Uji Lab Sudah Dilakukan, DLH Jepara Tunggu Hasil Akhir

Warga memperlihatkan air sungai yang menghitam di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara telah melakukan uji laboratorium, terhadap air di Sungai Gede Karangrandu. Namun demikian, hingga kini hasilnya belum diketahui. 

“Iya kami sudah melakukan pengujian laboratorium terhadap air sungai tersebut. Kami menggandeng laboratorium swasta dari Semarang untuk melakukannya. Namun untuk hasilnya belum bisa diketahui, karena proses pengujiannya pun harus mengantre,” ucap Kabid Penataan dan Penaatan DLH Aris Widjanarko, Sabtu (12/8/2017). 

Ia sendiri mengaku tak ikut langsung dalam tim lapangan. Namun demikian, ia memastikan pengambilan sampel air dilakukan secara baik, meliputi kawasan non industri dan sesudahnya. 

Baca Juga: Petani Jepara Takut Tanaman Padi Mati Tercemar Air Sungai Karangrandu

“Di sana kan ada beberapa usaha (pabrik) maka pengambilan sampel dilakukan sebelumnya (pabrik) dan sesudahnya,” imbuhnya. 

Dirinya memastikan, kualitas laboratorium yang digandeng oleh DLH bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan, ia tak meragukan sedikitpun keindepensian laborat. Karenanya apapun hasilnya akan dijadikan patokan untuk melangkah ke depan.

“Kami menggandeng laboratorium swasta dari Semarang yang sudah terakreditasi. Kami sendiri memiliki laboratorium, namun itu untuk konsumsi lingkungan sendiri,” urai Aris. 

Editor: Supriyadi

Yuk Ikutan GAUL! Biar Lingkungan Tetap Asri

Salah satu gerakan aksi untuk lingkungan(MuraiNewsCom/Rifqi Gozali)

Salah satu gerakan aksi untuk lingkungan(MuraiNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Masih minimnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya, ternyata cukup sulit untuk mengatasinya. Karena, hal itu seolah sudah menjadi kebiasaan buruk.

Wahyu Agustin, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Blora mengungkapkan, terkait hal itu, pihaknya mendorong warga agar senantiasa bisa menjaga lingkungan mulai dari hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya.

“Kesadaran warga akan membuang sampah pada tempatnya memang perlu ditingkatkan,” ujarnya kepada MuriaNewsCom (22/4/2016).

Ia pun mengutarakan ide, bahwa dalam menjaga kelestarian lingkungan, dirinya menyarankan, agar masyarakat bisa melakukangerakan aksi untuk lingkungan (GAUL). Yakni, gerakan yang mendorong masyarakat untuk membersihkan lingkungan sekitar, baik lingkungan kerja maupun lingkungan tempat tinggal.“Kami beserta kawan-kawan di BLH telah melakukan hal tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, sudah saatnya bagi siapapun untuk ikut merawat bumi dengan aksi nyata. Ia mencontohkan dengan hal terkecil, yakni dari diri sendiri agar tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu, ia juga menyarankan agar siapapun bisa menanam pohon, baik pohon berbuah maupun pohon peneduh.

“Yang tak kalah penting adalah ikut merawat tanaman dan tidak menebang tanaman secara sembarangan. Karena hal itu bisa memicu kerusakan kelestarian alam. Kemudian, untuk ibu-ibu juga, kalau belanja jangan dibiasakan menggunakan plastik. Lebih bagus membawa tas belanja dari rumah,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Pemecah Batu Ilegal Sungai Rahtawu Lari Tunggang Langgang

Satpol PP Kudus menyita satu palu yang digunakan pemecah batu ilegal di Desa Rahtawu, Kudus.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Satpol PP Kudus menyita satu palu yang digunakan pemecah batu ilegal di Desa Rahtawu, Kudus.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Para pemecah batu ilegal lari tunggang langgang, begitu tahu akan ada Satpol PP Kudus menertibkannya di Dukuh Krajan, Rahtawu, Gebog, Jumat (25/3/2016).  Hal itu membuat Satpol PP tidak mendapati aktivitas pemecah batu ilegal.

Ketua Regu 1 Bagian Ketertiban Umum, dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Kudus Maskar mengatakan,  kendati tidak menemukan aktivitas pemecah batu ilegal, namun pihaknya berhasil menyita satu alat pemecah batu, yaitu sebuah martil. “Alat itu kita bawa dari tepi sungai Desa Rahtawu,” kata Maskar.

Dia menilai, kegiatan pemecah batu selain ilegal, juga berpengaruh merusak lingkungan alam. Mulai dari bencana longsor, banjir dan lainnya. Apalagi, batu besar di sungai biasanya mampu menjadi penopang arus yang deras.

Biasanya, batu hasil aktivitas itu dijual ke warga luar daerah. Seperti yang disampaikan salah seorang warga setempat, Somadi (60). Sepengetahuannya, pemecah batu menjual hasil ke pembeli khusus. Yakni pembeli yang datang ke lokasi dengan menggunakan mobil colt pikap. Harga batu sekitar Rp 200-250 ribu per colt pikap. “Kualitas batu di sini cukup bagus,” ujar Somadi yang enggan menyebutkan siapa pemecah batu ilegal itu.

Kepala Desa Rahtawu, Gebog Sugiyono kesulitan untuk mendeteksi aktivitas pemecah batu ilegal di wilayahnya. Biasanya, pemecah batu ilegal beraksi dengan cara berpindah-pindah. “Di lokasi yang terdapat batu besar di sungai,” kata Sugiyono.

Editor : Akrom Hazami

Kisah Ojek Kayu Rahtawu Kudus yang Tak Gentar Lintasi Jurang Curam

Sukamto mengantarkan kayu dari atas bukit hingga jalan poros Desa Rahtawu, Gebog, Kudus, dengan melewati jalan pegunungan sejauh 3 Km. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Sukamto mengantarkan kayu dari atas bukit hingga jalan poros Desa Rahtawu, Gebog, Kudus, dengan melewati jalan pegunungan sejauh 3 Km. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Jasa ojek kayu di Rahtawu, Gebog, Kudus, ini memang bukan jasa pengangkut biasa. Sebab, tidak semua orang bisa menjadi tukang ojek kayu. Hanya, mereka yang mempunyai badan kuat, sepeda motor modifikasi mumpuni, juga bernyali tinggilah, yang mampu menjalaninya.

Salah satu di antaranya adalah Sukamto. Pria berusia sekitar 37 tahun ini menceritakan sekelumit tentang suka dan duka menjadi tukang ojek kayu kepada MuriaNewsCom, Jumat (25/3/2016).

“Untuk sekali jalan sekitar 3 km. Dengan medan jalannya bukanlah jalan datar maupun landai. Tapi jalan yang berliku, serta harus berani mengatasi rasa takut akan ketinggian jurang yang curam,” kata Sukamto.

Ditemui di sela-sela aktivitasnya, Sukamto menambahakan, seseorang tukang ojek kayu haruslah orang yang punya tenaga kuat, dan tidak trauma dengan ketinggian. Mengingat, selama mengoperasikan sepeda motor dengan membawa kayu, haruslah melihat medan yang dikelilingi tebing dan ketinggian. Serta harus bisa memilih jalan dengan permukaan keras, supaya tidak terperosok ke jurang.

Untuk sekali angkut, Sukamto biasanya membawa empat batang kayu. Total berat kayu hampir 5 kuintal. Beratnya muatan dan risiko yang ditanggung membuatnya mematok harga yang tinggi. “Sekali angkut, ongkosnya Rp 50 ribu-Rp 60 ribu,” ungkapnya.

Sementara sepeda motor yang dipakainya merupakan kendaraan yang dimodifikasi sedemikian rupa. Mulai dari mempreteli bodi kendaraan lebih dulu, biar lebih enteng. Tidak hanya itu, dia harus mengganti knalpot dari yang standar ke modifikasi. Tujuannya, agar kendaraan melaju lebih enteng.

Hampir setahun pekerjaan itu dijalaninya. Bagi pria yang berdomisili di Dukuh Krajan, Rahtawu itu, pekerjaan yang dilakoninya itu butuh nyali besar dan kendaraan yang mendukung.

Editor : Akrom Hazami

Duh, Kades Rahtawu Pusing dengan Kelakuan Warganya

Satpol PP Kudus mengamankan kayu-kayu milik warga yang diletakkan di jalan Desa Rahtawu, Gebog karena mengganggu pengguna jalan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Satpol PP Kudus mengamankan kayu-kayu milik warga yang diletakkan di jalan Desa Rahtawu, Gebog karena mengganggu pengguna jalan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog tengah dipusingkan dengan kelakuan warganya. Karena menebang kayu, dan diletakkan di tepi jalan poros desa. Jalan yang memiliki luas sekitar 2 meter tersebut, merupakan jalur lalu lintas warga ataupun wisatawan.

Kepala Desa Rahtawu, Gebog, Sugiyono mengatakan, pihaknya kerap menegur warga yang membandel itu. Namun tidak dihiraukan. ”Sudah ditegur sering kali, tapi tidak ada perubahan, sehingga saya melaporkan hal ini kepada Satpol PP,” paparnya.

Sementara itu, kayu yang berada di tepi jalan yang dapat membahayakan pengendara motor dan mobil ini terdapat di dua titik. ”Penempatan kayu di tepi jalan ini ada di Dukuh Krajan dan Semliro. Selain itu, kayu tersebut juga bakal dijual ke tempat lain,” ujarnya.

Dia melanjutkan, pihaknya melarang adanya penjualan kayu dari Rahtawu untuk dijual ke daerah lain. Sebab hal itu termasuk eksploitasi kayu di kawasan itu. Namun, bila digunakan untuk keperluan pribadi sesuai kebutuhan untuk membangun rumah dan tempat ibadah pihaknya memperbolehkan. Meskipun itu milik pribadi.

Diketahui, kayu yang berada di tepi jalan tesebut berjenis kayu nangka, sengon laut, dan randu. Salah satu pemilik kayu, Sanijan mengutarakan, pihaknya akan menghentikan kegiatan itu. ”Saya terima kasih sudah diingatkan. Dan saya tidak mengulangi lagi,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Peringatan Keras untuk yang Buang Sampah Sembarangan

sm-buang-sampah

 

Pemerintah Desa Krandon, Kecamatan Kota, Kudus, memiliki cara tersendiri untuk menjaga kebersihan di lingkungannya. Dengan memasang spanduk peringatan bagi siapa saja yang membuang sampah sembarangan di wilayah itu, maka akan diproses sesuai undang-undang yang ada.

Jadilah saat ini, jalan-jalan di Desa Krandon terlihat bersih dari sampah. Semakin semarak dengan adanya umbul-umbul yang dipasang sepanjang jalan di sana.
Ini satu hal yang patut ditiru desa-desa lainnya di Kudus. Supaya kebersihan bisa terjaga dan suasana menjadi nyaman.

Salut untuk Pemdes Krandon.

Pengirim: Ari, warga

Murid SD Ilma Nafia Godong Grobogan Dibekali Cara Mencintai Lingkungan

Rena Sanjaya dari Sahabat Berkebun Purwodadi saat menyampaikan materi terkait cara menanam secara hidroponik. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Rena Sanjaya dari Sahabat Berkebun Purwodadi saat menyampaikan materi terkait cara menanam secara hidroponik. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelatihan menanam sayuran dengan teknologi hidroponik diberikan pada puluhan murid SDIT Ilma Nafia, Kecamatan Godong, Sabtu (20/2/2016). Pelatihan tersebut memanfaatkan botol bekas sebagai tempat menanam.

”Pelatihan ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran cinta lingkungan sejak dini kepada para murid. Selain itu, kegiatan ini bisa menumbuhkan minat gemar menanam sekaligus membangkitkan kreativitas dengan memanfaatkan barang yang tidak bernilai,” ungkap Kepala SDIT Ilma Nafia Laela Nurisysyafa’ah.

Melalui pelatihan dasar hidroponik ini para murid memiliki wawasan baru terkait cara menanam yang lebih praktis dan efisien. Sehingga bisa dijadikan bekal untuk gemar menanam, baik sebagai hobi maupun sebagai sumber ekonomi. Sebab, metode hidroponik ini belum begitu familiar di kalangan masyarakat.

Sementara itu, Rena Sanjaya selaku nara sumber dari komunitas Sahabat Berkebun Purwodadi menyatakan, hidroponik merupakan budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah. Sehingga budidaya dengan cara ini memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan budidaya tanaman secara konvensional.

Antara lain, penanaman dapat diusahakan diberbagai tempat dan dilakukan sepanjang tahun tanpa tergantung musim. Kemudian, bisa menghemat penggunaan air dibandingkan dengan menanam di media tanah. Selain itu, pemeliharaan tanaman lebih mudah, masa tanam lebih cepat, dan tidak butuh pestisida.

”Anak-anak cukup antusias dengan pelatihan ini. Ada beragam tanaman yang kita uji coba, seperti beragam sayuran, buah, dan tanaman herbal,” jelas Rena.

Editor : Titis Ayu Winarni

Video – TPA Sukoharjo Jadi Wahana Rekreasi Paling Murah di Pati

Anfika Rachmansyah (14), pelajar SMP Negeri 1 Pati bersama teman sekolahnya sedang melihat kijang di TPA Sukoharjo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Anfika Rachmansyah (14), pelajar SMP Negeri 1 Pati bersama teman sekolahnya sedang melihat kijang di TPA Sukoharjo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sejak disulap menjadi kebun binatang mini, tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Pati banyak diserbu pengunjung. Puncaknya, ketika musim liburan sekolah tiba.

Tak ada tiket masuk samasekali untuk menikmati liburan bersama puluhan binatang di TPA Sukoharjo. Cukup dengan biaya parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk mobil, TPA Sukoharjo jadi wahana rekreasi paling murah di Pati.

Penanggungjawab TPA Sukoharjo Agus Darmono mengatakan, daerah pembuangan dan pengolahan sampah tersebut memang dirancang sebagai destinasi rekreasi bagi warga Pati yang ingin melepas penat.

”Ada sekitar delapan kijang yang kami taruh di taman TPA. Awalnya hanya burung, kera dan unggas saja. Dengan hadirnya kijang ini, kami berharap bisa menambah daya tarik pengunjung,” kata Agus.

Sementara itu, Anfika Rachmansyah (14), pelajar SMP Negeri 1 Pati bersama dengan empat temannya mengaku senang dengan rekreasi di TPA Sukoharjo. Tak hanya murah meriah, tetapi lokasinya cukup dekat.

”Ini kita sedang ngisi liburan bersama teman-teman sekolah di TPA Sukoharjo. Selama ini TPA identik dengan kotor, kumuh dan bau tidak enak. Tapi, di sini beda. Rindang, ada kebun binatang mini,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

 

Warga Megawon Khawatirkan Pohon Besar yang Berada di Pinggir Jalan

f-pohon tumbang (e)

Bekas pohon yang tumbang ke jalan beberapa waktu lalu. Warga berharap pohon-pohon yang berada di pinggir jalan juga dicek, karena dikhawatirkan tumbang ke jalan ketika ada anging kencang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Tumbangnya pohon yang berada di Jalan Mlati Norowito-Mejobo, ataulebih tepatnya yang berada di Depan SMA PGRI 1 Kudus pada Senin(16/11/2015) lalu, menimbulkan kecemasan bagi warga Megawon, Kecamatan Jati, Kudus.

Salah satu warga Megawon Nur Rockim mengatakan, banyaknya pohon besar yang berada di pinggir jalan dikhawatirkan roboh sewaktu-waktu, apalagi musim hujan sudah mulai tiba.

Untuk itu, pihaknya berharap kepada instansi terkait untuk melakukan pengecekan terhadap pohon-pohon yang berada di pinggir jalan. Jika memang perlu ditebang, menurutnya hal itu harus dilakukan segera, sehingga tidak membahayakan warga.

”Musim hujan sudah tiba, jadi sebaiknya pihak terkait melakukan pengecekan pohon yang berada di pinggir jalan. Karena, bisa jadi ada pohon yang memang kondisinya mengkhawatirkan, dan ketika ada angin kencang bisa tumbang ke jalan,” ungkapnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Begini Caranya Pemdes Temulus Kudus Mempercantik Lingkungan

Warga Desa Temulus, Kecamatan Mejobo melakukan bersih-bersih desa untuk meningkatkan kebersihan sekaligus mencegah datangnya penyakit, Sabtu (25/7/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga Desa Temulus, Kecamatan Mejobo melakukan bersih-bersih desa untuk meningkatkan kebersihan sekaligus mencegah datangnya penyakit, Sabtu (25/7/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Pagi ini, Pemerintah Desa (Pemdes) Temulus, Kecamatan Mejobo, Kudus dan warga tengah melakukan kebersihan lingkungan desa. Kebersihan yang difokuskan pada jalan utama desa tersebut diharapkan dapat mempercantik lingkungan dan wajah desa.

Kepala Desa Temulus Purwati mengakui Desa Temulus sering terkena banjir lanataran wilayah tersebut berada di dataran rendah serta terdapat banyak sampah. Karena itu, untuk merubah pemandangan yang kumuh serta berserakan, seluruh jajara perangkat desa dan warga melakukan bersih-bersih.

”Selain mempercantik Desa Temulus, kebersihan ini juga bisa membuat panyakit demam berdarah bisa teratasi. Sebab penyakit tersebt memang menyukai pada tempat kumuh, berserakan dan berair (banyak sungai, dataran rendah),” paparnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sekeretaris Desa Temulus Heni Hermawati. Hanya, ia berharap kerja bakti bersih-bersih desa ini bisa dilakukan secara bertahap.

“Ya mudah mudahan kerja bakti ini bisa membuat warga sadar akan kebersiahan. Selain itu, kami juga tidak memaksa bagi warga lain untuk ikut kerja bakti. Yang penting kesaradaran masing masing. Toh kegiatan warga di hari ini juga bermacam macam . Ada yang masih kerja, tapi ada juga yang libur,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/SUPRIYADI).