3 Hari Menghilang, Kardi Ditemukan Tak Bernyawa di Perairan Pandangan Rembang

MuriaNewsCom, Rembang – Setelah tiga hari menghilang di lautan, Kardi (36) nelayan asal Desa Kragan RT 02 RW 03, Kecamatan Kragan, ditemukan tanpa nyawa. Jenazahnya berhasil ditemukan Tim SAR gabungan pada pukul 10.00 WIB, Kamis (29/3/2018).

“Korban ditemukan di perairan Pandangan Kabupaten Rembang dengan jarak dari bibir pantai lebih kurang empat nautical mile. Jenazahnya selanjutnya diserahkan kepada keluarga, untuk dimakamkan,” tutur Whisnu Yugo Utomo Koordinator Basarnas Pos SAR Jepara, dalam siaran pers yang diterima MuriaNewsCom.

Menurutnya, upaya pencarian melibatkan tim SAR gabungan. Terdiri dari Polsek Kragan, koramil Krangan, BPBD, Pos AL, Tagana, PMI, Banser, Dishub, KRI PATREM Rembang dan nelayan setempat.

Kardi sendiri dlaporkan menghilang di perairan Kragan, Rembang pada Selasa (27/3/2018). Berdasarkan informasi yang diterima dari keluarga, korban pergi melaut pada Selasa dinihari pukul 04.00 WIB. Namun, perahu yang digunakan korban ditemukan dalam keadaan kosong oleh nelayan lain, di Pantai Pandangan.

“Menurut keterangan dari keluarga, korban memiliki  riwayat penyakit epilepsi. Dimungkinkan epilepsi korban kambuh lalu jatuh dan tenggelam diperairan kragan.”tutur Whisnu.

Editor: Supriyadi

17 ABK KM Bintang Sinar Rezeki yang Tenggelam di Perairan Jepara Dipulangkan ke Kampung Halaman

MuriaNewsCom, Jepara – Sebanyak 17 Anak Buah Kapal (ABK) KM Bintang Sinar Rezeki dipulangkan ke asal mereka masing-masing, Sabtu (24/3/2018). Mereka menumpang kapal Express Bahari dari Karimunjawa-Jepara, pukul 09.00 WIB.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jepara Arwin Noor Isdianto mengatakan, ke tujuh belas ABK tersebut dalam kondisi sehat. “Kemarin kan ada 29 ABK yang diselamatkan setelah kapal KM Bintang Sinar Rezeki tenggelam. Sebanyak 10 orang sudah dipulangkan langsung (Kamis,22/3/2018) setelah kejadian. Dua orang masih dirawat di RSUD Kartini dan 17 orang lainnya dipulangkan hari ini,” ungkapnya.

Menurutnya, ke 17 ABK yang dipulangkan hari ini berasal dari empat wilayah. Diantaranya Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang dan Kabupaten Pemalang. Setelah turun dari kapal penyerangan, para nelayan tersebut kemudian didata dan dicek kesehatannya.

“Sementara yang dua orang (Sutomo dan Bahrudin) yang kemarin ditemukan terapung di sekitar Pulau Mandalika, masih harus mendapatkan perawatan lebih lanjut di rumah sakit. Mengingat kondisi kesehatannya belum pulih benar,” tambah Arwin.

Suroto, seorang penyintas kecelakaan kapal tersebut mengatakan, saat diselamatkan kondisi awak kapal memang tercerai berai. Mereka berpegangan pada gabus atau apapun yang dapat menyelamatkan jiwa mereka.

“Kapal saat itu terbalik. Solar pun tumpah. Saya juga terpaksa menyelam untuk menghindari tertimpa badan kapal yang oleng,”. ujar warga Depok, Kabupaten Batang itu.

Diberitakan sebelumnya, KM Bintang Sinar Rezeki berbobot 125 GT tenggelam di perairan Jepara. Dari 29 ABK, 10 diantaranya diselamatkan nelayan di perairan Dukuh Pailus, Desa Karanggondang-Mlonggo. Sementara 17 lainnya diselamatkan Kapal Jasa Samudra menuju Karimunjawa.

Sedangkan dua sisanya, baru dapat diselamatkan pada Jumat pagi. Mereka terpisah dari rombongan dan dapat ditemukan setelah 28 jam mengambang di lautan. Beruntung nyawa mereka dapat terselamatkan, dan kini mendapatkan perawatan di RSUD Kartini.

Editor: Supriyadi

Haru, 2 ABK yang Sempat Hilang Ternyata Berulang Tahun di Hari Mereka Diselamatkan

MuriaNewsCom, Jepara – Ada kisah mengharukan dibalik selamatnya dua ABK KM Bintang Sinar Rezeki yang sempat hilang di perairan Jepara. Ternyata, hari dimana mereka diselamatkan, Jumat (23/3/2018), adalah hari ulang tahun Sutomo dan Bahrudin yang merupakan ayah dan anak.

Diberitakan sebelumnya, Sutomo dan Bahrudin merupakan ABK KM Bintang Sinar Rezeki yang tenggelam di perairan Jepara, Kamis (22/3/2018) dinihari. Mereka adalah bagian dari total 29 anak buah kapal, yang selamat.

Namun, ketika 27 ABK lain diselamatkan pada hari yang sama dengan terjadinya kecelakaan laut. Keduanya justru sempat terapung selama lebih kurang 28 jam, sebelum akhirnya diselamatkan Tug Boat Nayaka 2, pada Jumat pagi.

Humas Basarnas Kantor SAR Semarang Zulhawary Agustianto mengungkapkan, Sutomo dan Bahrudin memang lahir pada tanggal yang sama yakni, 23 Maret. Si Ayah diketahui lahir pada 1983 atau 35 tahun, sementara Bahrudin berusia 17 tahun karena lahir pada 2001 silam.

“Keduanya adalah warga Desa, Tegalrejo, Kabupaten Batang Jawa Tengah,” ucapnya, Jumat siang.

Menurutnya, tak banyak hal yang diungkapkan keduanya saat diselamatkan. Ketika berada di kapal penyelamat, Tug Boat Nayaka mereka juga tak banyak bercerita.

“Kondisi saat dinaikan ke tugboat, si anak (Bahrudin) dalam keadaan lemas. Saat disuguhi makanan ia juga tak banyak makan karena masih syok dan lemas,” ujarnya.

Setelah dievakuasi dari tengah laut, mereka kemudian dibawa ke Jepara dan mendapatkan perawatan di RSUD Kartini Jepara. Mereka dijemput oleh kapal RIB Basarnas Jateng.

Ketika mendapatkan perawatan, Bahrudin juga tak banyak berkomentar. Saat ditanya pewarta, Bahrudin mengaku terlepas dari rombongan besar 28 ABK yang juga tercerai berai.

Sebanyak 17 ABK diselamatkan oleh Kapal Jasa Samudra ke Karimunjawa. Sedangkan 10 lainnya diselamatkan ke Jepara, sesaat setelah kapal terbalik pada hari Kamis.

“Kaim bertahan dengan pelampung dan berpegangan pada ember cat. Kami terlepas dari rombongan besar (ABK lain),” ujar Bahrudin singkat.

Kini keduanya, dan seluruh ABK tengah menunggu penjemputan dari pemerintah daerah masing-masing. Adapun, kapal yang mereka tumpangi berangkat dari Pekalongan.

Editor: Supriyadi

Kapal Nelayan Jepara Digulung Ombak di Perairan Empu Rancak, 1 Orang Hilang

MuriaNewsCom, Jepara – Sebuah kapal nelayan di Jepara tergulung ombak di perairan Empu Rancak, Desa Karang Gondang, Kecamatan Mlonggo, Jumat (2/2/2018) siang. Seorang penumpangnya Bambang hingga kini masih belum ditemukan.

Hal itu dibenarkan oleh Kalakhar BPBD Jepara Arwin Nor Isdiyanto. Menurutnya, kapal nelayan berjenis sopek  tergulung sekitar pukul 14.17 WIB.

“Iya betul, saat ini kami tengah mengupayakan pencarian terhadap satu awak kapal bernama Bambang. Sementara seorang awak lagi berhasil menyelamatkan diri,” tuturnya.

Dikatakannya, saat ini kapal nahas tersebut berhasil ditepikan ke daratan dengan cara ditarik menggunakan tali. Sedangkan, upaya penyelamatan menurut Arwin, terkendala ombak besar.

“Tinggi gelombang sekitar 1,5 meter, akan tetapi tipikal ombaknya menggulung. Perahu karet kami (milik BPBD) belum berhasil diterjunkan karena ombak tersebut,” urainya.

Editor: Supriyadi

Kabar Gembira, Pemerintah Pusat Bakal Buka Gerai Pendaftaran Izin Cantrang di Pelabuhan Juwana

MuriaNewsCom, Pati – Belum terealisasinya izin kapal cantrang usai dilegalkan kembali oleh pemerintah mulai mendapat titik terang. Hal ini menyusul rencana pemerintah pusat untuk membangun gerai pendaftaran izin di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Juwana.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Pati Edy T mengatakan, informasi pendirian gerai ini diperoleh saat menghadiri pertemuan di Semarang, Rabu (24/1/2018) lalu. Dalam pertemuan baik perwakilan kemeterian kelautan dan pusat berjanji akan segera membangun gerai untuk memudahkan izin cantrang.

“Informasi yang kami terima saat pembahasan, jadi dalam waktu dekat ini dari pemerintah pusat dan provinsi bakal membuat gerai perijinan di PPP Juwana. Sehingga, para nelayan cantrang bisa langsung mengurusnya untuk segera berlayar,” katanya kepada MuriaNewsCom

Sayangnya, untuk waktu persisnya masih menunggu pembahasan lanjutan dari pusat dan provinsi. Karena, untuk proses izin cantrang merupakan wewenang dari provinsi dan pusat. Sedang di tingkat kabupaten hanya sebatas memfasilitasi saja.

Sementara, Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo Pati Japar Lumban Gaol membenarkan hal itu. Namun, hingga kini  masih dibahas soal waktu dibukanya gerai di PPP Juwana.

“Gerai akan dibuka dalam waktu dekat ini. Termasuk di Rembang juga demikian. Mudah-mudahan pekan depan dapat dimulai,” ungkap dia.

Disinggung soal jumlah kapal cantrang, dia menyebutkan di PPP Juwana mencapai 168 kapal cantrang. Semuanya menunggu izin untuk bisa beroperasi kembali.

Editor: Supriyadi

Dihantam Ombak, 4 Nelayan Jepara Terombang-Ambing di Lautan

MuriaNewsCom, Jepara – Nekat berlayar empat orang nelayan diombang-ambingkan oleh ombak besar di perairan Jepara Dukuh Kalitowo, Desa Ujungwatu, Kecamatan Donorojo, Kamis (25/1/2018). Pada kejadian itu, sebuah kapal juga mengalami pecah lambung karena diterjang oleh gelombang tinggi mencapai empat meter.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jepara Arwin Nor Isdiyanto mengatakan, dalam kejadian itu ada dua kapal yang diombang-ambingkan oleh ombak. Namun hanya satu di antaranya yang mengalami pecah lambung.

Ia mengungkapkan, dua kapal yakni Sri Barokah milik Sriyanto (40), yang diawaki Marsono (45) dan Rama (16) berangkat ke tengah laut pada pukul 04.00 WIB, bersama kapal Karunia Illahi yang dinahkodai oleh Wagisri. Kedua kapal tersebut berangkat menuju perairan Lemah Abang, yang terletak 100 mil laut dari darat.

Tak disangka, sekitar pukul 06.00 WIB cuaca berubah menjadi buruk. Kapal Sri Barokah milik Sriyanto mengalami pecah di bagian lambung.

“Saat kondisi laut memburuk, Sriyanto sempat menelpon istrinya Kemisih, guna memberitahukan kondisi kapalnya yang pecah diempas oleh ombak. Setelahnya komunikasi terputus,” ujar Arwin.

Dalam kondisi lambung kapal pecah, Sriyanto berserta ABK berhasil menepikan kapalnya di Desa Ujungwatu, Kecamatan Donorojo.

“Sementara itu, Kapal Karunia Illahi berhasil mendarat di Dukuh Bayuran, Desa Tubanan, Kecamatan Kembang. Dalam kejadian itu tidak ada korban jiwa,” jelasnya.

Menurutnya, proses evakuasi berlangsung lancar dibantu dengan relawan gabungan, BPBD Jepara, TNI dan Polri serta PMI Jepara.

Editor: Supriyadi

Cerita Para Nelayan Jepara: Menantang Maut di Musim Baratan

MuriaNewsCom, Jepara – Nelayan di Jepara nekat melaut meskipun ombak tidak bersahabat. Alasan ekonomi menjadi penyebab utama mereka tetap berkeras hati melaut, mengangkat sauh.

Aripin satu di antaranya. Saat MuriaNewsCom menyambanginya di Muara Kali Wiso, Kelurahan Jobokuto-Jepara, ia tengah memperbaiki jala. Pria berkumis itu bilang, sudah sejak sepekan lalu nekat menebar jaring mencari ikan supaya dapur tetap mengepul.

“Sudah kurang lebih seminggu lalu, sejak hari Kamis (18/1/2018), saya nekat melaut. Lantaran kalau tak miyang (mencari ikan) keluarga mau makan apa,” tuturnya Kamis (25/1/2018).

Dirinya berkata, melaut di tengah musim baratan atau gelombang tinggi bukan tanpa risiko. Ombak tinggi acapkali menghadang nelayan. Kalau sudah begitu, tak ada pilihan lain kecuali mencari pulau untuk berlindung.

Jika sedang tinggi benar, ombak dapat mencapai 5 meter, namun biasanya dimasa sekarang ombak berkisar 2 meter. Kalau ombak sedang tak begitu ganas (dua meter), nelayan memilih bertahan dan tetap menebar jaring kemudian pulang ke daratan.

“Ya kalau ombak tinggi sementara saya telanjur berangkat pilihannya bertahan atau pulang,” ungkapnya.

Para nelayan Jepara memarkirkan kapalnya usai berlayar mencari ikan di laut. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Hal serupa diungkapkan oleh Abdul Munip. Ia mengaku sering curi-curi kesempatan untuk dapat melaut. Lantaran, ombak di tengah laut berbeda dengan yang terjadi di dekat pesisir.

“Berangkat ke lautnya ditunda, biasanya berangkat jam 02.00 WIB, sekarang jam 04.00 WIB. Memilih waktu agar ombak agak tenang sedikit,” paparnya.

Ia menyebut, gelombang besar di lautan sudah terjadi setengah bulan terakhir. Karena dapurnya harus terus ngebul (memasak) Munip akhirnya nekat miyang ditemani oleh seorang rekannya.

“Mau bagaimana lagi, harga beras naik terus. Masak kita terus diam saja di rumah,” tuturnya.

Ditanya hasil, baik Aripin maupun Munip mengaku, selalu saja ada. Bulan Januari ini, sedang musim cumi-cumi. Sekali melaut nelayan setidaknya bisa mendapatkan uang Rp 700 ribu hingga satu juta rupiah.

“Kalau musim seperti ini ya dapatnya dua basket (100 kilogram) ikan dan cumi-cumi. Dari penjualan tersebut masih harus dikurangi dengan biaya solar dan bekal selama pelayaran,” ungkap kedua nelayan itu.

Editor: Supriyadi

Tunggu Juknis, Izin Cantrang di Pati Belum Bisa Diproses

MuriaNewsCom, Pati – Keputusan pemerintah mengizinkan kembali kapal cantrang beroperasi memang membuat nelayan sumringah. Hanya saja, hal itu terlihat semu. Pasalnya, semua izin akan kapal cantrang mulai dari tonase dan ukuran, hingga kini belum bisa diproses oleh pihak pelabuhan.

Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo Pati Japar Lumban Gaol mengatakan, layaknya nelayan yang menunggu kepastian aturan, pihaknya juga menunggu edaran dari Kementerian Kelautan dan Perikanan soal petunjuk teknis (Juknis) pengurusan izin untuk alat tangkap ikan jenis cantrang.

“Artinya, kami belum bisa memprosesnya lebih lanjut,” katanya yang juga Plt kelapa Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung Rembang  saat dihubungi MuriaNewsCom Rabu (24/1/2018).

Diakuinya, selama ini banyak nelayan cantrang baik di Pati dan Rembang yang datang kepadanya guna keperluan izin. Bahkan sejumlah nelayan cantrang juga tak sabar berlayar lantaran sudah ada statement diperbolehkannya kapal cantrang.

Hanya, kata dia, nelayan harus lebih sabar menunggu izin. Karena, tanpa adanya surat dari kementerian pihaknya tak tahu kriteria cantrang dan syarat yang harus dipenuhi dari pihak nelayan cantrang.

Disinggung soal adanya kapal cantrang yang beroperasi, dia mengutarakan belum ada yang berani berlayar lantaran izin yang belum kelar. “Namun saya tidak tahu jika ada yang berlatar diam-diam,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Pemkab Pati Siap Tindaklanjuti Tuntutan Nelayan Cantrang

MuriaNewsCom, Pati – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati siap menindaklanjuti tuntutan warga pati, khususunya nelayan Pati perihal kapal cantrang untuk diperbolehkan operasi kembali. Pemkab Pati juga berjanji akan menandatangani tuntutan para nelayan yang tergabung dalam petisi nelayan cantrang Pati.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Edy Martanto mengatakan, apa yang diinginkan para nelayan dipastikan akan ditindaklanjuti. Karena, nelayan pati juga bagian dari masyarakat di kabupaten yang dikenal dengan slogan Bumi Mina Tani.

”Seperti apa yang diinginkan para nelayan, bakal kami tindaklanjuti. Saya akan laporan kepada bapak Bupati perihal tersebut,” katanya

Menurut dia, seperti keinginan para nelayan Cantrang, selain Bupati Pati, tandatangan juga akan dilakukan oleh ketua DPRD Pati. Yang mana hasil dari tandatangan tuntutan akan dibawa para nelayan cantrang ke Jakarta.

Dalam petisi tertulis permintaan kepada bapak Presiden Jokowi, agar kapal cantrang dapat diperbolehkan kembali melaut. Selain itu, mereka juga menuntut sebelum ada legalitas diperbolehkan cantrang, nelayan tetap diperbolehkan melaut.

Editor: Supriyadi

Ribuan Nelayan di Pati Desak Cantrang Diizinkan Lagi Berlayar

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan nelayan cantrang asal Kabupaten Pati, Senin (8/1/2018) kembali turun ke jalan untuk menggelar aksi demonstrasi. Mereka tetap menolak kebijakan tentang pelarangan cantrang, karena dianggap akan menghilangkan sumber kehidupan nelayan.

Kali ini mereka menggelar demo di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan Satuan Kerja Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Juwana, Pati.

Koordinator aksi Rasmijan, menyebutkan jumlah masa yang ikut aksi mencapai 2 ribuan nelayan. Semuanya menurut dia, merupakan korban dari kebijakan larangan cantrang.

“Ini aksi kesekian kalinya kami laksanakan. Kami tak akan bosan aksi agar cantrang diperbolehkan kembali,” katanya kepala awak media saat aksi.

Ia menyebut, selama cantrang dilarang beroperasi banyak nelayan yang menganggur. “Cantrang  harus segera dilegalkan, supaya kami tidak nganggur lagi,” tuntutnya.

Dia menyebutkan, jumlah kapal cantrang di Juwana mencapai 150-an kapal dengan ribuan anak buah kapal. Semuanya sudah nganggur, sejak sebelum Desember 2017 lalu. Akibatnya para nelayan bingung memenuhi kebutuhan hidup.

Nahkoda Kapal Cantrang, Nahwi, menambahkan selama ini nelayan sudah cukup menderita. Dengan adanya kebijakan tersebut, membuat nelayan makin sengsara.

“Apa pemerintah mau membuat kami para nelayan menderita dan miskin. Padahal kami itu nelayan Indonesia, bukan asing,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

HNSI Terapkan Skala Prioritas Salurkan Beras Bagi Nelayan Jepara 

MuriaNewsCom, Jepara – Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) akan memrioritaskan distribusi beras bantuan bagi nelayan yang benar-benar membutuhkan. Hal itu karena jumlah bantuan beras dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara sebanyak 30 ton, masih belum cukup.

Sudiyatno, Ketua HNSI Jepara mengatakan, beras bantuan tersebut telah diserahkan DKPP kepada organisasi yang dipimpinnya. Dalam waktu dekat, pihaknya akan segera membagikan beras kepada nelayan.

“Meskipun kurang jika dibagikan kepada semua nelayan di Jepara, namun kami akan tetap membagikannya. Rencananya pada bulan ini, sebab kalau terlalu lama disimpan bisa rusak. Oleh karena jumlahnya kurang maka kita buat skala prioritas mana yang akan mendapatkan beras terlebih dahulu,” katanya, Sabtu (6/1/2018).

Dirinya menyebut, daerah yang diprioritaskan berada di utara dan selatan Jepara. Diantaranya Clering, Bandungharjo, Ujungwatu dan Bumiharjo di wilayah utara. Sementara di wilayah selatan ada desa di Kedung Malang dan sekitarnya.

“Namun untuk Kedung, khusus desa Karangaji tidak mendapatkan jatah dari kami, sebab sudah mendapatkan jatah sebanyak empat ton dari instansi lain,” tuturnya.

Sebelumnya Sudiyatno mengatakan, kebutuhan untuk bantuan beras bagi nelayan setidaknya 52 ton. Namun jumlah tersebut dirasa masih kurang untuk membantu 1.128 KK nelayan.

Adapun, bantuan beras diberikan untuk mencukupi makanan pokok nelayan, selama musim baratan (angin kencang dan gelombang tinggi) di Laut Jepara.

Editor: Supriyadi

Nelayan Jepara Terpaksa Berhutang Selama Musim Baratan

Kapal-kapal nelayan lebih banyak terparkir di Muara Kali Wiso, Kelurahan Jobokuto, Kecamatan Jepara Kota. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Musim baratan (angin dan gelombang tinggi) yang mendatangi pesisir Jepara, berdampak pada penghasilan nelayan. Lantaran, selama musim itu pencari ikan enggan melaut dan lebih memilih memperbaiki sarana mengail.

Mahmudi (50) satu di antaranya, ia mengaku sudah sekitar enam hari tak melaut. Gelombang besar membuat surut nyali.

“Jika nekat melaut pun hasil yang dicapai tidak setara dengan ongkosnya. Oleh karena itu, saya lebih memilih memperbaiki kapal dari kebocoran,” katanya, Sabtu (23/12/2017). 

Dikatakannya, gelombang laut bisa mencapai ketinggian 3 meter. Hal itu menyebabkan kapal-kapal ukuran kecil rentan diterjang ombak jika nekat melaut. 

Menurut pria yang berdiam di Kelurahan Jobokuto itu, selama tak melaut, praktis dirinya tak mendapatkan penghasilan. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia terpaksa berhutang. 

“Nanti diganti saat cuaca sudah membaik dan saya bisa mendapatkan penghasilan dari melaut,” ungkapnya. 

Terpisah, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara Sudiyatno mengamini hal itu. Saat Musim baratan tiba, rerata nelayan tak memiliki pekerjaan lain. 

“Kebanyakan dari mereka memperbaiki kapal. Tapi kalau kita upayakan padat karya itu tidak mungkin,” tuturnya. 

Untuk membantu penghidupan nelayan, Pemkab Jepara melalui HNSI Jepara telah menyediakan bantuan beras. Untuk tahun ini, dijatah sekitar 30 ton beras dari pemerintah.

Editor: Supriyadi

Bantuan Beras Pada Nelayan Jepara Masih Kurang

Pedagang beras di Pasar Jepara Satu. Pemerintah menyiapkan 30 ton untuk nelayan selama musim baratan, namun jumlahnya masih kurang. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Jelang musim baratan, DKPP Jepara mempersiapkan 30 ton beras bagi nelayan. Namun jumlah itu dirasa masih kurang untuk mencukupi 1.128 KK nelayan.

Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara memperkirakan perlu sekitar 52 ton guna menjangkau keseluruhan keluarga pencari ikan.

Ketua HNSI Jepara Sudiyatno mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan lobi kepada pemerintah, baik pemprov dan pemkab untuk mencukupi kebutuhan tersebut.

“Kami sedang mencari tambahan dari tingkat I (Pemprov Jateng) dan berbagai pihak untuk dapat memenuhi kebutuhan beras,” ucapnya, Kamis (21/12/2017).

Dibanding tahun 2016, lanjut Sudiyatno, bantuan dari pemerintah (DKPP Jepara) menurun. Ia merinci, bantuan dari pemprov mencapai 10 ton, ditambah dari DKPP Jepara 37 ton dan Dinas Sosial Jepara sebanyak 8 ton.

Dengan jumlah bantuan (2016) mencapai 55 ton lebih, hal itu dinilai mencukupi bagi nelayan. 

Meskipun terdapat penurunan bantuan, namun dirinya tak mempermasalahkannya. Hal itu karena stok yang dimiliki oleh DKPP Jepara hanya tersedia sejumlah 30 ton. 

Informasi yang diterimanya, pihaknya akan menerima bantuan dari Dinas Sosial Jepara sebanyak 9 ton lebih. Namun demikian, realisasi bantuan tersebut baru bisa dilaksanakan pada tahun 2018. 

“Kita masih kurang sekitar 15 ton. Untuk bantuan dari Dinsos, kemungkinan baru bisa turun 2018. Tapi harapan kami bisa turun cepat, sekitar awal Januari tahun depan‎,” harapnya.

Terkait musim baratan (angin dan gelombang kencang)‎ Sudiyatno memperkirakan durasinya akan lebih lama. Meski demikian, dirinya berharap agar cuaca buruk tidak berlangsung terlalu lama.

“Sekarang saja curah hujan sekitar 300 milimeter, belum lagi pada bulan Januari nanti bisa diperkirakan meningkat. Hanya saja kami berharap agar hujanya bisa agak reda di penghujung bulan Februari, agar nelayan tidak terlalu lama di rumah,” tutur dia.

Editor : Ali Muntoha

Ombak Tinggi, Dua Kapal Penyebrangan ke Karimunjawa Dilarang Berlayar

Ombak besar menghantam tanggul yang ada di dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jepara, Senin (27/11/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dua kapal penyebrangan Jepara-Karimunjawa, KMC Express Bahari dan KMP Siginjai, tak berlayar hari ini, Senin (27/11/2017). Lantaran, ombak di lautan yang mencapai tinggi empat meter.

Kepala Unit Pelayanan Pelabuhan (UPP) Syahbandar Jepara Suripto menyampaikan, hal itu sesuai dengan prakiraan cuaca yang dirilis oleh BMKG. Karenanya, pihaknya mengeluarkan maklumat pelarangan berlayar bagi kedua kapal tersebut menuju Karimunjawa. 

Pantauan MuriaNewsCom, dua kapal tersebut lego jangkar di pelabuhan kartini. KMP Siginjai terlihat menutup palka. Begitu pula KMC Express Bahari yang terlihat tidak ada kegiatan. Sementara kapal-kapal nelayan kecil, terlihat memperbaiki mesin kapal. 

“Kondisi ombak bisa mencapai empat meter di siang hari. Selain itu, embusan angin bisa mencapai 4-15 knot di perairan Laut Jawa,” ujarnya. 

Sesuai prakiraan cuaca dari BMKG angin berembus dari arah barat dan barat daya. Selain itu, hujan dengan intensitas sedang juga melanda kawasan itu. 

Adapun, pelarangan berlayar telah dikeluarkan oleh UPP Syahbandar Jepara sejak 25 November 2017. KMP Siginjai sejak hari tersebut sudah tidak berlayar. Namun, KMC Express Bahari masih bisa melayani pelayaran di hari Sabtu. 

“Kalau hari Sabtu kemarin, wisatawan masih bisa diangkut (menuju Jepara) oleh KMC Express Bahari dan Pelni yang menuju Semarang,” kata Budi Krisnanto Camat Karimunjawa. 

Editor: Supriyadi

Nelayan Pesimistis Proyek Pemecah Gelombang di Desa Puncel Pati Rampung Tepat Waktu

Perahu nelayan terlihat melintas dekat bangunan pemecah gelombang di kawasan pantai Desa Puncel, Dukuhseti, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Proyek pemecah gelombang di kawasan pantai Desa Puncel, Kecamatan Dukuhseti, Pati, terancam molor. Pasalnya, proyek yang menelan biaya APBN sebesar Rp 2,5 miliar itu harus rampung pada 10 Desember 2017.

Sementara sampai saat ini, proyek tersebut masih dalam tahap pembuatan gorong-gorong. Kondisi itu diprediksi tidak akan rampung hingga batas waktu yang ditetapkan.

“Masyarakat sangat antuasias menyambut proyek pembangunan pemecah gelombang. Tapi was-was juga jika proyek itu tidak selesai, karena batasnya sampai 10 Desember 2017,” ujar Darmin, Koordinator Kelompok Nelayan Makmur Sentosa Desa Puncel.

Menurut dia, pengerjaan proyek tersebut baru berjalan 20 persen. Belum lagi, kondisi cuaca yang buruk berpotensi menggangu proses pengerjaan proyek.

Karena itu, dia berharap pembangunan proyek pemecah gelombang bisa berjalan dengan baik dan sesuai harapan. Sebab, nelayan selama ini dihantui dengan persoalan sedimentasi yang menyebabkan muara sungai dangkal.

“Nelayan biasanya harus menambatkan perahu di bibir pantai, karena tidak bisa melalui muara sungai yang dangkal. Ini menjadi persoalan yang cukup serius, terutama saat musim timuran di mana hasil tangkapan melimpah,” tutur Darmin.

Dari informasi yang dihimpun, proyek tersebut sudah dimulai sejak 27 September dan harus menyelesaikan pekerjaan selama 75 hari kerja. Proyek yang digarap PT Nur Ihsan Munasamulia tersebut berasal dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mengatasi masalah pendangkalan di muara Sungai Puncel.

Editor : Akrom Hazami

Pacu Potensi Maritim, BBM Nelayan Pati Bakal Dikonversi ke Gas

Wakil Bupati Pati Saiful Arifin (tiga dari kanan) saat melihat bantuan konversi BBG untuk nelayan dari Kementerian ESDM. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati menjadi salah satu daerah dengan potensi maritim terbesar di Indonesia. Hal itu yang membuat Pemkab Pati terus mengembangkannya sebagai upaya untuk memajukan Pati.

Salah satu bentuk upaya untuk melejitkan potensi maritim, nelayan mendapatkan bantuan berupa paket konversi bahan bakar minyak (BBM) menuju bahan bakar gas (BBG). Paket itu berupa satu mesin, dua tabung gas, dan satu baling-baling perahu.

“Konversi dari BBM ke BBG akan mengubah kebiasaan penggunaan mesin. Manfaatnya bisa langsung dirasakan, karena pemakaian bahan bakar menjadi lebih efisien,” ujar Wakil Bupati Pati Saiful Arifin, Jumat (17/11/2017).

Nelayan di Pati sendiri mendapatkan bantuan sebanyak 345 paket dari pengusulan Pemkab Pati ke pemerintah pusat sebanyak 704 paket. Nelayan yang belum mendapatkan bantuan paket konversi BBG akan diusahakan mendapatkan pada tahun depan.

Bantuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tersebut diprioritaskan untuk nelayan kecil dengan kriteria perahu di bawah 5 GT. Di Indonesia, ada 17 ribu paket konversi yang bersumber dari dana APBN.

“Pati memiliki bonus geografi maritim yang bagus. Potensi ini sebetulnya sudah lama diperhitungkan dalam skala nasional. Saat ini, Pemkab Pati terus kita pacu supaya bisa lebih berkembang,” tuturnya.

Secara terpisah, perwakilan dari Kementerian ESDM, Sugiarto menjelaskan, bantuan konversi diberikan kepada nelayan yang masih menggunakan bahan bakar bensin.

“Jika dibandingkan, nelayan rata-rata memakai tiga liter bensin untuk melaut. Untuk penggunaan BBG, satu tabung bisa dipakai untuk tiga hari,” kata Sugiarto.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pati Edy Martanto menuturkan, jumlah 704 usulan penerima bantuan baru terealisasi 345 paket disebabkan 459 paket yang diusulkan memakai BBM solar.

Sementara sampai saat ini, Kementerian ESDM masih belum punya teknologi tersertifikasi untuk alat konversi solar ke BBG. Namun, dia berharap pemerintah sudah memiliki teknologi konversi BBM solar ke BBG tahun depan.

Editor: Supriyadi

Dihadiri Ganjar, Nelayan Jepara Pertanyakan Efektivitas Alat Tangkap Ikan Pengganti Cantrang

Ganjar Pranowo saat berdialog dengan nelayan saat penyerahan alat penangkapan ikan di BBPBAP Jepara, Senin (16/10/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) membagikan 258 paket alat penangkapan ikan (API) kepada nelayan di Jepara, Senin (16/10/2017).

Ratusan alat tersebut merupakan pengganti cantrang dan arat yang selama ini digunakan oleh nelayan di pesisir utara Laut Jawa. Meskipun diberi bantuan, sebagian nelayan khawatir kalau hasil dari alat tersebut tidak sebanyak alat yang sudah lama mereka gunakan saat ini. 

Acara yang berlangsung di aula milik Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, dihadiri pula oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi dan pihak terkait. 

Listiono nelayan asal Kedung mengatakan, selama ini pihaknya menggunakan cantrang dan arat saat melaut. Ia khawatir apakah nantinya hasil yang didapatkan bisa seperti saat sekarang. 

“Apa nantinya ketika alat tangkap diganti hasil ikannya bisa seperti sekarang ini, bisa untuk menyekolahkan anak dan sebagainya,” ungkapnya saat ditanya Ganjar Pranowo terkait kesulitan saat melaut. 

Hal serupa diungkapkan oleh Mustain. Nelayan itu menginginkan semua nelayan mendapatkan alat tangkap yang ramah lingkungan. ” Saya dengar kan sampai Desember nanti (batas penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan), nah yang belum kebagian bagaimana?,” tuturnya. 

Mendapat pertanyaan tersebut, Ganjar langsung melemparnya pada pejabat KKP Suseno Sukoyono. Dalam jawabannya ia meyakinkan, penggantian alat tangkap merupakan upaya pemerintah menjaga keberlangsungan pasokan ikan. 

“Tentang pertanyaan kalau pakai alat ini (ramah lingkungan) cukup tidak? Jika nelayan terus memakai arat, kalau kita memunyai anak, sebelum anak kita besar ikannya sudah habis. Dengan menggunakan Cantrang dan arat yang punya ukuran satu inchi ikan akan habis. Alat ini memang tak seganas arat dan cantrang, tapi jauh lebih memadai dari alat tangkap lainnya,” ucap Staf Ahli Menteri KKP Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antar Lembaga itu. 

Sementara terkait penggantian cantrang dan arat dengan alat tangkap ramah lingkungan, Suseno menjawab hal tersebut akan terus dilihat perkembangannya. Lantaran untuk proses penggantian memerlukan anggaran yang tak sedikit. 

“Dalam melakukan hal itu, kita perlu bahu membahu mengingat keterbatasan APBN kita. Bantuan yang saat ini diberikan diprioritaskan bagi yang terdata. Kami percaya nelayan Jepara adaptif terhadap kebijakan ini. Untuk (penggantian cantrang ke alat tangkap ramah lingkungan) perlu kerjasama dengan instansi lain,” ungkapnya. 

Ganjar Pranowo mengatakan pemerintah harus hadir dalam penggantian cantrang ke alat tangkap ramah lingkungan.

“Sebenarnya yang dibutuhkan kan waktu, kalau sampai akhir Desember mereka tak boleh (menangkap dengan cantrang) dan bantuan belum ada, maka keluwesan-keluwesan itu  yang diharapkan dari mereka agar mereka diizinkan (menggunakan cantrang). Kecuali negara memberikan bantuan itu,” tuturnya. 

Untuk permasalahan pelarangan cantrang, Ganjar mengaku telah berbicara dengan Susi Pudjiastuti. Hal itu terkait dengan penggantian alat tangkap. 

“Saya sudah bicara dengan Bu Menteri Susi, karena itu kebijakan pemerintah, maka pemerintah harus ikut tanggungjawab. Caranya kasih saja bantuan alat tangkapnya. Sudah ada pengajuan asuransi dan pengajuan permodalan, bantuan ini bisa selesaikan persoalan itu, tapi harus cepet. Kalau batasnya sampai Desember ya sampai Desember sanggup, kalau tidak  ya harus ada jeda  perpindahan toleransi, kalau tidak kasihan mereka,” tuturnya. 

Dalam rilis Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, untuk nelayan Jepara ditargetkan ada 289 paket API yang akan diberikan. Sementara untuk Jawa Tengah akan diberi 2.341 paket. 

Pada kesempatan itu, diberikan juga bantuan Asuransi Nelayan. Untuk Jepara dari target 3500 orang, saat ini sudah terealisasi sebanyak 715 nelayan. Selain itu untuk Jepara diberikan fasilitas akses permodalan sebesar 1.890 miliar hasil kerjasama Ditjen Perikanan Tangkap dan BRI.

Editor: Supriyadi

Cuaca Tak Menentu, Tangkapan Ikan Nelayan Jepara Anjlok

Seorang nelayan menunjukkan hasil tangkapannya, Kamis (28/9/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Hasil tangkapan ikan nelayan Jepara cenderung menurun memasuki musim pancaroba. Hal itu karena faktor cuaca yang memengaruhi arus di laut. 

“Sepi tangkapannya, arusnya kencang, sudah terjadi satu bulanan ini,” kata Puryanto, nelayan yang sedang menurunkan muatan di Tempat Pelelangan Ikan Ujung Batu, Kamis (28/9/2017). 

Menurut pengalamannya, kondisi bergejolaknya laut akan berlangsung 2-3 bulan ke depan. Praktis tangkapan ikan semakin berkurang. 

Ia mengatakan, saat cuaca bersahabat ikan yang didapatnya bisa dilelang mencapai Rp 1 juta. Namun kini, untuk paling-paling ia hanya mendapatkan uang ratusan ribu. 

“Wah kalau per hari kilonannya berapa kurang tahu, pokoknya sampai di TPI saya serahkan yang mengurusi lelang,” ujarnya. 

Terpisah, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Soedjiatno membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, hingga bulan Agustus hasil tangkapan nelayan Jepara baru mencapai 511.431 kilogram. 

“Sepanjang tahun lalu tangkapan ikan mencapai 2.587.608 kilogram,” tuturnya. 

Dirinya mengungkapkan, sepanjang bulan September 2017 memang cuaca kurang bersahabat terutama bagi nelayan ber perahu kecil. Kebanyakan nelayan tak berani melaut karena kondisi arus yang besar. 

“Sementara untuk kapal diatas 10 gross tonage, sudah berani berlayar. Mereka  kemudian memasok kebutuhan ikan di TPI,” urainya. 

Dirinya berharap, cuaca di laut semakin membaik agar para nelayan berperahu kecil mendapatkan ikan lebih banyak. 

Editor: Supriyadi

Nelayan Jateng Diserang di Mimika, DPRD : Jangan Melaut Dulu

Ilustrasi kapal nelayan Jateng. DPRD Jateng meminta agar nelayan Jateng sementara tak melaut di Perairan Mimika, Papua. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Bentrok antara nelayan asal Jawa Tengah dan nelayan lokal di Mimika, Papua, 9 Agustus 2017 lalu membuat para nelayan masih mengalami trauma. Sebanyak 126 nelayan dari provinsi ini harus dipulangkan menggunakan pesawat Hercules milik TNI, pascakejadian tersebut.

Kalangan DPRD Jawa Tengah mengaku sangat prihatin. Anggota Komisi B DPRD Jateng Mifta Riza, yang sempat datang ke Mimika untuk memediasi kasus tersebut, meminta nelayan dari Jateng untuk sementara tidak menangkap ikan di perairan sekitar Mimika, Papua, untuk menghindari memanasnya suasana.

“Saya minta mereka tidak kembali lagi ke Mimika untuk sementara waktu sampai situasinya benar benar kondusif,” katanya kepada wartawan, kemarin.

Nelayan Jawa Tengah yang bekerja di Mimika jumlahnya sekitar 400 orang. Mereka berasal dari Kendal, Brebes, Tegal, Pemalang, Demak, maupun Kota Semarang.

Mereka kebanyakan bekerja sebagai ABK kepada pengusaha kapal setempat. Selain itu ada juga nelayan yang membawa kapal sendiri dan menangkap ikan di Mimika.

“Ada satu faktor yang juga menjadi penyebab terjadinya konflik, yaitu masalah kecemburuan sosial. Nelayan asal Jateng rajin-rajin, sehingga ikan hasil tangkapannya banyak dan besar-besar. Sementara nelayan setempat hasilnya tidak sebanyak nelayan kita,” ujarnya.

Hal ini bisa terjadi, lanjut Politisi Gerindra ini, karena etos kerja Nelayan Jateng sangat bagus, mau kerja keras dan juga didukung dengan alat tangkap yang lebih baik dibanding Nelayan setempat.

“Kecemburuan tersebut diperparah dengan adanya provokasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Sehingga terjadi perusakan tempat tinggal nelayan Jateng dan perampasan terhadap harta benda mereka,” jelasnya.

Mifta Reza yang pada waktu itu melakukan mediasi bersama Anggota Komisi B Riyono di Mimika menambahkan, dari mediasi yang dilakukan, nelayan Mimika akhirnya sepakat minta dilakukan transfer teknologi dan pembelajaran cara penangkapan ikan kepada nelayan Jateng.

“Saya minta Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng memfasilitasi transfer teknologi ini dan mengkondisikan agar situasi disana benar benar kondusif dan nelayan yang dipulangkan bisa kembali melaut di Mimika,” terangnya.

Senada dengan Reza, Bupati Kendal Mirna Annisa mengatakan, sebelum kembali ke Mimika lagi, komunikasi dengan pemerintah daerah setempat akan dilakukan guna memastikan situasinya kondusif dan peristiwa serupa tidak terulang lagi. Dari 126 nelayan yang dipulangkan dari Mimika, 87 di antaranya merupakan warga Kendal.

“Komunikasi dengan pemerintah daerah setempat menjadi kewenangan Pemprov Jateng dengan Papua. Saya akan dorong komunikasi tersebut,” katanya dikutip dari Beritajateng.net.

Editor : Ali Muntoha

Tak Melaut, Nelayan Rembang Beralih Pekerjaan jadi Pekerja Bangunan

Ratusan kapal cantrang di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasik Agung Rembang hingga saat ini masih bersandar. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Dilarang melautnya kapal cantrang Rembang membuat nelayan Rembang beralih jadi buruh bangunan. Hal itu untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Suharto, salah seorang nelayan, setelah Syawalan atau sedekah laut kapal, biasanya cantrang harus mulai melaut untuk mencari ikan.

“Mau bagaimana lagi, kapal belum melaut karena cantrang dilarang. Kami mencari pekerjaan sementara untuk menambal kebutuhan. Yakni pekerja bangunan yang dilakukan di Rembang,” kata Suharto.

Pekerjaan tersebut dilakukan di Rembang. Menurutnya, yang penting dia bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Termasuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya.

Dari pantuan MuriaNewsCom, ratusan kapal cantrang di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasik Agung Rembang hingga saat ini masih bersandar.

Yuharti, salah seorang pekerja di tempat pengolahan ikan memilih menjadi buruh serabutan di tambak garam,  untuk bisa memenuhi kebutuhannya.

“Saya milih kerja serabutan di lahan garam atau pembuatan garam. Baik itu menjadi tukang angkut garam. Meskipun tidak bekerja tiap hari, tapi bisa dapat penghasilan sebesar Rp 25 hingga Rp 30 ribu. Saya bisa membeli kebutuhan rumah tangga,” ujar Yuharti.

Editor : Akrom Hazami

 

Keluarga Nelayan Berharap Pemerintah Buka Mata

Para keluarga dan sanak saudara sedang mengantarkan nelayan yang akan berdemo ke Jakarta.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Ribuan nelayan di Rembang berangkat ke Jakarta dengan menggunakan armada bus pada Senin (10/7/2017). Mereka akan ikut aksi unjuk rasa bersama ribuan nelayan lain untuk menentang larangan cantrang, pada Selasa (11/7/2017).

Keberangkatan ribuan nelayan ini juga diantar anak dan istri. Keluarga nelayan berharap, perjuangan nelayan mendapatkan hasil yang positif.

Salah satu keluarga nelayan dari Tasik Agung Sunarti berharap, supaya apa yang dilakukan oleh para nelayan Rembang bisa berhasil. Sehingga nantinya para nelayan Rembang bisa melaut kembali dengan alat tangkap cantrang.

“Ya saya harap pemerintah bisa membuka mata hatinya. Sehingga para nelayan ini bisa hidup sejahtera, hidup layak dan bisa mempunyai penghasilan yang baik,” harapnya.

Di sisi lain, para keluaraga juga mendoakan para nelayan yang berdemo supaya bisa menyuarakan pendapatnya di depan presiden dan ditemui oleh presiden.

“Mudah mudahan mereka bisa bertemu Pak Presiden. Dan mudah-mudahan mereka bisa menyuarakan keinginan rakyat kecil atau nelayan ini,” ungkapnya.

Sementara itu, koordinator lapangan Lestari Priyanto mengatakan, nelayan saat ini sudah siap untuk berunjukrasa di Jakarta. “Bahkan saat ini ada rekan nelayan Rembang sudah ada di Jakarta,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Nelayan Rembang Tunggu Rencana Aksi 11 Juli Mendatang

Demo yang dilakukan nelayan Rembang beberapa waktu lalu terkait kebijakan larangan cantrang. Rencananya pada 11 Juli mendatang, nelayan juga bakal melakukan aksi unjuk rasa. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom,Rembang – Nelayan Rembang rencananya bakal memulai aktivitas melaut usai perayaan sedekah laut. Namun demikian, hal itu bisa saja tertunda, karena menunggu aksi gabungan nelayan terkait kebijakan larangan cantrang pada 11 Juli mendatang.

Mulyono, salah satu nelayan Rembang mengatakan, jika aksi yang dilakukan nelayan nanti menyeluruh. “Katanya nanti tanggal 11 Juli ini akan ada demonstrasi mengenai cantrang se-Jawa bahkan nasional,” katanya.

Aksi demontrasi yang dilakukan nelayan nantinya, katanya, ada yang berpusat di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah dan juga di Jakarta.

“Kabarnya ada yang akan bergerak di Kantor Gubernuran Jawa Tengah dan ada yang di Jakarta. Supaya bisa semuanya rata dan para nelayan bisa menyampaikan aspirasinya,” paparnya.

Di sisi lain, sebelum berangkat untuk demonstrasi, katanya, para nelayan juga sudah ada yang menggelar selamatan supaya nantinya bisa berhasil dengan baik.

“Ada yang masih menggelar selamatan supaya nantinya bisa menghasilkan keputusan bagi nelayan yang baik dan tidak merugikan rakyat kecil,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Anggota DPRD Rembang Dukung Nelayan Cantrang

Salah satu anggota komisi B dari Gerindra Yudianto saat mengunjungi posko pengaduan nelayan cantrang di depan Kantor Bupati Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Anggota DPRD dari Fraksi Partai Gerindra Yudianto akan mendukung penuh langkah para nelayan cantrang supaya bisa memenuhi keinginannya, yakni agar nelayan cantrang dibebaskan untuk beroperasi.

Yudianto dalam kunjunganmya ke posko pengaduan mengatakan, jika kedatangannya ke posko tersebut untuk mendengarkan keluh kesah ke nelayan. “Dengan adanya posko ini, kita berharap bisa dijadikan bahan untuk meminta Kementrian Kelautan dan Perikanan bisa membebaskan cantrang,” katanya.

Ia menilai, pelarangan cantrang di Indonesia akan bisa membuat nelayan cantrang yang ada di Jawa bisa kehilangan mata pencaharian.

“Sebenarnya DPR pusat itu juga sudah menganggarkan kepada kementerian supaya bisa melakukan penelitian terlebih dahulu terhadap cantrang. Akan tetapi mereka tidak melakukannya, dan kementerian melarang cantrang itu bukan berdasarkan penelitian namun berdasarkan egonya,” paparnya.

Dia menambahkan, nelayan cantrang di Rembang meminta kementerian yang ada bisa membebaskan cantrang.”Nelayan bukan hanya meminta perpanjangan waktu. Namun meminta supaya larangan cantrang bisa dicabut dan dibebaskan gitu aja,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Soal Larangan Cantrang, Nelayan Rembang Ngadu ke Komnas HAM

Kapal cantrang bersandar di Pelabuhan Tasikagung Rembang. Terkait dengan larangan penggunaan cantrang, nelayan mengadu ke Komnas HAM. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Ratusan nelayan cantrang di Rembang mengadu ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Hal ini terkait dengan larangan penggunaan cantrang oleh pemerintah, karena hal itu dinilai dapat mengancam hak untuk hidup.

Ketua Paguyuban Nelayan Rembang Suyoto mengatakan, langkah tersebut dilakukan agar hak untuk hidup para nelayan tidak dirampas dengan adanya peraturan yang melarang cantrang.

“Kita melapor sudah sekitar satu bulanan. Namun baru ditindaklanjuti oleh Komnas HAM pada Selasa (23/5/2017) ini. Mereka akan menyambangi kota Rembang,” katanya.

Komnas HAM dan jajarannya bakal menyambangi para nelayan yang ada di Rembang. Nantinya, dari pertemuan atau hasil dialog dengan nelayan tersebut bakal dilaporkan kepada pihak terkait.

“Nantinya para nelayan akan kita persilakan untuk melaporkan kondisi yang ada di lapangan. Yakni bagaimana jika cantrang dilarang akan berdampak seperti apa atau kalau diperbolehkan akan berdampak seperti apa,” ungkapnya.

Dia menambahkan, hak untuk hidup nelayan cantrang harus diperhatikan kembali. Sebab nelayan juga salah satu warga yang harus dilindungi hak-haknya.”Terlebih cantrang ini sudah puluhan tahun kita gunakan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Cantrang Dilarang, 40 Ribu Warga Rembang Terancam Menganggur

Kapal nelayan bersandar di salah satu tempat di Kabupaten Rembang, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Nelayan dan pekerja pengolahan ikan di Rembang resah dengan rencana pelarangan penggunaan alat tangkap cantrang yang diberlakukan awal Juli 2017. Sebab, selama ini mereka terbiasa menggunakan alat tangkap cantrang.

Jani selaku perwakilan dari Asosiasi Nelayan Dampo Awang Bangkit Rembang mengatakan akan muncul dampak akibat pelarangan penggunaan alat tangkap cantrang. “Di antaranya akan menambah pengangguran sekitar 40 ribu warga. Bukan hanya nelayan saja. Melainkan juga warga yang berkerja di pengolahan ikan,” kata Jani di Rembang, Sabtu (22/4/2017).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan  Kabupaten Rembang Suparman menuturkan, saat ini proses masa perpanjangan Surat Laik Operasi (SLO) kapal ikan tangkap jaring cantrang masih berlangsung hingga1 Juli 2017. Mereka harus segera menggaanti alat tangkap.

“Verifikasi ukur ulang untuk kapal cantrang sampai dengan saat ini masih berjalan dan  belum selesai seluruhnya,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami