Tantangan Guru di Zaman Kekinian

Kholistiono cak.kholis@yahoo.co.id

Kholistiono
cak.kholis@yahoo.co.id

GURU merupakan seorang pembimbing dan penuntun untuk menjadikan seseorang menjadi pintar dan dewasa dalam berpikir maupun bersikap. Peran seorang guru menjadi sangat vital bagi perkembangan generasi muda, sebab, mereka adalah “orang tua” bagi anak-anak yang sebagian waktunya, setiap hari dihabiskan di sekolah.

Maka tak heran, jika peran guru mendapatkan sorotan dari masyarakat luas. Sebab, guru menjadi kunci vital terhadap maju atau tidaknya dunia pendidikan. Mereka yang menjadi nahkoda untuk membawa anak didiknya ke sebuah tujuan pendidikan yang berkarakter dan bermoral, dengan jalur atau proses yang belum tentu sama antara satu guru dengan guru lain.

Tak dapat dipungkiri pula, dalam proses tersebut, terkadang ada tindakan yang “kurang wajar” dan justru bisa berdampak adanya ketidaksesuaian dengan kondisi masa kini. Bahkan, bisa pula mengakibatkan fatal terhadap kondisi psikis dan fisik dari peserta didik. Dapat dibayangkan, jika hal seperti ini dapat memicu reaksi dari publik, apalagi, kini zamannya sudah era sosial media, yang sangat memungkinkan informasi-informasi terkait apa yang terjadi dalam dunia pendidikan menyebar dengan sangat cepat.

Contoh saja, dalam beberapa hari terakhir ini, dunia pendidikan kembali menjadi sorotan publik. Bukan soal prestasi tentunya, sebab, jika hal seperti itu terkadang tak terlalu “dihebohkan” oleh publik, khususnya netizen.

Kali ini terkait dengan insiden adanya belasan siswa SMAN 1 Mlonggo, Jepara, yang pingsan akibat menjalankan sanksi atau hukuman yang diperintahkan oleh kepala sekolahnya. Sanksinya berupa lari, baris berbaris dan bersih-bersih dalam kondisi diguyur hujan deras. Mereka, yang fisiknya tak kuat karena kedinginan, lantas pingsan dan harus dilarikan ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan. Bahkan, dua di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit.

Peristiwa ini bermula, ketika, pada hari itu ada puluhan siswa yang terlambat masuk sekolah, yang memang jam masuk dimajukan setengah jam lebih awal, yakni pukul 06.30 WIB. Hal ini tak lepas adanya program bersih lingkungan atau yang disebut Jumat Bersih.

Kepala sekolah sendiri menyampaikan, jika jam masuk dimajukan lebih awal, agar tidak mengganggu jam kegiatan belajar mengajar dengan adanya Program Jumat Bersih tersebut. Namun, yang terjadi hari itu, ada lebih dari 50 siswa yang datang terlambat dan tidak dapat masuk karena pintu gerbang sudah dikunci. Selanjutnya, mereka pun terkena sanksi.

Dalam hal ini, sang kepala sekolah juga mengatakan jika sanksi yang diberikan kepada siswanya itu bukan dimaksudkan untuk menyiksa dan tidak menginginkan peristiwa pingsannya belasan siswa itu terjadi. Sanksi tersebut dimaksudkan untuk memberikan pendidikan disiplin dan pendidikan karakter.

Namun demikian, hal tersebut sudah terlanjur terjadi. Gelombang protes pun muncul dari berbagai lini, khususnya orang tua dan siswa. Bahkan, pada hari berikutnya, siswa melakukan aksi demontrasi layaknya mahasiswa atau ormas yang membawa beragam karton yang bertuliskan tuntutan, yang intinya menuntut agar Kepala SMAN 1 Mlonggo lengser.

Sikap serius juga ditunjukkan oleh Pemkab Jepara Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat secara langsung melaporkan adanya peristiwa ini kepada Pemprov Jateng, dan memberikan rekomendasi kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jateng untuk mengganti posisi kepala sekolah yang saat ini dijabat Gunawan.

Dari peristiwa ini, setidaknya, bisa menjadi pembelajaran bagi dunia pendidikan untuk melakukan pembenahan dalam proses mendidik dan mengajar. Sehingga, ke depan tidak muncul lagi cara mendidik yang sebenarnya dimaksudkan untuk kebaikan, namun, justru pola yang diterapkan tidak sesuai. Pola-pola lama, yang terkadang cara pengajarannya “disisipkan” kekerasan fisik, sudah seharusnya tidak lagi muncul dalam pola pendidikan saat ini dan ke depannnya.

Seperti halnya yang disampaikan Anies Baswedan, Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beberapa waktu lalu, bahwa, tantangan besar guru saat ini adalah bisakah guru menjadi teladan soal integritas? Bisakah kepala sekolah membuat sekolahnya menjadi zona berintegritas?

Untuk mewujudkan hal tersebut, salah satu di antaranya, adalah bagaimana cara berpikir guru yang harus diubah dari yang hanya sekadar menjalankan kewajiban untuk mendapatkan gaji. Menjadi guru harus punya kreasi dalam mendidik.

Dalam mendidik, guru juga seyogyanya tak menerapkan sikap otoriter, sehingga hal itu berakibat terhadap berkembangnya kreatifitas siswa. Seorang guru memiliki kewenangan untuk mendidik dengan cara mereka, namun, bukan semaunya mereka, yang justru tidak menghasilkan proses pembelajaran yang membuat nyaman siswa, sehingga tidak memacu siswa untuk lebih kreatif akibat ketidaknyamanan tersebut.

Namun demikian, guru tidak pula harus bersikap permisivisme. Dalam hal ini, guru tidak harus memberikan keleluasaan yang sebebas-bebasnya, sehingga justru menabrak aturan dan tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Sebab, fungsi guru adalah membimbing dan mengarahkan anak didiknya menjadi pribadi yang baik dan berkarakter.

Jika begitu, ternyata berat ya menjadi seorang guru? Ya, guru bukan hanya sebuah profesi, tetapi guru merupakan tugas mulia yang membutuhkan keikhlasan untuk mengabdikan diri mendidik siswa, seperti halnya mereka mendidik anak-anak mereka di rumah. Mereka punya kewajiban menyanyangi anak didiknya seperti halnya anak mereka sendiri. Maka ada baiknya, yang kini mengabdikan diri menjadi pendidik, menoleh kembali, apakah selama ini sudah benar-benar sesuai tujuan sebagai seorang guru, ataukan hanya sekadar menjalankan kewajiban.

Mengetahui beratnya tanggung jawab seorang guru seperti itu, tentulah, kita patut memberikan apresasi yang tinggi terhadap guru dan memuliakan guru. Masyarakat juga memiliki peran penting untuk ikut dalam mengurangi beban guru, khususnya terkait dengan kesejahteraan mereka.

Kita berharap, ke depan, dunia pendidikan di Indonesia semakin maju dalam tatanan moral yang beradab dan tidak melepaskan nilai-nilai budaya yang dimiliki. (*)