Hujan Deras, Sungai di Desa Sengon Bugel Jepara Meluap

MuriaNewsCom, Jepara – Hujan berdurasi lama menyebabkan aliran sungai di Desa Sengon Bugel, Kecamatan Mayong meluap hingga ke jalan raya, Senin (5/2/2018) sore. Praktis hal itu menyebabkan antrean kendaraan cukup panjang, sekitar satu kilometer lebih.

Sugiharto (30) warga Pecangaan Kulon mengaku lebih memilih berbalik arah ketimbang meneruskan perjalanan. Ia takut kalau-kalau motornya mati dan ia harus mendorong kendaraannya.

“Saya pilih balik saja, memutar lewat Rajegwesi kemudian ke Batealit dan ke Pecangaan, daripada mesinnya mati,” katanya.

Pantauan MuriaNewsCom, air dari Sungai Bugel meluap sekitar 30 centimeter lebih. Jika lebih mendekati sungai, maka kedalamannya pun semakin bertambah. Beberapa motorpun ada yang terlihat mati mesin karenanya.

Bagi yang nekat menyebrang, mereka sebenarnya bisa menyewa gethek yang disewakan oleh warga sekitar. Namun jumlahnya yang tak banyak, mengakibatkan mereka harus mengantre.

Para pengguna jalan terjebak macet akibat luapan air sungai saat hujan deras. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Satria (30) warga sekitar menyebut, genangan air di wilayah tersebut sudah lazim terjadi jika hujan dengan intensitas yang lama. Namun demikian, setelah hujan berhenti, air kemudian berangsur-angsur surut.

Dari pengamatan lapangan, jalanan yang tergenang air bukan hanya di satu titik. Dari sepanjang jalan Nalumsari hingga Sengon Bugel, setidaknya terdapat tiga titik genangan. Pertama di ruas sebelum Pasar Mayong, kedua di depan Polsek Mayong dan di sekitar jembatan kecil Sengon Bugel.

Untuk mengurai kemacetan, Satlantas Polres Jepara menurunkan personel. Iptu Suyitno KBO Lantas Jepara menyebut, di titik depan Mapolsek Mayong kemacetan dikarenakan sungai kecil di sekitar tempat itu tak mampu menampung air hujan.

“Hujan dari tadi pagi hingga kini, menyebabkan sungai meluap. Kebetulan lokasi ini adalah cekungan jadi menyebabkan genangan air. Ketinggiannya mencapai 20-30 centimeter,” ujarnya.

Selain karena banjir, kemacetan juga ditimbulkan oleh karyawan pabrik yang sedang pulang dari tempat kerja. Sementara itu, banjir juga sempat menggenangi RSU PKU Muhammadiyah Mayong. Namun tak lama setelahnya, air lantas surut.

Editor: Supriyadi

Banjir Kaligawe Capai Setengah Meter, Lewat Jalur Ini Biar Gak Kejebak Macet

MuriaNewsCom, Semarang – Banjir yang melanda wilayah Kaligawe, Kota Semarang, Sabtu (3/2/2018) pagi semakin meninggi. Ketinggian air di jalan utama mencapai 50 cm, hingga menyebabkan kemacetan yang sangat panjang.

Banyak kendaraan yang terjebak macet dan mogok, akibat air masuk ke dalam mesin. Banjir semakin meninggi sejak Senin (2/2/2018) kemarin, seiring hujan yang terus mengguyur Kota Semarang.

Sejumlah pengendara yang terjebak banjir mengeluhkan panjangannya kemacetan yang terjadi. Afif, warga Pati mengaku terjebak macet selama dua jam saat melintas di Jalan Kaligawe.

”Saya mau balik ke Pati. Dari bawah jembatan tol sampai ke pos polisi Genuk itu sampai dua jam. Banjir robnya tinggi, bahkan tadi ada beberapa motor yang mogok,” katanya.

Kanit Lantas Polsek Genuk, AKP Irianto dalam wawancara langsung dengan Radio Elshinta Semarang menyebut, ketinggian air di jalan utama itu berkisar antara 30-50 cm. Kondisi ini menurut dia, sudah terjadi hampir sepekan ini. ”Yang paling parah, atau puncaknya dua hari ini,” ujarnya.

Titik paling tinggi genangan menurut dia berada di depan Gang Macan, Genuk di mana ketinggian mencapai 50 sentimeter. Ia juga menyebut pemompaan belum bisa dilakukan, karena ketinggian banjir dengan saluran air masih sama.

Untuk mengatur lalu lintas, pihaknya telah mengerahkan personel di sejumlah titik. Pihaknya juga mengimbau agar pengendara menghindari jalur Kaligawe agar tak terjebak macet akibat banjir rob yang masih tinggi.

“Personel di lapangan juga mengarahkan pengendara agar menggunakan jalur alternatif agar tak terjebak macet,” terangnya.

Jalur alternatif yang bisa digunakan pengendara yakni melewati Jalan Woltermongensidi. Dari arah timur (Pati, Kudus, Demak) setelah sampai lampu merah (pertigaan) Genuk, ambil kiri ke Banget Ayu, dan tembus ke Jalan Majapahit Semarang.

Dari arah Jakarta dan Solo, untuk pengguna mobil pribadi bisa masuk ke tol dan keluar di pintu tol Gayamsari, lalu menuju Jalan Woltermongensidi, dan sampai ke Genuk. Sementara pengendara sepeda motor masuk dalam Kota Semarang, dan menuju Arteri Soekarno-Hatta, dan masuk ke Banget Ayu, maka akan sampai ke pertigaan Genuk, dan ambil kiri menuju Surabaya.

Editor : Ali Muntoha

Hati-hati, Kawasan Wisata Muria Sering Macet

Kepadatan lalu lintas nampak di kawasan Wisata Colo. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bagi para masyarakat yang hendak mengisi liburan ke kawasan Pegunungan Muria, haruslah berhati-hati. Karena, sepanjang perjalanan ke kawasan atas Kudus itu bakal menjumpai kepadatan lalulintas.

Nomi P, Warga Desa Colo Kecamatan Dawe mengatakan, kemacetan di kawasan atas tidak dapat dijadwalkan. Yang jelas, beberapa kali dalam sehari selalu terjadi kemacetan yang cukup parah disana.

“Seperti halnya semalam, Minggu (24/12/2017). Untuk menempuh jarak sekitar tiga kilometer atau dari portal masuk hingga rumah membutuhkan waktu hingga tiga jam,” katanya kepada MuriaNewsCom

Selain itu, kata dia, kemacetan kembali terulang lagi tadi pagi, Senin (25/12/2017) sekitar pukul 05.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB. Kepadatan lalulintas kembali terulang dengan banyaknya kendaraan yang menuju ke kawasan Wisata Colo.

Menurut dia, mendekati liburan panjang, banyak masyarakat yang memanfaatkannya untuk berlibur. Dan Pegunungan Muria atau obyek Wisata Colo termasuk lokasi wisata yang ramai dikunjungi.

Untuk itu, dia berharap adanya petugas khusus yang membantu lalu lintas agar tetap tertib. Sebab dia menduga penyebab kemacetan tak hanya banyaknya kendaraan yang datang. Melainkan juga dari asal selip kendaraan.

Kapolsek Dawe AKP Suharyanto membenarkan adanya kemacetan beberapa kali dikawasan atas. Namun dia memastikan kemacetan tak akan lama karena petugas langsung turun saat ada info kemacetan.

“Kami selalu siagakan petugas untuk mengatur lalulintas di kawasan Colo. Karena, saat seperti ini memang paling rawan tersendat dengan banyaknya peziarah yang datang,” ungkap dia.

Dia menyebutkan, kemacetan biasanya datang saat kendaraan peziarah jenis bus berdatangan. Biasanya tibanya saat sore atau malam hari.

Editor: Supriyadi

Koalisi Rakyat, Ormas, dan LSM Kudus Tolak Pembangunan SPBU

Puluhan massa membawa sepanduk berisi tuntutan terhadap pendirian SPBU di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Puluhan warga yang mengatasnamakan koalisi rakyat, ormas, dan LSM Kudus menolak pembangunan SPBU baru di Simpang Tujuh Kudus, Senin (16/10/2017).

Penolakan tersebut lantaran SPBU di Kudus dinilai sudah terlalu banyak dan akan menambak kesemprawutan lalulintas jika terus bertambah.

Koordinator aksi, Sunardi, mengatakan penolakan pembangunan baru SPBU di Kudus terdapat di dua titik. Pertama yaitu di jalan Jenderal Soedirman kawasan depan Polres Kudus, sedang kedua berada di jalan KHR Asnawi atau sebelah barat pabrik HIT Pilitron.

“Kudus kota yang kecil, jadi tak butuh penambahan baru SPBU. Apalagi, selama ini tidak ada kesulitan SPBU yang sampai kehabisan. Jadi sudah cukup,” katanya saat aksi

Menurut dia, jumlah SPBU di Kudus kini sudah mencapai 19  SPBU. Jumlah tersebut sudah tersebar di sembilan kecamatan di Kudus. Sehingga tidak membutuhkan tambahan SPBU lagi.

Selain jumlah SPBU yang sudah banyak, kata dia, lokasi yang dipilih juga berada di kawasan perkotaan. Jika dibangun SPBU, maka akan berdampak pada kemacetan yang timbul. Artinya, kemacetan di perkotaan akan makin tinggi.

“Untuk itu, kami dari masyarakat meminta agar tak usah adanya penambahan SPBU di Kudus.  Kami meminta pemerintah menolak pembangunan baru SPBU di Kudus,” ujarnya yang juga ketua LSM Perintis.

Editor: Supriyadi

Truk Terbakar di Jembatan Wonokerto Demak

Sebuah truk terbakar di jembatan Wonokerto, Kabupaten Demak, Rabu. (Facebook)

MuriaNewsCom, Demak – Insiden kebakaran kendaraan truk terjadi di jalan pantura Demak, tepatnya di jembatan Wonokerto, Rabu (4/10/2017). Belum diketahui apakah ada korban atau tidak.

Info yang dihimpun, truk mulanya menyangkut kabel listrik di tepi jalan. Truk pun langsung terbakar. Pengguna jalan dan warga berupaya memadamkan api dari kendaraan tersebut.

Akibat insiden itu, jalur pantura menjadi macet. Bahkan kemacetan sendiri terjadi sejak dari Sayung. Titik itu juga menjadi langganan kemacetan beberapa waktu terakhir. Karena adanya perbaikan jembatan.

Salah satu pengguna jalan yang melintas tak jauh dari lokasi, David A mengeluhkan kemacetan parah. “Macete nganti kudu edan,” kata David.

Akibat kebakaran truk gara-gara tersangkut kabel listrik juga berakibat padamnya arus listrik. Hal itu disampaikan oleh Manajer PLN area Demak-Grobogan Mundakir. “Memang ada truk nyangkut kabel PLN. Ada pemadaman sementara,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Karnaval di Pati Mengular 2 Kilometer, Jalanan Macet Total


Suasana karnaval pembangunan di Jalan Kolonel Sunandar Pati, Selasa (29/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Karnaval pembangunan bertema “Noto Projo Mbangun Deso” yang dihelat di sepanjang jalan di kawasan Pati Kota, Selasa (29/2/2017) menyebabkan macet total. Hal itu disebabkan panjangnya karnaval yang mengular hingga hampir menyentuh 2 kilometer.

Pantauan MuriaNewsCom di kawasan Jalan Kolonel Sunandar Pati, kendaraan roda empat yang terlanjur terjebak jalur karnaval terpaksa berhenti hampir sejam. Pasalnya, ribuan warga yang membanjiri karnaval masuk hingga ke badan jalan.

Mereka membentuk barisan di sepanjang jalan, melambaikan tangan kepada peserta karnaval, hingga mengabadikannya menggunakan telepon seluler. Kegembiraan warga meluap di sepanjang jalur yang dilewati karnaval.

Dyah Cahaya Paramudita (17), pelajar asal Winong Kidul mengaku sengaja menunggu karnaval di kawasan Pasar Puri sejak pukul 14.00 WIB. Dia senang karnaval tiba di Jalan Kolonel Sunandar sekitar pukul 15.00 WIB, setelah mulai berjalan dari Alun-alun sekitar pukul 13.30 WIB. 

“Meriah sekali ya suasananya. Saya datang bersama rombongan teman-teman SMK Tunas Harapan. Ini sudah sangat meriah, karnavalnya nggak selesai-selesai saking panjangnya,” kata Dyah.

Baca jugaRibuan Warga Pati Padati Festival Pembangunan Noto Projo Mbangun Deso

Untuk menghabiskan rombongan karnaval di satu jalan, waktu yang dibutuhkan hampir dua jam. Sebab, ada sekitar 177 kontingen yang berpartisipasi dalam karnaval.

Mukharom, pengendara roda empat asal Wedarijaksa mengaku hampir dua jam terjebak di kawasan Jalan Kolonel Sunandar. Sebelumnya, dia mengaku sudah mengetahui bila jalur tersebut akan digunakan sebagai jalur karnaval.

Namun, dia berpikir tidak berpapasan dengan rombongan karnaval. Sayangnya, setelah sampai di depan Pasar Puri, rombongan datang dan dia terpaksa mematikan kendaraannya hingga rombongan karnaval selesai.

Editor : Akrom Hazami

 

Sering Macet Simpang Masjid Walisongo dan Pendosawalan Akan Dipasang Lampu Lalulintas

Salah satu ruas jalan di Jepara yang menjadi titik rawan kemacetan. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Dua jalur padat di Simpang Pendosawalan-Kalinyamatan dan Simpang Masjid Besar Walisongo-Pecangaan, akan dipasangi lampu pengatur lalulintas. Hal itu mengingat kondisi ruas tersebut yang kian padat. 

Kepala Bidang Lalulintas Dinas Perhubungan (Dishub) Jepara Soleh Sudarsono mengatakan, pemasangan lampu tersebut untuk mengurai kepadatan yang seringkali terjadi di ruas itu. 

“Faktornya karena jalur tersebut sangat padat. Di Pendosawalan karena ada aktifitas pekerja pabrik, sedangkan kita tahu sendiri di samping Masjid Besar Walisongo sudah begitu padat,” ujarnya, Senin (21/8/2017).

Ia mengatakan, dua lampu pengatur lalulintas tersebut merupakan bekas pakai dari traffic light yang ada di Welahan dan Gotri. “Di ruas yang lama kita pasang baru, sementara yang di Welahan dan Gotri kita geser ke Pecangaan dan Pendosawalan karena kondisinya masih bagus. Dan kedua ruas itu memang cukup padat,” tambahnya. 

Ia menyebut, pemindahan dan penggantian lampu pengatur lalulintas tersebut akan dilaksanakan secepatnya. Soleh mengatakan rencana tersebut sudah diajukan tahun ini, namun kepastiannya menunggu kepastian untuk dimasukan ke rencana kerja anggaran (RKA) terlebih dahulu. 

Adapun, anggaran untuk pelaksanaan kegiatan tersebut telah terpacak dalam Kebijakan Umum APBD dan Plafon serta Prioritas Anggaran Sementara atau KUA-PPAS perubahan 2017.Pada dokumen tersebut, tertera anggaran sebesar Rp 125 juta.

Editor: Supriyadi

Ruas Jl Ki Mangun Sarkoro Tersendat, Ini Yang Dilakukan Dishub Jepara

Ruas Jl. Ki Mangun Sarkoro, Kelurahan Panggang,Jepara selalu saja padat, terutama bila jam masuk dan pulang sekolah. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Ruas Jl. Ki Mangun Sarkoro, Kelurahan Panggang,Jepara selalu saja padat, terutama bila jam masuk dan pulang sekolah. Selain aktivitas antar jemput, di ruas tersebut pun terdapat perkantoran pemerintah dan beberapa tempat makan yang menjadikan sisi kanan kiri jalan dijadikan tempat parkir darurat. 

Hal itu tentu menimbulkan ketidaknyaman bagi pemakai jalan. Seperti yang dialami oleh Toto, ia mengaku kepadatan arus di ruas tersebut memang kerap terjadi. 

“Ya kalau jam segini (12.30 WIB) selalu padat, sehingga agak tersendat bila melalui arus ini,” tutur dia, Selasa (25/7/2017). 

Perlu diketahui, selain SDN Panggang 01, di sana juga terdapat kompleks perkantoran seperti Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, BPBD Jepara dan instansi lain yang bertugas melayani warga. 

Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Jepara Soleh Sudarsono mengungkapkan, pada ruas tersebut memang kerap terjadi kepadatan ketika jam sekolah. Upaya pengendalian pun telah dilakukan, dengan memasang rambu peringatan. 

“Untuk rambu anak sekolah dan marka sudah kami pasang di sana. Di ruas tersebut, kami juga memberlakukan satu arah, untuk kendaraan dari perempatan rumah makan rengkot buyut, tak boleh ke barat,” ujarnya. 

Menanggapi masih banyaknya kendaraan yang nekat melewati jalur tersebut (dari timur ke barat) ia mengaku sudah berkoordinasi dengan polisi. Soleh menyebut sudah ada rapat koordinasi dengan pihak berwenang. 

“Kalau ada pelanggaran rambu, kami minta petugas kepolisian melakukan penindakan. Hal itu agar di masyarakat tercipta budaya tertib,” tambahnya. 

Menurut dia, bukan hanya ruas Jl Ki Mangun Sarkoro yang mendapatkan sorotan. Pada simpang Jl Sutomo dengan Jl Veteran dan Jl A.R. Hakim tepatnya di SD Kanisius Jepara, juga terjadi hal serupa. Guna mengatasi hal tersebut, pihak Dishub Jepara berncana memasang lampu lalulintas. 

“Pada perempatan Kanisius juga dalam taraf pemasangan lampu lalu lintas. Di sana juga saat jam sibuk agak tersendat, namun selepas itu kembali normal. Hal itu menjawab permintaan masyarakat, walaupun sebenarnya pada kondisi tertentu ya lengang-lengang saja disitu,” jelas Soleh.

Disinggung mengenai kemungkinan pemberlakuan jalan searah mengingat kepadatan lalu lintas, Soleh menjelaskan melihat kebutuhan yang ada. Di samping itu, pihaknya akan melihat masukan dari masyarakat. 

Editor : Kholistiono

Traffic Light Portable, ‘Jurus’ Polisi Grobogan Atasi Kemacetan saat Arus Balik Lebaran

Petugas lalu lintas membantu mengamankan arus balik Lebaran di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kesibukan personel keamanan di Grobogan makin meningkat pasca lebaran. Hal ini seiring naiknya kendaraan arus balik yang melewati wilayah tersebut dan berpotensi menyebabkan kemacetan lalu lintas.Guna mengatasi kemacetan, ada upaya lain yang dilakukan jajaran kepolisian disamping menyiagakan personil di lapangan. Yakni, menggunakan traffic light portable.

Alat ini ditempatkan di pertigaan dan perempatan jalur utama yang belum ada traffic light permanen dan berpotensi macet. Khususnya di jalur Purwodadi menuju Semarang yang tingkat kepadatan arusnya cukup tinggi.

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano menyatakan, cara kerja alat itu sama dengan traffic light di perempatan jalan. Namun konsepnya dibuat sederhana dengan desain portabel. Tujuannya, agar bisa dipindah-pindah dan mudah penggunaannya.

“Adanya alat ini sangat membantu untuk mengurai kemacetan. Selain mudah dibawa ke mana-mana dan ditempatkan sesuai kebutuhan, alat ini juga tahan terhadap cuaca panas dan hujan. Sebab, program di lampu tersebut mudah di-setting kembali dan lebih awet penggunaannya,” jelasnya, Rabu (28/6/2017).

Cara kerja lampu portable ini persis dengan traffic light permanen. Tiga lampu yang berwarna hijau, kuning dan merah bergantian menyala sesuai durasi waktu tertentu.

Alat ini ukurannya mini. Tingginya sekitar 1,5 meter. Bentuknya masih sederhana. “Alat ini kita pasang di beberapa titik di jalur utama,” imbuh Satria.

Editor: Supriyadi

Hindari Titik Macet Tahun Baru di Kudus Ini

Kendaraan terjebak di salah satu ruas di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom)

Kendaraan terjebak di salah satu ruas di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Jalur persimpangan yang terdapat di Kudus, pada malam pergantian tahun diprediksi bakalan padat pengguna jalan. Hal itu disebabkan banyaknya masyrakat yang memilih keluar ketimbang tetap berada di rumah.

“Pada malam Tahun Baru, masyarakat memilih keluar. Maka jalur akan padat. Khususnya daerah perkotaan. Ini perlu pengamanan supaya pengguna jalan juga lancar,” kata Wakapolres Kudus Kompol Yunaldi kepada MuriaNewsCom.

Jalur yang diwaspadai macet ada di beberapa titik. Di antaranya, perempatan Jember, perempatan Kojan, pertigaan Pentol, dan sebagainya. Jalur persimpangan di masing masing kecamatan juga dijaga petugas kepolisian.

Polisi juga akan mengurai massa jika dinilai sudah menggangu kelancaran arus lalu lintas. Selain itu jika ada perusuh, maka petugas juga tidak akan segan menindak.

“Jangan sampai akhir tahun dan awal tahun ini dengan kejelekan, kita ciptakan suasana yang aman dan kondusif, supaya bermakna,” tambahnya.

Termasuk jika ada yang melanggar lalu lintas atau melanggar aturan, polisi tidak akan segan untuk menertibkan. Sebab polisi akan memberikan rasa aman kepada masyarakat.

“Seperti minum-minuman keras misalnya. Kami juga akan menindaknya,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Perempatan Panjang Macet Parah

7 (E)7884962782macet2KUDUS – Perempatan Desa Panjang, Kecamatan Bae, mengalami macet yang parah, Selasa (28/7/2015). Kemacetan terjadi lantaran adanya perbaikan jalan akses kendaraan hanya dibuka sebagian.

Berdasarkan pantauan, selain jalan yang hanya dibuka sebagian, kendaraan dari berbagai arah saling menyerobot. Jalan yang berada di perempatan tersebut sempat macet total.

Selain itu, lampu merah yang hanya menyala beberapa detik tidak cukup membuat kendaraan yang melintas sampai di seberang. Sebab banyaknya pengguna jalan sedikitnya ruas jalan yang dapat di lalui.

Sugiono, petugas proyek pengaspalan jalan mengatakan, kondisi macet susah dimulai kemarin, dan kondisi bisa terjadi hingga sore. Sebab panjangnya pengaspalan sehingga membutuhkan waktu hingga dua hari.
“Sudah mulai kemarin dimulai pengaspalan. Hari ini hari kedua, sehingga nanti sore selesai pengerjaannya,” katanya saat ditemui MuriaNewsCom.

Proyek jalan sepanjang 1,8 kilometer tersbeut, membutuhkan 700 ton aspal dalam mengerjakannya. Selain itu, dua alat berat juga dikerahkan dalam mempercepat pengaspalan di jalan utama utara.

“Panjangnya itu sampai 1,8 kilometer, dan lebar jalan yang sebelah barat dekat perempatan seluas 6,5 meter, namun yang depan UMK lebar nya 7 meter,” ujarnya. (FAISOL HADI/SUWOKO)
Foto ilustrasi macet

Warga Kandangmas Jadi Pak Ogah Dadakan

Sejumlah kendaraan terjebak macet di tanjakan Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Kamis (23/7/2015). (MuriaNewsCom / Ali Muntoha)

Sejumlah kendaraan terjebak macet di tanjakan Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Kamis (23/7/2015). (MuriaNewsCom / Ali Muntoha)

KUDUS – Demonstrasi penolakan pendirian pabrik semen di ruas Pantura Pati berimbas pada jalur alternatif yang menghubungkan Pati dan Kudus. Kemacetan di jalur alternatif Pati-Kudus, di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, hingga Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, membuat arus lalu lintas di sepanjang jalur tersebut tak bisa bergerak. Meski kemacetan sangat parah, tidak terlihat adanya polisi yang mengatur lalu lintas di jalur itu.

Sejumlah anggota polisi hanya terlihat mengatur lalu lintas di kawasan Pasar Gembong. Melihat hal ini, warga Kandangmas berinisiatif ikut turun ke jalan. Mereka menjadi Pak Ogah dadakan, untuk membuka dan menutup jalur, agar kendaraan bisa lewat.

Karena jika tak dibuat sistem buka tutup, kemacetan akan sangat parah. Karena sempitnya jalan, sementara volumen kendaraan yang melintas sangat banyak, dan beberapa di antaranya merupakan kendaraan besar.

Sistem buka tutup oleh warga diterapkan di titik yang merupakan tanjakan tajam dan jembatan. Karena lebar jembatan di daerah tersebut, tidak cukup dilalui dua kendaraan sekaligus. Beberapa warga yang menjadi Pak Ogah dadakan itu, juga meminta imbalan kepada para pengguna jalan.

“Saya tadi diminta jasa, tak kasih Rp 2 ribu. Mereka memang tidak memaksa, tapi ya tidak enak, karena jalannya sudah diatur supaya tidak macet,” kata Jatmiko, warga Rembang yang melintas di jalur tersebut. (ALI MUNTOHA)

Pemudik Terjebak di Jalur Alternatif Gembong-Kudus

Sejumlah kendaraan terjebak macet di tanjakan Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Kamis (23/7/2015). (MuriaNewsCom / Ali Muntoha)

Sejumlah kendaraan terjebak macet di tanjakan Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Kamis (23/7/2015). (MuriaNewsCom / Ali Muntoha)

KUDUS – Ribuan kendaraan pemudik terjebak di jalur alternatif Pati – Kudus bagian utara (jalur Gembong-Kudus), Kamis (23/7/2015). Hal ini disebabkan jalur utama pantura diblokade massa yang mengelar aksi demonstrasi menolak rencana pendirian pabrik semen di Desa Sukokulon, Kecamatan Margorejo, Pati.

Kendaraan pemudik terjebak macet hingga puluhan kilometer. Yakni mulai dari Pasar Gembong, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, sampai ke Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Kendaraan berdesakan dan tak bisa bergerak sama sekali, lantaran jalur alternatif tersebut sangat sempit.

Hal ini diperparah dengan banyaknya kendaraan besar, seperti truk pengangkut sembako serta bus-bus AKAP dari arah Surabaya-Semarang-Jakarta atau sebaliknya, yang ikut melintas di jalur alternatif itu. Kontur jalan yang menanjak dan menurun tajam, membuat kendaraan harus berjalan perlahan.

Bahkan kendaraan harus berhenti total, ketika bus atau truk melintas. Berdasarkan keterangan warga sekitar, kemacetan di jalur tersebut sudah terjadi sejak pukul 09.00 WIB. Dan hingga pukul 14.00 WIB, belum ada tanda-tanda kemacetan mencair.

“Kendaraan saya tak bisa bergerak sama sekali. Apalagi di depan itu ada truk besar, yang ikut terjebak tak bisa bergerak. Saya masuk Kudus sekitar pukul 12.00 WIB, dan dialihkan ke jalur ini katanya jalannya ditutup. Tapi di sini juga macet, apalagi jalannya cukup membahayakan karena naik-turun, ,” kata Sunardi, yang mengaku akan balik ke Surabaya setelah mudik dari Batang. (ALI MUNTOHA)

Jalan Pati-Kayen Diperkirakan Macet saat Lebaran

Sejumlah pekerja tengah melakukan betonisasi di Jalan Provinsi Pati-Kayen-Sukolilo. Jalan tersebut diperkirakan macet saat Lebaran. (MURIANEWS/LISMANTO)

Sejumlah pekerja tengah melakukan betonisasi di Jalan Provinsi Pati-Kayen-Sukolilo. Jalan tersebut diperkirakan macet saat Lebaran. (MURIANEWS/LISMANTO)

PATI – Jalan utama yang menghubungkan Pati, Kayen dan Sukolilo diperkirakan macet saat lebaran. Sebab, proyek betonisasi jalan provinsi yang juga menghubungkan Pati-Grobogan tersebut dipastikan belum rampung hingga lebaran.  Lanjutkan membaca

Urai Kemacetan, Warga Kencing Gunakan Sistem Buka Tutup Jalan

emacetan sepanjang 2 km terjadi di wilayah Kencing, Jalan Lingkar Kudus-Jepara terjadi mulai pagi hingga sore hari. Sebaiknya para pengendara memilih alternatif jalur lain untuk menghindari kemacetan tersebut. (MURIANEWS/EDY SUTRIYONO)

KUDUS – Guna mengurai kemacetan yang terjadi karena pembangunan gorong-gorong milik PT. Pura Kudus di wilayah Kencing tepatnya Jalur Lingkar Kudus Jepara, warga Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati memberlakukan buka tutup untuk jalur satu arah saja.

Lanjutkan membaca