Penjual Makanan di Menara Kudus Ditemukan Tak Bernyawa di Dalam Kios

MuriaNewsCom, Kudus – Rijati (60) penjual makanan di kompleks Masjid Menara Kudus ditemukan tak bernyawa dalam kiosnya, Rabu (7/2/2018). Jasad perempuan malang ini baru ditemukan warga setelah dua hari tak terlihat sejak Selasa (6/2/2018).

Hal itu berawal dari banyaknya pedagang yang curiga kiosnya tak buka sejak hari Selasa (6/2/2018). Setelah dicek, kecurigaan warga ternyata benar. Setelah pintu kios dicongkel, Rijati ditemukan sudah menjadi mayat.

Saat pertama kali ditemukan, warga Joyokatan RT 04 RW 05 Serengan, Surakarta itu berada dalam posisi telentang, seperti orang tidur. Di kedua tangannya perhiasan masih terpasang.

Peristiwa itu kontan membuat kawasan tersebut geger. Lantaran, lokasi penemuan mayat dekat dengan Masjid Menara, yang kerap dijadikan lokasi wisata religi.

Kapolsek Kota Kudus AKP Muhammad Khoirul Naim mengatakan, penemuan mayat memang berawal dari kecurigaan warga. Kemudian warga bersepakat untuk membuka paksa warung tersebut, karena si penjual tidak merespon.

“Warga akhirnya mencongkel pintu kios, setelahnya ditemukan Rijati dalam kondisi meninggal dunia. Semasa hidup, yang bersangkutan memang dikenal sebagai penjual makanan di kawasan tersebut,” terangnya.

Mendapati hal tersebut, warga kemudian melapor pada pihak berwajib. Mayat korban kemudian dibawa ke RSUD Loekmono Hadi Kudus, untuk pemeriksaan medis.

Setelah dilakukan pemeriksaan, penyebab kematian korban diduga karena penyakit. Hal itu lantaran tidak ditemukannya tanda-tanda kekerasan di jasad Rijati.

“Tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Simpulan dari tim medis, yang bersangkutan telah meninggal lebih dari 6 jam. Sementara penyebabnya diduga karena serangan jantung,” ungkap Kapolsek Kota Kudus.

Simpulan itu juga diperkuat dengan keterangan warga sekitar. Sebelum ditemukan meninggal, Rijati sempat memeriksakan penyakitnya ke puskesmas setempat.

Editor: Supriyadi

Rekayasa Lalu Lintas Jalan Granit Menara Kudus Akan Dibahas 2018

Warga melintas di jalan granit Menara Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kabid Lalu Lintas pada Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Putut Sri Kuncoro mengatakan, pembahasan rekayasa lalu lintas untuk jalan granit Menara Kudus belum bisa dilakukan tahun ini. Rencananya, pembahasan rekayasa lalu lintas baru bisa dilaksanakan pada 2018 mendatang.

“Kami sudah melakukan kordinasi dengan sejumlah instansi termasuk dengan Polres Kudus. Namun pembahasan lebih lanjut belum bisa dilakukan tahun ini,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurut dia, pada Desember ini, petugas dari Dishub dan Polres Kudus lebih difokuskan pada perayaan Natal dan tahun baru 2018. Sehingga, tidak ada anggota yang fokus untuk rekayasa jalan granit di depan Menara. 

“Arahan dari bapak kadinas juga demikian, pada tahun ini belum bisa dilakukan. Sehingga pada Januari 2018 baru bisa dilakukan,” ujarnya

Disebutkan, dalam pembahasan nanti juga akan melibatkan pemdes setempat dan juga masyarakat di kawasan Menara Kudus. Karena, mereka yang akan langsung berdampak dengan adanya kebijakan nantinya 

“Jangan sampai saat sudah diputuskan malah dikomplain masyarakat karena tidak diajak rembugan. Karena, merekalah yang bersinggungan langsung,” ungkap dia.

Sebelumnya, diberitakan kalau ada tiga opsi rekayasa lalu lintas di kawasan depan Menara Kudus. Yaitu ditutup total, khusus untuk warga dan dikembalikan seperti semula. Namun, hingga kini masih belum diputuskan.

Editor: Supriyadi

Pemkab Belum Tentukan Kebijakan Penggunaan Jalan Granit Depan Menara Kudus

Warga melintas di jalan granit di depan Menara Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus belum memutuskan keberadaan Jalan Granit di depan Menara Kudus. Meski pembangunan sudah rampung, namun kebijakan belum diputuskan.

Plt Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, tiga opsi kebijakan jalan granit masih belum diputuskan. Pihaknya masih menimbang-nimbang baik buruknya opsi yang bakal diputuskan.

“Kan ada tiga opsi, pertama menutup jalan untuk semua kendaraan, membuka jalan untuk warga di sana dan ketiga mengembalikan jalan seperti semula,” katanya kepada awak media.

Baca: Ini 3 Opsi Penggunaan Jalan di Depan Menara Kudus yang Ditawarkan Pemkab

Menurut dia, setiap kebijakan yang nantinya diambil pastinya memiliki risiko. Sehingga, keputusan nantinya diharapkan yang paling baik untuk dilaksanakan.

Untuk itu, musyarawah dengan masyarakat harus dilaksanakan. Karena, bagaimanapun nantinya masyarakat di sanalah yang akan bersinggungan langsung dengan keputusan kebijakan.

“Saat ini masih kajian-kajian, jadi belum bisa diputuskan. Dan rapat dengan masyarakat juga tak bisa sekali dua kali karena banyak pertimbangannya,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Gunakan Sistem Tiketing, Bupati Seragamkan Tarif Becak, Ojek, dan Angkutan di Kawasan Menara Kudus

Bupati Kudus Musthofa (baju putih) berbincang dengan salah satu peziarah di Terminal Bakalan Krapyak, Jumat (27/10/2017). (Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Makam Syech Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus yang berada di kompleks Menara Kudus tak pernah sepi peziarah. Ribuan orang dari berbagai daerah di Indonesia datang untuk berziarah dan berdoa di makam salah satu Walisongi itu.

Tak ayal, banyak peziarah berjubel di kawasan Menara Kudus. Karenanya, pemerintah perlu melakukan terobosan dalam menata hilir mudik peziarah dari dan ke terminal wisata Bakalan Krapyak.

Hal itulah yang mendasari Bupati Kudus Musthofa meningkatan layanan. Beberapa di antaranya, sarpras jalan ditata dengan baik, bahkan ojek, becak, dan angkutan lain diberikan harga seragam dengan sistem tiket sebagai bentuk akuntabilitas dari level bawah.

“Kami terus tingkatkan kenyamanan bagi peziarah. Yakni dengan sistem satu tiket satu harga,” kata Bupati Kudus saat melihat langsung pemberlakukan sistem tiket, Jumat (27/10/2017).

Bupati tidak ingin para pelaku usaha angkutan seenaknya main harga. Tetapi semuanya seragam dengan tiket ini. Dia juga berpesan agar para tukang becak dan ojek serta angkutan lain menaati lalu lintas, tertib, serta melayani yang terbaik.

“Saya minta semuanya berikan layanan terbaik yang ramah untuk para tamu (peziarah, red) yang datang ke Kudus,” imbuhnya.

Pagi itu, Bupati datang untuk memastikan sistem tiket ini berjalan baik. Bahkan kehadirannya disambut hangat para tukang becak yang jumlahnya lebih dari 300 orang ini. Semua aspirasinya pun didengar demi menata Kudus semakin baik.

Sebagaimana yang diungkapkan kepala paguyuban becak putih Suyitno, bahwa Dia bersama para tukang becak menyambut baik sistem tiket ini. Karena akan membuat antrian tertib, rapi, dan tertata baik.

“Para penumpang dan para tukang becak juga merasa nyaman. Saya menilai Pak Musthofa bagus dalam menata Kudus,” kata Suyitno.

Senada juga disampaikan paguyuban becak merah Abdul Hadi. Bahwa Dia menyambut baik sistem ini. Musthofa dinilainya punya perhatian dan nilai lebih bagi masyarakat, tak terkecuali tukang becak.

Salah seorang pengunjung asal Tegal Nuryati juga merasakan kenyamanan dengan sistem tiket ini. Dia bersama rombongan benar-benar terlayani baik tanpa ‘ditengkik’. Sehingga bisa berziarah dengan teratur.

Editor: Supriyadi

Ini 3 Opsi Penggunaan Jalan di Depan Menara Kudus yang Ditawarkan Pemkab

Petugas PUPR dan masyarakat membersihkan jalan di kawasan Menara Kudus dengan cara mengepel, Jumat (13/10/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Penataan jalan di depan Menara Kudus dengan cara digranit telah rampung dikerjakan. Usai pemasangan granit itu, kawasan Menara Kudus memiliki sejumlah opsi disiapakan guna menjaga granit tetap awet.

Kadinas PUPR Sam’ani Intakoris mengatakan, pihak Pemkab Kudus sudah menyiapkan tiga opsi untuk kebijakan di kawasan Menara Kudus. Tiga opsi tersebut disiapakan untuk dipilih masyarakat setempat.

“Ada tiga opsi untuk lalulintas di kawasan Menara Kudus. Pertama jalan di kawasan Menara Kudus disterilkan dari kendaraan, jadi khusus pejalan kaki saja,” katanya Jumat (13/10/2017).

Baca: 900 Meter Jalan Granit di Depan Menara Kudus di Pel

Menurut dia, cara semacam itu akan membuat granit yang sudah dipasang lebih awet. Kawasan menara juga akan lebih rapi, dan juga lebih bersih karena tak adanya kendaraan yang melintas.

Selain itu, lanjut dia, opsi pertama akan membuat bangunan bersejarah Menara Kudus lebih awet. Karena, guncangan dari kendaraan tidak akan lagi dijumpai. Hanya, persoalan akan muncul dari masyarakat sekitar yang memiliki kendaraan.

“Opsi kedua, adalah dengan membatasi kendaraan yang masuk. Artinya, hanya warga sekitar menara saja yang diperbolehkan masuk. Untuk modelnya, bisa dengan karcis, kartu khusus, atau sejenisnya,” ujarnya.

Baca: Jalan Depan Menara Kudus Diganti Granit

Sementara, untuk opsi ketiga adalah dikembalikan seperti semula. Semua kendaraan bebas masuk kawasan Menara Kudus sama halnya sebelum dipasang granit.

“Kami kembilikan kepada masyarakat sekitar, mau menggunakan opsi yang mana,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

900 Meter Jalan Granit di Depan Menara Kudus Dipel

Petugas PUPR bersama masyarakat mengepel jalan granit di depan Menara Kudus, Jumat (13/10/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan meter jalan di Kawasan Menara Kudus dibersihkan dengan cara di pel, Jumat (13/10/2017). Di pelnya jalan tersebut, lantaran pengerjaan pemasangan granit sudah hampir selesai.

Kadinas PUPR Sam’ani Intakoris mengatakan, pembersihan dengan cara dipel itu, dilakukan agar granit yang sudah terpasang mengkilap. Sehingga, lebih enak saat dipandang dan terlihat lebih bersih dan rapi.

“Yang dibersihkan sepanjang 900 meteran di Jalan Menara dan Madurekso dengan lebar enam . Sedang yang membersihkan, sekitar 150an orang,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Baca: Jalan Depan Menara Kudus Diganti Granit

Dijelaskan, petugas yang membersihkan adalah dari dinas PUPR dan juga sebagian masyarakat yang membantu. Dengan dibersihkan, maka dapat memberikan contoh kepada masyarakat sekitar untuk sama-sama membersihkannya.

Proses pembersihan di sana, kata dia, dilakukan sekitar pukul 06.00 WIB hingga selesai. Membersihkan dilakukan dengan cara disiram air, kemudian disapu dan disikat pada semua bagian granit yang diimpor dari India.

Dia berharap, granit yang sudah terpasang dapat dipelihara dengan baik bersama-sama baik masyarakat dan juga Pemkab Kudus. “Nantinya akan disediakan jasa bersih khusus di kawasan Menara Kudus ini, sehingga jalan granit akan tetap bersih,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Datang ke Menara Kudus, Gubernur Ganjar Tak Takut Lengser

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat mendatangi acara Buka Luwur Makam Sunan Kudus, Sabtu (30/9/2017) pagi tadi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kedatangan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ke Menara Kudus saat Buka Luwur Sunan Kudus, Sabtu (30/9/2017) membuat masyarakat bertanya-tanya akan kelangsungan jabatannya. Pasalnya, mitos yang berkembang di masyarakat Kudus, pejabat yang datang ke Menara Kudus akan lengser.

Menyikapi hal itu, Ganjar menjawab dengan entengnya. Dia mengungkapkan kedatangannya dalam acara buka luwur adalah untuk berdoa. Sehingga tak khawatir akan hal tersebut.

“Lha sampeyan percaya? Percaya? Wong dongo (berdoa) kok yo,” Jawabnya singkat kepada MuriaNewsCom.

Baca Juga: Gubernur Ganjar Ikuti Buka Luwur Sunan Kudus

Mitos di masyarakat, bagi pejabat yang datang ke Menara Kudus tak lama setelahnya akan lengser. Bahkan cerita tersebut sudah ada semenjak zaman Aryo Penangsang dulu.

Ganjar Pranowo datang bukan melalui pintu utama Kawasan Menara Kudus. Melainkan lewat jalan samping, yang berada di sebelah timur Tajug Menara Kudus.

Baca Juga: Kurang dari 5 Jam, 32 Ribu Nasi Jangkrik Buka Luwur Sunan Kudus Ludes Diserbu Warga

Disinggung soal kedatangan, Ganjar menyampaikan ucapan terimakasih kepada masyarakat Kudus, khususnya pengelola yang telah merawat Makam Sunan Kudus dengan baik. Karena itu merupakan peninggalan yang memiliki relasi spiritual.

“Ini mengingatkan kita kepada sesepuh atau pendahulu, serta mengingatkan kepada yang maha kuasa Gusti Allah,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Gubernur Ganjar Ikuti Buka Luwur Sunan Kudus

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ketika sampai di kompleks makam Sunan Kudus, Sabtu (30/9/2017) pagi tadi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, hadir dalam acara buka Luwur Sunan Kudus, Sabtu (30/9/2017). Ganjar datang beserta rombongan dan pejabat lain.

Kedatangan orang nomor satu se-Jateng itu, disambut hangat. Seperti tamu lainya, Ganjar juga mengenakan kemeja putih dan celana hitam.

Ganjar tiba di komplek Menara Kudus sekitar jam 07.35 WIB. Disambut langsung ketua Yayasan Masjid, Makam dan Menara Kudus (YM3SK) Nadjib Hasan, Ganjar dipeluk sesampainya di kawasan Menara Kudus. 

Sekertaris YM3SK Deni Nur Hakim, menyebutkan kedatangan Ganjar Pranowo, membuat kejutan bagi pengurus. Meskipun, Gubernur Jateng itu juga diundang langsung dari penyelenggara buka luwur.

“Barusan datang dan langsung masuk ke kawasan Tajuk,” katanya kepada MuriaNewsCom. 

Menurut dia, dalam kegiatan buka luwur tahun ini, Ganjar tak hanya datang langsung saat prosesinya. Namun, sebelumnya Ganjar Pranowo juga menyumbang sebuah kerbau kepada penyelenggara untuk disembelih dan dibagikan kepada pengunjung.

Editor : Ali Muntoha

Menara Kudus Berpeluang Diusulkan jadi Warisan Budaya Tak Benda

Warga beraktivitas di depan Menara Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

Warga beraktivitas di depan Menara Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud RI menetapkan 15 kriteria warisan budaya tak benda (WBTB) 2016.

Ada 150 karya budaya nasional dari berbagai daerah ditetapkan sebagai WBTB. Selanjutnya diusulkan ke Unesco untuk dicatat sebagai WBTB dunia.

Hal yang menarik, menurut Moh Rosyid, peminat kajian sejarah dari STAIN Kudus, perlunya kesadaran Pemkab Kudus untuk memenuhi kriteria kawasan Menara Kudus diusulkan menjadi WBTB tahun depan.

“Persyaratan dasar yang telah terpenuhi yakni identitas budaya, nilai budaya, keunikan, memory collective, berdampak sosial dan budaya, mendesak untuk dilestarikan, sudah diwariskan lebih dari satu generasi, mendukung keberagaman budaya,” kata Rosyid.

Potensi besar kawasan Menara Kudus menjadi nominator bila dipersiapkan mulai kini. Dengan catatan, menurutnya, bila kawasan Menara Kudus ditata lagi.

Biar tak kumuh akibat trayek angkot masih melewati kawasan menara dan masih adanya PKL. “Dua hal itu merupakan wilayah kerja Pemkab,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

Ini Mitos Daun Jati dan Beras yang Tersisa Usai Buka Luwur Makam Sunan Kudus

Petugas siap membagikan nasi berkah di areal Menara Kudus, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas siap membagikan nasi berkah di areal Menara Kudus, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bagi masyarakat Kudus kuno atau masyarakat sekitar Menara Kudus, momen Buka Luwur tidak hanya momen ganti luwur dan juga pembagian nasi berkah saja. Namun di balik itu, terdapat tanda apakah ke depan selama setahun akan ada kendala soal pangan, ataukah tidak. Hal itu dapat dilihat dari tersisanya bungkus daun jati serta nasi yang dibagikan kepada masyarakat.

Ketua Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus  (YM3SK) M Nadjib Hasan mengatakan, jika kepercayaan masyarakat dulu dan sekarang masih menjadi mitos, saat bungkus nasi berkah berupa daun jati kurang, maka diprediksi kalau nantinya kebutuhan pakaian akan susah. Sebaliknya jika masih tersisa, maka kebutuhan pakaian akan mudah dan murah.

“Ini hanyalah berita kuno, untuk benar dan tidaknya juga tidak dapat memastikan hal tersebut,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, tanda itu sudah berkembang secara turun temurun. Namun tidak ada bentuk bentuk tulisan atau dokumen akan hal itu, melainkan secara turun-temurun.

Selain itu, pertanda lain adalah dengan adanya nasi berkah yang dibagikan, pertanda nya adalah jika nasi berkah masih sisa, maka kebutuhan pangan Kudus akan tercukupi, sebaliknya jika kurang maka harga pangan juga akan mahal dan susah.

“Kalau pada Buka Luwur kali ini, Alhamdullah semuanya mudah. Termasuk juga dengan daun jati sebagai bungkusnya serta beras untuk nasinya,” imbuhnya

Sepertinya, kata dia, kebutuhan pangan dan sandang Kudus akan terpenuhi dan juga murah. Namun kembali dia menegaskan kalau itu hanya mitos dan kepercayaan saja.

Mitos tersebut, sudah berkembang di masyarakat tidak hanya di sekitar Menara Kudus saja. Namun juga sudah tersebar di beberapa wilayah Kudus khususnya yang pernah nyantri di sekitar Menara Kudus.

“Tapi ada yang dibilang Kanjeng Sunan (Sunan Kudus) itu terbukti, seperti melarang menyembelih sapi, dan sekarang Indonesia malah impor daging kerbau dalam jumlah banyak. Bukannya sapi,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Tak Ada MCK, Pedagang Dandangan Sasar Kamar Mandi Menara Kudus untuk Buang Hajat

Seorang pedagang mulai menjajahkan dagangannya menyambut tradisi dandangan di Jalan Sunan Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorang pedagang mulai menjajahkan dagangannya menyambut tradisi dandangan di Jalan Sunan Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Tak adanya fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) dalam tradisi dandangan membuat para pedagang kelimpungan. Dampaknya, ratusan pedagang menggunakan fasilitas umum seperti, wc umun, toilet masjid ataupun musala, hingga kamar mandi di kompleks Menara Kudus untuk buang hajat dan mandi.

”Saya sudah sembilan tahun berjualan di setiap even dandangan, dan setiap tahun selalu manfaatkan kamar mandi di Menara Kudus,” kata Karsono, salah satu pedagang yang mengadu nasib di tradisi dandangan, Kamis (5/5/2016).

Pedagang berusia 42 tersebut mengaku terpaksa melakukan hal tersebut. Ini lantaran, sepanjang dandangan dimulai, memang tak ada toilet ataupun MCK khusus untuk pedagang.

”Ya kalau ada khusus pedagang pastinya tidak ke Menara. Apalagi, terkadang sampai terjadi antrean panjang hanya untuk mandi dan buang hajat,” ungkapnya.

Hal tersebut, lanjutnya, juga dilakukan oleh pedagang yang lain. Terlebih, pedagang yang mencoba peruntungan tak hanya berjumlah puluhan, melainkan ratusan. Praktis, mereka memanfaatkan fasilitas umum untuk memenuhi kebutuhan MCK.

”Selain di kompleks Menara, kalau ada rumah warga ya rumah warga. Tapi atas sizin yang punya rumah dulu. Kalau tak diizinkan ya kami tak berani,” terangnya.

Karsono pun berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemab) Kudus bisa mengadakan MCK khusus pedagang. Dengan begitu, ratusan pedagang yang berjualan tak merepoti orang-orang di sekitar.

”Harapannya ya ada tempat MCK khusus pedagang. Sehingga tak bergantung pada tempat umum dan rumah orang,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

 

Wisatawan Religi Kudus Akan Dimanja Fasilitas

Warga berada di depan salah satu objek wisata religi, Menara Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga berada di depan salah satu objek wisata religi, Menara Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Keberadaan dua wisata religi di Kudus yakni makam Sunan Muria dan Sunan Kudus, memang membuat kota semakin ramai. Namun masih dibutuhkan penambahan fasilitas, supaya bisa lebih baik.

Kepala Disbudpar melalui Kasi Destinasi pada Pariwisata di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Jami’an mengatakan penambahan fasilitas biar memberi rasa nyaman wisatawan.

“Kalau rencananya di kawasan Menara Kudus bakal dibangunkan gapura, sedangkan kalau di Colo Muria itu penambahan toilet, karena di sana yang banyak dibutuhkan itu toilet,” kata Jami’an kepada MuriaNewsCom.

Pembangunan gapura di kompleks makam Sunan Kudus juga sudah diusulkan ke pemerintah pusat. Gapura akan dipasang di lima titik yang sudah disurvei sebelumnya.

Di sebelah barat, katanya, gapura akan dipasang di perempatan Jember, kemudian di timur di perempatan Menara, pertigaan taman Menara, dan sekitar Kaligelis. Kemudian pada bagian utara rencananya bakal dipasang di perempatan Sucen.

“Itu rencananya, mudah mudahan dalam waktu dekat dapat direalisasikan untuk kemajuan wisata religi di Kudus,” ujarnya.

Dia menambahkan, wisata religi jelas memiliki pengunjung yang pasti. Sebab terdapat yang rutin berkunjung tiap pekan, atau pengunjung dalam waktu waktu tertentu.

“Kalau untuk warga sudah ada hari langganan ziarah. Sepekan sekali atau pada hari hari tertentu. Khususnya untuk muslim yang berkunjung untuk ziarah, hampir menjadi progam tahunan pasti datang,” imbuhnya

Namun kalau wisatawan asing lebih mengarah ke bidang budaya dan sejarah. Mereka biasanya datang ke dua makam wali itu. Mengingat, kedua objek wisata religi itu sarat dengan nilai sejarah.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Fantastis, Ini Jumlah Peziarah Makam Sunan Muria dan Sunan Kudus Per Bulan

Dokar, Transportasi Penghibur Anak-Anak

Salah satu bendi atau dokar sedang menunggu penumpang di Kecamatan Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu bendi atau dokar sedang menunggu penumpang di Kecamatan Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Selain sebagai alat transportasi, bendi atau dokar, juga menjadi hiburan anak-anak. Karena, alat transportasi yang memakai tenaga kuda tersebut mempunyai suara yang khas dan itu membuat anak tertarik.

“Kalau saya sudah mulai masuk gang atau kampung, baik saat seusai kerja atau mengantarkan penumpang, pasti banyak anak yang sudah menanti dipinggir jalan kampung. Yakni mereka ingin melihat kuda dokar ini,” kata Agus Sulikan, salah satu pemilik bendi. Selain itu, saat kudanya diistirahatkan, banyak anak yang naik bendi. Hal itu karena bentuk keretanya yang menarik.

Hal senada diamini Warso (55), pemilik bendi lainnya di Kecamatan Undaan. Keberadaan alat transportasi bendi memang menjadi primadona di mata anak-anak.

“Bahkan saat akan berangkat kerja dan akan keluar dari gang, ada salah satu tetangga terpaksa ikut naik bendi sampai jalan raya. Karena tetangga saya itu sedang momong cucunya yang sedang menangis,” ujarnya.

Warso mengaku meski jumlah bendi terus berkurang, tapi itu tidak menyurutkan kecintaan anak. Terlebih, nilai sejarah yang terkandung juga membuat pemilik sepakat tidak akan menjual bendi. “Yang penting bagi kita para pemilik bendi bisa mengusahakan untuk tidak menjual. Sehingga bendi ini bisa dipertahankan sampai anak cucu kita,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Nasib Dokar di Undaan Kudus yang Tergerus Zaman 

2 Gapura Menara Digagas Dibangun Tahun Ini

Aktivitas di depan Menara Kudus terlihat padat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Aktivitas di depan Menara Kudus terlihat padat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Untuk lebih menarik datangnya wisatawan ke Kudus, khususnya kawasan Menara Kudus dibutuhkan sebuah strategi khusus. Di antaranya, dibutuhkannya identitas yang menjelaskan kalau sudah memasuki kawasan Menara. Untuk itulah, pada tahun ini digagas adanya pembuatan gapura Menara.

Kabid Pariwisata Disbudpar Kudus Sancaka Dwi Supani mengatakan, pembangunan gapura itu digagas setelah datangnya tim dari Kementrian Pariwisata. Dalam pembuatan gapura itu, akan dibuatkan dua gapura sekaligus.

“Dua gapura Menara itu akan dibuatkan di dua titik. Pertama di perempatan Jember, sedangkan kedua di perempatan Kojan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Hal itu, merupakan kajian yang diperoleh beberap waktu yang lalu tentang penataan kawasan Menara. Dengan adanya dua gapura kembar, maka akan membuat kawasan Menara menjadi lebih indah.

Menurutnya, penataan itu juga dilakukan khusus di kawasan wisata religi. Sebab bagaimanapun Kudus termasuk wilayah yang kaya akan wisata religi.

Bukan hanya itu, tren sekarang bukan hanya untuk kaum muslim saja yang datang. Sebaliknya nonmuslim juga banyak yang datang ke sana untuk melihat langsung. Hal itu dilakukan lebih kepada aspek pendidikan dan budaya.

Hanya, mengenai kepastian pembangunan masih belum dapat diketahui. Sebab anggaran dari daerah yang terbatas, sehingga pemkab mengandalkan dari pemerintah pusat.

“Ini progam pemerintah pusat. Jadi kami menunggu adanya kebijakan pemerintah pusat terkait hal itu. Namun melihat tim yang datang langsung ke Kudus, kemungkinan besar akan terealisasikan tahun ini juga,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Wow! Penghasilan Pengemis di Kawasan Menara Kudus Lebih Besar dari PNS

Beberapa pengemis di kawasan Menara Kudus diamankan petugas Satpol PP (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Beberapa pengemis di kawasan Menara Kudus diamankan petugas Satpol PP (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Dengan muka memelas mereka menadahkan tangan meminta sedekah kepada para peziarah di Makam Sunan Kudus. Penampilan para pengemis itu mengundang iba. Selembar seribu atau dua ribuan direlakan para dermawan untuk mereka.

Namun, benarkah para pengemis yang setiap hari lalu lalang itu hidup menderita? Ternyata tidak semua.
Ada fakta yang mengejutkan, dalam sehari pengemis di kawasan Menara Kudus ini bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp 200 ribu bahkan lebih.

Salah satu pedagang di kawasan Menara Kudus Yati menuturkan, penghasilan para pengemis sangatlah banyak. Bahkan, saat ramai seperti ini bisa mencapai Rp 200 ribu bahkan lebih untuk per harinya.
“Mereka banyak yang kasih, soalnya mereka sampai setengah memaksa. Bahkan kalau tidak dikasih langsung menepuk-nepuk tangan peziarah untuk diberikan uangnya,” katanya kepada MuriaNewsCom.
Bahkan, kalau masih juga tidak dikasih oleh peziarah, pengemis di kawasan menara melontarkan kata-kata yang kotor kepada peziarah. Dengan begitu, membuat para peziarah terpaksa memberikan uang kepada pengemis.
Dia menceritakan, pernah suatu ketika, peziarah hendak membeli dagangan yang dimiliki. Hanya, belum sempat membeli, pengemis langsung mengerumuni peziarah itu. Tidak hanya itu, ketika peziarah hanya memberikan uang kepada satu pengemis saja, yang lain juga mengerumuni untuk minta jatah.
“Saya pernah menawari pengemis itu untuk berjualan seperti saya. Meski hasilnya tidak terlalu banyak, namun cukup. Itupun ditolak mereka dan memilih untuk meminta-minta,” ungkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Sering Ditertibkan, Pengemis di Kawasan Menara Kudus Masih Tak Kapok

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Kepala Satpol PP Kudus Abdul Halil mengatakan, pihaknya bersama beberapa instansi terkait beberapa kali sudah melakukan penertiban terhadap pengemis yang ada di kawasan Menara Kudus. Namun, hal itu tak membuat pengemis kapok, dan masih saja melakukan aktivitas di tempat tersebut.

Terkait hal ini, pihaknya dalam waktu dekat ini bakal melakukan penertiban kembali terhadap pengemis. Tidak hanya yang berada di kawasan Menara Kudus saja, namun juga yang berada di lokasi lain, yang biasa dijadikan pengemis untuk meminta-minta.

”Sebenarnya kami sudah melakukan teguran dan bahkan penertiban kepada pengemis. Mereka bilang tidak akan mengganggu lagi, namun pada kenyataannya mereka masih saja meminta-minta kepada peziarah. Dalam waktu dekat, kita akan melakukan penertibab,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, masyarakat peziarah tentunya akan merasa terganggu dengan keberadaan pengemis itu, apalagi jika sampai pengemis tersebut meminta uang kepada peziarah dengan memaksa. “Untuk meminta uang, pengemis ini mengejar-ngejar peziarah sampai dikasih uang,” imbuhnya.

Terkait hal ini, pihaknya akan berkoordinasi dengan intansi terkait untuk mengambil langkah tegas mengai keberadaan pengemis. Sehingga, nantinya, peziarah yang datang ke Kudus merasa nyaman dan aman. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Keberadaan Pengemis di Kawasan Menara Kudus Disebut Meresahkan

Sejumlah pengemis di kawasan Menara Kudus sedang meminta uang kepada para peziarah (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah pengemis di kawasan Menara Kudus sedang meminta uang kepada para peziarah (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Beberapa lokasi di Kabupaten Kudus menjadi sasaran empuk bagi pengemis untuk mengumpulkan recehan demi recehan. Di antaranya adalah kawasan menara Kudus atau kawasan Makam Sunan Kudus.

Namun, keberadaan pengemis di kawasan menara ini disebut meresahkan. Karena, ketika meminta uang kepada peziarah, pengemis terkesan memaksa.

”Musim ziarah seperti ini banyak pengemis, terlebih lagi menjelang bulan Ramadan nanti. Pengemisnya jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya, dan mereka terkesan memaksa dalam meminta kepada peziarah,”kata Suud, pedagang di kawasan Menara Kudus kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, selama dia bekerja di lingkungan menara, dia kerap kali melihat pengemis yang selalu mengejar peziarah. Bahkan, sebelum mereka dikasih uang oleh peziarah, para pengemis masih mengejarnya.

Bukan hanya itu saja katanya, jika mereka tidak dikasih uang oleh peziarah, ada juga di antara mereka yang malah mendoakan yang tidak baik kepada peziarah.

”Pengemisnya mengejar-ngejar peziarah, setelah dapat, mereka langsung pergi. Namun, jika tidak dikasih uang maka dia terus mengejarnya sampai dapat. Kalau saya lihat penghasilan pengemis ini banyak,”ujarnya.

Yang disayangkan juga, katanya, pengemis di lingkungan menara justru bergaya mewah dengan hasil mengemis tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan pola konsumsi yang tidak mencerminkan sebagai pengemis. “Kalau makan itu mereka yang enak-enak dan beli makanan yang mahal,” ungkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Pemerhati Sejarah Tunggu Kiprah Bupati jadikan Menara Kudus Warisan Nusantara

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Detik pergantian tahun 2015 ke 2016 oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjadikannya momen penting untuk menggugah warga Jawa Tengah khususnya Semarang bahwa Kawasan Kota Lama di Kota Semarang, dicanangkan sebagai destinasi wisata dunia.

Menyikapi hal ini, Moh Rosyid, pemerhati sejarah dari STAIN Kudus menggugah kepedulian Bupati Kudus untuk berinisiasi menjadikan kawasan Menara Kudus sebagai kota warisan Nusantara. Nilai positif yang didapatkannya adalah semakin menjadi prioritas bagi wisatawan asing dan domestik mengunjungi Kota Kudus.

”Konsekuensinya, penataan area Menara Kudus mempertimbangkan zona perspektif arkeologi, yakni zona inti, penyangga, dan pengembang,” ujar Rosyid.

Ia melanjutkan, pemilahan ketiga zona melibatkan peran arkeolog, ahli tata kota, dan sejarawan agar upaya nguri-uri kawasan sejarah Islamisasi di Kudus optimal hasilnya. Upaya awal sedang digarap Pemkab Kudus dengan menata Taman Beringin di kawasan Menara Kudus menjadi nyaman. Tahap berikutnya perlunya sterilisasi jalur Menara dan Masjid Al-Aqsha Kudus dari pedagang kaki lima, agar tak kumuh serta melarang mobil dan angkot melewatinya. Hal itu guna getarannya tak menimbulkan rapuhnya bangunan kuno yang bersejarah.

Rosyid berpendapat, masa bakti periode kedua bagi Bupati Musthofa perlu meninggalkan warisan positif bagi warga Kudus berupa penataan kawasan Menara Kudus. Hal ini merupakan modal besar baginya bila memimpin pada karir yang lebih tinggi. Job ideal yang memungkinkan didudukinya selain Kementerian UKM adalah Kementerian Pariwisata.

”Hal itu mungkin terjadi bila pengelolaan kawasan Menara Kudus sukses. Sudah saatnya putra Kudus menduduki jabatan kementerian sebagai pertanda kesuksesannya membangun daerahnya,” tandas Rosyid. (TITIS W)

Petugas Terminal Bakalan Krapyak Kudus Akhirnya Marah juga

Warga melintas di depan Terminal Bakalan Krapyak Kudus yang masih dalam proses pengecoran pelataran. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga melintas di depan Terminal Bakalan Krapyak Kudus yang masih dalam proses pengecoran pelataran. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Petugas terminal Krapyak Kudus ternyata bisa marah juga. Setelah beberapa waktu terakhir tak mampu menghalau bus masuk terminal itu, kini mereka akan tegas.Kita tunggu saja praktiknya.

Adalah Alfan. Dia mengatakan, aturan lapangan kendaraan jenis bus atau kendaraan peziarah dipastikan dilaksanakan. Aturan tersebut, harus dilaksanakan mulai Minggu (13/12/2015) sore ini pukul 15.00 WIB.

“Mulai sore ini sudah tidak boleh ada bus masuk, apapun alasannya tidak diperbolehkan. Sebab sesuai aturan terminal masih dalam pengecoran,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Agar aturan itu dipatuhi, maka pintu masuk terminal ditaruh papan peringatan larangan masuk. Selain itu, petugas terminal juga disiagakan selama pengecoran berlangsung.

“Tidak boleh ada yang masuk ke dalam terminal. Itu sudah menjadi kebijakan yang harus ditetapkan. Kalau  tidak maka pembagunan bisa menjadi lebih lama malah,” ujarnya.

Kata dia, bus yang masuk hingga Minggu siang tadi memang masih ditoleransi. Hal itu dikarenakan petugas tidak tega dengan para pedagang yang sudah masak banyak untuk berjualan. Ditambah lagi dengan bus yang tidak terlalu banyak, maka petugas memperbolehkan untuk masuk.

Meski demikian, kata dia, bus yang boleh masuk tidak lama, melainkan dibatasi jamnya. Yakni hingga maksimal pukul 15.00 WIB dan itu harus sudah steril. Selebihnya dari itu tidak diterima alasan apapun, dan petugas akan menghalau bis masuk.

Sedangkan untuk bus yang parkir di sekitar makam Krapyak, pihaknya tidak dapat berbuat lebih. Dengan alasan jumlah petugas yang hanya empat saja, hanya mampu menghalau bis yang mau masuk terminal saja.

“Ya bagiamana lagi, kami kekurangan tenaga, sehingga yang dapat dilakukan adalah mencegah agar tidak masuk. Selain itu, petugas tetap menarik retribusi parkir untuk bus,” imbuhnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Duh, Bus Peziarah Makam Sunan Kudus Malah Parkir Sembarangan

Bus yang mengantarkan peziarah ke makam Sunan Kudus, parkir di luar Terminal Bakalan Krapyak. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bus yang mengantarkan peziarah ke makam Sunan Kudus, parkir di luar Terminal Bakalan Krapyak. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Meski masih ada yang nekat masuk ke Terminal Bakalan Krapyak, Kudus, untuk parkir, namun beberapa bus sudah parkir di luar terminal. Hanya bus tersebut malahan parkir di sepanjang jalan sekitar makam di Bakalan Krapyak.

Hal tersebut berakibat pada luas jalan menjadi lebih sempit. Selain itu, bus yang jumlahnya lebih dari satu membuat kendaraan parkir mengular hingga depan pintu masuk pabrik Polytron sebelah utara.

Hingga Minggu (13/12/2015) siang, sekitar pukul 14.00 WIB, bus yang parkir di Terminal Bakalan Krapyak ada sekitar empat bus. Meski jumlahnya hanya empat unit bus, tapi membuat arus lalu lintas menjadi terhambat.

Alfan, salah satu petugas Terminal Bakalan Krapyak mengatakan, bus atau kendaraan yang mengangkut peziarah ke Makam Sunan Kudus, memang dilarang masuk selama waktu pengecoran pelataran terminal berlangsung.

“Selama pengecoran tidak boleh masuk. Untuk sementara bus kami tampung dengan berada di Terminal Induk Jati Kudus,” terangnya.

Dia menambahkan, papan pengunjuk kalau terminal tidak bisa dipakai juga sudah ditaruh di beberapa titik. Hal itu untuk memberitahu peziarah rombongan kalau terminal dalam perbaikan. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Jelang Maulid, FKTP Ajak Tiap Kecamatan Pentaskan Terbang Papat

Kesenian Terbang Papat menjadi kesenian andalan dari Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kesenian Terbang Papat menjadi kesenian andalan dari Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Menjelang datangnya hari besar Islam Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada Minggu (13/12/2015) mendatang. Forum Komunikasi Terbang Papat (FKTP) Kudus mengharap setiap koordinator kecamatan, mengadakan pentas seni musik tradisional Terbang Papat. Hal itu sebagai kegiatan yangbertujuan mempertahankan budaya kuno asli Kudus.

Pembina FKTP Kudus Anif Farizi mengatakan, pihaknya mengadakan rapat konsultasi kepada setiap Koordintor Kecamatan (Korcam) FKTP agar menggelar acara pentas seni musik Terbang Papat tersebut. Namun selama ini, kegiatan tersebut yang selalu berjalan hanya di beberapa kecamatan saja. Yaitu di Gebog dan Jekulo.

Kegiatan pentas seni yang dilakukan oleh empat penabuh rebana dan satu penabuh bedug tersebut, diharapkan memberikan semangat tersendiri untuk selalu mempertahankan kebudayaan Kudus.”Kalau kegiatan di Masjid Agung Kudus, nantinya dilaksanakan mulaitanggal 2 hingga 12 Maulid 1436 H atau 14  hingga 24 Desember 2015 di serambi masjid,” paparnya.

Selain itu, lanjut Anif, FKTP juga sering menggelar pentas Terbang Papat di Masjid Agung setiap Sabtu malam pada awal bulan. Dan itupun jadwalnya bergilir untuk 9 kecamatan yang tampil di Masjid Agung Kudus tersebut.

FKTP berharap, nantinya kegiatan pentas seni musik tradisional Kudus berupa Terbang Papat bisa terus diselenggarakan. ”Kami juga akan mengkroscek kembali. Apakah nantinya dilaksankan pentas seni Terbang Papat di masing-masing kecamatan atau tidak. Sebab sampai saat ini belum ada informasi, kecamatan mana yang menggelar Terbang Papat,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Rabu Wekasan, Air Salamun Disiapkan di Hari Penuh Musibah itu

Air Salamun di Masjid Al Makmur Jepang, diletakkab di dalam gentong. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Air Salamun di Masjid Al Makmur Jepang, diletakkab di dalam gentong. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Masyarakat  Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus mempercayai anggapan tentang Rabu Wekasan. Yakni hari Rabu terakhir di bulan Safar. Biasanya di Rabu Wekasan diyakini sebagai hari turunnya berbagai jenis musibah.

Hal ini dituturkan oleh pengelola sumur di Masjid Al Makmur Jepang, Mejobo, Dwi Ahmad Rifai. Dwi menceritakan sejarah Rabu Wekasan yakni pada 1917 M. Menurutnya di wilayah Jawa, khususnya di tempatnya terjadi musibah. “Musibahnya terjadi saat Rabu Wekasan,” katanya.

Berangkat dari hal itu, masyarakat setempat meyakini bahwa Rabu Wekasan itu memang ada. Terlebih pengelola Masjid Al Makmur saat itu, Sayyid Ndoro Ali, juga mengajak warga untuk berhati-hati saat momen tersebut tiba.

Diketahui, masjid yang ada di RT 1 RW 6 tersebut merupakan peninggalan dari Aryo Penangsang, yaitu salah satu murid Sunan Kudus. Di masjid itu juga terdapat peninggalannya berupa sumur. “Saat itulah Sayyid Ndoro Ali memberikan pengetahuan kepada warga, bahwa di saat ada musibah di hari Rabu akhir Safar harus melakukan  istigasah dan juga selalu menggunakan air sumur dari masjid tersebut supaya bisa menolak musibah,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun air sumur tersebut merupakan media obat untuk menghindari musibah di hari Rabu Wekasan. Karenanya, air sumur itu diberi nama air salamun atau air keselamatan oleh Sayyid Ndoro Ali. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Foto-Foto Jadul dan Sekarang Menara Kudus, Beda Banget

KUDUS – Sebagai salah satu pusat perhatian di Kudus, Menara Kudus memang mengalami perubahan yang luar biasa. Terutama dari segi penampilan. Jika saat ini, Menara Kudus dianggap sebagai salah satu tempat yang padat dengan peziarah, jika mengingat puluhan tahun lalu, tempat ini tak ubahnya tempat asri yang begitu indah dan sejuk.

Bagaimana, apakah kamu penasaran seperti apa penampilannya di masa silam? Ayo, intip foto-foto ini dan siaplah bernostalgia.

menara-1

Menara Kudus, fotografer H (Hendrik) Veen diambil 1880

 

 

menara-2

Menara Kudus, tak diketahui fotografernya, diambil 1913-1918

 

menara-3

Menara Kudus, tak diketahui fotografernya, diambil 1913-1918

 

menara-4

Menara Kudus tak diketahui fotografernya, diambil pada 1910-1939

 

Menara Kudus karya fotografer G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley, diambil 1920-1939

Menara Kudus karya fotografer G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley, diambil 1920-1939

 

Menara Kudus karya MuriaNewsCom/Akrom Hazami, diambil 2015

Menara Kudus karya MuriaNewsCom/Akrom Hazami, diambil 2015

Bagaimana, sudah puaskah melihat foto-foto jadulnya? Yang penting, kita terus melestarikan Menara Kudus ya. (AKROM HAZAMI)

Ini Pantangan yang Tidak Boleh Dilanggar Ketika Berziarah ke Makam Sunan Kudus

Para peziarah sedang berdoa di Makam Sunan Kudus (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Para peziarah sedang berdoa di Makam Sunan Kudus (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

KUDUS – Ketika melakukan ziarah ke Makam Sunan Kudus, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh peziarah. Karena, pengelola Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus menerapkan aturan yang tidak boleh dilanggar pengunjung.

Berikut beberapa poin penting yang perlu diperhatikan pengunjung, seperti yang dituturkan Denny Nurhakim, juru bicara Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus.

“Pertama, pengunjung tidak boleh merusak bangunan ataupun fasilitas yang ada di komplek Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Kamis (5/11/2015).

Kemudian, pengunjung juga dilarang mengambil benda apa saja yang terdapat di komplek masjid maupun makam, untuk dijadikan jimat ataupun lainnya. Karena, menurutnya hal itu justru bisa merusak keimanan seseorang.

Selanjutnya, pengunjung juga tidak diperkenankan untuk duduk-duduk di pagar pembatas. “Jika ada peziarah yang tidak sopan seperti duduk di pagar pembatas, kami akan menegurnya, dan apabila ada yang merusak atau mengambil sesuatu guna jimat atau yang lain, maka kami selaku pengeleola akan menindak tegas,” ujar Denny.

Menurutnya, aturan tersebut diterpakan, guna menjaga kenyamanan pengunjung dan juga keaslian bangunan masjid maupun makam. (KHOLISTIONO)

Inilah Resep Bubur Asyura Khas Masjid Menara Kudus

Bubur Asyura yang dihidangkan dengan wadah yang dilapisi daun pisang ini siap dibagikan ke warga sekita Masjid Menara Kudus. (MuriaNewsCom/ Faisol Hadi)

Bubur Asyura yang dihidangkan dengan wadah yang dilapisi daun pisang ini siap dibagikan ke warga sekita Masjid Menara Kudus. (MuriaNewsCom/ Faisol Hadi)

 

KUDUS – Bubur Asyura yang tiap tahun dibuat dalam kegiatan buka tirai makamKanjeng Sunan Kudus, memiliki cara tersendiri dalam membuatnya. Seperti halnya bahan yang digunakan juga khas dan pilihan.

Yuliatin salah satu koki menjelaskan, bahan bubur Asyura ini adalah beras, kacang-kacangan, singkong, ubi jalar serta pisang dengan dikasih santan dan bumbu gule.

”Sehingga rasanya gurih dan sedap, sedangkan untuk hiasan diatas bubur Asyura adalah 9 macam yakni tahu, tempe, teri, tauge, udang, telur dadar, cabai, dan jeruk bali serta pentul yang terbuat dari bahan rempah-rempah yang dibuat bulatan kecil,” katanya.

Yuliatin menuturkan, dalam memasak bubur Asyuraini, lima kawah mampu untuk 750-an uter (wadah bubur Asyura) yang khusus dibagikan kepada warga. Sementara untuk satu kawah lainnya, mampu untuk 250-an uter dengan ukuran lebih kecil yang akan digunakan dalam suguhan saat pengajian.

”Rasa bubur Asyura ini memang cukup unik dan selalu membuat orang yang menikmatinya ingin menambah kembali. Buktinya selalu habis disantap saat dibagikan,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)