Belasan Ibu Menyusui di Magelang Keracunan Jamu Uyub-uyub

MuriaNewsCom, Magelang – Sebanyak 11 orang ibu-ibu di Kabupaten Magelang, Selasa (27/3/2018) dilarikan ke rumah sakit, karena diduga keracunan jamu tradisional uyub-uyub. Korban keracunan berasal dari dua desa, yakni Desa Sanden Kecamatan Mungkid dan Desa Treko, Kecamatan Mertoyudan.

Keduanya mengalami gejala keracunan setelah meminum jamu yang biasa dikonsumsi ibu hamil dan menyusui tersebut. Mereka dilarikan ke RSUD Muntilan, setelah meminum jamu tersebut pada Senin (26/3/2018) kemarin. Jamu itu dibeli dari seorang penjual bernama Saswati.

Kesebelas pasien tersebut yakni Anik Trianingsih (37), Santi Rahmawati (27), Lusia Afriani (23), Haryanti (35), Ida Riwayati (33), Indah Saputri (22), Dias Tri Yuliani (29), Napsiah (30), Saidah (35), Sarwati (25). Seluruhnya merupakan warga Dusun Ngloning, Desa Senden, Kecamatan Mungkid. Ditambah satu warga Dusun Treko 3, Desa Treko, Kecamatan Mungkid yakni Maesaroh (28).

Dilansir dari detik.com,  dokter penyakit dalam RSUD Muntilan, dr Samsul meyebut para pasien yang semuanya adalah ibu menyusui tidak dalam kondisi parah. Hanya saja, ada beberapa yang mendapatkan perhatian khusus karena mengalami gejala kejang-kejang.

“Tapi tremornya (kejang) itu karena jamu atau yang lain kita masih evaluasi, karena infonya mereka sudah sempat minum obat tertentu setelah minum jamu,” kata Samsul.

Adapun gejala-gejala yang dialami oleh para pasien ketika dibawa ke RSUD Muntilan seperti mual, muntah, diare, nyeri perut. “Rata-rata gejala yang dikeluhkan mirip dengan gejala keracunan,” imbuhnya.

Dari keterangan salah satu korban, ia mengonsumsi jamu uyub-uyub kemarin sore. Saat mengonsumsi tidak ada gejala apa-apa. Baru skeitar tiga jam kemudian, mulai merasakan mual dan muntah, bahkan ada yang kejang-kejang.

“Pas minum jamu itu belum merasakan apa-apa, baru tiga jam sesudahnya, tiba-tiba kepala pusing, badan lemas, mual dan muntah-muntah. Saya sudah tidak bisa apa-apa, dan langsung dibawa ke rumah sakit,” ujar Lusia Arfiani (23), salah seorang korban keracunan, warga Desa Senden, dikutp dari tribunjogja.com.

Direktur RSUD Muntilan, M Syukri, mengatakan, sampai saat ini kondisi seluruh korban masih dalam kondisi lemah, dan belum sepenuhnya pulih.

“Hingga pagi ini kondisinya masih lemah, tetapi sadar dan dapat diajak komunikasi. Mereka masih harus menjalani perawatan dan penanganan intensif dan belum diperbolehkan pulang,” ujarnya.

Pihaknya belum dapat memastikan terkait penyebab sakitnya kesebelas warga tersebut. Namun dari dugaan awal, para korban ini diduga mengalami keracunan akibat jamu uyub yang dikonsumsinya. Pihaknya juga sudah melapor ke Dinas Kesehatan agar kasus ini ditindaklanjuti.

Editor : Ali Muntoha

Borobudur Lebih Menguntungkan Bagi Yogyakarta, Begini Tanggapan DPRD Jateng

MuriaNewsCom, Semarang – Keberadaan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, seharusnya bisa menjadi hal yang menguntungkan bagi Provinsi Jateng. Namun selama ini yang lebih banyak mendapatkan hasil secara maksimal dari candi tersebut justru Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pasalnya, kebanyakan turis yang datang ke Candi Borobudur lebih memilih menginap dan menghabiskan waktunya di Yogyakarta.

Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi menyayangkan kondisi ini. Ia mendesak Pemprov Jateng dan Pemkab Magelang mampu memaksimalkan potensi Candi Borobudur.

“Pemerintah daerah harus bisa mendorong masyarakatnya agar bisa memaksimalkan potensi borobudur itu. Sangat disayangkan, jika potensi ini justru dimanfaatkan daerah lain,” katanya.

Menurut Rukma, potensi pariwisata Borobudur ini perlu dikembangkan, sehingga perekonomian masyarakat Magelang ikut terangkat. Untuk itu, Pemkab Magelang perlu memperhatikan dan mengembang infrastruktur pendukung, sehingga dapat meningkatkan potensi ekonomi daerah.

“Kesiapan infrastruktur akses menuju objek wisata perlu diperhatikan. Persoalan itu sangat menunjang pertumbuhan ekonomi di daerah. Semua itu butuh perencanaan matang dari dinas terkait. Potensi wisata bisa dioptimalkan dengan dukungan infrastruktur yang baik,” ujarnya.

Sementara itu, Pjs Bupati Magelang Tavip Supriyanto mengatakan pemkab melalui Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan secara bertahap telah mengembangkan sektor wisata dan kesenian. Hal itu bisa dilihat dari peran serta masyarakat dalam event kesenian tingkat nasional.

“Kami tetap berupaya agar potensi-potensi tersebut bisa dikelola optimal dan mampu memberikan pendapatan untuk daerah,” kata Tavip.

Editor : Ali Muntoha

Polemik Pajak Pasir di Magelang, Pemprov : Gubernur Tak Pernah Ngatur, Itu Kewenangan Bupati

MuriaNewsCom, Semarang – Ratusan penambang pasir dan awak truk menggelar demo di kantor Pemkab Magelang Kamis (8/2/2018) menolak kenaikan pajak/retribusi pasir. Perwakilan Pemkab Magelang yang menemui pendemo menjanjikan akan meneruskan masalah tersebut ke Pemprov Jateng.

Pemkab juga beralasan, kenaikan pajak itu berdasarkan keputusan Gubernur Jawa Tengah.

Namun menurut Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng Teguh Dwi Paryono menyatakan, gubernur tidak pernah mengatur pajak tambang mineral. Besaran persentase pajak sepenuhnya kewenangan pemerintah daerah setempat.

Seperti diketahui, Pemkab Magelang menerbitkan surat edaran berisi daftar pajak baru pengambilan pasir dan batu yang mulai berlaku 8 Februari 2018.

Pajak diberlakukan untuk tiap armada sesuai jenis. Yakni tronton Rp 418.000 dari semula Rp 50.000, engkel Rp 300.000 dari semula Rp 36.000, colt diesel Rp 150.000 dari semula Rp 18.000, dan bak terbuka Rp 43.000 dari semula Rp 5.000.

Menurut Teguh, gubernur tidak pernah mengeluarkan aturan pajak tambang mineral. Satu-satunya yang diatur adalah harga patokan penjualan. Aturan termaktub dalam Keputusan Gubernur Nomor 543/30/ Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Patokan Penjualan Mineral Bukan Logam dan Batuan.

“Harga patokan digunakan sebagai acuan harga jual bagi pemegang izin usaha pertambangan. Jadi untuk pengusaha tambangnya, kami tidak mengatur pajak untuk sopir angkutannya,” kata Teguh.

Harga patokan ditentukan per kabupaten/kota untuk tiap meter kubik. Misalnya di Kabupaten Magelang, tanah urug dipatok Rp14.000/m3 dan sirtu Rp125.000/m3. Sedangkan Kabupaten Wonogiri tanah urug Rp15.000/m3 dan sirtu Rp125.000/m3.

Sedangkan besaran persentase pajak ditentukan pemerintah kabupaten/kota. Aturan pajak ini berdasarkan regulasi pemerintah pusat yang mengatur batas maksimal yakni 25 persen.

“Maksimalnya dari pusat 25 persen, tapi bupati silahkan mau mengenakan satu persen atau 25 persen terserah pak bupatinya,” ujarnya.

Kemudian, pajak tersebut menurut Teguh, seharusnya bukan dikenakan untuk sopir atau armada pengangkut. Melainkan untuk pengusaha tambang. Dengan demikian, pengenaan pajak seperti surat edaran Bupati Magelang tersebut salah kaprah.

“Pemungutan pajak itu di hulu, bukan di hilir. Karena pajak itu hanya untuk tambang legal. Kalau edarannya seperti di Magelang maka truk yang ambil pasir di tambang ilegal pun dikenai pajak sehingga seolah-olah pasirnya legal, ini tidak benar,” kata Teguh.

Teguh menyatakan pihaknya sudah menyosialisasikan keputusan gubernur kepada Pemkab Magelang, pengusaha tambang, dan pengusaha angkutan. “Kalau pajak tetap dikenakan ke sopir ya pantas saja ada gejolak karena bebannya ke sopir berat,” tegas Teguh.

Editor : Ali Muntoha

Tim SAR Siaga Cari Korban Lain di Tambang Maut Kaliurang yang Tewaskan 8 Orang

Tim SAR BPBD Kabupaten Magelang saat melakukan evakuasi korban longsor di area penambangan pasir Merapi di Kaliurang, Kabupaten Magelang, (Foto : Antara Jateng)

MuriaNewsCom, Magelang – Longsor di kawasan penambangan pasir di aliran Sungai Bebeng, Desa Kaliurang, Kabupaten Magelang, Senin (18/12/2017) kemarin menyebabkan delapan orang meninggal dunia dan delapan lain mengalami luka serius.

Delapan korban meninggal, yakni lima orang warga Dusun Kemburan, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang atas nama Ahmad Zaenudin, Iwan Dwi, Heri Setyawan, Yuni Supri, Muhammad. Kemudian tiga lainnya Suparno, Martono, Sumarno warga Dusun Dermo, Desa Bringin, Kecamatan Srumbung.

Dilansir Antara Jateng, hingga Selasa (19/12/2017) hari ini, petugas BPBD masih siaga di lokasi longsor, jika sewaktu-waktu ada laporan korban lain yang belum ditemukan.

“Petugas kami hari ini tetap siaga di lokasi longsor untuk menunggu jika masih ada laporan orang hilang akibat longsor kemarin. Kami akan bertindak melakukan pencarian,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto.

Ia menuturkan hingga pagi ini tidak ada laporan orang hilang akibat longsor tersebut.

“Sementara ini kami hanya bersiaga, tidak ada aktivitas di lokasi longsor sebelum ada laporan orang hilang, karena percuma kalau melakukan pencarian, tetapi tidak ada yang dicari,” ujarnya.

Baca : 8 Penambang Pasir Tewas Tertimbun Longsor di Kaliurang Magelang

Namun, kalau memang masih ada laporan orang hilang di lokasi bencana tersebut pihaknya akan segara melakukan pencarian. 

Ia menuturkan sebanyak delapan orang meninggal akibat bencana tersebut tadi malam sudah diserahkan semua kepada keluarganya untuk dimakamkan.

Editor : Ali Muntoha

8 Penambang Pasir Tewas Tertimbun Longsor di Kaliurang Magelang

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Megalang – Lokasi penambangan pasir di Desa Kaliurang, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Senin (18/22/2017) longsor. Akibatnya, delapan orang penambang pasir tewas tertimbun.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, peristiwa longsor itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB.

Longsor terjadi di tebing lokasi penambangan hingga membuat sejumlah penambang yang ada di bawahnya tertimbun material pasir dan batu.

Proses evakuasi dan pencarian langung dilakukan tim SAR yang dibantu warga sekitar. Dalam proses evakuasi, awalnya tujuh orang ditemukan sudah tidak bernyawa. Beberapa jam kemudian, tim SAR kembali menemukan satu mayat, sehingga total ada 8 korban meninggal dunia.

Selain korban meninggal dunia, bencana longsor itu juga mengakibatkan sejumlah korban luka-luka.

Cahyono, petugas Pusdalops BPBD Kabupayen Magelang menyatakan, korban meninggal dunia dan luka-luka dikirim ke RSUD Muntilan untuk menjalani pemeriksaan.

“Empat korban meninggal sudah di RSUD Muntilan. Sementara empat korban lagi proses identifikasi di lokasi oleh kepolisian,” katanya kepada wartawan.

Seluruh korban meninggal dunia berjenis kelamin laki-laki. Menurutnya, pada saat kejadian para korban sedang melakukan penambangan pasir di Sungai Bebeng, Desa Kaliurang.

Hingga saat ini petugas masih terus melakukan pencarian dan penanganan di lokasi bencana.

Editor : Ali Muntoha

Usai Transaksi Narkoba, 2 Orang Ini Malah Dioyak Polisi

Barang bukti narkoba jenis sabu-sabu yang diamankan Polres Magelang. (humas polres magelang)

MuriaNewsCom, Magelang – Tim Opsnal Satuan Res Narkoba Polres Magelang meringkus dua pemakai dan pengedar narkoba, ANH (31) dan AH (38). Keduanya warga Pucang, Secang Magelang. Mereka diamankan Kamis (23/11/2017), di pertigaan Jalan Tegalrejo Magelang setelah melakukan transaksi narkotika jenis sabu-sabu.

Kasat Narkoba Polres Magelang AKP Eko Sambodo, mengatakan polisi menagkap keduanya usai adanya laporan. Yaitu adanya pelaku pengedar narkoba yang melakukan transaksi di Pasar Tegalrejo Magelang dengan berkendara mobil pikap warna hitam.

“Mendapatkan informasi tersebu,  petugas segera bergerak melakukan penyelidikan, dan benar kendaraan sesuai ciri-ciri tersebut melintas dan oleh petugas  diberhentikan serta dilakukan penggeledahan,” kata Eko.

Menurutnya, dari hasil penggeledahan, polisi menemukan satu bungkusan plastik berisi sabu-sabu kristal putih di taruh dekat porsneleng mobil.  “Dari keterangan pelaku barang tersebut merupakan miliknya dan akan dikonsumsi sendiri,” terangnya dari keterangan pelaku ke polisi.

Kemudian kedua pelaku dan barang bukti dibawa ke Satnakoba Polres Magelang guna dilakukan tes  urine. Guna penyidikan lebih lanjut keduanya kini di tahan di Rutan Polres magelang.

Adapun barang bukti yang diamankan berupa  1 paket sabu-sabu beserta plastik pembungkusnya seberat 0, 58 Gram,  2 ponsel,  mobil pikap hitam AA 1864 RB beserta kunci kontak dan STNK.

Keduanya dijerat dengan Pasal : 132 jo 112 ayat (1)  UU RI no 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dengan ancaman pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 12 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 800 juta rupiah, dan paling banyak Rp 8 miliar.

Editor : Akrom Hazami

Bayi Ditemukan Terbungkus Kain Kafan di Parit di Wilayah Muntilan

Warga melihat bekas kain putih yang dipakai untuk membungkus bayi di Muntilan, Magelang. (Facebook)

MuriaNewsCom, Magelang – Geger, warga menemukan bungkusan kain berwarna putih di parit yang terletak di Dusun Tambakan, RT 01 Rw 05, Desa Sedayu, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Karena mencurigakan, warga membuka bungkusan. Ternyata isinya bayi dalam kondisi meninggal dunia.

Warga melaporkan penemuan bayi ke Polsek Muntilan. Tak lama kemudian, polisi tiba di lokasi kejadian. Petugas mengumpulkan sejumlah saksi, serta menghimpun keterangan.

Kapolsek Muntilan AKP Mudiyanto mengatakan, polisi mendapatkan laporan warga soal penemuan bayi. Kali pertama, bayi ditemukan petugas kebersihan yang sedang menyapu di dekat lokasi. “Bayi tersebut berjenis kelamin laki-laki,” kata Mudiyanto.

Polisi menduga, pembuang bayi adalah orang tuanya. Serta kemungkinan besar bukan berasal dari warga dalam kota. Mengingat bayi dibuang di pinggir jalan. Meski demikian, pemeriksaan kasus tetap dilakukan.

Di antaranya, polisi melakukan pendataan orang hamil di wilayah setempat. Termasuk mendata bidan dan mencari info yang baru membantu kelahiran.

Pihaknya juga berkomunikasi dengan RSUD Muntilan. Bayi mengalami luka di bagian kepala. Bayi diperkirakan lahir prematur 6-7 bulan. “Beratnya 1,2 kilogram dan panjang 40 cm,” terangnya lebih lanjut.

Dia memprediksi bayi dibuang tadi malam. Dengan kondisi tali pusar telah dipotong. Pelaku pembuang bayi diperkirakan juga siap memakamkan bayi karena telah dibungus kain kafan..

Editor : Akrom Hazami

 

Ingin Sabet Adipura Kencana, 2 Kabupaten di Jateng Timba Ilmu di Kudus

Bupati Kudus Musthofa saat memberi materi stady banding Kabupaten Magelang dan Temanggung, Senin (30/10/2017). (Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Dua kabupaten di Jawa Tengah, yakni Kabupaten Magelang dan Temanggung meminta kiat-kiat mendapatkan prestasi Adipura Kencana ke Kudus, Senin (30/10/2017). Hal itu dilakukan setelah keduanya mendapat rekomendasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKH) Republik Indonesia.

”Kami ingin Pak Bupati Kudus gamblang membeberkan kiat-kiat prestasi Adipura Kencana. Kami ingin seperti Kudus,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang Tri Agung Sucahyono.

Tri Agung menjelaskan, saat ini Kabupaten Kudus merupakan satu-satunya Kabupaten di Jawa Tengah yang berhasil memperoleh Adipura Kencana. Padahal, tahun ini pemerintah pusat hanya meloloskan enam kabupaten/kota se-Indonesia membawa pulang Adipura Kencana.

Prestasi ini menjadi salah satu magnet Kudus untuk daerah lain melakukan studi banding ke Kudus. Hal itulah yang melatar belakangi Pemkab Temanggung bersama dengan Pemkab Magelang datang ke Kota Kretek.

”Kami juga ingin belajar mengenai pengelolaan sampah dan lingkungan serta berbagai sektor lain di Kudus yang telah menunjukkan keberhasilan,” ujarnya.

Rombongan dua kabupaten ini diterima langsung oleh Bupati Kudus Musthofa. Keduanya mengaku ini dengan prestasi Adipura Kencana di Kudus dan berbagai kemajuan di Kudus.

Sekdin DPUPKP Temanggung Hendro Sumaryana merasakan kenyamanan ketika masuk Kudus. Harapannya, Musthofa bisa sharing ilmu mengenai tips untuk membangun Kudus dari berbagai sektor untuk ditularkan di Temanggung.

”Pak Musthofa ini pemimpin yang visioner. Semoga bisa memberikan inspirasi bagi kita semua. Dan terima kasih, Pak Bupati, atas penyambutan yang luar biasa di sini,” kata Hendro yang menyebut Kudus terus berbenah semakin baik tiap tahunnya.

Sementara itu, Bupati Kudus mengatakan bahwa semua keberhasilan ini tak lepas dari kerja keras seluruh OPD. Karena menurutnya tidak ada satupun OPD yang lebih unggul. Tetapi harus saling melengkapi sesuai bidang kerjanya.

”Kami di sini menyebutnya sebagai manajemen kolaborasi. Semuanya saling bersinergi,” jelas Musthofa.

Yang tidak bisa diabaikan adalah besarnya peran serta dan partisipasi masyarakat. Kemampuan memberdayakan masyarakat dan pihak swasta menjadi hal penting untuk bersama-sama membangun Kudus.

”Sebagaimana pembebasan tanah pembangunan jalan lingkar utara dan adanya sekolah vokasi berstandar internasional. Semuanya tanpa APBD, tetapi dengan partisipasi,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Pemuda Penuh Tato Tewas Tenggelam

Pemuda penuh tato tewas tenggelam di Magelang, Kamis dini hari. (Humas Polres Magelang)

MuriaNewsCom, Magelang – Polsek Grabag Magelang, Kamis,(26/10/2017) sekitar pukul 00.30 WIB, mengevakuasi pemuda yang meninggal tenggelam di Kedung Jumprit, Kali Daru , Dusun Caban Jurang, Desa Kartoharjo, Grabag, Magelang.

Kapolsek Grabag  AKP M Fadhil, mengatakan bahwa Polsek Grabag telah mengevakuasi pemuda penuh tato yang diketahui bernama Nur Wahid, (30) warga Klegen, Candisari, Secang, Magelang.

Dari keterangan saksi Muhaimin (35) warga Dusun Pondoh, Desa Rejosari, Pringsurat Temanggung, Rabu(25/10/2017) pukul 11.00 WIB, dia berdua mengangkat pupuk kandang dengan menggunakan sepeda motor.”Saya diajak oleh korban untuk mencari ikan di kedung tersebut dengan cara menggunakan tangan sambil menyelam,” terangnya.

Sesampai di lokasi, korban menitipkan kendaraan di Pos Pantau PDAM dan kunci kontak sepeda motor dititipkannya. Kemudian korban langsung terjun ke kedung. Sedangkan dia menunggu di atas. “Saya juga sempat melihat korban naik di atas air sambil mengambil nafas sebanyak dua kali, sedangkan saya ke sawah sekitar lokasi, guna mencari belut,” imbuhnya.

Sekitar pukul 14.00 WIB, dia kembali menuju ke kedung tapi tidak melihat korban di sana. Dia langsung menuju ke tempat titipan sepeda untuk menitipkan kunci sepeda apabila nanti korban mengambil sepedanya. Tapi dia tunggu hingga pukul 20.00 WIB, korban tidak kunjung datang.

Kepala Desa Pringsurat  Budi menyampaikan berita tersebut kepada pihak keluarga dan Kepolisian Polsek Grabag. Dari saran kepala desa, untuk mencari orang yang pintar menyelam. Akhirnya salahj satu warga Maryadi (40) bersedia menyelam mencari korban.

Hingga sekitar pukul 00.30 WIB Kamis dini hari, korban bisa ditemukan. Dengan kondisi sudah meninggal dunia dalam kondisi posisi tengkurap terhimpit pada cekungan batu padas.

Dr Nuice dari Puskesmas Grabag menerangkan dari hasil pemeriksaan di badan  korban tidak terdapat luka maupun  lebam. Dengan lukanya berupa muka membiru, dan sudah kaku. “Penyebab kematian korban diperkirakan terhambatnya atau kurangnya suplai oksigen ke otak ditandai dengan ciri – ciri bagian kepala dan muka membiru,” katanya.

Polsek Grabag  yang diwakili oleh Kanit Reskrim Ipda Prapta Susila, pukul.02.30 WIB, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga. Jenazah diterima oleh istri korban Ika Budi Itami ( 29) dan pihak keluarga bisa  menerima kejadian tersebut dengan menandatangani surat pernyataan.

Editor : Akrom Hazami

 

11 Jam, Pria Ini Asyik di Atas Pohon Kelapa Setinggi 30 Meter

Warga berada di atas pohon kelapa selama 11 jam di Magelang. (tribratanews magelang)

MuriaNewsCom, Magelang– Muhrodin bin Margono ( 35 ) warga Karet Bulurejo, Mertoyudan, Magelang, bisa dievakuasi oleh petugas polisi, setelah memanjat pohon kelapa selama hampir 11 jam. Yang bersangkutan tidak mau turun dan memilih diam di tengah pohon kelapa dengan ketinggian hampir 30 meter.

Kapolsek Mertoyudan AKP Panca Widarsa, menerangkan bahwa Polsek Mertoyudan, Senin,(13/10/2017) mendapatkan laporan adanya orang memanjat pohon kelapa. Orang itu tidak mau turun.

Baca : Pasangan Sejoli di Jepara Ini Nekat Mesum di Masjid, Diguyur Air Langsung Diarak ke Balai Desa

Kepala Dusun Karet Bulurejo Fitri ( 45) mengatakan bahwa sekitar pukul 08.30 WIB,  Muhrodin memanjat pohon kelapa setinggi kurang lebih 30 meter dan diketahui oleh warga sekitar. Selanjutnya ketika warga memintanya turun, malah diam. Warga melaporkannya ke Polsek Mertoyudan.

“ Diduga tindakan nekat tersebut karena Muhrodin saat ini mengalami depresi urusan keluarga,” terang Fitri.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk Polsek Mertoyudan bersama dengan tim SAR dari BPBD Kabupaten Magelang telah melakukan evakuasi. Muhrodin bisa dievakuasi sekitar pukul 19.20 WIB.

BacaPasangan yang Digerebek Ternyata Sudah 5 Kali Mesum di Masjid

Jalanya evakuasi yang dipimpin oleh Wakapolsek Mertoyudan Iptu Soedjarwo sangat menegangkan. Dengan cara, salah satu anggota tim SAR dari BPBD naik ke atas pohon dengan bawa tali.

Kemudian tali dikaitkan kepada korban selanjutnya dari atas korban di turunkan melalui tali tersebut yakni dengan mengerek, sedangkan lokasi di tengah kebun dan pemandian umum warga.

Setelah berhasil dievakuasi dengan selamat, keluarga Muhrodin langsung membawanya ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof DR Sarodjo Magelang guna mendapatkan perawatan.

Editor : Akrom Hazami

 

VIRAL, Ini Penampakan ‘Bigfoot’ di Magelang, Misterinya Bikin Merinding

Warga membandingkan ukuran kakinya dengan ukuran ‘bigfoot’ di Magelang. (FACEBOOK)

MuriaNewsCom, Magelang – Beberapa hari terakhir ini, warga Dusun Barepan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, dikagetkan dengan temuan jejak menyerupai telapak kaki berukuran tak lazim, karena jauh lebih besar dari ukuran kaki normal.

Dilansir dari detik.com, jejak telapak kaki itu ditemukan di depan rumah Surawan (50), warga Dusun Barepan, Kamis (28/9/2017) dini hari.

“Saya baru saja pulang badminton bersama anak, sampai rumah sekitar pukul 12 malam. Sampai depan rumah, saya lihat pot bunga berserakan, saya kira ada orang yang tidak suka dan membuat kerusakan,” ujar Surawan.

Merasa janggal, Surawan bersama anaknya, kemudian mengambil senter dan melihat kerusakan yang terjadi. Tak disangka, mereka menemukan jejak kaki berukuran tidak biasa.

“Ada dua jejak kaki, satu di depan pintu samping, satunya lagi diantara pot yang berserakan,” ungkap Surawan.

Ukuran kaki tersebut, diperkirakan mempunyai panjang 35 centimeter, lebar tumit 8 centimeter, lebar jari kaki 15 centimeter. Adapun kedalaman jejak telapak kaki mencapai sekitar 4 centimeter. Sedangkan jarak antara jejak satu kaki dengan lainnya sekitar 1,5 meter.

Temuan tersebut dalam waktu singkat langsung menyebar di lingkungan Dusun Barepan. Warga yang penasaran berbondong-bondong mendatangi lokasi untuk melihat secara langsung wujud jejak kaki tersebut.

Surawan dan warga mempercayai bahwa pemilik jejak itu adalah makhluk yang menghuni sebuah tempat tak jauh dari lokasi temuan jejak. Warga dusun tersebut meyakini bahwa pohon mojo di kebun depan rumah Surawan memiliki penunggu. Penunggu itulah yang kemudian muncul ketika pohon tersebut dirapikan dengan memotong dahan-dahannya.

Pohon itu memang kehilangan banyak dahan setelah dirapikan warga pada Minggu lalu. Pohon mojo itu sudah berumur lebih dari 30 tahu, berada di pekarangan Surawan, yang terletak di pinggir desa. “Ditanam sekitar tahun 1985 lalu,” kata Surawan.

Surawan dan beberapa warga menghubung-hubungkan temuan jejak itu dengan kemunculan makhluk dari dimensi lain yang disebut-sebut menghuni pohon tersebut. Sebelumnya memang sesepuh di dusun meminta agar tidak menebang pohon mojo tersebut.

Surawan mengaku tidak merekayasa atau membuat sensasi dengan bikin-bikin jejak itu. Tapi apakah benar jejak yang ditemukan adalah berasal dari jejak kaki penghuni pohon mojo? Sulit juga dipastikan.

Penuturan Surawan bahwa anak sulungnya pernah melihat sosok penghuni pohon itu pun, tentunya juga sulit dijadikan sebagai bukti.

Editor : Akrom Hazami

Bu Guru Ini Ancam Bunuh Diri Minta Obat Nyamuk Saat Kepergok Ngamar di Hotel

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Magelang – Ada-ada saja reaksi seseorang ketika kepergok tengah berbuat mesum. Mulai dari berkilah, berontak hingga melarikan diri. Namun wanita di Kota Magelang ini, punya ekspresi yang beda dan cenderung ekstrim. Yakni mencoba bunuh diri.

Mungkin karena kadung malu setelah digerebek petugas tengah berduaan dengan laki-laki di dalam hotel. Apalagi diketahui perempuan yang berasal dari Candimulyo, Kabupaten Magelang itu bekerja sebagai seorang guru TK.

Saat digrebek petugas, wanita ini berkali-kali mencoba bunuh diri dengan membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Ia juga berontak dan teriak-teriak minta cairan obat nyamuk untuk bunuh diri.

Peristiwa ini terjadi saat petugas gabungan dari Satpol PP dan Polres Magelang Kota melakukan razia penyakit masyarakat (pekat) dengan sasaran hotel-hotel di Kota Magelang, Senin (25/9/2017) malam.

Saat petugas sampai di kamar hotel tempat pasangan ini menginap, mereka menolak membukakan pintu. Bahkan ketika petugas menggedor-gedor pintu, pasangan sejoli ini tetap bergeming. Hampir setengah jam petugas meminta dengan baik-baik agar yang bersangkutan membuka pintu kamar.

Tak lama berselang, si pria akhirnya melunak setelah petugas mengancam akan melakukan upaya dobrak. Saat petugas masuk, bu guru itu ternyata ngumpet di kolong tempat tidur.

Saat petugas berusaha mengamankan, perempuan berusia 27 tahun itu langsung memberontak, berteriak tanpa kontrol sambil memukuli kepalanya sendiri.

Suasana semakin memanas manakala ia melontarkan ancaman bunuh diri sembari membenturkan kepala berkali-kali ke tembok kamar. “Aku mending mati. Ono obat nyamuk ora?,” teriaknya.

Salah satu polwan langsung sigap menenangkan oknum guru yang masih kalap itu, namun tidak berhasil. Perempuan ini baru bisa ditenangkan oleh dua anggota DPRD yang ikut serta dalam razia tersebut.

Kepala Satpol PP Kota Magelang, Singgih Indri Pranggana, ada 16 orang diamankan dari operasi tersebut. Mereka tertangkap basah sedang dari sejumlah hotel. Kebanyakan dari mereka menurutnya merupakan wajah-wajah baru. “Di antara mereka, ada seorang mahasiswi asal Kabupaten Temanggung,” ujarnya.

Editor : Ali Muntoha

Festival Memedi di Candi Ngawen Magelang jadi Daya Tarik Wisata

Warga memeriahkan Festival Memedi di Candi Ngawen, Kabupaten Magelang. (Tribrata News Polres Magelang)

MuriaNewCom, Magelang – Festival “Memedi” Sawah di kompleks Candi Ngawen, Muntilan, Kabupaten Magelang, diyakini merupakan salah satu bagian dari daya tarik wisata di daerah tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Magelang Iwan Sutiarso di Magelang, mengatakan kegiatan ini antara lain bertujuan untuk menggerakkan desa wisata dan wisata perdesaan.

“Selain untuk melestarikan tradisi yang sudah ada, melalui kegiatan seperti ini kami berharap agar kunjungan wisatawan ke desa wisata bertambah. Kemudian, lama tinggal wisatwan juga meningkat sehingga berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” katanya di Magelang, Kamis (14/9/2017) dikutip dari Antarajateng.com.

Ia mengatakan Kabupaten Magelang memiliki tiga bidang unggulan, yakni pertanian, industri kecil, dan pariwisata. “Kami berharap, ketiganya bisa berkolaborasi untuk kesejahteraan masyarakat,” katanya. 

Pada festival tersebut deretan memedi (orang-orangan) sawah mengelilingi kompleks Candi Ngawen. Benda yang biasa digunakan untuk mengusir hama burung itu sengaja dipamerkan setelah diarak keliling desa. “Tema pada festival kali ini adalah nasi wiwit dan memedi sawah. Keduanya merupakan tradisi yang harus tetap dilestarikan,” kata Ketua Panitia Festival Memedi Sawah AL Saptandyo.

Ia menjelaskan baik memedi sawah maupun nasi wiwit memiliki makna tersendiri. Nasi wiwit, dalam hal ini merupakan wujud syukur dari para petani atas panen yang telah dilimpahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada petani. 

“Pembuatan nasi wiwit dilakukan menjelang panen. Ini merupakan wujud syukur dan terima kasih petani karena diberikan panen yang baik. Wiwit juga berati mengawali benih yang baik untuk pertanian selanjutnya,” katanya.

Memedi sawah, katanya biasa digunakan oleh para petani untuk mengusir hama burung pipit yang kerap memakan padi. Bentuk atau wujud dari memedi sawah ini berbagai macam, tergantung selera pembuatnya. “Khusus untuk festival memedi sawah kali ini, kami membebaskan para peserta untuk membuat memedi dengan wujud dan bahan apa pun, kecuali dari bahan plastik,” katanya.

Ia mengatakan ada sebanyak 27 dusun di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, yang berpartisipasi dalam festival kali ini. 

Editor : Akrom Hazami

 

Tangani Kasus Kecelakaan, Polres Magelang Luncurkan Aplikasi Berbasis Android

Polisi melakukan sosialisasi Aplikasi Lapor Kecelakaan Lalu Lintas, Selasa, (12/9/2017). (Humas Polres Magelang)

MuriaNewsCom, Magelang – Percepatan penanganan kasus kecelakaan lalu lintas terus dilakukan Polres Magelang. Di antaranya dengan  mengenalkan Aplikasi Lapor Kecelakaan Lalu Lintas, Selasa, (12/9/2017). Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi oleh Kanit Dikyasa Lantas Ipda Pramono Abdi Wibowo, kepada personel Dinas Perhubungan Magelang.

Sosialisasi selain turun ke lapangan juga disampaikan melalui Talk Show melalui radio swasta yang ada di Kabupaten Magelang. “Kegiatan ini sekaligus dalam rangka Ulang Tahun Satuan Lalulintas yang ke62 “ kata Pramono.

Baca : Omzet Santri Ganteng Asal Pati ‘Musuh’ Jonru Ini Capai Ratusan Juta per Bulan

Dengan cara  membuka aplikasi Lapor Sat Lantas Polres Magelang di Google Play / Play Store di Android, unduh, dan pasang Aplikasi Lapor Lantas Magelang, isi pada halaman pengisian data, Login Username dan (email) serta pasword  yang sesuai.

Selain informasi kecelakaan melalaui “ Aplikasi Lapor Sat Lantas “ juga bisa dipergunakan untuk menyampaikan adanya kemacetan terutama di jalan raya untuk mempercepat petugas dalam menangani di lapangan.

Kasat Lantas Polres Magelang AKP Didi Dewantara,  di tempat terpisah menerangkan dengan adanya Aplikasi Lapor Lalulintas ini untuk mempermudah masyarakat melaporkan kejadian lalu lintas di lapangan. “Di antaranya laka lantas dan kemacetan,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Dugaan Kasus Bully di SMA Taruna Nusantara Magelang Terus Diselidiki Polisi

Foto SMA Taruna Nusantara Magelang. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Magelang – Kasus “bully” (perundungan) terjadi di SMA Taruna Nusantara (TN), Kabupaten Magelang, Kamis (31/8/2017) siang. Atas kejadian, keluarga berinisial MIH (15) melapor ke Polres Magelang. Laporan diterima Waka Polres Magelang Kompol Heru Budiharto, di mapolres setempat, Sabtu (2/9/2017).

“Kasus tersebut dilaporkan oleh ibu korban dengan inisial EC (45), kemudian Polres Magelang menerbitkan laporan polisi yang berkaitan dengan UU nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan UU RI Nomor 23/2003 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman tiga tahun enam bulan,” kata Heru.

BacaKecelakaan Mio vs Supra di Jalan Winong-Gabus, Satu Orang Tewas di Lokasi

Ia menuturkan Polres Magelang masih melaksanakan proses penyelidikan karena berkaitan dengan pengambilan keterangan dari saksi terlapor. Sementara pihak sekolah terus berupaya melakukan komunikasi dengan korban MIH. Kendati demikian, sekolah belum tahu apakah siswa yang dimaksud merupakan pihak yang melaporkan kasus dugaan bullying ke polisi, atau bukan.

BacaIni Nama-nama Korban Bus Peziarah yang Terjun ke Jurang di Tergo Kudus

“Ada siswa berinisial MIH kelas XI dan beberapa kali mengalami kendala dalam berhubungan (interaksi sosial) dengan teman-teman sekelas (asrama),” kata Kepala Humas SMA Taruna Nusantara, Cecep Iskandar di Magelang, Selasa (5/9/2017).

Siswa tersebut pernah mengalami konflik dengan teman satu asrama. Sekolah sudah berupaya berkomunikasi dengan orang tua.

Baca : Penutupan Obyek Wisata Waduk Kedungombo Diduga Karena Kasus Pungli

Biasanya perselisihan antar siswa di sekolah tersebut diselesaikan secara internal. Mulai dari wali graha (wali asrama) yang bertanggung jawab langsung terhadap siswa. Jika laporan tidak teratasi atau orang tua belum merasa puas, bisa dilaporkan kepada pemangku kebijakan lebih tinggi di SMA TN.

Adanya dugaan bullying yang menimpa siswa MIH terjadi di dalam Graha Rajawali Kompleks SMA Taruna Nusantara. Aksi tersebut dilaporkan terjadi pada Kamis (31/8/2017) siang. Ibu korban EC melaporkan hal ini ke Polres Magelang, Sabtu (2/9/2017).

Editor : Akrom Hazami

Baca : GEGER NIKAH SESAMA PEREMPUAN, Rencana Resepsi Digelar Hari Ini di Purworejo, Berikut Infonya

Usai Kontes, Sepeda Motor Kece Ini Ditegur Polisi Magelang 

Polisi menegur pemilik sepeda motor modifikasi di Desa Kalegen, Polsek Bandongan, Kota Magelang. (polresmagelangkota.com)

MuriaNewsCom, Magelang – Polres Magelang terus melakukan penertiban ke seluruh sudut kota setempat. Termasuk juga, mereka melakukannya hingga pedesaan. Tak heran jika polisi kerap menemukan pelanggaran di desa.

Salah satunya adalah, ditemukannya kendaraan sepeda motor modifikasi. Namun, modifikasi yang dilakukan tidak mengindahkan aturan lalu lintas. Dalam hal ini, adalah kelengkapan bagian kendaraan yang diabaikan.

Brigadir Nawa Luki, Bhabinkamtibmas Desa Kalegen Polsek Bandongan Resor Magelang Kota memberikan imbauan dan pesan kamtibmas saat patroli sambang di Dudun Kalegen. Pihaknya menemukan kendaraan tersebut dan menegur pemiliknya.

Madi, warga Kalegen yang asyik mengendarai sepeda motor warna ungu dihentikan polisi. Dalam bincang singkatnya, Brigadir Nawa memberi imbauan kepada Madi untuk melengkapi bagian dari sepeda motornya yang kurang. Seperti halnya, kaca spion dan ban sepeda motor. Seban ban sepeda motor tak standar malah rawan mengancam pengendara.

“Lek Di, minta tolong nanti apa besok, kalau pas senggang, motornya dipasangi spion dan ban juga diganti yang standar demi keselamatan,” kata Nawa dikutip dari web resmi polres setempat.

Dengan senyum malu-malu, Mardi, menyanggupinya. Dalam waktu dekat,dia siap melengkapi kendaraannya biar nyaman dipakai, dan tak mengancam keselamatannya berlalu lintas.

“Iya pak Nawa, mohon maaf, kemarin itu motor saya ikutkan kontes jadi belum saya pasangi kelengkapannya,” kata Mardi dengan senyum malunya.

Editor : Akrom Hazami

Stok Darah di Kota Magelang Saat Ini Tersisa Segini

Foto Ilustrasi. Petugas menunjukkan stok darah di kantor PMI. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Magelang – PMI Kota Magelang menyatakan saat ini stok darah di tempatnya tersisa 104 kantong. PMI terus melakukan pelayanan kegiatan donor darah di sejumlah tempat di Kota Magelang.

Staf Pencari dan Pelestari Donor Darah Sukarela PMI Kota Magelang Akadika Agus Kuncoro mengatakan stok darah di PMI Kota Magelang 104 kantong. “Dengan kegiatan sosial donor darah ini, tentu menambah stok darah di PMI Kota Magelang,” ujarnya di kesempatan donor darah di Komando Distrik Militer 0705/Magelang, Kamis (24/8/2017) dikutip dari Antara.

Komando Distrik Militer 0705/Magelang saat ini menyelenggarakan kegiatan sosial berupa donor darah melibatkan personel dari berbagai satuan di Kota Magelang. Hal itu dilakukan guna mendukung PMI setempat dalam pelayanan kebutuhan darah kepada masyarakat.

Komandan Kodim 0705/Magelang Letkol Inf Hendra Purwanasari setelah mengikuti donor darah mengatakan kegiatan dengan melibatkan ratusan personel TNI dan PNS tersebut dalam rangkaian HUT Ke-72 TNI di daerah setempat.

Ia mengemukakan tentang manfaat donor darah untuk membantu orang lain. Setelah diperiksa dan diuji keamanan dan kelayakannya oleh petugas PMI, katanya, kemudian darah tersebut digunakan untuk pasien yang membutuhkan. “Dengan donor seperti ini, kita membantu orang lain, menyelamatkan nyawa mereka,” ujarnya.

Selain membantu sesama yang membutuhkan darah, donor darah juga bermanfaat bagi kesehatan pendonornya. Bagi pendonor, ujarnya, aliran darah dalam tubuhnya menjadi lebih lancar. Donor darah juga mencegah penyumbatan arteri dan meningkatkan produksi sel darah merah si pendonor.

 

Editor : Akrom Hazami

Satlantas Polres Magelang Kota Kenakan Baju Adat Nusantara saat Kerja

Petugas Polres Magelang Kota mengenakan baju adat saat memberikan pelayanan kepada masyarakat. (Tribratanewsmagelangkota)

MuriaNewsCom, Kota Magelang – Gemerlap warna warni pakaian adat nusantara menghiasi semua loket pelayanan samsat, BPKB, dan SIM di Satlantas Polres Magelang Kota, Rabu (16/8/2017). Hal tersebut dilakukan untuk memperingati HUT ke 72 RI.

Kapolres Magelang Kota AKBP Hari Purnomo melalui Kasat Lantas AKP Marwanto menjelasakan bahwa pihaknya sengaja membuat pemandangan yang berbeda di setiap lini loket pelayanan, untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 72.

“Kami berikan penghormatan kepada bangsa besar dari Sabang hingga Merauke ini dengan berpakaian adat nusantara,” ucapnya dikutip tribratanewsmagelangkota.

Dengan berpakaian adat bercorak nusantara, maka pihaknya akan selalu ingat bahwa keberagaman bangsa indonesia tersusun serta terbentuk rapi dari berbagai etnis budaya yang berbeda baik pakaian, warna kulit dan bahasa.

Meski dalam perbedaaan namun keberagaman tersebut dapat tersatukan dengan Bhineka Tunggal Ika dari Pancasila, dan Polres Magelang Kota. “Melalui pelayanan Sat Lantas hari ini menggambarkan dengan jelas bahwa tetap indonesia, tetap pancasila dan tetap merah putih,” tegasnya.

Menurutnya,  tidak ada perbedaaan dalam layanan, senyum salam dan sapa tetap menjadi prioritas. “Semoga hari ini memberikan nuansa segar, adem, ayem serta menentramkan hati masyarakat yang datang ke kantor samsat, bpkb dan sim di Polres Magelang Kota yang promoter ini,” pungkasnya.

 

Editor : Akrom Hazami