Sabu-sabu Disimpan di Bawah Tower di Sokaraja Banyumas, Diduga dari Jaringan LP Nusakambangan

Kepala BNNK Purbalingga Istantiyono didampingi Humas Awan Pratama, dan Kasi Pemberantasan Kompol Dwi Wahyu saat melakukan rilis kasus narkoba di kantor BNNK setempat. (BNNK Purbalingga)

MuriaNewsCom, Purbalingga –  Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Purbalingga kembali melakukan penangkapan terhadap pelaku narkoba. Kali ini, pelaku atau tersangkanya adalah Mujianto (39) warga Desa Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Purbalingga.

Kepada wartawan di Purbalingga, Selasa (3/10/2017), Kepala BNNK Purbalingga Istantiyono didampingi Humas Awan Pratama, dan Kasi Pemberantasan Kompol Dwi Wahyu mengatakan, pihaknya melakukan penangkapan terhadap pelaku.

Penangkapan Mujianto bermula dari kecurigaan petugas BNNK. Saat pelaku melintas Jalan Mayjen Sungkono, Selasa petang pekan lalu (26/9/2017). Mujianto ketika itu baru saja mengambil paket sabu-sabu yang disimpan di bawah tower milik RRI di Desa Jompo, Sokaraja, Purbalingga.

Sesampainya di sekitar bundaran air mancur Selabaya, BNNK menghadang pelaku. Petugas lantas menggeledah dan ditemukan barang bukti terbungkus plastik kecil dan tisu warna putih serta dilapisi dengan lakban warna hitam. Rupanya itu berisikan narkoba jenis sabu-sabu, dengan berat 0,41 gram atau senilai Rp 800 ribu.

Kepada petugas, pelaku mengaku mendapatkan barang haram itu setelah dapat nomor kontak pengedar sabu-sabu melalui pesan berantai dan selanjutnya transaksi dilakukan dengan cara transfer sejumlah uang.

Setelah uangnya ditransfer, pengedar menjanjikan akan mengirim barang ke suatu tempat untuk diambil oleh tersangka Mujianto.

BNNK Provinsi Jawa Tengah telah menghubungi nomor pengedar sabu-sabu yang dihubungi tersangka Mujianto. Ternyata nomor ponsel masih terkait dengan jaringan pengedar narkoba yang dikendalikan dari lembaga pemasyarakatan di Pulau Nusakambangan.

Sejauh ini, jaringan tersebut masih mendominasi sejumlah kasus peredaran narkoba yang berhasil diungkap BNNK Purbalingga. Modus operandi peredaran narkoba melalui pesan berantai dari nomor yang tidak dikenal seperti dalam kasus dengan tersangka Mujiyanto, itu cukup populer. 

Oleh karena itu, BNN mengimbau masyarakat untuk melapor jika menerima pesan berantai meskipun tidak semua pesan yang diterima benar-benar menawarkan narkoba melainkan modus penipuan. Dalam beberapa kasus, ketika penerima pesan menanggapinya dengan mentransfer uang ternyata barang yang dipesan tidak sesuai dengan kesepakatan transaksi.

Tersangka Mujianto dijerat dengan pasal 112 ayat (2) dan atau pasal 127 ayat (1) huruf a KUHP, jo pasal 54 UU Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Dengan ancaman hukuman maksimal empat tahun penjara.

Editor : Akrom Hazami

Ibu 3 Anak Jual Narkoba Demi Bayar SPP Anaknya

Polisi saat melakukan gelar perkara ibu jual obat terlarang di Mapolres Demak. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Demak – Rini Suprianti (35) ibu tiga anak asal Mranggen, Kabupaten Demak, kesulitan membiayai anaknya sekolah. Hal terlarang pun dilakukannya, yakni menjual obat. Baru sepekan jualan obat terlarang, Satuan Narkoba Polres Demak langsung meringkusnya berikut barang bukti 1.355 pil eximer.

Kini keuntungan besar dari hasil jual obat tinggal kenangan. Sebab, Rini harus mendekam di penjara. Sedangkan biaya pendidikan anaknya kian terbengkalai. Setelah sebelumnya, Rini amat peduli dan rela mencari uang tambahan dengan menjual obat.

“Anak saya minta bayar SPP sebulan Rp 170 ribu,” kata Rini saat gelar perkara di Mapolres Demak, Senin (25/9/2017).

Baca : Sadis, Suami di Jepara Ini Tega Bakar Istri

Uang senilai SPP anaknya jelas tak dimilikinya. Mengingat, pekerjaanya merupakan buruh pencuci baju. Upah buruh cuci yang diterimanya sangat sedikit.  Sepeninggal suaminya, Rini menjadi buruh cuci dan setrika baju. Dia harus menanggung semua biaya kebutuhan keluarga.

Maka rasa tanggung jawab terhadap anaknya itulah yang membuatnya mencari uang tambahan. Kebetulan, di tempatnya mencuci di rumah Jaenuri, siap memberikan pekerjaan tambahan. Yaitu, menjual pil kuning. Setiap harinya saat menjual pil kuning, Rini mendapat uang Rp 25 ribu.

Rini sendiri tak pernah tahu jika aktivitas tambahannya sebagai penjual obat adalah terlarang. Tak butuh waktu lama, polisi cepat memburunya. Saat ini, Rini harus mempertangungjawabkan perbuatannya kepada polisi.

Baca : Sambil Momong Putrinya, Pria Ini Jalan Kaki Salatiga-Ungaran untuk Berjualan

Sementara itu, Kapolres Demak AKBP Sonny Irawan mengatakan, pil yang dijual tersangka berdampak buruk pada pengonsumsinya. Seperti menyebabkan mabuk dan teler. Sejauh ini, keterangan tersangka ke polisi, pembelinya rata-rata pemuda dan pelajar. Akibat perbuatannya, Rini melanggar undang-undang kesehatan dengan ancaman hukuman penjara di atas lima tahun. “Majikannya masih buron,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Menkes Sayangkan Peredaran Pil PCC di Jateng

Menteri Kesehatan Republik Indonesia dr Nila Moeloek. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Solo – Soal pil Paracetamol Caffeine Carisoprodol (PCC), giliran Menteri Kesehatan Republik Indonesia dr Nila Moeloek buka suara. Menkes menyayangkan peredaran PCC di Provinsi Jawa Tengah. 

“Saya terkejut ditemukan tablet PCC di sini, saya sempat tanya Dinas Kesehatan ternyata memang benar,” katanya pada Rapat Koordinasi Forum Ikatan Alumni Kedokteran Seluruh Indonesia (FIAKSI) di Universitas Sebelas Maret Solo, Sabtu(23/9/2017) dilansir dari Antarajateng.com.

Ia mengatakan seharusnya peredaran PCC tidak boleh terjadi, karena obat tersebut dilarang sehingga dianggap ilegal. Menurut dia, dari yang terjadi di lapangan obat tersebut secara sengaja diedarkan dengan tujuan membuat orang menjadi ketergantungan.

Baca : Kapolri di Purwokerto Singgung Peredaran Pil PCC Akan Diusut Tuntas 

“Seperti yang terjadi pada 76 anak di Kendari, itu sengaja diberikan. Kalau mereka sudah ketergantungan kan nanti beli lagi,” ungkapnya.

Mengenai temuan tablet tersebut di lapangan, dikatakannya, Badan POM harus berperan untuk mencarinya dan seharusnya ada hukuman yang diberikan kepada pengedar. “Pada dasarnya kami mengimbau agar harus ada penjagaan, kalau Dinas Kesehatan kan melayani fasilitasnya. Yang pasti obat tersebut tidak ada di apotik,” katanya.

Baca : Pemotor Tewas Terlindas Mobil di Jalan Inspeksi Bendung Klambu 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr Yulianto Prabowo mengatakan saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sedang membentuk satgas pengawasan peredaran obat dan bahan berbahaya di Jawa Tengah.

“Pergub sudah jalan dan peraturan yang kami bentuk sudah kami siapkan, itu sudah kami lakukan sebelum ada temuan tablet PCC di Jawa Tengah. Untuk pembentukan satgas ini termasuk di kabupaten/kota dalam rangka mengawasi peredaran obat berbahaya di Jateng,” ujar Yulianto.

Baca : Honda Jazz dan Sepeda Motor Ringsek Tertimpa Pohon Tumbang di R Agil Kusumadya Kudus

Ia mengatakan nantinya jika terbukti ada oknum yang dengan sengaja mengedarkan obat tersebut, satgas akan memberikan pembinaan dan penindakan. Untuk mengoptimalkan pengawasan tersebut, dikatakannya, diperlukan pengawasan yang bersifat lintas sektoral. 

BacaBikin Heboh, Semburan Air Setinggi 30 Meter Muncul di Blora

Selain Dinas Kesehatan, instansi lain yang juga terlihat dalam pengawasan tersebut di antaranya BPOM, Kepolisian, Dinas Perdagangan, dan Dinas Pertanian.

“Yang jelas dibina dulu, kalau tetap melanggar maka dilakukan penindakan. Sejauh ini dari laporan yang masuk, temuan tersebut terjadi di Banyumas. Itu bukan pabrik obat karena tidak berizin sehingga kami tidak melakukan pengawasan,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Polisi Perketat Pengawasan Pil PCC yang Beredar di Pati

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan mengimbau warga untuk aktif memberikan informasi bila ditemukan peredaran pil PCC secara bebas dan tanpa izin. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan meminta kepada jajarannya untuk mengawasi peredaran pil PCC di wilayah Kabupaten Pati. Sebab, pil PCC harus digunakan atas izin dan resep dokter.

“Peredaran obat-obat terlarang, termasuk obat keras yang menimbulkan korban sudah kami antisipasi. Jangan sampai anak-anak menjadi korban karena penyalahgunaan obat-obat tersebut,” ujar AKBP Maulana, Kamis (21/9/2017).

Pihaknya juga meminta kepada masyarakat Pati untuk aktif memberikan informasi bila ditemukan peredaran pil PCC. Masukan dari masyarakat diakui akan mempercepat upaya deteksi dan pencarian lebih dalam agar pil PCC tidak disalahgunakan.

Dia menegaskan, pil PCC masuk dalam golongan obat keras. Penggunaannya harus melalui izin dan resep dokter, sehingga tidak bisa dijual secara bebas di pasaran, termasuk di apotek.

Pil PCC biasanya berbentuk bulat dan berwarna putih, perpaduan dari paracetamol, caffeine, dan carisoprodol. Kasus di Kota Kendari menunjukkan, pil PCC mengakibatkan efek kejang, mengamuk, hingga bertingkah seperti zombi.

“Kita sudah perketat pengawasan, termasuk meminta jajaran untuk melakukan penyisiran. Warga Pati juga kami harapkan bisa proaktif memberikan informasi bila ada temuan pil PCC yang beredar bebas tanpa izin,” imbau AKBP Maulana.

Editor: Supriyadi

Ditanya Siapa Bandarnya, Kurir Sabu di Semarang Malah Jawab ‘112’

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Semarang – Aparat dari Satuan Reskrim Narkoba Polrestabes Semarang, sempat mengernyitkan dahi saat menginterogasi kurir sabu bernama Eko Prasetyo Ardi (25), warga Weleri, Kendal.

Pasalnya, ketika ditanya siapa Bandar yang menyuruh untuk mengantarkan narkoba itu, Prasetyo justru memberi jawaban aneh. Tersangka menyebut ‘112’ sebagai bos  yang memerintahkannya. Namun ia selalu berkelit ketika didesak untuk memberitahu jati diri misterius tersebut.

Bahkan tersangka juga sempat mengaku mendapatkan barang haram itu dari bandar dari penjara. Namun polisi masih mendalami keterangan tersebut.

”Ini masih kami dalami betul atau tidak. Karena pengedar selalu bilang dapatnya dari lapas. Jadi kalau tersangka tidak bisa menyebutkan siapa seseorang itu tidak masuk akal,” kata Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abiyoso Seno Aji, saat jumpa pers, Senin (18/9/2017).

Tersangka juga mengaku tugasnya hanya menerima sabu kemudian membaginya dalam paket dan meletakkan di suatu tempat. Tempat untuk meletakkan sabu itu diakui terserah dirinya, namun ia melaporkan posisi sabu kepada bosnya.

Ia menyebut, tersangka Eko dibekuk pada Jumat (15/9/2017) lalu di Jalan MT Haryono Semarang. Sebelum ditangkap, polisi terlebih dahulu membuntuti tersangka. Saat ditangkap dan digeledah polisi menemukan sabu seberat 5 gram di motornya.

Tersangka kemudian digelandang untuk mencari barang bukti lain di rumah kosnya di daerah Tlogosari, Kota Semarang. Di rumah kos itu kembali ditemukan sabu seberat 195 gram.

Kasat Res Narkoba Polrestabes Semarang, AKBP Sidik Hanafi menyebut, tersangka menjalankan aksinya sejak 5 bulan terakhir. Setiap menjual 100 gram sabu ia mendapatkan upah Rp 1 juta.

“Sekali transaksi itu 30 gram, 20 gram, 12 gram, paling kecil 5 gram. Setiap 100 gram dia dapat Rp 1 juta, ini dia sudah dapat Rp 4 juta,” ujarnya.

Polisi menjerat tersangka dengan pasal 114 ayat (2) subsider pasal 112 ayat (2) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Dengan jeratan pasal itu tersangka dikenai ancaman hukuman 20 tahun penjara.

Editor : Ali Muntoha

Ratusan Gram Sabu yang Akan Diedarkan di Pati dan Sragen Dimusnahkan

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Semarang – Barang bukti kasus penyalahgunaan narkoba berupa sabu seberat 300 gram dimusnahkan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, Jumat (15/9/2017) dimusnahkan.

Sabu itu diamankan petugas dari berbagai pelaku di wilayah Kabupaten Pati dan Sragen. Pemusnahan dengan mencampur sabu dengan deterjen dan air itu, sesuai dengan aturan UU Nomor 35 Tahun 35 tentang Narkotika.

Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo mengatakan, barang bukti sabu itu diamankan dari dua tersangka. Yakni Awiyanto (48) yang diamankan di halte Jalan Raya Kaligawe, Semarang, dan Moh Fauzi (25), warga Jalan Bedas Utara, Dadapsari, Semarang Utara.

Dua orang ini merupakan jaringan. Dari tangan Awiyanto ditemukan sabu seberat 25 gram yang sebelumnya diletakkan oleh Moh Fauzi. Sementara dari rumah Moh Fauzi petugas mengamankan sabu seberat 275 gram.

”Total sebenarnya 300 gran. Yang 25 gram rencanaya akan diberikan kepada tersangka Awiyanto,” katanya.

Pengembangan kasus ini tak selesai dengan penangkapan dua tersangka ini saja. Dari pengakuan tersangka diketahui nama Sigit Laksono (25), warga Dukuhseti, Kabupaten Pati.

Sigit merupakan seorang narapidana yang ditahan di LP Kelas II A Sragen. Setelah berkoordinasi dengan Kanwil Kemenkumham Jateng, Sigit akhirnya juga diamankan dan diinterogasi di BNNP Jateng.

“Sigit Laksono merupakan orang yang menyuruh tersangka Awiyarno mengambil sabu seberat 25 yang nantinya akan diedarkan ke wilayah Pati Sragen,” tuturnya.

Editor : Ali Muntoha

Pengantin Baru Ini Ternyata Bandar Narkoba Besar di Cilacap

Foto Ilustrasi (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Cilacap – Seorang pengantin baru ini ternyata bandar narkoba. Adalah Fadlon (28) warga Kelurahan Sungai Langkai, Kecamatan Sanggulung, Kota Batam, Kepulauan Riau, ditangkap Badan Narkotika Nasional Kabupaten Cilacap, Selasa (12/9/2017) sore.

Penangkapan BNNK Cilacap dilakukan di Dusun Sitinggil, Desa Rawajaya, Kecamatan Bantarsari, Cilacap. Dari tangan pelaku, BNNK menyita  barang bukti sabu-sabu seberat 61 gram.

Kepala BNNK Cilacap AKBP Triatmo Hamardiyono mengatakan, pihaknya melakukan penangkapan usai adanya laporan dari sukarelawan BNNK. “Bermula dari kecurigaan sukarelawan BNNK,” kata Triatmo di Cilacap, Rabu (13/9/2017).

Sukarelawan BNNK curiga dengan adanya pria yang baru menikahi gadis setempat, awal September 2017. Kecurigaan tersebut dilanjutkan dengan penyelidikan. BNNK menggeledah rumah pelaku dan akhirnya menemukan dua paket sabu-sabu di dalam tas yang disimpan di lemari pakaian. Dengan total berat sabu-sabu 61 gram.

Barang tersebut disita petugas untuk kepentingan penyidikan. BNNK juga menyita barang bukti satu unit telepon seluler, dua buah korek api, 67 lembar kantong plastik klip ukuran kecil, alumunium foil, satu unit timbangan elektrik merek Idealife, dan sebuah tas warna merah.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, tersangka mengaku jika dia merupakan seorang residivis kasus narkoba yang baru keluar dari lembaga pemasyarakatan di Medan. Dari catatan BNNK, tersangka termasuk kategori bandar atau pengedar karena memiliki sabu-sabu lebih dari 5 gram.

“Tersangka melakukan transaksi sabu-sabu melalui telepon atau pesan singkat. Hingga saat ini, Penyidik BNNK Cilacap masih memeriksa tersangka guna pengembangan lebih lanjut,” katanya dikutip dari Antarajateng.com.

Ia mengatakan tersangka bakal dijerat dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. 
Editor: Akrom Hazami

 

6 Pelaku Narkoba Diringkus Polisi Surakarta

Foto Ilustrasi (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Solo – Kepolisian Resor Kota Surakarta mengamankan enam tersangka penyalagunaan sabu-sabu di lokasi berbeda di kota itu sejak pertengahan Agustus hingga September 2017.

Kepala Polresta Surakarta AKBP Ribut Hari Wibowo didampingi Kasat Narkoba Kompol Edy Sulistyanto di Solo, Selasa, mengatakan enam pelaku tersebut, yakni Siti Nurani (33), warga Samanggi Pasar Kliwon, Agus Ari Wijayanto (41), warga Gedong Kadipiro, Brian Cahyanto (25), warga Jebres, Agus Setiyanto (40), warga Balong, Sudiroprajan, Jebres, Agung Nugroho (37), warga Pajang, Laweyan, dan Hisyam (41), warga Semanggi, Pasar Kliwon Solo.

Selain itu, petugas Satuan Narkoba Polres Kota Surakarta juga berhasil menemukan sabu-sabu dengan tersangka tersebut yang totalnya 15 gram, yang kini diamankan sebagai barang bukti.

Polisi awalnya menangkap tersangka Siti Nurani di rumahnya, kampung Semanggi Pasar Kliwon Solo, pada 14 Agustus dan menemukan paket sabu-sabu seberat 12,94 gram, dompet, dan telepon genggam. Nurani berperan sebagai kurir narkoba.

Polisi menangkap pelaku lainnya Agus Ari Wijayanto di Kampung Gedong Kadipiro, Banjarsari Solo, pada 23 Agustus. Barang bukti yang diamankan berupa paket kecil sabu-sabu 0,06 gram dan sepeda motor Honda Supra X berpelat nomor AD 2182 FU. 

Polisi juga menangkap tersangka lainnya, Brian Cahyono di Kampung Tegalharjo, Jebres Solo, pada 27 Agustus dengan barang bukti sabu-sabu 0,25 gram. Pihaknya menangkap Hisyam di rumahnya, Kampung Semanggi Pasar Kliwon Solo, Senin (4/9) dengan barang bukti paket sabu-sabu 0,6 gram. 

Pelaku lainnya, Agus Setiyanto ditangkap di Kampung Balong Jebres, dengan barang bukti sabu-sabu 4,66 gram dan Agung Nugrogo di Kampung Karangturi Pajang, Laweyan Solo, dengan barang bukti sabu-sabu 0,29 gram dan dua butir pil penenang.

Atas perbuatannya, para tersangka dapat dijerat dengan Pasal 114 Ayat 2 dan Pasal 112 Ayat  ) UU No.35/2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara dan minimal lima tahun penjara. 

Ia mengimbau masyarakat ikut memerangi peredaran narkoba, khususnya di Kota Solo. “Karena memberantas jaringan narkoba bukan hanya tugas polisi, tetapi semua pihak juga ikut terlibat,” katanya dikutip dari Antarajateng.com.

Editor : Akrom Hazami

Sembunyikan Narkoba di Tas, Pengedar Konangan Polisi di Pekalongan

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Enriko Sugiharto Silalahi  saat meminta keterangan pelaku pengedar narkoba di mapolres setempat. (tribratanewspekalongankota)

MuriaNewsCom, Pekalongan – Waseto (26) warga Kelurahan Bandengan, Jalan Selat Karimata, RT 003 Rw 006, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, ditangkap anggota Satuan Reserse Narkoba Polres Pekalongan Kota, Selasa (29/8/2017).

Pria tersebut kedapatan membawa tujuh paket narkotika jenis sabu-sabu yang disimpan dalam plastik klip kecil. Plastik klip disimpan di dalam bungkus rokok. Waseto tak berkutik saat polisi menggeledahnya di salah satu lokasi di Jalan Gajah Mada tepatnya di depan Toko Roti Molina, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan. Apalagi barang bukti narkoba itu kedapatan disimpan di tas milik tersangka.

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Enriko Sugiharto Silalahi mengatakan, penangkapan tersangka berawal dari penyelidikan yang dilakukan anggota Satuan Reserse Narkoba Polres Pekalongan Kota. “Kami mendapat informasi bahwa yang bersangkutan diduga menyimpan, memiliki, menguasai dan atau menggunakan narkotika jenis sabu-sabu,” ungkapnya, dikutip situs resmi polisi.

Akhirnya pada Selasa malam (29/8/2017) pukul 21.30 WIB, anggota Sat Res Narkoba Polres Pekalongan Kota mengetahui kalau Waseto berada di Jalan Gajah Mada tepatnya di depan Toko Roti Molina. Petugas langsung memeriksa Waseto. Dari dalam tas milik Waseto, petugas mendapati tujuh paket sabu-sabu yang disimpan dalam plastik klip kecil di dalam tas milik tersangka.

Enriko menambahkan, dari tangan tersangka Waseto, petugas tidak hanya menemukan tujuh paket sabu, tapi juga 15 butir pil Alprazolam, dua  buah bong alat hisap sabu, satu bendel plastik klip baru, gulung aluminium foil dan dua buah pipet.

Saat ini kasus tersebut akan dikembangkan lebih lanjut dan tersangka beserta barang buktinya diamankan di Polres Pekalongan Kota guna penyidikan lebih lanjut. Tersangka akan dijerat dengan Pasal 112 ayat (1) dan atau Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-Undang RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman empat hingga 12 tahun penjara.

Polisi juga menangkap pengedar ganja, Budi Bahtiar (34) warga Desa Pacar RT 04 Rw 01, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan yang diduga pengedar ini ditangkap saat akan melakukan transaksi di Jalan Urip Sumoharjo. Tepatnya di area SPBU Medono, Kelurahan Medono, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan. Pelaku dijerat dengan Pasal 111 ayat (1),  Pasal114 ayat (1), Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Editor : Akrom Hazami

Jaringan Pengedar Narkoba di Wonogiri Takluk di Hadapan Polisi

Polisi saat meminta keterangan pelaku narkoba di Mapolres Wonogiri. (Tribratanewspolreswonogiri)

MuriaNewsCom, Wonogiri — Aparat Satuan Narkoba Polres Wonogiri mengungkap jaringan pengguna dan pengedar narkoba jenis sabu. Dari ungkap kasus, polisi menangkap dan mengamankan beberapa pelaku pengguna maupun pengedar dari tempat yang berbeda.

Kasat Narkoba Polres Wonogiri, AKP Amir Zubaidi mewakili Kapolres Wonogiri, AKBP Mohammad Tora, mengatakan penangkapan bermula ketika jajaran satresnarkoba melakukan penangkapan pada Fariz Nanda (25) warga Kelurahan Wonokarto. Mahasiswa ini ditangkap pada Kamis (10/08/2017) sekitar pukul 02.30 WIB. Dari hasil penyelidikan jajaran kepolisian didapati, Fariz menyimpan memiliki narkoba jenis sabu.

Kemudian anggota kepolisian melakukan pengembangan lebih lanjut lagi. Pada pukul 06.30 WIB kembali dilakukan penangkapan terhadap Bayu Bella Wijaya (27) warga Mojoroto, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, di penitipan motor Terminal Tirtonadi, Surakarta. Dari penangkapan tersebut diperoleh barang bukti 1 unit ponsel yang digunakan pelaku untuk melakukan transaksi.

“Dari Bayu kami peroleh informasi barang tersebut ia dapat dari Bagus Babtis Doni (29) warga Sidoharjo, Surakarta dan kemudian kami lakukan penangkapan pada pukul 11.00 WIB di salah satu Resto di Banjarsari, Surakarta,” kata Amir dikutip Tribratanewspolreswonogiri.

Selanjutnya dari penangkapan Bagus, anggota polisi mengamankan barang bukti berupa ponsel untuk transaksi, dan diperoleh informasi mengenai Yosafat Edo Febrianto (21) warga Banjarsari, Surakarta. Kemudian penangkapan terhadap Yosafat dilakukan dirumahnya pada pukul 12.30 WIB. Polisi hanya mendapatkan barang bukti berupa ponsel.

Amir menerangkan, dari penangkapan yang sebelumnya telah dilakukan. Pihaknya mendapat informasi mengenai barang yang diperoleh Yosafat berasal dari Adriel Alfa Yogi (22) warga Jebres, Surakarta. Kemudian penangkapan terhadap Adriel dilakulan pada hari tersebut sekira pukul 13.30  WIB di rumah pelaku.

“Dari penangkapan Adriel kami mengamankan ponsel yang digunakan untuk transaksi, 1 buah pipet kaca dan 1 bon atau alat hisap,” terangnya

Pengembangan data yang dilakukan anggota kepolisian Sat Resnarkoba Polres Wonogiri, berujung pada penangkapan Muhammad Faisal Mubarok (30) warga Tuban, Gondangrejo, Karanganyar di salah satu warung di Jebres, Surakarta pada pukul 16.00 WIB.

Dari Muhammad Faisal Mubarok, polisi mendapati 1 sedotan yang sudah dimodifikasi bentuknya, 1 bon atau alat hisap, timbangan digital, serta ponsel.

“Pelaku sudah kami amankan dan sudah kami tetapkan pasal yang berlaku bagi pengguna dan pengedar narkoba golongan 1 jenis sabu-sabu,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Band Narapidana Narkotika Pentaskan Lagu Kemerdekaan saat Pemberian Remisi di Lapas Pati

Narapidana kasus narkotika yang tergabung dalam Mandiri Band membawakan lagu-lagu kemerdekaan saat pemberian remisi, Kamis (17/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Narapidana narkotika di Lapas Kelas II B Pati ternyata memiliki grup band yang cukup mahir memainkan musik. Grup yang diberi nama Mandiri Band itu mementaskan seni musik dengan lagu-lagu kemerdekaan saat upacara penyerahan remisi umum narapidana, Kamis (17/8/2017).

Kepala Lapas Kelas II Pati Irwan Silais menuturkan, para narapidana kasus narkotika sebagian besar punya bakat di bidang seni musik. Karena itu, mereka membentuk grup band untuk meluapkan bakat dan kreativitasnya.

“Biasanya kalau yang kita tahu narkoba itu identik dengan musik, sehingga bakat mereka disalurkan di Lapas Pati. Kebetulan di sini ada wadah dan sarananya, sehingga kita bikin grup band,” kata Irwan.

Salah satu lagu yang dibawakan dan mendapatkan sambutan antusias dari para hadirin, antara lain “Gebyar-gebyar.” Tepuk tangan dari hadirin berulang kali terdengar, setelah mereka membawakan sejumlah lagu-lagu kemerdekaan.

Pelaksana Harian Bupati Pati Suharyono yang menyerahkan remisi kemerdekaan secara simbolik mengaku salut dengan bakat yang mereka miliki. Mereka yang berasal dari tiga kabupaten juga dianggap kompak dalam memainkan musik.

Karena itu, dia memberikan pesan kepada warga Pati untuk tidak terlibat dengan narkotika. Pasalnya, narkotika akan membawa generasi muda berbakat ke lembah jurang kehancuran.

“Bakat mereka sangat luar biasa. Salut juga dengan Lapas Pati yang menyediakan wadah untuk menyalurkan bakat narapidana, sehingga kreativitasnya tidak mati di balik jeruji besi,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Gara-gara Sabu di Bungkus Kopi Good Day, Warga Kota Pekalongan Ini Diringkus

Pelaku memberikan keterangan kepada petugas Satres Narkoba Polres Pekalongan Kota. (Tribratanewspekalongankota)

MuriaNewsCom, Pekalongan  – AS (42) warga Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan dan AB (42) warga Kecamatan Karangayar, Kabupaten Pekalongan ditangkap Satres Narkoba Polres Pekalongan Kota, Senin (14/8/2017) malam.  

Mereka diringkus karena kedapatan membawa narkoba jenis sabu di sebuah kebun di Kelurahan Pringrejo Gang 2 RT 02 Rw 14 Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan. “Anggota mendapat informasi dari masyarakat, Kemudian meluncur ke TKP untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Ternyata benar adanya, dua tersangka kami ringkus hendak mengedarkan sabu,” kata Kapolres Pekalongan Kota AKBP Enriko Sugiharto Silalahi melalui Kasat Res Narkoba AKP Junaedi, dikutip situs resmi Polres Pekalongan Kota, Selasa (15/8/2017).

Dijelaskan, tersangka ditangkap saat ia hendak mengantar barang haram kepada pembeli. “Saat kita lakukan penggeledahan, kita temukan barang bukti berupa sabu-sabu seberat 1,8 gram yang dibungkus di plastik kecil yang dimasukan di dalam bungkus kopi Good Day dan disimpan di dalam dompet,” tegasnya.

Barang bukti disita di Polres Pekalongan Kota. (Tribratanewspekalongankota)

 

Saat ditangkap, barang bukti berada di saku jaket milik tersangka. Selain mengamankan tersangka, petugas juga mengamankan barang bukti berupa, satu paket sabu berat 1,8 gram, bungkus kopi Good Day, dompet warna coklat, dua buah ponsel, satu lembar kertas slip BRI, satu buah kartu ATM BRI dan dua unit sepeda motor yang digunakan tersangka.

Di hadapan petugas, tersangka mengaku, bahwa barang haram yang hendak diantarkan kepada pembeli itu didapat dari seseorang yang tidak dikenalnya yang saat ini dalam pengejaran petugas. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya, kini tersangka harus mendekam dibalik jeruji besi sel tahanan Mapolres Pekalongan Kota Polda Jawa Tengah. Tersangka dijerat Pasal 114 (1), 112 (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Di hari sama, Satuan Reserse Narkoba Polres Pekalongan Kota juga menangkap satu orang tersangka lainnya. Adalah BK (34) warga Desa Capgawen Selatan RT 02 Rw 05, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, ditangkap anggota. Pelaku kedapatan membawa satu paket narkotika jenis sabu-sabu seberat 1,08 gram yang disimpan dalam plastik klip kecil. Plastik itu disimpannya di dalam saku celana.

Pelaku tak berkutik saat anggota Satres Narkoba menggeledahnya di salah satu lokasi di Jalan Urip Sumoharjo. Tepatnya di depan SPBU Kelurahan Pringrejo, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan.

Junaedi mengatakan penangkapan tersangka berawal dari penyelidikan yang dilakukan anggotanya.“Kami mendapat informasi bahwa yang bersangkutan diduga menyimpan, memiliki, menguasai dan atau menggunakan narkotika jenis sabu-sabu,” ungkapnya.

Junaedi menambahkan, saat ini kasus tersebut akan dikembangkan lebih lanjut. Tersangka akan dijerat dengan Pasal 112 ayat (1) dan atau Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-Undang RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman empat hingga 12 tahun penjara.

Editor : Akrom Hazami

 

Tukang Ojek Colo dan Polsek Dawe Kudus Sepakat Perangi Narkoba

Polsek Dawe bersama Asosiasi Angkutan Sepeda Motor Muria Colo Dawe (AASMM), mendeklarasikan gerakan anti narkoba, di aula Balai Desa Colo , Rabu (19/7/2017). (Tribratanews Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Polisi Sektor Dawe Kudus prihatin dengan maraknya peredaran narkoba di kalangan masyarakat, beberapa waktu terakhir.Karenanya, Kanit Binmas Polsek Dawe Aiptu Sukijan mewakili Kapolsek Dawe AKP Suharyanto bersama Bhabinkamtibmas Bripka Eling Teguh S bersama Asosiasi Angkutan Sepeda Motor Muria Colo Dawe (AASMM), mendeklarasikan gerakan anti narkoba, di aula Balai Desa Colo , Rabu (19/7/2017).

Deklarasi merupakan wujud komitmen melakukan pencegahan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba ( P4GN ). “Penanggulangan narkoba tersebut tidak akan berhasil tanpa dukungan dari seluruh elemen masyarakat, sebab narkoba bisa menyerang berbagai golongan dan usia,” ujar Elang.

Berbagai langkah telah dilalukan polisi, di antaranya menggelar sosialisasi bahaya pencegahan, dengan memaksimalkan patroli dan Bhabinkamtibmas di masing masing desa.

Kasubbag Humas Polres Kudus AKP Sumbar mengatakan, kegiatan Polsek Dawe bersama AASMM tersebut sangat tepat sekali. Sebab Indonesia saat ini sedang perang melawan narkoba.

“Sasaran mereka adalah merusak generasi muda Indonesia karena sebagian besar yang mengonsumsi narkoba adalah dari generasi muda, menghancurkan generasi muda berarti menghancurkan Indonesia di masa depan,” kata Sumbar.

Editor : Akrom Hazami

 

Perangkat Desa Nangis Tertangkap Polisi saat Pakai Narkoba di Grobogan

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano meminta keterangan perangkat desa yang tertangkap nyabu ketika gelar perkara, di mapolres setempat, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Anggota Satres Narkoba Polres Grobogan berhasil menangkap basah seorang perangkat desa yang sedang asyik menghisap sabu-sabu di rumahnya.

Pelaku diketahui bernama Hadi Sangnoto alias Bedodo, (38), warga Dusun Gunungwulan, Desa Kedungjati, Kecamatan Kedungjati. Ironisnya, pelaku ini sehari-harinya merupakan perangkat desa setempat yang menjabat sebagai Kaur Pemerintahan.

“Pelaku kita amankan dirumahnya Rabu 1 Maret 2017 sekitar pukul 14.30 WIB,” kata Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano didampingi Wakapolres Kompol Wahyudi dan Kasatres Narkoba AKP Abdul Fatah saat gelar perkara, Jumat (17/3/2017).

Bersama pelaku, petugas berhasil pula mengamankan sejumlah barang bukti. Yakni, seperangkat alat hisap dan tiga paket sabu dengan total berat sekitar 0,4 gram.

Kemudian, ikut diamankan pula satu unit mobil elf dengan nomor polisi B 7877 MH dan satu sepeda motor.

“Barang bukti berupa paket yang diduga berisi narkoba jenis sabu kita dapat dari dalam kendaraan. Saat itu kendaraan ada di garasi. Kasus ini masih kita kembangkan lebih lanjut. Penangkapan pelaku ini berkat informasi yang disampaikan masyarakat,” jelas Satria.

Saat dihadirkan dalam gelar perkara, pelaku menyatakan sangat menyesali perbuatannya. Bahkan, pelaku yang hidung dan mulutnya ditutup masker itu sempat menangis sesenggukan. “Barang itu saya dapat dari teman di Semarang. Saya menyesal sekali,” katanya lirih. 

Editor : Akrom Hazami

 

Terlibat Narkoba, Oknum Polisi di Pati Divonis 9 Tahun Penjara

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Pati – Anggota Polres Pati, Dadang Iswahyudi akhirnya divonis sembilan tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider enam bulan penjara. Di meja pengadilan, Dadang terbukti menyalahgunakan narkoba.

Hakim Ketua Irfanuddin menyatakan, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana yang diatur dalam Pasal 114 ayat 2 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Putusan tersebut berdasarkan pada sejumlah pertimbangan.

Salah satunya, terdakwa merupakan penegak hukum yang mestinya memberantas penyalahgunaan narkoba dan memberikan contoh kepada masyarakat, bukan sebaliknya. Selain itu, barang bukti yang dihadirkan di meja persidangan dalam jumlah yang cukup besar.

Dalam Pasal 114 ayat 2 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 menyebutkan, dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan, atau menerima narkotika Golongan I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 6 (enam) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).

Seperti diberitakan sebelumnya, Dadang Iswahyudi ditangkap tangan pimpinannya sendiri, Kapolres Pati AKBP Ari Wibowo di sebuah kompleks perumahan pada Senin (16/7/2016) malam. Dadang ditangkap tangan dalam sebuah operasi bersih-bersih narkoba di wilayah Pati.

“Indonesia masuk dalam kategori darurat narkoba dan butuh penanganan secara serius, baik di internal kepolisian maupun masyarakat umumnya. Karena itu, kami tidak akan tebang pilih dalam memberantas setiap penyalahgunaan narkoba,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Serunya Adegan Transaksi Narkoba di Minimarket Cepu Blora

Dua pelaku narkoba diamankan berikut barang buktinya di Mapolres Blora. (Polres Blora)

Dua pelaku narkoba diamankan berikut barang buktinya di Mapolres Blora. (Polres Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Tim Sat Resese Narkoba Kepolisian Resor Blora, berhasil menggagalkan transaksi narkoba yang dilakukan dua pria di sebuah minimarket Kebun Kelapa/Ketapang Jalan Stasiun Kota, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.

Pelaku bernama AKN (40) asal Kelurahan Sidomulyo, Cepu, Blora dan P(32) dari Desa Begadon, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Keduanya akan melakukan transaksi di depan minimarket namun tim  Res Blora dengan sigap menggagalkannya, Minggu (22/01/17).

“Sabtu malam (21/01/17) atas informasi dari yang kami dapat, akan adanya seseorang yang akan melakukan transaksi narkotika jenis sabu di depan minimarket Ketapang Jalan Stasiun Kota Cepu. Kami langsung menuju ke tempat yang diinformasikan dan melakukan penyekatan. Kemudian kami melihat mobil Xenia putih No. Pol S1389 AA melintas dan berhenti di minimarket tersebut turun seorang pria mencurigakan, yang akan melakukan transaksi narkoba,” kata Kasat Narkoba Polres Blora AKP Soeparlan dikutip polresblora.com. 

Dengan cepat dan sigap, kedua pelaku berhasil dilumpuhkan tanpa perlawanan. Tim kemudian melakukan penggledahan terhadap orang tersebut dan didapat barang haram itu. Dari tangan pelaku diamankan satu paket sabu dibungkus plastik klip bening, serta satu unit mobil, dua uni ponsel, dan uang tunai Rp 300 ribu, serta satu kantong plastik alat penghisap sabu (Bong).

Saat ini kedua pelaku berikut barang bukti diamankan di Mapolres Blora guna kepentingan penyelidikan dan pengembangan lebih lanjut.

Editor : Akrom Hazami

Pemesan Ganja di Grobogan Divonis 9 Tahun Penjara

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Grobogan – Kasus persidangan kepemilikan ganja seberat 8,645 kilogram yang melibatkan dua warga Grobogan akhirnya berakhir. Dua terdakwa, yakni Eko Sulistiyanto (30) dan Restanto alias Tanto (22) dinyatakan bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Purwodadi yang menyidangkan kasus tersebut.

Dalam putusannya, majelis hakim menjatuhkan vonis dengan menjatuhkan hukuman kurungan penjara sembilan tahun dan denda Rp 1 miliar subsider dua bulan kurungan untuk Eko. Sedangkan Restanto divonis hakim kurungan penjara enam tahun dan enam bulan dan denda Rp 1 miliar subsider dua bulan kurungan.

Dalam amar putusan hakim, kedua terdakwa dinyatakan sah dan bersalah dalam kepemilikan ganja dengan melanggar Pasal 132 ayat 1 juncto Pasal 114 ayat 2 UU 35/2009 tahun 2009 tentang Narkotika. Putusan ini lebih rendah dari tuntutan jaksa dari Kejaksaan Negeri Grobogan dengan tuntutan 10 tahun penjara dan denda Rp 800 juta subsider dua bulan kurungan.

“Kedua klien saya langsung menerima putusan hakim dan tidak mengajukan banding. Vonis kedua klien saya dijatuhkan pada Kamis 12 Januari lalu di Pengadilan Negeri Purwodadi,” kata penasehat hukum kedua terdakwa Adi Supriyanto pada wartawan.

Pengungkapan kasus ini dilakukan aparat Diresnarkoba Polda Jateng pada (1/9/2016) lalu. Saat itu, ada informasi mengenai pengiriman ganja dari Aceh ke Grobogan melalui paket pos. Aparat mengikuti pengiriman paket itu sampai di kantor Pos Kuwu di Desa Crewek, Kecamatan Kradenan.

Paket itu kemudian diambil oleh Restanto pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB. Dari pelaku ini kemudian muncul nama Eko selaku pemilik barang.

“Ganja tersebut dipesan Eko lalu dititipkan ke Tanto. Tanto ini hanya dititipi alamat saja. Ganja tersebut rencananya akan diedarkan pada sebuah acara di Ngawi, Jawa Timur,” imbuh Adi.

Editor : Akrom Hazami

Puluhan Awak Bus di Terminal Induk Grobogan Mendadak Dites Urine

Petugas dari Dokkes Polres Grobogan tengah memeriksa urine awak bus di terminal Induk Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas dari Dokkes Polres Grobogan tengah memeriksa urine awak bus di terminal Induk Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan awak bus dan para pedagang asongan yang ada di terminal induk Purwodadi, Jumat (30/12/2016) mengikuti kegiatan tes urine di tempat tersebut. Sedikitnya ada sekitar 20 orang yang ikut diambil sampel urinenya guna dites petugas dari Dokkes Polres Grobogan.

Dari pemeriksaan yang dilakukan, hasilnya semua negatif. Artinya, tidak ada satupun yang terindikasi mengonsumsi barang terlarang.

Kanit Registrasi dan Identifikasi Satlantas Polres Grobogan Iptu Untung Ariyono menyatakan, selain kondisi kendaraan, faktor manusia juga punya pengaruh besar dalam kasus kecelakaan lalu lintas.

Oleh sebab itu, para pengemudi perlu dites urine untuk memastikan kalau kondisi mereka aman dan layak untuk mengemudikan kendaraan.

“Pelaksanaan tes urine ini merupakan upaya pencegahan terjadinya kecelakaan. Khususnya menghadapi momen libur panjang akhir tahun. Melalui kegiatan ini kita bisa memastikan kalau kondisi awak bus, khususnya sopir benar-benar aman untuk mengemudikan kendaraan,” katanya didampingi Kanit Laka Ipda Sunarto yang ikut memantau pelaksanaan tes urine tersebut.  

Sementara itu, Kepala Terminal Induk Suparna mengatakan, pihaknya sangat mendukung adanya kegiatan pemeriksaan urine buat awak bus dan pedagang asongan tersebut. Selain untuk keselamatan, tindakan tersebut dinilai merupakan upaya untuk mencegah adanya peredaran dan pemakaian narkoba. 

Usai pelaksanaan tes urine, petugas kemudian melangsungkan pengecekan fisik kendaraan. Khususnya, bus antar kota antar provinsi (AKAP). Dalam pengecekan yang dilakukan, ada tiga bus yang terpaksa ditindak karena tidak lengkap suratnya.

“Dari sekitar 15 bus AKAP yang kita periksa, tiga di antaranya kita tilang karena surat-suratnya tidak lengkap,” kata Susanto Adi Wibowo, pegawai Dishubkominfo Grobogan yang juga menjabat sebagai Pejabat Penyidik PNS (PPNS), usai menggelar kegiatan. 

Editor : Akrom Hazami

Blora jadi Tempat Transit Narkoba dari Jawa Timur

Polisi memeriksa pengunjung di salah satu tempat karaoke di Kabupaten Blora, Kamis dini hari. (Polres Blora)

Polisi memeriksa pengunjung di salah satu tempat karaoke di Kabupaten Blora, Kamis dini hari. (Polres Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Kabupaten Blora diindikasikan menjadi tempat transit peredaran narkoba yang datang dari Jawa Timur. Mengingat lokasinya yang berada di wilayah perbatasan dengan provinsi tersebut.

Kasat Narkoba Polres Blora AKP Soeparlan mengatakan, Kabupaten Blora merupakan wilayah rawan terhadap narkotika.  “Karena di wilayah Blora diindikasikan sebagai tempat transit peredaran narkoba dari Jawa Tengah ke Jawa Timur atau sebaliknya,” kata Soeparlan dikutip dari situs resmi Polres Blora.

Maka dari itu, pihaknya akan merutinkan kegiatan razia memberantas narkotika di wilayah Kabupaten Blora. Seperti halnya merazia tempat hiburan malam. “Kegiatan preventif tidak hanya akan dilakukan untuk di tempat hiburan malam daerah Cepu saja, namun akan dilakukan di seluruh wilayah hukum Polres Blora,” tegas Soeparlan.

Terutama di wilayah Kecamatan Cepu yang merupakan titik perbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro Provinsi Jawa Timur. Pihaknya mendukung program penegakan pemberantasan narkoba, dan obat-obatan terlarang.

Kegiatan razia yang beberapa waktu terakhir kerap diadakan merupakan bagian dari Operasi Cipta Kondisi (Cipkon) yang dilakukan Satuan Reserse Narkoba Polres Blora. Terutama jelang perayaan Tahun Baru 2017. Operasi menyasar tempat yang berpotensi menjadi tempat peredaran narkoba, seperti halnya area hiburan malam.

Editor : Akrom Hazami

10 PNS di Kudus Mencurigakan saat Dites Urine

Sejumlah botol urine milik PNS Pemkab Kudus saat dicek usai tes urine yang dilakukan BNN Provinsi Jateng. (MuriaNewsCom)

Sejumlah botol urine milik PNS Pemkab Kudus saat dicek usai tes urine yang dilakukan BNN Provinsi Jateng. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Selasa (27/12/2016), ratusan PNS di Kudus kembali dites urin di kantor pemkab. Tes tersebut merupakan lanjutan dari tes urine yang dilaksanakan sebelumnya.

Sekretaris BKD Kudus Yuliono mengatakan, tes tersebut bermaksud untuk melihat dan mengetahui apakah pegawai PNS di lingkup Pemkab Kudus mengkonsumsi narkoba ataukah tidak. Untuk itulah tes urine dilaksanakan.

“Ini lanjutan dari tes urine pada, Rabu (7/12/2016) lalu. Jika sebelum tes urine sejumlah 990-an PNS. Kali ini sejumlah 889 PNS di lingkup Pemkab Kudus,” katanya kepada MuriaNewsCom. 

Menurutnya, peserta tes meliputi banyak kalangan. Bahkan para kepala dinas juga ikut tes urine yang dilakukan oleh BNN Provinsi Jateng. Pelaksanaan dituntaskan Selasa.

Ditambahkan, ke depan juga akan dilakukan tes urine lagi. Mengingat masih ada PNS di Kudus yang belum menjalani tes urine. “ini merupakan bentuk deteksi kepada pegawai agar tidak menggunakan narkoba,” jelasnya. 

Sementara, Susanto, Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat P2M BNN Jateng, mengatakan kalau dari hasil tes ditemukan ada 10 yang mencurigakan. Hal itu terlihat dari hasil tes yang dilakukan.

“Kami sudah panggil yang bersangkutan, dan ternyata itu bukanlah narkoba. Melainkan obat yang memiliki kandungan semacam itu. Jadi sepekan terakhir ada PNS yang sakit, sehingga dikasih obat demikian. Itu bukan narkoba,” ungkapnya.

Dia menyimpulkan, sampai saat ini Kudus merupakan daerah yang diwaspadai. Mengingat lokasinya di pantura yang strategis, dan beberapa kasus muncul, maka BNN akan rajin memantau.

Editor : Akrom Hazami

Pengguna Narkoba di Jateng 600 Ribu Orang

Petugas melakukan pendataan urine milik PNS Kudus saat tes berlangsung di kantor setda setempat, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas melakukan pendataan urine milik PNS Kudus saat tes berlangsung di kantor setda setempat, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kasi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2N) BNNP Jateng Susanto, mengatakan selama 2016, warga yang terjerat narkoba mencapai sekitar belasan orang. Jumlah itu merupakan data yang diterima.

“Hanya belasan saja yang masuk ke kami selama 2016. Sedangkan Nasional mencapai sekitar 5,2 juta,” katanya kepada MuriaNewsCom di sela-sela aksi tes urine PNS di Kudus, Rabu (7/12/2016).

Data pada 2015, di Jateng terdapat 600 ribu pengguna narkoba. Untuk itulah angka  pengguna narkoba terus ditekan, supaya tidak melebihi persentase nasional yakni 0,03 persen.

Dari jumlah pemakai narkoba tahun ini, kata dia, rata-rata  berusia 10-59 tahun. Meskipun, ada juga pemakai yang berusia anak-anak. Sedangkan, dari jumlah tersebut, faktor yang menyebabkan mengkonsumsi Narkoba paling banyak adalah lingkungan. Bahkan 90 persen disebabkan lingkungan.

Melihat itu, dia meminta keluarga sebagai garda paling depan untuk menanggulangi narkoba. Sementara untuk PNS di Kudus masih aman dari narkoba. Dari tes yang dilakukan, ada lima orang yang kedapatan menggunakan obat tertentu.

“Jadi ada PNS yang mengkonsumsi obat tersebut. Itu bukanlah narkoba tapi obat lainnya,”” ujarnya.

Dijelaskan, Kudus termasuk wilayah yang bagus dalam pencegahan narkoba. Sebab Kudus merupakan daerah pertama yang mengadakan tes narkoba. Daerah lain juga meniru melakukan tes narkoba, seperti Kebumen, Solo dan Blora.

Editor : Akrom Hazami

Benar-Benar Fakta, Ada Sabu di Tong Sampah Galeri ATM BRI Kudus

Pelaku diamankan di Mapolres Kudus atas kepemilikan sabu yang disembunyikan di tong sampah. (Tribratanewskudus)

Pelaku diamankan di Mapolres Kudus atas kepemilikan sabu yang disembunyikan di tong sampah. (Tribratanewskudus)

MuriaNewsCom, Kudus –  Satuan Reserse Narkoba Polres Kudus telah melakukan pengungkapan tindak pidana penyalahgunaan narkotika jenis sabu.  Polisi menangkap pelaku narkoba di galeri ATM BRI di Jalan Jenderal Sudirman Kudus. Setelah sebelumnya narkoba disembunyikan di tong sampah.

Tersangka adalah GB (34) warga Desa Prambatan Lor, RT 3 RW 1, Kecamatan Kaliwungu, Kudus , dengan domisili Desa Loramwetan RT 3 RW 1, Jati, Kudus. AW (24) warga Kampung Paten Jurang RT 4 RW 17, Kecamatan Rejowinangun Utara, Kota Magelang, dan SY (25) warga Desa Patenjurang, RT 3 Rw 16, Kecamatan Rejowinangun Utara, Magelang.

Mereka berhasil diamankan di galeri ATM BRI cabang Kudus jalan Jendral Sudirman, Selasa (29/11/2016) dini hari. Adapun barang bukti yang berhasil diamankan satu paket plastic serbuk kristal yang diduga sabu- sabu seberat 6 gram.

Barang bukti lainnya adalah tiga  bong terdiri dari yang terbuat dari botol bekas GPU, satu bong terbuat dari botol bekas parfum, dan satu bong terbuat dari bekas pipo rokok warna hitam.  Tiga buah kompor ,empat  buah serok terbuat dari sedotan plastic, empat buah korek api, dan satu buah alaa bong yang terbuat dari potongan pralon berwarna orange.

Kronologis kejadian, polisi dari Satres Narkoba telah menerima informasi. Bahwa GB akan melaksanakan transaksi sau yang akan diberikan kepada pemesannya AW dari Magelang.  Selanjutnya petugas melakukan penyelidikan secara intensif kepada GB ,ternyata benar sekitar pukul 21.00 WIB, tersangka bertemu dengan dua orang menggunakan Avanza warna putih metalik di pertigaan Sempalan Jati.

Petugas melakukan pembuntutan hingga ke rumah tersangka di Desa Loramwetan sekitar pukul 23.00 WIB.  GB keluar lagi dari rumah menuju galeri ATM BRI Cabang Jalan Jenderal Sudirman. Ternyata, GB mencari sabu di tempat sampah.

Ada sekitar enam tempat sampah di galeri ATM. Ternyata ditemukan satu bungkus rokok Sampoerna Mild putih yang diduga berisi sabu. Polisi segera menangkap GB. Dari keterangan GB, diakui jika barang haram itu pembelian atau kiriman dari orang yang bernama AN di Kudus.

GB diketahui pesan sebanyak 10 gram sabu kepada AN. GB telah mentransfer uang Rp 8,5 juta. Polisi juga menggeledah rumah GB dan ditemukan beberapa barang bukti. Di rumah GB juga ditangkap dua pelaku lainnya. Tersangka melanggar pasal 114 ayat 1 yo pasal 112 ayat 1 yo pasal 127 ayat 1 UU NO 35 Th 2009 tentang Narkotika.

Editor : Akrom Hazami

Transaksi Narkoba di Blora Gagal Gara-gara Ini

Beberapa barang bukti dari pelaku narkoba di Mapolres Blora. (Polres Blora)

Beberapa barang bukti dari pelaku narkoba di Mapolres Blora. (Polres Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resor Blora Jawa Tengah telah mengungkap kasus tindak pidana penyalahgunaan narkotika jenis sabu yang terjadi di Dukuh Plosokulon RT 05/RW 02, Desa Kediren, Randublatung, Blora, akhir pekan lalu.

Pelaku Surani (54), Islam, warga Dukuh Plosokulon RT 04/RW 01, Kedire. Barang bukti yang diamankan dari tangan pelaku berupa 22 paket narkotika jenis sabu berat 8 gram dan uang hasil penjualan Rp.1.900.000. Juga dua plastik klip warna bening, dua buah isolasi warna bening, dan ponsel satu unit.

Pelaku ditangkap Sabtu (19/11/2016) siang. Satres Narkoba mendapat informasi dari masyarakat bahwa akan terjadi transaksi narkoba di wilayah Plosokulon, Kediren.

Dikutip Polres Blora, Satres Narkoba mendatangi lokasi untuk melakukan penyidikan. Hasilnya, polisi bisa menangkap pelaku, berikut barang bukti narkotika. Selanjutnya tersangka beserta barang bukti diamankan dan dibawa ke kantor Satresnarkoba untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut.

Kapolres Blora AKBP  Surisman mengatakan, akibat perbuatannya,  pelaku dijerat dengan UU Narkotika nomor 35 tahun 2009 dengan pasal 114 ayat ( 1 ) dan atau pasal 111 ayat ( 1 ) dan atau Pasal 127 ayat (1) huruf a dan diancam dengan hukuman penjara minimal 5 tahun dan paling tinggi 20 tahun. “Polisi berhasil menindak pelaku,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Siswa MTs Diberi Bocoran Soal Bahaya Narkoba di Jepara

Polisi memberikan materi soal pencegahan narkoba di MTs Miftahul Huda, Keling, Kabupaten Jepara. (Tribratanewsjepara)

Polisi memberikan materi soal pencegahan narkoba di MTs Miftahul Huda, Keling, Kabupaten Jepara. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Kanit Binmas Polsek Keling Polres Jepara, Aiptu Suharmono melaksanakan kunjungan ke Madrasah Tsanawiyah (MTs) Miftahul Huda, Desa Watuaji, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, akhir pekan ini. Kunjungan ke sekolah-sekolah dalam rangka Police Goes To School yang diadakan Polsek Keling.

Dalam kunjungannya ke sekolah tersebut, Suharmono memberikan pembinaan dan penyuluhan (Binluh) kepada murid-murid tentang bahaya penyalahgunaan Narkoba dan kenakalan remaja.

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin melalui Kapolsek Keling AKP Mahendra menjelaskan, murid-murid diberi pengetahuan mengenai jenis dan golongan serta bahaya penyalahgunaan narkoba. Juga pengertian, macam atau bentuk kenakalan remaja serta cara untuk mengantisipasinya juga disampaikan.

“Kami mengajak kepada murid-murid untuk tidak terjerumus dalam lingkaran setan seperti Narkoba dan kenakalan remaja. Remaja jangan mudah terpengaruh dengan perkembangan teknologi serta kebiasaan-kebiasaan yang bersifat negatif,” tuturnya dikutip dari Tribratanewsjepara.

Selain itu, polisi juga menyisipkan materi sosialisasi penerimaan Polri. Materi ini untuk mendorong niat para generasi muda penerus bangsa yang berkeinginan untuk menjadi anggota Polri.

Editor : Akrom Hazami

Narkoba Berpeluang Serang Keluarga, Ini Trik Cegah Polres Blora

Polisi menerangkan tentang bahaya narkoba di Balai Desa Ginungan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. (Polres Blora)

Polisi menerangkan tentang bahaya narkoba di Balai Desa Ginungan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. (Polres Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Kanit Binmas Polsek Todanan Resor Blora Ipda Kumeidy, menggelar sosialisasi di Balai Desa Ginungan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Kapolsek Todanan, AKP Sutrisno melalui Kanit Binmasnya, Ipda Kumaeidy menyampaikan bahwa sosialisasi dilakukan sebagai upaya mencegah terjadinya tindak pidana narkoba dan penyuluhan terhadap masyarakat agar mengetahui dampaknya.

Sosialisasi yang dihadiri tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda serta para ibu-ibu pkk itu berlangsung meraih. Dalam penyampaiannya,  Kumaeidy mengatakan bahwa kebanyakan masyarakat tidak mengetahui bagaimana narkoba itu bisa masuk ke lingkungan keluarga masyarakat itu sendiri.

”Caranya, di sini kita mengajak masyarakat untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap kejahatan narkoba yang sangat berbahaya, kita mengajak untuk para orang tua lebih memahami kondisi psikis dari anak itu sendiri, dengan demikian, kita selaku orang tua dapat mengantisipasi sebelum hal terburuk terjadi pada anak kita itu sendiri,” kata Kumaedy dikutip Polres Blora.

Kumaedy menambahkan, dalam sosialisasi itu dia memaparkan, kejahatan narkoba sekarang lebih mudah masuk ke desa-desa karena lebih jauh dari jangkauan petugas. Banyak orang tidak menyadari bahwa anak bahkan suami dan juga mungkin bahkan istri sudah terpengaruh dampak narkoba.

”Biasanya, setelah kecanduan baru tahu, karena sudah tampak perubahan pada prilaku,” terang Kumaedy

Dalam sosialisasi ini diharapkan para orang tua mengerti akan perannya mengawasi dan mengontrol pergaulan putra-putrinya serta meningkatkan kewaspadaan terhadap tentang berbagai hal negatif yang bisa menjerumuskan anak ke dunia penyalahggunaan narkoba.

Para orang tua juga diimbau untuk saling memberikan informasi bila mengetahui seseorang yang mencurigakan mengedarkan narkoba untuk segera laporkan ke pihak yang berwajib.

Editor : Akrom Hazami