Dawet Mantingan, Kuliner Khas Jepara yang Terjaga Lebih dari Setengah Abad

MuriaNewsCom, Jepara – Jika berkunjung ke Jepara, khususnya Wisata Religi Makam Mantingan, jangan lupa mampir ke Dawet Mantingan. Dawet yang melegenda dari empat generasi ini cukup familier bagi masyarakat Jepara.  Tak hanya rasa yang unik, kuliner tradisional ini juga memiliki rasa segar dan mengenyangkan.

Berbeda dengan dawet pada umumnya yang menyajikan cendol beserta santan ditambah dengan manisnya gula merah cair, di Dawet Mantingan ini kita dapat menemukan cendol yang cukup mungil dicampur dengan bubur pati yang memiliki rasa gurih dan manis.

Dawet Mantingan ini juga menjadi pilihan warga sekitar disaat terik matahari menjelang. Perpaduan rasa khas gula aren dicampur dengan perasan santan ini membuat dawet tersebut makin gurih, manis dan segar.

Farida (50), generasi keempat Dawet Mantingan ini mengaku keluarganya mulai berjualan dawet sejak 1958 atau 60 tahun yang lalu. Awalnya, usaha dawet ini dirintis oleh mbah buyutnya Mbah Sanisih. Kala itu, Mbah Sanisih merintis usaha di depan Makam Mantingan tepatnya di bawah pohon ringin.

Dawet Mantingan kuliner khas Jepara yang sudah terjaga sejak 1958 lalu. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Melihat banyaknya usaha dawet di Jepara, Mbah Sanisih mencoba membuat resep baru. Ia memadukan cendol yang dibuat dari sagu aren (yang hanya ada di Jepara, khususnya daerah Plajan) dengan bubur pati.

Karena sagu aren itulah, gurihnya Dawet Mantingan ini menjadi jujugan banyak orang, termasuk pelancong dari luar kota. Apalagi, rasa dawet tersebut tidak dapat ditemukan di penjual dawet lainya, meski bahan bakunya sama.

Mulai dari sini lah cendol Mantingan mulai dikenal. Mereka yang mencicipi Dawet Mantingan  mulai bercerita ke orang, hingga menjadi cerita dari mulut ke mulut dan kini menjadi kuliner khas Jepara.

Setelah mbah Sanisih tiada, usaha tersebut diturunkan kepada putrinya Hj Sutiyah kemudian turun lagi ke adiknya Misayati. Setelah Misayati tiada, kini usaha tersebut dipegang oleh cicitnya yaitu Rosidah dan Farida.

Sejumlah pelanggan menikmati gurihnya dawet Mantingan, kuliner khas jepara yang melegenda sejak 1958. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Meski sudah lebih dari setengah abad, namun untuk menjaga cita rasa Cendol Mantingan ini, Farida dan Rosidah masih memegang teguh pendirian sang buyut. Salah satunya memasak cendol, bubur, gula hingga santanya pun masih menggunakan kayu bakar.

“Pesan dari mbah dulu, masaknya harus tetap dengan kayu bakar. Dan untuk membuat cendolnya pun dengan menggunakan sagu aren yang hanya ada di Jepara. Sagu tersebut bahanya sama dengan makanan khas Jepara yaitu horog-horog,” jelasnya.

Hingga generasi keempat ini, mereka masih menjunjung tinggi resep turun temurun itu. Hanya saja untuk tempat jualan sudah berpindah. Sejak neneknya Hj Sutiyah selaku generasi kedua mulai menua dan sakit Cendol Mantingan pun pindah di sebelah timur Makam Mantingan.

Sementara itu, Titik (40) warga Panggang mengaku setiap melintas di dearah Mantingan, pasti menyempatkan mampir ke cendol yang melegenda itu. Bahkan setiap hari Jumat, dia bersama teman-temanya menyempatkan untuk menikmati kesegaran dawet tersebut.

“Rasanya khas, manis, gurih dan segarnya itu belum bisa ditemukan di dawet-dawet yang lain. Selain itu harganya cukup terjangkau hanya Rp 3.500 perporsi jadinya sangat terjangkau,” jelasnya.

Dian (22), salah seorang karyawan swasta ini mengaku setiap hari dia membungkus dawet tersebut untuknya dan juga teman-teman di gudang meubelnya. Selain segar, dawet tersebut juga mengenyangkan.

“Rasanya segar, selain itu juga mengenyangkan, harganya juga murah jadi lumayan untuk mengganjal perut,” kata gadis manis ini.

Editor: Supriyadi

Warung Rames di Mantingan Jepara Porak-poranda Diterjang Lisus


Ngatemi (50) hanya bisa pasrah menyaksikan atap warungnya rusak diterjang lisus, Sabtu (4/11/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Warung nasi rames milik Ngatemi (50) yang terletak di Desa Mantingan, RT 12 / RW 5, Kecamatan Tahunan porak poranda diterjang angina lisus, Sabtu (4/11/2017). Akibatnya, warung sekaligus rumahnya menyisakan lubang besar dan rentan bila terkena hujan.

Kepada MuriaNewsCom, peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 11.30 WIB. Saat itu cuaca berubah dari panas menyengat menjadi mendung hitam. 

“Sesaat sebelum hujan, ada angin besar sekali. Sampai ada suaranya, di atas atap. Saya yang saat itu berada di kamar, karena sepi pembeli, mendengar itu saya langsung keluar, lalu hanya dapat menyaksikan atap beterbangan,” katanya.

Angin besar itu kemudian menerbangkan atapnya ke arah utara. Lalu sesaat kemudian hujan deras pun datang. 

Warung sekaligus rumah milik Ngatemi didiaminya seorang diri. Bangunan itu terdiri dari tiga ruangan, yakni areal berjualan di depan, kamar tidur, dan paling belakang adalah dapur. Atap yang beterbangan terdapat di ruangan paling depan, tempatnya melayani pembeli. 

“Harapannya segera mendapatkan perhatian dari pemerintah sebab, takutnya hujan datang dan saya tak dapat berjualan karena hujan

Selain itu juga saya tak mampu, dan janda seorang diri,” ujar penjual nasi rames itu.

Menurutnya, selain bangunannya yang diterjang angin lesus dua rumah milik Rukan dan Karnawi juga mengalami hal serupa. Namun demikian, hal itu tidak separah yang dialaminya. 

Editor: Supriyadi

Angin Ribut Terjang Desa Mantingan Jepara

 

Angin ribut menerjang salah satu rumah warga di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Sabtu (6/5/2017).(Pusdalops BPBD Jepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Angin ribut menyasar Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Sabtu (6/5/2017) siang. Akibatnya, sebuah rumah sekaligus warung milik Isfarotun (45) dan penggergajian kayu, roboh. Bukan hanya itu, tercatat ada empat brak (tempat kerja) mebel, mengalami kerusakan terutama dibagian atap. 

Seorang warga, Sofwan mengatakan, kejadian tersebut berlangsung pada pukul 14.00 WIB. Ia berujar, angin besar menerjang sekitar seperempat jam. “Anginnya besar itu muser-muser. Lalu bagian brak itu ikut terbawa,” ujarnya.

Hal itu juga dibenarkan oleh Mastono. Ia mengaku saat itu dalam kondisi hujan yang deras disertai angin. Ketika kejadian berlangsung, istrinya sedang memasak di dapur. 

“Anginnya besar disertai hujan. Saat itu, istri saya sedang memasak di dapur. Begitu ada angina, ia lantas keluar, namun apinya lupa dimatikan. Baru setelah kejadian rumah roboh api dimatikan.   Beruntung tidak ada korban jiwa,” ujar Tono yang merupakan suami dari Isfarotun.  

Ia menaksir, kerugian yang dideritanya sebesar Rp 30 juta. Saat ini ia belum bisa berbuat banyak atas musibah tersebut, namun ia sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah. 

Hingga sore hari, warga terdampak bencana terlihat masih membersihkan puing sisa dari rumah atau brak yang rusak. 

Catatan Pusdalops BPBD Jepara, tidak ada korban jiwa akibat kejadian tersebut. Pihaknya pun telah melakukan assesment awal sebagai langkah pertama untuk pengambilan keputusan selanjutnya.

Berdasarkan catatan Pusdalops BPBD Jepara, beberapa bangunan yang ikut terdampak musibah angin di antaranya, brak mebel milik Suliyah (48) RT 21 RW 7, brak mebel milik Makrum (67) RT 4 RW 1, brak mebel milik Anggun Susanto (33) RT  4 RW 1 dan brak mebel milik Miftakhul Imam (46) RT 29 RW 1. Rerata mengalami kerusakan ringan hingga sedang pada atap. (*)

Editor : Kholistiono