Jagong Kamulyan Peringati 1 Abad Qudsiyyah Kudus

Seni Terbang Papat meriahkan kegiatan Jagong Kamulyan memperingati 1 Abad Qudsiyyah

Seni Terbang Papat meriahkan kegiatan Jagong Kamulyan memperingati 1 Abad Qudsiyyah. (Dok Madrasah Qudsiyyah)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Memperingati rangkaian 1 Abad Qudsiyyah Kudus, panitia menyelenggarakan “Jagong Kamulyan: Pesan Damai dari Menara Kudus untuk Membangun Jawa Tengah dan Indonesia Lebih Baik’’.

Dalam rilis persnya kepada MuriaNewsCom, Jagong Kamulyan digelar di Hotel Griptha Kudus, Kamis-Jumat (4-5/8/2016). Kegiatan ini diikuti oleh para santri kiai dan santri Madrasah Qudsiyyah, tokoh agama dan tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, sejarawan, aktivis mahasiswa hingga pelajar.

Jagong Kamulyan dibuka oleh sekretaris Kesbangpolinmas Jateng, Suwondo. Nampak hadir pada kesempatan itu, antara lain KH Nadjib Hasan (ketua Yayasan Menara Masjid dan Makam Sunan Kudus), H Abdul Hadi (ketua PCNU Kudus), KH Badawi Basyir (pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah), dan Djati Sholehah (kepala Kesbangpol Kudus).

Selain itu ada Dr Abdul Djalil  (akademisi STAIN Kudus), Dr Subarhkah dan Dr Hidayatullah (akademisi Universitas Muria Kudus/UMK), H Syafrul Kamaluddin (ketua Kadin Kudus), dan Aris Junaidi (mantan ajudan KH Abdurrahman Wahid).

Suwondo dalam sambutannya menyampaikan, Jagong Kamulyan  membincang pesan damai dari Menara Kudus ini bertujuan meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Selain itu, untuk memperkokoh karakter dan jati diri generasi muda Indonesia, meningkatkan kemandirian, kedewasaan dan membangun karakter bangsa dalam rangka memelihara persatuan dan kesatuan bangsa, serta mengidentifikasi persoalan-persoalan berikut langkah-langkah pencegahannya,’’ ujarnya.

Adapun manfaat dari kegiatan itu, terangnya, yaitu agar masyarakat bisa mengenali jat diri bangsanya dan membangun karakter diri bangsa yang mulia, kemudian mentransormasikan kepada masyarakat di sekitarnya.

“Selanjutnya, yaitu untuk menumbuhkan paradigma perubahan pada masyarakat, terutama generasi muda serta pentingnya  membangun karakter bangsa, sehingga melahirkan kepedulian terhadap kemajuan bangsa,’’ paparnya.

Terkait tema yang diusung, dia memandang sangat penting, karena banyak nilai-nilai yang bisa digali dari keberadaan Menara Kudus.

“Kabupaten Kudus memiliki menara yang memiliki filosofi dan makna sebagai cermin nyata warna-warni Kota Kudus yang menghormati tradisi Hindu di masa lampau,’’ jelasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Ditulis pada Tak Berkategori

Kisah KHR Asnawi, Tiap Jumat Pahing Berjalan 36 Km Ajarkan Agama

cak nun

Kegiatan pembacaan Salawat Asnawiyah di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Selain menjadi tokoh nasional, KHR Asnawi juga dikenal sebagai seorang guru ngaji. Hal itu dapat dilihat, dari keberadaan madrasah Qudsiyyah, yang didirikan olehnya.

Di antaranya, setiap Jumat Pahing, dia berjalan kaki sejauh 36 km demi mengajarkan ngaji kepada masyarakat.

“Tiap Jumat Pahing beliau ke gunung Muria, Masjid Muria. Dengan jalan kaki, beliau kesana demi mengajarkan tentang agama” kata KH Muzammil yang berasal dari Madura, Jatim.

Menurutnya, yang juga Ketua Bahtsul Masail Yogyakarta, apa yang dilakukan KHR Asnawi itu secara rutin hendaknya bisa dilanjutkan oleh generasi generasi selanjutnya.

Dia juga mengatakan kalau salawat merupakan cara doa menjadi mustajabah. Sebab, dengan salawat maka pasti mendapat pahala.

Dia sangat setuju jika Salawat Aswaniyah dibawa cak Nun. Karena Salawat Asnawiyyah jika dibawakan Cak Nun bisa sampai Nasional, bahkan bisa mencapai internasional.

“Sebelum pengajian ini, saya ziarah ke makam Mbah Asnawi,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Ditulis pada Tak Berkategori

Cak Nun : Indonesia Belum Aman

Cak Nun bersalaman dengan Ketua Yayasan Qudsiyah Nadjib Hasan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Cak Nun bersalaman dengan Ketua Yayasan Qudsiyah Nadjib Hasan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kehadiran budayawan Emha Ainun Najib atau biasa dipanggil Cak Nun, mampu menyedot ribuan penonton. Dalam kegiatan satu abad madrasah Qudsiyah, Cak Nun mengatakan kalau Indonesia belum aman.

“Keadaan Indonesia ini belum aman, masih banyak yang perlu diamankan,” katanya saat pengajian semalam di jalan KHR Asnawi Kudus.

Menurutnya, satu dari sekian kriteria aman adalah keamanan barang dan ekonomi. Hal itu, bukan hanya untuk diri dan keluarga, namun untuk sebuah negara. Dan faktanya, barang milik negara seperti emas dikuras oleh asing. Hal itulah yang masuk membuat Indonesia tidak aman.

Bahkan, Cak Nun mengibaratkan, kalau Indonesia bukan hanya perlu dijahit. Melainkan butuh diganti dengan yang baru.

“Kalau dalam syair lagu Lir Ilir ada Dondomono, maka Indonesia sudah jebol jadi harus diganti,” ungkapnya.

Dia mengatakan, kalau seorang melihat yang tidak beres dengan Indonesia. Maka tugas pertama adalah berjanji dengan dirinya untuk tidak berbuat itu. Dengan demikian Indonesia bisa menjadi baik.

“Mudah mudahan ini dari Kudus, yang akan menyebar se Indonesia. Apalagi ditambah dengan Salawat Aswaniyah ini,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Ditulis pada Tak Berkategori

Salawat Asnawiyah Kini Menasional

Pembacaan shalawat Aswaniyah di jalan KHR Asnawi Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pembacaan shalawat Aswaniyah di jalan KHR Asnawi Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus  – Salawat Asnawiyah merupakan salawat yang diciptakan KH R Asnawi.

Ketua Pengurus Yayasan M Nadjib Hasan saat kegiatan daulat Salawat Aswaniyah oleh Kiai Kanjeng dan Cak Nun, Rabu (3/8/2016), mengatakan, salawat itu akan diperuntukkan bagi Indonesia.

Pihaknya tidak mau egois dengan menyimpan salawat Aswaniyah untuk Kudus saja. Karenanya, Salawat Asnawiyah pun diharapkan bisa untuk seluruh warga Indonesia.

“Kami melihat kiai Kanjeng yang pas untuk membawa salawat ini sampai nasional. Kami melihat hanya beliau yang bisa,” katanya.

Menurut dia, Salawat Asnawiyyah mengandung nilai kebangsaan. Diketahui, KHR Asnawi atau Mbah Asnawi  semasa hidupnya juga mengajar Kitab Hadits Bukhori di Masjid Menara. Sebelum mengaji, Salawat Asnawiyah dibaca.

Kemudian, dilanjutkan KH. Arwani Amin yang mengajar Tafsir dan Hadits Bukhori juga mengawali ngaji dengan membaca Salawat Asnawiyyah.

Editor : Akrom Hazami

 

Ditulis pada Tak Berkategori

Inilah Alasan Kenapa Siswa Gambar Menara Kudus

qudsiyyah 2

Siswa menggambar Menara Kudus di Madrasah Qudsiyyah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Perlombaan menggambar Menara Kudus, bukanlah tanpa alasan. Melainkan, panitia ingin menunjukkan bahwa Kudus yang memiliki simbol Menara, yang juga sebagai simbol toleransi.

Hal itu disampaikan panitia kegiatan Abdul Jalil. Menurutnya, panitia sengaja memilih bentuk menara untuk menggambar.

Hal itu, sangat berhubungan juga dengan tema kegiatan yang membumikan Gusjigang.

“Jadi harus sesuai. Selain itu, menara juga contoh yang bagus, yang merupakan peninggalan Sunan Kudus,” katanya kepada MuriaNewsCom, Rabu (3/8/2016).

Menurutnya, dalam Gusjigang, bukan hanya dilakukan sebatas ucapan. Namun juga harus dilaksanakan. Dan menara, menjadi simbol yang pas untuk dijadikan gambaran.

Selain menggambar, sebelumnya juga dilakukan perlombaan mewarnai. Dalam lomba mewarnai, juga sama bertemakan Menara Kudus.

Editor : Akrom Hazami

 

Ditulis pada Tak Berkategori

Puluhan Siswa SD Sederajat Ramai-Ramai Gambar Menara Kudus

qudisyyah

Siswa mengikuti kegiatan lomba di Madrasah Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah puluhan siswa di Kudus, ramai-ramai menggambar Menara Kudus. Para peserta tersebut, datang memeriahkan kegiatan satu abad madrasah Qudsiyyah di jalan KHR Asnawi, Rabu (3/8/2016).

Panitia kegiatan, Sholihin Huda mengungkapkan, pada kegiatan menggambar kali ini, diikuti 30 peserta. Dalam lomba itu, bebas diikuti oleh para siswa SD/MI sederajat.

“Ada 30 peserta yang datang, baik laki laki maupun perempuan dari SD atau MI. Namun lombanya diberikan tema Menara. Jadi yang digambar hanya Menara saja,” katanya.

Waktu lomba dimulai pukul 13.30 WIB. Dan berakhir hingga pukul 16.00 WIB. Waktu itu merupakan durasi yang siswa menggambar Menara Kudus.

Adelia Indah, seorang peserta lomba asal SD 2 Demaan, Kota, mengaku senang dengan lomba itu. Dia menargetkan menang lomba.

“Tadi baru tahu sekitar jam 10.00 WIB. Saat itu dengan ibu mencari tempat daftar kemudian daftar,” ujarnya.

Meski baru tahu, dia yakin akan menang. Sebab, dia sangat suka menggambar sejak usia satu tahun. Dan hingga kini sudah banyak perlombaan yang diikuti.

Editor : Akrom Hazami

 

Ditulis pada Tak Berkategori

Banyak Kejutan di Peringatan 1 Abad Qudsiyyah Kudus

qudsiyyah 2

Perwakilan panitia Satu Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pelaksanaan kegiatan puncak satu abad Madrasah Qudsiyyah, Kudus diprediksi akan ramai. Sebab, panitia sudah menyiapkan acara yang tidak biasa, dan banyak kejutan.

Perwakilan panitia kegiatan Abdul Jalil, mengatakan kalau kegiatan akan berjalan mulai 1 hingga 7 Agustus. Dan tiap harinya bakal berlangsung kegiatan yang berbeda.

“Seperti pembukaan 1 Agustus, bakal dihadiri Kepala Litbang Kemenag RI. Kami sudah kontak dengan mereka,” katanya.

Selanjutnya, kegiatan akan dilangsungkan dengan halaqoh santri dan konser budaya santri. Pada Selasa 2 Agustus, ada Mubarok Kids and Friend Show yang dilahirkan dengan deklarasi santri mandiri serta peluncuran album Al Mubarok volume XI

“Kegiatan lain adalah Lomba Mewarnai dan Gambar Menara. Lalu dilanjutkan dengan konser 100 selawat pada Kamis,” imbuhnya.

Kegiatan selanjutnya adalah Menulis Alquran 30 juz. Yang menulis adalah santri yang mencapai 1.000 orang.

Perwakilan Yayasan Qudsiyah, Nadjib Hasan mengatakan, album tersebut sekaligus lagu yang dibuat mencapai 100. “Ini sebuah kebetulan,” kata Nadjib.

Dia mengatakan, dalam kegiatan juga ada peluncuran program IPA. Selama ini hanya terdapat Prodi IPS saja. Hal itu berdasarkan masukan oleh banyak pihak.

“Kegiatan ditutup musik religi, yang berlangsung Ahad mendatang, 7 Agustus,” ungkapnya.

Dia menambahkan, kegiatan itu merupakan kegiatan dari santri, baik alumni dan siswa di sana. “Kami ingin menyatukan balung pisah. Jadi kami libatkan semuanya,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Ditulis pada Tak Berkategori

Santri Qudsiyyah juga Harus Bercita-Cita Tinggi

Siswa kelas VIII MTs Qudsiyyah Khoirul Anam (14). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa kelas VIII MTs Qudsiyyah Khoirul Anam (14). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Siswa aktif maupun lulusan dari Madrasah Qudsiyyah memang tidak dipaksa untuk menjadi ustaz, kiai atau ulama oleh gurunya. Namun pesan dari pendidiknya ialah supaya para siswa atau lulusan tersebut dapat selalu mengedepankan ajaran agama saat meraih cita cita di manapun berada.

Seperti halnya siswa kelas VIII MTs Qudsiyyah Khoirul Anam (14) ini. Sebab dirinya mengatakan bahwa santri atau lulusan dari Qudsiyyah itu boleh di mana-mana, namun jangan kemana-mana.

“Arti dari boleh di mana mana asal jangan kemana-mana ialah, para santri dan lulusan ini boleh menjadi apapun, boleh meraih cita cita apapun yang penting halal. Namun jangan sampai larut dalam kegiatan atau tindakan negatif. Selain itu, untuk menangkal tindakan itu, jiwa santri harus selalu mengedepankan ajaran Islam, apapun pekerjaanya,” ujarnya.

Sementara itu, di hari jadi Qudsiyyah yang ke-100 tahun ini, siswa yang berasal dari Pedurungan Tengah RT 1 RW 2 Pedurungan, Semarang ini berharap kepada siswa lain supaya bisa mengedepankan jiwa santrinya.

“Bila jiwa santri yang identik dngan kesederhanaan selalu dikedepankan, maka tindakan korupsi, tindakan mencuri di  saat sudah menjadi orang besar akan bisa terhindar,” ungkapnya.

Selain itu, siswa yang selalu mendapatkan ranking 5 besar di kelasnya ini juga berkeinginan untuk bisa selalu mengembangkan ajaran gurunya di saat pulang ke Semarang.

“Yang penting jadi orang itu tidak harus muluk-muluk untuk meraih cita-cita. Akan tetapi bagaimana yang paling inti ialah bisa mengamalkan ajaran guru, ulama yang sudah kita dapat. Sementara itu, bila sudah bermanfaat di lingkungan masyarakat, maka hidup akan nyaman, tenang dan barokah,” imbuhnya.

Dengan adanya prinsip hidup santri Qudsiyyah boleh di mana-mana, asal jangan kemana-mana itulah, siswa yang sekarang mondok di Ma’had Qudsiyyah ini menjalani dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik setelah lulus nanti.

Editor : Akrom Hazami

 

Ditulis pada Tak Berkategori

Santri Qudsiyyah Kudus Dituntut Mandiri

Logo-Satu-Abad-Qudsiyyah-1-1024x700

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Menjadi lulusan yang bisa mengharumkan nama sekolah memang sebuah kebanggan tersendiri bagi para pendidik dan siswa itu sendiri. Namun kebanggan itu bukan berarti bersifat mendapatkan hadiah atau penghargaan di bidang akademik atau sejenisnya.

Akan tetapi kebanggaan para guru terhadap murid itu bisa berupa sikap kemandirian, atau karakteristik yang menonjol pada diri siswa yang baik di kehidupan masyarakat.

Oleh sebab itu, pada acara 100 tahun Qudsiyyah ini, para santri diharapkan tetap meneguhkan kemandirian dan harus mempunyai karakter yang berbeda dari santri lainnya. Sehinga dalam acara tersebut bakal menggelar diskusi tentang “Menjadi Santri Mandiri dan Berkarakter”.

Sekertaris 100 tahun Qudsiyyah Abdul Jalil mengatakan, kegiatan halaqah atau diskusi tentang santri mandiri dan berkarakter ini merupakan cara untuk meneguhkan jiwa santri.”Supaya meraka bisa mandiri baik itu ekonomi dalam hal ini mengedepankan gusjigang,” paparnya.

Diketahui, diskusi tersebut bakal digelar pada Senin tanggal 25 Juli 2016 di hotel @home Kudus. Selain itu juga akan dihadiri santri Qudsiyyah maupun alumni Qudsiyyah.

“Setidaknya bila diskusi tentang kemandirian santri dan karakteristik santri, maka akan bisa memberikan pengetahuan bahwa santri Qudsiyyah juga bisa bersaing dengan lulusan manapun dan bisa berhasil sesuai kemampuan atau intelektualnya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Ditulis pada Tak Berkategori

Sholawat Asnawiyah Bakal Menggema di Seluruh Nusantara

Logo Satu Abad Qudsiyyah

 

MuriaNewsCom, Kudus – Shalawat Asnawiyah yang diciptakan KHR Asnawi saat masa-masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, merupakan bentuk dari kecintaannya terhadap bangsa Negara Indonesia.

Oleh sebab itu, Shalawat Asnawiyah tersebut juga sering disebut dengan julukan ”sholawat nasionalis”. Sehingga dalam rangka peringatan satu abad atau seratus tahun Madrasah Qudsiyyah, shalawat ini akan berkumandang ke seluruh Nusantara.

Sekretaris panitia Satu Abad Qudsiyyah Kudus Abdul Jalil mengatakan, shalawat yang diciptakan KHR Asnawi tersebut, merupakan bentuk kecintaan terhadap NKRI.

Inilah lirik dari shalawat tersebut, yang juga bisa Anda senandungkan. Yakni Ya Robbisholli ‘ala Rasuu li Muhammadin sirril ‘ulaa, Wal anbiyaa’ wal mursaliin al ghurri khot man awwalaa,

Ya Robbi nawwir qolbanaa binuri quraanin jala, Waftah lanaa bidarsin aw qiroatin turottalaa, Warzuq bifahmil anbiyaa lanaa wa ayya mantalaa, Tsabit bihi iimananaa dunya wa ukhron kamila Aman aman aman aman Indonesia Raya Aman, Amin amin amin amin Yaa Robbi Robbal ‘alamin, Amin amin amin amin wayaa mujiibasassailiin.

Menurut Jalil, bait shalawat yang tertera nama ”Indonesia Raya” tersebut merupakan sebuah doa untuk mendoakan nasib bangsa. Supaya tidak terkena musibah atau sejenisnya.

”Oleh sebab itu, shalawat itu nantinya bakal dikumandangkan setiap saat. Bahkan akan dikenalkan ke seluruh Nusantara. Sebab saat reorganisasi NU tahun 2015 di Jawa Timur itu, shalawat ini sudah dikenalkan kepada seluruh warga NU,” ujarnya.

Dia menambahkan, mudah-mudahan dengan dikumandangkan Shalawat Asnawiyah atau juga shalawat nasionalisme ini bisa membangkitkan semua orang untuk selalu mencintai NKRI.

”Serta untuk meneladani sosok KHR Asnawi sebagai sosok yang religius dan nasionalis,” imbuhnya.

Editor: Merie

Ditulis pada Tak Berkategori

Lomba Qudsiyyah Juga Jadi Ajang Pertemanan

Logo Satu Abad Qudsiyyah

 

MuriaNewsCom, Kudus – Aneka lomba bakal digelar dalam rangka peringatan Satu Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus tahun ini. Lomba ini juga dimaksudkan untuk memperat pertemanan.

Salah satu siswa Madrasah Qudsiyyah yang bernama M Najib, (13), mengatakan jika lomba di hari jadi Qudsiyyah yang 100 tahun ini, bukan sekadar menambah ilmu. Namun juga dapat menambah teman.

”Sebab nantinya peserta lomba berasal dari pelajar di tingkat Jawa Tengah. Sehingga kita bisa kenal siswa dari sekolah lain juga,” jelasnya kepada MuriaNewsCom, Selasa (12/4/2016).

Lomba tingkat Jawa Tengah ini, akan berlangsung dari 2-6 Agustus 2016 mendatang. Dengan adanya lomba ini, tentunya akan dapat memberikan pengetahuan. Baik itu dari siswa Qudsiyyah sendiri maupun siswa dari sekolah lainnya.

”Nantinya kita juga bisa berbagi pengalaman dari siswa sekolah lain. Baik itu kesan-kesan sekolah di Qudsiyyah ini, maupun sebaliknya. Selain itu, kita juga bisa memberikan pengenalan profil sekolah atau profil KHR Asnawi (pendiri Qudsiyyah, red) kepada siswa sekolah lainnya,” ungkapnya.

Karena itulah Najib mengatakan jika dirinya akan mempersiapkan diri sebaik mungkin, untuk bisa ikut mendaftar di lomba tersebut. Dia memilih ikut lomba pidato.

”Yang saya inginkan yakni lomba pidato. Sebab pidato itu menantang. Yakni melatih mental untuk menyampaikan ilmu agama di depan orang lain. Khususnya ajaran KHR Asnawi sebagai pendiri Qudsiyyah ini,” imbuhnya.

Editor: Merie

Ditulis pada Tak Berkategori

Asah Kemampuan Santri, Qudsiyyah Gelar Lomba Tingkat Jateng

Logo Satu Abad Qudsiyyah

 

MuriaNewsCom, Kudus – Salah satu cara mengasah ketrampilan dan ilmu pada santri Madrasah Qudsiyyah Kudus, saat peringatan Satu Abad Madrasah Qudsiyyah tahun ini, bakal digelar berbagai lomba.

Ketua panitia kegiatan Satu Abad Madrasah Qudsiyyah Ihsan mengatakan, lomba itu nantinya bisa mengasah ketrampilan para santri. ”Sehingga ilmu pengetahuan mereka dapat berkembang. Di mana lomba tersebut akan diikuti oleh pelajar tingkat Jawa Tengah,” paparnya.

Lomba yang akan digelar pada tanggal 2 hingga 6 Agustus 2016 ini terdiri dari lomba rebana, cerdas cermat, maupun yang lain.

”Untuk jenis lomba nantinya akan berkaitan dengan kegiatan siswa semasa di sekolah. Baik itu kaligrafi, rebana, cerdas cermat, pidato atau sejenisnya,” ungkapnya.

Dia menambahkan, dengan adanya kegiatan lomba, maka motivasi bagi santri akan terus terjaga. Sehingga persaingan antarpelajar untuk menuju kebaikan atau meraih presatsi juga bisa nyata.

”Baik itu ilmu pengetahuan di bidang keagamaan maupun umum,” imbuhnya.

Editor: Merie

Ditulis pada Tak Berkategori

Alumni Qudsiyyah Berharap Santri Bisa Meniru KHR Asnawi

satu abad qudsiyyah-tyg pkl 2200 wib (e)

Kesenian bernuansa islami diajarkan di Madrasah Qudsiyyah Kudus. Ini sebagai bekal mereka untuk menjalani kehidupan sehari-hari, di samping ilmu yang sudah didapat selama ini. (MuriaNewsCom/EDY SUTRIYONO)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ada banyak sekali alumni santri dari Madrasah Qudsiyyah Kudus. Mereka memiliki harapan tersendiri pada satu abad peringatan madrasah tersebut.

Salah satu alumni Qudsiyyah Kudus Gus Apank mengatakan, dirinya berharap semua santri aktif maupun lulusan Qudsiyyah, bisa meniru perilaku KHR Asnawi.

”Bila kita contohkan, kedua album yang berjudul Khudz Badala dan ‘Isy Ghotthi yang diciptakan guru Qudsiyyah bernama Syaifudin Luthfi tersebut, merupakan arahan bagi semua santri yang ada,” paparnya.

Menurutnya, album yang berjudul Khudz Badala atau yang berarti ”Carilah Penggantiku” ini, merupakan mengisahkan Madrasah Qudsiyyah. Di mana album itu merupakan doa serta perjuangan para guru, yang berjuang di madrasah ini maupun di luar madrasah.

”Sehingga setiap santri harus bisa mempertahankan ilmu yang diberikan oleh bapak guru. Dan harus ikut tuntunan yang disampaikan KHR Asnawi sebagai pendiri madrasah,” tuturnya.

Sedangkan album yang berjudul Isy Ghotthi intinya ialah untuk mengenang KHR Asnawi sebagai guru bangsa. Baik itu sebagai tokoh ulama pendiri NU maupun sebagai pengajar atau pemuka agama.

”Yang terpenting ialah bagaiamana para santri ini bisa terus melanggengkan kebaikan, melalui ilmu yang sudah didapatnya saat masih duduk di Qudsiyyah. Selain itu juga bisa mengamalkan kepada masyarakat, bahwa ilmu pemberian dari guru dan ulama ini dapat bermanfaat,” ungkapnya.

Dia menambahkan, ajaran dari guru atau ulama yang sudah diberikan kepada santri, memang akan bisa bermanfaat, bilamana mereka dapat mengamalkan kepada masyarakat yang ada.

”Sebab bekal ilmu agama ini memang penting untuk sebagai penyeimbang ilmu pengetahuan di saat modernisasi zaman,” imbuhnya.

Editor: Merie

Ditulis pada Tak Berkategori

Satu Abad Qudsiyyah jadi Momen Teladani KH R Asnawi

Logo Satu Abad Qudsiyyah

 

MuriaNewsCom, Kudus – Santri aktif dan alumni Madrasah Qudsiyyah Kudus memperingati 100 tahun atau satu abad berdirinya lembaga pendidikan itu.
Selain digelar berbagai acara, santri juga dituntut untuk bisa meneladani sikap dan tindak-tanduk sang pendiri, KH R Asnawi.

Ketua panitia peringatan 100 tahun Madrasah Qudsiyyah Kudus, Ihsan mengatakan, pihaknya menyelenggarakan berbagai acara dalam kesempatan tersebut.

“Mulai dari nyepeda bareng santri, bedah buku, mengenalkan Selawat Asnawiyah dan lainnya,” kata Ihsan.

Dia berharap, santri maupun warga Kudus dan sekitarnya bisa mengenal luas Qudsiyyah, bahkan bisa meneladani sosok KH R Asnawi.

Dikutip dari buku Kyai Tanpa Pesantren Potret Kyai Kudus karangan Prof H Abdurrahman Mas’ud, Ph.D yang juga membahas sosok KH R Asnawi, diceritakan tentang singkat sosoknya.

KH R Asnawi mendirikan Madrasah Qudsiyyah pada 1919 M. Pada 26 September, KH R Asnawi mendirikan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, 26 September 1927 M.

Adapun karya dan peninggalan KH R Asnawi ada yang berupa kitab Fashalatan, kitab Soal Jawab Mu’taqad Seket, dan ada juga yang berupa syair tentang nilai agama dan nilai kebangsaan. Sang kiai juga ikut andil membendung arus kolonialisme Belanda, ketika masa penjajahan.

Baginya, segala yang dilakukan Belanda tidak boleh ditiru. Sehingga banyak produk hukum fikih pada masa penjajahan Belanda, oleh KH R Asnawi selalu disandarkan pada prinsip tegas anti kolonialisme.

“Dalam meneldani KH R Asnawi itu paling tidak ada lima aspek. Di antaranya ialah tentang dakwah keumatannya atau dalam rangka berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat dengan cara halus dan sopan. Selanjunya, kebangsaan cinta NKRI, ibadah, menghargai budaya yang ada di Kudus serta kemandirian. Baik itu kemandirian di bidang ilmu atau yang lainya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Ditulis pada Tak Berkategori

Ini yang Dilakukan Agar Sejarah Qudsiyah Kudus Tidak Terputus

qudsiyah upload jam 23 (e)

Siswa melakukan ziarah ke Makam KHR Asnawi (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus  Ada beberapa cara agar sejarah Qudsiyah Kudus tidak terputus begitu saja pada generasi penerus. Salah satu cara yang dilakukan yakni dengan mengenalkan kepada siswa mengenai perjalanan panjang mengenai awal berdirinya Madarasah Qudsiyah.

Pada peringatan Satu Abad Qudsiyah, pihak panitia mengajak siswa untuk melakukan ziarah ke Makam KHR Asnawi, yang merupakan pendiri Madrasah Qudsiyah. Hal ini, supaya siswa tahu tokoh-tokoh dan pendiri Madrasah Qudsiyah.

Panitia penyelenggara peringatan Satu Abad Qudsiyah Abdul Jalil mengatakan, sejarah Qudsiyah memang perlu dikenalkan kepada siswa, sehingga siswa bisa tahu mengenai siapa tokoh pendirinya, ataupun perjalanan Qudsiyah dari masa ke masa.

“Kita mencoba mengenalkan mengenai sejarah Qudsiyah ini kepada siswa dan juga masyarakat, baik dari awal berdirinya maupun hingga kini,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, untuk mengetahui mengenai sejarah Qudsiyah, siswa ataupun masyarakat juga bisa melihat dokumen-dokumen mengenai madrasah yang dipasang secara terbuka. Sehingga, siswa bisa melihat dan membaca mengenai sejarah Qudsiyah.

Dirinya juga mengatakan, jika peringatan Satu Abad Qudsiyah bukan semata untuk seremonial saja, namun, yang lebih penting dari itu yakni untuk mengenalkan kembali Qudsiyah ini berdiri hingga sekarang.

Faza, siswa Qudsiyah mengatakan, senang bisa ikut kegiatan bertajuk Satu Abad Qudsiyah bersama dengan teman-temannya. “Senang, jadi bisa ikut meramaikan kegiatan 100 tahun Qudsiyah. Apalagi acaranya besar,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Ditulis pada Tak Berkategori

Pri GS: Kita Rindu Kiai Kharismatik

upload jam 1830 qudsiyah (e)

Tiga orang pembicara yang hadir dalam acara bedah buku Kyai Tanpa Pesantren (Potret Kyai Kudus), yang diselenggarakan dalam rangka Satu Abad Madrasah Qudsiyyah, Sabtu (2/4/2016) (MuriaNewsCom/Merie)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sosok kiai, terutama kiai sepuh yang kharismatik, rupanya bisa membuat seseorang makin mencintai kearifan lama.

Hal itu disampaikan budayawan Prie GS, yang hadir sebagai pembicara dalam bedah buku Kyai Tanpa Pesantren (Potret Kyai Kudus), yang diselenggarakan dalam rangka Satu Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus, di @hom Hotel, Sabtu (2/4/2016).

Prie mengatakan ada banyak contoh dari para kiai sepuh di Kudus, yang mampu membuat semua orang menghargai kearifan lokal.

“Contoh saja bagaimana romantisme para kiai itu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sangat luar bagaimana memperlakukan mulai dari keluarga sampai warganya dengan luar biasa. Itu yang perlu kita contoh,” jelasnya.

Melacak sejarah guru-guru besar dalam hal ini para kiai, menurut Prie, dapat menyembuhkan diri kitab dari hal-hal negatif.

“Ajaran kiai-kiai sepuh itu mampu membuat kita kembali, kepada kearifan lama yang sangat bagus,” katanya.

Dan Prie menegaskan bahwa pesantren,  adalah benteng terakhir dalam melawan penjajahan yang semakin hari semakin banyak yang muncul.

“Penjajahan itu masuk semakin sering dan banyak. Baik lewat lidah, tata ruang dan lain sebagainya. Contoh ruko-ruko yang banyak dibangun sekarang. Itu penjajahan. Dan tidak perlu orang pintar untuk membuat ruko. Wong, cuma kotak-kotak begitu. Tidak ada estetika,” paparnya.

Membicarakan pesantren, menurut Prie, adalah membicarakan persoalan kultural. Dan persoalan kultural adalah yang paling dirindukan saat ini.”Dan kita memang sangat rindu untuk berbicara, berdiskusi, dan memiliki hal-hal kultural itu,” imbuhnya.

Editor: Merie

Ditulis pada Tak Berkategori