Arya Penangsang Biasa Istirahat di Masjid Wali Jepang Kudus

masjid wali e

Warga melintas di depan Masjid Wali Jepang, Mejobo, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Berdirinya Masjid Wali Jepang, Mejobo, Kudus, memang tidak terlepas dari peran serta Sunan Kudus. Karena Masjid Wali Jepang yang diberi nama Masjid Al Makmur tersebut merupakan tempat persinggahan Arya Penangsang  menuju ke tempat Sunan Kudus, guna belajar ilmu.

Pengurus Masjid Wali atau marbut Fatkhurrohman Aziz mengatakan, sebenarnya sebelum masjid dibangun sekitar abad 16, tempat ini merupakan suatu tempat persinggahan Arya Penangsang sebelum menuntut ilmu ke Sunan Kudus.

“Daerah sini dulunya merupakan sebuah rawa besar. Daerah ini sebagai tempat persinggahan perahunya Arya Penangsang. Arya Penangsang tersebut datang dari Blora menuju Kudus untuk berguru kepada Sunan kudus,” ceritanya kepada MuriaNewsCom.

Lambat laun, Sunan Kudus membangunkan masjid sebagai tempat istirahat sambil beribadah agar bisa dimanfaatkan Arya Penangsang.

“Selain sebagai tempat istirahat sambil untuk ibadah, masjid ini juga dijadikan Arya Penangsang untuk menyebarkan ajaran Islam kepada warga Jepang, Mejobo. Sebab penyebaran ajaran Islam tersebut juga atas perintah dari Sunan Kudus kepada Arya penangsang. Diketahui, Arya Penangsang tersebut merupakan murid kesayangan dari Sunan Kudus,” ujarnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, masjid Al Makmur tersebut mempunyai kesamaan arsitektur dari masjid Attaqwa Sunan Kudus.

“Kesamaan masjid ini yakni terletak di keempat tiang soko gurunya. Sebab masjid Al Makmur dan Masjid Attaqwa juga mempunyai tiang soko guru. Selain itu juga mempunyai gapura Arya Penangsang. Di gapura pintu masuk (selatan), parkir menara juga ada gapura Arya penangsang, sedangkan di depan masjid ini juga mempunyai gapura Arya Penangsang,” ungkapnya.

Sementara itu, Masjid Wali yang diberi nama dengan nama Masjid Al Makmur merupakan pemberian dari ulama yang berasal dari Karangmalang, Gebog, Sayyid Dloro Ali pada1917 M atau 1336 H.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Semangat Sedekah Nasi Kepel Masjdi Loram hingga Luar Kota

Berbagai harapan muncul saat warga bersedekah nasi kepel di Masjid Wali Attaqwa Loram Kulon, Kudus. Namun, hal itu juga sebagai bentuk sikap dermawan karena mau bersedekah kepada sesama. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Berbagai harapan muncul saat warga bersedekah nasi kepel di Masjid Wali Attaqwa Loram Kulon, Kudus. Namun, hal itu juga sebagai bentuk sikap dermawan karena mau bersedekah kepada sesama. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sedekah nasi kepel yang sering dilakukan warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, di Masjid Wali Attaqwa Loram Kulon, ternyata bukan hanya dilakukan warga sekitar masjid saja.

Juru pelihara masjid Afroh Aminuddin mengutarakan, pemberi sedekah berupa nasi kepel ini, bukan sekadar dari warga Desa Loram saja. Melainkan dari berbagai wilayah.

”Warga dari berbagai kecamatan di Kudus juga datang sedekah nasi kepel ini. Bahkan, warga luar Kabupaten Kudus juga ada yang datang. Mereka umumnya dulu warga Loram sini. Tapi sudah pindah ke luar kota. Namun, masih sering bersedekah nasi kepel,” tuturnya.

Berbagai keinginan dilontarkan masyarakat yang datang untuk bersedekah nasi kepel ini. Misalnya saja ada warga yang ingin membuka usaha atau toko di rumahnya.

”Tadi baru saja ada orang Kalirejo, Undaan, Kudus, yang menitipkan nasi kepel kepada keluarganya yang ada di sini, supaya disedekahkan ke masjid ini. Harapannya, supaya toko yang dibukanya nanti bisa lancar dan barokah,” ujarnya.

Dia menambahkan, sedekah nasi kepel ini jangan hanya dilihat secara fisiknya saja. Yakni berbentuk nasi putih yang dibungkus daun dan lauknya pepes tahu.

”Akan tetapi lihatlah makna dari ajaran ulama yang bernama Sultan Hadirin sebagai penyebar Islam, yang mengajarkan bahwa sikap dermawan harus selalu dijaga,” imbuhnya.

Editor: Merie

Mau Nasi Kepel, Datanglah ke Masjid Wali Loram Kulon

Warga menyerahkan nasi kepel kepada pengurus Masjid Masjid Wali Attaqwa Loram Kulon Jati, sebagai bentuk syukur atas berbagai hal yang mereka lakukan. Dan agar dimudahkan dalam mencapai tujuan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga menyerahkan nasi kepel kepada pengurus Masjid Masjid Wali Attaqwa Loram Kulon Jati, sebagai bentuk syukur atas berbagai hal yang mereka lakukan. Dan agar dimudahkan dalam mencapai tujuan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Jangan heran bila Anda kebetulan mampir untuk salat atau sekedar berteduh di Masjid Wali Attaqwa Loram Kulon, Kecamatan Jati, akan mendapati banyak nasi bekel.

Sebabnya, masjid peninggalan dari Sultan Hadlirin itu, setiap harinya memang selalu dapat kiriman nasi kepel. Nasi yang dikirim itu adalah nasi kiriman warga.

Juru pelihara Masjid Wali Attaqwa Loram Kulon Jati Afroh Aminuddin mengatakan, sebenarnya nasi bungkus sebesar kepalan tangan orang dewasa ini, adalah media untuk bersedekah. ”Sebab sedekah berupa nasi kepal ini merupakan ajaran dari Sultan Hadlirin itu sendiri,” katanya.

Dia melanjutkan, di tahun 1596, Sultan Hadlirin itu menyebarkan agama di daerah ini. Dan selalu bersedekah kepada warga setempat, dengan cara memberikan nasi kepel ini.

”Sehingga nasi ini dijuluki warga setempat dengan julukan nasi kepel. Sebab besarnya menyerupai kepalan tangan orang dewasa,” jelasnya.
Nasi kepel yang dibungkus dengan daun tersebut berjumlah 7 buah. Akan tetapi warga setempat menyumbangkan dengan jumlah 7 biji juga bukan karena tanpa alasan. Namun ada arti tersendiri dari 7 biji nasi tersebut.

Nominal tujuh dalam bahasa Jawa artinya ”pitu” yang bermakna pitutur (nasihat), pitulung (penolong), dan pituduh (petunjuk). Oleh karenanya, mereka disarankan untuk bersedekah sebanyak tujuh bungkus.

”Akan tetapi Sultan Hadirin juga tidak memaksa harus berjumlah tujuh. Tergantung kesanggupan yang ingin bersedekah. Selain itu, lauk yang di dalamnya juga sangat sederhana. yakni dengan mengunakan pepes tahu atau yang lain,” ujarnya.

Dia menjelaskan, sedekah nasi kepel ini, biasanya dilakukan warga untuk berbagai alasan. Misalnya saja tasyakuran rumah, membuka toko, mendaftarkan anaknya ke sekolah atau perguruan tinggi, maupun keperluan lainya.

Afroh mengatakan, sehingga dengan cara bersedekah ini, nantinya bisa dimudahkaan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain itu, rata-rata setiap harinya ada warga yang bersedekah sebanyak 20 orang.

”Bila satu orangnya membawa 7 bungkus, maka rata-rata setiap hari bisa mencapai 140-an bungkus. Dan itupun nantinya bisa dibagikan ke warga sekitar masjid atau jamaah masjid ini,” imbuhnya.

Editor: Merie

Rabu Wekasan, Air Salamun Disiapkan di Hari Penuh Musibah itu

Air Salamun di Masjid Al Makmur Jepang, diletakkab di dalam gentong. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Air Salamun di Masjid Al Makmur Jepang, diletakkab di dalam gentong. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Masyarakat  Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus mempercayai anggapan tentang Rabu Wekasan. Yakni hari Rabu terakhir di bulan Safar. Biasanya di Rabu Wekasan diyakini sebagai hari turunnya berbagai jenis musibah.

Hal ini dituturkan oleh pengelola sumur di Masjid Al Makmur Jepang, Mejobo, Dwi Ahmad Rifai. Dwi menceritakan sejarah Rabu Wekasan yakni pada 1917 M. Menurutnya di wilayah Jawa, khususnya di tempatnya terjadi musibah. “Musibahnya terjadi saat Rabu Wekasan,” katanya.

Berangkat dari hal itu, masyarakat setempat meyakini bahwa Rabu Wekasan itu memang ada. Terlebih pengelola Masjid Al Makmur saat itu, Sayyid Ndoro Ali, juga mengajak warga untuk berhati-hati saat momen tersebut tiba.

Diketahui, masjid yang ada di RT 1 RW 6 tersebut merupakan peninggalan dari Aryo Penangsang, yaitu salah satu murid Sunan Kudus. Di masjid itu juga terdapat peninggalannya berupa sumur. “Saat itulah Sayyid Ndoro Ali memberikan pengetahuan kepada warga, bahwa di saat ada musibah di hari Rabu akhir Safar harus melakukan  istigasah dan juga selalu menggunakan air sumur dari masjid tersebut supaya bisa menolak musibah,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun air sumur tersebut merupakan media obat untuk menghindari musibah di hari Rabu Wekasan. Karenanya, air sumur itu diberi nama air salamun atau air keselamatan oleh Sayyid Ndoro Ali. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)