Kerugian Kebakaran Gudang Mebel Jepara Ditaksir Tembus Rp 100 juta

Sejumlah warga melihat kebakaran gudang mebel di Desa Sowan LorRT 12/RW 1, Kecamatan Kedung , Jumat (4/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Penyebab pasti kebakaran gudang mebel di Desa Sowan Lor RT 12/RW 1, Kecamatan Kedung memang masih dalam penyelidikan pihak berwajib. Meski begitu kerugian atas musibah tersebut ditaksir lebih dari Rp 100 juta.

Kapolsek Kedung AKP Sukarmo menyebutkan, saat kebakaran terjadi, kayu hasil olahan masih berada di dalam gudang. Karena sedang libur, tak ada aktivitas apapun di gudang tersebut. Bahkan, gerbang gudang masih tertutup dan terkunci.

Hal tersebut membuat mebel yang diselamatkan dari amukan api tak begitu banyak. Warga yang membantu evakuasi mebel hanya bisa menyelamatkan sebagian kecil dari mebel yang ada.

”Banyak yang terbakar daripada yang berhasil diselamatkan. Kemungkinan kerugian yang dialami mencapai Rp 100 juta lebih,” katanya, Jumat (4/8/2017).

Ia mengungkapkan, saat kejadian para saksi menyatakan melihat api dari bagian belakang gudang, yang berdekatan dengan tempat penyimpanan thiner. Beberapa saat kemudian terdengarlah suara ledakan.

”Warga yang mendengar langsung datang dan bergotong-royong menyelamatkan aset gudang. Beruntung tidak ada yang terluka,” ungkap Sukarmo.

Adapun jumlah mobil pemadam yang diturunkan ada empat unit. Dalam pemadaman petugas pun menggunakan cairan khusus karena bahan kayu dan thiner yang mudah terbakar. 

Sukarmo menambahkan, peristiwa itu menyedot perhatian warga sekitar. Akibatnya jalan Kedung-Jepara sempat tersendat beberapa saat karena banyaknya warga yang menonton.

Baca Juga : Gudang Mebel di Jepara Ludes Dilalap Si Jago Merah

Editor: Supriyadi

Furnitur Masih Merajai Ekspor Jepara

Aktivitas pengerjaan mebel di salah satu sentra furnitur di Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Nilai ekspor Jepara masih didominasi oleh produk furniture. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jepara pada 2015 dan 2016, komoditas itu selalu menduduki posisi teratas. 

Pada tahun 2015, nilai ekspor furnitur adalah USD 150.320.779,41 atau Rp 2.004.445.482,26. Sedangkan pada tahun 2016, nilai tersebut naik menjadi USD 174.042.524,73. Dengan demikian, nilai ekspor produk furnitur naik sekitar 15 persen lebih. 

Kabid Perdagangan Disperindag Jepara Slamet Riyanto menyebut, tidak ada peningkatan pada negara tujuan ekpor. Namun demikian, justru volume ekspor yang meningkat.”Kalau pangsa pasar tidak bertambah, namun volumenya itu yang naik,” ujar Slamet Senin (24/4/2017).

Catatan Disperindag, ekspor furnitur pada 2016 Jepara menyasar 113 negara tujuan. Hal itu tidak berbeda dengan tahun 2015. Namun terjadi peningkatan pada jumlah eksportir, yang sebelumnya 296 merangkak naik menjadi 307 pengekspor. 

Hal itu menurutnya, adanya pengaruh dari segi promosi. Saat ini menurutnya, sebagian pengusaha memandang pentingnya faktor tersebut. Namun demikian, bagi pengusaha skala kecil, hal itu masih dipandang sebagai sesuatu yang memberatkan. 

Sementara itu, komoditas lain yang memiliki nilai ekspor tinggi di tahun 2016, di antaranya kapuk atau produk nabati dengan nilai ekspor USD16.381.698,73. Setelahnya ada produk tekstil dengan nilai USD 13.103.730,71.

Editor : Kholistiono

Industri Mebel Rumahan Jepara Semakin Berkurang

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sejumlah pekerja mebel di salah satu sentra di Kabupaten Jepara, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Semakin lama, bukan semakin banyak jumlah industri mebel rumahan di Kabupaten Jepara. Justru sebaliknya, semakin lama semakin berkurang. Pengurangan terjadi sekitar delapan sampai sepuluh persen setiap tahun.

Hal itu seperti yang disampaikan Ketua DPD Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki) Jepara Raya Maskur Zaenuri. Menurutnya, setiap tahun terjadi penurunan jumlah industri mebel rumahan meskipun setiap tahun juga ada pelaku usaha baru. Namun, jumlah pelaku usaha rumahan yang baru tidak sebanding dengan yang tutup usaha atau beralih usaha.

“Penurunan pelaku industri mebel rumahan setiap tahun kalau dihitung-hitung persentase penurunan industri mebel rumahan setiap tahunnya bisa mencapai 10 persen. Saat ini, di Kabupaten Jepara tercatat sedikitnya 700 industri mebel rumahan. Di tahun 2010, tercatat 1.300 lebih industri mebel rumahan,” ujar Maskur kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, penurunan jumlah industri mebel rumahan disebabkan beberapa hal. Salah satunya adalah sulitnya mencari tenaga kerja, baik tukang kayu maupun tukang amplas. “Penurunan jumlah tenaga kerja itu juga karena semakin banyaknya industri nonmebel. Jadi banyak tenaga kerja yang beralih menjadi kerja di pabrik,” ungkapnya.

Ia menambahkan, ketersediaan bahan baku untuk industri mebel yang semakin minim juga ditengarai menjadi penyebab banyaknya instri mebel rumahan gulung tikar. Ia berharap persoalan di dunia mebeler tersebut dapat diatasi agar Jepara sebagai kota ukir tetap eksis.

Editor : Akrom Hazami

Mebel Limbah Drum Jepara Bikin Bule Australia dan Singapura Kepincut 

Jpeg

Muhammad Nur Mustaqim memamerkan karyanya berupa kerajinan mebel dari limbah drum. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Siapa sangka, limbah drum (kaleng besar) yang berbahan besi dan seng ternyata mampu disulap menjadi berbagai produk mebel istimewa. Itu dapat dijumpai di salah satu sentra mebel di Kecamatan Tahunan Jepara.

Salah seorang perajin produk mebel dengan bahan limbah drum adalah Muhammad Nur Mustaqim. Mulai terasa langka bahan baku utama berupa kayu, membuat pemuda kelahiran 13 September 1993 ini mendapatkan ide yang cukup unik.

Ya, dia memanfaatkan limbah drum untuk dijadikan bahan utama produk mebel seperti kursi, lemari, wastafel, dan meja.

Pemuda yang tinggal di kawasan Desa Ngabul, Kecamatan Tahunan ini mengaku telah membuat ratusan produk, dengan belasan jenis yang menggunakan bahan utama drum bekas.

“Saya basicnya bukan dunia mebel, tetapi seni lukis. Awalnya hanya mencoba buat inovasi saat mendapatkan ide dari melihat gambar kursi berbentuk bulat. Dari situ saya coba dengan bahan drum bekas yang bulat,” ujar Mustaqim kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, bisnis yang dijalaninya saat ini baru berusia sekitar lima bulan. Sejak berdiri, dia sudah memproduksi sekitar 150 kerajinan berbahan drum.  Jenis kerajinan berbahan drum meliputi, kursi, lemari, wastafel, dan meja. Totalnya ada enam belas jenis kerajinan bebahan drum.

Pada awalnya, dia hanya membuat satu produk, yaitu jenis kursi. Setelah buatannya diposting di media sosial, tak berselang lama ternyata ada yang tertarik kemudian pesan 15 kursi untuk keperluan kafe dari pemesan.

Mustaqim mengaku, sebelum menjual kerajinan dari drum, dirinya berbisnis seni lukis. Itu sudah berlangsung sejak sekitar tiga tahun lalu. Pada awal-awal memang laris. Namun, belakangan semakin sepi karena banyak persaingan pasar. Dari sana kemudian dia berpikir untuk mencari ide baru. Akhirnya menemukan ide membuat drum bekas jadi kursi.

”Ini banyak memberi perubahan pada pendapatan saya. Biasanya hanya sekitar Rp 1 juta – Rp 2 juta per bulan. Sekarang bisa sampai dua kali lipat. Selain itu, yang semula saya hanya punya empat karyawan, sekarang sudah ada delapan karyawan yang membantu saya,” katanya.

Barang-barang karya Mustaqim  saat ini tak hanya laku di kalangan lokal. Namun, juga laku di luar negeri. Seperti Singapura dan Australia. ”Karena di Jepara banyak orang asing, akses ke luar bisa lumayan mudah. Pesanan dari luar negeri karena kebetulan beberapa kali orang asing lewat di depan rumahnya. Terus tertarik, kemudian orang asing itu memesannya untuk dikirim ke negara pemesan, ” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

Marak Penipuan, Penjualan Mebel Online di Jepara Harus Diperketat

Salah satu perajin ukir sedang mengukir kayu. (MuriaNewsCom)

Salah satu perajin ukir sedang mengukir kayu. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Beberapa bulan terakhir ini diketahui marak kasus penipuan berkedok penjualan mebel via online di Kabupaten Jepara. Hal itu membuat prihatin wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jepara, Aris Isnandar.

Menurut Aris, maraknya penipuan penjualan mebel online tersebut harus menjadi perhatian khusus. Instansi terkait diharuskan melakukan pengawasan yang ketat terhadap aktifitas jual beli online mebel di Jepara.

“Kasus penipuan ini banyak terjadi di Jepara. Beberapa kali kami mendapat laporan mengenai hal ini. Ada yang jualan via online tetapi mereka tidak memiliki produk yang dijualnya,” kata Aris kepada MuriaNewsCom, Rabu (11/5/2016).

Menurut Aris, citra Jepara sebagai penghasil produk mebel-ukir tercoreng karena banyaknya transaksi online abal-abal tersebut. Sejumlah kasus penipuan transaksi terjadi sehingga menyebabkan pembeli (buyer) beralih memesan mebel-ukir di daerah, bahkan negara lain.

“Agar transaksi abal-abal tak kian akut menggejala, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jepara harus mulai merancang konsep pengawalan transaksi online ini. Caranya dengan menyediakan ahli telekomunikasi dan informasi. Selain itu, perlu juga dibuat database mengenai industri mebel-ukir di Jepara,” terangnya.

Dia menambahkan, saat ini transaksi jual-beli mebel memang cenderung via internet. Yang menjadi masalah, adanya makelar penjualan yang memanfaatkan situs penjualan miliknya tapi sebenarnya oknum tersebut tak memiliki produk mebel-ukir, terlebih tempat produksi.

Dalam menjalankan aksinya, lanjut Aris, oknum tersebut mendatangi pemilik usaha mebel-ukir. Kepada pemilik, oknum tersebut meminta jika ada salah seorang pembeli datang untuk mengecek, maka pemilik menyatakan jika gudang tersebut milik sang oknum. Saat transaksi pembayaran dilakukan (down payment), ternayata barang tidak dikirimkan.

Editor: Supriyadi

Ada Isu Batal, Tapi Pengusaha Mebel Jangan Berhenti Urus SVLK

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timur Leste, saat berkunjung ke perusahaan mebeler Jepara untuk melihat pemberlakuan SVLK di wilayah itu. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruzzaman)

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timur Leste, saat berkunjung ke perusahaan mebeler Jepara untuk melihat pemberlakuan SVLK di wilayah itu. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruzzaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Pengusaha mebel dan ukir di Kabupaten Jepara yang sudah berupaya mengurus Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK), diharapkan tidak berhenti ditengah jalan. Terlebih dalam pengurusannya disubsidi pemerintah.

Hal itu seperti yang disampaikan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disindag) Jepara Yoso Suwarno melalui Kasi Perdagangan Luar Negeri, Edi Widodo.

Menurut dia, beberapa perajin mebel dan ukir yang sudah berupaya mengurus SVLK secara kolektif, diharapkan tidak berhenti di tengah jalan. Meskipun di luar santer terdengar isu dibatalkannya SVLK.

”Secara aturan tidak dibatalkan. Tapi lebih menjadi sebuah pilihan untuk memiliki SVLK atau tidak. Jadi diharapkan yang mengurus SVLK tidak berhenti di tengah jalan,” ujar Edi Widodo, kepada MuriaNewsCom, Sabtu (9/4/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan, saat ini jumlah perajin mebel dan ukir yang sudah mengantongi sertifikat SVLK di Kabupaten Jepara, mencapai 200 orang lebih.

Sementara jumlah pengusaha mebel yang melakukan transaksi ekspor selama tahun 2015 di Kabupaten Jepara, mencapai 296 pengusaha. Sementara total pengusaha mebel yang ada di Kabupaten Jepara, tercatat sebanyak 5.312 pengusaha. Sedangkan pengusaha kerajinan kayu mencapai 871 pengusaha.

”Manfaat sertifikat SVLK sudah bisa dirasakan oleh para pelaku usaha di bidang mebel. Khususnya yang berorientasi ekspor dengan negara tertentu, yang menginginkan bukti jika kayu yang digunakan legal,” terangnya.

Dia menjelaskan, memang ada pengusaha yang menilai jika SVLK tak berdampak. Itu karena negara yang menjadi tujuan ekspornya dimungkinkan belum menerapkan aturan soal itu. Tetapi beberapa negara, mulai meniru program SVLK yang diberlakukan di Tanah Air. Karena mereka juga ingin bersaing di negara-negara yang menerapkan aturan soal penggunaan sumber kayu yang legal.

”Jika mereka sudah gencar membuat model verifikasi legalitas sendiri, kemudian ditawarkan ke negara tujuan ekspor. Sedangkan kita masih berkutat dengan perlu tidaknya SVLK, kita akan ketinggalan,” imbuhnya.

Editor: Merie

Sebenarnya, SVLK Itu Penting Atau Tidak, Ya?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pekerja mebel di Jepara sedang menyelesaikan proses produksi. Saat ini banyak isu yang berkembang mengenai SVLK yang informasinya dibatalkan. (MuriaNewsCom/WAHYU KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Penting tidaknya Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) ternyata sampai saat ini masih belum jelas. Hal itu membuat pemerintah daerah dan pengusaha menjadi bingung mengenai hal itu. Apalagi terdengar santer isu mengenai dianulirnya kebijakan SVLK tersebut.

”Kementerian terkait diharapkan segera memberikan kejelasan mengenai kebijakan soal SVLK. Terutama mengenai penting atau tidaknya SVLK,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disindag) Jepara Yoso Suwarno melalui Kasi Perdagangan Luar Negeri Edi Widodo, kepada MuriaNewsCom, Sabtu (9/4/2016).

Menurutnya, sebagaimana yang diketahui dalam aturan, SVLK tidak dibatalkan. Tapi pengusaha hanya diberikan pilihan menjamin legalitas produk olahan kayunya dengan SVLK, atau dengan dokumen lainnya yang disyaratkan oleh aturan terbaru.

”Meski tidak ada pembatalan, tapi isu yang santer beredar di kalangan perajin lebih banyak diterima jika SVLK dibatalkan. Sehingga menurut kami kementerian terkait harus memberikan kejelasan,” ungkapnya.

Pihaknya berharap, persoalan perbedaan pandangan soal penting tidaknya SVLK di tingkat kementerian bisa cepat terselesaikan. Karena sudah banyak pengrajin mebel yang mengurus SVLK, serta banyak pula yang siap untuk mengurusnya.

Selain itu, program pendampingan saat ini masih tetap dijalankan. Bahkan, anggaran dari provinsi maupun pusat juga masih tersedia untuk membantu pengusaha mebel dan ukir mengurus kepemilikan sertifikat SVLK tersebut. 

Editor: Merie

 

Eksportir Mebel Jepara, Jangan Bingung Soal SVLK, Ini Penjelasan Pemkab

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jepara, Yoso Suwarno. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jepara, Yoso Suwarno. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Informasi pemberlakuan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) bagi sebagian pengusaha eksportir mebel masih simpang siur. Bahkan sebagian di antara mereka menyimpulkan bahwa SVLK sudah tidak diberlakukan lagi. Hal itu dibantah tegas oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jepara, Yoso Suwarno.

Menurut Yoso, pemberlakuan SVLK masih tetap. Hanya, kewajibannya yang sudah tidak ada. Sehingga SVLK menjadi sebuah pilihan dengan kata lain sunah bagi para eksportir, sebagaimana Peraturan Menteri yang terbaru mengenai hal itu.

“Pemberlakuan SVLK menjadi pilihan, kalau memang mau melakukan ekspor ke Negara yang mewajibkan ber- SVLK, maka ya harus punya. Tetapi kalau tidak, ya terserah. Itu pilihan,” kata Yoso kepada MuriaNewsCom, Rabu (16/3/2016).

Menurut dia, sebagian Negara-negara di Uni Eropa sudah memberlakukan aturan bahwa kayu yang menjadi bahan baku produk mebel harus legal atau ber-SVLK. Bahkan diwacanakan pemberlakuan itu akan semakin meluas ke sejumlah negara lainnya.

Peningkatan nilai ekspor sejak 2014 setelah mengalami penurunan drastis di dua tahun sebelumnya, dipengaruhi sejak diberlakukannya SVLK. Awalnya, SVLK akan diberlakukan secara masif pada 2014. Kemudian ditunda dan akan diberlakukan pada 2015. Tapi banyak eksportir yang sudah memiliki SVLK.

“Saat ini, sinyal Uni Eropa hanya akan menerima produk ber-SVLK makin kuat. Sebab deklarasi ekspor hanya berlaku selama 2015. Jika tidak ber-SVLK, konsekuensinya harus diberlakukan due diligence (istilah yang digunakan untuk penyelidikan penilaian kinerja perusahaan atau seseorang , ataupun kinerja dari suatu kegiatan guna memenuhi standar baku, yang berbiaya mahal dan rumit,” kata dia.

Yoso menandaskan, SVLK tidak dibatalkan. Hanya berdasarkan Permendag terbaru, tidak mewajibkan yang belum memiliki SVLK untuk mengurusnya. Sebagai pengganti, harus dilengkapi dengan dokumen pengganti lain terkait legalitas kayu itu sendiri.

Editor : Akrom Hazami

Wow! Ekspor Mebel Jepara Capai 400 Kontainer Tiap Bulan

Salah satu proses penggergajian kayu sebagai bahan baku mebel. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Salah satu proses penggergajian kayu sebagai bahan baku mebel. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Siapa sangka jumlah ekspor mebel di Kabupaten Jepara dalam ukuran barang mencapai 400 hingga 450 kontainer setiap bulan. Itu artinya, ribuan kontainer kayu dikirim ke luar negeri setiap tahunnya.

Direktur Program Multistakeholder Forestry Programme, Smita Notosusanto menjelaskan, sebagai salah satu sentra produsen mebel, volume ekspor mebel Jepara setiap bulan memang sangat banyak. Dia mencatat, sekitar 90 persen bahan baku industri yang satu ini merupakan bahan baku lokal.

”Ekspor mebel di Jepara cukup besar, sekitar 400 sampai 450 kontainer setiap bulannya. Hal itu tentu saja juga meningkatkan produksi nasional dan juga pertumbuhan ekonomi,” ujar Smita saat mendampingi kunjungan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik di Jepara, Selasa (23/2/2016).

Lebih lanjut Smita menyampaikan, industri mebel memiliki dampak multiplier. Dimana setiap terjadi kenaikan nilai ekspor mebel, akan meningkatkan output nasional.

Dia juga mengemukakan, indikasi lain akan pentingnya industri mebel dalam perekonomian Indonesia, Sminta melanjutkan, yaitu nilai indeks backward linkage menunjukkan angka cukup baik. Dalam hal ini, mebel menduduki peringkat ke 33 dari 192 sektor usaha Indonesia.

”Artinya, setiap terjadi perubahan output dari industri ini, itu akan mendongkrak output sektor-sektor lainnya,” kata Sminta.

Sminta melanjutkan, pelaku usaha industri mebel didominasi pengusaha kecil dan menengah. Sehingga industri mebel mampu memberikan lapangan pekerjaan. Hanya saja, selain masih terkendala desain produk yang masih harus ditingkatkan, juga terbentur masalah tidak terkaitnya produk mebel lokal dalam rantai nilai global.

Selain masalah tersebut, pengusaha industri mebel juga terbentur masalah harga bahan baku kayu. Hal itu seperti yang dikatakan salah satu penjual bahan baku mebel kayu jati, Eva Kristiyana Devi. Menurut dia, saat ini harga kayu jati terus mengalami kenaikan. Selain itu, ketersedian kayu lokal juga terbatas.

”Harga kayu terus mengalami kenaikan, hal ini tentu berpengaruh pada penjualan,” kata Eva.

Editor : Titis Ayu Winarni

Industri Mebel Tak Terpengaruh Kasus Sabu Ratusan Kilogram di Jepara

Sejumlah barang bukti mesin genjet penyimpan sabu dan produk industri mebel di dalam gudang. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Sejumlah barang bukti mesin genjet penyimpan sabu dan produk industri mebel di dalam gudang. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Meskipun Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso menyebut industri mebel dimanfaatkan oleh jaringan pengedar narkoba. Sejauh ini kondisi industri permebelan masih biasa saja. Tidak ada pengaruh yang signifikan setelah terbongkarnya kasus narkoba pada Rabu (27/1/2016) lalu.

Salah seorang pengusaha mebel di Jepara, Samsul mengatakan, kondisi bisnisnya maupun permebelan secara umum masih biasa saja. Tidak ada pengaruh yang besar terhadap dunia mebel setelah terbongkarnya kasus narkoba di gudang mebel beberapa waktu lalu.

”Yang kami rasakan tidak ada pengaruhnya. Itu kan hanya kasus, dan tidak hanya industri mebel yang bisa disalahgunakan. Industri yang lainnya pun bisa,” kata Samsul kepada MuriaNewsCom, Sabtu (30/1/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan, kasus narkoba yang ditemukan di Desa Pekalongan, Batealit, Jepara itu menjadi pelanggaran hukum. Sehingga biarkan diproses secara hukum. Bahkan, pihaknya menekankan agar pengawasan terhadap distribusi barang yang mencurigakan harus lebih diperketat.

”Temuannya kemarin itu kan bukan barang mebel yang biasa di ekspor maupun di impor. Tapi mesin genset dalam jumlah yang sangat banyak. Itu menurut saya mencurigakan, dan hal yang semacam itu yang harus diawasi dengan ketat,” ungkapnya.

Pihaknya mempercayakan kasus tersebut kepada pihak yang berwajib. Termasuk kasus-kasus sejenisnya yang mungkin saja belum terungkap oleh pihak yang berwenang. Dia berharap agar keamanan dan suasana kondusif di Jepara dapat tetap terjaga agar industri mebel di Jepara tetap berjalan lancar.

Editor : Titis ayu Winarni

SVLK Hanya Berlaku di Sektor Hulu, Pemkab Jepara Masih Tunggu Juknis

Ilustrasi

Ilustrasi

 

JEPARA – Pemberlakukan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang sebelumnya berlaku bagi semua sektor, ternyata diubah oleh pemerintah melalui dikeluarkannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 89 tahun 2015. Aturan tersebut menggantikan Permendag Nomor 97 tahun 2014 tentang pemberlakukan SVLK. Aturan baru menyatakan bahwa SVLK hanya berlaku di hulu saja, bukan di hilir.

”Tetapi, penerapan Permendag baru itu masih menunggu petunjuk teknis (Juknis). Sebab format pengganti sistem legalitas tersebut secara detail belum diatur,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jepara Yoso Suwarno kepada MuriaNewsCom, Kamis (26/11/2015).

Lebih lanjut dia mengemukakan, berdasarkan Permendag itu, sistem legalitas hanya diberlakukan bagi industri hulu, yakni di ranah bahan baku kayu. Di ranah industri pengolahan, hanya digantikan sejumlah dokumen yang selama ini memang sudah biasa didapatkan. Semisal, nota pembelian, salinan (fotocopy) faktur angkutan kayu olahan (Fako), maupun fotocopy legalitas kayu.

”Selain itu, dibutuhkan pula semacam dokumen pernyataan yang menyatakan membuktikan jika kayu yang digunakan merupakan kayu legal,” ungkapnya.
Dia menambahkan, adanya Permendag baru itu menjadi jalan tengah bagi permasalahan dalam industri mebel Jepara, khususnya di tingkat perajin. Diakui jika untuk mendapatkan SVLK membutuhkan biaya puluhan juta. (WAHYU KZ/TITIS W)

Pemkab Jepara Yakin Tak Ada Protes Soal Pembatalan SVLK di Sektor Hilir

Ilustrasi

Ilustrasi

 

JEPARA – Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 89 tahun 2015 menganulir Permendag sebelumnya nomor 97 tahun 2014 yang mewajibkan semua industri pengolahan kayu harus ber-SVLK. Meski demikian, tidak pula Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dihapuskan, karena masih wajib untuk sektor hulu.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jepara, Yoso Suwarno mengemukakan, adanya Permendag yang baru tersebut tidak menimbulkan protes dari sejumlah pengusaha. Sebab, dari asosiasi sendiri banyak yang mendukung adanya pencabutan Permendagri lama, dan mengeluarkan aturan baru.

”Teman-teman asosiasi juga menyadari jika SVLK dalam praktiknya memang menjadi kendala. Terlebih adanya target ekspor mebel sebesar 5 miliar dolar AS dalam 5 tahun mendatang,” kata Yoso kepada MuriaNewsCom, Kamis (26/11/2015).

Lebih lanjut dia mengemukakan, adanya Permendag baru itu menjadi jalan tengah bagi permasalahan dalam industri mebel Jepara, khususnya di tingkat perajin. Diakui jika untuk mendapatkan SVLK membutuhkan biaya puluhan juta. Selain itu, juga dibebankan biaya verifikasi legalitas (V-Legal) yang tiap dokumennya seharga Rp 150 hingga Rp 200 ribu.

”Saat ini kami masih menunggu petunjuk teknis untuk pemberlakukan SVLK bagi sektor hulu,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Ini Kronologi Tarik Ulur Soal SVLK untuk Pengusaha Kayu di Jepara

ilustrasi mebel Jepara (Bufetminimalis.com)

ilustrasi mebel Jepara (Bufetminimalis.com)

 

JEPARA – Kewajiban sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) bagi semua bidang usaha baik sektor hulu hingga hilir yang berhubungan dengan kayu, sempat menjadi pro dan kontra. Dari data yang dihimpun MuriaNewsCom, bagi yang kontra, mereka beralasan aturan tersebut sangat memberatkan apalagi bagi pengusaha kecil dan menengah.

Sedangkan bagi yang pro, SVLK dinilai mendesak diterapkan untuk seluruh aktivitas usaha yang berkaitan dengan kayu. Keberadaan dokumen SVLK dianggap salah satu solusi untuk tata kelola hutan yang lebih baik. SVLK menunjukkan jika produk berbahan dasar kayu tersebut berasal dari sistem yang legal dan sekaligus ramah lingkungan, karena berasal dari hutan lestari.

Namun sayangnya, tarik ulur terkait pemberlakuan SVLK juga terus terjadi. Awalnya SVLK dijadwalkan mulai diterapkan awal Januari 2014. Lalu molor menjadi awal 2015 dan diundur lagi akhir tahun ini. Dan bahkan aturan terbaru hanya industri hulu saja yang diwajibkan memiliki SVLK. Hal itu tertuang dalam Permendag No 89 tahun 2015 yang dikeluarkan pada akhir Oktober lalu.

Ketua DPD Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Jepara Andang Wahyu Triyanto mengemukakan, pemerintah harus mengawal aturan baru tersebut. Sebab jika dirunut kayu berasal dari dua sumber, yakni kawasan hutan Perhutani dan hutan rakyat. Proses sertifikasi harus dilakukan secara ketat, sebab hasilnya digunakan oleh para pelaku usaha yang beraktivitas di sektor hilir.

”Dari hulunya harus beres dulu. Pemerintah harus mengecek dan mensertifikasi kayu dari hutan rakyat, untuk memastikan agar tak ada masalah di sektor hilir,” ujar Andang kepada MuriaNewsCom.

Sementara itu, Kepala Disperindag Kabupaten Jepara Yoso S mengatakan, Permendag No 89 tahun 2015 tersebut menjadi angin segar bagi pelaku usaha mebel, furnitur, dan ukir di Jepara. Dia menganggap aturan tersebut mengakomodir pelaku usaha di Jepara yang memang di sektor hilir, masih didominasi pelau usaha UMKM. (WAHYU KZ/TITIS W)

AMKRI Jepara Dukung ’Pembatalan’ SVLK Bagi Sektor Hilir

ilustrasi mebel Jepara (Bufetminimalis.com)

ilustrasi mebel (Bufetminimalis.com)

 

JEPARA – Kewajiban sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) bagi semua industri, baik hulu maupun hilir sempat diwacanakan dan beberapa kali ditetapkan untuk jadwal pemberlakuannya. Namun, pada akhir Oktober lalu, Kementrian Perdagangan melakukan revisi terkait aturan soal SVLK.

Semula, seluruh bidang usaha baik sektor hulu hingga hilir yang berhubungan dengan kayu diwajibkan harus mengantongi SVLK maksimal Desember 2015. Namun melalui Permendag No 89 tahun 2015, hanya industri hulu saja yang diwajibkan.

Sedangkan industri hilir misalnya aktivitas pembuatan mebel, furnitur, dan ukir-ukiran yang ada di Kabupaten Jepara tak lagi diwajibkan mengantongi SVLK. Namun cukup melampirkan dokumen jika kayu yang digunakan memang resmi.

Menanggapi hal itu, Ketua DPD Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Jepara Andang Wahyu Triyanto mengatakan, pihaknya menyambut baik regulasi baru yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan.

”Kami di AMKRI memang mendukung kebijakan baru dari kementerian tersebut,” kata Andang kepada MuriaNewsCom.

Menurut Andang, kebijakan tersebut sudah tepat. Sebab jika industri hulu yang langsung berkaitan dengan hutan dan pengelolaannya sudah memenuhi aturan, maka secara otomatis turunan dari proses itu juga bisa dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, Kepala Disperindag Kabupaten Jepara Yoso S menilai Permendag No 89 tahun 2015 menjadi angin segar bagi pelaku usaha mebel, furnitur, dan ukir-ukiran.

”Sebab, di Jepara, pelaku usaha sektor hilir masih didominasi kalangan UMKM yang memang keberatan dengan pemberlakuan SVLK,” kata Yoso. (WAHYU KZ/TITIS W)

Pengusaha Mebel Jepara Mulai Sasar Wilayah Asia Timur dan Tengah

Ilustrasi

Ilustrasi

 

JEPARA – Lesunya daya beli industri mebel sejumlah negara di Eropa, membuat para pengusaha harus berpikir keras untuk memasarkan produknya. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan menyasar penguatan pasar di wilayah Asia, terutama Asia Timur dan Tengah.

Ketua DPD Asosiasi Mebel dan Kerajinan Republik Indonesia (AMKRI) Kabupaten Jepara Andang Wahyu Triyanto mengatakan, dia menginginkan perluasan pasar terkait menurunnya daya beli Negara-negara Eropa sejak gejolak ekonomi.

Pihaknya mendorong perluasan pasar itu pada pemerintah. Perluasan pasar mebel dan handy craft itu meyasar ke Negara-egara Asia, di antaranya Tiongkok, Dubai, Jepang, dan Moskow. Lebih spesifik untuk usaha mebel Jepara, pihaknya menginginkan agar meter square dalam pameran ditambah.

”Biasanya dalam pameran mebel, Jepara dijatah 1200 meter square, ke depan kami meminta agar ditingkatkan 2000 meter square,” kata Andang.

Dia mengemukakan, dalam pameran mebel internasional, terdapat sekitar 60 ribu meter square. Diharapkan peningkatan meter square dapat meningkatkan tingkat penjualan mebel produk Jepara.

Pihaknya optimistis di tengah lesunya pasar Eropa, pasar Amerika justru kelihatan progressive. Selain itu, kondisi pasar Negara Asia Tengah seperti Dubai dan Qatar juga menunjukkan prospek yang baik. (WAHYU KZ/TITIS W)

Gejolak Ekonomi, Ekspor Mebel Jepara ke Eropa Lesu

Ilustrasi

Ilustrasi

 

JEPARA – Gejolak ekonomi yang terjadi di sejumlah negara di dunia, sampai saat ini belum membaik. Hal ini juga berpengaruh pada perdagangan sektor mebeler di Kabupaten Jepara. Persoalan ekonomi tersebut membuat jual beli industri mebel ke wilayah Eropa menjadi lesu.

”Daya beli negara-negara Eropa memang masih lesu sejak mulai terjadi gejolak ekonomi,” ujar ketua DPD Asosiasi Mebel dan Kerajinan Republik Indonesia (AMKRI) Kabupaten Jepara Andang Wahyu Triyanto kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, gejolak ekonomi yang terjadi sampai saat ini membuat sejumlah negara mengalami masalah yang serius. Sebab, nilai tukar mata uang negara-negara termasuk Indonesia terhadap dolar turut melemah.

”Sejumlah pengusaha memang mendapatkan keuntungan dari penjualan yang menggunakan mata uang dolar, tapi secara penjualan justru membuat lesu di beberapa negara selain Amerika,” katanya.

Dia menambahkan, dibutuhkan usaha keras untuk meningkatkan penjualan. Termasuk dengan menyasar sejumlah negara-negara lain, yang dianggap memiliki prospek bagus. (WAHYU KZ/TITIS W)

Mahalnya Tarif THC Disebut Sejak Ada Aturan Baru dari BI

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Jepara  Andang Wahyu Triyanto (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Jepara Andang Wahyu Triyanto (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Jepara Andang Wahyu Triyanto mengatakan, tingginya tarif terminal handling charges (THC) di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang dimulai sejak Bank Indonesia (BI) menerapkan aturan baru, yakni jika transaksi untuk THC maupun inland haulage charges (IHC) menggunakan mata uang rupiah.

“Pemilik jasa distribusi produk furnitur mematok harga yang lebih mahal dari sebelumnya,” ujar Andang kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, mereka tidak menyesuaikan dengan kurs atau nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Sehingga itu yang menjadi keluhan bagi para eksportir furnitur Jepara.

“Bagaimana pun juga, acuannya tetap menggunakan dolar AS. Sebab, sebelumnya juga menggunakan mata uang itu. Tapi, sejak diatur menggunakan mata uang rupiah, justru tarifnya lebih tinggi,” kata Andang.

Dia mencontohkan, saat ini biaya untuk memindahkan barang termasuk operasional dan perawatan (THC) di pelabuhan sebesar Rp 16.000/meter persegi.
Padahal kurs rupiah terhadap dolar AS hanya pada kisaran Rp 14.000/dollar AS. Situasi ini membuat eksportir banyak mengeluh. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Eksportir Mebel Jepara Tiba-Tiba Bermuka Masam, Kenapa?

Perajin mebel tampak menyelesaikan hasil produksinya di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Kz)

Perajin mebel tampak menyelesaikan hasil produksinya di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Kz)

 

JEPARA – Eksportir mebel atau furnitur di Jepara mengeluhkan tarif Terminal Handling Charges (THC) di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Karena, tarif saat ini menggunakan mata uang rupiah dan nominalnya dinaikkan.

“Agen yang bertugas sebagai penyalur produk furnitur tersebut mematok biaya yang lebih tinggi dari kurs yang ada,” ujar Ketua DPD Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Jepara, Andang Wahyu Triyanto kepada MuriaNewsCom.
Menurutnya, saat ini biaya untuk memindahkan barang termasuk operasional dan perawatan di THC di pelabuhan sebesar Rp 16.000/meter persegi.

Padahal, lanjut Andang, kurs rupiah terhadap dolar AS hanya pada kisaran Rp 14.000/dolar AS. Situasi ini membuat eksportir banyak mengeluh.

“Alasan mereka, tarif Rp 16.000 itu untuk menjaga fluktuasi nilai tukar rupiah yang saat ini terus melemah,” jelas dia.

Lebih lanjut dia mengemukakan, saat ini para eksportir tetap menataati aturan ada. Namun keluhan tetap ada. Dalam proses ekspor ini, eksportir furnitur dikenakan biaya pengangkutan hingga ke atas kapal. Sedangkan biaya pelayaran hingga tiba di negara pembeli ditanggung oleh pembeli sendiri.

Dia menambahkan, mengenai masalah ini, pihaknya sudah menyampaikannya ke instansi maupun kementerian terkait. Masalah ini juga menjadi perhatian serius di DPD AMKRI Jawa Tengah maupun pengurus pusat.

“Harapan kami biaya THC disesuaikan dengan nilai tukar yang ada. Informasi yang kami dapat, pemerintah pusat sudah merespons masalah ini,” katanya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Rupiah Melemah Justru Jadi Berkah Pengusaha Mebel

Aktifitas di salah satu perusahaan mebel di Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Aktifitas di salah satu perusahaan mebel di Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Tak seperti perusahaan-perusahaan besar yang mengandalkan bahan baku impor yang terancam kolaps lantaran nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar. Dengan melemahnya nilai rupiah, justru perusahaan mebel terutama eksportir mendapatkan berkah. Hal itu semakin menambah keuntungan mereka.

Seperti yang dialami salah satu pengusaha mebel Jepara Didik Wahyudi. Menurut dia, nilai tukar rupiah yang melemah hingga Rp 14 ribu per dollar tersebut, membuat eksportir mebel sumringah. Meski harga jual tidak ada kenaikan di harga dollar. Namun, ketika dollar ditukar menjadi rupiah, maka keuntungan semakin bertambah.

“Melemahnya nilai tukar rupiah menjadi pemicu semangat bagi dunia mebel yang sempat lesu akibat kenaikan harga BBM dan krisis global yang terjadi di sejumlah negara di Eropa dan Amerika,” ujar Didik kepada MuriaNewsCom, Kamis (27/8/2015).

Meski demikian, hingga saat ini hal tersebut belum berpengaruh terhadap bertambahnya volume pesanan mebel dari customer. Sebab, pembelian mebel bagi mereka dilakukan berdasarkan kebutuhan dan permintaan pasar di negara mereka.

“Kalau permintaan masih tetap, hanya saja ada tambahan keuntungan dari penjualan ke luar negeri terutama kawasan Eropa dan Amerika,” kata Didik. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Kendaraan Bermuatan Mebel Jepara Boleh Melintas saat Lebaran. Asalkan…

Setelah melalui banyak pertimbangan, aktivitas pengiriman produk mebel dari Jepara masih diperbolehkan selama Lebaran. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Setelah melalui banyak pertimbangan, aktivitas pengiriman produk mebel dari Jepara masih diperbolehkan selama Lebaran. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Kabar baik bagi pengusaha mebel Jepara yang tetap ingin menjalankan bisnisnya saat Lebaran nanti. Sebelumnya, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Jepara menyatakan bahwa kendaraan bermuatan di atas dua sumbu dilarang melintas sejak H-5 lebaran hingga H+4 lebaran nanti. Namun, ada catatan bagi kendaraan bermuatan mebel. Lanjutkan membaca

Musim Panas di Eropa dan Amerika Penyebab Turunnya Order Mebel

 

Meubel (e)

Salah satu gallery kerajinan mebel di Jepara. Menjelang lebaran tahun ini order atau permintaan produk industri mebel cenderung sepi (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Berbeda dengan tahun-tahun lalu, Industri mebel di Jepara pada hari-hari menjelang perayaan Idul Fitri tahun ini justru mengalami penurunan permintaan baik lokal maupun internasional. Salah satu penyebabnya diduga lantaran lebaran kali ini bertepatan dengan momen lain. Lanjutkan membaca

Jelang Lebaran, Pasar Mebel Jepara Cenderung Sepi

 

Meubel (e)

Salah satu gallery kerajinan mebel di Jepara. Menjelang lebaran tahun ini order atau permintaan produk industri mebel cenderung sepi (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Menjelang lebaran atau perayaan hari raya Idul Fitri biasanya industri mebel di Jepara kebanjiran order. Namun, menjelang lebaran tahun ini, justru mengalami penurunan permintaan alias sepi, baik untuk pasar lokal maupun internasional. Lanjutkan membaca