Omzet Festival Kuliner Pati Tempo Dulu Capai Rp 300 Juta

Penjual putu gunung dan klepon menjajakan dagangannya pada Festival Kuliner Pati Tempo Dulu di Omah Kuno, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Penjual putu gunung dan klepon menjajakan dagangannya pada Festival Kuliner Pati Tempo Dulu di Omah Kuno, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya 30 pedagang berpartisipasi menjual kuliner klasiknya dalam “Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe” di Omah Kuno, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, dari Kamis (29/12/2016) hingga Minggu (1/1/2017) dini hari. Dari 30 pedagang, ada 42 jenis makanan tempo dulu yang disajikan.

Selama tiga hari yang dimulai pukul 15.00 WIB, omzet dari penjualan kuliner zaman dulu (jadul) mencapai Rp 300 jutaan. Omzet itu terakumulasi selama tiga hari dari sekitar 30 pedagang.

Ketua Panitia, Alman Eko Darmo mengatakan, omzet tersebut murni dikantongi pedagang. Panitia sendiri hanya memfasilitasi, tanpa memungut hasil omzet dan tidak membebani pedagang dengan biaya stand. “Ini adalah pesta rakyat pada akhir tahun di Pati. Semua pendapatan masuknya ke pedagang,” kata Alman, Senin (2/1/2017).

Uniknya, pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari Pati saja, tetapi juga luar kota, seperti Semarang, Jakarta, Wonogiri, hingga Solo. Sebagian besar pengunjung yang datang, karena rasa penasaran untuk mengobati rasa rindunya kepada ragam kuliner masa lalu.

Saiful Arifin, pengusaha muda asal Pati yang sukses menggeluti bisnis di Jakarta hadir dalam festival selama tiga hari berturut-turut. Hari pertama, dia datang seorang diri menikmati Getuk Runting dan aneka jajanan lainnya.

Hari kedua, dia datang bersama sejumlah rekannya, menikmati aneka jajanan kuno di depan kolam bersama pengunjung lainnya. Hari ketiga, dia datang bersama Haryanto, Calon Bupati Pati, menikmati nasi jagung dan iwak peyek, serta berbagai makanan khas Pati lainnya.

“saya tahu ada festival kuliner tempo dulu dari media sosial dan beberapa media cetak, termasuk media online Murianews.com yang tersebar secara viral di medsos. Saya penasaran dan langsung datang sejak hari pertama,” tuturnya.

Antusiasme pengunjung sejak pertama kali dibuka, membuat Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Pati ingin membuat event serupa di Pati. Salah satu yang direncanakan Kabid Pariwisata, Enny Susilowati, antara lain festival kuliner tempo dulu pada peringatan Hari Jadi Pati 2017.

Editor : Kholistiono

Getuk Ireng Buatan Lily Ludes Dibeli Pemburu Kuliner Jadul di Pati

Stand getuk ireng milik Lily Wulandari yang diburu pembeli dalam Festival Kuliner Pati tempo dulu di Omah Kuno, Sabtu (30/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Stand getuk ireng milik Lily Wulandari yang diburu pembeli dalam Festival Kuliner Pati tempo dulu di Omah Kuno, Sabtu (30/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Getuk ireng buatan Lily Wulandari yang dijajakan dalam Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe di Omah Kuno, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, Jumat (30/12/2016), ludes diserbu pembeli. Sebagian besar pembeli memilih getuk ireng, karena sudah langka dan susah dicari.

Lily mengatakan, getuk ireng dibuat dari bahan dasar ketela seperti membuat getuk biasa. Namun, dia menambahkan pewarna alami dari merang padi supaya warnanya hitam.

Tidak dijual sendirian, getuk ireng yang dijajakan di stand bagian luar tersebut dicampur dengan tiwul, gatot, dan getuk biasa. “Kalau getuk biasa warnanya kuning. Ini warnanya hitam, karena dicampur bahan pewarna alami dari merang padi. Ini makanan kuno yang sekarang sudah mulai tidak ada,” ujar Lily saat berbincang dengan MuriaNewsCom di sela-sela melayani puluhan pembeli.

Sejak dijajakan pada pukul 16.00 WIB, getuk ireng buatan Lily sudah habis pukul 17.30 WIB. Antusiasme pengunjung membeli getuk ireng tidak lepas dari eksistensinya yang mulai hilang, di pasar tradisional sekalipun.

Lily yang tinggal di Gunungbedah, Margorejo, Pati ini mengaku tahu resep getuk ireng dari orang tuanya. Selama ini, Lily tidak menjual getuk ireng di warung, tetapi hanya menerima pesanan. Rencannya, dia akan menjualnya di kawasan Stadion Joyokusumo.

Bani Pujiastuti (38), pembeli asal Desa Kaborongan, Pati mengaku rindu dengan masa kanak-kanak ketika dibuatkan getuk ireng oleh emaknya. Karena itu, berburu kuliner tempo dulu yang digelar anak-anak muda yang berprofesi sebagai jurnalis, pengusaha dan pemuda lintas profesi ini dimanfaatkan Puji untuk mengobati rindu akan masa kecilnya.

Festival sendiri rencananya akan berakhir pada Sabtu (31/12/2016) malam pukul 12.00 WIB. Pada malam tersebut, panitia akan menyalakan mercon bumbung dan terompet dari daun kelapa muda.

Editor : Kholistiono

Festival Kuliner Tempo Dulu Bakal Diadopsi untuk Hari Jadi Pati

Salah seorang pengunjung tengah membeli getuk ireng di salah satu pojok stand kuliner Pati tempo dulu, Kamis (29/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Salah seorang pengunjung tengah membeli getuk ireng di salah satu pojok stand kuliner Pati tempo dulu, Kamis (29/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe yang digelar di Omah Kuno 1868, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, mulai dibuka, Kamis (29/12/2016), pukul 16.00 WIB. Sebelum dibuka, ratusan pengunjung dari berbagai daerah sudah memadati stand kuliner, jajanan dan minuman klasik khas Pati.

Ketua Panitia, Alman Eko Darmo mengatakan, sedikitnya ada 42 jenis kuliner yang disajikan dalam festival. Salah satunya, sego jagung, sego tewel, sego menir, carang madu, cetot, gerontol, gayam, kelepon, rangin, getuk Runting, lopis, urap brayo, getuk ireng, tiwul, uwi, gembili, siwalan, wedang coro, cemuai, gempol, pleret, legen, hingga jamu tradisional.

Pengunjung yang ingin berburu kue moho gratis sudah disediakan panitia, tinggal petik di berbagai tempat. Pengunjung yang ingin menikmati sensasi minum air putih dalam kendi, tempat air minum terbuat dari tanah, juga sudah disediakan di berbagai sudut ruangan.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Pati Enny Sulistyowati saat membuka acara, mengaku terkejut ada event yang menghadirkan suasana Pati tempo dulu di tengah hingar-bingar kehidupan yang serba modern. Dia memberikan saran agar ragam kuliner yang disuguhkan diklasifikasikan sesuai dengan tempat asal makanan tersebut.

“Kami dari pemerintah sangat mengapresiasi kepada panitia yang terdiri dari sejumlah jurnalis, pengusaha dan anak-anak muda lintas profesi yang berani membuat gebrakan baru, menyuguhkan puluhan jenis kuliner khas Pati tempo dulu. Ini event pertama kali yang digelar di Pati. Kalau memungkinkan, kami akan menggelar festival serupa pada Hari Jadi Kabupaten Pati,” kata Enny.

Sukarmini (40), salah satu pengunjung asal Desa Kudukeras, Juwana yang datang bersama suami langsung membeli gayam dan wedang cemue khas Pati. Dia memilih gayam, karena makanan yang banyak dikonsumsi pada masa-masa tempo dulu tersebut sudah mulai langka dan sulit dicari.

Editor : Kholistiono

Pengunjung Mulai Banjiri Festival Kuliner Pati Tempo Dulu, Berburu Kue Moho Gratis

Sejumlah pengunjung hadir memilih kue moho yang bisa dimakan secara gratis, meski pembukaan yang dijadwalkan pukul 16.00 WIB belum dimulai. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pengunjung hadir memilih kue moho yang bisa dimakan secara gratis, meski pembukaan yang dijadwalkan pukul 16.00 WIB belum dimulai. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pengunjung yang datang dari berbagai kalangan mulai membanjiri “Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe” di Omah Kuno 1868, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, Kamis (29/12/2016). Padahal, pembukaan secara resmi baru dibuka sekitar pukul 16.00 WIB.

Namun, antusiasme masyarakat terhadap kuliner dan jajanan khas Pati tempo dulu sangat tinggi. Tak ayal, banyak pengunjung membanjiri setiap sudut kuliner pada pukul 14.30 WIB, kendati pembukaan dijadwalkan pukul 16.00 WIB.

Beberapa yang tampak hadir awal, antara lain Saiful Arifin, tokoh pengusaha muda Pati yang saat ini mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Pati. Beberapa tokoh lain seperti Siti Asiyah, anggota DPRD Pati juga terlihat bingung memilih aneka jajanan tradisional yang begitu banyak jenisnya.

“Saya rindu dengan suasana Pati tempo dulu, terutama aneka kuliner dan jajanannya. Itu sebabnya saya lebih suka datang lebih awal, meski informasinya pembukaan dilakukan pada pukul 16.00 WIB. Getuk runting, salah satu yang saya suka,” ujar Arifin.

Sementara itu, Asiyah yang datang bersama ibu-ibu lebih suka berburu kue moho yang digantung di berbagai tempat. Kue moho yang dipajang bebas dimakan pengunjung secara gratis.

“Kue moho hampir saja hilang dari ingatan sebagai jajanan khas Pati. Rasanya manis, enak, meski ada sensasi lengket di mulut. Saya pilih berburu kue moho yang disediakan panitia secara gratis terlebih dulu, sebelum berburu aneka kuliner dan jajanan kuno khas Pati lainnya,” tutur Ketua Fraksi PDIP DPRD Pati yang akrab disapa Mbak Sis ini.

Usai memilih moho, Asiyah berburu minuman tradisional, seperti jamu kunir asem dan wedang coro. Dia berharap, festival serupa akan selalu digelar di Pati. Sebab, antuasiasme pengunjung ternyata tidak hanya berasal dari warga Pati saja, tetapi juga luar kota seperti Kudus, Jepara, Rembang, dan sekitarnya.

Editor : Kholistiono