Penanganan Jalan Longsor Lamban, Belasan Rumah di Kelurahan Kunden Grobogan Terancam Roboh

Jalan di Kelurahan Kunden, Kecamatan Wirosari, Grobogan mengalami longsor, dan belum tertangani maksimal. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga Kelurahan Kunden, Kecamatan Wirosari meminta agar penanganan bencana longsor yang menimpa ruas jalan Nusa Indah segera dikerjakan. Sebab, longsoran jalan itu kondisinya makin parah.

Bahkan, akibat longsoran ini sempat menyebabkan dua rumah yang ada di situ roboh pada Rabu (28/9/2016). Dua rumah yang roboh tersebut milik Witono (57) dan Siti Rohmah (76), warga setempat.

Robohnya rumah tersebut disebabkan tanah di bawah bangunan terkikis derasnya air sungai Tirta yang ada di samping ruas jalan tersebut. Dua rumah yang roboh ini posisinya memang berdekatan dengan pinggiran sungai.

Selain itu, belasan rumah lainnya juga terancam mengalami nasib serupa jika longsornya bahu jalan tidak segera ditangani. Karena kondisinya dirasa mengkhawatirkan, beberapa warga yang berdekatan dengan lokasi memilih pindah ke tempat lainnya.

“Kami berharap, bencana longsor ini bisa ditangani lebih serius. Sebab, longsornya ruas jalan ini sudah berlangsung lama dan membuat repot warga,” kata Teguh, warga setempat.

Peristiwa longsornya ruas jalan Nusa Indah Kelurahan Kunden itu terjadi 26 April 2014 lalu. Peristiwa ini menyebabkan lima rumah warga retak dan satu rumah lainnya terpaksa dirobohkan pemiliknya karena khawatir ikut longsor ke dalam sungai yang ada di sebelahnya.

Akibat peristiwa ini, jalan penghubung ke beberapa desa tersebut putus total dan menyebabkan warga harus mencari jalur alternatif dengan jarak tempuh yang lebih jauh. 

Jalan longsor sepanjang 30 meter dengan kedalaman sekitar 9 meter itu sebelumnya sudah pernah diuruk dan dibuatkan talud di pinggir sungai. Namun, tanah yang dipakai menguruk jalan longsor itu tidak berselang lama kembali ambles.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Grobogan Subiyono mengatakan, longsornya jalan itu memang cukup parah. Penanganan longsor harus dikerjakan dengan pemasangan tiang pancang, sehingga longsor tidak meluas. Untuk penanganan itu butuh biaya sebesar Rp 20 miliar.

“Pemkab belum mampu menangani sehingga  berulang kali minta dukungan ke pemerintah pusat maupun provinsi agar dapat membantu menangani longsoran di Kunden tersebut. Saat ini, desain penanganan sungai sedang dibuat oleh BBWS Pemali Juana. Mudah-mudahan, perhononan yang kita ajukan segera ditindaklanjuti,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Rahtawu Kudus Kembali Longsor

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Bencana tanah longsor kembali terjadi di Dukuh Tumpuk, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus, Senin (13/3/2017) sekitar pukul 20.00 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam musibah.

Akibat longsor, jalan menuju lokasi desa tertutup material. Hal itu menghambat warga yang hendak lalu lalang beraktivitas.

Kepala Desa Rahtawu Sugiyono mengatakan, longsor terjadi kemarin malam. Setelah sebelumnya hujan turun terjadi disertai angin kencang.

“Saat itu malah hujannya yang tidak terlalu deras, namun angin yang malah kencang menerpa wilayah Desa Rahtawu itu,” kata Sugiyono di Kudus, Selasa (14/3/2017).

Menurutnya, longsor terjadi pada tebing yang mempunyai ketinggian sekitar 4 meter dan lebar 5 meter. Material longsor menutupi jalan.

Pihaknya menginstruksikan kepada warga untuk mengatasi jalan yang tertimbun longsor dan pohon tumbang. Pembersihan seadanya dilakukan malam kemarin agar dapat dilalui oleh warga.

“Pagi tadi dilanjutkan kembali. Kami bersama dengan tim BPBD Kudus untuk membersihkan sisa longsorm,” ungkapnya.

Kepala BPBD Kudus Bergas C Penanggungan meengatakan, pihaknya bersama dengan para relawan datang ke lokasi untuk membantu melakukan pembersihan.

Editor : Akrom Hazami

 

Ini Cara Cerdas Tangani Longsor di Rahtawu Kudus

Warga melintasi jalan di lokasi longsor di Dukuh Semliro, Rahtawu, Gebog, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Longsoran yang menimpa Desa Rahtawu Kecamatan Gebog, disebabkan oleh air yang menggerus tanah. Hal itu diungkapkan Kadinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Kudus Sam’ani Intakoris.

“Hujan deras membuat air masuk dan tertahan di tanah karena tidak ada pembuang. Jadi longsor terjadi di sana. Terutama saat hujan deras,” kata Sam’ani di Kudus, Rabu (8/3/2017).

Di kawasan tersebut, struktur tanahnya memang labil atau mudah bergerak. Hal itu juga yang mempengaruhi seringnya longsor. Kendati demikian, longsor di lokasi itu tetap bisa ditangani. Hanya memang butuh kerja sama satu sama lain.

“Kalau ditanggul bisa, namun membutuhkan biaya yang sangat banyak. Cara paling mudah yaitu mencarikan jalan air, jadi air tidak tertahan di tanah melainkan langsung keluar dan masuk saluran,” ujarnya.

Hanya, untuk penanganan semacam itu butuh kerja sama dengan masyarakat. Karena tanah kebanyakan milik warga. Susahnya tidak semua warga mau jika tanahnya diutak-atik oleh pemerintah atau pihak luar.

Soal jalan, kata dia, bakal segera ditangani oleh pemerintah. Pembiayaan menggunakan biaya rutin yang dimiliki oleh instansi tersebut. Hal itu lebih mudah dan cepat ketimbang melalui proses pengajuan.

“Kalau pengajuan lewat APBD cukup lama. Apalagi itu jalan kabupaten menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten untuk memelihara. Selain itu juga jalan juga menjadi akses satu-satunya warga yang berada di sana,” ungkapnya.

Dia memperkirakan, akibat dari kerusakan tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Editor : Akrom Hazami

 

Berpotensi Longsor Susulan, Warga Japan Dawe Diminta Waspada

Polisi dan warga melakukan pembersihan di rumah warga yang rusak tertimpa material longsoran di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kejadian longsor yang menimpa rumah di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus, Selasa (7/3/2017) berpotensi susulan. Untuk itu, warga diminta waspada, terlebih untuk mereka yang berada di lokasi sekitar longsor itu.

Kapolsek Dawe AKP Sunar mengatakan, dia berpesan kepada masyarakat agar lebih waspada. Terlebih bagi masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar tanggul untuk ekstra waspada.”Bahkan kalau perlu bisa menambah penghijauan. Agar tanggul dan tanahnya kuat, dan meminimalisasi adanya bencana longsor kembali,” kata Sunar di Kudus, Rabu (8/3/2017).

Menurutnya, bencana di kawasan tersebut, merupakan longsoran dari tebing. Kapolsek menyatakan, longsoran terjadi pada tebing setinggi 6 meter. Material longsoran menghantam dinding rumah warga.

Baca juga : 

Asyik Ngobrol, Rumah Ambrol Tertimpa Longsor di Japan Kudus

Pagi tadi, sejumlah warga beserta petugas polisi dan dibantu sejumlah warga membantu membersihkan sisa longsor. Mereka membersihkan dengan alat seadanya.”Sekarang sudah bersih kembali, tinggal lokasi temboknya saja. Untuk antisipasi, kami intensifkan dengan warga terkait kondisi di sana,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Rahtawu Kudus Longsor lagi

Kades Rahtawu Sugiyono meninjau lokasi longsor di wilayah Dukuh Semliro, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kejadian longsor kembali  menimpa Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus. Longsor terjadi Selasa (7/3/2017) sekitar pukul 23.30 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut.

Kades Rahtawu, Sugiyono mengatakan, longsor terjadi di lima titik. Kejadian longsor di lima titik terjadi serentak. Saat itu, daerah masing-masing sedang dilanda hujan deras.”Paling parah ada dua titik, keduanya di Dukuh Semliro. Keduanya merusak akses jalan karena menggerus jalan sekitar satu meter. Jika jalan luasanya hanya empat meteran, sekarang tinggal tiga meter,” kata Sugiyono di Kudus, Rabu (8/3/2017).

Titik longsor awal berada di kawasan blok Dongkas wilayah setempat. Kondisi longsor menggerus tebing setinggi belasan meter dengan lebarnya 15 meter. Akibatnya, material longsoran hampir saja menutup jalan raya. Lokasi kedua lebih parah lagi, yang lokasinya tidak jauh dari titik pertama. Bedanya, tebing yang tergerus nyaris mengenai rumah warga.

“Untuk lokasi kedua panjang bisa mencapai 25 meter dan tinggi 15 meteran. Lokasi tersebut beberapa kali memang terkena longsor terlebih saat hujan seperti ini,” ujarnya.

Saat longsor terjadi tidak ada aktivitas di lokasi sekitar. Praktis tidak ada korban akibat longsor semalam. Sebagai wilayah yang siaga longsor, pagi tadi langsung diumumkan di masjid untuk kerja bakti membersihkan sisa material longsoran. Kerja bakti dimulai pukul 06.00 WIB dengan diikuti sebagian besar warga Rahtawu.

“Kami juga sudah memasang drum, yang mana untuk menghalau kendaraan yang melintas agar lebih berhati-hati saat mengendarai,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Asyik Ngobrol, Rumah Ambrol Tertimpa Longsor di Japan Kudus

Warga gotong royong melakukan pembenahan di rumah yang kena longsor di Dawe, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kejadian longsor kembali menerjang wilayah Kudus, Selasa (7/3/2017). Kali ini longsor terjadi di Desa Japan, Kecamatan Dawe. Longsor mengakibatkan dinding rumah jebol.

Kejadian longsor membuat kaget penghuni rumah, yang mana saat itu sedang asyik ngobrol. Tiba-tiba suara gemuruh datang, hingga berakibat dindingnya jebol.

Kapolsek Dawe AKP Sunar mengatakan, longsor terjadi sekitar pukul 20.30 WIB. Rumah warga yang terkena longsor, adalah Abdul Rokim (47) warga Desa Japan RT 2 RW 2, Dawe, Kudus. Longsoran membuat rumah bagian tengah milik Rokim.

“Jebolnya cukup parah. Ukurannya sekitar 3 x 4 meter pada dinding ruang tengah rumahnya. Jebolnya tembok tertahan dengan adanya jendela di ruang tersebut,” kata Sunar di Kudus, Rabu (8/3/2017).

Menurutnya, saat kejadian longsor, istri, Sri Sunarsih (40) bersama anaknya Abas Nor Aini (19) sedang asyik ngobrol di ruang tamu rumahnya. Saat itu cuaca sedang hujan deras  dan mereka dikagetkan dengan dinding jebol tersebut.

“Akhirnya mereka mendatangi sumber suara gemuruh. Dan mereka kaget melihat dindingnya jebol,” ujarnya.

Dikatakan, dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa. Namun kerugian mencapai jutaan rupiah. “Kerugian akibat dinding yang jebol cukup banyak. Sekitar Rp 3 juta rupiah. Kalau korban jiwa nihil. Semuanya selamat,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Longsor Ancam 15 Rumah Warga Rahtawu Kudus

Bagian rumah warga yang terkena longsor di Rahtawu, Kudus. (ISTIMEWA)

Bagian rumah warga yang terkena longsor di Rahtawu, Kudus. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Longsoran yang beberapa kali menimpa Desa Rahtawu, Gebog, Kudus, semakin mengkhawatirkan. Karena, longsoran mengancam permukiman warga setempat.

Kepala Desa (Kades) Rahtawu, Sugiyono mengatakan, longsor terjadi beberapa kali pada musim hujan kali ini. Dengan lokasinya berada di tebing. “Longsoran bahkan ada yang sangat dekat dengan permukikan. Kami siaga terhadap adanya longsoran lagi,” kata Sugiyono di Kudus, Sabtu (4/2/2017).

Dari pantauannya, ada sekitar 15 rumah yang terancam longsor. Dari jumlah itu, ada bagian rumah yang sudah ambles, seperti halnya dapur dan sisi lainnya. Sekitar 15 rumah warga tersebar di berbagai  sudut Desa Rahtawu.

Di antaranya, empat rumah di RT 04 / RW 04, lalu lima rumah lainnya berada di RT 01 / RW 04, serta dua rumah di RT 3 / RW 5, dan beberapa rumah lain di Pedukuhan Wetan Kali. ‎”Melihat hal itu saya langsung laporan, seperti kepada kecamatan, kepolisian dan juga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus. Sesuai dengan prosedur tentunya,” ungkapnya.

Saat ini, pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar melakukan ronda secara gantian setiap harinya. Hal itu untuk mengantisipasi jatuhnya korban bila longsor tiba setiap saat.

Info terakhir, kata dia Kamis (2/2/2017) kemarin, terdapat tiga titik rekahan tanah, yang baru. Rekahan itu, berpotensi longsor dan mengancam tiga rumah penduduk. Untuk itu dia menginstruksikan warga untuk menjauhi lokasi itu.

Editor : Akrom Hazami

4 Kecamatan di Kudus Ini Rawan Longsor

Warga kerja bakti saat usai bencana longsor yang terjadi di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Gebog, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga kerja bakti saat usai bencana longsor yang terjadi di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Gebog, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bencana yang terjadi di Kudus nyaris menimpa semua kecamatan yang ada. Namun dari sembilan kecamatan terdapat empat kecamatan yang memiliki potensi bencana yakni longsor, dan sisanya adalah potensi banjir.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, Bergas Catursasi Penanggungan menyebutkan, keempat wilayah rawan longsor tersebut meliputi Kecamatan Gebog, Dawe, Undaan dan Jekulo.

Paling mengancam adalah longsor, dan jika lebih spesifik, Peta paling rawan yaitu Desa Rahtawu, Menawan, Jurang dan Desa Kedungsari (Gebog), serta Desa Soco, Ternadi, Japan, Kuwukan, Puyoh, Colo, Dukuh Waringin, Cranggang dan Kajar Kecamatan Dawe. Desa- desa tersebut berada di kawasan lereng Pegunungan Muria,” katanya kepada MuriaNewsCom, di Kudus, Sabtu (7/1/2017).

Sebenarnya total desa yang rawan longsor ada 17 desa. Selain kawasan lereng gunung Muria, wilayah lain yakni kawasan hutan pegunungan Kendeng di Desa Wonosoco Undaan, serta sekitar hutan Patiayam di Desa Terban, Godoharum dan Desa Tanjungrejo Kecamatan Jekulo.

Selain longsor, Kudus juga memiliki wilayah rawan genangan air karena lokasi tanah yang rendah. Totalnya ada sekitar 40 desa dan 39 lahan persawahan rawan banjir dan genangan. Yakni Kecamatan Mejobo, Jekulo, Jati, Undaan dan Kaliwungu.

Camat Undaan Kudus Catur Widiyatno mengakui, dari 16 desa di wilayahnya, delapan desa di antaranya rawan banjir, baik terhadap areal persawahan maupun permukiman. “Daerah rawan banjir yaitu Desa Wates, Ngemplak, Undaan Lor, Karangrowo, Larikrejo, Kutuk, Berugenjang dan Wonosoco. Kami harus komunikasi secara intensif dengan melibatkan masyarakat,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Satu Rumah Warga Rusak Parah Akibat Longsor di Sukolilo Pati

Kondisi rumah di Dukuh Lebak Kulon, Sukolilo, Pati yang rusak akibat terkena tanah longsor, Rabu (4/1/2017) dini hari. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi rumah di Dukuh Lebak Kulon, Sukolilo, Pati yang rusak akibat terkena tanah longsor, Rabu (4/1/2017) dini hari. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tanah longsor terjadi di Dukuh Lebak Kulon RT 8 RW 7, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Pati, Rabu (4/1/2017) dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB.

Bencana longsor terjadi, akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut dari Selasa (3/1/2017) siang. Akibat longsor, rumah permanen milik Slamet mengalami rusak berat.

Selain itu, tanah yang longsor menimbun jalan perkampungan yang digunakan warga untuk akses jalan. Sontak, jalan perkampungan tersebut sempat tidak bisa dilalui warga, sebelum akhirnya dievakuasi.

“Kawasan Sukolilo memang dilanda hujan lebat sejak kemarin. Struktur tanah yang kurang kuat disertai guyuran hujan dengan intensitas tinggi kerapkali membuat tanah di perbukitan rawan longsor,” ujar Dion, anggota Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam bencana alam tersebut. Namun, kerugian material yang diderita pemilik rumah yang rusak akibat longsor diperkirakan mencapai Rp 30 juta. Timbunan tanah yang menutup akses jalan perkampungan berhasil dievakuasi warga. Mereka gotong royong membersihkan puing-puing longsor.

Di tengah cuaca ekstrem dengan intensitas hujan yang tinggi, warga Pati diminta untuk mewaspadai beberapa jenis bencana alam yang bisa datang sewaktu-waktu. Salah satunya, banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung. Di daerah perbukitan, bencana yang paling terjadi adalah tanah longsor.

Editor : Kholistiono

Jalan Desa Nampu Grobogan Longsor lagi, Ini Rencana Penanganannya pada 2017

Lokasi jalan penghubung Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan yang masuk wilayah Dusun Cengklik longsor. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Lokasi jalan penghubung Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan yang masuk wilayah Dusun Cengklik longsor. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski sudah sempat diperbaiki secara darurat, jalan penghubung Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan yang masuk wilayah Dusun Cengklik kembali longsor. Hal ini terjadi setelah sungai yang ada di sebelah jalan kembali meluap.

Selain itu, arus air sungai menggerus tanah yang di atasnya terdapat tumpukan karung penahan longsor. “Karung berisi tanah yang kita pakai untuk penahan longsor secara darurat rusak diterjang derasnya air. Kejadiannya, sekitar lima hari lalu,” kata Camat Karangrayung Hardimin.

Menurutnya, perbaikan darurat sebelumnya dikerjakan secara gotong-royong oleh masyarakat dibantu BPBD Grobogan. Terkait longsor kedua, penanganan akan dilakukan secara permanen pada tahun 2017. Alokasi dana perbaikan sudah dianggarkan lewat dana desa yang diterima Desa Nampu.”Alokasi dana desa 2017 untuk Desa Nampu cukup besar, sekitar Rp 900 juta. Sebagian dana akan disalurkan untuk perbaikan jalan longsor itu,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, aktivitas warga Desa Nampu, Kecamatan Karangrayung menuju wilayah Kabupaten Boyolali sedikit terganggu. Penyebabnya, ada ruas jalan utama yang longsor sepanjang 20 meter. Akibat peristiwa ini, kendaraan besar tidak berani melintas. Informasi menyebutkan, ruas jalan tersebut lebarnya sekitar 5 meter. Jalan ini sudah dicor dengan model beton setapak sisi kanan dan kiri serta di tengahnya dilapisi makadam.

Akibat musibah ini, lebar jalan tinggal sekitar 3 meter. Salah satu sisi cor beton setapak bahkan sempat ikut longsor. Lokasi jalan longsor masuk wilayah Dusun Cengklik. “Jalan ini longsor mulai 27 November lalu. Kejadian ini, sudah kita laporkan pada Pak Camat,” kata Kades Nampu Ngatmin.

Longsornya jalan itu disebabkan gerusan Kali Nampu yang ada di sebelah selatannya. Hal ini terjadi lantaran air meluap dalam beberapa waktu terakhir.

Editor : Akrom Hazami

Dukuh Kambangan Menawan Kudus masih Berpotensi Longsor Susulan

Warga melakukan kerja bakti di lokasi longsor di Dukuh Kembangan, Desa Menawan, Gebog, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga melakukan kerja bakti di lokasi longsor di Dukuh Kembangan, Desa Menawan, Gebog, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kejadian longsor yang menimpa Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Gebog, Kudus, dimungkinkan bisa terjadi kembali. Hal itu, disebabkan tanah tebing di sekitar yang longsor sudah rekah, dan kondisi tanah yang tak berbatu.

Hal itu diungkapkan Kades Menawan, Sholihin. Dia mengatakan kalau saat evakuasi tanah longsoran, petugas beserta warga hendak mengepras pohon bambu dan sejumlah pohon. Hanya, niatan tersebut tak dilakukan, lantaran melihat tanah yang sudah rekah.

“Kami khawatir kalau tanah tak kuat lagi menopang pohon.  Sehingga, jika disertai hujan dan angin, berpotensi kembali longsor,” katanya kepada MuriaNewsCom di lokasi longsor, Selasa (20/12/2016).

Di atas tebing setinggi 15 meteran, kata dia, terdapat puluhan rumah warga yang juga terancam longsor. Rumah paling parah adalah milik Temu, istri Edi Agus Pratomo bersama tiga anaknya. Hanya tinggal beberapa langkah saja, rumahnya berjarak dengan tebing yang longsor. Kades khawatir, jika longsor susulan tiba, maka rumah warga itu bisa terbawa longsoran.

“Suaminya berada di Papua, dan melihat kondisi rumah yang membahayakan, maka kami meminta sementara pindah dulu ke rumah saudara atau tetangganya,” ujarnya.

Dia berharap warga tetap siaga, terlebih saat malam dan juga hujan tiba. Dia juga meminta agar warga melakukan poskamling, guna siaga mengurangi adanya korban.

Kapolsek Gebog AKP Muhaimin mengatakan, pihaknya siap membantu warga jika terjadi bencana. Bahkan dia juga turun langsung untuk membantu, seperti evakuasi longsoran yang dilakukan pagi tadi.

“Tanahnya memang gembur, jadi mudah longsor. Apalagi sekarang masih musim hujan, jadi harus tetap waspada,” ungkap dia.

Editor : Akrom Hazami

Ibu Rela Kerja Bakti Bersihkan Longsor di Kambangan Gebog Kudus

Seorang ibu ikut dalam kerja bakti membersihkan tanah yang menutupi badan jalan di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Gebog, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorang ibu ikut dalam kerja bakti membersihkan tanah yang menutupi badan jalan di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Gebog, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Longsor terjadi di Dukuh Kambangan RT 4 RW 5, turut Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus, membuat banyak pihak rela kerja bakti.

Di antaranya adalah kalangan ibu. Mereka rela membantu membersihkan longsoran tanah dari permukaan jalan.

Terlihat pula sejumlah anggota kepolisian Gebog, dan Anggota TNI yang juga ikut membantu menyingkirkan sisa longsor. Berdasarkan pantauan, sepanjang jalan sedikitnya terdapat dua titik longsor dengan skala besar dan kecil.

Di desa itu, ada sekitar 500 orang warga desa yang kerap memanfaatkan akses jalan. Kapolsek Gebog AKP Muhaimin bersama muspika Gebog memimpin evakuasi tanah longsor.

Diketahui, akibat diguyur hujan selama sepekan di wilayah Kudus bagian utara khususnya di Desa Menawan mengakibatkan longsor.

Korban jiwa tidak ada namun ada satu rumah milik warga Dukuh Genting yaitu milik Supriyadi. Yakni pekarangan rumahnya bagian belakang terkena longsor sehingga dapurnya rawan longsor.  Pada Selasa (20/12/2016) pukul 09.00 WIB, tanah longsor yg menutupi jalan sudah dapat dibersihkan. Arus lalu lintas normal kembali. Kerugian material hanya tanaman pagar yang terkena longsor.

Editor : Akrom Hazami

Tanah Longsor Terjadi di Kambangan Kudus, Ratusan Warga Terisolasi

Warga beraktivitas membersihkan tanah yang menutupi permukaan jalan di Desa Kambangan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga beraktivitas membersihkan tanah yang menutupi permukaan jalan di Desa Kambangan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bencana tanah longsor menimpa Dukuh Kambangan RT 4 RW 5, turut Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus. Longsor terjadi dari tebing setinggi 15 meter yang berakibat menutup satu-satunya jalan menuju Kambangan. Akibatnya, warga tak dapat beraktivitas lantaran terisolasi.

Kepala Desa Menawan, Sholihin mengatakan, longsor terjadi Senin (19/12/2016) sekitar  pukul  22.00 WIB. Saat kejadian, di wilayah Kambangan sedang hujan deras, sehingga tak diketahui warga kalau terdapat bencana longsor.

“Yang tahu malah PLN duluan, saat itu hendak memperbaiki jaringan listrik, namun tak bisa karena tertutup longsor. Setelah itu saya dihubungi BPBD yang mendapatkan laporan dari PLN,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Setelah itu, kata dia, pihaknya meminta warga melihat lokasi longsor. Benar saja, longsor ditemukan di jalan Kambangan, dan menutup akses jalan lantaran tanah yang longsor menutupi permukaan jalan.

Setelah diketahui lokasi longsor, tim BPBD, warga, serta pihak desa mendatangi lokasi. Kemudian mereka bersama mengurangi longsor yang menutup akses jalan. Karena jumlah yang terbatas serta alat yang seadanya, maka timbunan longsor belum bisa dibuang sepenuhnya.  “Semalam selesai sekitar jam 02.00 WIB. Setelah itu bubar, dan dilanjutkan lagi pagi ini, Selasa (20/12/2016). Tadi sekitar jam 06.00 WIB baru dimulai lagi kerja bakti,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Longsor Landa Dawe Kudus

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kejadian tanah longsor terjadi di Desa Colo RT 05 RW 01, Dawe, Kudus, Minggu (8/5/2016). Satu rumah warga atas nama Ahmad Riswadi mengalami rusak karena longsoran itu.

Tidak ada korban dalam kejadian itu. Dari informasi yang diperoleh, luas tanah milik korban sekitar 15×3 m dan kerugian ditaksir sekitar Rp 20 juta. Kronologi kejadian, pada hari Minggu sekitar pukul 11.00 WIB,  hujan turun sekitar setengah jam.

Korban ketika itu bersama keluarga sedang bersama anak. Tiba-tiba kejadian longsor melanda disertai kilatan halilintar. Longsor terjadi di rumah sebelah samping korban. Diketahui, di atasnya terdapat pemakaman umum.

Pascakejadian, penanganan dilakukan. Mulai dari rapat RT, BPD, dan ahli waris kubur disepakati diadakan kerja bakti.

Editor : Akrom Hazami

2 RT di Desa Menawan Kudus Terisolir Akibat Tebing Longsor

Tebing longsor yang ada di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tebing longsor yang ada di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Intensitas curah hujan yang cukup tinggi di wilayah Kudus, mengakibatkan tebing di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, longsor. Akibat peristiwa ini, setidaknya ada dua RT di desa tersebut terisolir berjam-jam.

Syarifudin Zuhri, Warga Dukuh Kambangan mengatakan, peristiwa tebing longsor terjadi pada Selasa, sekitar pukuln 13.30 WIB. Longsor tersebut menutup jalan, yang menghubungkan antardukuh di desa tersebut. Lokasi longsor, tepat berada di depan masjid Dukuh Kambangan.

Beruntung, dalam kejadian longsor tidak memakan korban jiwa. Namun, pihak warga berharap tumpukan tanah yang menutup jalan dapat segera disingkirkan. Mengingat jalur tersebut merupakan jalur utama menuju perkotaan.

Sementara itu, Kepala Desa Menawan M. Sholikin mengatakan, dua RT yang terisolir yakni RT 1 dan RT 2. Dua RT tersebut, lebih kurang terdapat 55 KK.

Dengan kejadian ini, warga yang akan beraktivitas atau pulang kerja, maka harus melewati bawah jalan yang tertimbun longsor atau depan masjid yang baru dibangun.

“Kalau mereka ingin melawati jalan ini, sementara harus melewati depan masjid. Sebab tanah longsoran itu, tidak sampai pelataran masjid,” ujarnya.

Dia menambahakn, untuk saat ini pihaknya menggerakan warga setempat untuk kerja bakti semampunya saja. Yakni ikut membantu memotong pohon. Selain itu, untuk pohon yang berdekatan dengan area longsor, maka langsung ditebang. Meskipun keberadaan pohon tersebut belum terkena longsor. Sebab dikhawatirkan ada longsor susulan.

Editor : Kholistiono

6 Rumah di Jepara Tertimpa Longsor

Tim SAR gabungan saat berada di lokasi longsor. (MuriaNewsCom/Wahyu Khiruz Zaman)

Tim SAR gabungan saat berada di lokasi longsor. (MuriaNewsCom/Wahyu Khiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Musibah kembali terjadi di wilayah Kabupaten Jepara. Kali ini, enam rumah yang berada di Desa Tanjung, Kecamatan Pakisaji dan Desa Papasan, Kecamatan Bangsri tertimpa tanah longsor.

Akibat peristiwa ini, Tim SAR gabungan beserta warga setempat membersihkan material longsoran. Dengan menggunakan alat-alat sederhana, relawan bersama warga menyingkirkan material tanah.

“Medan menuju ke lokasi sangat sulit, proses pembersihan longsor kami lakukan dengan alat sederhana hanya dengan cangkul dan papan kayu, karena medan menuju ke sini (lokasi longsor) juga cukup sulit,” ujar petugas BPBD Kabupaten Jepara, Muhammad Zainuddin.

Menurutnya, salah satu rumah yang tertimpa tanah longsor adalah rumah milik Badri, warga RT 33 RW 05 Desa Tanjung, Pakisaji, Jepara. Selain itu tanah longsor juga menimpa rumah Handoyo, warga Desa setempat. Longsor juga menutup akses jalan warga di sejumlah titik.

“Pada waktu yang hampir bersamaan, peristiwa longsor juga terjadi di Desa Papasan, Kecamatan Bangsri, yang menimpa empat rumah warga,” papar Zainuddin.

Rumah yang rusak tertimpa longsoran di Desa Papasan, yaitu milik Suni, warga RT 03 RW 01 dan tiga rumah di RT 01 RW 01, masing-masing milik Sunar, Agus, Sutrimo.

“Peristiwa longsornya tidak bareng. Pertama yang longsor di RT 03 RW 01, kemudian disusul longsor di RT 01 RW 01,” ujar Zainuddin.

Pemilik salah satu rumah yang tertimpa tanah longsor, Badri menceritakan, dirinya beserta anggota keluarga yang lain saat itu sedang berada di dalam rumah.

Mendengar suara gemuruh dari belakang rumah, Badri beserta yang lain bergegas keluar dari rumah. Seketika, dinding rumah yang terbuat dari kayu jebol, tinggal menyisakan atap dan beberapa tiang penyangga.

“Dari belakang rumah itu suaranya bergemuruh, terus kami langsung keluar rumah lari menuju ke timur, ternyata di jalan juga ada longsoran,” ujar Badri, Minggu (28/2/2016).

Lebih lanjut Badri menyampaikan, peristiwa longsornya tebing setinggi lebih dari 10 meter di belakang rumahnya itu berlangsung singkat. Seketika rumah beserta isinya tertimbun material longsor.

“Barang-barang tidak ada yang bisa diselamatkan,” tandas Badri.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Sehari Hujan, Dua Rumah di Jepara Jadi Korban Longsor

Curah Hujan Tinggi, Rahtawu Kudus Siaga Longsor

Kepala Dinas Bina Marga dan ESDM Sam'ani Intakoris mendatangi lokasi longsor beberapa waktu yang lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Dinas Bina Marga dan ESDM Sam’ani Intakoris mendatangi lokasi longsor beberapa waktu yang lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Curah hujan yang masih tinggi terjadi di kawasan Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus. Kondisi tersebut, membuat warga masih siaga jika terjadi bencana longsor.

Hal itu diungkapkan Kades Rahtawu, Sugiono. Menurutnya, kawasan atas terutama wilayah Desa Rahtawu masih sering terguyur hujan. Hal itu membuat masyarakat meningkatkan kewaspadaan jika terjadi bencana longsor.

”Hujan masih deras, jadi warga di sini juga masih bersiaga jika terjadi longsor,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Diakuinya, kawasan Rahtawu memang kawasan yang rawan longsor. Bahkan, terdapat puluhan titik rawan longsor yang terdapat di sepanjang Desa Rahtawu.

Meski demikian, pihaknya meyakini kalau Rahtawu masih aman digunakan untuk pemukiman. Sehingga masyarakat lebih memilih bertahan di sana ketimbang harus pindah.

”Hampir tiap hari masih terdapat hujan. Jadi tanah juga dapat terkikis. Harapannya Rahtawu masih aman ditempati dan bencana longsor tidak lagi terjadi,” paparnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Tiga Pekerja Tambang di Grobogan Tewas Akibat Galian Longsor

Sejumlah warga saat melakukan evakuasi terhadap tiga penambang yang tewas tertimbun longsor. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah warga saat melakukan evakuasi terhadap tiga penambang yang tewas tertimbun longsor. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Tiga orang tewas akibat tambang batu longsor di Dusun Katekan, Desa Katekan, Kecamatan Brati. Peristiwa ini terjadi sore tadi sekitar pukul 15.00 WIB.

Ketiga korban tewas adalah warga Dusun Kuwarungan, Desa Tegalsumur, Kecamatan Brati. Masing-masing, Warto (50), Rusdi (40), dan Ririn (30). Ketiganya tinggal dalam satu RT.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, meski sore itu sempat turun hujan, namun ada lima pekerja yang tetap melakukan aktivitas penambangan. Saat sibuk bekerja, tiba-tiba tebing diatasnya runtuh.

Melihat kejadian ini, lima pekerja langsung berupaya menyelamatkan diri. Sayangnya, dari lima pekerja ada tiga orang yang tertimpa reruntuhan batu. Sedangkan dua orang lainnya bisa menyelamatkan diri kendati mengalami luka ringan.

Tidak lama setelah kejadian, warga sekitar langsung berupaya menyelamatkan korban. Kemudian, pertugas BPBD, kepolisian dan beberapa anggota TNI ikut membantu upaya evakuasi.

“Upaya evakuasi tiga korban selesai menjelang pukul 17.00 WIB. Ketiganya langsung diserahkan pada keluarga,” kata Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono pada wartawan.

Sementara itu, Kepala Desa Tegalsumur Masyudi menyatan, setelah dievakuasi, ketiga jasad warganya langsung dibawa pulang ke rumahnya.”Malam ini juga, ketiga korban langsung kita makamkan,” katanya.

Editor : Kholistiono 

Camat Mayong Imbau Warga Lebih Waspada Terjadinya Bencana

Tanah longsor di Desa Bungu Kecamatan Mayong Jepara yang mengenai sebagian rumah warga. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Tanah longsor di Desa Bungu Kecamatan Mayong Jepara yang mengenai sebagian rumah warga. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Setelah terjadinya peristiwa tanah longsor di Desa Bungu Kecamatan Mayong Jepara. Camat Mayong Rini Patmini mengatakan pihaknya mengimbau perangkat desa maupun warga Bungu agar selalu waspada seiring tingginya curah hujan dalam beberapa hari ini. Warga juga diimbau agar segera mengungsi ke rumah saudara atau tempat yang relatif aman untuk menghindari jatuhnya korban jiwa, seiring potensi terjadinya longsor susulan.

”Imbauan itu sudah sering kita lakukan. Tapi memang susah, karena warga khawatir dengan keamanan harta miliknya jika rumah ditinggal,” jelas Rini.

Kawasan Desa Bungu memang sering diterjang longsor tiap kali hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah itu hingga beberapa jam. Akhir tahun 2014, kawasan itu diterjang longsor. Awal tahun 2015, timbunan material longsor juga memutus akses jalan Bungu – Bategede, Jepara.

”Semoga tak terjadi apa-apa. Yang pasti kami dan perangkat desa terus melakukan pemantauan kondisi terakhir,” tandas Rini.

Hal senada juga dikatakan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayitno. Ia pun mengimbau kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Jepara untuk selalu siap mengahadapi musim hujan tahun ini. Khusus untuk wilayah di perbukitan dan lereng Muria, untuk tetap waspada.

Pasalnya, curah hujan tinggi yang mengenai wilayan perbukitan sangat berpotensi terjadinya bencana longsor. Tidak hanya itu, bagi masyarakat yang tinggal di bantaran kali/sungai juga waspada terhadap datangnya banjir. Jika terjadi bencana segera lapor ke BPBD Jepara. (WAHYU KZ/TITIS W)

Bencana Longsor di Desa Bungu Jepara, Rumah Warga Jadi Korban

Kondisi atap rumah bagian dapur milik Wartan warga Dukuh Segrobok, Desa Bungu, Kecamatan Mayong, Jepara yang tertimpa longsor Kamis (17/12/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kondisi atap rumah bagian dapur milik Wartan warga Dukuh Segrobok, Desa Bungu, Kecamatan Mayong, Jepara yang tertimpa longsor Kamis (17/12/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Kabupaten Jepara, menyebabkan bencana tanah longsor terjadi di Desa Bungu, tepatnya di RT 4 RW IV, Dukuh Segrobok, Desa Bungu, Kecamatan Mayong, Jepara, Kamis (17/12/2015). Akibat longsor tersebut, satu rumah milik Wartam (50), warga setempat menjadi korban.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara Lulus Suprayitno membenarkan kabar tersebut. Bencana longsor terjadi di Dukuh Segrobok Desa Bungu, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara. Atap dan dinding dapur rumah milik Wartam (50), warga RT 4 RW IV Dukuh Segrobok, Desa Bungu ambrol dan nyaris rata dengan tanah lantaran tertimpa material longsoran dari tebing setinggi 2,5 meter yang ada di samping rumah.

”Saat terjadi longsor, disertai hujan lebat dan angin kencang di wilayah tersebut. Beruntung tidak ada korban jiwa pada musibah ini,” kata Lulus kepada MuriaNewsCom, Kamis (17/12/2015).
Menurutnya, lokasi longsor terjadi di ladang milik warga, yang memang kebetulan longsoran tanah mengenai sebagian kecil rumah semi permanen milik Warman. Dari peristiwa tersebut, kerugian ditaksir hanya sekitar Rp 15 juta saja.

”Warga sekitar berdatangan ke lokasi untuk membantu membersihkan longsoran yang mengenai rumah warga. Kondisinya untuk sementara ini aman,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

LONGSOR PATI: Korban Berhasil Dievakuasi dan Ditemukan Meninggal Dalam Keadaan Tersungkur

Korban tertimbun longsor berhasil ditemukan dan dievakuasi sekitar pukul 16.45 WIB. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Korban tertimbun longsor berhasil ditemukan dan dievakuasi sekitar pukul 16.45 WIB. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sejumlah relawan gabungan dari Polsek Winong, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDD) dan Radio Antarpenduduk Indonesia (RAPI) akhirnya berhasil melakukan evakuasi terhadap korban longsor di Desa Godo, Kecamatan Winong, Pati, Rabu (28/10/2015).

Satu orang yang meninggal dunia tertimbun longsor galian C diketahui bernama Wandono (40), warga Desa Godo RT 8 RW 2, Winong. Saat dievakuasi menggunakan alat berat, Wandono meninggal dunia dalam keadaan tersungkur.

Informasi yang dihimpun MuriaNewsCom di lapangan, posisi meninggal korban seakan berusaha menahan batu. Pada tubuh korban ditemukan sejumlah luka parah di bagian kepala, rusuk sebelah kanan, hingga bagian kaki kanan putus karena tertimpa material batu yang berat.

Korban berhasil dievakuasi menggunakan alat berat backhoe sekitar pukul 16.45 WIB. Jenazah rencananya akan dikebumikan di TPU setempat. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

LONGSOR PATI: Ini Kisah Wandono Sebelum Meninggal Tertimbun Longsor di Godo Winong

Warga setempat menunjukkan lokasi di mana Wandono tertimpa longsor. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Warga setempat menunjukkan lokasi di mana Wandono tertimpa longsor. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Nasib tragis menimpa Wandono, warga Desa Godo, Kecamatan Winong yang meninggal dunia tertimbun longsor di kawasan penambangan batu padas, Rabu (28/10/2015).

Setiap hari, Wandono sebetulnya bukan berprofesi sebagai penggali batu padas di kampungnya tersebut. Ia hanya menjadi kuli pengangkut batu yang kemudian dimuat ke dalam truk.

Sehari saja ikut menggali batu padas, longsor menimpa tubuhnya hingga tewas. “Wandono sebetulnya hanya kuli angkut batu. Tapi, hari ini tidak ada panggilan untuk ngangkut batu sehingga terpaksa ikut menggali,” ujar Sunawi, kakak Wandono kepada MuriaNewsCom.

Nasib berkata lain. Hari ini pula, longsor terjadi saat Wandono istirahat di dalam kubangan galian yang membentuk semacam gua. Pria berusia 40 tahun dari enam bersaudara tersebut akhirnya meninggalkan istri dan dua anaknya yang masih berusia 12 dan 3 tahun. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

LONGSOR PATI : Ternyata, Longsor di Kawasan Tambang di Desa Godo Sudah Pernah Terjadi

Alat berat tampak mengevakuasi korban yang tertimbun batu di areal pertambangan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Alat berat tampak mengevakuasi korban yang tertimbun batu di areal pertambangan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kawasan tambang batu padas di Desa Godo, Kecamatan Winong sudah ditetapkan pemerintah desa sebagai area larangan untuk ditambang. Pasalnya, longsor serupa pernah terjadi pada 2013 lalu.

Namun, sejumlah warga yang mengais rezeki dari areal tersebut tetap nekat melakukan penggalian batu. Hasil batu yang mereka gali bisa dijual kembali untuk menguruk jalan atau bahan bangunan.

“Kejadian serupa juga pernah terjadi pada 2013 lalu. Karena itu, pemerintah desa telah melarang warga untuk melakukan penambangan. Pemdes tidak pernah mengeluarkan izin. Namun, warga tetap nekat melakukan penambangan secara manual,” ujar Sekdes Desa Godo, Suwito kepada MuriaNewsCom, Rabu (28/10/2015).

Ia menuturkan, daerah tersebut sempat akan dijadikan sebagai areal penambangan fosfat menggunakan alat berat pada 2012. Namun, warga desa setempat melarangnya.

Kendati begitu, sejumlah warga yang nekat masih melakukan penambangan secara manual. Mereka tidak pernah mau belajar, longsor yang memakan korban kembali terjadi pada 28 Oktober 2015. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

LONGSOR PATI: Satu Penggali Batu Berhasil Menyelamatkan Diri dari Musibah Longsor

Sejumlah relawan melakukan evakuasi terhadap korban yang tertimbun longsor. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah relawan melakukan evakuasi terhadap korban yang tertimbun longsor. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Nasib nahas menimpa dua orang penggali batu padas di Desa Godo, Kecamatan Winong, Pati, Rabu (28/10/2015). Dua orang tersebut diketahui bernama Wandono, warga Desa RT 8 RW 2 Desa Godo dan Gianto, warga RT 1 RW 1 Desa Tamansari.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom di lapangan, Keduanya tengah beristirahat di salah satu gua sedalam satu meter yang merupakan galian. Tiba-tiba saja, tebing pada bagian belakang setinggi tujuh meter secara mendadak runtuh.

Sontak, tebing yang runtuh menimpa keduanya. Namun, keberuntungan masih membela Gianto. Ia berhasil melarikan diri dari maut. Sementara itu, Wandono tertimpa reruntuhan tebing hingga maut menjemputnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

LONGSOR PATI : Petugas Gabungan Dikerahkan untuk Evakuasi Korban Longsor di Winong

Proses evakuasi korban tertimbun tanah longsor tengah dilakukan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Proses evakuasi korban tertimbun tanah longsor tengah dilakukan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Longsor terjadi di kawasan penambangan Galian C di Desa Godo, Kecamatan Winong, Pati, Rabu (28/10/2015) sekitar pukul 15.00 WIB. Akibat longsor tersebut, satu orang penambang meninggal dunia tertimbun tanah.

Petugas gabungan dari Polres Pati, TNI dan Tim Regu Pencari dan Penolong (SAR) Pati diterjunkan untuk melakukan evakuasi terhadap korban.

“Kami mendapatkan informasi dari Polsek setempat, kemudian kami mengirimkan petugas untuk melakukan evakuasi. Informasi yang kami terima, satu orang meninggal dunia karena tertimbun di tempat penambangan galian C yang longsor,” ujar Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho melalui Kasubbag Humas Polres Pati AKP Sri Sutati kepada MuriaNewsCom.

Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi menggunakan alat berat masih dilakukan. Insiden tersebut menjadi tontotan warga setempat. (LISMANTO/KHOLISTIONO)