Satpolair Dalami Eksploitasi Karang di Perairan Bondo Jepara

Terumbu karang hasil tangkapan UD Sumber Rezeki saat tertangkap basah oleh kelompok pengawas masyarakat “Jinking” Desa Bondo. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Satuan Polisi Perairan (Satpolair) Polres Jepara mendalami eksploitasi terumbu karang di perairan Bondo. Dalam waktu dekat, pihaknya akan mengumpulkan pihak terkait tentang peristiwa tersebut. 

“Kami akan mengumpulkan pihak terkait, Badan Keamanan Laut, Dinas Kelautan dan Perikanan, TNI AL, serta BKSDA, terkait adanya izin pengambilan karang di wilayah Jepara. Surat sudah naik pada hari Jumat (4/8/2017) lalu. Harapannya dari BKSDA provinsi Jawa Tengah bisa hadir minggu depan,” ujar Kasatpolair Polres Jepara AKP Hendrik Irawan, Senin (7/8/2017).

Menurutnya, sesuai peraturan di seluruh wilayah Indonesia sudah tak diperbolehkan lagi mengambil terumbu karang, jenis apapun. Oleh karenanya, ia ingin melakukan pendalaman terkait izin yang dikantongi UD Rejeki, dari BKSDA untuk dapat mengambil karang yang diklaim tak dilindungi. 

Hendrik juga menyebut, pengambilan karang bisa menciderai alam. Lantaran pengambilan karang menggunakan alat berat.

“Bukan izinnya yang dipermasalahkan, namun cara pengambilannya yang bisa merusak terumbu karang lain. Misalnya diinjak-injak atau dicongkel,” lanjutnya. 

Dirinya menyebut, pengambilan karang di perairan Jepara bukanlah hasil penangkaran, namun karang-karang tersebut menempel pada karang alam lain. 

“Saat ini sekitar 100 buah karang masih kami simpan di Markas Polair. Ada beberapa diantaranya (karang) yang masih hidup,” pungkas Hendrik.

Sebelumnya, nelayan di sekitar Pantai Bondo-Bangsri mempertanyakan aktifitas pengambilan karang di perairan itu. Nanang Cahyo Hadi koordinator kelompok pengawas masyarakat “Jixnking’s” Desa Bondo mengeluhkan hal tersebut pada awak media. Menurutnya, warga nelayan di desa itu bingung dengan aktifitas yang telah berlangsung sejak lama tersebut.

“Kami nelayan disuruh menjaga kelestarian karang, namun disisi lain ada pengambilan karang yang dilakukan oleh sebuah usaha dagang (UD) Rejeki di kawasan kami. Namun saat kami tanyai orang yang beraktifitas mengambil karang, ternyata mereka mengantongi izin,” kata dia Jumat (4/8/2017). 

Menurutnya, warga tak bisa melarang karena mereka mengantongi izin dari BKSDA Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, Nanang juga mempermasalahkan tentang pengawasan terkait pengambilan karang tersebut. 

Baca Juga: Alamak, Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah Pengusaha 

Baca Juga: Nelayan Bondo Pertanyakan Aktivitas Pengambilan Terumbu Karang di Perairan Jepara 

Baca Juga: Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah, Ini Respons Pemkab

Editor: Supriyadi

Waspadalah! Gelombang di Perairan Jepara Capai 3 Meter

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Dalam sepekan ini, tinggi gelombang di perairan laut utara Jawa Tengah mencapai 3 meter. Hal tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga sepekan ke depan.

Kepala UPP Syahbandar Jepara Suripto menyampaikan, dengan kondisi tersebut, perairan laut utara Jawa Tengah tidak aman untuk pelayaran. Selain tinggi gelombang mencapai 3 meter, kecepatan angin juga cukup tinggi, yaitu mulai 8 sampai 30 knot. “Kondisi seperti ini sudah sejak Minggu lalu, dan diperkirakan akan berlangsung sampai Minggu depan,” katanya.

Akibat kondisi cuaca buruk ini, tak sedikit kapal-kapal yang melintas di perairan utara Jawa Tengah, khususnya di Jepara terpaksa harus berlabuh dulu di area Jepara.

“Aktivitas pelayaran barang dan penumpang dari Jepara ke sejumlah wilayah terpaksa dihentikan. Pasalnya, kondisi cuaca buruk ini sangat tidak aman bagi pelayaran. Kemarin kapal barang yang berangkat dari Banten tujuan Pontianak terpaksa ditarik ke Jepara karena terbawa arus,” ujarnya.

Kondisi serupa juga melanda perairan laut Karimunjawa. Kepala UPP Syahbandar Karimunjawa Syarif Bustaman menyampaikan, tinggi gelombang laut di Karimunjawa mulai 1,25 meter hingga 2,50 meter. Sementara, kecepatan angin 15 sampai 25 knot. Kondisi tersebut diperkirakan akan berlangsung hingga 12 Februari 2017.“Angin dari arah Barat Laut disertai hujan sedang dan awan gelap,” kata Syarif.

Dengan adanya kondisi cuaca buruk tersebut, sehingga aktivitas pelayaran pun dihentikan sementara demi keselamatan bersama.

Kepala PT ASDP Cabang Jepara Yudi Zanuar menambahkan, selama kapal tak beroperasi, pihaknya melakukan perawatan kapal. Itu dilakukan agar saat proses docking tidak membutuhkan waktu lama. “Perawatan rutin berkala mumpung kapal tidak berangkat,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono