Puluhan Driver Ojek Online di Blora dapat Pelatihan Safety Riding

MuriaNewsCom, Blora – Puluhan driver ojek online mendapat palatihan safety riding dari Satlantas Polres Blora, Sabtu (17/3/2018). Kegiatan ini digelar dalam rangkaian pelaksanaan Operasi Keselamatan Lalu Lintas Candi 2018 yang dilangsungkan hingga 25 Maret mendatang.

Pelatihan pada driver ojek online diawali dengan pembinaan dan penyuluhan yang disampaikan Kanit Dikyasa Iptu Yoga. Ada berbagai hal disampaikan pada sesi ini. Antara lain, terkait hal-hal yang mengakibatkan kefatalan dalam berkendaraan yang berujung pada laka lantas. Kemudian, pentingnya etika berlalu lintas di jalan raya juga ikut disampaikan.

Driver ojek online juga dibekali tentang tata cara berkendara yang baik dan benar dengan mengutamakan keselamtan. Lalu, mereka dibekali tips persiapan sebelum berkendara, cara menghindar dan cara membonceng yang benar.

Setelah teori, para peserta diminta mengendarai sepeda motor dengan lintasan yang sudah dipersiapkan dihalaman belakang mapolres. Lintasan tersebut bentuknya hampir sama seperti dalam ujian praktek SIM C. Yakni ada lintasan zig-zag, putar angka delapan, berbalik arah (leter U) dan pengereman atau menghindar.

Kanit Dikyasa Iptu Yoga menjelaskan, kegiatan itu dilaksanakan mengingat keberadaan ojek online di Kabupaten Blora sudah banyak peminatnya. Dengan pembekalan dan pengetahuan safety riding tersebut, diharapkan bisa mengurangi angka kecelakaan lalu lintas akibat kelalaian atau pelanggaran yang dilakukan oleh pengemudi.

“Kecelakaan lalu lintas moyoritas didominasi pengendara sepeda motor. Dengan adanya kegiatan sosialisasi dan safety riding ini sangat penting sebagai langkah edukasi, tujuannya mengurangi tingkat kecelakaan lalu lintas,” jelasnya.

Beberapa driver ojek online mengapresiasi adanya kegiatan yang dilakukan Satlantas Polres Blora tersebut. Melalui kegiatan itu, mereka mendapat banyak tambahan pengetahuan tentang cara berkendara yang baik dan benar.

Editor: Supriyadi

Dua Pelajar Pembunuh Sopir Taksi Online di Semarang Dihukum 9 dan 10 Tahun

MuriaNewsCom, Semarang – Kasus pembunuhan sadis Deny Stiawan, sopir taksi online di Semarang yang dilakukan dua pelajar SMK menemui babak akhir. Dua pelaku pembunuhan yakni DR dan IBR divonis hukuman 9 dan 10 tahun kurungan penjara.

Vonis dijatuhkan hakim tunggal Sigit Harianto, dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Selasa (27/2/2019). Hakim menjatuhi vonis pelaku yang masih berumur 15 tahun itu sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Yakni DR dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara, sementara IBR divonis 10 tahun kurungan penjara. Hakim menyatakan, dua terdakwa terbukti melakukan perencanaan pembunuhan. ” “Perbuatan tersebut dilakukan terdakwa dengan sengaja,” kata Sigit dilansir Antarajateng.com.

Terdakwa IB mendapatkan vonis yang lebih tinggi, karena dinilai sebagai inisiator aksi pembunuhan. Yakni IBR mengajak DR mencari pengganti uang sekolah sebesar Rp 510 ribu yang sudah selama tiga bulan belum dibayarkan.

Keduanya kemudian merencanakan tindak pidana untuk membegal sopir taksi online. Korban dipilih lantaranan dinilai mudah dieksekusi.

Adapun perencanaan yang dilakukan terdakwa antara lain, IBR menyiapkan pisau sepanjang 40 cm sebelum beraksi. Menurut hakim, kedunya juga sudah menyiapkan posisi duduknya di dalam mobil.

Terdakwa DR sengaja duduk di sebelah kiri korban, sementara IBR duduk di kursi tengah mobil, di belakang korban. Terdakwa DR berperan mengajak korban mengobrol, adapun IBR merupakan pelaku yang menghunuskan pisau ke leher korban.

“Terdakwa juga sengaja membayar ongkos taksi Rp 22 ribu, kurang dari yang seharusnya,” ujarnya.

Baca : 2 Siswa SMK di Semarang Begal dan Gorok Sopir Taksi Online, Alasannya Buat Bayar SPP

Terdakwa berpura-pura mengajak korban untuk mencari rumah bibinya dengan alasan untuk meminta tambahan uang untuk membayar ongkos taksi sebesar Rp 44 ribu.

Korban kemudian dieksekusi di Jalan Cendana Selatan IV, Tembalang, Kota Semarang. Dua telepon seluler dan mobil milik korban dibawa kabur oleh pelaku. Mobil itu direncanakan dijual setelah kondisi aman.

Atas putusan tersebut, baik terdakwa maupun penuntut umum sama-sama menyatakan pikir-pikir. Selanjutnya, kedua terdakwa yang masih di bawah umum tersebut akan ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Kutoarjo.

Editor : Ali Muntoha

2 Siswa SMK di Semarang Begal dan Gorok Sopir Taksi Online, Alasannya Buat Bayar SPP

MuriaNewsCom, Semarang – Kasus pembunuhan Deny Setiawan, sopir taksi online yang mayatnya dibuang di daerah Sambiroto, Tembalang, Kota Semarang, Sabtu (20/1/2018) akhirnya terungkap.

Pelakunya ternyata dua orang remaja yang masih duduk di SMKN 5 Kota Semarang. Mereka yakni DR (16) dan IB (16). Mereka adalah teman sekelas di SMK tersebut. Keduanya berhasil dibekuk jajaran Polrestabes Semarang, Senin (22/1/2018) tengah malam.

Dua remaja ini mengaku nekat membegal sopir taksi dan membunuhnya karena butuh uang untuk membayar SPP. Namun pengakuan para pelaku ini disayangkan kepolisian.

Karena menurut Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abioso Seno Aji, orang tua kedua pelaku terhitung orang yang mampu. Ini diketahui setelah pihak kepolisian memanggil orang tua masing-masing.

”Orangtuanya mampu, dan mengaku rutin memberikan uang SPP, nah ini nanti akan kami kembangkan dan dalami lagi motifnya,” katanya dalam jumpa pers, Selasa (23/1/2018).

Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abioso Seno Aji saat jumpa pers kasus pembunuhan sopir taksi online

Dari hasil pemeriksaan diketahui jika para pelaku memesan taksi online milik korban melalui aplikasi dari rumah IB di daertah Lemah Gempal, Semarang Selatan, Sabtu (20/1/2018) sekitar pukul 20.00 WIB. Mereka memesan taksi dengan tujuan Sambiroto, Tembalang.

“Sesampai di depan Citra Grand mereka eksekusi, satu duduk di samping sopir, satu di belakang, yang di depan bertugas mengajak ngobrol, yang belakang eksekusi. Korban tidak bisa berbuat apa-apa karena masih mengenakan sabuk pengaman dan konsentrasi menyetir,” ujarnya.

Tubuh korban lantas dibuang di Jalan Cendana Selatan IV, Sambiroto, Tembalang. Sementara identitas barang dan milik korban diambil. Mobil korban Nissan Grand Livina kemudian ditinggal di Jalan Hos Cokroaminoto, Barusari Semarang, tujuannya jika kasusnya sudah reda mobil akan diambil.

Tak hanya itu, HP milik korban juga disembunyikan dengan cara ditanam di kawasan Banjir Kanal Barat, dengan diberi tanda menggunakan bambu.

Sementara itu, Kepala SMK 5 Semarang, Suharto kepada wartawan membenarkan jika kedua pelaku adalah siswa di sekolah tersebut. Menurut dia, keseharian dua pelaku juga tak mencolok dan tak pernah terlibat masalah.

“Keseharian mereka tidak bermasalah di sekolah. Tidak pernah kena surat peringatan. Prestasinya biasa saja dan mereka dari keluarga mampu secara ekonomi,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Imbauan Dishub Jateng Agar Ojek Online tak Berseragam Belum Efektif Diterapkan di Jepara

Seorang pengendara ojek online terlihat masih menggunakan jaket perusahaan aplikasi saat bertugas, di Jepara, Senin (6/11/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Perhubungan Jawa Tengah mengeluarkan surat edaran yang berisi imbauan agar pengemudi ojek daring (online) tidak menggunakan seragam aplikasi saat bertugas. Edaran itu diharapkan efektif berlaku pada awal bulan November 2017. Lalu bagaimana penerapannya di Jepara?

Setyo Adhi Kabid Perhubungan Darat Dinas Perhubungan (Dishub) Jepara menjelaskan, imbauan itu ditujukan kepada operator (pemilik aplikasi daring) sehingga ia berharap segera dilaksanakan. 

“Surat itu kan ditujukan kepada operator di pusat, tujuannya agar peraturan itu otomatis diterapkan sampai ke daerah-daerah,” ucapnya, Senin (6/11/2017). 

Terkait pelaksanaannya di Jepara, hal itu belum terpantau oleh pihak Dishub. Lantaran, surat edaran terkait imbauan dan teknis pemantauan terkait pelaksanaan hal itu belum sampai ke mejanya. 

Sementara itu, pantauan MuriaNewsCom, di beberapa titik pengendara ojek daring di Jepara mereka masih menggunakan seragam (jaket) aplikasi ojek tersebut. Seperti yang terlihat di Jl MH Thamrin, pada Senin siang. 

Adapun, tujuan imbauan tersebut agar antara pengemudi ojek daring tidak terlihat supremasinya, dimata pengendara angkutan lain. 

Editor: Supriyadi

Dishub: Angkutan Daring di Jepara Wajib Taati Permenhub 108 Tahun 2017

Pengemudi ojek online saat berada di Jepara. (Facebook)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Perhubungan (Dishub) Jepara mengatakan setiap mobil angkutan berbasis daring di Bumi Kartini harus menaati Permenhub 108/2017, tentang penyelenggaraan angkutan orang dengan kendaraan bermotor umum tidak dalam trayek. Perusahaan angkutan dan pemilik aplikasi daring (online) diberi tenggat waktu 3 bulan untuk melaksanakannya. 

Kabid Perhubungan Darat Dishub Jepara Setyo Adhi mengatakan, ada sembilan hal yang direvisi dalam peraturan menteri tersebut. Diantaranya penentuan argometer taksi, tarif, penentuan wilayah operasi dan kuota kendaraan. 

“Kita di daerah tinggal melaksanakan saja,” katanya, Jumat (3/11/2017).

Menurut Adhi, di Jepara saat ini baru satu aplikasi angkutan sewa khusus berdasarkan daring yang beroperasi. Namun demikian, ia tak memerinci berapa jumlah taksi daring yang telah ada di wilayahnya. 

Ia menyebut, pembagian wewenang dibagi dua yakni pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Pemprov diberi kewenangan mengatur wilayah operasi dan kuota kendaraan. Sementara pengaturan argometer taksi dan tarif dilaksanakan pemerintah pusat. 

“Yang perlu ditekankan, perusahaan aplikasi dilarang merekrut pengemudi, menetapkan tarif ataupun memberikan promosi tarif dibawah batas bawah yang telah ditetapkan,” urainya. 

Editor: Supriyadi