 9 tahun (hingga SMP) yang sering disebut sebagai wajib belajar 9 tahun. Walaupun pada faktanya, banyak orang yang menganggap saat ini pendidikan SMA tidak cukup. Seseorang harus menempuh hingga jenjang strata 1 untuk dapat bersaing.

Untuk menjamin tidak ada lagi dengungan tidak bersekolah karena mahal maka saat ini pendidikan hingga jenjang SMP telah digratiskan oleh pemerintah. Upaya tersebut telah menghapuskan diskriminasi antara si kaya dan si miskin. Lebih lanjut bahkan pemerintah telah menyelenggarakan pendidikan inklusi sehingga anak dengan kebutuhan khusus dapat bersekolah bersama anak lain. Dengan demikian maka diskriminasi terhadap keterbatasan siswa pun perlahan telah diatasi.

Pada saat bersekolah seseorang berubah status dari seorang anak menjadi seorang siswa. Anak ketika di rumah dengan kontrol dan aturan main yang dibuat oleh orang tua, sedangkan siswa ketika di sekolah dengan kontrol dan tata tertib sekolah. Pada saat bersekolah, siswa berproses sendiri bersama teman dalam sistem yang ada di sekolah. Orang tua didesain untuk minim intervensi dengan harapan anak tumbuh menjadi sosok yang lebih mandiri. Siswa diajari untuk mulai berani tidak ditunggui dari PAUD dan TK. Pada saat SD, siswa dikondisikan untuk sudah masuk gerbang sekolah sendiri dan kluar gerbang sekolah sendiri. Sekolah adalah dunia siswa di mana orang tua tidak memiliki campur tangan banyak.

Komunikasi Orang Tua dan Sekolah

Selama ini, campur tangan orang tua hanya pada hal administrasi, sosialisasi program, dan ketika siswa mengalami permasalahan. Pada hal administrasi dan sosialisasi, orang tua dilibatkan dalam acara kontinu seperti penerimaan rapor ataupun rapat awal semester. Namun, pembahasan masalah pribadi mengenai perkembangan siswa sangat jarang dilakukan secara intensif, kecuali untuk siswa bermasalah. Anak yang tidak mengalami masalah dianggap sebagai anak “normal” sehingga tidak perlu ada komunikasi khusus dengan orang tua.

Situasi tersebut berlangsung terus-menerus sehingga lazimnya jika guru atau pihak sekolah menemui atau memanggil orang tua maka dianggap pasti ada hal spesial yang dilakukan oleh putra/putrinya. Tidak kaget jika saat guru menemui atau memanggil, hal yang pertama ditanyakan oleh orang tua adalah “apakah anak saya membuat masalah?”. Bahkan tidak jarang ketika ada undangan untuk ke sekolah, orang tua langsung marah dan menyimpulkan bahwa anaknya melakukan perilaku yang tidak baik, padahal belum tentu.

Citra negatif melekat pada aktivitas “komunikasi antara guru dan orang tua” pada waktu yang bukan agenda rutin dan tidak diagendakan masal. Fakta demikian membuat ketiadaan inisiatif orang tua untuk melakukan komunikasi dengan pihak sekolah. Dengan demikian maka terputuslah hubungan dan komunikasi intensif antara orang tua dan guru. Imbasnya sangat fatal yaitu sinergi yang tidak dapat terbangun dengan baik. Padahal sinergi orang tua dan guru merupakan salah satu aspek fundamen dalam memaksimalkan potensi siswa.

Urgensi Sinergi Orang Tua dan Sekolah

Sinergi antara pihak sekolah dan orang tua sangat penting. Handerson (Mariyana, 2009) menyatakan bahwa jika sekolah tidak membuat dan melakukan usaha untuk mengikutsertakan orang tua dalam proses pendidikan maka anak akan kesulitan dalam menggabungkan dan menyatukan pengalaman yang mereka peroleh di rumah dan di sekolah. Kedua pengalaman terpisah oleh ruang dan waktu sehingga jika tidak dilakukan penyatuan maka akan sangat mungkin seorang siswa tumbuh menjadi individu yang berbeda dalam setiap kondisi. Kasus yang sering dihadapi adalah perbedaan sikap saat di sekolah dan di rumah. Terdapat guru yang tidak menyadari kenakalan siswa karena sikap yang ditunjukan di sekolah sangat baik akan tetapi di rumah sebaliknya, atau orang tua tidak percaya informasi guru bahwa anaknya berkelakuan kurang baik karena saat di rumah merupakan seorang yang sangat santun. Kasus demikianlah yang memicu banyak “kecolongan”. Siswa teridentifikasi memiliki perkembangan yang kurang baik saat sudah melakukan perbuatan fatal.

Banyak pihak yang mulai menyadari arti penting sinergi dengan orang tua. Zaman sudah mulai bergeser di mana saat ini posisi sekolah dan orangtua sudah seharusnya menjadi partner dalam mengembangkan potensi siswa. Kurikulum saat ini telah menekan keseimbangan perkembangan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Dari ketiga hal tersebut, guru hanya dapat mendominasi pada perkembangan kognitif, sedangkan untuk sikap dan ketrampilan, proses pembelajaran sekolah hanya dapat menjangkau ranah teoritis. Itu pun hanya dari mulai pukul 07.00 hingga 14.00 WIB, selebihnya siswa sudah hidup dalam lingkungannya masing-masing. Di luar jam sekolah sikap dan ketrampilan diasah lebih lama. Orang tualah yang memiliki kemampuan dalam mengendalikan lingkungan luar sekolah.

Revitalisasi Peran Orang Tua Sebagai Wali Murid

Intensitas komunikasi siswa dengan pihak sekolah harus ditingkatkan. Citra bahwa orang tua ke sekolah adalah orangtua dari siswa yang berkelakuan kurang baik harus dihilangkan. Langkah strategis yang dapat diambil adalah revitalisasi peran wali murid. Sekolah memiliki peran besar pada upaya tersebut yaitu dengan memberikan arahan terbuka pada orang tua untuk menjadi sebenar-benarnya wali tanpa harus mengkhawatirkan citra yang saat ini berkembang. Orang tua memiliki hak untuk mendapatkan informasi perkembangan anaknya tidak hanya melalui rapor tapi juga data leboh detail melalui komunikasi intensif dengan guru. Di samping itu orangtua juga harus sadar bahwa semua perkembangan anaknya adalah penting untuk diketahui dan didiskusikan. Jika peran orang tua sebagai wali menjadi lebih nyata, semakin intensif komunikasi orang tua dan guru, kondisi perkembangan anak semakin terkontrol, dan “bincang-bincang” orang tua dengan pihak sekolah menjadi hal biasa maka proses pendidikan anak menjadi semakin baik, potensi berkembang maksimal, dan hal negatif ditekan minimal. Sekolah memupuk, orang tua menyiram, dan bersama memproteksi dari hama.

(Janu Arlinwibowo, M.Pd. Pemerhati Pendidikan – Awardee Doktoral Dalam Negeri LPDP 2016. Warga Gondosari Gebog Kudus. Artikel ini dimuat di MuriaNewsCom, Kamis 9 Maret 2017)

 

Memilih Sekolahnya Manusia

Penulis: Ella Izzatin Nada

Guru SD Semai, Jepara

Setiap orang tua, akan menghadapi pilihan sulit dalam menentukan arah dan masa depan anak-anaknya. Memilih pendidikan yang tepat, salah satu kegelisahan yang mengganggu. Belum lagi, perkembangan pola pendidikan yang bergerak dinamis, menyuguhkan berbagai alternatif pilihan. Pada musim pendaftaran sekolah baru, banyak sekolah yang menyuguhkan tawaran iklan memikat.Kualitas dan kompetensi sekolah bersangkutan, dikemas semenarik mungkin, untuk merayu orang tua menyekolahkan anaknya di tempat itu.Belum lagi, biaya mahal kerap jadi trend kelas sosial tersendiri.

Ironisnya, tumbuh budaya di masyarakat kita, bahwa sekolah yang berkualitas diukur dari mahal dan murahnya biaya yang harus dibayar.Jika demikian, sekolah di negeri ini sudah berubah menjadi sarana transportasi umum.Sama dengan bus, taxi, pesawat, dan alat transportasi lainnya.Anak didik, telah diubah jadi seorang penumpang angkutan umum.Tak hanya jadi penumpang angkutan umum, dalam kebanyakan sistem pengajaran yang berlaku saat ini, murid juga disulap jadi robot.Ketika jiwa manusianya, dipaksa menerima materi pelajaran yang sifatnya memaksa banyak anak yang bingung.Dampaknya, materi pelajaran yang diberikan dengan sistem yang dipaksakan itu, tidak mampu dicerna murid.Ujungnya, murid yang gagal dan dipandang sebagai anak yang “bermasalah” atau lebih parahnya disebut sebagai anak yang bodoh.

Sejatinya, manusia lahir ke muka bumi dengan karunia kecerdasan yang beragam dari Tuhan. Jika keberagaman itu, mendapat tempat yang adil akan jadi kekuatan yang dahsyat bagi manusia, untuk mengelola alam dan bumi ciptaan-Nya ini. Masalahnya, bagaimana cara tepat untuk mengelola keberagaman itu?.

Munif Chatib, konsultan pendidikan dan manajemen yang juga trainer Lazuardi Next, menjawab dengan gamblang dalam buku “Sekolahnya Manusia”. Buku setebal 185 halaman yang diterbitkan Kaifa, group penerbit Mizan ini, ditulis berdasarkan pengalaman Munif Chatib sebagai konsultan pendidikan dan distance learning-nya dengan Bobbi DePorter sang tokoh Quantum Learning. Secara garis besar, Sekolahnya Manusia, memaparkan dengan terang tentang penerapan Multiple Intelligences (MI). Setiap anak mempunyai kecerdasan yang beraneka ragam dan tidak dapat diukur hanya dari satu ranah yaitu penilaian tes hanya pada mata pelajaran tertentu. Tidakkah anak yang mempunyai bakat menulis, menggambar, menyanyi juga dapat disebut sebagai anak yang cerdas?.Sering kali sekolah dan orang tua menyebut anaknya pandai ketika mendapatkan nilai bagus pada mata pelajaran tertentu seperti matematika ataupun IPA.

Merubah pola pikir tidaklah mudah, sejatinya sekolahnya manusia merupakan sekolah yang menghargai keberagaman dan keunikan peserta didik, sehingga tidak ada lagi peserta didik yang terdiskriminasi.Semua sekolah seharusnya memperhatikan ini. Bukankah setiap manusia memperoleh hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak?. Bukankah setiap manusia adalah ciptaan Tuhan, dan Tuhan tidak akan menciptakan produk gagal? Masihkah pantas jika suatu lembaga pendidikan mendiskriminasi peserta didik hanya karena peserta didik tidak lolos dalam tes masuk?. Apakah selama ini tes masuk yang ada sudah melihat berbagai jenis kecerdasan anak?. Tes masuk sering kali hanya mengukur sebagian kecerdasan anak dengan tanpa melihat kecerdasan yang lain. Sehingga, sering kali suatu lembaga pendidikan memilih anak-anak yang cerdas dengan alasan lebih mudah mendidiknya.

Pendidikan humanis bukanlah mimpi lagi, jika sebagai orang tua dan guru dapat memahami benar potensi anak.Penerimaan siswa baru tanpa tes, tetapi melalui metode Multiple Intelligences Research (MIR). Melejitkan setiap siswa sesuai kecerdasan uniknya. Bagaimana menjadikan pembelajaran menyenangkan, menarik, dan memotivasi dengan Multiple Intelligences System (MIS), Bagaimana membuat guru makin kreatif dengan lesson plan-nya, Bagaimana mengubah orang tua makin memahami anak-anaknya, Bagaimana membuat sekolah benar-benar unggul. Sehingga dalam hal pemilihan sekolah yang tepat bagi anak merupakan momen penting bagi setiap orang tua, belum tentu sekolah terfavorit menjadikan anak nyaman dan mampu mengembangkan potensi dirinya. Jangan sesekali memilih sekolahnya robot yang menyamakan rata anak dengan satu perlakuan yang sama. Berbagai potensi yang dimiliki anak akan hilang karena proses yang salah. (*)

 

 

Memajukan Pendidikan dan Kebudayaan

Penulis : Hasan Makmuri

Warga Kedungdowo, Kaliwungu, Kudus

Pendidikan bisa dipahami sebagai upaya pembinaan karakter manusia lewat ilmu sekaligus pelatihannya, untuk menghasilkan generasi dan tunas bangsa yang cerdas akal dan hati, guna meraih bahagia . Baik di alam dunia maupun di alam keabadian alias di alam akherat. 

Pendidikan , tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan . Sebab, disamping kata “budaya”itu sendiri yang berasal dari bahasa Sansekerta berarti : budi , adab dan akhlak , istilah “pendidikan”yang lebih identik dengan sentuhan manajemen modern dan sistem”kelas” juga produk dari kebudayaan itu sendiri .

Jika kita runut ke masa klasik sebelum masa penjajahan, sistem pembinaan karakter manusia lebih dikenal dengan istilah : “ngaji lesehan”(yang sekarang sedang di “uri-uri” oleh salah satu budayawan negeri Emha Ainun Najib dengan kiai kanjengnya).

Yakni, sebuah setting pembinaan karakter yang hanya menggunakan cara sederhana yang terdiri dari seorang guru/ustaz/kiai , di mana di depannya ada para murid yang duduk melingkar secara “lesehan”untuk menerima wejangan-wejangan dari sang guru. Cara ini, pada perkembangannya dikenal sebagai ; pondok pesantren . 

Oleh karenanya, sistem pembinaan karakter lewat “ngaji lesehan”ala pesantren yang juga disebut sebagai sistem tradisional, adalah bagian dari “akar budaya”bangsa dalam konteks pendidikan , sebagai embrio bagi peradaban Nusantara yang kemudian melahirkan sistem”pendidikan nasional”dengan sentuhan “manajemen modern”. 

SENI BUDAYA

Jika bicara tentang kebudayaan , maka tidak bisa dilepaskan dari aspek kesenian yang bisa dikatakan sebagai “motor” dari berbagai karya kebudayaan. Setiap bangsa , memiliki khazanah seni tradisional dengan “kekhasannya” sesuai dengan 

karakteristik individu-indvidu warganya , yang kemudian menjadi identitas”kearifan-lokal” bagi bangsa itu sendiri .

Dalam literatur kesejarahan dikatakan , bahwa kejayaan peradaban Yunani kuno di “back-up” oleh sistem pendidikan yang berbasis seni dan olah raga. Seni mengindahkan aspek jiwani , sementara olah raga mengindahkan aspek ragawi. Sungguh sebuah perpaduan nan harmoni . 

Maka bisa disimpulkan : kesenian yang merupakan dimensi ilmu noneksakta adalah juga bagian dari “piranti pendidikan”yang tidak kalah penting jika dibandingkan dengan materi pendidikan lain seperti ilmu matematika, fisika dan lainnya.

Bahkan seorang Albert Einstain yang notabene seorang fisikawan pernah mengatakan : The imagination is more important than knowledge( Imajinasi itu lebih penting daripada pengetahuan). Jika bicara soal imajinasi , maka yang lebih dekat dengannya adalah “kesenian” .

Dengan kata lain, berkesenian yang merupakan sarana olah kreativitas adalah membutuhkan potensi imajinasi . Sedangkan olah kreativitas itu sendiri adalah dibutuhkan umat manusia guna menggerakkan roda kebudayaan dan peradaban sebuah bangsa.

Pertanyaannya kemudian : sampai seberapa jauhkah sistem pendidikan nasional kita mengakomodasi aspek kesenian sebagai piranti pendidikan yang disejajarkan dengan materi pelajaran lain ? Ataukah malah dianak tirikan ? Agaknya kita perlu banyak interospeksi terutama bagi para pendidik/guru dan juga institusi terkait. 

Yang jelas, (kalaulah boleh mengevaluasi), aspek seni-budaya yang disuarakan oleh departemen terkait di negeri ini , gemanya baru pada Bab kirab budaya pada even-even tertentu , semacam hari Kartini, Hari Jadi setiap kota yang lebih banyak bernuansa seremonial . 

Bisa juga dikatakan terkesan lebih dekat dengan sektor pariwisata yang notabene lebih kental dengan aspek komersialitasnya . Belum menyentuh pada sisi maknanya yang berkait erat dengan peningkatan kualitas pembinaan karakter dan mental anak bangsa . 

Potret bangsa dan negara yang dikatakan telah benar-benar “berpendidikan dan berkebudayaan” adalah ; terwujudnya manajemen birokrasinya yang lebih dinuansai dengan “keadilan dan kejujuran”,  sehingga volume praktek kejahatan “korupsi , kolusi dan gratifikasi”  benar-benar bisa dicegah dan tekan secara optimal dan maksimal . Semoga. (*)