Syawalan, Warga Demaan Jepara Gelar Panjat Pinang di Laut

Sejumlah warga di Jepara mengukti panjat pinang yang digelar di laut, Minggu (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara –  Selain lomban atau larungan kepala kerbau untuk merayakan syawalan, adapula acara unik yakni panjat pinang dilaut. Kegiatan ini dilaksanakan oleh warga yang berada di Kelurahan Demaan RT 3/5, Kecamatan Jepara, Minggu (2/7/2017). Acara panjat pinang laut ini tak jauh beda dengan panjat pinang konvensional. Sekelompok orang berusaha meraih hadiah yang diletakan diatas bambu berlumur pelumas, yang dipancang di dalam air.

Hanya saja, untuk memanjatnya perlu usaha lebih keras. Lantaran, air laut yang terkena pelumas tak ayal menyebabkan bambu semakin licin.

Dimas, seorang peserta lomba tersebut mengaku kesusahan memanjat bambu setinggi lebih kurang 10 meter itu. 

“Wah susah, soalnya diolesi oli cair dan oli padat. Tapi tidak apa-apa, seru,” katanya.

Menurutnya, lomba yang diadakan setiap tahun bertujuan merekatkan rasa kekeluargaan antar penduduk. 

Ketua Panitia Panjat pinang laut Kandir mengatakan, kegiatan ini digagas oleh ikatan remaja kampung. Tujuannya memeriahkan syawalan.

“Dilakukan dilaut karena di kampung kami sudah tidak ada lahan lagi. Rumahnya kian padat,” terangnya.

Disamping itu, kegiatan ini juga dalam rangka mensyukuri berkah yang diperoleh warga dari laut. Lantaran, sebagian besar penduduknya merupakan nelayan, yang menggantungkan penghidupannya dari mencari ikan. 

Ia menyebut, kegiatan tersebut diselenggarakan secara swadaya oleh masyarakat dan dibantu oleh pengusaha setempat.  “Kalau total dana sekitar Rp 4 juta. Hadiahnya tak seberapa memang. Tapi tujuan dari kegiatan ini untuk merekatkan kekeluargaan warga yang penting bisa tercapai,” tutur dia.

Editor: Supriyadi

Cantrang Dibatasi, Panitia Sedekah Laut Rembang Sambat

Sejumlah nelayan mengikuti acara grebek syawalan Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Adanya  pembatasan terhadap operasi jaring cantrang oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) pusat, kini berdampak pada aktivitas seluruh kegiatan nelayan. Salah satunya adalah berkurangnya kelompok nelayan dalam perayaan grebek syawalan yang biasa digelar secara rutin oleh para nelayan pesisir Desa Tasing Agung Rembang.

Ketua Panitia penyelenggara Pujianto mengatakan, pelarangan cantrang mengurangi aktifitas dan pendapatan para nelayan di Rembang.Hal itu memberikan dampak, berkurangnya jumlah peserta perayaan grebek syawalan tahun ini.Meski begitu, hal tersebut juga tak menghilangkan seluruh hiburan yang biasa diadakan.

Hanya saja pada rentetan peringatan sedekah laut kali ini, jumlahnya ada yang dikurangi. Selain itu, panitia memilih mengadakan hiburan yang murah dibandingkan tahun sebelumnya.

“Setelah mengadakan rapat, kami memutuskan untuk tetap mengadakan hiburan seperti ketoprak, dangdut, dan yang lainnya tapi tetap hiburan yang lebih murah biayanya,” jelasnya.

Pria yang akrab dengan panggilan Antok itu menyebutkan, jika jumlah peserta tidak lebih dari 60 peserta atau kelompok. Hal itu jauh dibawah jumlah peserta pada tahun-tahun sebelumnya yang diikuti lebih dari 200 peserta atau kelompok.

“Jumlah pesertanya menyusut banyak mas, kalau tahun lalu lebih dari 200 peserta. Tetapi tahun ini, hanya sekitar 60 peserta atau kelompok saja” pungkas Antok.

Berdasarkan pantauan, arus lalu lintas pantura, terpaksa dialihkan melalui jalan lingkar Waru – Galonan – hingga Tireman, atau pertigaan soklin, untuk menghidarkan macet keramaian perayaan grebek syawalan.

Editor: Supriyadi

Ini Dia Sejarah Tradisi Lomban Jepara yang Wajib Kamu Tahu

Para nelayan dan warga ikut memeriahkan pesta lomban Jepara, Minggu (2/7/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Hari Raya Lebaran di Jepara tak hanya dirayakan pada tanggal 1 Syawal. Tujuh hari berselang, pesta berlanjut dengan tradisi syawalan yang dirayakan dengan pembuatan penganan tradisional kupat-lepet dan pesta Lomban. Lalu bagaimana sejarah tradisi tersebut bermula?

Sumber literatur yang diperoleh dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara menyebut, tradisi lomban telah berlangsung pada paruh kedua abad XIX. Hal ini sesuai dengan tulisan pada majalah bertajuk Slompret Melayu yang terbit pada 12 dan 17 Agustus 1893. 

Gunungan Kupat Lepet Lomban Jepara Ludes Diserbu Warga dalam Hitungan Menit

Adapun tradisi larung kepala kerbau dimulai sekitar tahun 1920, saat Kelurahan Ujung Batu dikepalai oleh Haji Sidik. Pada masa itu, sebelum tumbal kepala kerbau dilarung, akan didoakan oleh pemuka agama setempat. Lantas, para nelayan akan mengangkat sesaji tersebut keatas kapal dan diantar ke tengah laut, menuju Teluk Jepara. 

Di tengah laut, sesaji itu akan dilempar dan diperebutkan oleh para nelayan. Sesuai kepercayaan, mereka yang berhasil mendapatkan kepala kerbau tersebut akan mendapatkan kemudahan rezeki dari Tuhan. 

Kasi Penangkapan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Paat Efendi mengatakan, dulu pada tahun 1970an, partisipasi nelayan sangat tinggi. Hal itu karena, semua persiapan, dari akhir hingga selesai dilakukan oleh mereka. 

“Namun sekarang nelayan hanya sebagai penonton saja. Keterlibatan nelayan dalam proses persiapan menurun. Namun dari sisi peserta ada sekitar 200 kapal yang mengikuti acara tersebut,” tuturnya. 

Meriah, Pesta Lomban Jepara Diikuti Ratusan Nelayan dan Warga

Dikatakannya, hingga kini masyarakat nelayan masih percaya ketika mengikuti lomban akan mendapatkan kelimpahan rezeki. “Harapannya kedepan keterlibatan nelayan bisa lebih ditingkatkan,” ungkapnya.

Kini tradisi lomban di Jepara tak hanya dinikmati warga Kelurahan Ujung Batu saja. Event tersebut, saat ini menjadi daya tarik wisata yang digarap secara serius oleh Pemda Jepara.

Editor: Supriyadi

Gunungan Kupat Lepet Lomban Jepara Ludes Diserbu Warga dalam Hitungan Menit

Warga langsung merebut gunungan kupat lepet, usai pemotongan secara simbolis oleh Bupati Jepara Ahmad Marzuqi. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Keriaan syawalan tak hanya berakhir dengan pesta lomban atau larungan kepala kerbau, di laut. Setelah acara tersebut, dilanjutkan dengan Festival Kupat Lepet di Pantai Kartini, Minggu (2/7/2017).Kontan saja acara tersebut menyedot perhatian pengunjung wisata yang tengah berliburan di obyek wisata tersebut. Seperti tahun sebelumnya, festival kupat lepet ditandai dengan rebutan gunungan berisi penganan yang terbungkus dengan janur.

Setelah Bupati Jepara memotong kupat lepet secara simbolis, gunungan berisi lebih kurang 1438 penganan itu, langsung ludes diserbu warga.

Meriah, Pesta Lomban Jepara Diikuti Ratusan Nelayan dan Warga

Seperti Siti Solekhah (45),yang menyempatkan datang dari Purwodadi untuk mengikuti acara itu. “Kabarnya bisa buat tambah rezeki, jadi saya ikut merebut gunungan tersebut. Saya sudah ikut acara ini selama tiga tahun terakhir,” ujarnya.

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi menyatakan, rangkaian acara syawalan tersebut sebagai bentuk suka cita dan syukur nelayan Jepara. Dengan ritual tersebut, warga berharap mendapatkan rezeki yang melimpah. 

Panitia acara Festival Kupat Lepet Rustam Eka Jalu menyebut, penganan tradisional kupat dan lepet mengandung filosofi yang mendalam. Ia mengatakan, setelah berpuasa, diharapkan semua kesalahan dapat dimaafkan.

“Harapannya setelah lebaran semua bentuk kesalahan mendapatkan pengampunan,” ungkapnya. 

Editor: Supriyadi

Ratusan Polisi Bakal Amankan Lomban di Laut Jepara

Kapal nelayan melintas di Pelabuhan Ujung Batu, Sabtu (1/7/017), sehari sebelum pelaksanaan tradisi lomban. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Polres Jepara akan menerjunkan 300 personel untuk mengamankan prosesi syawalan atau lomban, esok Minggu (2/7/2017). Selain itu, Polair Polda Jateng juga berencana menurunkan bantuan pasukan pada tradisi tahunan itu. 

“Dari polres, untuk personel kita akan menurunan lebih kurang 300 personel. Selain itu, kita juga akan dibantu dari Satpol PP, TNI, melibatkan Basarnas dan pemda. Untuk gabungan ya sekitar 300 lebih, nanti ada tupoksinya masing-masing. Kita juga ada Bawah Kendali Operasi (BKO) dari Polair Polda Jateng, sekitar dua kapal besar,” kata Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho, Sabtu (1/7/2017). 

Ia menekankan pada para nelayan dan warga yang mengikuti acara tersebut, agar menaati peraturan. Satu di antaranya menggunakan jaket pelampung atau life vest saat menumpang kapal. Di samping itu, pihaknya juga telah menyosialisasikan agar pemilik kapal tidak mengangkut orang melebihi dari kapasitasnya.

“Nanti juga kami akan ingatkan lagi pada saat acara berlangsung agar memakai pelampung dan muatan penumpang tidak melebihi 20 orang,” ujarnya. 

Kapolres menuturkan, pihaknya juga akan menggandeng Polres Demak, Rembang dan sekitarnya. Hal itu karena peserta lomban diperkirakan juga berasal dari wilayah tersebut. 

Ia mengungkapkan, konsentrasi penambahan keamanan fokus pada pantai-pantai penyelenggara acara. Di antaranya, Pantai Kartini, Tempat Pelelangan Ikan, Pantai Bandengan dan Pulau Panjang.

Penempatan pasukan juga dilakukan di sumber-sumber kemacetan. Termasuk penempatan personel di perempatan yang menuju Pantai Bandengan.

“Untuk antisipasi kemacetan kita sudah buat satu jalur untuk Pantai Kartini. Di Pantai Bendengan dialihkan belok kiri ke Kedung Cino untuk keluarnya,” tutup Yudianto.

Editor : Ali Muntoha

Budiyono Berharap Tradisi Lomban di Pati Jadi Wisata Budaya

Sejumlah warga akan melarung kepala kerbau dalam tradisi lomban yang di kawasan pesisir di Kecamatan Tayu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga akan melarung kepala kerbau dalam tradisi lomban yang di kawasan pesisir di Kecamatan Tayu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Wakil Bupati Pati Budiyono berharap agar tradisi lomban yang digelar di sejumlah kawasan pesisir di Pati, seperti Juwana dan Tayu menjadi destinasi wisata budaya. Ia juga berharap, tradisi tersebut bisa dilestarikan.  Lanjutkan membaca

Wisatawan Jepara Membludak, Aparat Buat Rekayasa Lalin

Pengunjung membludak di tempat-tempat wisata di Kabupaten Jepara, aparat membuat skema arus satu arah, Sabtu (25/7/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Pengunjung atau wisatawan yang datang dari dalam dan luar kota Jepara ke sejumlah tempat wisata di Kabupaten Jepara membludak sejak pekan lebaran hingga hari ini, Sabtu (25/7/2015). Untuk mengatasi kemacetan, aparat dari kepolisian dan dinas perhubungan membuat rekayasa lalu lintas dengan skema jalur satu arah.

Kasatlantas Polres Jepara AKP Andhika Wiratama menerangkan, pihaknya membuat skema arus satu arah di sejumlah arah ke tempat wisata di Jepara, terutama di tempat wisata Pantai Bandengan dan Kartini. ”Jika pada hari biasa jalur masuk ke tempat wisata dapat dilalui dua arah, maka untuk momen pekan Syawalan dan tradisi Lomban ini kami atur untuk satu arah,” ujar Andhika.

Dia menjelaskan, arus searah untuk jalur masuk Pantai Kartini melalui pertigaan Bulu hingga memasuki pintu masuk. Bila pengunjung wisata meninggalkan lokasi pantai melalui pintu keluar dan wajib belok ke kiri melalui jalan Cik Lanang. ”Ini dilakukan agar pengunjung wisata yang membeludak tak terjadi kemacetan,” katanya.

Sedangkan di Pantai Bandengan, pengunjung wisata dapat melalui Kelurahan Bulu dengan mengikuti petunjuk arah yang disiapkan. Jalur tersebut menyambung hingga pertigaan Stadion GBK, terus ke arah utara hingga ke arah Pantai Bandengan. Sedangkan pengunjung wisata yang keluar meninggalkan area wisata, dapat melalui jalan Desa Kedungcino hingga jalur utama. ”Kami telah menempatkan navigasi di lokasi-lokasi strategis seperti di perempatan dan pertigaan. Misalnya di pertigaan Bulu,” imbuhnya.

Pihaknya menempatkan pula puluhan hingga ratusan personel untuk mengatur lalu lintas. Ini untuk mengurai apabila terjadi kemacetan. (WAHYU KZ/TITIS W)

Larungan Lomban Ditutup dengan Festival Kupat Lepet

Warga Jepara saling berebut kupat lepet saat tradisi Larungan Lomban, Sabtu (25/7/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Puncak acara Pesta lomban tahun ini digelar selama dua hari, yakni hari Jumat (24/7/2015) pelaksanaan upacara adat, dan hari Sabtu (25/7/2015) pelaksanaan pelarungan kepala kerbau dan sesaji. Setelah pelarungan selesai digelar di tengah laut, para rombongan yang ikut melarung merapat di pantai Kartini mengikuti festival kupat lepet.

Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara, Zamroni mengatakan, acara festival kupat lepet merupakan satau rangkaian dengan pelarungan yang digelar di laut. Usai melarung kepala kerbau dan sesaji, rombongan merapat di pantai Kartini.

”Acara festival kupat lepet ini satu rangkaian dengan larungan. Meski begitu anggarannya berbeda,” kata Zamroni kepada MuriaNewsCom.

Yang menarik dari festifal ini adalah jumlah kupat lepet yang disajikan berjumlah 2015, sesuai dengan tahun masehi di tahun ini. Kupat lepet yang ada, sudah disiapkan oleh pihak panitia untuk menyambut para rombongan Bupati dan Forkopinda di kawasan dermaga Kartini Jepara.

Setelah Bupati dan rombongan tiba, kupat lepet tersebut dibawa ke tengah lapangan di pantai Kartini. Di lokasi tersebut, digelar acara seremonial berupa sambutan, tari-tarian dan perebutan kupat lepat oleh warga yang hadir.

“Secara umum acaranya sama dari tahun-tahun lalu. Tapi, khusus tahun kemarin ada sponsor dari pihak swasta sehingga ada Jepara Ekspo. Tahun ini tidak ada, jadi hanya festival kupat lepet dan setelah selesai ada hiburan music bagi para pengunjung di pantai Kartini,” imbuhnya. (WAHYU KZ/SUPRIYADI)

Saat Lomban, Ini Permintaan Nelayan ke Pemkab Japara

Bupati Jepara yang menyerahkan potongan tumpeng kepada ketua HNSI Jepara

Bupati Jepara yang menyerahkan potongan tumpeng kepada ketua HNSI Jepara

JEPARA – Hajat tahunan pesta lomban di Kabupaten Jepara, sejatinya adalah hajat dari semua nelayan yang ada di Kabupaten Jepara. Lomban tahun ini, ada sejumlah permintaan dari para nelayan kepada Pemkab Jepara.

Nelayan yang diwakili oleh Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara, Sudiyatno membeberkan permintaan para nelayan. Diantaranya, nelayan meminta agar ada upaya perbaikan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), membuat jaminan kredit murah untuk membeli peralatan yang memadai, adanya pengerukan di muara kali wiso dan perbaikan kapal.

”Untuk kredit murah pembelian alat yang memadai ini kaitannya dengan aturan dari Menteri perikanan dan kelautan yang melarang menangkap sejumlah jenis ikan dan melarang menggunakan cantrang. Kami meminta agar Pemkab Jepara dapat memberikan kredit murah untuk pembelian alat yang ramah lingkungan,” kata Sudiyatno, Sabtu (25/7/2015).

Menurutnya, kaitannya dengan pengerukan kali wiso, selama ini muara kali wiso sering dangkal. Sehingga hal itu menjadi kendala tersendiri bagi para nelayan yang ingin menyandarkan kapal. Selain itu, black water juga harus ada karena kalau dikeruk dan tidak ada black water dianggap sama saja. (WAHYU KZ/SUPRIYADI)

Berdalih Keselamatan, Perebutan Kepala Kerbau dan Sesaji Saat Larung di Jepara Ditiadakan

Para peserta lomban di Jepara ikut mengiring kepala kerbau dan sesaji untuk larung, Sabtu (25/7/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Para peserta lomban di Jepara ikut mengiring kepala kerbau dan sesaji untuk larung, Sabtu (25/7/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Pelaksanaan pesta lomban tahun ini ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Salah satunya adalah kepala kerbau dan sesaji yang dilarung tidak boleh diperebutkan oleh warga. Pihak panitia bahkan sudah melarang hal itu jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan lomban.

Ketua panitia sekaligus Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Mulyaji mengatakan, di tahun-tahun sebelumnya kepala kerbau dan sesaji yang telah dilarung ke tengah laut diperebutkan oleh warga yang ikut mengiring. Tahun ini hal itu tidak diperbolehkan.

”Ini demi keselamatan. Panitia melarang kepala kerbau dan sesaji yang dilarung diperebutkan karena itu berbahaya,” ujar Mulyaji, Sabtu (25/7/2015).

Selain melarang perebutan kepala kerbau dan sesaji yang dilarung, pihaknya juga melakukan melakukan beberapa perubahan. Salah satunya kirab kerbau sebelum disembelih pada upacara adat yang digelar pada Jumat (24/7/2015) kemarin.

”Itu salah satu contoh perbedaan pesta lomban tahun ini dengan tahun sebelumnya. Kami harap, masyarakat bisa mengerti,” ungkapnya. (WAHYU KZ/SUPRIYADI)

Ribuan Warga Jepara Berjubel Ikuti Larung Kepala Kerbau di TPI Ujungbatu

Ribuan warga Jepara saling berdesak-desakan mengikuti prosesi Larung kepala kerbau di TPI Ujungbatu, Jepara, Sabtu (25/7/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Ribuan warga di Kabupaten Jepara mengikuti larungan sesaji kepala kerbau ke laut perairan Jepara dalam acara tahunan pesta lomban, Sabtu (25/7/2015). Sejak pagi tadi warga memenuhi kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujungbatu.

Pelaksanaan pelarungan ini diawali dengan seremonial berupa sambutan-sambutan, tarian tradisional dan potojg tumpeng yang dilakukan oleh Bupati Jepara diserahkan kepada ketua himpunan nelayan seluruh Indonesia (HNSI) Jepara.

Pelarungan diikuti ratusan kapal dan perahu dari para nelayan di Kabupaten Jepara. Sejak prosesi larungan dimulai, sejumlah warga berebut menaiki kapal yang disediakan oleh pihak panitia.

“Kali ini ada sekitar 1400 liter solar yang diberikan pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara bagi nelayan yang ikut mengiring pelarungan ini. Setiap kapal menerima sekitar 10 hingga 25 liter solar,” ujar ketua panitia pesta lomban Mulyaji dalam sambutannya.

Dia menambahkan, dalam pelarungan kepala kerbau dan sesaji ini warga yang mengikuti pengiringan diminta untuk lebih hati-hati. ”Meski kondisi cuaca pagi hingga siang diprediksi baik. Dengan gelombang mulai setengah hingga satu meter dan kecepatan angin tidak terlalu kencang. Semuanya harus tetap berhati-hati menjaga keselamatan,” imbuhnya. (WAHYU KZ/SUPRIYADI)

50 Petugas Kepolisian Dikerahkan di Lokasi Lomban Kesambi

Meski kondisi sungai tidak terlalu dalam, Wakapolres Kudus Kompol Yunaldi mengimbau warga harus tetap berhati-hati dan memprioritaskan keselamatan. Sehingga pihaknya menyiapkan 50 petugas kepolisian guna keamanan acara Lomban. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Meski kondisi sungai tidak terlalu dalam, Wakapolres Kudus Kompol Yunaldi mengimbau warga harus tetap berhati-hati dan memprioritaskan keselamatan. Sehingga pihaknya menyiapkan 50 petugas kepolisian guna keamanan acara Lomban. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

KUDUS – Dalam memeriahkan Lomban yang digelar setahun sekali ini Desa Kesambi Kecamatan Mejobo mendatangkan perahu langsung dari Pati. Dan untuk menaiki perahu tersebut, pengunjung dibebankan biaya sebesar Rp 6 ribu. Lanjutkan membaca

Ribuan Warga Antre Naiki Perahu Lomban Kesambi

Panitia menyediakan dua perahu yang didatangkan langsung dari Pati dalam even Lomban Kesambi Kecamatan Mejobo untuk berwisata warga menyelusuri bantaran sungai Piji sejauh 300 meter dengan biaya Rp 6 ribu per orang. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Panitia menyediakan dua perahu yang didatangkan langsung dari Pati dalam even Lomban Kesambi Kecamatan Mejobo untuk berwisata warga menyelusuri bantaran sungai Piji sejauh 300 meter dengan biaya Rp 6 ribu per orang. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

KUDUS – Ribuan warga Desa Kesambi Kecamatan Mejobo dan sekitarnya antre menaiki perahu yang digunakan dalam Lomban. Sejumlah warga sangat antusias menyaksikan dan menaiki perahu yang disediakan panitia dalam even tahunan tersebut. Lanjutkan membaca

Tak Mau Dianggap Korupsi, Kerbau Lomban Dikirab dari TPI Jobokuto Jepara Sebelum Disembelih

Kerbau untuk lomban disembelih di depan masyarakat yang mengikuti Pesta Lomban. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kerbau untuk lomban disembelih di depan masyarakat yang mengikuti Pesta Lomban. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Prosesi awal rangkaian pesta lomban tahun 2015 ini mulai digelar. Ratusan warga menggiring kerbau dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kelurahan Ujungbatu hingga ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Jobokuto yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi pemberangkatan, Jumat (24/7/2015).

Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara Amin Ayahudi mengatakan, kirab kerbau merupakan prosesi yang baru tahun ini dalam rangkaian pesta lomban. Meski Pesta Lomban rutin dilaksanakan sepekan setelah Idul Fitri, masyarakat umum biasanya hanya bisa menyaksikan keberadaan kepala kerbau saat digelar prosesi larung ke tengah laut.

”Ada yang khawatir, kami korupsi dengan hanya membeli kepala kerbau untuk kebutuhan larung saja. Karena itu, kirab ini menjadi bukti sekaligus memberi tahu masyarakat jika kami benar-benar menyiapkan seekor kerbau untuk Lomban,” ujar Amin kepada MuriaNewsCom, Jumat (24/7/2015).

Selain bagian kepala untuk larung, daging kerbau dibagikan kepada masyarakat dalam bentuk suguhan kepada pengunjung pentas wayang kulit di TPI Ujungbatu, malam ini. Hanya, sebelumnya dilakukan ziarah ke makam Cik Lanang di Poncol serta Mbah Ronggo di Ujungbatu. Keduanya merupakan sosok yang dihormati nelayan Jepara karena menjadi tokoh cikal bakal wilayah nelayan setempat. (WAHYU KZ/SUPRIYADI)

40 Persen Target Pendapatan Pertahun Jepara Diperoleh dari Pekan Syawalan

Zamroni Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Zamroni Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Tiga objek kawasan pantai yang menjadi sasaran wisata pekan Syawalan dan lomban yakni pantai Bandengan, pantai Kartini dan Benteng Portugis biasanya mampu meraih pendapatan sekitar 40 persen dari target pendapatan selama satu tahun. Jika satu tahun ketiga objek wisata tersebut ditarget total Rp 2,4 miliar, di pekan Syawalan dan lomban biasanya mampu mendapatkan Rp 1 miliar lebih. Lanjutkan membaca

Upacara Adat pada Tradisi Lomban di Jepara Digelar Jumat

Foto : Ilustrasi lomban

JEPARA – Pelaksanaan pesta lomban di Pantai Kartini Jepara terpaksa diundur satu hari dari jadwal semestinya, yakni sepekan setelah Idul Fitri. Hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu ibadah Salat Jumat, karena tahun ini bertepatan dengan hari Jumat (24/7/2015).Meski demikian, prosesi pelaksanaan upacara adat tetap dilaksanakan pada hari Jumat.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara Amin Ayahudi. Menurutnya, prosesi upacara adat tidak terlalu membutuhkan waktu yang lama, sehingga tidak mengganggu ibadah Salat Jumat.

”Upacara hanya berbentuk tatanan sesaji yang diiringi doa. Setelah itu, prosesi akan dilanjutkan dengan pengarakan sapi. Pengarakan sapi itu dilakukan mulai dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kelurahan Ujungbatu, Kecamatan Kota, hingga Rumah Penyembelihan Hewan (RPH),” ujar Amin kepada MuriaNewsCom.

Setelah upacara itu selesai, yang biasanya langsung digelar perayaan lomban dengan melarung kepala hewan kerbau ke tengah laut. Tahun ini terpaksa lomban dilaksanakan sehari setelahnya.

Dia menambahkan, setelah usulan tersebut dipertimbangkan, pihaknya pun mengubah schedule acara yang semula diadakan Jumat menjadi Sabtu. Meski diundur satu hari dari biasanya, perayaan lomban 2015 ini tetap tak menghilangkan makna tradisi lomban itu sendiri. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)