Asyiknya Berburu Kuliner Jawa di Omah Kuno Pati, Ndas Manyung Jadi Andalannya

Tata, salah satu penikmat kuliner tengah berburu pepes bandeng khas Juwana di Rumah Makan Omah Kuno Pati, Sabtu (18/2/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Rumah makan Omah Kuno yang terletak di Jalan Diponegoro Nomor 115 Pati menyajikan beragam menu kuliner menarik khas Jawa-Nusantara. Beberapa menu di antaranya adalah kuliner khas Pati.

Tata, misalnya. Pencinta kuliner asal Desa Ronggo, Kecamatan Jaken ini jauh-jauh datang ke Omah Kuno untuk berburu menu kesukaannya, pepes ikan Bandeng dan Mangut Ndas Manyung. Kedua menu tersebut merupakan khas Bumi Mina Tani.

“Ini sudah beberapa kali saya datang ke sini. Paling suka dengan pepes ikan bandeng khas Juwana. Mangut Ndas Manyung juga menu andalan saya, khas Pati juga,” ujar Tata, Sabtu (18/2/2017).

Soal minuman, Tata lebih suka beras kencur. Minuman tradisional ini diakui cukup sulit dicari di rumah makan atau restoran. Karena itu, dia selalu minum beras kencur saat berkunjung ke Omah Kuno.

Untuk jajanan pasar, Tata selalu pilih putu ayu dan tiwul. Kedua jajan itu hanya ditemui di pasar tradisional, sehingga menarik untuk dimakan dalam suasana rumah makan yang klasik.

“Semuanya tinggal pilih dan bayar. Bisa memilih sesuka hati tanpa harus menunggu. Satu keunikan berburu kuliner di sini. Tempatnya bikin betah dan semua menunya khas Jawa-Nusantara, cocok di lidah,” ucap Tata.

Jackson, pengelola Omah Kuno sengaja menyajikan masakan tradisional khas Nusantara untuk menambah gairah wisata kuliner di Kabupaten Pati. Dalam sehari, menu yang ditawarkan selalu fresh dan berbeda dari pagi, siang dan malam. Dia berharap, penikmat kuliner bisa memberikan saran dan masukan, karena Omah Kuno baru saja dibuka beberapa hari yang lalu.

Editor : Kholistiono

Rumah Makan Omah Kuno 1868 Pati Mulai Dibuka, Ragam Kuliner Khas Nusantara Tersaji

 Penjual jajanan tradisional dumbeg pada Festival Kuliner Pati Tempo Dulu di Omah Kuno, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Penjual jajanan tradisional dumbeg pada Festival Kuliner Pati Tempo Dulu di Omah Kuno, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Rumah Makan Omah Kuno 1868 yang terletak di Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati akan mulai buka pada Minggu (5/2/2017). Ada beragam kuliner khas Jawa-Nusantara yang akan tersaji dengan harga terjangkau.

Pengelola Omah Kuno, Jackson mengatakan, ragam kuliner yang ditawarkan di Omah Kuno bisa dinikmati dari harga Rp 3.000 hingga Rp 15.000. Harga yang terjangkau membuat rumah makan ini bisa dinikmati semua kalangan.

“Kami ingin membangkitkan gairah kuliner tradisional Jawa khas Nusantara di Pati. Semua masakan diolah ibu-ibu dengan resep khusus tradisional. Kami ingin memberikan satu nuansa rumah makan yang berbeda di Pati,” ujar Jackson.

Untuk memberikan pelayanan terbaik kepada penikmat kuliner, Omah Kuno akan buka setiap hari dari pukul 06.00 WIB sampai pukul 24.00 WIB. Dengan demikian, pengunjung bisa menikmati sajian kuliner di Omah Kuno dari pagi hingga tengah malam.

Terlebih, Omah Kuno menampilkan ornamen bangunan klasik yang dibuat pada 1868, dilengkapi dengan taman bonsai dan kolam air sehingga benar-benar serasa di alam. “Pengunjung bisa makan dalam ruangan bangunan kuno, di teras, atau berada di kawasan taman bonsai dan kolam untuk menikmati suasana gemericik air,” tuturnya.

Uniknya, ada sejumlah menu dengan pilihan yang tidak monoton. Ada menu-menu favorit yang disajikan secara tetap, ada pula beberapa menu yang berganti setiap hari. Komitmen untuk menyajikan makanan secara prasmanan semakin menambah suasana makan seperti di rumah sendiri.

“Makanan tersaji cepat, makanan bisa ambil sendiri dan tidak perlu menunggu. Bagi yang hanya memiliki waktu pendek, bisa di sini. Begitu juga yang ingin berlama-lama, Omah Kuno menawarkan pemandangan rumah makan yang klasik dan selaras dengan alam,” ucap Jackson.

Beragam kuliner yang disajikan di Omah Kuno, antara lain nasi, lontong, sayuran, ikan,lauk-pauk, dan minuman. Untuk nasi, pengunjung bisa memilih nasih putih, merah, nasi jagung, nasi menir, nasi kuning, nasi goreng terasi, atau nasi goreng pete.

Pengunjung juga bisa memilih aneka lontong, seperti lontong opor, lontong sayur, lontong semur, dan lontong pecel. Ada pula aneka sayur, mulai dari sop, asem, bening, lodeh, mangut manyung, pindang serani, semur bandeng, semur daging, tempe pedes, gulai ikan, sayur bobor, dan lainnya.

Pemburu ikan bisa memilih bandeng bakar atau goreng, bandeng pepes, gurami bakar dan goreng, nila bakar dan goreng, nila pepes, mujair, kakap, cumi, ikan panggang, kakap kelo mrico, udang, teri, pindang, ayam, aneka botok, ragam oseng-oseng, dan sebagainya.

Berbagai jenis sambal tradisional dan gorengan juga ada. Belum lagi, jajanan tradisional akan melengkapi nikmatnya berburu kuliner di Omah Kuno, seperti getuk ireng, tiwul, klepon, lapis, dumbeg, nogosari, carang madu, serabi, kacang, dan jagung. Aneka kripik, kerupuk dan peyek pun ada.

Sementara itu, aneka minuman yang ditawarkan, mulai dari es teh, jeruk, kopi, buah, teller, kelapa kopyor, cincau, gempol pleret, dawet siwalan, es pocong manis, serta jus dan beragam wedang tradisional. Setiap pengunjung yang menikmati sajian di Omah Kuno akan mendapatkan es teh manis gratis.

Editor : Kholistiono

Getuk Ireng Buatan Lily Ludes Dibeli Pemburu Kuliner Jadul di Pati

Stand getuk ireng milik Lily Wulandari yang diburu pembeli dalam Festival Kuliner Pati tempo dulu di Omah Kuno, Sabtu (30/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Stand getuk ireng milik Lily Wulandari yang diburu pembeli dalam Festival Kuliner Pati tempo dulu di Omah Kuno, Sabtu (30/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Getuk ireng buatan Lily Wulandari yang dijajakan dalam Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe di Omah Kuno, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, Jumat (30/12/2016), ludes diserbu pembeli. Sebagian besar pembeli memilih getuk ireng, karena sudah langka dan susah dicari.

Lily mengatakan, getuk ireng dibuat dari bahan dasar ketela seperti membuat getuk biasa. Namun, dia menambahkan pewarna alami dari merang padi supaya warnanya hitam.

Tidak dijual sendirian, getuk ireng yang dijajakan di stand bagian luar tersebut dicampur dengan tiwul, gatot, dan getuk biasa. “Kalau getuk biasa warnanya kuning. Ini warnanya hitam, karena dicampur bahan pewarna alami dari merang padi. Ini makanan kuno yang sekarang sudah mulai tidak ada,” ujar Lily saat berbincang dengan MuriaNewsCom di sela-sela melayani puluhan pembeli.

Sejak dijajakan pada pukul 16.00 WIB, getuk ireng buatan Lily sudah habis pukul 17.30 WIB. Antusiasme pengunjung membeli getuk ireng tidak lepas dari eksistensinya yang mulai hilang, di pasar tradisional sekalipun.

Lily yang tinggal di Gunungbedah, Margorejo, Pati ini mengaku tahu resep getuk ireng dari orang tuanya. Selama ini, Lily tidak menjual getuk ireng di warung, tetapi hanya menerima pesanan. Rencannya, dia akan menjualnya di kawasan Stadion Joyokusumo.

Bani Pujiastuti (38), pembeli asal Desa Kaborongan, Pati mengaku rindu dengan masa kanak-kanak ketika dibuatkan getuk ireng oleh emaknya. Karena itu, berburu kuliner tempo dulu yang digelar anak-anak muda yang berprofesi sebagai jurnalis, pengusaha dan pemuda lintas profesi ini dimanfaatkan Puji untuk mengobati rindu akan masa kecilnya.

Festival sendiri rencananya akan berakhir pada Sabtu (31/12/2016) malam pukul 12.00 WIB. Pada malam tersebut, panitia akan menyalakan mercon bumbung dan terompet dari daun kelapa muda.

Editor : Kholistiono