Cerita Para Nelayan Jepara: Menantang Maut di Musim Baratan

MuriaNewsCom, Jepara – Nelayan di Jepara nekat melaut meskipun ombak tidak bersahabat. Alasan ekonomi menjadi penyebab utama mereka tetap berkeras hati melaut, mengangkat sauh.

Aripin satu di antaranya. Saat MuriaNewsCom menyambanginya di Muara Kali Wiso, Kelurahan Jobokuto-Jepara, ia tengah memperbaiki jala. Pria berkumis itu bilang, sudah sejak sepekan lalu nekat menebar jaring mencari ikan supaya dapur tetap mengepul.

“Sudah kurang lebih seminggu lalu, sejak hari Kamis (18/1/2018), saya nekat melaut. Lantaran kalau tak miyang (mencari ikan) keluarga mau makan apa,” tuturnya Kamis (25/1/2018).

Dirinya berkata, melaut di tengah musim baratan atau gelombang tinggi bukan tanpa risiko. Ombak tinggi acapkali menghadang nelayan. Kalau sudah begitu, tak ada pilihan lain kecuali mencari pulau untuk berlindung.

Jika sedang tinggi benar, ombak dapat mencapai 5 meter, namun biasanya dimasa sekarang ombak berkisar 2 meter. Kalau ombak sedang tak begitu ganas (dua meter), nelayan memilih bertahan dan tetap menebar jaring kemudian pulang ke daratan.

“Ya kalau ombak tinggi sementara saya telanjur berangkat pilihannya bertahan atau pulang,” ungkapnya.

Para nelayan Jepara memarkirkan kapalnya usai berlayar mencari ikan di laut. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Hal serupa diungkapkan oleh Abdul Munip. Ia mengaku sering curi-curi kesempatan untuk dapat melaut. Lantaran, ombak di tengah laut berbeda dengan yang terjadi di dekat pesisir.

“Berangkat ke lautnya ditunda, biasanya berangkat jam 02.00 WIB, sekarang jam 04.00 WIB. Memilih waktu agar ombak agak tenang sedikit,” paparnya.

Ia menyebut, gelombang besar di lautan sudah terjadi setengah bulan terakhir. Karena dapurnya harus terus ngebul (memasak) Munip akhirnya nekat miyang ditemani oleh seorang rekannya.

“Mau bagaimana lagi, harga beras naik terus. Masak kita terus diam saja di rumah,” tuturnya.

Ditanya hasil, baik Aripin maupun Munip mengaku, selalu saja ada. Bulan Januari ini, sedang musim cumi-cumi. Sekali melaut nelayan setidaknya bisa mendapatkan uang Rp 700 ribu hingga satu juta rupiah.

“Kalau musim seperti ini ya dapatnya dua basket (100 kilogram) ikan dan cumi-cumi. Dari penjualan tersebut masih harus dikurangi dengan biaya solar dan bekal selama pelayaran,” ungkap kedua nelayan itu.

Editor: Supriyadi

Penyebrangan ke Karimunjawa Jepara Tak Terpengaruh Tinggi Gelombang Laut

Warga melihat kapal penyeberangan ke Karimunjawa Kabupaten Jepara, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Penyebrangan kapal ke Karimunjawa tidak terpengaruh gelombang di Laut bagian utara Jawa Tengah. Praktis layanan hilir mudik ke pulau terluar Kabupaten Jepara itu, tidak mengalami gangguan. 

“Satu sampai dua hari yang lalu memang gelombang kencang bisa mencapai 1,5 meter sampai 2 meter. Namun kapal kita bisa mengatasi tinggi gelombang sampai maksimal 2,5 meter, jadi masih aman,” kata Manajer Cabang Jepara PT Pelayaran Sakti Makmur Sugeng Riyadi, sebagai operator Kapal Express Bahari, Rabu (30/8/2017). 

Ia mengatakan, dengan kondisi tersebut tidak memengaruhi pelayanan penyebrangan pada long weekend  pada libur hari raya Idhul Adha, yang jatuh pada 1-2 September 2017. Menurutnya, pihaknya sudah membuka reservasi untuk keberangkatan pada tanggal-tanggal tersebut. 

Terpisah, Kepala Seksi Pelabuhan Penyebrangan Kartini Supomo menyebut, berdasarkan informasi teranyar yang diperolehnya tinggi gelombang kini sudah menurun.  “Seminggu kemarin memang terjadi peningkatan tinggi gelombang, namun minggu ini sudah menurun sekitar 1 meter 1,25 meter,” katanya. 

Dikutip dari laman BMKG, tinggi gelombang di utara Jawa Tengah per hari ini berkisar di angka 0,5-1,25 meter. Adapun dari segi cuaca, diperkirakan cerah berawan dengan suhu sekitar 25-34 derajat celcius.

Editor : Akrom Hazami

Syawalan, Warga Demaan Jepara Gelar Panjat Pinang di Laut

Sejumlah warga di Jepara mengukti panjat pinang yang digelar di laut, Minggu (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara –  Selain lomban atau larungan kepala kerbau untuk merayakan syawalan, adapula acara unik yakni panjat pinang dilaut. Kegiatan ini dilaksanakan oleh warga yang berada di Kelurahan Demaan RT 3/5, Kecamatan Jepara, Minggu (2/7/2017). Acara panjat pinang laut ini tak jauh beda dengan panjat pinang konvensional. Sekelompok orang berusaha meraih hadiah yang diletakan diatas bambu berlumur pelumas, yang dipancang di dalam air.

Hanya saja, untuk memanjatnya perlu usaha lebih keras. Lantaran, air laut yang terkena pelumas tak ayal menyebabkan bambu semakin licin.

Dimas, seorang peserta lomba tersebut mengaku kesusahan memanjat bambu setinggi lebih kurang 10 meter itu. 

“Wah susah, soalnya diolesi oli cair dan oli padat. Tapi tidak apa-apa, seru,” katanya.

Menurutnya, lomba yang diadakan setiap tahun bertujuan merekatkan rasa kekeluargaan antar penduduk. 

Ketua Panitia Panjat pinang laut Kandir mengatakan, kegiatan ini digagas oleh ikatan remaja kampung. Tujuannya memeriahkan syawalan.

“Dilakukan dilaut karena di kampung kami sudah tidak ada lahan lagi. Rumahnya kian padat,” terangnya.

Disamping itu, kegiatan ini juga dalam rangka mensyukuri berkah yang diperoleh warga dari laut. Lantaran, sebagian besar penduduknya merupakan nelayan, yang menggantungkan penghidupannya dari mencari ikan. 

Ia menyebut, kegiatan tersebut diselenggarakan secara swadaya oleh masyarakat dan dibantu oleh pengusaha setempat.  “Kalau total dana sekitar Rp 4 juta. Hadiahnya tak seberapa memang. Tapi tujuan dari kegiatan ini untuk merekatkan kekeluargaan warga yang penting bisa tercapai,” tutur dia.

Editor: Supriyadi