Gubuk Mbah Pondeng Bakal Direnovasi

Mbah Pondeng saat berada di gubuk reot berukuran 4×3 meter. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sosok Mbah Pondeng tak asing bagi warga Dukuh Duren, Desa Tubanan, Kecamatan Kembang-Jepara. Pemerintah desa setempat mengakui, nenek renta itu adalah satu dari sekian banyak lansia yang miskin. 

“Ya kalau kami menilai Mbah Pondeng tidak bisa diajak berbicara dengan benar, hal itu karena pembicaraannya sering melantur,” ujar Kunjarto, Ketua RT 04, desa setempat. 

Menurutnya, pemerintah desa telah memberikan bantuan pada Mbah Pondeng. Namun demikian, pihaknya mewujudkannya dalam bentuk lain. 

“Kalau diberi bantuan sering tidak digunakan semestinya. Ya mungkin karena pikirannya sudah tua, kurang genep. Sudah diberi beras kadang minta lagi. Diberikan kepada anaknya, mereka juga orang tak mampu. Terkadang malah tidak sampai,” tambahnnya.

Menyiasati hal tersebut, pihaknya lantas memberikan bantuan berupa uang kepada seorang pemilik toko. Jika Mbah Pondeng sedang menginginkan sesuatu, ia tinggal memintanya kepada pemilik toko. 

Baca juga : Takut Dibentak Anak Cucu, Nenek Renta Warga Jepara Ini Pilih Hidup Sebatangkara di Gubuk Reot

 

Terkait gubuk Mbah Pondeng yang reot, Kunjarto mengakui ada kelambanan pemerintah desa dalam menyikapinya. Tidak hanya sosok nenek tersebut, diakuinya masih banyak warga yang hidup dalam rumah tak layak huni (RTLH). 

Dengan adanya pemberitaan di media sosial, pihaknya mengaku telah diundang kepala desa, agar segera merencanakan renovasi gubuk reot itu. 

“Ya kami juga ikut tersentil dengan kabar tersebut, maka kemarin sudah dirapatkan dengan Pak Kepala Desa, agar secepatnya merenovasi gubuk Mbah Pondeng. Mengingat ini juga masih hujan. Kalau masalah lahan ya tidak apa-apa kita sudah izin pemiliknya,” ucapnya, menirukan Kades.

Editor : Kholistiono

Putra Mbah Pondeng : Kami Tidak Menolak Sumbangan, Tapi….

Ngatemin, putra kedua Mbah Pondeng menyempatkan diri bertemu awak media. Dalam hal ini, pihaknya menyampaikan jika tidak menolah bantuan dari netizen, tetapi sebaiknya melalui jalur desa. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Ngatemin putra Mbah Pondeng mengaku tak berkeberatan dengan bantuan yang diberikan oleh netizen kepada ibunya. Namun demikian, dirinya meminta agar melalui jalur yang benar.

“Ya sebaiknya melalui jalur desa, agar tahu. Saya juga tidak menolak jika ada bantuan buat ibu saya. Selain itu juga tidak seperti di hape (media sosial) kemarin malah menjelekan anaknya, dikira menelantarkan,” ujarnya. 

Selain itu, dirinya mengatakan bahwa ibunya kurang bisa memanfaatkan uang dengan baik. Sehingga, bila melalui jalur tersebut, uang yang disalurkan oleh warga yang peduli bisa bermanfaat secara maksimal. 

Hal itu juga diungkapkan Ketua RT 04 Kunjarto. Dirinya berharap, agar warga yang membantu dapat melibatkan pemangku wilayah setempat.

Baca juga : Begini Kata Anak Mbah Pondeng, Nenek Tua yang Hidup di Gubuk Reot di Jepara

 

Editor : Kholistiono

Ini Nama Asli Mbah Pondeng, Nenek Renta yang Hidup di Gubuk Reot di Jepara

Mbah Pondeng saat berada di gubuk reot berukuran 4×3 meter. Nama asli Mbah Pondeng adalah Ponisah.(MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Nama Mbah Pondeng akrab ditelinga netizen maupun warga Dukuh Duren, Desa Tubanan, Kecamatan Kembang-Jepara. Nenek renta itu hidup seorang diri dalam gubuk reot. Anaknya sesekali datang untuk melihat kondisi Mbah Pondeng.Namun apakah itu nama aslinya? tentu tidak.

“Nama asli ibu saya adalah Ponisah. Umurnya sekitar 90 tahun. Kalau nama Pondeng itu kan seperti julukan saja,” kata Ngatemin, putra Mbah Pondeng.

Pria yang bekerja sebagai petani itu, tak merinci mengapa nama Pondeng bisa melekat pada sosok ibunya itu.

Lebih lanjut, kepada MuriaNewsCom ia juga ingin menepis anggapan orang-orang yang terkesan menelantarkan sang ibu. Dirinya bercerita, setiap hari ia selalu mengirimkan nasi beserta lauk pauk kepada ibunya itu. Di samping itu, dirinya mengaku selalu menyempatkan menengok orang tuanya.

Baca juga : Takut Dibentak Anak Cucu, Nenek Renta Warga Jepara Ini Pilih Hidup Sebatangkara di Gubuk Reot

 

Ketika ditanya alasan ibunya tinggal seorang diri, Ngatemin menjelaskan hal itu adalah keinginan Mbah Pondeng sendiri. Dirinya mengaku pernah membujuk untuk tinggal serumah, namun ditolaknya.

“Keadaan saya juga orang tak punya. Maka sebisa saya ya merawat seperti itu, mengirimkan makan seadanya,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

Begini Kata Anak Mbah Pondeng, Nenek Tua yang Hidup di Gubuk Reot di Jepara

Ngatemin, putra kedua Mbah Pondeng menyempatkan diri bertemu awak media untuk menepis anggapan miring terkait nasib sang ibu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kedatangan MuriaNewsCom ke kediaman Mbah Pondeng ternyata mendapat perhatian Ngatemin, putra kedua Mbah Pondeng. Kepada MuriaNewsCom ia ingin menepis anggapan orang-orang yang terkesan menelantarkan sang ibu. 

Dirinya bercerita, setiap hari ia selalu mengirimkan nasi beserta lauk pauk kepada ibunya itu. Disamping itu, dirinya mengaku selalu menyempatkan menengok orang tuanya. 

Ketika ditanya alasan ibunya tinggal seorang diri, Ngatemin menjelaskan hal itu adalah keinginan Mbah Pondeng sendiri. Dirinya mengaku pernah membujuk untuk tinggal serumah, namun ditolaknya. 

“Keadaan saya juga orang tak punya. Maka sebisa saya ya merawat seperti itu, mengirimkan makan seadanya,” jelasnya. 

Takut Dibentak Anak Cucu, Nenek Renta Warga Jepara Ini Pilih Hidup Sebatangkara di Gubuk Reot

Terkait gubuk dan tanah, Ngatemin membenarkan bahwa properti itu bukanlah kepunyaannya. Karena, keinginan sang ibu tinggal sendiri maka pemilik lahan mempersilakan Mbah Pondeng tinggal disitu. 

Bahkan, Ngatemin melanjutkan gubuk reot yang ditinggali ibunya adalah bantuan dari orang-orang. “Asbesnya hasil bantuan dari orang-orang. wong dulu bangunan ini juga pernah roboh,” katanya. 

Dikonfirmasi terkait Mbah Pondeng yang pernah dihardik, Ngatemin memberikan jawaban mengambang. Ia hanya mengisahkan bagaimana ibunya itu sering melantur dalam bicara. 

“Dia (Mbah Pondeng) bicaranya sering melantur. Mungkin bicaranya kita agak keras, justru untuk menghentikan bicaranya yang sering melantur,” ungkapnya. 

Dirinya pun mengakui sebenarnya mengkhawatirkan kondisi ibunya itu. “Tentu khawatir, namun mau apa, Ibu juga tidak mau diboyong kalau sehat, ia lebih memilih hidup sendiri,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Takut Dibentak Anak Cucu, Nenek Renta Warga Jepara Ini Pilih Hidup Sebatangkara di Gubuk Reot

Mbah Pondeng saat berada di gubuk reot berukuran 4×3 meter. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara –  Nama Mbah Pondeng belakangan sering disebut oleh netizen. Lantaran, nenek renta itu dikabarkan hidup seorang diri dalam gubuk reot. Sedangkan anak cucunya dikabarkan tak pernah kembali. 

Berbekal cerita tersebut MuriaNewsCom pun menyambangi nenek yang tinggal di Dukuh Duren, Desa Tubanan, Kecamatan Kembang. Kala pewarta menyambanginya, sosok renta tersebut tengah tiduran di ranjang bambunya. 

Ia menempati sebuah gubuk kecil berukuran lebih kurang 4×3 meter. Bangunan beratap asbes, berdinding anyaman bambu (gedhek) itu ia tinggali sendiri. Disekitarnya adalah kebun ketela dan kandang sapi. Adapula pohon sawo yang tumbuh didepan gubuk itu. Sementara di kanan kiri, terdapat tumpukan ranting dan beberapa karung plastik. 

Menilik kedalam gubuk, ada sebuah ranjang bambu. Disamping kanan terdapat tungku. Sedangkan pakaiannya, ia biarkan terserak di atas ranjangnya. 

Cukup sulit melakukan obrolan dengan Mbah Pondeng. Selain cadel, terkadang arah pembicaraanya juga tidak fokus, mengingat faktor usia. Namun sesekali gelak tawa masih ia suguhkan kepada lawan bicara. 

Aku duwe anak putu, aku ya mbiyen duwe bojo, Jengene Paini. Tapi wis pejah (saya punya anak dan cucu, saya dulu juga punya suami namanya Paini. Tapi sudah meninggal),” ujarnya.

Ia kemudian bertutur bagaimana dirinya bisa tinggal di gubuk tersebut. Dikisahkannya, sewaktu muda dirinya bertransmigrasi dengan suaminya ke Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Untuk bekal ke tujuan transmigrasi, ia mengaku telah menjual rumah dan tanahnya di kampungnya. 

Setelah menjajal peruntungan di rantau, ia dan suaminya memilih kembali desanya. “Sakwise aku ya mondhok-mondhok karo bojo (Setelah bertransmigrasi saya hidup dengan menumpang dengan suami saya),” kenangnya.

Setelah suaminya meninggal, dirinya mengaku tetap hidup menumpang di tanah milik orang lain. Hal itu ia lakukan karena takut merepotkan anak-anaknya.

” Aku eco manggon dewekan kok , aku nek manggon karo anak lan putu ndak wedi disentak-sentak, sakit lo mas (Saya suka sendiri karena nanti takut menjadi beban. Saya kalau serumah dengan anak dan cucu juga takut dibentak-bentak, sakit lo mas),” ungkapnya.  

Saat ditanya tentang keberadaan anak dan cucunya, dirinya tidak memberikan jawaban dengan jelas.  

Editor: Supriyadi