Warga Desa Tayu Wetan Pati Diajak Melek Hukum Bermedsos

Mahasiswa Untag menggelar penyuluhan hukum di Balai Desa Tayu Wetan, Tayu, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Masyarakat Desa Tayu Wetan, Kecamatan Tayu, Pati diajak untuk melek hukum dalam menggunakan media sosial. Ajakan itu disampaikan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus saat memberikan penyuluhan hukum di Balai Desa Tayu Wetan, Senin (11/12/2017).

Koordinator penyuluhan hukum, Aris Kurniawan mengatakan, perkembangan zaman yang disertai dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang tidak lepas dari peran medsos memungkinkan pengguna terkena jeratan hukum bila tidak menggunakannya dengan bijak.

“Sudah banyak kasus pengguna medsos yang tersandung hukum, karena tidak berhati-hati dan bijak. Mereka sebagian besar terjerat UU ITE. Makanya kami sebagai mahasiswa hukum merasa perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat,” ujar Aris.

Selain memberikan materi sehat bermedsos, mereka juga mengajarkan tatacara pelaporan kasus yang terjadi di desa. Puluhan masyarakat, termasuk ibu-ibu PKK antusias melontarkan pertanyaan terkait dengan berbagai pelanggaran hukum yang terjadi di desa.

Salah satunya, kasus penyimpangan dana desa, proyek, dan kasus pidana lainnya. Jika warga melek hukum, pembangunan yang ada di desa dapat berjalan baik karena ada kontrol dari warga secara langsung.

“Pemahaman hukum di kalangan masyarakat sangat penting. Mereka punya peran dalam melakukan kontrol pembangunan di desa. Mereka juga bisa mengupayakan pencegahan tindak pidana hingga tata cara dan tahapan-tahapan pelaporan bila ada kasus hukum di masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Tayu Wetan Zaenuri yang ikut menjadi peserta penyuluhan mengapresiasi kepada mahasiswa yang sudah memberikan penyuluhan hukum kepada warga desa. Menurut dia, warga desa sudah waktunya mengikuti perkembangan zaman dengan pengetahuan hukum yang mumpuni supaya tidak salah kaprah dalam mengartikan hukum.

“Saya apresiasi penuh kegiatan ini. Sebab, pengetahuan hukum memang harus dimiliki seluruh masyarakat, tak terkecuali ibu-ibu bahkan kaum lansia sekalipun. Hukum sudah menjadi dasar bagi masyarakat agar bisa menjadi warga negara yang taat pada aturan dan hukum,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Puluhan Anggota Pramuka Grobogan Diajari Cara Bijak Gunakan Medsos 

Paur Humas Polres Grobogan Aiptu Teddy Hernomo saat memberikan pembekalan cara bijak gunakan medsos pada anggota baru Pramuka Kwarcab Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Anggota Pramuka Kwarcab Grobogan diharapkan agar bisa bersikap bijak dalam memanfaatkan media sosial. Hal itu disampaikan Paur Humas Polres Grobogan Aiptu Teddy Hernomo saat diminta pengurus kwarcab untuk memberikan pembekalan pada anggota baru Pramuka Peduli.

“Seperti kita ketahui, medsos ini sudah digunakan oleh berbagai kalangan. Mulai anak-anak sampai orang tua sudah akrab dengan dunia medsos. Termasuk didalamnya adalah adik-adik pramuka ini. Untuk itu perlu dilakukan berbagai pemahaman supaya bisa menggunakan medsos dengan bijak,” katanya, Senin (6/11/2017).

Menurut Teddy, hadirnya medos disatu sisi memang banyak sekali manfaatnya. Seperti menambah teman, memperluas jaringan, dan mencari berbagai informasi.

Namun, disisi lain, banyak pula hal-hal negatif yang ada dibalik medsos tersebut. Misalnya, banyak berita tidak benar atau hoax yang sering muncul dalam medsos.

“Keberadaan medsos memang seperti dua mata pisau. Banyak manfaat dan juga ada dampak negatifnya. Hal inilah yang harus jadi perhatian kita bersama,” jelasnya.

Untuk menekan dampak negatif, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah memberikan pemahaman tentang keberadaan media sosial tersebut. Termasuk peraturan perundangan yang mengatur masalah tersebut.

Kemudian, hal-hal yang perlu dihindari dalam penggunaan media sosial juga perlu disampaikan. Misalnya, hati-hati berteman dengan akun atau grup yang tidak dikenal, menampilkan konten yang tidak sesuai dengan etika, dan menghujat seseorang.

Selain itu, butuh pula dukungan pengawasan dari orang tua terhadap aktivitas yang dilakukan anaknya menggunakan fasilitas internet. Baik lewat komputer, laptop atau smartphone.

“Penting bagi orangtua untuk dapat memastikan keamanan anak-anaknya saat berinteraksi di media sosial. Jangan biarkan begitu saja ketika anak sudah asik main internetan,” sambungnya.

Sementara itu, Ketua Pramuka Peduli Kwarcab Grobogan Lulun Surono menyatakan, pihaknya merasa senang dengan adanya pembekalan dengan materi seputar penggunaan medsos tersebut. Diharapkan, dengan pelatihan itu bisa menambah wawasan pada para pramuka dan dampak selanjutnya mereka tidak sembarangan memanfaatkan medos.

Editor: Supriyadi

Medsos Bisa Jadi Teman yang Menyesatkan bagi Anak

Ilustrasi. (Flickr)

MuriaNewsCom, Jepara – Di era keterbukaan informasi dan teknologi gawai, segalanya tentu lebih dimudahkan. Namun bila tak dikelola dengan baik, kecanggihan bisa menjadi ”teman” yang menyesatkan bagi anak dan generasi muda saat ini. 

Hal itu dikatakan Hadi Priyanto, Ketua Yayasan Kartini Indonesia saat berbicara dalam workshop pengembangan dan tantangan pendidikan, Jumat (27/10/2017) sore.

Menurutnya, saat ini media sosial telah menyita perhatian di berbagai sendi kehidupan anak-anak. Selain itu, teknologi informasi juga telah mengubah tatanan sosial masyarakat.

“Anak-anak cenderung mengabaikan realitas sosial yang ada di sekelilingnya. Ironisnya, banyak orang tua yang juga hanyut dalam model komunikasi dan nilai yang dibentuk oleh media sosial,” katanya. 

Hadi menyebut, jika tidak berhati-hati banyak nilai yang dapat merusak karakter anak-anak yang akrab dengan media sosial. Seperti pornografi sampai mengabaikan relasi sosial dengan teman-teman yang ada di sekitarnya.

Bukan hanya medsos, acara televisi yang hanya mementingkan rating juga banyak yang tidak mendidik. Menurutnya, acara-acara yang ditayangkan di televisi pada jam tayang utama (prime time) secara tampilan memang sangat menarik, akan tetapi dari segi nilai tidak banyak yang bisa diambil.

Sebagai solusi, Hadi menyebut pengenalan kembali budaya literasi (baca) dapat mengurangi ketergantungan generasi muda pada medsos. Selain itu, pengawasan dan bimbingan saat anak menggunakan media sosial mutlak dilakukan.

Editor : Ali Muntoha

Sejoli Diciduk Usai Sebut Polisi Begal di Medsos  

Muda mudi yang melakukan ujaran kebencian menjalani pembinaan dari Polres Kendal. (Humas Polres Kendal).

MuriaNewsCom, Kendal – Kesal lantaran ditilang dalam sebuah razia kendaraan bermotor yang digelar oleh Satuan Lalu Lintas Polres Kendal pada Sabtu (21/10/2017), sepasang muda mudi membuat postingan bermuatan ujaran kebencian yang kemudian diunggah ke sebuah grup media sosial Facebook.

Dalam postingannya yang menggunakan akun Ciu  Mailing menyebutkan “lurrrr galuuuurrr seng dino iki intok iki sopo ??? aku di begal di kai koyok ngene ! , yang disertai dengan foto surat tilang dari Sat Lantas Polres Kendal dengan pelanggaran tidak memiliki SIM.

Mendapati postingan bernada ujaran kebencian seperti itu di media sosial, Polres Kendal  meluruskannya. Kemudian melakukan penelusuran dan mendapati pemilik asli dari akun Ciu Mailing bernama DS (17), perempuan, warga Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota, Kendal.

Dari hasil klarifikasi kepada yang bersangkutan, postingan tersebut memang di unggah sendiri namun dari pengakuannya disuruh oleh tunangannya NB (24) yang juga merupakan warga Ketapang.

Mereka mengatakan setelah ditindak tilang oleh Sat Lantas Polres Kendal, lalu melanjutkan perjalanannya hingga ke wilayah Mranggen Kabupaten Demak. “Saya yang menulis dan menguploadnya, tapi isi postingan disuruh oleh tunangan saya”, kata DS.

Atas postingannya itu, mereka mengaku menyesal dan minta maaf kepada kepolisian serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa dan membuat surat pernyataan yang disaksikan oleh Kasat Lantas Polres Kendal AKP Edy Sutrisno, Kaurmintu Sat Lantas dan dari Humas Polres Kendal.

Kapolres Kendal AKBP Adiwijaya, melalui Kasubbag Humas AKP Nurhidajat menjelaskan bahwa pasangan remaja tadi membuat ujaran kebencian yang ditujukan bagi Polres Kendal yang sedang melaksanakan tugas. Maka dari itu yang bersangkutan kemudian dipanggil untuk diminta klarifikasinya.

“Polisi sudah benar melakukan tindakan tilang, namun si pelanggar justru membuat postingan hate speech di medsos. Maka dari itu perlu diluruskan. Dan kepada yang bersangkutan dilakukan pembinaan”, katanya.

Editor : Akrom Hazami

Ketua PKK Jateng Siti Atikoh Ajak Ibu-ibu Grobogan Bijak Bermedsos 

Ketua Tim Penggerak PKK Jateng Siti Atikoh Ganjar Pranowo menyampaikan pengarahan usai melantik Sri Hartatik Suhadi sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Grobogan di pendapa kabupaten setempat, Selasa (9/5/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan -Ketua Tim Penggerak PKK Jateng Siti Atikoh Ganjar Pranowo meminta para ibu, khususnya pengurus PKK di Grobogan supaya bersikap bijak dalam memanfaatkan media sosial (medsos). Hal itu disampaikan saat usai melantik Sri Hartatik Suhadi sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Grobogan di pendapa kabupaten setempat, Selasa (9/5/2017).

“Medsos ini sudah digunakan oleh berbagai kalangan. Mulai anak-anak sampai orang tua sudah akrab dengan medsos. Termasuk di dalamnya adalah ibu-ibu. Untuk itu perlu dilakukan berbagai pemahaman supaya medsos bisa digunakan dengan bijak,” katanya.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Bupati Grobogan Sri Sumarni beserta jajaran FKPD setempat. Acara pelantikan juga dihadiri sejumlah pejabat dan camat serta pengurus PKK tingkat kecamatan.

Menurut Atikoh, hadirnya medsos di satu sisi memang banyak manfaatnya. Seperti menambah teman, memperluas jaringan, dan mencari berbagai informasi.

Namun, di sisi lain, banyak pula hal-hal negatif yang ada di balik medsos tersebut. Misalnya, banyak berita tidak benar atau hoax yang sering muncul dalam medsos.

“Keberadaan medsos memang seperti dua mata pisau. Banyak manfaat dan juga ada dampak negatifnya. Hal inilah yang harus jadi perhatian kita bersama,” jelasnya.

Untuk menekan dampak negatif, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah memberikan pemahaman tentang keberadaan media sosial tersebut. Termasuk peraturan perundangan yang mengatur masalah tersebut.

Kemudian, hal-hal yang perlu dihindari dalam penggunaan media sosial juga perlu disampaikan. Misalnya, hati-hati berteman dengan akun atau grup medsos yang tidak dikenal, menampilkan konten yang tidak sesuai dengan etika, dan menghujat seseorang.

Selain itu, ibu-ibu juga perlu melakukan pengawasan lebih terhadap aktivitas yang dilakukan anaknya ketika menggunakan fasilitas internet. Baik lewat komputer, laptop atau smartphone.

“Penting bagi orang tua untuk dapat memastikan keamanan anak-anaknya saat berinteraksi di media sosial. Jangan biarkan begitu saja ketika anak sudah asyik main internetan tanpa pengawasan,” sambungnya. 

 

Editor : Akrom Hazami

Ini Kata Kapolres Kudus soal Berita Medsos

kaplres-ok

Kapolres Kudus AKBP Andy Rifai. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Media sosial (medsos) menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan dirinya. Hanya, ada pesan dari Kapolres Kudus AKBP Andy Rifai terkait dengan isi medsos itu sendiri. 

Kapolres mengatakan, jika di media mainstream ada struktur organisasinya seperti wartawan dan redaktur sampai pemimpin redaksi, maka di medsos hal itu sama sekali tidak ada. “Tidak ada strukturnya kalau di medsos. Tinggal ketik kemudian di-share di medsos. Dan itu yang terjadi sekarang ini,” katanya dalam acara pelatihan jurnalistik yang diadakan Ikatan Jurnalis Televisi (IJTI) Muria Raya, bekerja sama dengan Polres Kudus dan Kodim 0722 Kudus, Selasa (6/12/2016). 

Jika beritanya yang dibuat atau di-share berisi informasi yang jelas dan benar, menurut Kapolres, hal itu tidak akan menjadi masalah. “Tapi kalau informasinya tidak jelas, bahkan menjurus ke fitnah, maka hal itu akan menjadi masalah. Karena itu membahayakan,” tegasnya.

Bahaya yang dimaksud Kapolres adalah terkait dengan opini atau tanggapan dari masyarakat yang membacanya. Karena bisa saja muncul opini yang berbagai macam, dan belum tentu semua benar. “Persepsi masyarakat akan bermacam-macam soal info yang di-upload di medsos. Ini yang akan bisa membahayakan, karena mereka tidak melakukan kroscek terlebih dahulu,” jelasnya.

Sebagai aparat kepolisian dan anggota TNI, menurut kapolres, harus bisa menjadi stabilisator dalam menanggapi munculnya fenomena tulisan-tulisan di medsos tersebut. Termasuk juga menciptakan tulisan-tulisan yang bisa membuat adem situasi.  “Kita harus bisa menetralisir situasi, dengan membuat tulisan-tulisan yang baik. Lantas akan kita share juga, sebagai bentuk kita memang ingin situasi tetap kondusif. Tulisan-tulisan kita harus bisa mengimbangi tulisan-tulisan di medsos yang cenderung provokatif tadi,” tegasnya.

Karena itu, anggota polisi dan TNI juga harus mengetahui bagaimana cara membuat berita yang baik. Sehingga bisa menjadi cara berkomunikasi yang baik dengan masyarakat. “Kita harus mengemas kegiatan kita dalam tulisan yang baik. Sehingga bisa menjadi jembatan kita berkomunikasi dengan masyarakat. Tidak hanya ketemu secara langsung, tapi juga lewat media-media lain,” imbuhnya.
Editor: Merie