Talud Sungai Longsor, 5 Rumah Warga di Sambongwangan Blora Terancam Roboh

MuriaNewsCom, Blora – Bencana longsor yang menimpa talud sungai Butbanyu di Desa Sambongwangan, Kecamatan Randublatung perlu mendapat penanganan segera. Ini lantaran, tingkat longsoran yang terjadi sejak beberapa pekan lalu makin bertambah parah.

Bahkan, talud longsor akibat abrasi sungai saat ini sudah mengancam pemukiman warga. Sedikitnya, sudah ada lima rumah warga yang terdampak karena lokasinya sangat dekat dengan titik longsoran.

Rumah yang terangcam masing-masing milik Suseno (50), Ralim (50), Sawit (45), Karmin (55), dan Yudi Hartono (50). Kelima rumah yang lokasinya berada di Dusun Butbanyu itu tinggal berjarak beberapa meter saja dari titik longsor.

“Hari Rabu kemarin, sudah ada petugas dari BPBD Blora yang mengecek kondisi bencana longsor. Kami berharap, longsornya talud segera ditangani karena sudah mendekati kawasan perkampungan,” kata sejumlah warga setempat.

Kondisi longsornya talud sungai memang terlihat sudah parah. Panjang longsoran mencapai 200 meter, tinggi 15 meter dan lebarnya berkisar 15 sampai dengan 20 meter.

Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Blora Hanung Murdaka menyatakan, pihaknya sudah melakukan inventarisasi dan identifikasi di lokasi bencana. Secara keseluruhan, ada 25 rumah yang bisa terdampak longsoran jika tidak segera ditangani. Untuk penanganan longsor, ada dua usulan yang akan disampaikan ke DPU Blora, selaku SKPD teknis.

Usulan yang disampaikan adalah melakukan normalisasi sungai. Adapun caranya bisa dilakukan dengan penyudetan sungai untuk pelurusan alur. Satu lagi dengan cara pembangunan bronjong batu sehingga pelurusan alur sungai akan terjadi secara alami.

Editor : Supriyadi

Bantaran Sungai Longsor, Jalan di Desa Kedungrejo Grobogan Terancam Patah

MuriaNewsCom, GroboganJumlah titik bantaran sungai Lusi di wilayah Grobogan yang terkena longsor makin bertambah. Hal ini menyusul adanya bantaran longsor di Dusun Ngrebo, Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi.

Sebelumnya, bantaran longsor sudah terdapat di Kecamatan Ngaringan, Wirosari, Kradenan, Pulokulon, dan Tawangharjo. Selain mengancam pemukiman, longsornya bantaran juga membahayakan infrastruktur jalan dan jembatan.

Longsornya bantaran di Dusun Ngrebo itu berdampak pada fondasi atau talud penahan bahu jalan. Secara bertahan, fondasi penahan itu tergerus dan saat ini panjang gerusan sudah berkisar 10 meter.

Jika tidak segera ditangani, longsornya bantaran bisa menyebabkan konstruksi jalan dari cor beton patah. Soalnya, pada titik fondasi yang tergerus, terlihat rongga dibawah bahu jalan.

“Untuk sementara, sebagian ruas jalan pada titik itu kami beri pembatas agar ada kendaraan melintas diatasnya. Hal ini kita lakukan karena jika ada kendaraan berat lewat bisa membahayakan konstruksi jalan,” kata salah satu perangkat Desa Kedungrejo Suprat, Jumat (23/3/2018).

Sebelumnya, ada 13 keluarga yang tinggal disekitar lokasi longsoran. Namun, saat hanya tinggal tujuh keluarga yang masih bertahan. Sedangkan enam keluarga lainnya sudah pindah ke lokasi yang lebih aman.

Suprat menjelaskan, pada awal tahun lalu pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana sudah meninjau lokasi longsoran tersebut. Mereka juga sudah mengambil contoh tanah untuk diteliti.

”Sampai sekarang, kami tak mengetahui hasilnya. Saat mereka ke sini, kami disarankan untuk membuat proposal langsung ke BBWS Pemali Juana,” katanya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono mengatakan, saat ini memang banyak laporan adanya tebing maupun bantaran sungai Lusi yang longsor. Selain aset kabupaten, bencana longsor tersebut juga mengancam perumahan warga.

”Kami sudah berkirim surat ke BBWS Pemali Juana dan sampai saat ini memang belum ada tindakan penanganan yang signifikan. Untuk badan jalan yang mulai longsor di Dusun Ngrebo, akan segera kami perbaiki dengan dana pemeliharaan,” terangnya.

Editor: Supriyadi

Jalan Desa Gadon Blora Ini Hanya Tersisa Separuh, Warga Terancam Terisolir

MuriaNewsCom, Blora – Akses transportasi warga Desa Gadon, Kecamatan Cepu, Blora, saat ini sedikit terganggu. Hal ini menyusul adanya bencana longsor yang menimpa bantaran sungai Bengawan Solo. Lokasi longsor ini letaknya berdekatan dengan ruas jalan utama desa tersebut.

Longsornya bantaran sungai mulai terlihat Rabu (14/3/2018) sekitar pukul 16.00 WIB. Bantaran sungai ini longsor sepanjang 25 meter dan terdapat rakahan selebar 5-10 cm.

“Longsor terjadi akibat naiknya debit air Bengawan Solo. Kondisi tanah terus bergerak dan rekahan makin lebar,” kata staf lapangan BPBD Blora Agung Tri, Kamis (15/3/2018).

Longsor itu memakan separuh lebih badan jalan. Akibatnya mobil tak bisa melintas, kendaraan roda dua pun harus hati-hati saat melewati jalan ini. ”Ini, kita masih melakukan pendataan guna menyiapkan langkah penanganan,” ujarnya.

Kepala BPBD Blora Sri Rahayu menyatakan, longsornya bantaran sungai itu berpotensi memutus jalan desa.

Untuk langkah awal, pihaknya sudah memberikan rambu peringatan pada pengguna jalan agar berhati-hati. Pihaknya juga meminta agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di sekitar lokasi longsor.

Editor : Ali Muntoha

Longsor Belum Tertangani, Kondisi Jembatan Gantung di Truwolu Grobogan Makin Parah

MuriaNewsCom, Grobogan – Kondisi jembatan gantung di Desa Truwolu, Kecamatan Ngaringan saat ini makin membahayakan. Hal ini terjadi karena longsornya salah satu fondasi makin bertambah parah.

Sebelumnya, jembatan itu terpaksa ditutup untuk akses kendaraan akibat fondasinya longsor. Fondasi jembatan yang longsor itu berada disisi timur. Longsornya fondasi menyebabkan adanya rekahan selebar 40 cm antara bagian atas fondasi.

Tanda-tanda longsornya fondasi sebenarnya sudah mulai diketahui sejak Jumat (16/2/2018) lalu. Warga setempat sempat melakukan penanganan darurat pada fondasi longsor.

Namun, upaya ini tidak bisa bertahan lama. Derasnya sungai Lusi akibat tingginya curah hujan menyebabkan titik longsor terhantam air.

“Sekitar jam 13.00 WIB tadi, tanah dibawah fondasi ambles makin parah karena tergerus air sungai. Kondisi jembatan makin membahayakan dan tidak memungkinkan untuk dilewati,” kata Camat Ngaringan Teguh Harjokusumo, Senin (12/3/2018).

Jembatan gantung sepanjang 60 meter tersebut membentang diatas sungai Lusi. Jembatan gantung menjadi akses utama dari Desa Truwolu menuju Desa Kalanglundo dan beberapa desa lainnya diwilayah Kecamatan Gabus.

Dengan putusnya akses jembatan, aktivitas warga jadi terganggu. Untuk menjangkau wilayah sekitarnya, warga harus memutar lewat jalur lainnya yang jaraknya lebih jauh. Warga berharap agar bencana longsor yang menimpa fondasi jembatan segera diperbaiki.

Sementara itu, Kepala DPUPR Grobogan Subiyono menyatakan, penanganan bencana longsor pada jembatan gantung itu sudah dianggarkan sebesar Rp 400 juta. Namun, pihaknya masih menunggu proses pencairan dana tersebut agar bisa mengerjakan perbaikan fondasi.

Pihaknya juga sudah melakukan koordinasi dengan BPBD untuk menangani fondasi jembatan yang longsor tersebut. Meski demikian, upaya penanganan tidak bisa dilakukan segera.

“Kondisi sungai saat ini sedang penuh. Jadi, belum memungkinkan untuk melakukan penanganan longsoran. Kami akan monitor kondisi di lokasi. Kalau sudah memungkinkan akan secepatnya kita tangani,” katanya.

Editor: Supriyadi

Jalan Longsor Tergerus Air, Akses Transportasi Warga Dokoro Grobogan Terganggu

MuriaNewsCom, Grobogan – Akses jalan raya dari Desa Dokoro ke Desa Karangasem di Kecamatan Wirosari saat ini terputus untuk kendaraan roda empat. Hal ini terjadi akibat adanya ruas jalan longsor di Dusun Blimbing, Desa Dokoro sejak beberapa hari lalu.

Ruas jalan longsor panjangnya mencapai 6 meter, lebar 3 meter dan kedalaman sekitar 1,5 meter.

Kades Dokoro Masrukin menyatakan, longsor disebabkan terkena gerusan air yang mengalir dari kawasan hutan melewati saluran atau parit disebelah jalan. Padahal di bawah jalan longsor itu sebenarnya ada gorong-gorong untuk belokan air dari parit tersebut.

“Gorong-gorongnya ukurannya terlalu kecil. Ketika hujan deras beberapa hari lalu, gorong-gorong tidak mampu menampung volume air sehingga pecah dan menyebabkan jalan di atasnya longsor. Ruas jalan ini statusnya milik kabupaten,” jelasnya.

Setelah jalan longsor, pihaknya langsung mengerahkan warga untuk kerja bakti. Yakni, membuat jalan darurat yang hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua. Untuk kendaraan roda empat yang akan menuju Desa Karangasem atau Kecamatan Wirosari harus memutar melewati jalan Dusun Kuniran.

Menurut Masrukin, longsornya jalan sudah dilaporkan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR). Petugas dari DPUPR sudah mengecek kerusakan jalan dan akan segera melakukan penanganan.

“Kemarin ada beberapa pegawai DPUPR yang meninjau lokasi. Rencananya, pada titik longsor akan dibuat jembatan. Sehingga aliran air dari atas yang posisinya berbelok di titik longsor itu bisa mengalir lancar,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala DPUPR Subiyono menyatakan, kerusakan infrastruktur yang disebabkan bencana memang akan ditangani secepatnya. Terutama yang berkaitan dengan jalan karena banyak dibutuhkan warga.

“Longsornya jalan di Desa Dokoro sudah kita cek untuk mengetahui tingkat kerusakan. Nanti, segera kita tangani seperti longsornya jalan di Desa Sumberagung, Kecamatan Ngaringan yang saat ini sudah selesai diperbaiki,” katanya.

Editor: Supriyadi

BPBD Janji Bakal Segera Tangani Bencana Longsor di Kalirejo Grobogan

MuriaNewsCom, GroboganBencana talud sungai Lusi yang longsor di Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari mendapat respon dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan. Rencananya, longsornya talud akan ditangani secara darurat. Hal itu disampaikan Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (24/2/2018).

Menurut Agus, penanganan darurat akan difokuskan untuk mencegah longsoran makin meluas. Terutama, longsoran yang langsung mengancam rumah warga. Untuk penanganan lebih lanjut, BPBD tidak memiliki kewenangan. Soalnya, kawasan longsor itu menjadi kewenangan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.

”Penanganan longsor tetap kita lakukan meski sifatnya darurat. Kita upayakan agar rumah disekitar lokasi longsor itu bisa aman,” jelasnya.

Seperti diberitakan, belasan warga di Desa Kalirejo terancam kehilangan tempat tinggal. Kondisi ini terjadi menyusul adanya musibah longsor yang menggerus talud sungai Lusi di belakang pemukiman warga.

Musibah longsor itu sebenarnya sudah terjadi sekitar delapan bulan lalu. Namun, hingga saat ini, belum ada upaya penanganan dari instansi terkait.

Lambannya penanganan menyebabkan longsornya talud makin bertambah parah. Akibatnya, sudah ada sembilan rumah warga rusak parah. Bahkan, diantaranya ada yang sudah roboh separuh bangunan rumahnya.

Beberapa warga ada yang menggeser maju bangunan rumahnya karena khawatir roboh kena longsor. Kemudian, ada warga yang sudah membangun rumah lagi di lokasi lainnya.

Editor: Supriyadi

9 Rumah Warga Kalirejo Grobogan Rusak Parah Diterjang Longsor

MuriaNewsCom, Grobogan – Sedikitnya ada sembilan warga di Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari, Grobogan terancam kehilangan tempat tinggal. Kondisi ini terjadi menyusul adanya musibah longsor yang menggerus talud sungai Lusi di belakang pemukiman warga.

Ironisnya, musibah longsor itu sudah terjadi sekitar delapan bulan lalu. Namun, hingga saat ini, belum ada upaya penanganan dari instansi terkait.

Lambannya penanganan menyebabkan longsornya talud makin bertambah parah. Akibatnya, sudah ada sembilan rumah warga rusak parah. Bahkan, diantaranya ada yang sudah roboh separuh bangunan rumahnya.

Beberapa warga ada yang menggeser maju bangunan rumahnya karena khawatir roboh kena longsor. Kemudian, ada warga yang sudah membangun rumah lagi di lokasi lainnya.

“Dari sembilan orang ini, ada yang sudah pindah total ke lokasi lain, yakni Suwardi. Kemudian yang rumahnya digeser ke depan adalah Mbah Kariyem dan Mbah Supardi. Untuk Mbah Suwarsi, ada dua bangunan rumahnya dibagian belakang yang dipindah ke lokasi lainnya. Sedangka satu bangunan rumah bagian depan saja masih berdiri dan ditempati,” jelas Kepala Dusun Kalirejo Darno, Jumat (23/2/2018).

Kondisi longsor di Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari yang mengancam tempat tinggal sembilan warga setempat.(MuriaNewsCom/Dani Agus)

Talud yang longsor itu panjangnya mencapai 70 meter dengan lebar dari pinggir sungai berkisar 50 meter. Tanah yang longsor punya kedalaman hampir 3 meter.

Warga yang terkena dampak longsor paling parah ada sembilan orang. Yakni, Ngadi (45), Radiyem (40), Karsono (50), Supardi (67), Suwarsi (77), Budi Santoso (30). Kariyem (70), Suwarjo (40) dan Suwardi (43). Kesembilan warga yang bekerja sebagai petani ini tercatat tinggal di Dusun Kalirejo, RT 05, RW 02.

“Kondisi longsoran yang ada di Dusun Kalirejo ini sudah sangat parah. Kami berharap, ada upaya penanganan longsoran karena sudah mengancam bangunan rumah warga. Sebelumnya, longsoran sempat ditinjau dari beberapa instansi tetapi belum kunjung ada penanganan,” kata Darno yang lebih dikenal dengan nama Mbah Who itu.

Terkait kondisi tersebut, pihaknya telah mengimbau warga terdampak longsor agar selalu waspada. Terutama, mewaspadai pergerakan tanah ketika turun hujan deras.

Editor : Supriyadi

Cegah Longsor Lagi, Talud Penahan Rel di Ledokdawan Grobogan Diperkuat

MuriaNewsCom, GroboganJalur kereta api jurusan Solo-Semarang melalui Stasiun Gundih, Kecamatan Geyer memang sudah dinyatakan normal sejak Rabu (21/2/2018) malam. Meski demikian, hingga siang ini, masih ada puluhan pekerja yang melakukan aktivitas di lokasi talud longsor di Dusun Bayo, Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer.

Manager Humas PT KAI Daop 4 Semarang Suprapto menyatakan, meski jalur sudah normal, namun proses perbaikan talud longsor masih belum sempurna. Pihaknya masih perlu melakukan perbaikan lanjutan pada titik longsor di KM 61+7/8 tersebut.

“Hari ini masih ada perbaikan lanjutan dilokasi yang longsor. Perbaikan lanjutan melibatkan 80 petugas pemeliharaan jalan rel serta alat berat,” jelasnya, Kamis (22/2/2018).

Perbaikan longsoran sudah selesai pada Rabu malam dan pada pukul 20.45 WIB, jalur tersebut sudah dinyatakan normal dan bisa dilalui kereta. Meski bisa dilalui, namun kecepatan kereta masih dibatasi sekitar 5 km/jam ketika melintasi di lokasi longsor.

Ia menyatakan, untuk mencegah terjadinya longsor lagi di lokasi tersebut akan dilakukan beberapa langkah penanganan lebih lanjut. Yakni, melakukan penguatan lebih lanjut pada turap penahan tebing pada bagian pinggiran tubuh badan rel.

Langkah selanjutnya adalah melakukan pemasangan cross drainase dengan pipa PVC ukuran 10 inchi pada jalur rel sepanjang 600 meter. Pipa dipasang tiap jarak 5 meter.

Kemudian, langkah lainnya adalah meninggikan jalur rel dilokasi tersebut agar lebih stabil, dengan penambahan batu kricak.

Seperti diberitakan, talur penahan rel kereta di titik KM 61+7/8 di Dusun Bayo, Desa Ledokdawan, sempat longsor pada Sabtu (17/2/2018) lalu. Setelah diperbaiki, jalur tersebut sudah normal dua hari berikutnya.

Kemudian, talud yang sudah diperbaiki itu kembali longsor pada Rabu dinihari kemarin. Longsornya talud terjadi akibat guyuran hujan deras hampir semalaman. Kondisi tanah yang belum padat sempurna menjadikan talud longsor tergerus hujan dan aliran sungai di sebelah utara jalur kereta.

Editor: Supriyadi

Longsor di Ledokdawan Grobogan Selesai, Jalur Kereta Api Solo-Semarang Kembali Normal

MuriaNewsCom, Grobogan – Proses perbaikan talud longsor untuk kedua kalinya di Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer akhirnya rampung. Kondisi ini menjadikan perjalanan kereta api dari Solo menuju Semarang melalui Stasiun Gundih, Kecamatan Geyer kembali normal.

Manager Humas PT KAI Daop 4 Semarang Suprapto menyatakan, perbaikan longsoran sudah selesai pada Rabu (21/2/2018) malam. Kemudian, pada pukul 20.45 WIB, jalur tersebut sudah dinyatakan normal dan bisa dilalui kereta. Meski bisa dilalui, namun kecepatan kereta masih dibatasi sekitar 5 km/jam ketika melintasi di lokasi longsor.

”Jalurnya sudah normal mulai tadi malam. Namun, kecepatan kereta masih dibatasi sampai kondisi tanah stabil,” jelasnya, Kamis (22/2/2018).

Menurut Suprapto, longsornya talud memang sempat menyebabkan perjalanan kereta sedikit terganggu. Untuk langkah antisipasi, rute kereta terpaksa dialihkan. Yakni, dari Solo Balapan-Gundih-Kedungjati-Brumbung-Semarang Poncol menjadi Solo Balapan-Gundih-Gambringan-Ngrombo-Kedungjati-Brumbung-Semarang Poncol.

Seperti diberitakan, talur penahan rel kereta di titik KM 61+7/8 di Dusun Bayo, Desa Ledokdawan, sempat longsor pada Sabtu (17/2/2018) lalu. Setelah diperbaiki, jalur tersebut sudah normal dua hari berikutnya.

Kemudian, talud yang sudah diperbaiki itu kembali longsor pada Rabu dinihari kemarin. Longsornya talud terjadi akibat guyuran hujan deras hampir semalaman. Kondisi tanah yang belum padat sempurna menjadikan talud longsor tergerus hujan dan aliran sungai di sebelah utara jalur kereta.

Editor: Supriyadi

Diguyur Hujan Deras, Talud Rel Kereta Api di Ledokdawan Grobogan Kembali Longsor

MuriaNewsCom, GroboganPerjalanan kereta api dari Solo menuju Semarang melalui Stasiun Gundih, Kecamatan Geyer dan Stasiun Karangsono, Kecamatan Karangrayung kembali mengalami gangguan. Hal ini terjadi akibat adanya talud jalur rel kereta api yang longsor di titik KM 61+7/8 di Dusun Bayo, Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer, Rabu (21/2/2018).

Empat hari lalu, lokasi talud tersebut sudah sempat longsor. Namun, pada Senin kemarin, proses perbaikan talud sudah selesai dan kereta sudah bisa berjalan normal melalui jalur tersebut.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, longsornya talud itu diketahui sekitar pukul 06.00 WIB. Selain talud, tebing disebelah selatan rel juga longsor dan runtuhan tanah sempat menutup jalur kereta.

Berdasarkan keterangan warga, longsor lagi talud tersebut kemungkinan besar disebabkan adanya guyuran hujan deras hampir semalaman. Saat hujan deras, kondisi sungai di sebelah utara rel penuh air sehingga menggerus tumpukan karung penahan talud yang baru dipasang beberapa hari sebelumnya.

“Tadi malam memang hujan deras sekali. Bisa jadi, talud yang baru diperbaiki longsor lagi terkikis air karena kondisi tanahnya belum padat betul,” kata beberapa warga setempat.

Manager Humas PT KAI Daop 4 Semarang Suprapto menyatakan, longsor hanya terjadi pada talud penahan rel. Sedangkan kondisi rel atau jalur keretanya masih utuh.

Saat ini proses perbaikan talud sudah dilakukan. Untuk sementara perjalanan kereta pada pagi tadi dialihkan lewat Stasiun Gambringan dan Ngrombo. “Tadi pagi, perjalanan kereta api Kalijaga kita alihkan,” katanya.

Editor: Supriyadi

Perbaikan Longsor Rampung, Perjalanan Kereta Api Solo-Semarang Kembali Normal

MuriaNewsCom, GroboganProses perbaikan talud longsor di Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer akhirnya rampung. Kondisi ini menjadikan perjalanan kereta api dari Solo menuju Semarang melalui Stasiun Gundih, Kecamatan Geyer kembali normal mulai hari ini, Senin (19/2/2018).

Sebelumnya, perjalanan kereta sempat dialihkan melalui Stasiun Ngrombo dan Gambringan di Kecamatan Toroh. Pengalihan jalur dilakukan menyusul adanya talud rel kereta api yang longsor di titik KM 61+7/8 di Dusun Bayo, Desa Ledokdawan, Sabtu (17/2/2018).

Manager Humas PT KAI Daop 4 Semarang Suprapto menyatakan, perbaikan longsoran sudah selesai pada Minggu (18/2/2018) malam. Kemudian, pada malam itu juga ada kereta yang melintasi jalur tersebut pada pukul 19.35 WIB.

Yakni, KA 175 atau KA Brantas relasi Blitar-Jakarta. Meski bisa dilalui, namun kecepatan kereta masih dibatasi sekitar 5 km/jam ketika melintasi di lokasi longsor.

”Jalurnya sudah normal mulai tadi malam. Namun, kecepatan kereta masih dibatasi sampai kondisi tanah stabil,” jelasnya.

Menurut Suprapto, longsornya talud memang sempat menyebabkan perjalanan kereta sedikit terganggu. Untuk langkah antisipasi, rute kereta terpaksa dialihkan. Yakni, dari Solo Balapan-Gundih-Kedungjati-Brumbung-Semarang Poncol menjadi Solo Balapan-Gundih-Gambringan-Ngrombo-Kedungjati-Brumbung-Semarang Poncol.

”Selama dua hari, kita bikin rekayasa pengalihan jalur kereta setelah ada musibah longsor. Kondisi itu mengakibatkan adanya keterlambatan kereta hingga 1 jam dan kami sudah menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan dan ketidaknyamanan yang terjadi akibat adanya musibah longsor kemarin,” ujarnya.

Seperti diberitakan, longsornya talud itu diketahui sekitar pukul 05.00 WIB. Akibat talud yang longsor tersebut, tanah dibawah bantalan rel tergerus sehingga tidak mungkin dilalui kereta. Dilihat dari samping, rel kereta tampak seperti jembatan karena tanah dibawahnya ambrol.

Talud yang longsor tersebut berada dipinggir tikungan sungai. Panjang longsoran mencapai 30 meter, kedalaman 2 meter dan lebar hingga pinggir sungai mencapai 10 meter.

Longsornya talud diketahui salah seorang warga yang lewat jalan setapak disisi selatan rel. Sesampai di lokasi, warga tersebut melihat talud rel longsor.

Kejadian itu kemudian segera dilaporkan pada warga setempat yang bekerja jadi pegawai PT KAI. Selanjutnya, informasi itu secepatnya diteruskan ke Stasiun Gundih dan pihak terkait lainnya.

Editor: Supriyadi

Longsor di Ledokdawan Masih Ditangani, Jalur Kereta Api Solo-Semarang Dialihkan

MuriaNewsCom, GroboganLongsornya talud dipinggir rel tersebut juga membawa dampak terlambatnya kereta api di Stasiun Gundih. Salah satunya adalah kereta penumpang Kalijaga dari Semarang-Solo yang biasanya berangkat pukul 10.57 WIB. Namun, hingga pukul 11.30 WIB, kereta tersebut belum tiba. Meski demikian, para calon penumpang masih tetap menunggu kedatangan kereta menuju Solo.

“Tadi sudah ada pemberitahuan kalau kedatangan kereta ke Solo terlambat. Katanya ada bencana longsor,” kata Tiya, salah seorang calon penumpang kereta di Stasiun Gundih.

Manager Humas PT KAI Daop 4 Semarang Suprapto menyatakan, longsornya talud memang menyebabkan perjalanan kereta sedikit terganggu. Untuk langkah antisipasi, rute kereta terpaksa dialihkan. Yakni, dari Solo Balapan-Gundih-Kedungjati-Brumbung-Semarang Poncol menjadi Solo Balapan-Gundih-Gambringan-Ngrombo-Kedungjati-Brumbung-Semarang Poncol.

“Kita bikin rekayasa pengalihan jalur kereta setelah ada musibah longsor. Proses perbaikan talud longsor ini akan kita lakukan secepatnya agar jalur tersebut kembali normal. Kami mohon maaf atas keterlambatan dan ketidaknyamanan ini,” ujarnya.

Baca: Terkikis Air Sungai, Talud Rel Kereta Api di Ledokdawan Grobogan Longsor

Seperti diberitakan, longsornya talud itu diketahui sekitar pukul 05.00 WIB. Akibat talud yang longsor tersebut, tanah dibawah bantalan rel tergerus sehingga tidak mungkin dilalui kereta. Dilihat dari samping, rel kereta tampak seperti jembatan karena tanah dibawahnya ambrol.

Talud yang longsor tersebut berada dipinggir tikungan sungai. Panjang longsoran mencapai 30 meter, kedalaman 2 meter dan lebar hingga pinggir sungai mencapai 10 meter.

“Longsornya diketahui sehabis Subuh. Sejak beberapa hari terakhir memang hujan deras dan kondisi sungai penuh air,” ujar Kades Ledokdawan Budiyono di lokasi longsor.

Menurutnya, longsornya talud diketahui salah seorang warga yang lewat jalan setapak disisi selatan rel. Sesampai di lokasi, warga tersebut melihat talud rel longsor.

Kejadian itu kemudian segera dilaporkan pada warga setempat yang bekerja jadi pegawai PT KAI. Selanjutnya, informasi itu secepatnya diteruskan ke Stasiun Gundih dan pihak terkait lainnya.

“Saya bersyukur sekali, peristiwa talud longsor cepat diketahui warga. Soalnya, sekitar pukul 06.15 WIB biasanya ada kereta penumpang yang lewat jalur itu,” katanya.

Editor: Supriyadi

Terkikis Air Sungai, Talud Rel Kereta Api di Ledokdawan Grobogan Longsor

MuriaNewsCom, GroboganPerjalanan kereta api dari Solo menuju Semarang melalui Stasiun Gundih, Kecamatan Geyer dan Stasiun Karangsono, Kecamatan Karangrayung terpaksa mengalami gangguan. Hal ini terjadi akibat adanya talud jalur rel kereta api yang longsor di titik KM 61+7/8 di Dusun Bayo, Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer, Sabtu (17/2/2018).

Informasi yang dihimpun dari lokasi menyebutkan, longsornya talud itu diketahui sekitar pukul 05.00 WIB. Akibat talud yang longsor tersebut, tanah di bawah bantalan rel tergerus sehingga tidak mungkin dilalui kereta. Dilihat dari samping, rel kereta tampak seperti jembatan karena tanah dibawahnya ambrol.

Talud yang longsor tersebut berada dipinggir tikungan sungai. Panjang longsoran mencapai 30 meter, kedalaman 2 meter dan lebar hingga pinggir sungai mencapai 10 meter.

Para pekerja memeriksar rel kereta api yang terkena dampak longsor di titik KM 61+7/8 di Dusun Bayo, Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer, Sabtu (17/2/2018). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

“Longsornya diketahui sehabis Subuh. Sejak beberapa hari terakhir memang hujan deras dan kondisi sungai penuh air,” ujar Kades Ledokdawan Budiyono di lokasi longsor.

Menurutnya, longsornya talud diketahui salah seorang warga yang lewat jalan setapak disisi selatan rel. Sesampai di lokasi, warga tersebut melihat talud rel longsor.

Kejadian itu kemudian segera dilaporkan pada warga setempat yang bekerja jadi pegawai PT KAI. Selanjutnya, informasi itu secepatnya diteruskan ke Stasiun Gundih dan pihak terkait lainnya.

“Saya bersyukur sekali, peristiwa talud longsor cepat diketahui warga. Soalnya, sekitar pukul 06.15 WIB biasanya ada kereta penumpang yang lewat jalur itu,” katanya.

Tidak lama setelah laporan diterima, puluhan petugas dari PT KAI sudah datang ke lokasi untuk melakukan penanganan longsor. Tampak pula di lokasi, Kapolsek Geyer AKP Sunaryo dan sejumlah anggotanya. Melihat parahnya longsoran, proses penanganan diperkirakan memakan waktu 2-3 hari.

Editor: Supriyadi

Longsor Gerus Jalan Desa Ngrandah Grobogan, Akses Warga Terhambat

MuriaNewsCom, GroboganMusibah tanah longsor terjadi di Desa Ngrandah, Kecamatan Toroh, Rabu (14/2/2018). Tanah longsor di pinggiran sungai menggerus jalan utama antar dusun. Kondisi ini menyebabkan akses transportasi warga di Dusun Sasak tersendat.

Informasi yang didapat menyatakan, tanah longsor sudah terjadi sejak sehari sebelumnya, Selasa sekitar pukul 19.00 WIB. Pada tahap awal, longsoran mengikis talud sungai.

Namun akibat hujan deras, longsoran makin meluas hingga memakan ruas jalan. Selain itu, longsoran juga menjangkau pekarangan warga bernama Sidik (57) yang ada diseberang jalan.

Hingga saat ini, panjang longsoran mencapai 20 meter dengan kedalaman sekitar 7 meter. Panjang longsoran dimungkinkan masih bisa bertambah karena hari ini turun hujan deras.

Akibat jalan longsor, aktivitas warga terganggu. Warga berharap agar musibah longsor segera mendapat penanganan.

“Musibah longsor sudah kita laporkan pada dinas terkait. Rencananya, akan kita upayakan penanganan darurat agar akses warga tidak terhambat,” kata Kades Ngrandah Sistono Budi Saputro.

Sementara itu, Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan menyatakan, pihaknya sudah menerima laporan bencana longsor di Desa Ngrandah tersebut. Nantinya, penanganan akan melibatkan instansi terkait lainnya, seperti DPUPR.

“Laporannya sudah kita tindak lanjuti. Segera kita koordinasikan penanganan longsor di Desa Ngrandah,” katanya.

Editor: Supriyadi

Bahu Jalan Longsor, Pengendara di Jalan Kuwu – Sragen Diminta Hati-hati

MuriaNewsCom,Grobogan – Bagi pengendara yang melintasi jalan raya Kuwu-Sragen diimbau untuk berhati-hati. Hal ini terkait adanya bahu jalan longsor yang terjadi di ruas jalan tersebut. Tepatnya, ditanjakan kawasan hutan yang masuk wilayah Desa Bago, Kecamatan Kradenan, Grobogan.

Informasi adanya bahu jalan milik provinsi yang letaknya pada posisi tikungan itu terjadi sejak beberapa hari lalu. Awalnya, longsoran itu masih agak jauh dari jalan raya. Namun, akibat guyuran hujan deras, longsoran makin melebar hingga memakan hampir separuh jalan berlapis aspal tersebut.

Sejumlah warga, bahkan sempat mengunggah kondisi bahu jalan yang longsor agar menjadi perhatian para pengguna jalan. Warga juga berharap agar longsornya bahu jalan segera ditangani instansi terkait karena kondisinya cukup membahayakan pengguna jalan raya.

Kepala BPT Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Cipta Karya Pemprov Jateng Wilayah Purwodadi Barkah Widiharsono membenarkan adanya bahu jalan longsor di ruas jalan menuju wilayah Sragen tersebut. Menurutnya, pihaknya sudah melakukan penanganan bahu jalan longsor tersebut mulai hari ini.

”Hari ini, petugas kami sudah mulai melakukan penanganan bahu jalan longsor. Penanganan butuh waktu beberapa hari,” kata Barkah saat ditemui dikantornya, Senin (12/2/2018).

Menurutnya, longsor di ruas jalan tersebut disebabkan adanya talud sungai yang terkikis air. Untuk penanganan longsor akan diuruk dengan material dan dipasang bronjong penahan.

Barkah menambahkan, pada tahun anggaran 2018 ini, pihaknya akan melakukan perbaikan pada ruas jalan tersebut. Rencananya, jalan yang diperbaiki panjangnya sekitar 1 km dengan alokasi anggaran berkisar Rp 6-8 miliar.

Editor: Supriyadi

Akses Jalan Terputus, Puluhan Warga Sedayu Grobogan Ramai-ramai Perbaiki Jalan Longsor

MuriaNewsCom, GroboganKegiatan kerja bakti memperbaiki ruas jalan longsor dilakukan puluhan warga Desa Sedayu, Kecamatan Grobogan, Sabtu (10/2/2018). Selain warga setempat, perbaikan yang dilangsungkan sejak pagi juga didukung personil dari jajaran Muspika Kecamatan Grobogan, dan BPBD.

Kades Sedayu Sariyun menyatakan, tingginya curah hujan pada Jumat sore hingga malam mengakibatkan bencana longsor di wilayahnya. Bencana longsor mengakibatkan akses jalan dari Dusun Sandi, Desa Sedayu menuju Dusun Pucung, Desa Lebak terputus.

”Jalan yang longsong kondisinya cukup parah. Panjang longsoran mencapai 40 meter dengan kedalaman 3 meteran,” katanya.

Menurutnya, upaya perbaikan darurat memang perlu dilakukan karena jalan itu menjadi akses penting. Selain jadi jalur menuju Desa Lebak, ruas jalan itu dibutuhkan untuk mengangkut hasil panen.

”Saat ini kebetulan petani ada yang sedang panen jagung dan padi. Untuk mengangkut hasil panen dari ladang dan sawah harus lewat ruas jalan yang longsor,” jelasnya.

Kondisi jalan di Desa Sedayu, Kecamatan Grobogan longsor setelah diguyur hujan semalaman.
(MuriaNewsCom/Dani Agus)

Mengingat jalan longsor jadi akses transportasi penting maka upaya perbaikan dilakukan secepatnya. Meski demikian, perbaikan yang dilakukan masih bersifat darurat.

”Siang ini, perbaikan darurat masih kita lakukan. Saat ini, akses jalan sudah bisa dilewati motor. Kalau kendaraan roda empat belum bisa,” sambung Sariyun.

Disinggung adanya rumah ambruk akibat tanah longsor, ia menegaskan tidak ada rumah warga yang roboh. Dari pendataan yang dilakukan, ada satu rumah yang rusak sedikit bagian fondasinya karena tanahnya sempat terkikis longsor.

Sementara itu, Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan menyatakan, jalan yang longsor di Desa Sadayu kondisinya cukup parah. Untuk penanganan kedepan akan dilakukan secara permanen dengan memasang bronjong.

”Kita sudah koordinasikan dengan pihak DPUPR untuk penanganan jalan longsor di Sedayu. Sementara, kita perbaiki darurat supaya akses jalan tidak terputus total,” katanya.

Editor: Supriyadi

Lagi Cari Rumput, Pak RT di Pekalongan Tewas Tertimbun Longsor

MuriaNewsCom, Pekalongan – Nasib nahas menimpa Rali (45), warga Dukuh Gondang, Desa Tenogo, Kabupaten Pekalongan. Pria yang juga menjabat sebagai ketua RT 01 RW 05 itu ditemukan tak bernyawa tertimbun longsor saat mencari rumput.

Korban tertimbun longsor selama dua hari satu semalam, di wilayah petak 54 blok Siranda milik Perhutani. Korban diketahui tertimbun longsor sejak Rabu (7/2/2018) pagi dan baru ditemukan Kamis (9/2/2018).

Tubuh pak RT itu ditemukan setelah tim SAR gabungan melakukan pencarian dan penyisiran lokasi longsor. Bahkan beberapa tim SAR sempat tertimbun longsor hingga se-dada saat melakukan pencarian.

Upaya pencarian sempat dihentikan pada Rabu sore karena terkendala cuaca dan baru dilanjutkan Kamis pagi.

“Korban tertimbun longsor berhasil ditemukan di lokasi kejadian dalam keadaan meninggal dunia, selanjutnya jenazah korban dibawa ke rumah duka,” kata Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Jateng, Agung Hari Prabowo.

Kronologi tertinbun longsornya korban bermula saar Rali pergi mencari rumput pada Rabu sekitar pukul 05.30 WIB. Menurut keterangan keluarga, biasanya pukul 07.00 WIB, Rali sudah pulang, namun hingga pukul 08.00 WIB belum juga pulang, sehingga keluarga membuat laporan kehilangan.

Apalagi saat itu ada kabar terjadi longsor. Kemudian pukul 09.00 WIB keluarga  beserta warga mulai mencari korban dan hanya menemukan jejak kaki di area sekitar longsoran di tepi sungai.

Warga telah mencari di sekitar bawah area longsor hingga melakukan susur sungai Jurang Jero yang tepat berada di bawah longsoran, namun belum membuahkan hasil.

Area pencarian cukup berbahaya mengingat hujan yang masih turun dan bahkan sempat terjadi longsoran kecil di lereng bekas longsoran yang memiliki ketinggian 30 meter tersebut.

“Tiga orang tim pencari sempat tertimbun longsor se dada saat melakukan pencarian, dan pencarian oleh warga serta teman-teman dari PMI. Pekalongan serta SAR Pekalongan dihentikan pada pukul 3 sore karena hujan mulai turun,” ungkap Agung.

Tubuh korban baru ditemukan pada hari berikutnya setelah tim gabungan kembali melakukan pencarian. Setelah korban korban ditemukan, operasi pencarian dihentikan dan personel dikembalikan ke satuan masing-masing.

Editor : Ali Muntoha

Tak Kuat Didera Hujan, Sebuah Rumah di Desa Pancur-Jepara Longsor

MuriaNewsCom, Jepara – Rumah milik Miftahus Sururi (50), di Dukuh Randubango RT 6 RW 2 Desa Pancur, Kecamatan Mayong, Jepara, longsor akibat pondasinya tergerus hujan lebat semalaman. Akibatnya, sebuah kamar tidur dapur dan dapur ambrol tak bisa dihuni.

Miftah menyebutkan, peristiwa itu terjadi pada Kamis (8/2/2018) dini hari. Sekitar pukul 04.00 WIB ia dibangunkan oleh anaknya ketika tengah terlelap di ruang tamu.

“Saat itu anak saya tiba-tiba membangunkan saya, karena mendengar bumi keras dari bagian rumah, krak..krak..krak...Mulanya saya tak tahu, tapi kemudian kami sekeluarga ke luar rumah. Ketika berada di luar, rumah bagian samping kiri mulai longsor,” katanya ditemui MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, sebelum kejadian tersebut tak ada tanda-tanda terlebih dahulu. Dirinya mengungkapkan, bagian rumahnya yang longsor menempel pada pagar rumah.

Sedangkan, bagian pagar rumah sampingnya ia bangun dengan tidak menggunakan pondasi cakar ayam. “Bertahun-tahun lalu juga tidak apa-apa ketika ada hujan deras. Namun kali ini, pondasi tidak kuat menahan derasnya air dan kemudian longsor,” tuturnya.

Selain ruangan-ruangan rumah yang hancur karena longsor, sebuah sepeda motor miliknya juga ikut tertimbun material. Dari kejadian tersebut, ia menaksir kerugiannya mencapai Rp 40 juta.

“Untuk langkah sementara, saya bersama warga menahan tembok yang masih tersisa dengan bambu. Kemudian selanjutnya kami membersihkan material yang longsor,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Belasan Rumah di Pulokulon Grobogan Terancam Ambles ke Sungai Lusi, 1 Rumah Sudah Roboh

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga yang tinggal di Dusun Pelem, Desa/Kecamatan Pulokulon, Grobogan, berharap agar segera ada penanganan tanggul Sungai Lusi yang longsor. Hal itu dikarenakan longsornya tanggul sudah mengancam belasan rumah yang ada di bantaran sungai.

Dari keterangan warga, total ada 14 rumah yang terancam longsor. Masing-masing, 5 rumah di RT 02 dan 9 rumah lainnya di RT 05.

Dari pantauan di lokasi, tanggul yang longsor sudah dekat dengan beberapa bangunan rumah warga di bagian belakang. Bahkan, tanggul longsor sudah sempat merobohkan beberapa rumah warga. Beruntung, rumah yang roboh hanya pada bagian belakang yang digunakan sebagai dapur atau kandang.

“Rumah saya dibagian belakang roboh sekitar bulan Maret tahun 2017 lalu saat sungai penuh air. Kejadiannya pas tengah malam. Waktu itu, saya sudah tidak di rumah karena ketakutan,” kata Suwarti, warga setempat, Kamis (8/2/2018).

Tanggul yang longsor itu posisinya berada pada tikungan sungai. Dengan kondisi ini, tanggul memang rawan longsor ketika arus sungai mengalir deras.

Warga berharap, tanggul yang longsor akibat bencana itu segera mendapatkan penanganan. Sebelum ditangani, warga yang rumahnya dekat dengan bantaran sungai selalu dihantui ketakutan. Terutama, saat ada hujan deras.

Untuk pencegahan, warga menimbun tanggul yang longsor dengan tebon atau batang tanaman jagung. Selain itu, warga juga menancapkan puluhan batangan bambu di lokasi longsor.

“Penanganan ini sifatnya darurat saja. Harusnya memang pakai alat berat dan dikasih pondasi batu yang ditutup kawat atau bronjong. Bencana ini sudah dilaporkan pada instansi terkait. Katanya, akan segera ditangani tetapi sejauh ini belum ada realiasi,” kata beberapa warga lain.

Sekretaris Desa Pulokulon Moch Munasir menyatakan, kondisi longsoran memang sudah sangat membahayakan pemukiman warga. Pihak desa hanya bisa memberikan solusi kepada warganya untuk pindah dan menempati tanah desa yang masih ada dengan sistem sewa.

Alternatif lain, bagi yang tidak mau menempati tanah desa, diimbau untuk tinggal di tempat saudara atau kerabatnya.

“Tanah longsor di pinggir sungai ini sudah terjadi sudah cukup lama dan sudah kita laporkan pada dinas terkait. Kami berharap bisa segera ditangani,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

2 Tahun Belum Tertangani, Longsor di Ruas Jalan Tambakselo Wirosari Grobogan Bahayakan Pengendara

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga dan pengendara berharap agar bencana longsor yang ada di ruas jalan Desa Tambakselo, Kecamatan Wirosari segera ditangani. Soalnya, kondisi longsoran sudah makin melebar dan membahayakan pengguna jalan.

Ruas jalan milik kabupaten yang longsor itu berada di Dusun Tumpuk. Jalan ini menjadi akses penghubung menuju Desa Dokoro.

Tanah yang longsor lebarnya mencapai 10 meter dengan kedalaman 3 meter. Saat ini, kondisi longsoran sudah menggerus tanah dibawah cor jalan raya.

“Longsornya tanah pinggir jalan itu sudah berlangsung setahun lebih tetapi belum ada penanganan. Akibatnya, kondisi longsoran makin meluas hingga dibawah cor jalan,” kata Suharto, warga yang tiap hari melintasi ruas jalan tersebut, Selasa (6/2/2018).

Kades Tambakselo Sareh Joko Prasetyo menyatakan, jalan yang longsor sudah terjadi hampir dua tahun. Sebelumnya, sudah sempat dilakukan upaya penanganan secara darurat di lokasi itu.

“Kondisi ruas jalan yang longsor sudah kita laporkan pada dinas terkait. Mudah-mudahan segera ditangani secara permanen. Itu termasuk ruas jalan yang banyak dilalui kendaraan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Grobogan Subiyono menyatakan, pihaknya akan segera melakukan penanganan longsornya ruas jalan di Desa Tambakselo tersebut. “Nanti segera kita cek ke lokasi. Untuk penanganan bisa kita pakai dana pemeliharaan,” katanya.

Editor: Supriyadi

Tebing Longsor Hancurkan Rumah di Pakis Aji

MuriaNewsCom, Jepara – Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi di wilayah Jepara mengakibatkan rumah milik Paridah, di Dukuh Ngrebu RT 31 RW 5‎, Desa Tanjung, Kecamatan Pakis Aji, Jepara, Kamis (11/1/2018), tertimpa longsor. Akibatnya, dinding rumah bagian belakang jebol.

Beruntung, peristiwa yang terjadi pada pukul 05.00 WIB itu, tak menimbulkan korban jiwa. Namun demikian, longsoran menyebabkan lubang besar di bagian rumah Paridah.

“Warga bersama relawan langsung turun untuk membantu bu Paridah yang terkena musibah,” ujar Pujo Prasetyo, Kasi ‎Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara.

Menurutnya, longsoran berasal dari tebing setinggi 7-10 meter yang berada di dekat rumah yang bersangkutan, terkikis air hujan. Tak kuat menahan limpasan air, tanah yang ada di tebing tersebut pun longsor, menimpa bangunan rumah Paridah.

‎Saat ini, kata Pujo, musibah tersebut telah tertangani. Semua barang-barang milik empunya rumah yang terancam sudah diungsikan ke tempat yang aman.

BPBD Jepara mengimbau agar dalam musim penghujan seperti ini, warga mewaspadai areal tebing. Hal itu karena daerah tersebut rawan akan longsor.

Editor : Ali Muntoha

3 Rumah di Banyumas Ambruk Kena Longsor, Bayi Umur 3 Tahun Nyaris Tertimbun

MuriaNewsCom, Banyumas – Sebanyak tiga rumah di Desa Kaliwangi, Kecamatan Purwojadi, Kabupaten Banyumas, Rabu (10/1/2018) malam roboh akibat tertimbun longsor. Beruntung tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, setelah penghuni rumah berhasil menyelamatkan diri.

Di dalam rumah yang ambruk saat kejadian ada seorang bayi yang berumur tiga tahun. Beruntung balita ini berhasil diselamatkan ibunya, beberapa saat sebelum bukit di belakang rumah mereka longsor.

Bencana tanah longsor di dukuh Grumbul Pamrih ini bermula dari hujan deras yang mengguyur wilayah Banyumas sejak sore. Akibatnya tebing di desa itu longsor dan menimbun tiga rumah yang ada di bawahnya.

Koordinator Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas Kusworo mengatakan, tiga rumah yang tertimbun terdiri dari dua rumah milik Rosadi (60) dan satu unit rumah milik Sito (37). Keduanya warga Grumbul Pamrihan RT 02 RW 04, Desa Kaliwangi.

“Berdasarkan keterangan korban, sebelum terjadi tanah longsor itu, Sito mendengar suara gemuruh, sehingga ia segera keluar untuk melihat kondisi sekitar rumah. Sesampainya di halaman, Sito melihat tanah di bukit di atas rumah tampak bergerak ke arah rumahnya,” katanya.

Mengetahui ada bahaya di bukit atas rumahnya, ia bergegas memenggil istrinya agar segera keluar dengan menggendong anak mereka yang masih berusia tiga tahun ke luar rumah.

Beruntung balita bernama Alfira Putri itu bisa diselamatkan sebelum rumah mereka tertimbun longsoran bukit. Di dalam rumah Sito juga ada kedua orang tuanya yang sudah tua, mereka juga berhasil menyelamatkan diri.

Setelah seluruh penghuni rumah menyelematkan diri, material longsoran dari atas bukit itu menimbun rumah Sito dan selanjutnya bergerak menuju dua rumah milik Rosadi dan akhirnya tiga rumah semipermanen itu ambruk hingga rata dengan tanah.

“Tidak ada korban jiwa dalam bencana longsor itu. Namun satu unit sepeda motor Supra X 125 yang berada di dalam rumah turut tertimbun longsor,” ujarnya.

Sejak Kamis (11/1/2018) pagi, relawan dan tim SAR dari BPBD langsung melakukan evakuasi longsoran.

Editor : Ali Muntoha

Sudah 3 Tahun, Penanganan Jalan Longsor di Kunden Grobogan Terkatung-katung

Longsornya ruas jalan di Kelurahan Kunden, Kecamatan Wirosari, Grobogan sejak tiga tahun terakhir belum ditangani maksimal. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga Kelurahan Kunden, Kecamatan Wirosari, Grobogan, meminta agar penanganan bencana longsor di ruas jalan Nusa Indah segera dikerjakan. Soalnya, jalan yang longsor merupakan salah satu akses utama warga setempat.

Selain itu, perlunya penanganan serius diperlukan karena longsoran jalan itu kondisinya makin parah. Bahkan, akibat longsoran ini sempat menyebabkan dua rumah yang ada di sekitar,  roboh pada Rabu (28/9/2016). Dua rumah yang roboh tersebut milik Witono (57) dan Siti Rohmah (76), warga setempat.

Robohnya rumah tersebut disebabkan tanah dibawah bangunan terkikis derasnya air Sungai Tirta yang ada di samping ruas jalan tersebut. Dua rumah yang roboh ini posisinya memang berdekatan dengan pinggiran sungai.

Selain itu, belasan rumah lainnya juga terancam mengalami nasib serupa jika longsornya bahu jalan tidak segera ditangani. Beberapa warga yang berdekatan dengan lokasi memilih pindah ke tempat lainnya karena kondisi longsoran dirasa makin mengkhawatirkan,

“Kami berharap, bencana longsor ini bisa ditangani lebih serius. Sebab, longsornya ruas jalan ini sudah berlangsung lama dan membuat repot warga,” kata Teguh, warga setempat.

Peristiwa longsornya ruas jalan Nusa Indah Kelurahan Kunden itu terjadi 26 April 2014 lalu. Peristiwa ini menyebabkan lima rumah warga retak dan satu rumah lainnya terpaksa dirobohkan pemiliknya karena khawatir ikut longsor ke dalam sungai yang ada di sebelahnya.

Akibat peristiwa ini, jalan penghubung ke beberapa desa tersebut putus total dan menyebabkan warga harus mencari jalur alternatif dengan jarak tempuh yang lebih jauh. Terutama bagi pengguna kendaraan roda empat. 

Jalan longsor sepanjang 30 meter dengan kedalaman sekitar sembilan meter itu sebelumnya sudah pernah diuruk dan dibuatkan talud dipinggir sungai. Namun, tanah yang dipakai menguruk jalan longsor itu tidak berselang lama kembali ambles.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Grobogan Subiyono mengatakan, longsornya jalan itu memang cukup parah. Penanganan longsor harus dikerjakan dengan pemasangan tiang pancang, sehingga longsor tidak meluas. Untuk penanganan itu butuh biaya sebesar Rp 20 miliar.

“Pemkab belum mampu menangani sehingga  berulang kali minta dukungan ke pemerintah pusat maupun provinsi agar dapat membantu menangani longsoran di Kunden tersebut. Saat ini, desain penanganan sungai sedang dibuat oleh BBWS Pemali Juana. Mudah-mudahan, perhononan yang kita ajukan segera ditindaklanjuti,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Dandim 0719/Jepara Instruksikan TNI Siaga Hadapi Bencana di Musim Hujan

Komandan Komando Distrik Militer 0719/Jepara Letkol (inf) Ahmad Basuki ketika memeriksa kesiapan prajuritnya dalam menghadapi bencana sertaan musim penghujan di Jepara, Senin (4/12/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menghadapi bencana sertaan di musim hujan, Komandan Kodim 0719/Jepara Letkol (inf) Ahmad Basuki instruksikan semua anggota TNI di Kota Ukir bersiaga penuh. Selain kesiapan personel, pihaknya juga menyiagakan armada evakuasi seperti Landing Craft Rubber (LCR-Kapal Karet) dan KMC Komando.

“Untuk memantapkan kesiagaan, pagi ini kami melakukan apel kesiapan penanggulangan bencana. Di Jepara kita ada tiga bencana yang patut diwaspadai, yakni abrasi air laut, banjir dan tanah longsor,” ujar Ahmad Basuki, seusai apel di halaman Makodim Jepara, Senin (4/12/2017). 

Ia mengungkapkan, kekuatan Kodim Jepara untuk membantu penanganan kebencanaan sudah siap diterjunkan. Dandim 0719 itu juga menyebut, pihaknya memiliki 12 LCR berkapasitas mesin mulai dari 15 PK (Paar de Kraft-Tenaga Kuda). Adapula kapal berbahan alumunium dan KMC Komando yang diawaki 50 personel dapat menempuh Pulau Karimunjawa dalam tempo satu jam, dengan kecepatan 27 knot.

Untuk personel, pihaknya menyiagakan 300 prajurit yang disiagakan untuk dapat membantu penanganan bencana, sewaktu-waktu. “Ketika ada bencana Danramil (Komandan Rayon Militer) kami perintahkan turun untuk memonitor dan membantu masyarakat,” tegasnya. 

Terakhir, ia mengingatkan warga Jepara untuk senantiasa berwaspada. Pada awal bulan Desember, bencana abrasi air laut telah terjadi dan mengakibatkan beberapa rumah di Kelurahan Ujung Batu dan Demaan terkena imbas. 

“Banjir juga perlu diwaspadai, mengingat ini siklus empat tahunan. Tahun 2014 sudah pernah terjadi banjir besar. Tahun 2018 harus lebih siaga. Disamping itu, tanah longsor juga perlu diperhatikan, seperti di daerah Tempur. Kami imbau warga berhati-hati melewati daerah tebing yang rawan longsor,” tutup Ahmad Basuki. 

Editor: Supriyadi

1 Penambang Tewas Tertimpa Longsoran Batu di Kebumen

 

Polisi melakukan olah TKP di lokasi longsor di Dukuh Era, RT 03/02, d Desa Karangkembang, Kecamatan Alian, Senin (201/11/2017) sekitar pukul 08.30 WIB. (Facebook)

MuriaNewsCom, Kebumen – Ahmad Fauzan (35) seorang penambang batu warga Dukuh Sumberan, RT 5 RW 02, Desa Karangkembang, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, tewas, tertimpa longsoran batu cadas, di Dukuh Era, RT 03/02, d Desa Karangkembang, Kecamatan Alian, Senin (201/11/2017) sekitar pukul 08.30 WIB. Korban meregang nyawa di lokasi longsor.

Selain satu orang tewas, ada juga beberapa korban luka. Masing-masing Suradi (65) ayah korban, warga RT 06 RW 02 Desa Karangkembang, dan Ahmadi yang juga warga Desa Karangkembang. Keduanya dilarikan ke RSUD Kebumen.

Info yang dihimpun, mulanya mereka sedang menambang batu cadas. Sekitar pukul 08.30 WIB, tiba-tiba longsor terjadi. Bongkahan batu dari perbukitan atas menimpa Fauzan. Korban meninggal dunia seketika.

Kapolsek Alian AKP Mukhsin mengatakan, polisi saat ini masih melakukan pemeriksaan atas kasus ini. Termasuk, polisi sudah melakukan olah TKP. “Korban sudah dibawa ke rumah sakit tadi,” kata Mukhsin.

Selain polisi, dikerahkan pula BPBD, RAPi, Orari, PMI, dan masyarakat setempat. Lokasi sendiri saat ini telah diberi garis polisi.

Editor : Akrom Hazami